Selasa, 13 September 2011

Soto Ayam Mas Met




Ciamik Khas Semarang

Para penggemar soto tentunya tidak akan melewatkan warung yang satu ini. Adalah warung Soto Ayam Indraprasta Mas Met berada di Jl Indraprasta Semarang, tepatnya di depan pom bensin Indraprasta. Jika penggemar kuliner hendak ke sini bisa meluncur dari arah Tugumuda akan menemukan di kanan jalan, atau kalau dari arah Banjirkanal dapat ditemukan di kiri jalan.

Meski warung tersebut sederhana, tidak terlalu luas, jangan tanya yang jajan di tempat ini. Hampir tiap waktu jam makan siang, warung ini dipenuhi ratusan pelanggan yang datang dari berbagai sudut kota. Bahkan ada yang rela datang dari luar kota, hanya untuk menyantap soto ayam racikan mas Met.

Pemiliknya adalah Slamet (64) warga Sadewa Utara III No 212 Semarang, dibantu Parmi (63) istri dan empat anak mereka. Perjalanan hidupnya bagaikan sebuah roda kehidupan penuh liku perjuangan. 

Diceritakan Slamet, sebelum berjualan soto, dulu dirinya seorang tukang becak, pada tahun 70-an. Karena sulitnya ekonomi selama lima tahun harus keliling di seputar Semarang mengayuh becak, akhirnya Slamet banting setir.

Dengan modal nekat, Slamet mencoba peruntungan berjualan soto, pada awal tahun 80-an. “Waktu mau jualan soto, saat itu hanya bermodal nekat aja. Hanya karena ada kemauan, dan dibantu pinjaman angkring untuk keliling,” ucap pak Slamet menerawang masa lalu.

Dengan berjualan soto pikulan, mulailah Slamet keluar masuk gang menjajakan masakan yang diracik sendiri. Mengapa demikian, karena Slamet memasak soto secara otodidak, tidak ada yang mengajari. “Saya belajar memasak soto secara otodidak, dan tidak ada yang mengajari. Sebelumnya saya tidak pernah ikut orang jualan soto atau diajari orang tua memasak soto. Untuk itu saya berusaha menciptakan soto dengan bumbu racikan sendiri. Yang penting rasanya pas saya puas,” jelas ayah dari Besus Sarjono, Siti Rohmanah, Sujiwati, dan Ambar Arum Lestari.

Untuk membuat rasa pas sotonya dengan lidah para pelanggan, Slamet tak segan-segan meminta pendapat yang suka beli, soal kekurangan yang ada pada racikannya. Sampai akhirnya ditemukan racikan yang pas bagi soto ayamnya ini.
Selama enam tahun Slamet berkeliling di seputaran Indraprasta hingga Imam Bonjol.  Akhirnya, Slamet menemukan tempat mangkal yang cocok di tempatnya sekarang. Dengan berbentuk warung sederhana Slamet berhasil menjaring banyak pelanggan.

Tahun 1985, Slamet mengembangkan tempat usahanya dengan membuat permanen. Alhasil banyak pelanggan yang sering jajan di warungnya, seperti dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Solo, Jogja, dan Semarang sendiri.


Kualitas Rasa Tetap Dijaga

Untuk menarik para pelanggan agar tetap jajan di warungnya, Slamet berusaha mempertahankan rasa dan kualitas rasa. Semua bahan baku soto dipilih dari yang berkualitas.

“Saya berusaha mempertahankan supaya rasa soto itu bisa pas di lidah para pelanggan. Tidak harus enak banget, yang penting pas di lidah,” imbuhnya kemudian.

Tidak segan-segan Slamet berbelanja sendiri keperluan warung, seperti membeli ayam kampung jago di pasar kobong. Meski kini harganya melangit hingga Rp 90 ribu per ekor, mau tidak mau Slamet harus membelinya. Dalam sehari ia menghabiskan 10 ekor ayam.

Untuk menambah kualitas soto, Slamet menggunakan beras rojo lele super seharga Rp 7.500 per kilo, sebagai nasi untuk dicampur dengan nasi sotonya. Bahkan pemilihan sledri dan onclang juga tidak sembarangan. Selain itu, ia juga menyediakan tempe, perkedel, sate kerang, sate puyuh, sate ayam, telur bacem, sate usus, sate jeroan, dan masih banyak lagi.

 Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Ayam Penyet Pak Kul



CITRA rasa ayam penyet Pak Kul ini memang membuat lidah pecinta kuliner selalu ketagihan. Tidak hanya karena rasa dari ayam yang digoreng garing, tetapi rasa sambal nikmat ditambah nasi putih yang hangat.
Pondok makan sederhana yang terletak di Jalan Stadion Selatan No. 14 Semarang ini ramai dikunjungi pelanggan saat jam makan siang tiba. Bila beruntung, pengunjung mendapatkan tempat duduk, bila tidak, harus rela berdiri menunggu sejenak untuk mendapat kursi.

Lokasi pondok makan berada di tempat yang strategis, berdekatan dengan beberapa kantor instansi pemerintahan. “Saya pindah di tempat ini sekitar tahun 1992-an. Sebelumnya saat buka tahun 1988 berada di depan Admiral Jalan Ki Mangunsarkoro,”jelas pemilik Pondok Makan, Kulyadi Mantan pegawai restoran Bonysteak ini menceritakan, awalnya ia hanya menghabiskan lima ekor ayam dalam sehari.

Kemudian satu bulan bertambah menjadi 25 ekor dan hingga saat ini sudah mencapai puluhan ekor ayam per hari. “Dulu saya kerja di Bonysteak tapi bangkrut lalu akhirnya saya buka usaha sendiri,” kata warga Panda Barat II ini. Usaha yang kini dirintis dikerjakan bersama seluruh anggota keluarganya. Sehingga kearaban dalam pelayanan dapat dirasakan seperti sebuah anggota keluarga. “Pegawai saya saat ini cuma ada 5 orang. Semuanya anggota keluarga sendiri,” ujarnya.

Selain ayam penyet, Pak Kul juga menyedikan berbagai jenis masakan spesial di antaranya ayam gongso, tongseng ayam, nasi goreng, gurami goreng dan berbagai masakan penyet lainnya. “Dulu kita ada sop buntut,
tapi sudah tidak kami tawarkan lagi karena lebih laris ayam penyetnya,” tuturnya Pondok makan Pak Kul ini buka dari pukul 10.00 hingga pukul 15.00. Harga satu porsi menu paling murah Rp 13.000 dan termahal gurami goreng yang mencapai Rp 35 ribu untuk satu kilo. “Yang paling spesial di sini ya ayam penyetnya, yang lainnya juga banyak dipesan,” tukasnya.

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Es Pocong Gundul




Mendengar nama pocong, gundul pecingis, kuntilanak, gendruwo, kolor ijo saat tengah malam pasti bikin bulu kuduk berdiri. Namun, lain halnya jika kita mendengar nama – nama tersebut di pinggir Jalan Tlogosari Raya III persisnya di jembatan ketiga, pasti akan berbeda.

Manis dan segar pasti akan terasa, karena Kiswanto yang membuat nama-nama hantu itu menjadi nama minuman menyegarkan. Meski baru 2,5 tahun mendirikan es pocong, usahanya cepat dikenal oleh masyarakat Kota Semarang. Bahkan dirinya sudah membuka cabang di Graha Mukti dan ancang-ancang membuka cabang baru di daerah IKIP PGRI Semarang atau Undip Pleburan.

Wah kalau di sini (Tlogosari) sudah ramai dipastikan banyak motor yang berjejer disepanjang jalan,” ungkap dia yang menyatakan siap untuk mengikuti ajang lomba Kuliner Khas  Semarang yang dipersembahkan Dji Sam Soe bekerjasama dengan Jawa Pos Group (Radar Semarang dan Meteor). Kiswanto sendiri mengawali usaha es pocong gundul pecingis, selepas merantau di Bogor.

Dari kota itulah dirinya bekerja di jenis usaha yang sama, yakni es pocong selamadelapan bulan. Saat dirasa ilmu dan resep sudah cukup dikuasai, ia memberanikan diri membuka usaha yang sama di kota ini. Lambat laun, cita rasa es pocong diterima masyarakat dan semakin hari, jumlah pelanggan semakin bertambah.

Sadar warung esnya semakin ramai, ia lantas menciptakan menu-menu baru. Di antaranya es kuntilanak (kolang-kaling, jeli, cendol, dan kelapa muda), gendrouwo (cao, ketan hitam, cendol), tersanjung (strawberi, nanas, jelly) nyuss…manis (cao, kolang-kaling, cendol, jeli, kelapa muda), kolor ijo (melon, selasih, kelapa muda, rumput laut).

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Soto Ayam Kudus Pak Suladi





Nikmatnya Soto..Hhmmmhhh...

INGIN makan dengan harga murah, kualitas terjaga? Soto Ayam “KUDUS” Pak Suladi, bisa menjadi pilihan. Warung soto yang berlokasi di Jalan Anggrek Raya atau tepatnya di sebelah wisma bakti YPAC belakang Mal Ciputra ini, menawarkan harga terjangkau.

Untuk semangkuk soto panas, pelanggan cukup merogoh kocek sekitar Rp 3.500. Jika ingin dilengkapi lauk tempe, sate dan segelas es teh, total rupiah yang harus dikeluarkan sekitar Rp 7 ribuan. Menurut Suladi, 39, warga Jalan Wahyu Temurun Raya 16, pemilik soto, untuk mengikat pengunjung agar terus singgah di warungnya, ia berikan potongan harga. “Kalau ada pelanggan yang beli soto sampai Rp 50 ribu. Saya memberikan potongan harga Rp 5 ribu. Memang nilainya kecil. Tapi pelanggan cukup puas dan akan kembali makan di sini,” terangnya.

Selain harganya yang relatif murah, bapak 4 orang anak ini, juga mengikat pelanggannya dengan kualitas rasa masakan. Rasa soto yang segar, dengan racikan bumbu pas mengundang siapa saja ingin mencicipi masakan Suladi. Perjuangan Suladi dalam membesarkan kiosnya memang tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Sebelum memutuskan berdagang soto ia, pernah menjadi kernet, sopir, hingga pelayan di warung soto ternama di Semarang. “Dari menjadi pelayan itulah, saya belajar membuat soto dan bagaimana cara bisnis managemen yang baik,” ungkapnya. Awal merintis usaha soto, Suladi mengaku menggunakan gerobak keliling. Dewi fortuna menghampirinya.

Yayasan YPAC menawarkan sedikit lahannya untuk digunakan Suladi membangun kios PKL soto ayam. “Kira-kira sekitar tahun 2000-an,” jelasnya. Meski harus membayar Rp 2 juta setiap bulan sebagai jasa sewa tempat, Suladi tidak keberatan.



Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Rica-Rica Menthok di Warung Bu Yuli





Lezatnya sebuah kenikmatan makanan...

Semula hanya sekedar iseng mencoba resep dari buku dan melihat langsung beberapa warung makan yang dikunjungi. Kini, Yulianti Kusumaningrum, setiap hari disibukkan mengurus warung makan di Jalan MT Haryono (depan kantor Eisa) dan menerima berbagai pesanan mulai dari acara arisan sampai kantor-kantor.

Pemilik warung Bu Yuli dengan menu andalan rica-rica mentok dan ayam goreng kremes itu, semula staf akunting Pertiwi Garmen. Setelah mengundurkan diri dari kantor, ia belajar memasak dari buku-buku. Akhirnya bersama suami, Paulus Nugroho, memberanikan diri membuka warung makan pada tahun 2004. “Saya itu awalnya tidak bisa memasak, tapi saya belajar sendiri dari buku resep masakan dan lihat cara orang memasak saat berkunjung ke warung makan,” ujarnya. Lambat laun, warung makannya mulai dikenal oleh warga Semarang.

Terlebih lagi, sang suami tidak segan membantu pemasaran dengan menawarkan hasil racikan istrinya secara door to door di kantor, sekolah dan instansi pemerintahan. “Suami saya saat itu sempat menjadi sales ayam saya selama tiga tahun. Beberapa ayam kami potong kecil-kecil untuk tester kepada calon pelanggan,” imbuh Yuli yang diamini suaminya.

Menginjak tahun tahun keempat, ia mendapatkan berkah dari Yang Kuasa. Saat itu, sang suami yang profesi sampingannya tukang potong unggas di Pasar Kobong, mendapat pesanan memotong beberapa ekor mentok. Namun, sang pemesan membatalkan janji, sementara mentok sudah dipotong dan dibersihkan. Alhasil, dari pesanan yang gagal itulah, Yuli menemukan resep rica-rica mentok yang jos. “Waktu itu, mentok yang sudah terlanjur disembelih dan dibersihkan tidak jadi diambil. Karena eman-eman akhirnya saya olah saja,” katanya. Radar Semarang yang sempat mencicipi ricarica tersebut mengakui kelezatannya.

Rasa daging mentok yang dikenal alot, di tangan Yuli jadi empuk dengan rasa bumbu rempah-rempah
yang kuat. Dengan menu andalan itulah, Yuli siap berlomba di ajang Kuliner Khas Semarang
persembahan Dji Sam Soe kerjasama dengan Jawa Pos Group (Radar Semarang dan Meteor).



Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Sate Kuda Pak Din





Nikmat, Bikin Istri Menjingkrak Jingkrak...

Keberadaan warung sate kambing, ayam, atau sapi sangat mudah dijumpai hingga di pelosok Kota Semarang. Namun, warung sate yang di  sudut Jalan Veteran no 2 Semarang ini terasa lain. Pasalnya, si pemilik warung yang bernama Kasidin, 64, menawarkan menu yang beda. Yakni daging kuda yang selama ini lebih dikenal sebagai hewan transportasi atau pengangkut beban.

Mungkin menu sate kuda ini memang belum begitu akrab lidah masyarakat. Meski begitu, warung milik pria yang akrab disapa Pak Din ini sudah memiliki pelanggan tersendiri. Rata-rata para pelanggan mempunyai  alasan tersendiri mengapa memilih  mengonsumsi daging kuda.

Ada yang percaya bahwa daging kuda mampu menambah stamina serta gairah seksual. “Tapi ada juga yang percaya daging kuda bisa mengobati penyakit,” tutur Pak Din kepada koran ini.
Warung ini tidak terlalu luas, berukuran sekitar 2×9 meter. Dibantu dengan 2 orang pekerja, Pak Din selalu menyapa ramah setiap pengunjung yang datang. Yang istimewa dari masakan Pak Din adalah daging kuda yang empuk dan tidak liat. Padahal, sebagai hewan pekerja, biasanya daging kuda alot ketika dimasak. Rupanya Pak Din memiliki resep khusus sehingga daging kuda tersebut tidak liat. Ketika memasak, ia mencampurkan madu asli untuk mengempukkan daging. “Tapi harus madu asli, kalau tidak asli ya tidak bisa empuk,” jelasnya.
Menurut pengakuan para pelanggannya, seperti disampaikan Pak Din, daging kuda dipercaya bisa mengobati asma, kencing manis, serta asam urat. Sedangkan yang percaya bahwa daging kuda bisa menambah stamina, mengaku kondisi tubuhnya menjadi lebih segar. Tidak lagi malas bangun pagi dan ada juga yang mengaku gairah seksualnya bertambah seusai mengonsumsi daging kuda. Apalagi jika ia mengonsumsi ‘torpedo’ atau alat kelamin kuda jantan. Tak heran jika menu ’torpedo’  sering menjadi buruan bagi pria-pria yang ingin menambah stamina di ranjang.

“Ada beberapa orang yang langsung pulang jika torpedonya sudah habis,” jelasnya. Pak Din mendapatkan daging kuda dari sebuah tempat pemotongan kuda di Dusun Segoroyoso Pleret Bantul Jogjakarta.
Ada 8 menu olahan daging kuda yang ditawarkan. Yakni sate, tongseng, gongso, rica-rica, steak, bistik, nasi goreng kuda serta koyor. Harga per porsi rata-rata Rp 19.000, kecuali koyor yang dihargai Rp 7.000 dan nasi goreng dengan Rp 8.000. Setiap hari ia rata-rata bisa menjual 10 kilogram daging kuda. Warung yang berdiri sejak 11 Agustus 2005 ini buka setiap hari mulai pukul 11.00-23.00. Tapi khusus hari Jumat buka mulai jam 13.00.




Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Bebek Bakar Kendil





Hhmmm..Empuk Dagingnya..Lezatos Bebekos...



Ciri khas bebek, dagingnya keras atau alot. Namun, daging bebek olahan Budi Setianjaya dan Ana Zufrida ini dijamin empuk. Kuncinya, ketika memasak, waktunya harus pas.  Tidak terlalu cepat atau tidak terlalu lama.

Itulah keistimewaan yang ditawarkan warung makan Bebek Bakar Kendil Jalan Kusumawardani  no 8 Semarang. Selain daging bebek yang empuk, juga rasa bumbunya kuat sehingga menambah cita rasa masakan. “Keistimewaan menu yang kami tawarkan, bebek bakar ditambah dengan bumbu. Ada manis-manis, manis asam pedas, manis pedas-pedas, manis penyetan,” ungkap Budi Setianjaya, sembari mengatakan siap untuk mengikuti ajang lomba Kuliner Khas Semarang yang dipersembahkan Dji Sam Soe bekerjasama dengan Jawa Pos Group (Radar Semarang dan Meteor) ini.

Cara pembakaran atau penggorengan juga unik. Yakni menggunakan kendil (terbuat dari tanah liat) untuk membakar bebek. Sementara untuk menggoreng menggunakan kenci (kuali yang terbuat dari tembaga).
“Kita gunakan kendil karena untuk mencari temperatur yang pas, jadi panasnya lama. Sedikit demi sedikit naik. Hasilnya berbeda jika dibakar langsung pada arang. Demikian juga bebek gorengnya,” ungkap bapak lima anak ini.

Budi menambahkan, usaha yang dirintisnya sejak tiga tahun lalu ini, awalnya dari ayam bakar kendil yang mangkal di depan bengkel knalpot Jalan Jendral Sudirman. Seiring bertambahnya pelanggan, ia mencari tempat baru di Jalan Kusumawardani. “Dulu kita hanya menawarkan ayam bakar,” jelas warga Lamper Tengah II 570/F ini.

Lantas, ia menemukan resep baru, bebek bakar dan goreng. Peminat bebek cukup banyak bila dibandingkan ayam. Sehingga kini nama ayam bakar kendil diubah menjadi bebek bakar kendil. “Akhirnya kita ganti nama menjadi bebek bakar kendil,”tandasnya.

Para pelanggan tidak hanya dari dalam kota, tapi juga dari Pekalongan, Tegal, Kudus, Jogjakarta, Solo. Harga  bebek bakar Rp 13 ribu per potong dan Rp10 ribu untuk bebek goreng. Sementara ayam bakar harganya Rp 9000 per potong  dan Rp 8500 untuk ayam goreng.

“Di Semarang kami tidak membuka cabang. Rencananya justau buka dua cabang di Jakarta Juni dan Oktober nanti. Selain itu kami akan memperkenalkan menu baru, ayam jepit,”katanya berpromosi.

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Nasi Kebuli Koja

 
Kebuli Tulen Rasa Timur Tengah

SATU lagi kuliner khas Semarang yang mengusung nuansa Timur Tengah. Masakan tersebut dapat dijumpai di warung Nasi Kebuli Khoja (India) yang berlokasi di Jalan Lampersari No 52, Semarang.

Selain warna nasi Kebuli Khoja berwarna kuning khas, menu kuliner ini juga memiliki ciri khusus yang membedakan dengan nasi kebuli lainnya, yaitu gule hijau.

“Meski mengusung masakan Timur Tengah, rasa yang kami tawarkan sudah disesuaikan dengan lidah orang Semarang,” kata Poppy Mirza, si empunya warung Nasi Kebuli Khoja.

Sedangkan untuk lauknya terdiri atas telur bebek yang khusus dimasak dengan berbagai rempah-rempah, acar nanas dengan lombok hijau dan merah, serta sambal goreng ati sapi

Resep yang digunakan Poppy dalam menghasilkan masakan Kebuli Khoja ini berasal dari orang tuanya. “Dulu mertua saya (H Abdullah atau Bang Dullah) membuka rumah makan Larashati, maka resep yang kami gunakan untuk Kebuli Khoja ini berasal dari Larashati,” terang wanita yang bernama lengkap Poppy Mariyani ini.

Sedangkan untuk bumbu, Poppy juga menciptakan sesuatu yang khas. “Untuk gulai kambing misalnya, bumbu kami datangkan dari orang India yang bermukim di Surabaya,” katanya.

Selain itu, Poppy juga menghindari penggunaan minyak samin seperti yang digunakan umumnya untuk memasak nasi Kebuli. Harga yang ditawarkan untuk sepiring nasi Kebuli hanya Rp 12.500.

Menikmati masakan nasi kebuli Khoja, juga semakin nikmat dengan suguhan teh Khoja. Teh ini sesungguhnya berasal dari  Indonesia, namun dicampur dengan vanili nomor satu. “Setelah itu didiamkan seminggu. Dan diseduh dengan gula batu, serta daun pandan yang membuat teh ini semakin sedap,” jelas istri Achmad Mirza ini.


Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Sate dan Gule Kambing 29




Sate Kambing Lambang Makanan Keperkasaan

Anda pecinta sate dan gule, rasanya tak lengkap jika belum mencicipi sate dan gule kambing 29 di Jalan Kusumawardhani Semarang. Warung sate dan gule kambing yang satu ini memiliki resep pilihan didukung pemilihan daging kambing berkualitas unggul.

Rasa empuk daging sate di warung ini tidak lain dipengaruhi oleh faktor daging yang dipilih. Yaitu, daging kambing lulur (bagian atas tubuh kambing), dan bagian khas dalam. “Kami tidak mengambil bagian daging sapi yang bawah, karena biasanya dagingnya keras,” jelas Robert Charles Waworuntu, pemilik warung sate dan gule kambing 29 Kusumawardhani.

Kualitas rasa memang tidak diragukan lagi. Mengingat resep yang digunakan merupakan resep warisan leluhur. Sebelum ada cabang di Jalan Kusumawardhani, warung sate dan gule kambing 29 ini sudah terkenal di depan Gereja Blenduk Kota Lama. “Warung sate dan gule kambing 29 di depan Gereja Blenduk didirikan mertua saya, Yap Tak Yoe pada tahun 1969,” katanya.

Usaha Yap Tak Yoe ini kemudian dikembangkan oleh anak-anaknya dengan membuka cabang di tempat lain. Vony Sunarto, istrinya membuka cabang di Jalan Kusumawardhani. Sedangkan anak ketiga, Heri Santosa, membuka warung sate dan kambing 29 di Jalan Teuku Umar. “Untuk membedakan sate dan gule kambing 29 di dua warung lain, kami juga menyediakan menu tongseng, dan bistik,” jelasnya.

Pelanggan warung sate dan gule kambing 29 Kusumawardhani sebagian besar berasal dari kalangan menengah atas. Untuk harganya cukup terjangkau. Satu porsi sate berisi 10 tusuk ditawarkan Rp 12.500.

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Nikmatnya Mie Kopyok Pak Dhuwur




CITA rasa mie kopyok yang terasa gurih dan manis sudah sangat akrab di lidah  warga Kota Semarang. Apalagi ditambah taburan irisan tahu goreng, tauge, kerupuk karak, lontong, dan kuah bawang putih. Sensasi menu berkuah ini pun sangat kental terasa.

Salah satu warung mie kopyok yang sudah cukup dikenal di Kota Atlas adalah “Mie Kopyok Pak Dhuwur” di Jalan Tanjung, tepatnya di sebelah kantor PLN Jalan Pemuda. Bahkan, warung mie kopyok ini sudah menjadi langganan para pejabat dan artis ibu kota.

“Artis ibu kota yang menjadi langganan saya di antaranya Mas Tora Sudiro dan Mbak Indy Barends. Kalau pejabatnya, Kepala Dinas Perhubungan Pak Andi Agus Wandono,” kata Harso, 63, pemilik Mie Kopyok Pak Dhuwur.

Harso menceritakan, dirinya membuka usaha mie kopyok awalnya ikut Pak Joyo, tetangganya di desa. Dia ikut membantu Pak Joyo lantaran usaha es lilinnya kurang berkembang, apalagi jika musim penghujan. “Pada tahun 1960, saya jualan es lilin, kemudian tahun 1963 beralih profesi menjadi penjual mie kopyok keliling,” ceritanya.

Biasanya ia jualan keliling di kawasan Ngilir (Boom Lama, red), Semarang Utara. Namun tak lama, ia menemukan tempat untuk berjualan di Jalan Tanjung. Meski telah menemukan tempat untuk mangkal, dirinya kerap diusir petugas. Beruntung, pimpinan PLN Pemuda kala itu menawari dirinya tempat berjualan di areal kantor PLN.

“Saya sempat 4 tahun berjualan di PLN Pemuda. Namun karena berganti pimpinan, saya diminta keluar, dan mangkal lagi di Jalan Tanjung hingga sekarang,” kenang pria asli Solo ini.

Mie kopyok racikan Harso memang spesial. Berbeda dengan mie kopyok pada umumnya. Porsinya tidak terlalu banyak, namun di perut cukup mengenyangkan.

“Kami memang sengaja membuat porsi tidak terlalu banyak lontong dan memperbanyak mie dan tauge. Ini agar tidak terlalu neg. Pokoknya satu porsi cukup kenyang,” tandasnya sembari mengatakan seporsi mie kopyok cukup Rp 6 ribu saja.

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Bakso Kribo Kenyalnya Membuat Nikmat




Rasanya puas bila mencicipi lezatnya semangkuk bakso Pak Kribo di Jalan Sukun Raya Semarang. Bakso yang dihidangkan panas dengan bulatan-bulatan daging di dalamnya cukup menggoda selera.

Ya, bulatan bakso yang ditawarkan pembeli 2 macam. Ada yang  berukuran besar dan kecil. Biasanya semangkuk bakso akan diisi 4 biji bakso ukuran kecil dan 2 bakso besar. Meski demikian tidak menutup kemungkinan, bagi yang ingin menikmati bakso ukuran besar saja, akan mendapatkan 3 buah bakso ukuran besar dalam satu porsi. Sedangkan yang berminat dengan bakso ukuran kecil saja, mendapatkan 10 buah bakso.

Kelezatan bakso Pak Kribo ini, tidak lepas dari kualitas bahan yang digunakan. Dibalut dengan resep pilihan yang telah teruji selama 20 tahun. “Kami memang berupaya senantiasa menjaga kualitas, sehingga tidak akan ditinggalkan pelanggan,” ungkap Manager Bakso Pak Kribo Fuad Widodo.

Selain rasa yang ditawarkan, pas untuk lidah orang Semarang. Warung bakso yang satu ini, juga memiliki keistimewaan para pelayannya yang kompak. Dalam menyervis pelanggan, para pelayan sangat cekatan. Pelanggan tak menunggu lama, pesanan sudah siap dinikmati. Padahal warungnya cukup ramai pembeli.

Pemilik warung, H Triono mempekerjakan 7 karyawan yang terdiri atas 2 perempuan dan 5 orang lelaki. “Di sini tugas pelayan baik perempuan maupun laki-laki sama saja, intinya memberikan yang terbaik pada pelanggan,” kata Fuad.

Selain kompak, dalam bertugas para pelayan mengenakan seragam yang berganti-ganti setiap hari. Misalnya saja untuk hari Senin maka seragam yang digunakan adalah batik berwarna merah, Selasa batik berwarna putih, Rabu kaos biru, Kamis kaos biru, Jumat kaos coklat, Sabtu kaos Kuning, Minggu kaos orange.

Dengan rasa dan kekompakan pelayan yang terjaga, tidak aneh jika warung bakso yang satu ini tidak pernah sepi pengunjung. Dalam sehari sekitar 35 hingga 40 kilogram daging sapi habis terjual. “Biasanya paling ramai hari libur, atau Sabtu dan Minggu,” terangnya. Pada waktu-waktu tersebut pengunjung didominasi keluarga.
“Berapa pun pengunjungnya, sepi ataupun ramai harga yang kita tawarkan tetap sama. Untuk semangkuk bakso pengunjung cukup merogoh kocek mereka sekitar Rp 7.500,” tambahnya.



Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Lontong Tahu Blora Mas Aris




Masakan khas Blora dapat dijumpai di Kota Semarang. Ingin mencoba, singgah saja di warung makan Lontong Tahu Blora Mas Aris di Jalan Indragiri no 27 Semarang. Meski warung ini berada di dalam kampung tapi tidak pernah sepi pengunjung.

Rahasia larisnya, ternyata pada racikan bumbu lontong tahu. Satu porsi terdiri atas lontong, tahu, telur, gimbal, ditambah sayuran. Ada kol, tauge, daun seledri, ditambah taburan kacang di atasnya.

“Lontong tahu Blora ini, memang berbeda dengan lontong tahu Semarang. Lontong tahu Blora tidak memakai petis, digantikan jeruk nipis,” jelas Aris Widodo, 32, pemilik warung makan yang akrab disapa Mas Aris. Dengan tambahan jeruk nipis, lontong tahu rasanya sedikit masam.

Untuk mencicipi rasa khas tersebut, pelanggan merogoh kocek sekitar Rp 9 ribu untuk seporsi lontong tahu Blora. Tiap hari warung ini mampu menjual sekitar 250 porsi piring.

Resep lontong tahu ini diracik Mas sendiri. “Dulu saya memang belajar memasak lontong tahu Blora dari orang lain. Namun, akhirnya saya memberanikan diri untuk membuka warung sendiri,” jelasnya.

Keberanian Aris untuk mandiri diwujudkannya pada tahun 2000. Pertama kali Aris berjualan di kawasan Citarum Semarang. “Di sana saya berdagang hampir 8 tahun,” terangnya.

Saat mengawali usaha Aris mengaku, dirinya hanya memiliki modal sekitar Rp 1,5 juta. Sebagian modal itu berasal dari ayahnya. Tahun pertama terasa sulit, tahun-tahun berikutnya barulah terasa manis perjuangannya. “Memulai usaha memang harus sabar. Ini penting karena keuntungan yang kita raih tidak bisa langsung kita petik,”katanya.

Kini Aris cukup sukses dengan usaha lontong tahu Blora. Ia memiliki 4 karyawan yang hampir seluruhnya memberikan pelayanan terbaik untuk para pelanggan.

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Ledakan Bakso Granat Salatiga




Bakso sudah menjadi makanan rakyat. Disukai berbagai kalangan, mulai anak kecil hingga orang tua. Maka, kini para pengusaha bakso berlomba-lomba menciptakan cita rasa dan inovasi baru.

Salah satunya adalah Ardhyan Krisdiyanto pemilik Bakso Granat. Keunikan yang ia tawarkan dimulai dari resep keluarga. Awalnya hanya untuk konsumsi pribadi, keluarga besar, arisan RT, hingga kini memiliki tiga cabang warung bakso.

“Biasanya kalau ada arisan kita bikin sendiri bakso. Lalu ada yang pesan dan akhirnya saya berpikir kenapa tidak membuka warung bakso saja,” ungkap Ardhyan yang memulai usaha November 2008 ini.

Bakso Granat berada di Jalan Sriwijaya no 32, Tentara Pelajar no 98 dan Kios Polres no 7  Lapangan Pancasila Salatiga ini, cita rasanya sesuai dengan namanya, granat. Cita rasa dan bentuk baksonya berbeda dengan bakso umumnya. Di dalam bakso ada bakso. “Di dalam bakso ada bakso lagi. Bakso yang kecil di dalamnya bila dimakan, rasanya seperti meledak karena berisi potongan cabe,” jelasnya sembari menuturkan akan membuka UGD (unit gerobak dorong) bakso.

Wartawan Radar Semarang ketika mencoba mencicipi bakso tersebut dibuat kaget. Ketika mengunyah, serasa meledak karena pedasnya cabe. Seporsi bakso harganya Rp 8000 lengkap dengan tauge, mi atau lontong, dan sawi ini  “Selain satu bakso besar, dalam satu porsi juga ada bakso kecil yang berisi keju, jagung, dan wortel,”tambahnya.

Dirinya menjamin baksonya dibuat dari daging kualitas nomor satu, yang didatangkan langsung dari rumah pemotongan hewan di Salatiga. Selain bakso, warungnya juga menyediakan menu lain yakni cakar dan kepala ayam manis pedas, mi rebus, roti panggang dan jus buah. “Pelanggan kami kebanyakan anak muda. Kami bisa delivery service bebas ongkos kirim,” promosinya

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Ayam Goreng, Opor dan Rendang Pak Dahlan Asli Semarang




Meskipun ukurannya kecil, hanya 2 x 15 meter, warung makan di Jalan Suyudono (samping bank BRI) Semarang ini ramai dikunjungi pembeli. Tentu saja karena cita rasanya nikmat dan memiliki ciri khas tersendiri. Terbukti sudah 40 tahun berdiri, warung makan Pak Dahlan ini tetap eksis. Bukan warung makan permanen, tapi bongkar pasang atau kaki lima sederhana dengan meja dan kursi berderet.

Sudah puluhan tahun, warga dalam dan luar Kota Semarang menjadi pelanggan setia warung Pak Dahlan dengan menu spesial rendang ayam kampung dan oseng-oseng lombok ijo.

“Pelanggan kami setia. Dulu ke sini masih anak-anak sekarang sudah mengajak anak-anaknya,” kata Hj Sri Sayekti Muhartani pemilik sekaligus penerus warung tersebut menceritakan pelanggannya dari generasi ke generasi berikutnya.

Sri menceritakan, dirinya sudah hampir 40tahun mengelola warung tersebut.  Awalnya, ia ikut membantu orang tuanya berjualan. Saat itu, dirinya masih berusia 6 tahun. Hingga sekarang berusia 45 tahun ia tetap setia melayani para pelanggannya. “Dari dulu ya kondisinya seperti ini, tidak berubah sama sekali,” ungkapnya.

Bahkan menu andalannya, ayam rendang, ayam opor, ayam goreng dan oseng-oseng lombok ijo juga tetap sama. Oseng-oseng lombok ijonya sangat khas. Berupa irisan cabe ijo, tempe, udang dan tauco. Rasanya pedas nikmat.

Semua ayamnya menggunakan ayam kampung yang masih lancur (muda). Harga satu porsi komplit hanya Rp 14 ribu lengkap dengan oseng-oseng lombok ijo dan nasi.

“Kami jamin ayam kami menggunakan ayam kampung. Satu ekor ayam dibagi empat. Dan yang paling laris adalah ayam rendang,” jelasnya istri Yumaidi ini.

Setiap hari rata-rata menghabiskan 15- 25 ekor ayam kampung. Sementara jam buka warungnya mulai pukul 17.00-22.00. Para pelanggannya dari berbagai kalangan, mulai dari para pejabat Pemkot, anggota DPRD, pimpinan bank, hingga warga dari Kendal, Pati, Kudus selalu menyempatkan mampir.

“Kalau belum tahu rasa masakan kami, pasti antipati dulu karena tempatnya yang kecil. Tapi kalau sudah sekali mencoba, pasti besok akan kembali lagi,” tandas Ny. Sri yang hingga saat ini masih belum terpikir membuka cabang baru.

Dengan menu andalan itu, Ny. Sri siap bertanding dalam lomba Kuliner Khas Semarang yang diadakan Dji Sam Soe kerjasama dengan Jawa Pos grup (Radar Semarang dan Meteor).

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Warung Bebek Goreng Gendut

 


SALAH satu tempat tujuan kuliner di Kota Semarang adalah warung Bebek Gendut yang terletak di Jalan Ngesrep Timur V/53 Semarang. Warung kuliner yang menawarkan menu andalan bebek goreng kremes ini buka setiap hari mulai pukul 10.00-23.00.

Pasangan Tri A dan Susianti sudah memulai bisnis kuliner bebek goreng kremes ini sejak tahun 1996. Awalnya hanya berupa warung tenda. Tapi usaha tersebut semakin berkembang hingga memiliki warung permanen yang bisa menampung sekitar 30 pengunjung, dan saat ini juga sedang diperluas lagi.

Selain itu, mulai 23 Juni 2009, Tri juga akan membuka cabang Bebek Gendut di Jalan Haji Samali 50 Pasar Minggu Jakarta. “Ini resep buatan saya dengan istri saya. Dan ternyata cocok dengan lidah pelanggan hingga saat ini,” tutur Tri lepada Radar Semarang.

Ia menjelaskan, mungkin bebek goreng kremes racikannya itu adalah yang pertama kalinya di Semarang. Saat itu, tutur Tri, para penjual bebek goreng di Semarang hanya menyajikan daging bebek digoreng biasa. Karena itu, ia mencoba berkreasi dengan menawarkan ayam goreng kremes yang ternyata cocok dengan lidah pelanggan.

Salah satu keistimewaan masakan Tri dan Susanti di lidah para pelanggan adalah daging bebek yang empuk. Bumbu khusus yang diracik pasangan ini membuat daging bebek tidak lagi alot.

“Saya pakai ramuan rempah-rempah khusus agar dagingnya empuk. Dan para pelanggan ternyata juga suka,” jelasnya.

Tak hanya menu bebek goreng kremes, tapi warung bebek Gendut juga melayani menu bebek bakar. Alternatif lain adalah masakan ayam, gurame, burung dara, pecel lele dengan variasi masakan goreng atau bakar.

Selain cocok rasanya, para pelanggan warung ini juga tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Untuk menu bebek, baik bakar atau goreng, setiap porsi harganya Rp 10 ribu. Kemudian seporsi burung dara atau gurame Rp 15 ribu, ayam (Rp 8 ribu), pecel lele (Rp 5 ribu).

“Saya ingin menjadikan masakan bebek kremes ini jadi masakan khas Semarang. Untuk cabang di Jakarta, juga saya tulis sebagai masakan khas Semarang,” tutur Tri yang merupakan warga Semarang asli.

Biasanya, para pelanggan memadati warungnya sekitar pukul 17.00-20.00. Setiap hari, rata-rata ia harus memotong 80 ekor bebek dan 40 ekor ayam yang setiap ekor bisa dijadikan 4 porsi masakan. Selain itu, ia juga menyediakan 20 ekor burung dara dan 5 kilogram lele. “Bahkan kalau lagi musim liburan saya bisa memotong sampai 150 ekor bebek setiap harinya,” jelas Tri.


Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Ayam Goreng Yaisi, Puri Anjasmoror




Bagi pecinta ayam goreng mungkin bisa datang ke warung ini. Warung “Yaisy” yang berada di pinggir Jalan Raya Puri Anjasmoro Semarang, tepatnya 100 meter setelah gerbang masuk. Warung kuliner ini dikelola oleh Andre Suhendro, 37,  warga Kanfer Utara Dalam III Banyumanik Semarang. Andre sendiri mulai mengelola warungnya sejak 1996, atau sudah 13 tahun, sejak dirinya masih lajang, hingga kini memiliki istri dan seorang anak.

Andre mengaku keahliannya memasak ayam goreng diperolehnya secara tidak langsung dari pamannya di Kampung Tiber, daerah Mataram Semarang.  Kebetulan kampung tempat kelahirannya itu merupakan kampung penjual ayam goreng khas Semarang. Di kampung ini, setidaknya ada 10 penjual ayam goreng.

Salah satunya, pamannya sendiri, Supar, yang namanya cukup beken sebagai penjual ayam goreng  di Jalan Moch Suyudi.

“Saya belajar memasak ayam goreng ya dari om saya, Pak Supar, itu. Di sana saya bantu-bantu selama satu bulan, lalu memberanikan diri membuka warung sendiri,” cerita suami Diah Sulistyorini, 37 ini.

Dalam sehari, Andre dapat menghabiskan sekitar 16 hingga 20 kg ayam yang dibelinya di Pasar Kobong. Bahkan, saat akhir pekan dan hari libur, dirinya bisa menghabiskan 20 hingga 25 kg ayam pejantan segar.  Warung ayam goreng ini buka pukul 09.30- 15.00. Harganya sangat terjangkau. Untuk ayam goreng Rp 7 ribu, sedangkan rempela ati, dan kepala hanya Rp 1000.

Lalu apa istimewanya dari ayah goreng Yaisy ini? Menurut ayah dari Desmonda Kalonica, 8 ini, ayam goreng produknya dikenal gurih. Itu berkat bumbu khusus hasil racikannya. “Saya mengkombinasikan bumbu dari paman dan saya sendiri,” akunya.

Ayam goreng bikinan Andre semakin nikmat dengan tambahan sambal terasi matang dan timun sebagai penyegarnya. Sajian sambalnya yang juga khas ini, semakin menambah rasa ayam goreng Yaisy terasa mak nyuss.

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Gulai Kambing Bustaman




Berbicara tentang gulai kambing Kota Semarang, orang pasti teringat pada gulai kambing Bustaman. Karena keistimewaannya, gulai ini sudah menjadi ciri khas gulai Semarangan. Tak jarang pembeli dari luar kota pecinta masakan gulai, dipastikan menyempatkan diri menikmati gulai dengan cita rasa yang khas tersebut
Lahirnya gulai tersebut tidak lepas dari sejarah Kota Semarang. Dari sebuah kampung kuno di sekitar Jalan MT Haryono, terdapat seorang tokoh kampung yang sering dipangil dengan sebutan Uwak Bustam. Tokoh tersebut menjadi salah satu cikal bakal lahirnya pusat perdagangan. Juga penyembelihan  kambing di kampung tersebut sekitar tahun 1930-an hingga akhirnya tercetus nama Kampung Bustaman.

Gulai Bustaman memang berbeda dengan gulai umumnya, karena kuahnya tanpa menggunakan santan meski sama-sama menggunakan kelapa. Kelapa diparut dan digoreng sangan, tidak diperas menjadi santan. Gorengan parutan kelapa tersebut lalu ditumbuk halus dicampur rempah-rempah untuk bumbu kuahnya. Selain itu juga terdapat campuran cengkeh dan kayu manis.

Salah satu pedagang gulai Bustaman adalah Sabar yang kini warungnya  menetap di belakang Gereja Blenduk sejak tahun 1969 silam. Usaha itu dirintis oleh ayahnya Warso, dengan berjualan keliling dan dipikul. Kemudian Sabar menemukan tempat menetap di belakang Gereja Blenduk tersebut.

“Dulu kakek saya berjualan keliling. Tahun 1969 kami mulai menetap. Kemudian usaha itu diteruskan oleh bapak saya,” cerita Faizun, 28, anak dari  Sabar.

Daging kambing yang dimasak untuk gulai Bustaman umumnya bagian kepala, kaki serta jeroan. Selain itu yang sering dicari orang yakni bagian pipi, telinga, dan bagian lainnya. Karenanya, daging yang digunakan umumnya dari kambing betina. “Kita memang banyak ambil bagian kepala dan jeroan. Yang istimewa ya otaknya,” katanya

Kini rata-rata per hari, Gulai Kambing Bustaman laku 160 – 200 porsi. Dengan harga per porsi Rp 12 ribu lengkap dengan nasi  ditambah gerusan cabe rawit dan potongan bawang merah. Paling ramai, saat jam makan siang mulai dari pukul 11.00-14.00. Bahkan tak jarang saat jam tersebut gulai telah habis. “Kami buka setiap hari mulai pukul 08.00-16.00. Tapi kadang sebelum jam tutup gulai sudah habis duluan,” tandasnya

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Ikan Kakap Griya Makan 55 Semarang




Satu lagi tempat makan yang patut menjadi jujukan para pecinta kuliner di Kota Semarang, terutama yang menyukai masakan dari kepala kakap. Tempat ini berada di Jl Moch Suyudi No 55 Semarang atau masuk dari arah Gajahmada menuju Thamrin sebelah kanan jalan.

Di sini Anda akan menemukan masakan ala Semarangan. Dinamakan demikian karena cita rasa yang dihasilkan merupakan pas dengan lidah orang Semarang. Griya Makan 55 didirikan oleh Lany kerjasama dengan Ny Sri Suprapti, 43, warga Pucang Gading Mranggen Demak dan adiknya Tutik.

Meski baru buka sejak 5 Mei kemarin, namun griya makan ini sudah mendapat tempat di hati para pecinta kuliner. Terbukti dengan banyaknya pengunjung yang datang ke griya makan yang buka pukul 10.00 dan tutup pukul 21.00 tersebut.

