Tampilkan postingan dengan label Sport. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sport. Tampilkan semua postingan

Selasa, 03 Januari 2012

Chris "The Dragon" John Tetap Perkasa di 2011



Chris John.

"Saya siap bertarung dengan siapa saja."
Semarang (ANTARA News) - Indonesia masih memiliki kebanggaan di ajang olahraga internasional, terutama di cabang olahraga tinju melalui prestasi Chris John yang sudah delapan tahun menyandang predikat sebagai juara dunia kelas bulu WBA.

Bahkan, sejak 2008 petinju berjulukan "the Dragon" tersebut berhak atas gelar Super Champion karena berhasil mempertahankan gelarnya 10 kali tanpa putus.

Petinju kelahiran Jakarta pada 32 tahun silam itu mulai menjadi juara dunia pada 2003, setelah mengalahkan petinju Panama, Oscar Leon, melalui pertarungan ad-interim di Bali. Setelah itu, Chris John ibarat batu karang untuk mempertahankan gelarnya hingga kini.

Tercatat sudah 15 kali petinju dengan rekor bertarung 45 kali menang (22 di antaranya dengan knock out/KO) dan dua kali seri tersebut berhasil mengamankan sabuk gelar juara dunia di kelas bulu (57,1 kilogram) versi asosiasi tinju dunia (world boxing association/WBA.

Selama 2011 suami mantan atlet wushu Jawa Tengah, Anna Maria Megawati, tersebut sudah dua kali mempertahankan gelarnya. Pertama saat menghadapi petinju Indonesia asal Ketapang, Kalimantan Barat, Daud Yordan, di Jakarta, 17 April 2011. Pada saat itu Daud Yordan menempati peringkat keenam kelas bulu WBA.

Pada pertarungan yang dipromotori Raja Sapta Oktohari tersebut, Chris John berhasil mengalahkan Daud "Cino" Yordan dengan angka, yaitu 116-112, 116-112,dan 117-111.

Dalam setiap pertarungan yang dijalani, Chris John memang tidak memasang target memukul KO lawannya. "Kalau memang ada lesempatan tentunya akan saya manfaatkan sebaik mungkin, tetapi target saya adalah tetap mempertahankan gelar," katanya.

Pertarungan keduanya saat mengalahkan petinju Ukraina, Stanyslav Merdov. di Challenge Stadium MT Claremont, Perth, Australia Barat, 30 November 2011.

Pada pertarungan yang disaksikan langsung oleh Anna Maria Megawati, yang juga berperan menjadi penyanyi Indonesia Raya, petinju yang besar di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, tersebut juga menang dengan angka mutlak, 116-111, 116-111, dan 115-112.

Sebelumnya, Chris John juga sudah mengalahkan petinju dunia seperti Juan Manuel Marquez (Meksiko), Derrick Gainner (Amerika Serikat), Jose Cheo Rojas (Venezuela dua kali), Hiroyuki Enoki (Jepang), Renant Acosta (Panama).

Kemudian, "the Dragon" juga kalahkan Tommy Brouwn (Australia), Osamu Sato dan Zaiki Takemoto (Jepang), Roinet Caballero (Panama), Fernando Saucido (Argentina), dan Rocky Juarez (Amerika Serikat, dua kali).

Dari 15 kali pertarungan perebutan gelar tersebut, Chris John lima kali harus menjalani tarung wajib (mandatory fight) dan 10 kali melalui pertarungan pilihan (choice).

Pada 2012, Chris John kembali akan melanjutkan kiprahnya sebagai pemegang gelar Super Champion kelas bulu WBA. Bahkan, Raja Sapta Oktohari sekaku promotor sudah merancang pertarungan.

Tak tanggung-tanggung, Chris John yang tergabung dalam Sasana Herry`s Gym di Perth, Australia, tersebut bakal menyatukan dua gelar juara dunia dari dua badan tinju yang berbeda, yaitu WBA dan federasi tinju internasional (International Boxing Federation/IBF).

Ketua Bidang Media dan Promosi dari Mahkota Promotion, Fathan Rangkuti, mengemukakan bahwa pertarungan unifikasi Chris John bakal digelar di Singapura, 31 Maret 2012 dan dipertemukan dengan juara dunia kelas bulu IBF, Billy Dib (Australia).

"Kalau tempatnya sudah pasti, tetapi tanggalnya masih bisa berubah tergantung hasil negosiasi. Tetapi, lawannya juga sudah pasti, yaitu di Singapura," katanya.

Menurut dia, di kelas bulu WBA, Chris John memang sudah menjadi "raja" sehingga pihak promotor berusaha untuk mengangkat Chris John.

Chris John sendiri mengaku kalau sampai kini memang belum ada pembicaraan soal pertarungan unifikasi tersebut karena saat ini pelatih sekaligus manajernya, Craig Christian, memberikan kesempatan untuk istirahat.

"Setelah pertarungan melawan Merdov di Australia, 30 November 2011, saya diberi kesempatan untuk istirahat dan mungkin pelatih menjauhkan saya dari kegiatan tinju selama masa istirahat ini," kata Chris John.

Tetapi, kata ayah dua orang putri (Maria Luna Ferisha dan Maria Rosa Christiani) tersebut tetap siap menghadapi Billy Dib jika memang itu program dari pelatih sekaligus manajernya.

"Saya siap bertarung dengan siapa saja, termasuk pertarungan unifikasi melawan Billy Dib, jika memang pelatih sekaligus manajernya memprogramkan seperti itu," demikian Chris John.


Editor: Priyambodo RH
http://www.antaranews.com

Selasa, 06 Desember 2011

Andik Tidur dengan Kaos David Beckham

Andik Tidur dengan Kaos David Beckham




















Pesepakbola Andik Vermansyah yang paling bahagia dalam laga persahabatan  antara LA Galaxy melawan Tim Indonesia Selection di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Rabu (30/11) malam.


“Saya sangat gembira sekali. Tapi sebenarnya saya enggak membayangkan (dapat kaos Beckham), sebab kalau itu memang rejeki saya,ngapain minta-minta,” katanya dengan wajahsumringah di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Rabu.

Sebagaimana diberitakan motodream.net, pemain asal Persebaya Surabaya ini semula mengaku tak berniat menukar kaosnya dengan Beckham. Karena itulah, pemain yang digantikan Oktavianus Maniani di babak kedua ini memilih tetap berada di bangku cadangan usai pertandingan.

Di luar dugaan, David Beckham justru memanggilnya ke pinggir lapangan. David saat itu sedang diwawancarai televisi. Andik semula mengira bukan dirinya yang dipanggil Beckham. Ia baru percaya setelah teman-temannya mendorongnya.

Pemain yang kerap dijuluki “Si Belut” ini pun bergegas menemui Beckham. Mantan bintang “Setan Merah” itu langsung menyambut Andik dengan pelukan. Beckham bahkan tak canggung meminta Andik bertukar kaos. Padahal, saat itu kamera masih terus menyorotnya. “Alhamdulillah, anak-anak minta (kaosnya) enggak dikasih, tapi saya malah dipanggil (Beckham),” kata Andik.

Andik mengaku deg-degan ketika Beckham mendadak memeluknya. “Deg-degan kayak ketemu orang cantik gitu,” kata Andik sembari tertawa.

Kaos LA Galaxy bernomor punggung 23 yang masih basah oleh keringat Beckham tersebut barangkali akan menjadi kado terindah bagi Andik yang genap berusia 20 tahun pada 23 November lalu setelah dirinya gagal mempersembahkan emas dalam SEA Games XXVI. “(kaos ini) Buat tidur satu minggu,” katanya.

Bechkam sendiri bukan tanpa alasan memilih Andik untuk bertukar kaos seusai pertandingan yang berakhir 1-0 untuk kemenangan LA Galaxy. Selain merasa bersalah karena sempat menekel Andik dengan keras di babak pertama, Beckham juga punya alasan lain. “Dia adalah pemain yang sangat berbakat, maka saya menginginkan bajunya,” kata Beckham.

Sumber: http://www.poskota.co.id

Kasari Andik, David Beckham Tukar Kaos dengan Andik

David Beckham kasari Andik Vermansyah


Usai Pertandingan antara LA Galaxi vs Indonesia Selection yang diselenggarakan di Stadion Bung Karno, David Beckam tukar kaosnya dengan Andik Vermansyah. David Beckham melakukan sliding keras dari belakang yang membuat gelandang Tim Indonesia Selection Andik Vermansyah tersungkur. 

David Beckham sempat tampil emosional pada pertandingan Los Angeles Galaxy melawan timnas Indonesia. Dia dengan sengaja mengasari Andik Vermansyah pada menit ke-8. Pada awal pertandingan, Indonesia memang lebih banyak menekan LA Galaxy. David Beckham pun jadi jarang mendapatkan bola. Setelah tampil melawan Indonesia Selection, Rabu (30/11/2011) malam, gelandang LA Galaxy David Beckham bersedia bertukar seragam dengan Andik Vermansyah. Ternyata, Beckham memang menginginkan seragam Andik karena penyerang Persebaya 1927 itu tampil bagus.

Setelah pertandingan, Andik menghampiri Beckham yang sedang wawancara dengan sebuah stasiun televisi swasta. Tanpa pikir panjang, Beckham melepas bajunya dan kemudian gelandang asal Inggris itu memeluk Andik. “Karena saya merasa tak enak bermain kasar terhadap dia (Andik),” ujar Beckham, saat ditanya alasan mengapa dia usai tanding memilih menukar kaos bernomor 23 itu dengan kaos Andik.

Selain Andik, Greg Nwokolo juga sempat tersungkur setelah di-tackling pemain belakang tim besutan Bruce Arena. Wasit mengganjar dengan kartu kuning. Kartu kuning kedua dihadiahkan wasit kepada Robbie Keane yang mendorong Egi Melgiansyah. Kartu kuning kembali diberikan wasit kepada Mike Magee setelah pemain tengah ini menjatuhkan Greg Nwokolo di menit ke-28.

Sumber: http://www.rootdiesomec.com

Benfica Siap Merekrut Andik Vermansyah

Bakat brilian Andik Vermansyah, pemain timnas U-23 ternyata tidak hanya diakui di level Asia Tenggara saja. Gelandang serang Persebaya 1927 ini tengah dilirik tiga klub Eropa.

Andik Vermansyah


Tidak tanggung-tanggung, salah satu klub tersebut adalah Benfica, salah satu penguasa tradisional Liga Portugal.

Komisaris Utama Persebaya, Saleh Mukadar yang juga petinggi PSSI adalah orang pertama yang mengeluarkan pernyataan heboh ini. Bahkan, Saleh Mukadar juga menambahkan, LA Galaxy yang kemarin berujicoba dengan Indonesia Selection, ikut melirik pemain berusia 20 tahun.

Andik Vermansyah sendiri mengaku siap berlaga di Eropa. Asalkan kontrak yang diberikan jauh daripada yang selama ini disodorkan Persebaya 1927, ia berani menempuh risiko.

Andik Vermansyah 2


Namun, ada kendala lain yang dihadapi Andik. Yaitu faktor nonteknis. Andik selama ini hidup bersama kedua orang tuanya. Sang ayah, Saman adalah tukang bangunan. Sementara, Jumiah ibunya, seorang penjahit. Selama ini, Andik menjadi tulang punggung keluarganya.

Selain itu, masalah lain adalah adaptasi kultural. Banyak pemain Indonesia yang akhirnya pulang kampung setelah semusim atau dua musim berlaga di Eropa. Tahun 1990-an, ada Kurnaiwan Dwi Yulianto, Bima Sakti, dan Kurnia Sandy. Menjelang awal 2000-an, ada Bambang Pamungkas.

Yang jelas, apa pun “ujian” yang dihadapi Andik, tidak ada salahnya mencoba. Bukankah ada Arthur Irawan, pemain kelahiran 1993 yang kini berada di Espanyol, salah satu klub papan tengah di Liga Spanyol, sebagai contoh?

Sumber: http://sport.sidomi.com

Perjuangan Andik Virmansyah untuk Menjadi "Messi dari Surabaya"

http://klimg.com/bola.net/wallpaper/i/00757.jpg?1
 
Mungil, cepat, lincah, tajam, penuh determinasi, dan pekerja keras. Selain Oktovianus Maniani, ciri-ciri ini juga mencerminkan sosok gelandang Tim Nasional U-23, Andik Vermansyah.

Aksinya yang brilian terlihat jelas saat membela Timnas U-23 saat melawan Kamboja di laga perdana SEA Games XXVI tahun 2011, Senin lalu. Dalam pertandingan yang berakhir dengan skor 6-0 untuk Indonesia itu, kecepatan dan kelincahan Andik mampu mengobrak-abrik pertahanan lawan hingga membuahkan satu gol dan memberikan satu umpan indah yang berujung pada gol terakhir untuk Indonesia.

Andik yang masuk menggantikan Ferdinand Sinaga pada menit ke-61 langsung menunjukkan kualitasnya sebagai pemain yang mengandalkan kecepatan. Pada menit ke-80, pemain bernomor punggung 21 ini berlari dengan sangat cepat sambil membawa bola dan berhasil melewati satu gelandang bertahan Kamboja ke dalam kotak penalti Kamboja.
 

 
Insting tajamnya pun bermain. Melihat celah yang terhampar, tanpa pikir panjang Andik segera menembakkan bola dengan keras dari kaki kanannya. Kiper Kamboja pun tak kuasa menahan bola yang melaju deras ke arah gawangnya.

Empat menit kemudian, aksinya kembali berbahaya. Menerima bola dari Stevie Bonsapia, Andik berlari seperti kijang meninggalkan para pemain lawan dan mendekati gawang Kamboja. Namun, meski berada dalam posisi yang memungkinkan untuk mencetak gol, pemain yang membela Persebaya 1927 ini justru tidak bersikap egois. Dia memberikan umpan kepada Ramdhani Lestaluhu yang berada dalam posisi lebih menguntungkan. Gol keenam untuk Indonesia pun tercipta.

Andik menyadari betul kelebihannya itu. Kecepatan menjadi andalan utamanya dalam bermain sepak bola. Namun, itu pun tidak diperolehnya dengan mudah. Pemain dengan tinggi badan 162 cm ini harus berlatih keras untuk sampai pada tingkat kecepatan tertingginya.

Latihan berlari tak hanya dilakukannya di lapangan. Andik biasa melakoni latihan berlari dengan menaiki tangga, baik tangga jembatan maupun tangga di mal. Pernah pula dia beradu cepat dengan taksi.

"Pernah waktu itu aku lomba sampai lima kali, setelahnya aku langsung muntah-muntah ha-ha-ha...," kata pria berusia 19 tahun ini sambil tertawa.

Kecepatan, kelincahan, dan kemampuan dribling yang di atas rata-rata membuat Andik mendapat julukan "Lionel Messi" dari Surabaya. Dia mengaku senang disamakan dengan Messi. Namun, dengan rendah hati, pemain yang justru mengidolakan Cristiano Ronaldo ini menekankan bahwa dirinya tak sehebat striker Argentina andalan Barcelona tersebut.

"Saat aku bermain, para Bonek selalu teriak 'Messi... Messi... Messi'. Saya senang dipanggil Messi, tapi kan beda jauh," ujarnya lugu.


Dari jualan es sampai SSB gratis


Andik kini berada di tim nasional, bermain di Stadion Utama Gelora Bung Karno dan berlaga untuk nama bangsa di kancah internasional. Namun, siapa sangka, langkah awalnya bermain bola tidak seindah saat ini. Dulu, untuk membeli sepatu sepak bola saja sulit.

Ayahnya, Saman, hanya seorang tukang bangunan. Sementara ibunya, Jumiah, hanya seorang tukang jahit. Orangtuanya yang berpenghasilan pas-pasan tak memiliki dana lebih untuk membantu Andik mewujudkan mimpinya. Maka, tak heran bila pada awalnya Andik tidak diizinkan menekuni sepak bola.

Namun, dorongan yang kuat membuat Andik tak mudah patah semangat. Dia pun berjuang sendiri demi mewujudkan mimpi jadi pemain sepak bola profesional. Berbagai upaya ditempuhnya, mulai dari jualan kue dan es hingga bermain sepak bola antarkampung (tarkam) ke luar Surabaya dilakoninya, hanya untuk bisa membeli sepatu bola.

Langkahnya menunjukkan titik terang ketika Pelatih SSB Suryanaga, Rudi, melihat bakat besarnya. Rudi pun menawarinya untuk menimba ilmu di sekolah sepak bola di Jember itu. Gratis.

"Waktu itu dia iseng nonton aku bermain dan dia bertanya kamu ikut SSB apa? Aku jawab, tidak ada. Aku pun diajak ke Suryanaga, gratis. Terus aku bilang kakak dan diizinkan," ungkapnya.

Ayah dan ibunya pun tak memiliki alasan untuk terus melarang. Mereka pun berbalik mendukung Andik hingga bermain untuk Persebaya Yunior dan berkarya di PON.


 
 
Selalu pikirkan masa depan

Anak bungsu dari empat bersaudara ini pun tak ragu menyebutkan bahwa kedua orangtuanyalah yang justru paling berjasa dalam kehidupannya. Mantan bintang kesebelasan PON Jawa Timur ini menilai sikap dan dukungan dari orangtuanya telah melecut dirinya untuk menjadi seorang Andik seperti sekarang ini.

Selain untuk masyarakat Indonesia, gol yang dicetaknya dalam pertandingan melawan Kamboja kemarin pun dipersembahkannya untuk ayah dan ibu tercinta. Menurutnya, orangtua selalu mendoakan yang terbaik baginya. Bahkan, rela berpuasa demi kesuksesannya. Maka, tak heran bila Andik selalu berusaha menyenangkan mereka.

"Alhamdulillah... Selama merantau di Surabaya, aku sudah membelikan rumah atas nama orangtuaku karena itu sudah menjadi janji dari batinku. Alhamdulillah juga, aku sudah memberangkatkan ibu pergi umrah. Insya Allah kalau ada rezeki mau naikkan haji kedua orangtua," ungkap Andik yang kabarnya pernah dilirik oleh pemain Portugal, Rui Costa.

Andik selalu diingatkan untuk tidak lupa diri meski kariernya kini tengah menanjak. Dia sudah memikirkan masa depannya. Selain berharap bisa terus berkiprah di dunia sepak bola sampai akhir hayatnya, penyuka tempe penyet ini berencana untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi dan berinvestasi dengan membangun rumah kos di Surabaya.

"Kalau ada rezeki mau bikin kos-kosan, buat masa depan. Aku selalu mikir masa depan karena aku melihat betapa sulitnya orangtua aku mencari uang," ujarnya singkat.


Data singkat Andik Vermansyah


Nama lengkap: Andik Vermansyah
Nama kecil/Panggilan: Andik
Tinggi Badan: 162 cm
Tempat/Tanggal Lahir: Jember, 23 November 1991
Klub: Persebaya Surabaya 1927
Posisi: Striker
Karier:
Klub Junior 2007- Persebaya Surabaya 2008 - PON Jatim 2008 - POM ASEAN
Klub Profesional 2008 - 2011 Persebaya Surabaya
Tim Nasional 2011 - Tim Nasional Indonesia U-23
Makanan kesukaan: Tempe penyet
Pemain idola: Bejo Sugiantoro dan Cristiano Ronaldo
Klub idola: Real Madrid dan Persebaya
Nama ayah: Saman
Nama ibu: Jumiah.

Sumber: www.kompas.com

Andik Vermansyah Impikan Bermain di Real Madrid



Andik-Vermansyah
Tampil menawan di ajang SEA Games 2011 bersama tim nasional Indonesia U-23 membuat nama Andik Vermansyah melambung. Pemain mungil ini mulai mengecap popularitas di pentas sepakbola Indonesia.


Nama Andik Vermansyah semakin dikenal saat memperkuat tim Indonesia Selection menghadapi Los Angeles Galaxy yang diperkuat David Beckham dalam laga persahabatan pada 30 November 2011 lalu. Andik kembali tampil cemerlang lewat aksi-aksi individunya yang sering merepotkan barisan pertahanan klub asal Amerika Serikat tersebut.

Saking lincahnya, pemain bertubuh mungil ini sempat mendapatkan tekel keras dari Beckham. Bintang LA Galaxy ini mengakui kualitas Andik. Becks mengungkapkan penyesalan telah melakukan tekel dengan memberikan kostum miliknya kepada Andik. Ini menjadi kenangan tak terlupakan bagi pemain 20 tahun ini.
Sejak penampilan apiknya itulah Andik kini dikabarkan sedang dilirik klub-klub Eropa. Salah satu klub Eropa yang akan merekrut Andik adalah Benfica, klub asal Portugal. Benarkah kabar itu?

Berikut petikan wawancara VIVAnews.com dengan Andik lewat telepon selulernya, Jumat 2 Desember 2011:

- Benarkah Anda mendapatkan tawaran dari Benfica?
Tawaran secara langsung tidak pernah. Mungkin itu hanya isu-isu media saja. Sebab, selama ini memang saya belum pernah dihubungi secara langsung oleh klub Portugal itu.

- Kabarnya, Anda pernah ditawari Saleh Mukadar (mantan manajer Persebaya) untuk bermain di Benfica?
Begini, memang saya pernah ditawari oleh Pak Mukadar. Andik bagaimana kalau kamu bermain di Eropa di Benfica, apa kamu mau? Terus saya jawab, saya pikir dulu kalau kontraknya memuaskan dan jauh berbeda dengan sekarang (di Persebaya), mungkin saya akan mikir-mikir. Sebab, bermain di Eropa tidak mudah. Di sana perlu banyak adaptasi mulai bahasa, makanan dan cuaca. Apalagi, kalau main di sana, saya harus meninggalkan keluarga saya, itu tidak mudah bagi saya.

- Jadi sejauh ini belum ada tawaran resmi dari klub Eropa?
Belum ada, tapi kalau nantinya sudah menjadi rezeki saya juga tidak kemana-mana kok.

- Kalau boleh memilih, klub Eropa mana yang Andik inginkan?
Saya ingin bermain di Real Madrid.

- Mengapa suka Real Madrid, apa di sana ada pemain favorit Anda?
Real Madrid adalah klub besar. Dan saya suka Cristiano Ronaldo.

- Tapi, kalau tawaran dari klub-klub Indonesia apakah ada?
Banyak, tawaran itu terus mengalir sampai sekarang. Tapi, semua saya tolak.

- Mengapa ditolak?
Tahun ini saya sudah terikat kontrak dengan Persebaya (IPL). Saya telah menandatangani kontrak selama 2 tahun sampai 2013. Saya ingin menjadi pemain sepakbola profesional. Jadi, setelah saya menandatangani kontrak baru, saya sudah terikat dengan Persebaya.

- Klub mana saja yang terus merayu Anda?
Banyak, semua klub-klub besar. Saya sebut saja ya, di antaranya ada Sriwijaya FC dan Mitra Kukar. Tentu saja, mereka menawari bayaran lebih besar. Tapi, itu semua tidak bisa saya ambil karena saya sudah terikat kontrat.

- Apa langkah ke depan Anda?
Saya ingin terus bisa tampil di timnas Indonesia.

- Saran Anda bagi para pesepakbola muda yang ingin seperti Anda?
Berlatih terus menerus. Jangan cepat puas dengan apa yang telah dicapai. Seperti saya, kalau di klub hanya latihan tiga kali dalam satu minggu, maka porsi latihan saya tambah sendiri. Saya satu hari minimal latihan tiga kali, pagi, siang dan sore.

Sumber : Vivanews.

Andik Vermansyah Diincar Benfica

Andik Vermansyah dengan nomor 21 (Antara/Sigid Kurniawan)
Andik Vermansyah dengan nomor 21 (Antara/Sigid Kurniawan)


Ghiboo.com - Belakangan nama Andik Vermansyah semakin tenar. Pria mungil berusia 19 tahun yang bermain untuk klub Persebaya Surabaya, juga turut membela timnas u-23 di ajang Sea Games?

Lincah, cepat, agresif, dan bahkan rela untuk berebut bola di pertahanan sendiri membuatnya begitu mudah dikenali.

Puncaknya yang paling seru adalah saat Andik mampu merepotkan klub asal Amerika L.A Galaxy beberapa waktu yang lalu dalam sebuah pertandingan uji coba. David Beckham bahkan sampai memberikan respect pada Andik dengan "menghadiahi" sebuah tackling keras.

Pelatih L.A Galaxy, Bruce Arena sempat mengutarakan niatnya, untuk mengajak Andik berlatih bersama klub tersebut. Nah! Berita dari media portugal, A Bola (4/12/2011) menyebutkan, Benfica dikabarkan tertarik merekrut Andik lagi. Belum ada pernyataan resmi dari Benfica terkiat hal ini.

Sebenarnya hal ini bukanlah cerita yang baru. Rui Costa mantan pemain Benfica dan AC Milan, sempat menyatakan ketertarikannya pada Andik, dan mengajak pria Surabaya ini berlatih. Tapi sayang saat itu Andik belum siap.

Benfica sendiri melahirkan beberapa pemain berbakat, diantaranya legenda seperi Eusebio, Rui Costa, Nuno Gomez, Angel Di Maria, hingga Oscar Cardozo. Mungkin saja kali ini Benfica terlibat CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) setelah melihat penampilan gemilang Andik bersama timnas u-23 di Sea Games.

Sumber: http://id.berita.yahoo.com



Situs Berita Portugal Sebut Andik Vermansyah Lionel Messi-nya Indonesia


Isu Andik Vermansyah akan bergabung ke Benfica ternyata tidak hanya dibicarakan di negara kita. A Bola, salah satu surat kabar olahraga ternama Portugal, mencantumkan berita singkat tentang pemain Persebaya 1927 ini.

Andik Vermansyah

Tidak tanggung-tanggung. Dalam berita yang dirilis pada 3 Desember 2011 kemarin, A Bola menyebut Andik sebagai Messi dari Indonesia.

A Bola menyebutkan, “Gelandang serang Andik Vermansyah, yang dianggap sebagai salah satu bakat terbesar sepakbola Indonesia, dikabarkan siap direkrut Benfica oleh pers di negara tersebut.”
Ditambahkan pula, meskipun baru 20 tahun, Andik sudah menarik minat beberapa klub untuk mendapatkan servisnya.

Selain mencantumkan nama Andik dalam beritanya, A Bola juga menayangkan video salah satu aksi Andik. Sayang, video tersebut di bagian awal, kualitasnya tidak seberapa. Video ini berdurasi 1:45 menit dan memamerkan aksi Andik di Liga Primer Indonesia musim lalu.

Sementara itu, CEO Persebaya, Llano Mahardika, membocorkan rahasia. Menurutnya, selain Benfica, Sporting Lisbon dan AC Milan juga memburu Andik. Konon, AC Milan ingin menawarkan opsi “trial” kepada Andik. Ia akan diajak berlatih bersama skuad Rossoneri di San Siro.

Menurut Llano Mahardika, sebenarnya tim pemandu bakat Sporting Lisbon dan AC Milan berencana datang ke Indonesia untuk memantau langsung Andik. Namun, karena November ini kompetisi di Indonesia terhenti untuk SEA Games, kedatangan mereka tertunda.

Andik sendiri memang banyak mendapatkan pujian. Laga kontra LA Galaxy hanyalah salah satu dari sekian penampilan cemerlangnya. Musim lalu, bersama Persebaya 1927, Andik pun sudah tampil konsisten dan digadang-gadang akan menjadi salah satu pion utama lini depan sepakbola Indonesia.

Sumber: http://sport.sidomi.com

Rabu, 30 November 2011

Naturalisasi Jangan Gengsi

13225426081499045227



Naturalisasi memberikan efek positif bagi permainan timnas, namun kini malah diharamkan.
Pernyataan Penanggung Jawab Timnas, Bernhard Limbong yang mengharamkan naturalisasi membuat saya terheran-heran. Apakah benar PSSI ingin lebih memberikan kesempatan kepada pemain-pemain asli Indonesia, atau ini hanya perkara gengsi?

Seperti yang kita ketahui, naturalisasi sudah menjadi barang basi di dunia sepakbola. Banyak negara-negara kuat sepakbola di dunia sudah menerapkan metode ini. Sebut saja tim nasional Jerman. Kalau diperhatikan, di tiap lini Der Panzer kecuali kiper, ada pemain dari negara lain.

Lalu timnas Italia. Ketika mereka memenangi Piala Dunia 2006, ada nama Camoranessi yang memiliki darah Argentina. Yang terbaru, nama seperti Osvaldo dan Balloteli menambah deretan naturalisasi Gli Azzuri.

Memang Naturalisasi banyak dipandang sebagai solusi jalan pintas. Ada pula negara yang gengsi dan tidak melakukan naturalisasi. Misalnya Inggris. Namun, prestasi menjadi bukti. Tim nasional Inggris baru meraih 1 titel Piala Dunia. Itupun di Piala Dunia 1966, ketika di selenggarakan di tempat mereka sendiri. Jumlah yang jelas kalah dari Jerman dan Italia yang sudah mengoleksi 2 dan 4 trophy. Di pentas turnamen antar Eropa pun, Inggris hanya mentok di peringkat 3, berbeda dengan Jerman dan Italia yang pernah dinobatkan sebagai raja Eropa.

Kini timnas Garuda telah mendapat efek positif dari naturalisasi. Pada turnamen AFF Cup tahun lalu, tambahan tenaga dari Christian Gonzales dan Irfan Bachdim mampu membuat timnas bermain lebih atraktif. Terakhir, ketika SEA Games kemarin, kehadiran pemain berdarah Indonesia-Belanda, Diego Michels mampu memperkokoh pertahanan Garuda Muda dengan hanya kebobolan 3 gol sepanjang turnamen.
Oleh karena itu, asalkan memenuhi persyaratan kewarganegaraan, memiliki skill mumpuni, bisa “nyetel” dengan para pemain lokal, dan yang terpenting mencintai tanah air, tak ada salahnya jika solusi ini diteruskan. 

Sebab, sepakbola bukan hanya gengsi. Toh gengsi sebuah tim akan naik sendiri jika tim tersebut berprestasi. Terbanglah Garudaku!

Gading Pasoepati
Sumber: http://olahraga.kompasiana.com

Minggu, 20 November 2011

Diego Michiels dalam Catatan




Pemain kelahiran Deventer 8 Agustus 1990 ini memang tidak terlalu mengkilap di skuad timnas Indonesia Sea Games 26th. Diego Michiels nama lengkapnya. Pemilik tinggi 178 cm terlahir dari seorang ayah berkewarganegaraan Indonesia dan ibu berkewarganegaraan Belanda. Posisi Diego di timnas Indonesia Sea Games adalah bek kiri ataupun kanan, namun terkadang Diego juga bisa dimaksimalkan sebagai pemain gelandang bertahan.

Di dua pertandingan timnas Indonesia Sea Games, Diego memang tidak terlalu bermain mengkilap. Larinya tidak secepat Ferdinand Sinaga. Jarang sekali melewati dua atau tiga pemain seperti Titus Bonai. Jarang melakukan tembakan jarak jauh ke gawang lawan seperti Patrick Wanggai. Dan jarang melakukan akselerasi seperti apa yang dilakukan Okto.

Sepertinya permainan Diego masih jauh di bawah jika dibandingkan Nasuha atau Zulkifli. Namun bukan berarti Diego tidak bisa berlari cepat dan melakukan akselerasi melewati lebih dari dua pemain. Setidaknya Diego membuktikan hal itu saat menghadapi Singapura (11/11/11). Di babak kedua Diego sempat melakukan akselerasi melewati beberapa pemain, walaupun akhirnya harus dijatuhkan pemain Singapura di depan kotak pinalti.

Di lapangan sepertinya Diego faham betul bahwa perannya adalah menjaga lini belakang yang selama ini menjadi titik kelemahan timnas Indonesia. Urusan mencetak gol biarlah menjadi urusan pemain depan, sedangkan tugasnya adalah menjaga pertahanan agar tidak terjadi gol. Apalagi timnas Sea Games sudah memiliki pemain depan berkualitas, jadi tidak perlu memaksakan diri untuk membantu penyerangan.
 
www.bola.net

Itulah kelebihan Diego. Dia sosok pemain yang menyatu dengan tim. Pemain yang pintar bermain secara kolektif. Pemain yang faham mencerna instruksi pelatih. Pemain yang tidak mendahulukan ego. Tidak terlalu mau diekspos media seperti pemain naturalisasi yang lain. Di usia yang relatif masih muda, Diego sudah cukup memiliki kematangan emosi. Itu pula yang mungkin membuat Alfred Riedl merekomendasikannya untuk menjadi WNI.

Di lapangan, Diego juga terlihat lebih tenang dari pemain lain. Diego tidak terlalu lama ketika menguasai bola. Terhitung tidak lebih dari 3 detik bola ada di kaki Diego lantas diberikan ke pemain lain. Sepertinya Diego ingin memperagakan permainan Total Football yang selama ini membuat bingung pemain Indonesia dan yang di idam-idamkan Pelatih Wim. Satu-dua sentuhan, mengumpan, berlari, ciptakan peluang dan terjadi gol.

Karakter pemain seperti Diego pantas dipertahankan di skuad timnas Indonesia. Bermain efektif dan bermain kolektif. Diego punya motivasi yang lebih dibandingkan pemain lain. Pencinta sepakbola Indonesia harus menerima Diego Michiels sebagai bagian dari sejarah. Diego berusaha memberikan yang terbaik untuk negara barunya. 

Jadi jangan persoalkan mereka lahir dimana! Selama masih ada darah Indonesia di nadi mereka, maka mereka adalah orang Indonesia!!

Agus Prasetyo
Sumber: http://olahraga.kompasiana.com

Related Posts with Thumbnails