Minggu, 11 Desember 2011

Menanti Bulan Merah Merona...

 http://4.bp.blogspot.com/-7dGBi4W8c00/Tf_56-07HDI/AAAAAAAAAKg/UP2Mt5_XQLU/s1600/eclipse_lunar.jpg

Gerhana Bulan Totl

Oleh M Zaid Wahyudi
 
Gerhana Bulan total akan kembali menyambangi seluruh wilayah Indonesia, Sabtu (10/12) malam. Jika tidak terhalang awan atau hujan, masyarakat akan menyaksikan warna Bulan berubah perlahan dari kuning cerah menjadi kuning kemerahan.

Gerhana Bulan total sebelumnya di Indonesia terjadi pada 16 Juni lalu. Namun, daerah yang dapat menyaksikan hanya Sumatera dan Jawa bagian barat. Wilayah lain hanya melihat gerhana sebagian. Itu pun pada dini hari hingga menjelang Matahari terbit.

Fase total gerhana kali ini tidak akan sepanjang Juni lalu yang mencapai 100 menit. Puncak gerhana total hanya berlangsung 51 menit. Namun, proses gerhana terjadi selepas magrib hingga tengah malam pada malam Minggu. Ini waktu terbaik menikmati gerhana Bulan.

Gerhana Bulan total berikutnya yang dapat dilihat di Indonesia akan terjadi pada 31 Januari 2018. Namun, itu hanya dapat disaksikan di wilayah tengah dan timur Indonesia.

Gerhana Bulan hanya terjadi saat Bulan memasuki fase purnama. Saat itu, Bulan berada di belakang Bumi hingga membentuk formasi garis lurus Matahari-Bumi-Bulan.

Meski demikian, tidak setiap purnama selalu terjadi gerhana Bulan. Hal ini karena tidak berimpitnya bidang edar Bulan mengelilingi Bumi terhadap bidang edar Bumi mengelilingi Matahari (bidang ekliptika).

”Saat Bulan berada di salah satu titik temu kedua bidang edar, terjadilah gerhana Matahari atau gerhana Bulan, tergantung posisinya,” kata dosen Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB), Moedji Raharto, Rabu (7/12).


Memerah
 
Gerhana Bulan total selalu disertai gerhana Bulan penumbra dan gerhana Bulan sebagian, baik sebelum maupun sesudah gerhana total.

Gerhana penumbra terjadi saat Bulan memasuki daerah penumbra (bagian luar bayang-bayang Bumi). Pada tahap ini, perubahan warna Bulan sulit diamati dengan mata telanjang. Perbedaan warna dengan Bulan purnama tak tampak.

Sementara gerhana Bulan sebagian terjadi saat sebagian Bulan memasuki daerah umbra (bagian dalam bayang-bayang Bumi). Pada saat ini, perubahan warna Bulan bisa dibedakan oleh mata telanjang. Warna kuning Bulan menjadi lebih pekat.

Sementara itu, gerhana total terjadi saat seluruh Bulan memasuki umbra Bumi. Pada tahap ini perubahan warna Bulan paling jelas terlihat, Bulan menjadi kuning gelap kemerahan.

Pada gerhana Sabtu malam nanti, gerhana Bulan sebagian mulai terjadi pukul 19.46 Waktu Indonesia Barat (WIB). Adapun fase gerhana total akan terjadi pukul 21.06-21.57 WIB. Fase sebagian akan berulang hingga pukul 23.18 WIB.

Saat Bulan memasuki umbra Bumi, seluruh cahaya Matahari yang menuju ke Bulan terhalang Bumi. Kondisi ini seharusnya membuat Bulan menjadi gelap total. Ternyata, bulan masih memantulkan sinar Matahari meski lebih pekat warnanya.

Direktur Observatorium Bosscha ITB Hakim L Malasan mengatakan, sumber sinar Bulan saat gerhana Bulan total berasal dari sinar Matahari yang menembus atmosfer Bumi. Sedangkan bola Bumi memang mengeblok cahaya Matahari.

Saat melalui atmosfer Bumi, cahaya Matahari mengalami penyebaran. Cahaya berwarna biru dan hijau akan dihamburkan di atmosfer Bumi. Sedangkan cahaya berwarna kuning hingga merah diteruskan menuju Bulan. Ini membuat warna Bulan menjadi kuning pekat hingga kemerahan.

Sekitar 75 persen massa atmosfer Bumi ada di bagian bawah hingga ketinggian 10 kilometer (km), yaitu di troposfer. Di sini terdapat uap air yang membentuk awan dan mengeblok cahaya Matahari. Sedangkan di atas troposfer, yaitu stratosfer, pada ketinggian 10-50 km, banyak terjadi reaksi fotokimia dan radiasi ultraviolet.

Troposfer dan stratosfer ini berfungsi sebagai lensa berbentuk cincin yang membiaskan cahaya Matahari. Akibatnya, hanya cahaya merah yang bisa lolos hingga sampai ke Bulan. Atmosfer bagian atas yang lebih renggang lebih banyak meneruskan cahaya kuning.

Kondisi ini pernah terjadi pada sejumlah gerhana Bulan pasca-letusan Gunung Agung di Bali pada tahun 1963, Gunung El Chichon di Meksiko tahun 1982, dan Gunung Pinatubo di Filipina pada tahun 1991.

Sumber: http://regional.kompas.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails