Minggu, 24 Oktober 2010

Pantai Parangtritis, Antara Keindahan Pantai dan Mitos Ratu Kidul

Keindahan Pantai Parangtritis
Keindahan Pantai Parangtritis

Di pesisir selatan Yogyakarta, terdapat sekitar 13 obyek pantai yang memiliki pesona wisata, ternyata Pantai Parangtritis yang selalu menempati peringkat teratas dalam angka kunjungan wisata, dibanding pantai-pantai lainnya. Pantai yang Berlokasi sekitar 27 Km dari kota Yogyakarta ini, dapat dicapai melalui desa Kretek atau rute yang lebih panjang, tetapi pemandangannya lebih indah yaitu melalui Imogiri dan desa Siluk.

Pantai yang termasuk wilayah Bantul ini merupakan pantai yang landai, dengan bukit berbatu, pesisir dan berpasir putih serta pemandangan bukit kapur di sebelah utara pantai. Di kawasan ini wisatawan dapat berkeliling pantai menggunakan bendi dan kuda yang disewakan dan dikemudikan oleh penduduk setempat. Selain terkenal sebagai tempat rekreasi, parangtritis juga merupakan tempat keramat. Banyak pengunjung yang datang untuk bermeditasi. Pantai ini merupakan salah satu tempat untuk melakukan upacara Labuhan dari Kraton Yogyakarta.




Parangtritis, adalah sebuah tempat pariwisata berupa pantai pesisir Samudera Hindia yang terletak kurang lebih 25 km sebelah selatan kota Yogyakarta. Parangtritis merupakan objek wisata yang cukup terkenal di yogyakarta selain objek pantai lainnya seperti Samas, Baron, Kukup Krakal dan Pantai Glagah. Parangtritis mempunyai keunikan pemandangan yang tidak terdapat pada objek wisata lainnya yaitu selain ombak yang besar juga adanya gunung - gunung pasir yang tinngi di sekitar pantai, gunung pasir tersebut biasa disebut gumuk.

Objek wisata ini sudah dikelola oleh pihak pemda Bantul dengan cukup baik, mulai dari fasilitas penginapan maupun pasar yang menjajakan souvenir khas parangtritis. Selain itu ada pemandian yang disebut parang wedang konon air di pemandian dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit diantaranya penyakit kulit, air dari pemandian tersebut mengandung belerang yang berasal dari pengunungan di lokasi tersebut. lokasi lain adalah pantai parang kusumo dimana di pantai tersebut terdapat tempat konon untuk pertemuan antara raja jogjakarta dengan ratu laut selatan.

ada hari-hari tertentu (biasa bulan suro) di sini dilakukan persembahan sesajian (Labuhan) bagiRatu Laut Selatan atau dalam bahasa Jawa disebut Nyai Rara Kidul. Penduduk setempat percaya bahwa seseorang dilarang menggunakan pakaian berwarna hijau muda jika berada di pantai ini. Pantai Parangtritis menjadi tempat kunjungan utama wisatawan terutama pada malam tahun baru Jawa (1 muharram/Suro). Di Parangtritis ada juga kereta kuda atau kuda yang dapat disewa untuk menyusuri pantai dari timur ke barat.

Naik bendi di pantai

Di kalangan masyarakat setempat, kejadian misterius semacam itu, semakin menguatkan mitos bahwa penguasa laut yang lazim disebut Nyi Roro Kidul (Ratu Pantai Selatan), suka “melenyapkan” orang yang tidak mengindahkan kaidah alam. Dari sisi ilmiah, kejadian semacam itu makin menguatkan teori bahwa palung laut selatan Jawa memang sarat arus bawah yang terus bergerak. Benda apa saja yang terseret ombak dari bibir pantai, terseret ke bawah dan terdampar pada lokasi berbeda.

Kepercayaan masyarakat setempat tentang legenda Nyi Roro Kidul juga dengan sendirinya melahirkan pesona tersendiri. Hampir setiap malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon, para pengunjung maupun nelayan setempat melakukan upacara ritual di pantai tersebut. Acara ritual diwarnai pelarungan sesajen dan kembang warna-warni ke laut. Puncak acara ritual biasanya terjadi pada malam 1 Suro, dan dua-tiga hari setelah hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Intinya, nelayan meminta keselamatan dan kemurahan rezeki dari penguasa bumi dan langit.

Menuju Kawah Ijen, Rute dari Bondowoso

Miner waiting to load in thick pungent smoke


Ijen located on high plateau of a dormant vulcanoe. The acidity of the Lake is high, close to 0.2. Ijen produce the suphur that mined traditionally. Peoples earn 3 US per day to carry 85 kg of a day hard work. 

Kawah Ijen ternyata mudah untuk dikunjungi melalui Banyuwangi atau Bondowoso. Keunikan yang utama dari wisata Kawah Ijen selain dari pada panoramanya yang sangat indah adalah melihat penambangan belerang tradisional yang diangkut dengan cara dipikul tenaga manusia. Penambangan tradisional ini konon hanya terdapat di Indonesia saja (Welirang dan Ijen). Beban yang diangkut masing-masing per orangnya sampai seberat 85kg. Beban ini luar biasa berat buat kebanyakan orang, manakala belerang diangkut melalui dinding kaldera yang curam dan 800m menuruni gunung sejauh 3km. Penghasilan yang diterima seorang pemikul rata-rata 25 ribu rupiah per harinya, atau sekitar 300 rupiah per kilonya. Seorang pemikul biasanya hanya mampu membawa turun satu kali setiap harinya, karena beratnya pekerjaan. Beberapa ratus meter terdapat sebuah bangunan bundar kuno peninggalan Belanda bertuliskan “Pengairan Kawah Ijen”, yang sekarang disebut sebagai Pos Bundar, sebuah pos dimana para penambang menimbang muatannya dan mendapatkan secarik kertas tentang muatan dan nilainya.


Road to Ijen

Road to Ijen

Rute dari Bondowoso ini melalui daerah terbatas areal perkebunan kopi, dengan tiga pintu gerbang yang berbeda. Di setiap pintu gerbang kita diminta untuk mengisi buku tamu dan tujuan perjalanan. Pemandangan di rute ini sangat bagus, dengan kebun kopi arabikanya yang hijau teratur, hutan pinus Perhutani dan hutan perawan Cagar Alam Ijen-Merapi yang lebat. Kunjungan singkat satu hari dapat dilakukan, namun bermalam di perkebunan kopi adalah pilihan yang tepat. Tersedia paket agro-wisata mengunjungi kebun kopi dan unit pemrosesan biji kopi yang patut dipertimbangkan.






Kawah Ijen, Tambang Belerang Tradisional

Pemandangan spektakular pada ketinggian 30,000ft dari jendela sebelah kiri pesawat Surabaya-Denpasar melahirkan sebuah pertanyaan tentang lokasi sebuah danau berwarna hijau tosca di ketinggian 2,000-an meter. Danau tsb sepertinya berada didalam kawah dengan dinding kaldera setinggi 300-500m. Sebuah puncak gunung menjulang berada disampingnya. Asap putih yang mengepul dari salah satu kawahnya membumbung tinggi ke udara, menjadikannya kontras dengan lingkungan sekitarnya yang berwarna hijau jade.

Traditional Miner

Kawah tsb. ternyata bernama kawah Ijen, terletak di Banyuwangi, Jawa Timur. Spot ini pernah dipublikasikan dan terkenal di Perancis melalui tayangan Ushuwaia Adventure yang memperlihatkan Nicolai Hulot sang-penjelajah, duduk diatas perahu karet bercerita ttg asal-usul danau Ijen dengan derajat keasaman nol, memiliki kedalaman 200 meter dan volume hampir 40 juta meter kubik, salah satu danau kawah terbesar didunia. Keasamannya cukup kuat untuk melarutkan pakaian dan jari jemari. Pandangan bird view kamera helikopter itu kemudian beralih ke tepi kaldera yang memperlihatkan penambang2 kawah ijen sedang berjuang mendaki memikul puluhan kilogram muatannya.

Climbing the caldera wall

Kawah Ijen ternyata mudah untuk dikunjungi melalui Banyuwangi atau Bondowoso. Keunikan yang utama dari wisata Kawah Ijen selain dari pada panoramanya yang sangat indah adalah melihat penambangan belerang tradisional yang diangkut dengan cara dipikul tenaga manusia. Penambangan tradisional ini konon hanya terdapat di Indonesia saja (Welirang dan Ijen). Beban yang diangkut masing-masing per orangnya sampai seberat 85kg. Beban ini luar biasa berat buat kebanyakan orang, manakala belerang diangkut melalui dinding kaldera yang curam dan 800m menuruni gunung sejauh 3km. Penghasilan yang diterima seorang pemikul rata-rata 25 ribu rupiah per harinya, atau sekitar 300 rupiah per kilonya.

Seorang pemikul biasanya hanya mampu membawa turun satu kali setiap harinya, karena beratnya pekerjaan. Beberapa ratus meter terdapat sebuah bangunan bundar kuno peninggalan Belanda bertuliskan “Pengairan Kawah Ijen”, yang sekarang disebut sebagai Pos Bundar, sebuah pos dimana para penambang menimbang muatannya dan mendapatkan secarik kertas tentang muatan dan nilainya.


Perjalanan wisata ke kawah Ijen, dimulai dari Paltuding 1,600 mdpl, sebuah pos Perhutani di kaki gunung Merapi- Ijen. Dari sini jalan tanah terus menanjak ke ketinggian 2,400m dpl dengan waktu tempuh 2 jam jalan santai. Sepanjang perjalanan banyak berpapasan dengan pemikul belerang yang ramah bertukar salam. Tiba di bibir kawah, pemandangan menakjubkan berada di depan mata. Sebuah danau hijau tosca dengan diameter 1 km berselimutkan kabut dan asap belerang berada jauh dibawah. Penambang-penambang belerang terlihat kecil dari atas. Untuk menuju ke sumber penghasil belerang tsb., kita perlu menuruni bebatuan tebing kaldera melalui jalan setapak yang dilalui penambang. Sapu tangan basah sangat diperlukan, karena seringkali arah angin bertiup membawa asap menuju ke jalur penurunan.


Didasar kawah, sejajar dengan permukaan danau terdapat tempat pengambilan belerang. Asap putih pekat keluar menyembur dari semacam pipa besi yang dihubungkan ke sumber belerang. Lelehan 600oC fumarol berwarna merah membara meleleh keluar dan membeku karena udara dingin, membentuk padatan belerang berwarna kuning terang. Terkadang bara fumarol menyala tak terkendali, yang biasanya segera disiram air untuk mencegah reaksi piroporik berantai. Batu-batuan belerang ini dipotong dengan linggis dan diangkut kedlm keranjang. Bernapas dlm lingkungan spt. ini dibutuhkan perjuangan tersendiri, para penambang umumnya bekerja sambil menggigit kain sarung atau potongan kain seadanya sebagai penapis udara.

IFrom Ijen rim seeing outside

Selain langsung menuju muka danau, berkeliling punggungan kaldera dpt dilakukan dengan memakan waktu kurang lebih seharian penuh. Pendakian ke kawah Ijen umumnya disarankan dimulai pada pagi hari. Demi alasan keamanan, pendakian ke kawah ijen dari Paltuding ditutup selepas pukul 14:00, karena pekatnya asap dan kemungkinan arah angin yang mengarah ke jalur pendakian. Untuk mengejar perjalanan di pagi hari, pengunjung disarankan menginap di lokasi terdekat di Bondowoso, kota pegunungan yang bersih, atau di Situbondo sebuah kota pantai.


Jika anda menyukai suasana perkebunan pegunungan, tempat yang berkesan untuk bermalam adalah Guest House Perkebunan Kopi PTP Nusantara XII di Kalisat, Jampit. Guest house ini terletak didalam kompleks perumahan perkebunan pada ketinggian sekitar 1,200 mdpl. Selain itu juga tersedia Pondok Wisata di Paltuding yang cukup bersih, atau membuka tenda di bumi perkemahan Paltuding. Temparature rata-rata di sekitar kawah Ijen adalah 13 oC di siang hari dan 2 oC di malam hari.

Coffe Plantation leisure place

Untuk mencapai kawah Ijen saat ini tidaklah terlalu sulit. Terdapat dua cara, pertama melalui kota Banyuwangi sejauh 38 km ke barat melalui Licin, Jambu dan terus ke Paltuding (1,600 mdpl). Cara kedua adalah melalui kota Bondowoso 70 km kearah timur melalui Wonosari, Sempol (800 mdpl) terus ke Paltuding m. Cara kedua ini paling banyak ditempuh orang karena melalui jalan aspal mulus, sedangkan cara pertama melalui jalan makadam penuh tanjakan curam. Turis asing selepas kunjungan di Bromo biasanya datang melalui Bondowoso, meneruskan perjalanan melalui Banyuwangi, Bali dan Lombok.



Rute dari Bondowoso ini melalui daerah terbatas areal perkebunan kopi, dengan tiga pintu gerbang yang berbeda. Di setiap pintu gerbang kita diminta untuk mengisi buku tamu dan tujuan perjalanan. Pemandangan di rute ini sangat bagus, dengan kebun kopi arabikanya yang hijau teratur, hutan pinus Perhutani dan hutan perawan Cagar Alam Ijen-Merapi yang lebat. Kunjungan singkat satu hari dapat dilakukan, namun bermalam di perkebunan kopi adalah pilihan yang tepat. Tersedia paket agro-wisata mengunjungi kebun kopi dan unit pemrosesan biji kopi yang patut dipertimbangkan.

Archie of Yokohama 
www.pbase.com

Nelangsanya Masjid Kita

 http://i28.tinypic.com/j17c4y.jpg

Sulit didirikan di daerah mayoritas non-Islam. Kalaupun ada, dikelilingi anjing dan babi.

Syahdan, dengan menggunakan jet pribadi miliknya, pengusaha Probosutejo mengajak Ketua MUI KH Hasan Basri, Sekretaris Umum Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia Husein Umar, Ketua Muhammadiyah Sutrisno Muhdam, Kassospol ABRI Syarwan Hamid, dan Pang¬dam Udayana, mendarat di Timor Timur. Probo membawa segerobak uang tunai untuk membangun sebuah masjid yang megah.

Namun, sesampainya di tujuan mereka dipingpong pejabat daerah setempat. Camat bilang pembangunan masjid harus minta izin Bupati. Sebaliknya, Bupati mengatakan yang punya wilayah dan kewenangan adalah Camat. Begitu bolak-balik, hingga izin membangun masjid tak jua keluar.

Kasus pada tahun 90-an itu dikisahkan Ustadz Syuhada Bahri, Ketua Umum Dewan Da’wah yang pernah blusukan berdakwah di Timor Timur semasa masih menjadi bagian Indonesia.

Pasca Referendum 1998 yang berujung kemerdekaan Timor Leste, Islam di Timor Timur mengalami kemunduran hebat. Mengutip laporan Sekjen Centro da Comunidade Islamica de Timor Leste (Cencistil)  Domingus Marlim da Silva MA pada Juli 2008, dari sekitar 35.000 warga Muslim Timor pada 1998 tersisa 5000-an muslim saja. Jumlah ini hanya 3% dari total penduduk Timor Leste.

Rumah ibadah muslim di Timor Leste tinggal 13 dari semula 64 unit. Jumlah lembaga Islam dari 20 tersisa 7. Dan jumlah da’i dari 116 orang tinggal 21.

Sebagian rumah ibadah muslim itu hancur terbengkelai. Misalnya Masjid Nurul Huda di Kecamatan Uatolari, Al Ikhlash di Maliana, At Taqwa di Lospalos, dan Masjid Nurul Ikhwan di Lurumata, Dili. Demikian juga Mushola Al Hidayah dan bekas Gedung Yayasan Yakin di Kuluhun, Dili. Juga Mushola At Taqwa di Gleno, Ermera.



Jadi Kandang Babi

Sementara itu, bekas rumah ibadah atau bangunan lembaga Islam yang tersisa dalam kondisi baik, telah beralih fungsi. Sebagian diantaranya menjadi kisah yang menyesakkan dada. Misalnya, dimanfaatkan oleh umat agama lain seperti gedung sekolah Islam Yayasan Yakin. Demikian juga mess Da’i An Nuur Dili. Mushola Al Ma’ruf di Kompleks Handayani Becora, sekarang disewa oleh seorang Frater (pemuka agama Katolik). Demikian juga Mushola Ad Darurah di PU Campo Baru, Comoro.

Sementara itu, Mushola As Salam di LP Becora, Dili, dijadikan tempat praktik ketrampilan kayu oleh para penghuni penjara setempat. Sedangkan Mushola Fathur Rahman Bairo-Pite, Dili, menjadi kantor polisi.

Yang mengenaskan adalah nasib Mushola Al Muhajirin di Mercado Lama, Dili. Bangunan luas yang dulunya rumah ibadah muslim ini sekarang dikapling-kapling multi-fungsi. Ada yang dijadikan tempat tinggal, bengkel motor, studio film, dan... kandang babi! Astaghfirullah.

Usai Referendum, sekitar 25.000 warga Timor yang memilih tetap dalam naungan Indonesia, mengungsi ke perbatasan NTT-Timor Leste. Mereka kini menghuni penampungan di Halewen, Sukapetete, Aikiok, Aitaman, dan Aipupu. Nasib mereka makin mengenaskan karena menjadi incaran misionaris pemurtad.



Dikelilingi Babi dan Anjing

Rumah ibadah muslim minoritas di daerah mayoritas non-Islam, tidak lebih baik dari cerita di Timtim tadi. Misalnya Masjid Al Furqon Dusun Gantang, Desa Gantang, Kec Sawangan, Magelang, Jawa Tengah.

Dari sekitar 200 KK warga Dusun Gantang, yang muslim hanya 23 KK. Itu pun yang murni keluarga muslim hanya 17. Sedang 5 KK lagi agamanya campur-campur muslim dan nasrani.

Saat LAZIS Dewan Da’wah menggelar ifthor (buka bersama) di Masjid Al Furqon, Jumat 20 Agustus lalu, banyak anjing dan babi milik warga mayoritas berkeliaran di sekitar masjid. ‘’Kami terpaksa memagari masjid dengan bambu dan triplek yang agak tinggi biar anjing atau babi tidak masuk masjid,’’ kata Wandi, aktivis Islam setempat.

Hal yang sama dialami masjid atau mushola di Kabupaten Karo. Di sini, warga muslim sekitar 30% dari keseluruhan penduduk. Ketika LAZIS Dewan Da’wah menyalurkan bantuan bagi warga Desa Limang, Kecamatan Tiga Binanga, Karo, 23 September lalu, anjing berkeliaran bebas di sekitar Masjid Harapan. Bahkan seekor anjing sempat berkeliaran di teras masjid. Di sini warga muslim hanya seperempat warga keseluruhan.

‘’Anjing di sini sudah dianggap seperti warga desa. Padahal tadinya hanya untuk menjaga ladang, bukan menjaga kampung yang sudah aman,’’ ujar Ustadz Sahlul Lubis, da’i muda setempat.

Di Dusun Salappa, Desa Munthei, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, warga non-muslim membuat tempat penjagalan babi berdampingan dengan Musholla Nurul Ikhlas yang diasuh Ustadz Afdal. Akibatnya, darah babi yang dijagal sering muncrat ke dinding papan mushola.

LAZIS Dewan Da’wah pada tahun 2007 membeli lahan jagal babi itu beberapa ratus ribu, guna membersihkan mushola dari ancaman najis.



Terbanyak di Asia

Berdasarkan data Depag, rumah ibadah umat Kristen melonjak 131,38 persen dari 18.977 pada tahun 1977 menjadi 43.909 buah pada tahun 2004. Gereja Katolik naik 152,79 persen dari 4.934 pada tahun 1977 menjadi 12.473 buah pada tahun 2004.

Sementara itu, rumah ibadah umat Islam hanya mengalami pertumbuhan sebesar 64,22 persen dari 392.044 pada tahun 1977 menjadi 643.834 pada tahun 2004.

Mengacu pada catatan Depag itu, persentase jamaah masjid jumlahnya jauh lebih padat ketimbang jemaat gereja. Satu masjid dipadati 4.050 muslim, sedang satu gereja Kristen dipadati 269 penganutnya, dan satu gereja Katolik dipadati 491 jemaat.

Data Depag tadi belum termasuk gereja-gereja liar yang berdiri di mal-mal, kantor-kantor, ruko-ruko, atau gedung-gedung mewah di Jakarta. Juga gereja-gereja sementara, gereja kapel, dan rumah-rumah yang disulap menjadi gereja, terutama di daerah-daerah terpencil.

“Indonesia merupakan negara terbanyak gerejanya di Asia,” simpul KH Hasyim Muzadi, Presiden World Conference on Religion for Peace. (nurbowo)


Makmurkan Masjid Kita

Masjid adalah pusat kegiatan ummat. Hal ini ditegaskan Ketua Dewan Da’wah, KH Cholil Ridwan Lc, saat berceramah dalam Haflah 'Idul Fithri 1429 H/2008 M bertema  "Rajut Ukhuwah, Selamatkan Indonesia dengan Da'wah" di Aula Masjid Al Furqon, Kramat Raya 45, pada 8 November dua tahun lalu.

Menurut Kyai Cholil yang juga ketua MUI, dulu Nabi SAW menjadikan masjid sebagai pusat segala kegiatan. ‘’Dari mulai shalat hingga latihan perang," ujar pimpinan Ponpes Husnayain, Pasar Rebo, Jakarta Timur. 

Karena itu, Kyai Cholil berharap Dewan Da'wah khususnya dan Ummat Islam umumnya menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan.

Seruan Kyai Cholil memang sudah menjadi agenda mendesak untuk memajukan ummat. Mengingat, potensi masjid di Tanah Air yang demikian besar namun masih jauh dari optimal pemanfaatannya. Misalnya untuk dijadikan sebagai basis perekonomian ummat.

Di negara lain seperti Turki, masjid terbukti sukses sebagai basis ekonomi masyarakat. Misalnya Masjid As Shofiyah, Istanbul, yang di sekitarnya dibangun restoran-restoran waralaba yang sebagian keuntungannya untuk operasional masjid. Termasuk menggaji para ulama setempat.

Sedangkan di Indonesia, kini tercatat sekitar 679 ribu masjid berukuran besar. 70% diantaranya sudah bersertifikat tanah wakaf. Dari jumlah itu, 20% berhalaman luas tapi belum optimal difungsikan. Lahan nganggur itu, bila dijumlah, mencapai 200 km persegi atau seluas Singapura!


www.suara-islam.com


Mengeroyok Islam Lewat FPI dan Muhamadiyah

 http://3.bp.blogspot.com/_HKMWpx7s1q0/SyOuoRKkstI/AAAAAAAAAhE/WKeAbdxtBBg/s400/islam+CHAN.jpg

Awal 2005, Penulis ikut dalam rombongan relawan yang diberangkatkan MER-C ke Banda Aceh pasca gempa-tsunami 26 Desember 2004. Diantara anggota kafilah terdapat beberapa anggota FPI (Front Pembela Islam). Dua diantaranya masih remaja dari Bekasi. Mereka memiliki keahlian menangani sumur manual dan penjernihan air. Ketika keberangkatan terus tertunda dan calon penumpang pesawat Garuda termasuk kami dievakuasi ke sebuah hotel bintang lima di kawasan Ancol untuk beristirahat, para anggota FPI senior memilih menginap di markas FPI di Petamburan, Jakarta Pusat. Sedangkan dua remaja tadi setengah hati menikmati fasilitas hotel. ‘’Mau jadi relawan kok malah kesasar jadi wisatawan,’’ ujar seorang dari mereka sambil tersenyum kecut.

Di Banda Aceh, FPI membuka Posko di tempat yang sama sekali pihak lain tidak berminat menempatinya: Taman Makam Pahlawan. Dari sinilah Habib Rizieq Shihab terjun langsung mengomandoi lebih seratus anak buahnya untuk mengevakuasi dan menguburkan mayat korban bencana alam secara Islami. Harta benda yang masih tersisa pada mayat seperti dompet beserta isinya, perhiasan, dan lain-lain, dikumpulkan, lalu diserahkan kepada ahli warisnya atau kepada aparat setempat. Seluruh kegiatan FPI dalam rangka aksi kemanusiaan membantu rakyat Aceh dalam musibah Tsunami 2004 itu, terekam dalam ratusan foto yang amat tragis dan kini dipajang di kantor FPI di kawasan Petamburan Jakarta Barat. Aksi kemanusiaan FPI ini tak pernah disebut-sebut oleh pers nasional secara memadai. Padahal anggota FPI, telah memakamkan janazah korban Tsunami itu sedikitnya 70.000 janazah.

Ketika bendungan Situ Gintung ambrol 27 Maret 2009, Penulis acap mampir ke Posko FPI di sebuah mushola di lembah komplek perumahan Cireundeu Permai. Di situ terpajang foto-foto aksi FPI dalam menanggulangi dampak bencana bersama unsur masyarakat lainnya. Sebuah spanduk lebar terbentang yang isinya menawarkan bala bantuan FPI 24 jam gratis beserta hotline-nya untuk bersih-bersih rumah, mencari anggota keluarga yang hilang, dan sebagainya.

Saat gempa mengguncang Sumatera Barat akhir September 2009, Penulis mendapati relawan FPI tekun membersihkan reruntuhan sebuah surau di kawasan Padang Pariaman.

Apa hendak dikata, aktivitas utama FPI tersebut, nyaris tidak pernah mendapat tempat di media massa. Yang sengaja dipilih dan diekspos dari FPI oleh sebagian besar media massa adalah kegiatan ‘’rusuh’’. Meskipun kerusuhan itu dalam rangka penggerebekan sarang kemaksiatan.

‘’Kebohongan yang diulang-ulang dan terus-menerus lama kelamamaan akan dianggap jadi kebenaran’’. Lantaran massif-nya media massa menayangkan aksi FPI yang diwarnai ‘’kerusuhan’’, dan aksi “kekerasan” akhirnya bagi sebagian orang FPI identik dengan kerusuhan dan kekerasan bahakan anarchie. Bahkan ketika personil FPI absen atau hanya ada segelintir pun dalam sebuah kerusuhan, maka tetap saja beritanya kerusuhan itu ulah FPI. Kasus ‘’pengusiran’’ Gus Dur di Purwakarta, kasus Monas, dan yang terbaru kasus Banyuwangi, sekadar contoh bagaimana FPI dijadikan kambing hitam dan sasaran tembak sekaligus untuk mengalihkan persoalan dari subtansi yang sebenarnya.

Jurus keji itu pula yang kini digunakan Ulil Abshar Abdalla. Pengasong Seipilis (Sekulerisme-Pluralisme-Liberalisme) ini kabarnya di-drop out dari Harvard University, dan lembaganya terancam kehilangan dolar lantaran perubahan kebijakan Presiden AS Hussein Obama. Sebelumnya Ulil juga di-DO dari LIPIA Jakarta. Tokoh JIL ini terpental pula dari struktur PBNU. Maka dapat dimaklumi ketika ia mendapat tempat di partai penguasa (Demokrat), luapan frustrasinya akibat kegagalan terus-menerus, dilampiaskan pada FPI.

Selain menjadi kanalisasi beban psikologisnya, kampanye Ulil untuk membubarkan FPI juga merupakan setoran kepada penguasa yang didominasi Partai Demokrat. Kata Ulil, ‘’Lupakan dulu Century, mari bubarkan FPI!’’ Ucapan ini niscaya tidak akan keluar dari seseorang yang rusak mulutnya, melainkan rusak akal sehatnya. Bagaimana mungkin membandingkan FPI dan Skandal Century. FPI hanyalah soal ‘’kecil’’ yang dibesar-besarkan media massa, sedangkan Skandal Century adalah terorisme ekonomi yang dahsyat, yang kalau dituntaskan bisa merembet ke Istana.

Kalau mau bubar-bubaran, mestinya lembaga komplotan Ulil seperti JIL dan sejenisnya yang perlu diprioritaskan untuk dibubarkan. Mereka selama ini menjadi komprador dan panen dolar secara illegal. Padahal, seperti disebutkan Direktur An Nashr Institute, Munarman, UU No 8 Tahun 1985 menyebutkan bahwa organisasi massa dilarang menerima bantuan asing tanpa persetujuan pemerintah. Pelanggaran atas ketentuan tersebut dapat diberikan sanksi pembekuan kepengurusan.Jelas di sini duduknya soal, kata Muanarman, sebenarnya yang pantas dibubarkan dan diusut pelanggaran UU-nya justru lembaga Ulil ini yakni JIL (Jaringan Islam Liberal).” Kata Munarman tandas saat berdebat di TV One minggu lalu.

Sebaliknya, menurut Luthfie Hakim pengacara senior yang juga tampil berdebat soal FPI di Metro TV, “FPI yang terdaftar di Depdagri dengan SK No 69/DIII.3/VIII/2006, seharusnya diberi tunjangan dana APBN. Sebab, FPI selama ini telah membantu pemerintah dan masyarakat dalam menanggulangi penyakit masyarakat seperti perjudian, perzinahan, dan premanisme,” ujarnya yang dalam acara itu, Luthfie mendapat konfirmasi langsung via telepon dari Mendagri Gamawan Fauzi, bahwa FPT ternyata organisasi yang terdaftar dan legal.

Bahwa di internal FPI sendiri ada ‘’penyakit’’, itu lumrah dalam sebuah organisasi. Apalagi lembaga yang namanya menasional seperti FPI. Selama ini pimpinan pusat FPI pun tak segan memberi sanksi internal sejak skorsing, pemberhentian anggota, hingga pembekuan organisasi cabang. Tapi ngotot membubarkan FPI sambil melupakan Skandal Century, sekali lagi ini hanya buah pikir otak yang rusak. Tampak jelas dalam kasus wacana pembubaran FPI yang telah berulangkali muncul dan ingin dipaksakan itu, tersisip rencana jahat mendiskreditkan Islam sebagai kekuatan dan agama yang besar, dengan cara mengeroyok dan mendiskreditkan FPI yang kecil.

Selain FPI, lembaga umat yang tengah jadi sorotan nasional adalah Muhammadiyah. Alhamdulillah, Muktamar ke-46 sekaligus peringatan seabad Persyarikatan ini berhasil menjaga independensinya dari intervensi penguasa. Prof Sirajudin (Din) Syamsuddin yang terpilih kembali sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, berjanji akan membawa ormas ini tetap kritis kepada penguasa sebagaimana belakangan ini.

Sayangnya, meskipun unsur Sepilis berhasil ditepis dari pengurus pusat, strategi budaya Sepilis berhasil menyusup ke Muhammadiyah. Setelah sineas liberal Hanung Bramantyo melayarputihkan KH Ahmad Dahlan dalam ‘’Sang Pencerah’’, timbul pula rencana memfilmkan sepak terjang pemikir liberal Syafi’i Ma’arif.

Kita akui Syafi’i Ma’arif sangat kritis terhadap Amerika dan Israel. Bahkan ia tak sungkan mengungkap ucapan mantan komandan SBY di ketentaraan bahwa SBY sudah lama Americanized. Syafi’i juga pernah menolak mentah-mentah tawaran berkonspirasi dengan agen Amerika untuk menangkap dan memenjarakan Ustadz Abu Bakar Baasyir dengan dalih terorisme.

Namun, di bidang pemikiran Islam, mindset Syafi’i Ma’arif sama saja dengan komplotan JIL. Meskipun artikulasi Syafi’i dalam hal ini tidak seugal-ugalan Ulil dan kawan kawan, namun tetap saja mindset-nya berbahaya, bahkan bisa lebih menghancurkan secara substansial. Sulit mengoreksi pola pikir orang yang sudah telanjur ditokohkan, sepuh, dan agak arogan seperti Syafii Maarif.

Wabil khusus kepada ormas Islam semacam FPI dengan busananya yang khas, Syafii pernah melontarkan istilah keji ‘’preman berjubah’’. Kali lain dia mengemukakan istilah sarkas: “Otak-otak Sederhana”. Belakangan pun ia getol menyerukan pembubaran FPI. Syafii bagai ikut menabuh “beduk opini” menjelang, dan selama berlangsungnya muktamar Muhammadiyah bersama-sama sejumlah koran nasional seperti Kompas dan Media Indonesia. Kompas dengan sangat tendensius mempengaruhi jalannya mutamar melalui rubrik-rubrik khusus Muktamar Muhammadiyah. Silih berganti tokoh-tokoh diwawancarai dengan mengarahkan agar Muhammadiyahj berganti haluan menjadi liberal dan diserahkan kepada generasi muda. Bahkan Muhammadiyah didorong sebagai organisasi terbuka dan menampung anggota Non-Muslim. “Jika Muhammadiyah tetap di tangani orang-orang tua bagai membuat Muhammadiyah betul-betul organisasi jompo”, kata Syafii sekali lagi.

Adalah Taufiq Ismail, penyair yang juga putra ulama kharismatis Ghaffar Ismail mencoba untuk mengingatkan kepada para muktamirin dengan mengirimkan sms, agar pengaruh liberalisasi Muhammadiyah lewat media film karya sutradara muda Hanung Bramantyo yang kekiri-kirian itu dibahas dalam muktamar. Tampaknya usulan ini tidak mendapat respon. Walau upaya Hanung hendak me-launching filmnya Sang Pencerah sebuat riwayat KH.Ahmad Dahlan dalam muktamar gagal, karena film tersebut belum siap. Kini malah terdengar kabar Hanung hendak membuat film tentang Syafii Maarif. Kabarnya Taufiq Ismail bersama FUI (Forum Umat Islam) akan menemui Din Syamsuddin untuk mempertanyakan ihwal penting ini.

Upaya sangat agresif mengeroyok aspirasi Islam seperti digambarkan di atas lewat pendeskreditan PFI dan membonceng muktamar Muhammadiyah, sungguh kasus yang luar biasa dan sangat ironis terus digencarkan di negeri Muslim terbesar di dunia ini. Hal ini terjadi karena penguasaan media massa baik cetak dan elektronika berada di tangan kaum Islamo-phobia itu.Hal-hal yang musykil terus saja menimpa umat Islam yang berniat hendak menjalankan perintah agamanya. Ingat saja peristiwa penghapusan Tujuh Kata dalam Piagam Jakarta, hakikatnya adalah upaya terselubung kaum anti Islam. Missi seperti itu kini semakin gencar dan semakin mudah ditebarkan seolah-olah menjadi opini dan pendirian seluruh rakyat Indonesia. FPI yang militant dan memberantas kemaksiatan justru dianggap sebagai aib, sebagai kejahatan dan hal itu identik Islam. Begitu halnya Muhammadiyah yang konservatif dan kembali ke basis Islam yang sebenarnya dituduh-tuduh sebagai puritan, kolot, bodoh, jompo dan seterusnya. Seperti umat Islam ini hanya terdiri orang-orang yang benar-benar bodoh. Terus di kuyo-kuyo aspirasinya. Upaya ini mutlak harus dihentikan.

(Aru Syeif Assadullah, Nurbowo)
Suara-Islam.Com

www.baitussyakuur.blogspot.com

Indonesia Ingin Dijadikan Negara Kristen


Wawancara Suara Islam (SI) dengan Ustadz Insan LS Mokoginta (Mantan Kristen, Ketua DDII Kota Depok Jawa Barat)
 
Rencana pembangunan Gereja liar di Ciketing Bekasi yang sudah berlangsung selama 20 tahun dan berakhir dengan bentrokan antara 9 pemuda Islam yang gagah berani melawan 200 jemaat HKBP yang melakukan provokasi, semakin membuka pandangan umat Islam Indonesia yang mayoritas, bahwa sesungguhnya sudah sejak lama berlangsung Kristenisasi secara massal dan massif di Indonesia.

Bermula dari penjajahan Belanda yang dimulai dengan berdirinya VOC tahun 1602. Kolonial Belanda datang ke negeri Nusantara yang mayoritas Islam dengan maksud tidak hanya ingin merampas harta kekayaan rakyat dengan dalih berdagang, tetapi ada maksud tersembunyi lainnya yakni menyebarkan agama Kristen. Tidak hanya Belanda yang mengekspor ajaran Kristen tetapi Spanyol, Potugis dan Inggris juga pernah menjajah dan menyebarkan Kristen ke Nusantara.

Namun berkat pertolongan Allah SWT, meski pernah dijajah kolonial Belanda selama 350 tahun dengan usaha Kristenisasi yang gencar, 90 persen rakyat Indonesia tetap memeluk Islam sebagai satu-satunya agama yang benar dan diridhoi Allah SWT. Terbukti Belanda gagal total mengkristenkan Indonesia, bahkan umat Islam mampu dan terus melakukan perlawanan dimana-mana sehingga meletuslah Perang Diponegoro, Perang Paderi, Perang Aceh hingga Proklamasi 1945.

Namun sekarang para pendeta, pastor dan misionaris Kristen yang merupakan para murid dan anak didik kolonial Belanda, berusaha mengubah kegagalan gurunya mengkristenkan Indonesia menjadi keberhasilan dalam jangka waktu 50 tahun sejak terbitnya SKB 2 Menteri, Mendagri Amir Mahmud dan Menag KH Ahmad Dahlan tahun 1969 lalu. Dengan demikian, ditargetkan paling lambat tahun 2019 nanti, Indonesia dari negara dengan mayoritas umat Islam terbesar di dunia  berubah menjadi Negara Kristen terbesar kedua di dunia setelah AS.

Meski sudah ada SKB 2 Menteri yang melarang penyiaran agama kepada orang yang sudah beragama, namun gerombolan Kristen tetap nekat dan terus berusaha mengkirstenkan umat Islam dengan berbagai cara dan menghalalkan segala cara dengan dana dan bantuan luar negeri yang mengalir deras. Mereka melihat kemiskinan rakyat Indonesia dapat dijadikan dalih untuk mengkristenkan mereka, seperti memberi lapangan pekerjaan, memberi sembako, menyekolahkan anak Islam ke sekolah Kristen, membangun Gereja dan sekolah Kristen secara besar-besaran meski mereka tahu disitu tidak ada umat Kristen dan mayoritas murid sekolah Kristen adalah anak anak muslim. Selain itu mereka juga menempuh cara-cara kotor dengan menghalalkan segala cara, seperti pura-pura masuk Islam tetapi setelah menikah memaksa istri atau suaminya menjadi Kristen, menghamili gadis muslim dan memaksanya masuk Kristen dan sebagainya.   

Selain itu kelompok Kristen bekerjasama dengan kaum sekuler menguasai media massa baik elektronik maupun cetak. Maka tidaklah mengherankan jika konten berita televisi, radio, internet, koran, majalah dan tabloid di Indonesia selalu mendiskreditkan umat Islam. Jika ada Masjid dibakar gerombolan Kristen seperti di Medan Sumatera Utara, media massa sama sekali tidak memberitakan. Tetapi ketika ada Gereja liar akan didirikan di Ciketing Bekasi meski melanggar Peraturan Bersama Menteri (PBM) dan ditolak masyarakat setempat, media massa ramai-ramai memberitakannya.

Bahkan umat Islam diberitakan media massa telah  berbuat anarkhis, seperti ketika terjadi bentrokan 9 pemuda Islam melawan 200 jemaat HKBP. Mereka memberitakannya sebagai panghadangan pemuda Islam terhadap jemaat HKBP di Ciketing Bekasi, padahal yang terjadi adalah bentrokan secara spontan akibat provokasi mereka. Apa mungkin 9 orang berani menghadang 200 orang yang sebagian membawa senjata tajam ? Namun anehnya, pihak Polri hanya menahan 9 pemuda Islam yang mengalami luka-luka termasuk tertusuk dan patah tulang akibat bentrokan, sementara jemaat HKBP yang membawa senjata tajam dan para pendeta yang rajin memprovokasi umat Islam Ciketing tidak ditahan. Lebih mengherenkan lagi media massa terutama televisi hanya memberitakan “korban” dari pihak Kristen, sementara korban dari umat Islam tidak pernah diberitakan.

Berikut ini wawancara dengan kristiolog, Ustadz Insan LS  Mokoginta, seputar upaya Kristenisasi di Indonesia dan peristiwa Ciketing Bekasi yang hingga sekarang masih terus memanas dan bagaimana solusinya.                
   
Mengapa Indonesia menjadi target utama Kristenisasi di dunia ?

Indonesia menjadi target utama Kristenisasi di dunia, sebab Indonesia merupakan salah satu negara yang rakyatnya beragama Islam terbanyak di dunia, yang dianggap tidak menerima Injil sebagai berita keselamatan, sehingga bagi mereka kita umat Islam termasuk domba-domba sesat yang perlu mereka Injili atau selamatkan.

Apa sebenarnya motif pihak Kristen dalam memperbanyak pendirian Gereja di Indonesia ?
Motifnya jelas. Pertama, untuk memberi kesan seolah-olah perkembangan Kristen di Indonesia sudah sangat luar biasa.  Kedua, untuk mempermudah jemaatnya beribadah, walau tidak sesuai PMB. Ketiga,  karena sekte Kristen sangat banyak, dimana satu sama lainnya berbeda ritualnya, sehingga walau kelompok kecil, mereka menghendaki punya tempat ibadah sendiri.

Apakah para pemimpin Kristen memiliki rencana terselubung untuk membuat Indonesia menjadi negara mayoritas Kristen dalam jangka waktu tertentu ?
Sejak dulu memang mereka punya rencana jangka panjang, untuk menjadikan Indonesia suatu saat menjadi negara mayoritas Kristen.

Mengapa pertumbuhan Gereja lebih pesat daripada Masjid, dimana Gereja mencapai 162 persen sedangkan Masjid hanya 60 persen pertahun ?

Pertumbuhan Gereja jauh lebih pesat dari Masjid, sebab dalam tubuh Kristen terjadi perpecahan demi perpecahan, dimana setiap pecahan sekte-sekte tersebut selalu memisahkan diri dan membangun Gereja baru sebagai komunitas baru, karena setiap sekte hanya mau beribadah sesuai dengan sekte mereka sendiri.
 
Dengan banyaknya sekte Kristen yang mencapai kurang lebih 360 sekte, apakah mereka ingin memiliki Gereja sendiri-sendiri ?

Sudah dijelaskan diatas, bahwa setiap sekte pasti ingin memiliki gedung Gereja sendiri, walaupun anggotanya hanya sedikit. Apalagi yang awalnya satu sekte lalu pecah menjadi dua atau tiga, ada kebencian antarsekte dalam pepecahan tersebut, baik jemaatnya dan juga pendetanya.

Apakah diantara sekte Kristen itu saling bermusuhan ?

Ada juga yang saling bermusuhan, seperti yang kita ketahui antara Katolik dan Protestan di Irlandia dan Inggris. Untuk dinegeri ini, tahun lalu di Bandung terdapat satu sekte dengan dua jemaat sehingga mereka berebut satu Gereja. Sampai-sampai mereka mengadakan ibadah terpisah, satu jemaat di dalam gedung Gereja dan satu jemaat lagi di halaman. Tapi secara umum sesama Kristen tidak akur, bahkan sesama mereka saling melakukan Kristenisasi. Artinya, tiap sekte berusaha untuk mengajak jemaat sekte lainnya agar bergabung dengan sekte mereka.

Apakah bantuan asing selama ini terus mengalir pada pihak Kristen di Indonesia. Apakah dalam hal ini Vatikan berperan besar? Berapa kira-kira besarnya bantuan asing kepada Gereja pertahunnya?

Berkembang pesatnya Kristen di Indonesia justru karena mendapatkan bantuan dari luar negeri. Tapi peran Vatikan hanya untuk memberikan bantuan kepada pihak Katolik, sementara Protestan mendapatkan bantuan bukan dari Vatikan. Tentang besar kecilnya kami tidak tahu.

Bagaimana pendapat anda mengenai adanya bisnis Gereja dibalik Kristenisasi di Indonesia ?
Bisnis Gereja cukup menguntungkan, karena sulitnya mereka dapatkan IMB. Salah satu sebab, jumlah jemaat mereka yang amat sedikit, tapi ingin membangun gereja, ini kan melanggar peraturan di negeri ini. Akhirnya banyak Ruko yang diperjual belikan atau disewakan menjadi Gereja. Bahkan di Bekasi, ada gedung yang sengaja dibangun untuk disewakan atau dijual kepada 6 Gereja yang semua sektenya berbeda, bangunannya berderet-deret.

 
Mengapa pihak Kristen begitu membenci umat Islam, padahal dalam sejarahnya umat Islam begitu toleran terhadap mereka ?

Pertama, karena perseturuan antara kedua istri Ibrahim, Sara & Hajar. Sara memperanakkan Ishaq yang menjadi Bani Israil / Yahudi (Yesus orang Yahudi), dan Hajar memperanakkan Ismail yang menjadi Bani Ismail (Arab). Sementara Nabi akhir zaman (Muhammad SAW) bukan dari Bani Ishaq tapi dari Bani Ismail. Kedua, karena Al Qur`an banyak mengkritik kandungan Alkitab (Taurat, Zabur & Injil). Ketiga,  karena Islam adalah pesaing utama dalam mendakwahkan ajarannya. Keempat, karena umat Islam dianggap orang-orang yang “anti Kristus” yang tidak mengakui  Yesus itu Tuhan, mati di Salib, Trinitas, penebusan dosa dan lain-lain. Kelima, karena Islam dianggap mengajarkan ajaran kejam, sadis dan teroris yang dianggap membahayakan mereka. Padahal jika dikaji kandungan kedua kitab tersebut justru sebaliknya.

Bagaimana tanggapan anda tentang pembakaran Al Qur`an yang dilakukan oleh Bob Old & Danny Allen di Amerika ? Benarkah bahwa yang mereka lakukan itu atas pesan ”Tuhan” ?
Mereka membakar Al Qur`an karena ketidak-tahuan mereka terhadap isi Al Qur’an, dimana Al Qur`an dianggap biang keladi terjadinya peristiwa 11 September beberapa tahun lalu. Mereka menganggap Al Qur`an mengajarkan kebohongan, kejam, sadis, bengis, dan teroris. Padahal jika mereka baca dan pelajari kandungan isi Al Qur`an, tidak akan mereka dapati satu ayat pun yang menyuruh melakukan teroris. Justru dalam Alkitab milik merekalah begitu banyak tertulis ayat-ayat yang kejam, sadis, biadab dan teroris. Jadi jika benar-benar dikaji, mestinya yang dibakar bukan Al Qur`an. Tapi kita umat Islam dilarang membakar Alkitab, walaupun isinya banyak pertentangan. Yang disuruh oleh Al Qur`an bukan membakar, tapi mendakwahkan mereka akan kebenaran Islam, dan mengajak mereka masuk Islam agar mereka selamat (QS 3:20) (Jelasnya, baca buku kami berjudul: ”Mana Yang Bisa Dipercaya Alkitab atau Al Qur`an ?”)

Dalam peristiwa Gereja liar di Ciketing Bekasi, mengapa pihak Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) begitu nekat meski bertentangan dengan Peraturan Bersama Menteri (PBM) ?
Karena memang sejak dahulu mereka tidak setuju dengan SKB 2 Menteri tahun 1969 dan PMB tahun 2006. Sebab bagi mereka PMB dianggap penghalang untuk mendirikan rumah ibadah. Nah, peristiwa Ciketing digunakan sebagai momentum dan dimanfaatkan secara maksimal untuk meraih tujuan mereka terhadap SKB dan PMB tersebut. 

 Mengapa pers di Indonesia begitu kompak mendiskreditkan umat Islam Bekasi. Padahal yang terjadi bukan penghadangan tetapi perkelahian tak seimbang antara 200 jemaah HKBP melawan 9 pemuda Islam ?

Pertama, mungkin pers mendapatkan informasi yang keliru, belum dicheck dan check lagi kebenaran informasi dan sebab musabab kenapa peristiwa itu terjadi, tapi sudah dimuat dengan bahasa yang menghebohkan negeri ini bahkan sampai keluar negeri. Kedua, mungkin karena sebagian besar pers dikuasai mereka. Ketiga, mungkin ada hal-hal lain yang menguntungkan mereka. Jika benar 200 jemaah HKBP melawan 9 pemuda Islam, jelas itu perkelahian yang tidak seimbang, apalagi menurut informasi dari 9 pemuda Islam banyak yang terluka seperti lebam-lebam, patah tulang bahkan  tertusuk, tetapi sama sekali tidak diberitakan oleh pers.

Mengapa saat ini pihak Kristen di Indonesia kampanye besar-besaran untuk mencabut SKB 2 Menteri mengenai penyiaran agama dan PBM mengenai pendirian tempat ibadah ? 
Mereka berusaha mencabut SKB 2 Menteri dan PMB dengan tujuan, pertama, agar mereka bisa dengan mudah membangun rumah ibadah dimana saja, walaupun anggota jemaatnya sedikit. Kedua, agar mereka bebas melakukan Kristenisasi (Matius 28:19), dan memberitakan Injil kepada semua manusia / mahluk (Markus 16:15).

Sejak terbitnya SKB 2 Menteri tahun 1969 hingga PBM tahun 2006, pihak Kristen selalu melakukan pelanggaran kesepakatan tersebut. Mengapa hal itu bisa terjadi ?

Mereka lakukan pelanggaran, pertama, SKB 2 Menteri intinya melarang menyebarkan agama kepada mereka yang telah beragama. SKB 2 Menteri tahun 1969 itu mereka anggap buatan manusia (Menteri), sementara mereka yakin Yesus menyuruh membaptis semua bangsa (Matius 28:19) dan menyebarkan Injil kepada segala mahluk (Markus 16:15). Jadi mereka lebih taat kepada perintah Yesus daripada Menteri. Kedua, PMB tahun 2006 itu mereka anggap mempersulit mereka membangun rumah ibadah. Padahal jika mereka patuh pada aturan Menteri, justru akan terjadi kerukunan antar umat beragama.

Jika kasus pembangunan Gereja liar di Ciketing Bekasi dibiarkan, apakah bisa menimbulkan konflik horisontal yang memicu perang agama seperti di Ambon Maluku tahun 2000 lalu ?
Jika PMB tahun 2006 dicabut, maka Gereja-Gereja liar seperti di Ceketing akan menjamur dimana-mana. Jika demikian, sangat mungkin terjadi konflik SARA yang berkepanjangan dan pertumpahan darah dimana-mana. Ada aturan saja mereka berani berbuat semaunya, apalagi tidak ada regulasinya.

Bagaimana saran anda untuk solusi kasus Gereja liar di Ciketing Bekasi ?

Solusinya mudah, penuhi saja persyaratan PMB tahun 2006, dan jangan mudah diprovokasi oleh pihak ketiga yang sengaja ingin menghancurkan kerukunan antar umat beragama di negara kita. Jemaat HKBP setempat harus menghormati warga sekitar yang berbeda agama.  

(Abdul Halim-Suara Islam)
www.voa-islam.com

Mencemburi Aparat Pajak

“Reformasi birokrasi di Kementrian Keuangan memperhitungkan masalah secara sederhana. Karena seorang petugas pajak dinilai bisa mendatangkan pemasukan kepada negara, reward yang diberikan kepadanya besar“.

“TNI dan Polisi dapat memakai logika terbalik guna meyakinkan pemerintah atas peran dan fungsinya. Misalnya, dapat dikatakan, kalau kekuatan TNI atau Polri tidak digelar di satu titik tertentu, negara bisa rugi besar akibat praktik pembalakan liar dan penyelundupan“ .

Demikianlah yang dikatakan oleh Andi Wijayanto, seorang akademisi di bidang Ilmu Sosial dan Politik.
Ringkasnya, pemberian status istimewa bagi para pegawai pajak itu dapat berpotensi menimbulkan kecemburuan di kalangan abdi negara yang lainnya.

Memang, apa yang dikatakan oleh dosen Fisipol Universitas Indonesia itu ada benarnya.

Bagaimana tidak, kesenjangan tingkat gaji antara para pegawai Pajak khususnya dan aparat negara di lingkungan Departemen Keuangan pada umumnya dibandingkan dengan para aparat negara di instansi lainnya itu memang sedemikian jauhnya.

Pegawai pajak dengan golongan III-A seperti Gayus sebagai misalnya, dapat berpenghasilan diatas Rp. 12 Juta sebulannya.

Sedangkan aparat negara di instansi lainnya, sebagai misalnya para komandan peleton di TNI itu hanya mendapatkan gaji yang besarnya hanya sekitar Rp. 3 Juta per bulan, alias tak sampai seperempat gajinya Gayus.

Malahan, jika mengacu kepada PP nomer 25 tahun 2010, maka gaji pokoknya PNS golongan III-A itu hanya sebesar Rp. 1,8 Juta saja.

Bahkan, kalau menurut PP nomer 8 tahun 2009 tentang Perubahan atas Peraturan Gaji PNS, maka gaji pokok pegawai golongan III-A dengan masa kerja lima tahun malahan hanya sekitar Rp. 1,7 Juta saja.

Maka, apabila timbul kecemburuan, itu sesuatu yang sangat manusiawi.

Memang, jika ditilik secara selintas sepertinya para pegawai pajak adalah aparat negara yang seolah-olah mempunyai andil paling besar lantaran berada di garis paling depan dalam memperjuangkan pendapatan negara.

Berdasarkan itu, maka kepada mereka perlu diberikan perlakuan istimewa, agar para abdi negara itu lebih proaktif dan lebih baik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Mengingat akibat lanjut dari itu akan dapat mengamankan bahkan meningkatkan pendapatan bagi negara.

Akan tetapi, jika direnungkan secara lebih mendalam, sesungguhnya apa yang dipungut sebagai pungutan pajak dan restribusi cukai yang lainnya itu pada hakikatnya adalah ujung akhir dari sebuah proses komprehensif yang saling terkait dari berputarnya roda pembangunan serta berkerjanya mesin ekonomi nasional.

Jika roda pembangunan tak berputar dan mesin ekonomi nasional tak berkerja dengan sebagaimana mestinya, maka ujung akhirnya yang dapat dipungut sebagai pajak dan cukai pun menjadi terganggu karenanya.

Ibarat sapi perah, jika tak diberikan makanan dengan nilai nutrisi yang memadai ditambah dengan perawatan yang baik serta penjagaan kesehatan dan keamanannya juga baik dan benar, maka susu perahan yang dihasilkannya pun juga menjadi terbatas.

Berdasarkan tamsil itu, maka dapatlah dikatakan bahwa aparat-aparat negara sebagai abdi negara yang berada di luar institusi Departemen Keuangan pun tak dapat dikecilkan andilnya.

Sebagai misalnya, keberadaan para prajurit TNI yang berada di garis perbatasan negara dimana infrastruktur dan fasilitasnya amatlah minim itu pun juga mempunyai andil yang tak sedikit dalam mengamankan dan meningkatkan pendapatan bagi negara.

Hal yang sama tentu juga berlaku untuk aparat negara di instansi-instansi lainnya.

Ringkasnya, perlulah dikaji dan ditelaah lebih mendalam dan seksama lagi tentang keistimewaan yang telah diberikan kepada para petugas pajak pada khususnya dan para pegawai di lingkungan Departemen Keuangan pada umumnya.

Jika hal itu tak dimenej dengan baik, maka bukan tak mungkin demoralisasi akan melanda para aparat negara yang lainnya.

Termasuk dan tak terkecuali, lambat laun bisa berpotensi memicu timbulnya demoralisasi di kalangan prajurit TNI sebagai pengawal kedaulatan negara dan polisi sebagai bhayangkara negara.

Jika itu yang terjadi, maka negara dan bangsa serta rakyat Indonesia secara keseluruhannyalah yang pada akhirnya akan terugikan karenanya.

Akhirulkalam, apakah karena pengaturan uang negara itu otoritas dan kewenangannya berada di Departemen Keuangan, maka Menteri Keuangan beserta aparat yang berada dibawah kendalinya menjadi lebih merasa berhak untuk mendapatkan perlakuan istimewa sebagai kasta tertinggi di jajaran aparat negara ?.
Wallahulambishshawab.


* Catatan Kaki :
* Artikel terkait seputar pajak yang membahas carut marut dan deskripsi dari contoh modus permainannya para pegawai pajak dapat dibaca di “Sistemiknya urusan Pajak” dengan mengklik di sini , dan yang membahas kesejahteraan juga kenikmatannya para pegawai pajak dapat dibaca di “Nikmatnya jadi Pegawai Pajak” dengan mengklik di sini , serta yang membahas politisasi pajak sebagai barter kasus Century dapat dibaca di “Meragukan Integritas Sri Mulyani” dengan mengklik di sini .
* Referensi sumber beritanya dapat dibaca di “Kesejahteraan Pegawai : Renumerasi Pegawai Pajak yang Membikin Iri“ dengan mengklik di sini , dan “Reformasi Birokrasi : Prajurit TNI Dapat Demoralisasi” dengan mengklik di sini ,
* Mencemburui Aparat Pajak
http://polhukam.kompasiana.com/2010/03/31/mencemburui-aparat-pajak/


Jajaran pegawai Pajak itu seakan memang mempunyai kasta tertinggi diantara para pegawai lainnya di Republik ini.

Kasta tertinggi itu tak hanya jika dibandingkan dengan para abdi negara lainnya, seperti PNS (Pegawai Negeri Sipil) atau Prajurit TNI serta Polisi Bhayangkara Negara.

Bahkan masih merupakan kasta tertinggi sekalipun dibandingkan dengan para pegawai di perusahaan swasta.

Barangkali karena sebagai kasta tertinggi, maka para pegawai pajak ini diberikan gaji yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pegawai selevelnya di tempat lainnya.

Pegawai pajak yang berijazah D-3 (Diploma 3 Tahun) dengan kepangkatan III-A mempunyai gaji tak kurang dari Rp. 12,1 Juta per bulannya.

Gaji resmi per bulannya itu terdiri dari gaji pokok beserta tunjangan sebesar Rp. 2,4 Juta ditambah renumerasi sebesar Rp. 8,2 Juta ditambah lagi dengan imbalan prestasi sebesar Rp. 1,5 Juta.

Suatu jumlah gaji yang berlipat kali lebih tinggi dibandingkan dengan PNS lainnya yang juga bergolongan III-A. Bahkan juga lebih tinggi dibandingkan dosen di STAN yang selevelnya dimana mereka hanya menerima gaji sebesar Rp. 6 Juta per bulannya saja.

Bahkan bagi pegawai pajak di bagian urusan juru sita, masih ditambahkan lagi dengan imbalan tambahan sebagai bonusnya yang senilai Rp. 20 Juta.

Menurut kabar, pemberian gaji dengan standar yang demikian tinggi itu dimaksudkan agar para pegawai pajak menjadi jujur dan amanah serta tak mudah tergoda untuk melakukan perbuatan tercela.

Namun kenyataannya, tidaklah seperti harapan dan tujuannya. Pemberian gaji yang besar itu ternyata tetap saja tak meluputkan mereka dari godaan untuk melakukan perbuatan tercela.

Salah satu contoh nyatanya dapat terlihat dari kasus yang terjadi pada diri Gayus Halomoan Tambunan.

Apakah itu hanya terjadi pada Gayus dan segelintir oknum saja ?.

Tak hanya segelintir oknum saja. Paling tidak demikian yang diungkap oleh Surat kabar harian Kompas, hari Selasa tanggal 30 Maret 2010 pada halaman 2 di tulisan yang berjudul ‘Kesejahteraan Pegawai : Renumerasi Pegawai Pajak yang Membikin Iri’.

Menurut pengakuan Gayus yang diungkap oleh anggota Satgas Mafia Hukum Mas Achmad Santoso, dikatakan bahwa jajaran staf di direktoratnya saja ada lebih dari 10 orang yang juga melakukan perbuatan seeperti dirinya.

Bahkan, masih di tulisan itu disebutkan juga bahwa sejumlah pegawai pajak mempercayai banyak rekannya yang memiliki kekayaan sejumlah milyaran rupiah.

Maka, tak berlebihan jika rakyat jelata kemudian menilai bahwa carut marut permainan pajak itu sudah sedemikian sistemik.

Lalu apa tindakan terbaik untuk mentuntaskan penyelidikan atas kasus yang sistemik ini ?.

Menteri Keuangan Sri Mulyani secara radikal dan serta merta dengan mengabaikan asas praduga tak bersalah, langsung membebas tugaskan seluruh pimpinan dan staf yang bertugas di Unit Keberatan Pajak.

Tindakan pe-non aktif-an yang tanpa menunggu selesainya proses hukum itu dimaksudkan agar memberikan keleluasaan kepada petugas penyidik untuk memeriksa kasus-kasus di unit tersebut.

Tindakannya Menteri Keuangan tersebut, secara tersirat sebenarnya mengakui bahwa untuk mentuntaskan penyelidikan atas sebuah kasus yang sudah sedemikian sistemik itu adalah dengan membebas tugaskan atau menonaktikan mereka yang diduga terlibat tanpa harus menunggu proses hukumnya terlebih dahulu.


Apakah kasus Gayus ini memang mencerminkan betapa sistemiknya carut marut di urusan pajak ini ?.

Sangat patut diduga memang sedemikian sistemik. Mengingat Gayus yang hanya seorang staf tanpa jabatan yang beruang eselon saja dapat mengumpulkan uang di rekening pribadinya yang ternyata tak hanya berjumlah Rp. 25 Milyar saja. Namun ternyata dari beberapa rekeningnya, total uangnya tak kurang dari Rp. 28 Milyar.

Sejumlah Rp. 28 Milyar itu hanya kekayaan yang berbentuk uang di rekening banknya saja.

Apabila kekayaan yang berbentuk uang itu ditambah dengan kekayaan dalam bentuk lainnya, maka bisa jadi jumlah harta kekayaan Gayus akan jauh melampaui jumlah kekayaannya Wakil Presiden Boediono. Bahkan mungkin melampaui juga jumlah kekayaannya Menteri Keuangan Sri Mulyani.

Fantastis, mungkin hanya kata itu yang tepat untuk menggambarkan betapa dahsyat dan sistemiknya kasus pajak ini.

Bisa dibayangkan, jika staf tanpa jabatan eselon saja sudah sedemikian kayanya, maka terbayang kekayaannya para atasannya yang sangat patut diduga tentu jauh melebihi kekayaannya Gayus sebagai bawahannya.

Dan, lagian melihat jumlah kekayaan yang mampu dikumpulkannya dengan masa kerja yang belum mencapai sepuluh tahun itu, maka sangat patut diduga bahwa permainannya Gayus yang hanya setingkat staf itu tentu tak mungkin dapat dilakukannya sendirian tanpa melibatkan koleganya dan atasannya.

Apakah permainan pajak itu hanya terjadi di Unit Keberatan Pajak atau di Direktorat Keberatan dan Banding saja ?.

Sebenarnya, sangat patut diduga bahwa permaianan itu tidak hanya monopoli terjadinya di direktorat itu saja. Boleh dibilang hampir merata, semua direktorat mempunyai cara dan modus permainan yang khas di masing-masing direktorat.

Bisa jadi di direktorat yang mengurusi PPN (Pajak Pertambahan Nilai) juga tak luput dari cara-cara yang bernuansa penggelapan pajak.

Dan, sangat patut diduga juga permainan itu merata tidak hanya terjadi di kantor pusat Jakarta, namun juga di kantor pajak yang ada di daerah-daerah.

Sebagai salah satu misalnya, jika diteliti dan ditelisik pembukuannya para Wapu Pajak (Wajib Pungut Pajak) di sektor toko-toko retail, maka akan ditemukan betapa meluasnya permainan pajak itu.

Hampir merata di toko-toko retail yang mereka telah berkategori Wapu Pajak, akan ditemui adanya permainan pajak PPN yang sebesar 10% dari nilai barang.

Mereka para retailer itu tentu tak dapat mengelak untuk melaporkan pajak PPN atas barang yang dibelinya dari suplier-suplier besar dimana nota pembeliannya sudah termasuk pungutan PPN-nya.

Namun mereka para retailer itu tentu tak akan melaporkan pajak PPN atas barang yang dibelinya dari suplier-suplier kecil dimana nota pembeliannya belum termasuk pungutan PPN-nya.

Mengapa demikian ?.

Dapat dimengerti jika mereka para retailer itu berbuat yang demikian itu, mengingat jika mereka melakukannya sesuai dengan aturan maka mereka akan kalah bersaing dengan toko retailer saingannya yang tidak termasuk berkategori Wapu Pajak.

Gambaran dari terjepitnya posisi dan situasinya mereka para retailer yang Wapu Pajak itu dapat terlihat dari ilustrasi pembentukan harga di tingkat eceran harga jual di toko retailer milik mereka.

Sebagai misal, retailer toko A termasuk retailer yang berkategori Wapu Pajak itu berbelanja membeli barang dagangan fashion di pusat grosir Mangga Dua, dengan harga satuan Rp. 100.000 per potongnya.

Sebagaimana diketahui, di pusat grosir Mangga Dua maupun Pasar Tanah Abang itu sangat jarang penjual yang memberikan faktur pajak PPN-nya atas barang yang dijualnya.

Harga jual kembali yang akan dipasang oleh retailer toko A tersebut tentunya harus memperhitungkan ongkos pembelian dan ongkos kirim barang plus biaya operasional dan overheadnya serta margin profitnya, masih harus ditambah lagi dengan pajak PPN sebesar 10%.

Maka di retailer toko A itu harga jual dari barang dengan harga beli Rp. 100.000 itu akan menjadi tak kurang dari Rp. 130.000 per potongnya. Sedangkan di retailer toko B yang tidak termasuk kategori Wapu Pajak, harga jual barang serupa dapat menjadi seharga Rp. 120.000 saja per potongnya lantaran tidak harus ditambah PPN 10%.

Situasi dilematis ini tentu membuat retailer toko A harus menjadi memilah-milah barang mana yang akan diberinya tambahan PPN 10%, dan barang mana yang tidak ditambahinya, jika ingin tetap eksis dalam persaingan bisnisnya dengan pesaingnya retailer toko B tersebut.

Situasi dan kondisi yang demikan itu sangat dimengerti oleh para pegawai pajak di kantor-kantor daerah.

Dan dengan tega hati tanpa nurani, situasi yang demikian itu dieksploitasi oleh para pegawai pajak dengan memeras para retailer itu untuk bonus bulanannya sebagai tambahan dari gaji resmi per bulannya yang sesungguhnya sudah berstandar sedemikian tinggi.

Itu hanyalah sebagian yang sangat kecil dan kelas gurem saja di arena rimba belantara permainan pajak. Masih banyak lagi yang lebih kakap kelasnya dari sekedar permainan memeras para retailer Wapu pajak yang kelas teri saja.

Lalu, bagaimana cara mengatasinya jika gaji yang sudah sedemikian tinggi saja tak mampu mengurai sistemiknya urusan pajak ?.

Imtaq (Iman dan Taqwa) yang diejawantahkan dalam standar moral dan ketahanan mental yang tinggi disertai kebeningan hati nurani yang masih tepo sliro sebagai manusia dalam menilai sebuah aturan adalah satu-satunya jawabannya.

Namun, tentu bukan tepo sliro yang berkonotasi berimbalan upeti bulanan sebagai hasil dari tindakan memeras dan mengintimidasi serta mengeksploitasi atas aturan perpajakan.

Sebab, di saat kebijakan negara memeras keringat rakyatnya dengan berbagai aturan untuk menjaring dan menjala setiap hal yang dapat dipajaki telah membuat lapangan permainan bagi para pegawai pajak menjadi sedemikian luas dan lapang.

Luas dan lapangnya arena permainan itu telah membuat gaji resmi per bulannya ditambah imbalan lainnya yang sudah berstandar sedemikian tinggi itu akan menjadi tak berarti sama sekali jika dibandingkan dengan oportunity yang bisa diolahnya dari rimba belantara aturan perpajakan.

Gelap matanya kebijakan negara yang memeras rakyatnya di saat segala subsidi dicabut dan pengerukan kekayaan alam tak memberikan hasil yang memadai bagi kas negara, telah membuat seolah perpajakan diberikan aturan yang tak hanya menjaring dan menjala segala jenis ikan, termasuk ikan teri.

Bahkan seolah seperti memburu ikan dengan bom ikan, dimana tak hanya ikan-ikan kecil saja yang diraupnya, termasuk dan tak terkecuali benih dan telur ikannya ikut dilahapnya.

Jika sudah demikian halnya, maka jangan heran apabila imtaq pun tak akan mampu menjadi benteng dari godaan pat gulipat yang mampu menghasilkan uang sedemikian banyaknya. Dan, gedung pajak pun lalu akan berubah menjadi tempat berkantornya para milyuner-milyuner abdi negara.

Akhirulkalam, semua itu sudah bagaikan benang kusut, dan akan lebih menjadi kusut yang lebih ruwet lagi tatkala para aparat pajak pun tak hanya dibebani dengan target pemasukan negara yang sedemikian besar, namun juga sudah dibebani dengan target-target politis dimana pajak dipolitisasi dan dipergunakan sebagai alat untuk menekan lawan-lawan politiknya.

Disaat negara hanya tahu mengisi pundi-pundi kasnya dengan mencekik leher dan menguras kantung rakyatnya, maka masih layakkah mereka disebut sebagai abdi negara yang melayani rakyatnya ?.
Wallahualambishshawab.

* Catatan Kaki :
* Artikel terkait seputar pajak yang membahas kesejahteraan juga kenikmatannya para pegawai pajak dapat dibaca di “Nikmatnya jadi Pegawai Pajak” dengan mengklik di sini , dan yang membahas politisasi pajak sebagai barter kasus Century dapat dibaca di “Meragukan Integritas Sri Mulyani” dengan mengklik di sini .
* Artikel terkait seputar politik yang membahas emansipasinya para Srikandi Indonesia dalam Pilkada dapat dibaca di “Trio Srikandi Indonesia” dengan mengklik di sini , dan yang membahas persaingan antar tokoh-tokoh muda dalam memperebutkan jabatan Ketua Umum partai Demokrat dapat dibaca di “Andi Mallarangeng versus Anas Urbaningrum” dengan mengklik di sini .
* Artikel terkait seputar budaya yang membahas hari yang memperingati tradisi kebohongan dan penipuan dapat dibaca di “April Mop” dengan mengklik di sini , dan yang membahas jurang kultural antar peradaban dunia dapat dibaca di “Miss Serambi Mekkah” dengan mengklik di sini .
* Sistemiknya Urusan Pajak
http://ekonomi.kompasiana.com/2010/03/30/sistemiknya-urusan-pajak/




Pegawai Negeri Sipil di Ditjen Pajak sepertinya memang enak.

Paling tidak dalam soal gajinya yang jauh lebih besar dibandingkan dengan gajinya tentara (TNI) dan polisi (Polri) serta PNS di instansi lainnya yang non instansi Depkeu (Departemen Keuangan).

PNS di Ditjen Pajak dengan golongan kepegawaian III-A saja gaji resmi sebulannya sudah lebih dari Rp. 12 Juta. Suatu jumlah yang memang cukup spektakuler untuk ukuran gaji TNI dan Polri serta PNS non Depkeu pada umumnya.

Apalagi jika Gaji yang Rp. 12 Juta itu dibandingkan dengan UMR (Upah Minimum Regional) para buruh yang tak lebih dari Rp. 1 Juta saja.


Pegawai Negeri Sipil di Ditjen Pajak memang nikmat.

Paling tidak jika ditilik dari taraf dan tingkat kehidupannya Gayus Halomoan Tambunan, seorang PNS di Ditjen Pajak dengan golongan kepegawaian III-A.

Gayus Halomoan Tambunan, karena merupakan PNS golongan III-A di Ditjen Pajak yang merupakan instansi di lingkungan Depkeu, maka tentunya juga bergaji resmi sebesar lebih dari Rp. 12 Juta sebulannya.

Jumlah gaji yang sudah sangat lumayan bagus, jika dicoba dibandingkan dengan seorang berumur 30 tahun dengan ijasah strata D-4 yang bekerja di perusahaan swasta nasional.


Pegawai Negeri Sipil di Ditjen Pajak memanglah enak dan nikmat.

Rumah tinggalnya Gayus yang PNS di Ditjen Pajak ini tak lagi berstatus nebeng mertua, juga tak lagi hanya sekedar bisa sewa atau kontrak.

Tapi ia sudah bisa memiliki rumah pribadi milik sendiri. Rumahnya ini juga bukan di tengah perkampungan padat yang kumuh. Namun rumah tinggalnya itu berada di lingkungan real estate elit yang harga rumahnya lebih dari Rp. 2 Milyar.

Kepemilikan mobil pribadinya juga berjumlah lebih dari satu buah mobil. Bahkan mobilnya itu bukanlah dari jenis mobil yang sembarangan saja, tapi mobil dengan kategori mobil mewah.


Pegawai Pajak memang enak.

Bahkan kepemilikan uang di rekening banknya juga sungguh mencengangkan. PNS di Ditjen Pajak ini di rekening pribadinya memiliki dana sampai sebesar Rp. 25 Milyar.

Memang, uang sebesar Rp. 25 Milyar itu suatu jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan uang yang berjumlah Rp. 6,7 Trilyun.

Namun, uang sebesar Rp. 25 Milyar itu merupakan jumlah uang yang cukup besar, jika dibandingkan dengan jumlah maksimum penjaminan LPS atas dana simpanan di bank yang hanya Rp. 2 Milyar saja.


Pegawai Pajak memang betul-betul nikmat.

Nyatanya , saat selama menjadi terdakwa di sidang pengadilan, tak perlu status kepegawaiannya di-non aktif-kan.

Bahkan setelah diajukan ke depan pengadilan pun, para hakim di pengadilan pun mengganjar baginya dengan vonis bebas tak bersalah.


Pegawai Pajak memanglah betul-betul enak dan nikmat.

Setelah terbongkarnya kongkalingkopng dalam perekayasaan atas kasusnya itu, sehingga menghasilkan vonis pengadilang yang bebas itu pun, ia masih dilindungi oleh komplotannya.

Gayus yang PNS Ditjen Pajak dengan golongan III-A ini bisa berbuat seperti layaknya para bankir pengemplang BLBI. Yang bebas lenggang kangkung dengan melarikan diri ke Singapura.

Pegawai Pajak memanglah sungguh enak dan nikmat serta nyaman.

Harta kekayaan miliknya yang seperti itu, sangat diyakini, tentulah oleh Gayus tidak dilaporkannya di formulir SPPT Tahunan.

Dan, itu tentu tak menjadi soal dan tak terlalu dicermati SPPT Tahunannya, sebab pemeriksanya adalah teman-teman sekoleganya di Ditjen Pajak.

Dimana, para koleganya sesama pegawai Ditjen Pajak itu, sangat diyakini, tentulah akan menjadi sangat cermat jika meneliti SPPT Tahunannya rakyat biasa yang bukan pegawai pajak.

Ah, Pegawai Pajak memanglah sungguh betul-betul pancen oye.

Dimana, para koleganya sesama pegawai Ditjen Pajak itu pun, sangat bisa jadi, banyak juga yang mempunyai harta melimpah seperti kekayaannya Gayus Halomoan Tambunan. Bahkan sangat mungkin, justru melebihinya.

Dan, apakah para koleganya itu seperti halnya Gayus Halomoan Tambunan, dimana SPPT Tahunannya juga tak diisinya dengan data yang jujur ?.
Wallahualambishshawab.

* Catatan Kaki :
* Artikel yang membahas seputar masalah ‘politiking pajak’ yang dilakukan oleh Menteri Keuangan, dapat dibaca dengan mengklik di sini .
* Artikel yang membahas seputar maslahat dan mudhorotnya jika Susno diangkat sebagai Ketua KPK, dapat dibaca dengan mengklik di sini .
* Artikel yang membahas seputar pihak pemberi uang suap dan pihak penerima uang suap jika ditilik dari kacamata hukum, dapat dibaca dengan mengklik di sini .
* Nikmatnya Jadi Pegawai Pajak
http://ekonomi.kompasiana.com/2010/03/28/pegawai-pajak-memang-enak/

Gajinya Pas-pasan, Asetnya Milyaran


Penggelapan Pajak
Gajinya Pas-pasan, Asetnya Milyaran

Polisi Menunjukkan Barang Bukti Penggelapan Dana Pajak PPH (GATRA/Deni Muliya Barus) 






Pegawai negeri yang satu ini punya kekayaaan puluhan milyar rupiah. Dialah Edy Suhaedy, pegawai negeri sipil golongan III yang menjabat sebagai kepala seksi di Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta Utara. Gajinya tidak lebih dari Rp 4 juta sebulan, tapi punya rumah mewah di kawasan Bintaro Jaya, Jakarta Selatan.

Ia juga memiliki mobil mewah Toyota Harrier, punya peternakan ayam di Bogor, dan memiliki showroom jual-beli mobil bekas di Jalan Dermaga, Duren Sawit, Jakarta Timur. Belakangan ketahuan, Edy melakukan kejahatan. Ia ditangkap polisi pada 31 Desember lalu.

Edy diduga menggelapkan dana pajak penghasilan (PPh) tunjangan insentif dan kesejahteran guru. Jumlahnya mencapai Rp 23 milyar. Karena itu, polisi menyita aset milik Edy senilai Rp 25 milyar. "Aset milik tersangka itu diduga dari hasil kejahatan," kata Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Komisaris Besar Raja Eizman.

Selain meringkus Edy, polisi juga menciduk Purnomo, kepala seksi olahraga di kantor Wali Kota Jakarta Selatan. Dia diduga membantu melakukan kejahatan. "Karena itu, dia kami tangkap," kata Kepala Satuan Tindak Pidana Korupsi Polda Metro Jaya, AKBP Aris Munandar.

Kejahatan Edy dan Purnomo tercium ketika petugas dari Kantor Perwakilan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Jakarta melakukan pemeriksaan. Pada saat itu, muncul kecurigaan kuat ada kecurangan dalam pembayaran PPh tunjangan insentif dan kesejahteraan guru di lingkungan Suku Dinas Pendidikan Dasar (Sudin Dikdas) serta Suku Dinas Pendidikan Menengah dan Tinggi (Sudin Dikmenti) Jakarta Selatan.

Untuk memastikan kecurigaan itu, kata Sekretaris Wali Kota Jakarta Selatan, Mangara Pardede, petugas Kantor Perwakilan BPK Jakarta melakukan konfirmasi ke Kantor Pelayanan Pajak Kebayoran, Jakarta Selatan. Hasilnya sungguh mencengangkan. Data yang dimiliki kantor pajak menunjukkan, ternyata Sudin Dikdas dan Sudin Dikmenti Jakarta Selatan belum menyetor uang pembayaran pajak ke kas negara sejak Januari hingga Juni 2008.

Padahal, sebelumnya, petugas Kantor Perwakilan BPK Jakarta disodori bukti surat setoran pajak (SSP) dari bank oleh Bendahara Sudin Dikdas, Pujiono, dan Bendahara Sudin Dikmenti, Herlan. Selidik punya selidik, rupanya bukti SSP dari bank itu aspal alias asli tapi palsu. "Orang awam akan sulit membedakan mana SSP yang asli dan mana yang palsu. Hanya orang bank yang tahu bedanya," kata Mangara.

Polisi mulai melakukan penyelidikan setelah Pujiono dan Herlan melapor ke Polda Metro Jaya, Desember 2008. Dua bendahara ini mengaku diperdaya Purnomo. Mereka sudah membayar uang setoran pajak kepada Purnomo sebesar Rp 23 milyar. Tapi ternyata bukti SSP yang diberikan Purnomo palsu.

Ketika diperiksa polisi, Purnomo "berkicau". Uang pajak yang ia terima dari Pujiono dan Herlan diserahkan kepada Edy. Lalu Edy memberikan SSP aspal itu, yang belakangan diketahui dibuat orang suruhan Edy, yakni AS dan PA. "Pada saat ini, polisi masih mengejar AS dan PA yang buron," kata Aris Munandar.

Ia menyatakan, hingga kini polisi masih memperdalam kasus penggelapan pajak yang merugikan uang negara itu. Bukti-bukti terus dikumpulkan. Saksi-saksi diperiksa. Mereka, antara lain, para pejabat di lingkungan kantor Wali Kota Jakarta Selatan. "Tidak tertutup kemungkinan ada sanksi yang akan ditingkatkan statusnya menjadi tersangka," ujar Aris Munandar.

Menurut pengamat pajak, Hadi Buana, modus yang digunakan pelaku tergolong sangat tradisional. "Penggelapan pajak dengan cara memalsukan dokumen bukti pembayaran setoran pajak bukan hal yang baru, bahkan sudah kuno," kata Hadi. Kendati kuno, modus ini bisa dibilang cukup berhasil. Terbukti, tunggakan pajak berlangsung sejak Januari 2008, tapi baru terendus petugas pajak pada penghujung 2008.

Hal itu terjadi karena pelaku memanfaatkan longgarnya pengawasan petugas pajak terhadap instansi pemerintah. Selama ini, dengan alasan minimnya jumlah petugas pajak, laporan pajak di kantor-kantor pelat merah kerap luput dari pengawasan. "Mereka lebih fokus pada pengawasan laporan pajak di instansi swasta," tutur Hadi. Jadi, tidak mengherankan kalau ditemukan kasus penggelapan pajak di instansi pemerintah.

Sujud Dwi Pratisto, Deni Muliya Barus, dan Syamsul Hidayat
[Laporan Utama,
Gatra Nomor 10 Beredar Kamis, 15 Januari 2009] 

www.gatra.com

Taman Safari Indonesia II Prigen

Gading tempat menuju taman safari Indonesia II

Obyek wisata ini terdapat di desa Jatirejo kecamatan Prigen dengan ketinggian antara 800 -1.500 meter dpl. Obyek ini merupakan lembaga konservasi suaka marga satwa yang menempati areal seluas 340 ha. Obyek wisata dapat ditempuh dengan waktu 1 jam dari Surabaya atau malang. 
Anda dapat menyaksikan kehidupan satwa liar sesuai habitat aslinya, berdasarkan tempat hidupnya dibagi menjadi 4 kawasan antara lain: kawasan Amerika, Eropa, kawasan Asia dan kawasan Afrika. 
Selain itu dibagi menjadi 3 zona yaitu zona kehidupan satwa, zona rekreasi sebagai tempat untuk menampilkan atraksi dari satwa dan tempat permainan anak-anak, zona baby zoo sebagai tempat untuk mengenal lebih dekat wisatawan dengan anak satwa liar untuk bermain dan berfoto.



Taman Safari Indonesia 2 - Prigen - Pasuruan, Jawa Timur



















Mengalami kejenuhan akibat rutinitas sehari-hari memang merupakan hal yang manusiawi sekali. Salah satu resep manjur mengusir kebosanan yang membuat kita jadi kurang bersemangat  yakni bisa dengan berwisata.

Liburan diakhir tahun memang sangat mengasyikan, apalagi beserta keluarga dan kerabat terdekat yang lagi berkumpul untuk merayakan libur Natal dan Tahun Baru. Hal ini dilakukan setelah setahun merasakan kejenuhan yang dikarenakan kesibukan kerja, sekolah dan berbagai kegiatan lainnya.

Melalui aktivitas berwisata semua kejenuhan itu dapat dinetralisir, sehingga kondisi tubuh maupun psikis dapat kembali fresh. Banyak para keluarga yang menggunakan saat libur akhir tahun dengan melakukan perjalanan wisata, salah satu alternatif yang memungkinkan untuk hal tersebut di atas adalah Taman Safari Indonesia-II Prigen –Jawa Timur.



 

















Di Taman Safari Indonesia II, Anda akan diajak bersafari dan berpetualang di benua Amerika Eropa, Asia dan Afrika yang menjadi habitat dari satwa – satwa liar. Semuanya didesain secara modern dengan konsep kembali ke alam dimana satwa – satwa tersebut dibiarkan secara bebas berkeliaran di tempat yang hampir menyerupai habitat aslinya.

 Berada di kawasan Prigen-Pasuruan-Jawa Timur dan bisa ditempuh dengan waktu sekitar 1,5 jam dari Bandara Juanda Surabaya, Taman Safari 2  juga memiliki zona rekreasi bagi anak-anak dan orang tua yang menyediakan lebih dari 20 macam permainan seperti bumper car, bumper boat, Puri Misteri, Roller Coaster, Speedway, dll.
Anda juga bisa menikmati berbagai bertunjukan satwa secara gratis seperti the last habitat for Sumatran elephants, global warming, birds of prey presentation, Sumatran tiger kingdom, elephants and their natural habitat, jungle boy, birds of preys with dayak performance dan a story of illegal poacher.

Yang tak kalah menariknya, di kawasan baby zoo. Para pengunjung bisa berfoto bersama satwa-satwa seperti harimau putih, singa, macan, orangutan dan menikmati wahana seperti taman ular, hutan burung, taman kodok, taman reptil, hutan burung, pulau aneka satwa, pondok tarsius dan lain-lain.  Tampak pengunjung begitu antusias untuk bisa berpose bersama dengan satwa satwa tersebut tanpa perlu merasa takut.

http://3.bp.blogspot.com/_GCnPtVE5fEc/TDpk8YO1sqI/AAAAAAAAA34/121BK5rBid8/s320/TSI-II_Prigen_1B.jpg


Akomodasi terbaru yang tersedia di area baby zoo adalah Tiger Cafe Restaurant suatu perpaduan yang unik antara satwa dan budaya dimana kita bisa menikmati makan siang bersama harimau putih seperti tanpa batas. Kita juga bisa menyaksikan perilaku alami saat mereka menangkap mangsa, berenang bahkan menyelam. Ditambah lagi nuansa India yang kental akan membuat kita serasa benar-benar menikmati seperti di alamnya.
Dan untuk menyambut liburan natal dan tahun baru kali ini, Taman Safari Indonesia telah menyiapkan pertunjukan special Snow White yang dikemas secara menarik dengan efek-efek khusus dan berkolaborasi dengan aneka satwa.


http://v-images2.antarafoto.com/gec/1270721101/ekonomi%20dan%20bisnis-safari-dunia-air-01.jpg



Yang Dapat Anda Lihat Atau Lakukan:
* Menyaksikan kehidupan binatang atau satwa liar dari dalam mobil.
* Menyaksikan atraksi sirkus salah satu penghuni taman safari seperti gajah.  
* Untuk anak-anak, di Taman Safari ini juga tersedia fasilitas permainan seperti taman rekreasi anak, roller coaster, mini train, bom-bom car, puri misteri, dll
* Rumah hantu ala taman safari II.
* Wahana baru kolam renang.




Tips
1. Bagi wisatawan yang tidak menggunakan mobil pribadi, pengelola Taman Safari Prigen menyediakan mobil angkutan khusus yang akan membawanya berkeliling taman melewati jalur jalan di seantero hutan lindung tersebut.
2. Anda dilarang untuk memberikan makanan kepada seluruh satwa yang ada di TSI 2.
3. Ketika sedang berada di zona satwa buas, jangan membuka kaca jendela mobil Anda untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.





Related Posts with Thumbnails