Karena, pindang srani kepala kakap yang diracik Ny Sri Suprapti begitu lezat. Daging ikan kakap yang empuk dan lembut saat berada di mulut dipadukan dengan bumbu khas Semarang yang dibuat Ny Sri.
“Saya sudah mulai memenuhi pesanan masakan sejak saya pindah ke Pucang Gading sekitar tahun 1997, baik itu untuk keperluan syukuran maupun hajatan,” jelasnya ramah.

Melihat kehebatan Ny Sri di dalam mengolah kepala kakap akhirnya menarik perhatian Lany yang kemudian mengajaknya membuka griya makan di Moch Suyudi 55 Semarang.  Tidak menunggu lama ajakan ini dipenuhinya.

Selain pindang srani kepala kakap, griya makan ini juga menyajikan masakan lezat lainnya yakni gulai kepala kakap, dagu kepala ikan sambal penyet, dagu kepala kakap masak pindang srani, dan nasi goreng. Untuk nasi goreng ditangani oleh Tutik adiknya dengan menyajikan aneka nasi goreng dengan campuran ayam sosis, ayam bakso, ampela ati, dan sea food.

Harganya sangat terjangkau semua kalangan, berada di kisaran Rp 10 ribu. Demikian juga untuk nasi goreng dengan aneka rasa juga dihargai Rp 10 ribu per porsi.

Sedangkan menu dagu kepala kakap masak penyet memadukan jenis masakan penyet dengan goreng dagu kakap. Ini menghasilkan perpaduan yang lain dari pada lainnya. Dagu kepala kakap goreng ini dimakan bersama sambal trasi yang oke punya.

Selain semua masakan di atas sebagai minuman penutup, disediakan aneka macam jus buah segar. Mulai dari jus alpukat, jeruk, wortel, tomat, hingga jambu merah. Harganya cukup terjangkau, hanya Rp 4000 per gelas.

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Warung Nasi Gandul Pak Lan Banyumanik



Mencicipi nasi gandul pasti akan ketagihan. Disajikan di atas daun pisang dengan berbagai macam daging sapi di atasnya. Masih ditambah kuah santan yang diracik dari aneka bumbu khusus, dan diberi campuran kecap manis. Rasanya bikin lidah bergoyang. Nasi gandul itu disajikan di Warung Nasi Gandul Pak Lan di Jl Sukun Raya No 6 Banyumanik Semarang.

Meski aslinya dari Pati, nasi gandul sudah menjadi bagian dari aneka ragam kuliner di Semarang. Dinamakan Pak Lan karena si empunya warung bernama Achmad Setyo Sukarlan. Lelaki kelahiran Desa Gempolsari Kecamatan Gabus Pati, 36 tahun lalu ini memulai warung nasi gandul pertamanya di Kalimantan. Saat itu, tahun 2001 Pak Lan merantau ke Sampit Kalimantan untuk membuka warung ayam goreng. “Saya membuka warung pertama kali di Sampit Kalimantan. Saat itu saya menjual masakan khas Jawa terutama ayam kampung goreng. Untuk nasi gandulnya tetap saya jual juga bersama masakan lainnya. Namun yang saya andalkan saat itu menu ayam kampung goreng,” jelas suami dari Agustin Ida Erniwati, 35 ini.

Ternyata jualan masakan Jawa milik Pak Lan di Sampit ramai dikunjungi pelanggan, terutama perantau asal Jawa. Kemudian muncul ide, sang istri membuka warung di Sukun Banyumanik Semarang. Selama masa itu, Pak Lan sering bolak-balik Semarang – Sampit untuk mengurusi dua warungnya. Sekitar tahun 2006, Pak Lan akhirnya menyerahkan warung di Sampit kepada saudaranya untuk dikelola.

“Saya pindah di Semarang pada 4 Agustus 2006. Karena anak saya sudah mulai sekolah, sedangkan warung di Sampit dipegang saudara,” tambah ayah dari Abdela Nisa Febriana, siswa kelas 2 SD itu.
Nasi gandul bikinan Pak Lan memang top.  “Saya bisa masak karena belajar sendiri. Ketika makan saya mencoba tahu, apa saja bumbu-bumbu di dalamnya. Terlebih saya memang suka jajan,” imbuhnya.

Hal inilah yang membuat Pak Lan semakin tahu macam-macam bumbu yang ada di berbagai masakan Jawa. “Memasak nasi gandul itu lama. Ada tiga tahapan mulai dari mempresto daging sampai empuk, memberi bumbu, dan terakhir menggorengnya. Semua butuh waktu tiga jam,”katanya.

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Belut Goreng Nasima


Meski demikian, jenis masakan yang paling laku keras karena banyak diminati adalah menu mangut belut. Menu makanan yang satu ini, memang cukup unik dan jarang ada di Semarang. Karenanya tak aneh jika warung yang berdiri sejak tahun 1970-an ini, tak pernah sepi pengunjung.

Bumbu-bumbu yang digunakan untuk memasak mangut belut ini, sama dengan bumbu mangut biasa. Hanya saja rasa masakan mangut belut ini dibuat lebih pedas. “Saat pertamakali berdiri, dulu kami menggunakan daging ikan laut asap. Namun, iseng-iseng ibu mencoba mengubah bahan dasar menjadi belut. Dan hasilnya malah banyak diminati,” ungkap Sugiarti, 38, putri ke-7 Nyonya Nasima ini.

Selain berbagai macam olahan ikan, warung makan ini juga menyediakan aneka sayuran. Di antaranya sayur tahu, sayur nangka, daun papaya, oseng-oseng buncis dan masih banyak yang lainnya.
“Untuk bahan baku belut, kami sudah memiliki langganan pemasok dari Sayung, Demak,” jelasnya.

Resep mangut belut ini, pertamakali diciptakan oleh pendiri warung itu yakni Ny Nasima, 80. Setelah pensiun karena faktor usia,  warung mangut belut Nasima dijalankan oleh beberapa anaknya. Masing-masing adalah Suyamti, 48, putri ke-3, Rusmiyati, 42, putri ke-5, dan Sugiarti, 38, anak ke-7 dari ibu Nasima.

“Dulu saat pertamakali buka, warung ukuran sangat kecil sekitar 3 x 4 meter. Sekarang sudah berkembang menjadi 10 x 6 meter,” ungkapnya. Berkembangnya warung ini, juga tidak lepas dari upaya anak-anak Nasima, menjaga kualitas rasa dan layanan pada pelanggan warung.

Warung yang memiliki pelanggan berasal dari semua kalangan ini, buka dari pukul 07.00 hingga 17.00. Pada jam makan siang pengunjung paling padat.

Selain menjaga kualitas rasa dan layanan, agar tidak ditinggalkan pengunjung, harga yang dipatok oleh warung ini, relatif terjangkau. Misalkan saja kepala manyu ukuran kecil harganya berkisar Rp 10 ribu. Sedangkan yang besar Rp 10 ribu. “Untuk mangut 1 porsinya sekitar Rp 10 ribu,” jelasnya.
 
Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Bakmi Jowo Totem Pak Pardi




Masakan yang satu ini memang khas Jawa. Betapa tidak, dari namanya saja orang sudah bisa menebak, bakmi Jawa. Menemukan bakmi yang cita rasanya pas di lidah orang Semarang memang gampang-gampang susah. Namun, salah satu yang cocok adalah warung bakmi Jawa di komplek kampus Undip Tembalang. Nama warungnya Bakmi Jowo Totem Pak Pardi yang berada di pertigaan antara Jalan Prof Sudharto dan Jalan Sirojudin Tembalang.

Warungnya berada tepat di halaman Toko Tembalang (totem). Nama totem inilah yang akhirnya dipakai Pardi sang pemilik untuk mempermudah orang mencari warungnya.

Pria 50 tahun itu menyediakan menu bakmi Jawa goreng, bakmi godok, nasi goreng, dan kwetiau. Semua disajikan melalui tangan dinginnya yang terampil mengolah bumbu dan bahan lainnya. Selain itu sebagai pelengkap disediakan sate ayam yang gurih, atau dibakar bila pelanggan menginginkannya.

Jangan tanya rasa bakmi buatan lelaki kelahiran Tawangsari Sukoharjo ini, siapapun dibikin ketagihan bila merasakan racikannya. Harganya yang ekonomis, membuat warung bakminya laris manis dipenuhi mahasiswa Undip. “Satu porsi bakmi dan lainnya rata-rata Rp 5000,” jelas Pardi sembari melayani para pelanggannya.
Selain para mahasiswa, yang menjadi langgananya adalah karyawan swasta dan PNS atau dosen. “Menu yang paling banyak dipesan bakmi goreng dan nasi goreng,”imbuhnya.

Hampir tidak ada masakan yang tersisa di warung setiap harinya. Artinya berapapun bahan masakan yang dibawa Pardi selalu habis diserbu pelanggan. Kelezatan bakmi Jawa di warung Totem ini diakui oleh para pelanggannya, salah satunya adalah Indra yang merupakan mahasiswa tingkat akhir Jurusan Teknik Undip. Menurutnya bakmi goreng buatan Padi berbeda dengan bakmi goreng di warung lainnya. Selain porsinya banyak, rasanya juga sangat pas di lidah. “Rasa bakmi gorengnya sangat lezat. Tidak terlalu manis juga tak terlalu asin. Apalagi harganya sesuai dengan kantong mahasiswa seperti  saya,” ucapnya saat jajan di warung tersebut.

Perjuangan Pardi membuka usaha tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tahun 60-an Pardi yang masih berusia 13 tahun, menyusul ayahnya yang juga berjualan bakmi di Semarang. Maka lelaki yang tidak lulus SD tersebut, ikut memanggul rombong yang berisi bakmi bersama ayahnya.

“Waktu itu saya ikut Bapak jualan bakmi Jawa dengan cara dipikul keliling di Simpang Lima sampai Jalan Anggrek,”kenangnya. Saat berjualan dengan sang ayah inilah, dirinya mengenal cara meracik bumbu hingga memasak. Dari semula hanya membantu memikul, Pardi akhirnya mahir memasak.

“Bumbunya itu cuma bawang dicampur miri, tidak ada yang rahasia. Yang membedakan hanya cara meraciknya bisa nggak kita mengepaskan antara bumbu dengan bahan lainnya,”katanya menjelaskan resep bakminya.

Karena sudah piawai meracik bakmi, tahun 1972, Pardi memutuskan berjualan sendiri memakai gerobak dorong.  “Waktu saya berjualan sendiri, keliling di seputar Jalan Anggrek di dekat RS Telogorejo,”tambahnya.

Tahun 1988 dirinya pindah ke Jalan Keruing Banyumanik dan berjualan menetap. Kemudian tahun 1999, pindah tempat lagi di Perumda di Tembalang. Di sebuah rumah rusak, Pardi membuka warung baru dan bertahan hingga lima tahun. “Sebenarnya ya masih lama di sana, namun karena rumahnya mau direnovasi akhirnya saya pindah ke Totem sini,”katanya

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Nasi Pecel Bu Sumo




Nasi pecel, menu yang tak pernah membosankan. Sayur-sayuran yang disiram bumbu sambal kacang ini disukai berbagai kalangan. Salah satu warung yang patut dikunjungi pecinta pecel di Kota Semarang adalah Warung Pecel Bu Sumo. Meskipun banyak bertebaran warung, pecel Bu Sumo ini salah satu yang cukup populer.

Warung yang diberi nama sesuai dengan  nama pendirinya, yaitu Sumodimejo ini sekarang sudah memiliki 4 cabang tersebar di Semarang dan satu di Ungaran. Cabang-cabang tersebut, dikelola oleh 5 anak dari pasangan Sumodimejo dan Warisa.

Salah satu cabangnya di Jalan Kyai Saleh no 8 Semarang. Meski bangunan warung hanya terbuat dari bambu dan papan, tapi tak pernah sepi pengunjung. Setiap hari, rata-rata warung ini mampu menghabiskan 50 kilogram beras. Bahkan di hari libur seperti tanggal merah atau hari Minggu, sampai 75 kilogram beras.

Sesungguhnya, menu yang disajikan di warung bercat hijau ini tidak jauh berbeda dengan warung-warung pecel lainnya. Yaitu nasi pecel lengkap dengan berbagai lauknya. Di antaranya babat, lidah, paru, iso, limpa, ayam goreng daging ati, telur ceplok, pepes kakap, dan bandeng.

Menurut Tugiyah Isbantini, anak kedua Sumodimejo, rahasia sukses warung ini, justru dari bangunannya yang sederhana. “Mungkin karena bangunan warung ini sederhana, orang tidak takut masuk. Biasanya kalau restoran yang bangunannya mewah orang enggan masuk. Takut kalau-kalau harganya mahal,” jelasnya sambil tersenyum.

Benar saja, saat melihat menu yang disediakan di warung ini harga yang ditawarkan memang standar dengan kocek orang Semarang. Selain menyediakan pecel, terdapat juga menu lain. Seperti mangut dan soto. “Tapi yang paling diminati di tempat ini ya, pecelnya,”tandasnya.

Karena sangat ramai, tak heran bila Tugiyah membutuhkan tenaga kerja untuk membantu melayani pelanggan. Jumlahnya 13 orang terdiri atas 10 orang pelayan laki-laki dan 3 orang perempuan yang bertugas di dapur untuk memasak.

“Agar kompak, karyawan kami haruskan mengenakan seragam,”tambahnya. Dan agar matching dengan warna cat warung, maka seragam para karyawan-pun berwarna hijau bertuliskan Pecel Bu Sumo.

Pelanggan pecelnya sangat beragam. Mulai dari anak sekolah, mahasiswa, hingga karyawan. Buka mulai pukul 06.00 hingga 15.00. “Selama ini saya juga menerima pesanan, untuk ulang tahun atau pernikahan,” katanya. Warung pecel Bu Sumo tidak pernah tutup alias buka dari hari Senin hingga Senin lagi.  Dari berjualan pecel, Tugiyah mampu menyekolahkan 3 anaknya hingga perguruan tinggi.

Cabang dari warung yang mulai eksis melayani pelanggan sejak 19 Desember 1965 ini, masing-masing di Ungaran yang dikelola anak pertama Sumodimejo yaitu Wakiman, kemudian di Jalan Kyai Saleh no 8 dikelola anak ke-2, Tugiyah Isbantini. Sedangkan di pujasera kawasan Jalan Kyai Saleh dikelola anak ke-3 dan 4 yaitu Raminah dan Riyadi. Serta cabang di Gombel dikelola Slamet anak ke-5.

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Ayam Goreng Kremes Banyumanik




Salah satu makanan kesukaan orang Indonesia adalah ayam goreng, entah itu digoreng dengan bumbu Jawa, Padang, atau Bali. Salah satu pengembangan masakan ayam goreng ini adalah ayam goreng kremes yang kini makin banyak penggemarnya.

Salah satu warung ayam goreng kremes ada di Jl Jati Raya No A6 Banyumanik Semarang. Warung sederhana ini menyajikan spesial ayam kremes dengan tulang lunak serta ayam kremes dengan daging ayam pejantan.

Ayam kremes milik Ny Rini, 44, warga Gaharu Utara 31 Banyumanik Semarang ini dikelola sejak bulan Juli 2006. Sebelumnya istri Chrishartono Ritrianto, 44, ini berjualan bermacam-macam kue seperti rol tape hingga blackforest di rumahnya.

Mulai dari melayani pesanan tetangga kiri kanan hingga melayani pesanan dalam jumlah besar untuk acara-acara keluarga maupun kantor. Sampai akhirnya terbersit untuk mencoba usaha baru yang berhubungan dengan makanan yakni ayam goreng. Kenapa dipilih ayam goreng, menurutnya, jenis masakan yang satu ini memang digemari siapa saja. Baik anak-anak hingga dewasa.

Sejak saat itu Rini mencoba berbagai macam resep ayam goreng yang dipelajari dari majalah maupun buku resep. Beberapa kali mencoba, akhirnya ditemukan resep modifikasi sendiri.

“Sebelumnya saya mendapati kremes yang keras dari resep dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Namun saya modifikasi sehingga mendapatkan kremes yang empuk dan lezat,” jelasnya.

Setelah yakin rasanya oke, Rini membuka tenda kremes. Tak disangka ayam kremesnya mendapat sambutan luar biasa dari konsumen. Bahkan saat warung dibuka pukul 15.30 sudah banyak pembeli. Kini dalam sehari bisa menghabiskan 15 – 20 ekor ayam baik pejantan maupun pedaging. Harganya cukup bersahabat, karena satu potong ayam kremes hanya Rp 8000. Sedangkan satu ekor Rp 30 ribu.

Sementara ayam tulang lunak menggunakan daging ayam pedaging, sehingga ukurannya lebih besar. Tulang lunak dari ayam kremes dijamin sangat empuk yang disajikan dengan sambal ditambah lalapan. 

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Nasi Goreng Sajian Khas Bale Dahar




Tidak hanya cita rasa yang dicari para penikmat kuliner di Kota Semarang, kenyamanan tempat, juga penting. Oleh karenanya, Bale Dahar Bu Emmy di Jalan Dr Setiabudi 20 Semarang, mencoba menawarkan suasana khas berupa bangunan dan pernak-pernik nuansa Jawa.

Tengok saja dindingnya. Hiasan batu-batuan membuat rumah makan ini terlihat asri. Karena tersusun dari bahan yang berasal dari unsur alam. Tidak hanya itu, kursi untuk menjamu pelanggan juga dari kayu pilihan. Selain itu beberapa patung dari tokoh pewayangan pun, tak ketinggalan mempercantik warung makan ini.
Nuansa Jawa semakin kental, manakala alunan musik Jawa diperdengarkan dan ditambah aneka menu yang khas. Seperti asem-asem, soto kuali, nasi goreng kambing dan masih banyak yang lainnya.

Menurut Emmy Erawati, 46, pemilik warung ini, di antara sekian banyak menu yang ditawarkan, paling banyak dicari pelanggan adalah nasi goreng kambing. “Paling laris di warung ini, adalah menu nasi goreng kambing,” ungkapnya sambil menyuguhkan masakan andalannya pada koran ini.

Benar saja, nasi goreng kambing Bu Emmy memang sangat nikmat. Nasi goreng kambing ini bebas bau prengus khas kambing. Selain daging kambing, nasi goreng juga dicampur telur.

Dalam penyajiannya sangat menarik. Dihidangkan beserta berbagai lalapan seperti mentimun, tomat, kol yang dirajang halus. Juga ada salad dari jagung muda, wortel, emping dan kerupuk udang yang menggugah selera. Telur dadar lipat melengkapi seporsi nasi goreng kambing di Bale Dahar Bu Emmy.

Harga seporsi nasi goreng kambing tidak terlalu mahal sekitar Rp 15 ribu. Meski buka dari pukul 10.00 hingga 22.00 namun, warung ini biasanya ramai pada malam hari.

“Sebagian besar pelanggan saya dari kalangan mahasiswa dan ekspatriat. Bahkan tak jarang mereka datang sore hari dan pulang saat warung tutup,” ungkap ibu 3 anak ini.

Meski demikian, tak jarang warung ini juga melayani ibu-ibu yang ingin menggelar arisan. “Ibu-ibu biasanya pesan menu soto kuali,” katanya.

Dalam penyuguhannya, soto dibiarkan pada kuali dari tanah di atas tungku yang menyala, dan dinikmati secara prasmanan. “Kami juga menerima pesanan. Justru pemasukan utama kami selama ini dari pesanan Mbak,”tuturnya.

Bale Dahar menurut penuturan Emmy, berdiri secara tidak sengaja. Semula Emmy menggeluti bisnis catering, untuk berbagai acara. Kemudian para pelanggan mendorongnya membuka rumah makan. Dan akhirnya, tepat 2 tahun lalu Bale Dahar Bu Emmy berdiri.

Meski menyuguhkan berbagai masakan khas Jawa, disediakan juga pilihan menu berupa masakan Barat khas Jawa. “Yang dimaksud menu Barat khas Jawa ini adalah masakan steak yang dibumbu tradisional,”tandasnya.

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Bakso Kepala Sapi Depot 71




Anda ingin menyantap bakso tapi takut lemak? Bakso Kepala Sapi Depot 71 di Jalan Tawang Sari Utara no 71 Semarang ini bisa menjadi pilihan. Rendah lemak, halal dan rasanya mantap meskipun tanpa saos maupun kecap. Penasaran, coba saja.

Depot 71 yang dikelola suami istri Achmad Fauzi, 49 dan  Etty, 45 ini menyediakan aneka bakso dan jus menyegarkan. Ada bakso premium, komplit dan bakso jumbo. Menu bakso tersebut berbeda dengan yang dijual di warung-warung bakso pada umumnya.

Satu porsi bakso premium isinya bakso halus dan kasar, tahu bakso, siomay dan mi. Sedangkan bakso komplit terdiri atas bakso halus, bakso kasar, bakso goreng, tahu bakso, siomay dan mi. Untuk bakso jumbo berisi bakso jumbo yang berukuran besar, bakso goreng, tahu bakso, siomay dan mi.

Menurut Fauzi, mi bukan item yang wajib ada dalam menu baksonya. Tergantung pembeli, kalau tak ingin menambah mi tak masalah. Kuah bakso kepala sapi ini bening, karena memang rendah lemak. Tapi jangan khawatir, cita rasanya tetap sedap. Tidak kalah dengan bakso-bakso lain yang full lemak. Demikian juga biji baksonya amat lezat karena terbuat dari daging sapi pilihan.

Untuk jenis bakso kasar maupun halus terbuat dari daging lunak kepala sapi. “Siomay rasanya istimewa karena dibuat dari daging kepala sapi,”ujar Achmad Fauzi kemarin (3/6).

Di samping menu satu porsi bakso premium, komplit dan jumbo, konsumen dapat menambah per biji bakso yang disukai. Misalnya tambah bakso jumbo, atau  bakso kasar, siomay maupun tahu bakso. Harganya cukup terjangkau pelanggan.

Satu porsi bakso jumbo Rp 10.000, bakso komplit Rp 7.500 dan bakso premium hanya Rp 6.000. Bila ingin menambah satu biji bakso kasar atau halus masing-masing harganya Rp 1500.

“Moto kami, makin nikmat tanpa saos dan kecap. Karena memang bumbu kuahnya sudah enak,”ujar Etty.
Bagi yang takut kolesterol terutama yang usianya di atas kepala 4, bakso sehat kepala sapi ini bisa menjadi menu pilihan. Tanpa borax dan bebas formalin. Ini dikuatkan dengan sertifikat dari MUI dan Badan POM.
Depot 71 baru didirikan 2 bulan lalu tepatnya pada 8 April 2009. Fauzi adalah seorang kontraktor yang tertarik membuka warung bakso kepala sapi yang merupakan franchise dari Surabaya.

“Bakso itu disukai semua kalangan, dari anak kecil sampai dewasa,”katanya memberi alasan memilih buka warung bakso.

Respon konsumen menurut dia cukup bagus. Terutama melayani pesanan dari karyawan kantor-kantor. “Mungkin karena letak warung kami berada di dalam perumahan, masyarakat tidak banyak yang tahu,”kata bapak 3 anak itu.

 Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Sate Pak Kempleng




Bagi pecinta daging sapi, belum lengkap, jika tak mencicipi sate khas Pak Kempleng yang namanya cukup melegenda. Daging sate nan empuk dengan ukuran besar ditambah rasa bumbu kacang kental, menjadi keistimewaan sate Pak Kempleng. Tak heran jika para pelanggan sate Pak Kempleng, ingin datang kembali, untuk menyantap satenya. Warung sate Pak Kempleng terdapat sejumlah cabang, salah satunya di Jalan Perintis Kemerdekaan no 58 Banyumanik.

Nama Pak Kempleng yang digunakan sebagai nama warung, merupakan pendiri warung sate ini. Menurut Hj Sofiatun, 47, salah satu cucu Pak Kempleng, usaha warung sate ini, berdiri sejak tahun 1950 lalu. Dirintis oleh Sakimen atau yang lebih akrab disapa Pak Kempleng. “Dulu kakek saya Pak Kempleng, pertama kali berjualan sate sapi dengan cara keliling kampung,” kenang Sofiatun.

Usaha yang dirintis Pak Kempleng diteruskan oleh kedua anaknya. “Dari 2 orang anak itu, kini Pak Kempleng memiliki 20 cucu. Beberapa dari cucunya, hingga kini meneruskan usaha Pak Kempleng,” tambahnya.

Cabang Sate Pak Kempleng tersebar di sejumlah tempat. Di Ungaran sendiri ada 7 tempat. Selain itu terdapat di Jalan Diponegoro Semarang, Jalan Perintis Kemerdekaan no 58 Banyumanik, Jalan Pahlawan (kaki lima setiap sore dekat air mancur Undip) Semarang, Weleri Kendal, Gringsing Alas Roban, dan Jakarta.

Khusus sate Pak Kempleng cabang Jalan Perintis Kemerdekaan yang dikelola Sofiatun bersama suaminya Soetrisno, setiap hari buka dari jam 9.00 hingga 21.00. “Paling ramai biasanya saat jam makan siang dan makan malam,” kata ibu 4 anak ini.

Rata-rata dalam sehari, warung sate ini bisa menghabiskan sekitar 10 kilogram daging sapi, yang dibeli dari pasar di kawasan Ungaran. Khusus di hari Sabtu dan Minggu, warungnya bisa menghabiskan 13 hingga 14 kilogram daging sapi.

“Kami membeli daging setiap hari, agar terjaga kesegarannya. Selain itu, kami bisa memilih daging yang empuk,” terangnya. Harga yang ditawarkan untuk seporsi sate sapi, berjumlah 10 tusuk sekitar Rp 23 ribu.
Pelanggan warung sate Pak Kempleng banyak pula dari luar kota. Apalagi, warung sate ini, lokasinya cukup strategis di pinggir jalan raya. Dan memiliki area parkir yang luas.

Meski tergolong ramai, warung sate Pak Kempleng tidak menggunakan tenaga karyawan. “Selama ini kalau punya karyawan, setelah kami ajari dan pintar membuat sate kemudian keluar dan membuka usaha sendiri,”akunya.

Menyikapi, maraknya kemunculan warung sate sapi baru yang ada di Kota Semarang. Sofiatun mengaku, dirinya menyiasati dengan terus menjaga kualitas rasa dan meningkatkan pelayanan.

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Pondok Bakso Bakar Cak Wahid Semarang




Bakso, memang idola berbagai kalangan dari orang tua sampai anak-anak. Di kawasan Tembalang atau tepatnya di Jalan Prof Soedarto SH no 168 Semarang terdapat warung bakso yang layak disinggahi. Adalah  yang sangat khas.

Jika bakso lainnya dimasak dengan kuah, bakso Cak Wahid malah dibakar dan disajikan mirip dengan sate plus kecap dan bumbu lain. Satu tusuk terdapat tiga bakso yang disajikan dengan saus sambal yang sedap. Daging sapi yang diolah menjadi bakso terasa lezat dan empuk.

“Di tempat kami perbandingan daging bakso dan tepung antara 90 persen daging dan 10 persen tepung. Sehingga dagingnya terasa. Ini terlihat dari kulit baksonya yang beda,” tutur Budi Wahyudi salah seorang pemiliknya.

Bakso bakar Cak Wahid ini dimiliki Budi Wahyudi dan rekannya Sujianto. Mereka berdua berusaha mengangkat bakso dari makanan pinggiran menjadi makanan yang lebih representatif. Baik tempat maupun jenis masakannya. Ini terlihat dari cara penyajian baksonya yang berbeda dari lainnya.

Budi mempersilakan para pelanggan mengambil sendiri bakso yang diinginkannya. Sehingga kedainya lebih mirip supermarket bakso. “Saya ingin mengangkat makanan bakso, baik itu tempat maupun masakannya,” jelas suami dari Eveline ini.

Bakso yang disajikan bervariasi. Mulai dari bakso bakar, bakso goreng yang terdiri dari bakso pangsit, bakso gulung, dan bakso crispy. Bakso gulung adalah bakso berbentuk lonjong dengan lapisan di luarnya. Lalu ada bakso jenis baru yakni bakso crispy yang masuk dalam kategori bakso goreng. Bakso crispy merupakan hasil kreasi Budi.

Selain bakso goreng ada juga bakso kuah jenis keju. Yakni bakso yang di dalamnya terdapat potongan keju gurih. Lalu ada bakso sosis yang dibuat dari potongan sosis yang dibentuk bakso, bakso mercon alias bakso dengan rasa pedas sekeras mercon. Bakso urat, bakso spesial, bakso isi telur puyuh, bakso tahu, dan terakhir adalah bakso jumbo.

Jika bakso jumbo di tempat lain biasanya berisi cacahan daging sapi ataupun telur ayam, lain halnya dengan isi dari bakso jumbo Cak Wahid. Isi bakso jumbo telur asin.

Harga harga jangan kawatir, karena ada paket hemat mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 7.500. Warung baksonya buka jam 10.00 hingga 21.00. Untuk menjaga kualitas rasa, Budi membuat sendiri bumbu bakso kemudian diberikan kepada karyawan yang tinggal meracik baksonya. Dirinya mengharamkan segala macam jenis zat pengawet atau zat-zat lainnya dalam bahan baksonya.

Sebelum terjun ke dunia bakso, Budi sebelumnya adalah karyawan berbagai perusahaan besar. Kemudian mengundurkan diri untuk membuka usaha sendiri.

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Tahu Pong Gajahmada




Menikmati kuliner khas Semarang, tampaknya belum lengkap, jika tak singgah di Tahu Pong Gajahmada. Makanan yang disajikan dengan ciri khas kuah kecap ini, cukup populer di Semarang bahkan melegenda.  Terbukti sejak warung didirikan tahun 1972 hingga sekarang masih eksis.

Makan sekali rasanya langsung plong alias lega.

Pendirinya adalah almarhum Ny Ngatini. Saat ini, warung yang berlokasi di Jalan Gajahmada no 63 B Semarang tersebut dikembangkan oleh generasi kedua yaitu Miharto, 68, warga Tanggul Mas Barat Gang 5 no 69 Semarang dan Marsiyah, 60, warga Tanggul Mas Barat 5 no 71 Semarang.

Warung dengan 7 pelayan ini masih terus dikunjungi pelanggan. Menurut Miharto, salah satu kunci sukses, dalam mempertahankan keberadaan warungnya adalah dengan menjaga kualitas. “Tahu pong di tempat ini rasanya gurih, selain itu ukuran juga besar sekitar 10 cm dengan tebal 2 cm,” ujarnya.

Harga satu porsi tahu pong pun bervariasi, tergantung dari isi tahu pong tersebut. Tahu pong tanpa isi harganya sekitar Rp 8 ribu, tahu pong gimbal Rp 14 ribu, tahu pong telur Rp 17 ribu dan masih banyak lagi.

Tingginya minat pengunjung ke warung ini, dipengaruhi faktor lokasi di pinggir jalan raya yang merupakan pusat keramaian. “Kalau ditanya pelanggan kebanyakan dari mana, sepertinya semua kalangan. Mulai dari karyawan hingga pejabat,” terangnya.

Rata-rata setiap harinya, menghabiskan 70 hingga 80 porsi tahu pong. “Jika Sabtu dan Minggu jumlahnya bisa bertambah,” katanya.

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Gimbal Udang Bu Sum




Menu-menu tradisional tetap digemari. Tak heran bila warung makan yang menyediakan masakan rumahan justru memiliki pelanggan loyal. Buktinya, Rumah Makan Bu Sum di Jalan Randusari Spaen 1 no 278 Semarang ini setiap hari dibanjiri pengunjung. Dari buka jam 06.00 sampai 16.00 warung tak pernah sepi, terlebih lagi pada jam-jam makan siang. Meskipun lokasinya berada di dalam kampung, pembeli tetap mencari.

Ada sekitar 50 jenis masakan Jawa, baik sayur maupun lauk-pauk yang disediakan oleh Suminah, 52, atau akrab disebut Bu Sum, pemilik warung. Kesemuanya masakan Jawa. Sebut saja lodeh kacang panjang-nangka muda, lodeh kangkung, otak-otak telur, perkedel, empal goreng, tempe goreng. Dan balado terong, oblok-oblok daun singkong, botok mlanding, oseng daun pepaya. Juga aneka sayur bening serta banyak lainnya. Konsumen tinggal pilih mana yang disuka.

“Paling banyak dicari pembeli itu lodeh kacang-gori (nangka muda), gimbal udang, juga oseng-oseng daun pepaya,”jelas Widiono, suami Bu Sum siang kemarin (5/6).

Pelanggan Bu Sum berbagai kalangan, kebanyakan para karyawan kantor, atau ibu-ibu pekerja yang tidak sempat masak. Bu Sum juga banyak melayani pesanan nasi dus dari instansi. Bahkan Wali Kota Sukawi Sutarip pun menjadi pelanggannya. “Pelawak Mamik, Tesi dan Didik Nini Thowok juga pernah makan di sini,”tambah Widiono yang sehari-hari PNS di Dinas Sosial Provinsi Jateng itu.

Bu Sum sebelumnya mangkal di Jalan Pemuda. Karena areal mangkalnya dibangun Gedung Bank Jateng, tahun 1990 pindah ke Jalan Randusari Spaen yang merupakan rumah tinggalnya. Diceritakan Widiono, awal buka di dalam kampung padat itu, dirinya sempat stres. Lantaran, tidak kelihatan dari jalan raya, siapa yang akan beli, begitu pikirnya waktu itu.

Lama-kelamaan, kelezatan masakan Bu Sum tersebar dari mulut ke mulut. “Pelanggan banyak juga yang dari luar kota. Misalnya para PNS daerah yang ada urusan di provinsi, makan di sini. Kami juga tidak paham, mereka tahu dari mana,”lanjut bapak 3 anak, 1 cucu ini seraya menambahkan dulu pegawai hanya 3 sekarang menjadi 14 orang yang kesemuanya perempuan. Rumah makan terus berkembang omzet per hari sekitar Rp 4 juta -5 juta. Tiap hari menghabiskan beras 70 kilogram.

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Pondok Es Snow White




Berkunjung ke Semarang yang panas, enaknya minum yang segar-segar untuk membasahi tenggorokan. Untuk mengobati itu, salah satu alternatifnya mencicipi es di Pondok Es Snow White yang berlokasi di Jalan Wotgandul Dalam no 117A, Semarang.

Di pondok ini, disajikan beragam es dengan tampilan menawan. Disebut es snow white, menurut Budi Harsono Winarto, 62, pemiliknya, karena saat pertama kali dibuka, hanya menyuguhkan es isinya berwarna putih. “Isi es andalan kami semula adalah siwalan, agar-agar, kopyor, susu putih dan jeli,” ungkap Budi.

Namun, dengan banyaknya permintaan dari para pelanggan, maka inovasi pun dilakukan. “Akhirnya saya coba-coba sendiri, meramu berbagai macam bahan es. Dan jadilah beberapa macam es ini,” terangnya.

Es yang disajikan itu antara lain snow brown, yaitu es serut yang dilengkapi susu coklat, meses dan jeli, es snow black dengan cincau hitam. Sedangkan es shanghai diisi berbagai macam buah, meses, kelapa muda, kolang-kaling, nata de coco manisan nanas, susu. Ada juga es teler, es kopyor, es durian, es sarang burung dan masih banyak lainnya,” katanya.

Harga semangkuk es mulai dari Rp 7 ribu hingga Rp 15 ribu. Selain mengandalkan cita rasa lezat, Pondok Snow White juga menawarkan layanan dan suasana tempat yang nyaman. Hal ini terlihat dari penataan tempatnya. Siapa saja yang singgah betah berlama-lama.

Selain terjaga kebersihannya, dekorasi interiornya menarik. Dengan warna dinding cerah merah muda dan hiasan dinding Putri Salju bersama 7 kurcaci.

Warung es tersebut mampu menampung sekitar 50 orang. Ditambahkan Budi, dirinya memulai membuka warung es, saat usaha percetakannya bangkrut sekitar 1980-an.

Dirinya berpikir usaha apa yang dapat bertahan di saat krisis. Pilihan Budi jatuh pada kuliner. Awalnya, ia menjual nasi pindang serta soto pada pagi hari, sedangkan malamnya berdagang es snow white.

“Es snow white saya jual sore hingga malam karena di sebelah ada yang jualan bakmi jowo. Tapi pada perkembangannya, es snow white justru berkembang pesat. Akhirnya kami fokus berjualan es saja,” terangnya.

Hingga saat ini, pondok esnya buka pukul 11.00 sampai 22.00. Pelanggannya mulai dari anak-anak hingga kakek-kakek. “Saya rasa yang suka dengan es, tidak hanya anak-anak tapi semua umur dan semua kalangan,” ungkapnya.

 Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Soto Neon Pak Ni, Semarang




Sejak tahun 80-an, warung soto satu ini cukup populer di Semarang. Soto Neon yang berada di Jalan Brumbungan tepatnya di Taman Brumbungan Semarang Tengah tersebut memiliki pelanggan loyal.

Warung tersebut didirikan oleh Sarkani atau lebih dikenal dengan Pak Ni yang kini sudah menginjak usia 72 tahun. Nama Neon, menurut Pak Ni diberikan oleh para pelanggannya. Dahulu sebelum mangkal di Taman Brumbungan, Pak Ni mendorong gerobak soto keliling wilayah Semarang. yakni di gabahan, Gandul, Plampitan, Johar, Ngabangan dan Beteng. Dulu di kawasan tersebut dijual jam 18.00 hingga tengah malam.

Untuk penerangan, Pak Ni memakai neon di depan gerobak. Sementara sumber listriknya menggunakan accu yang sudah dimodifikasi. Karena, satu-satunya soto gerobak yang menggunakan lampu neon, maka pelanggannya menyebut soto neon.

“Nama itu yang mengusulkan para pelanggan. Ketika pagi saya keliling di depan Loyola, Widosari, Karangwulan mulai pukul 07.00 sampai 11.00 siang,” ujar Pak Ni ditemani anak-anaknya.

Sebelum mangkal seperti sekarang, Pak Ni sempat istirahat beberapa bulan lamanya. Tahun 90-an kembali keliling mendorong gerobak. Dan tahun 1997 dianjurkan untuk mangkal di Brumbungan dekat dengan rumahnya. Kemudian mendirikan tenda sebagai tempat menetap di lapangan kosong.

Soto Neon sudah melegenda di kalangan warga Tionghoa yang bermukim di Semarang dan sekitarnya. Ada salah satu pelanggan yang kebetulan tinggal di Singapura memesan khusus soto neon untuk dikirim ke Singapura. Selain itu ada juga pelanggan datang dari Jogja, khusus hanya menyantap soto racikan Pak Ni.

“Pelanggan dari Jogja setiap mau ke sini selalu telepon dulu apakah buka atau tidak. Jadi mereka datang ke sini hanya mau makan. Selain itu ada juga pelanggan yang datang dari Jakarta, Jepara, Pemalang, Kendal, Bandung, dan Solo,” imbuh suami Ngatiyem ini bangga.

Selain itu banyak pula tokoh, pejabat, dan selebritis yang menyambangi warungnya seperti Bibit Waluyo, Menteri Purnomo Yusgiantoro, Roby Tumewu, Jupiter, Remy Silado, Victor Hutabarat, Atalariksyah, dan Asti Ananta.

Soto Pak Ni merupakan soto asli Semarang yang dipelopori almarhum Pawiro Sumito dari Sukoharjo yang dulu sempat memiliki 16 pikul soto pada tahun 50-an. Pak Ni yang asli Welahan Jepara ini sendiri mewarisi keahlian  Pawiro dan meneruskannya hingga sekarang.

Keunikan soto Pak Ni pada onclangnya. Biasanya onclang dicampurkan ke dalam soto tidak langsung disajikan. Khusus Soto Neon, onclang disajikan dalam mangkok khusus, sehingga pelanggan tinggal mengambilnya dalam keadaan segar. Demikian pula seledrinya. Kuahnya sama dengan kuah di soto Semarang lainnya, agak keruh karena bumbu yang dicampurkan ke dalamnya.

Soto Neon buka dua kali, pagi pukul  06.00 – 14.30 dan malam hari pukul 16.30 hingga 23.00. Sehari warung ini menghabiskan minimal 11 ekor ayam. Untuk kebutuhan beras mencapai 16 kilogram pada hari biasa dan 25 kilogram hari libur. Disediakan pula aneka macam sate. Mulai dari sate ayam, kerang, usus, puyuh, hingga rempela ati. Atau bisa juga memilih tempe goreng, perkedel, sosis solo, lunpia, martabak, kroket, resoles, tahu rebung, dan berbagai macam kerupuk.

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Sate Gule dan Tengkleng Kambing Mbak Atun




Setiap jam makan siang tiba, warung sate dan gule kambing Mbak Atun yang terletak di samping lapangan voli Jl Cinde Barat Raya selalu dipenuhi pengunjung. Rata-rata mereka adalah pekerja kantoran yang sudah menjadi langganan masakan perempuan bernama Sofiatun tersebut. Kios berukuran sekitar 3 x 3 meter terkadang serasa sempit ketika sedang ramai.

”Rata-rata mereka membeli tongseng atau tengkleng,” jelas Mbak Atun saat ditanya menu favorit pelanggannya.

Ada lima macam menu yang ditawarkan. Yakni sate, gule, tongseng dan tengkleng. Dua menu terakhir inilah yang jadi favorit pelanggannya. Harga per porsi masing-masing menu dipatok Rp 18.000. Setiap hari, warung ini buka jam 11.00 hingga 21.00.

Meski warung ini baru berdiri pada 17 Agustus 2005, tapi pengalaman Mbak Atun dalam mengolah masakan dari daging kambing sudah tidak diragukan lagi. Maklum, orangtuanya ahli mengolah masakan kambing. Sejak kecil ia membantu ibunya ketika mendapat pesanan masakan untuk hajatan atau akikah.
”Pada awal buka warung ini, saya menggunakan resep warisan dari ibu,” tutur Mbak Atun. Sebagian besar keluarganya, turun-temurun berprofesi sebagai pengolah masakan daging kambing.

Setahun berjualan, ia sering mendapatkan masukan resep dari para pelanggannya. Masukan-masukan tersebut ditampung dan ia melakukan eksperimen mencari bumbu-bumbu baru agar masakannya semakin enak. Sehingga, dalam setahun ia sering gonta-ganti bumbu hingga mendapatkan racikan yang dirasa pas. ”Sekarang sudah tidak lagi gonta-ganti resep, karena resep yang sekarang sudah disenangi pelanggan,” jelasnya.

Untuk menjaga mutu masakan, Mbak Atun mengaku selalu memilih bahan baku tertentu. Tak ada jerohan kecuali hati untuk sate. Tulang untuk gule dan tengkleng pun hanya pada bagian tertentu, yakni tulang iga dan tulang belakang. Bagian ini memang dikenal sebagai enak untuk dimasak dan tidak alot.

Salah seorang pembeli di warung ini, Jihan mengaku bahwa tengkleng Mbak Atun cukup enak dan bikin ketagihan. ”Dagingnya empuk dan bumbunya enak. Selain itu sambalnya juga istimewa,” jelas mahasiswa pascasarjana Undip ini.

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Warung Ayam G-pux Semarang




Ayam Goreng Empuk Dagingnya...HHmmmmhhh...

Sesuai namanya, cara penyajian ayam ini dengan digepuk terlebih dahulu. Setelah itu, dibuatkan bumbu poles yang terbuat dari aneka rempah-rempah. Warung Ayam G-pux di Jalan Mangga 3 no 6 (samping Java Mal) ini memang menyajikan pengolahan yang khas.

Hartatik, 28, pengelolanya cukup unik menyajikan menu sekaligus citarasanya. Tak heran bila pelanggan pun merasa puas menikmati menunya.

Dalam penyajian, dilengkapi lalapan khas, seperti daun singkong, kemangi dan timun serta ditaburi kremesan.

“Kalau kremesan di warung lain digoreng bersama ayamnya, di sini, digoreng khusus. Jadi tidak terlalu berminyak,” ungkap Hartatik yang tinggal di Jalan Perumahan Putri Delta Asri Blog E no 4 Semarang ini. Untuk sambalnya, pakai lombok ijo.

Rasa khas ditambah harga terjangkau, mendorong pembeli untuk kembali lagi. Satu porsi nasi ayam besar, pelanggan cukup mengeluarkan uang sekitar Rp 7 ribu. Sedangkan 1 porsi nasi ayam kecil Rp 6 ribu.

Ibu satu anak itu juga menerima pesanan. “Saya tidak membatasi berapapun jumlah pesanan, akan saya usahakan untuk dapat dilayani,” terang perempuan berusia 28 tahun itu sembari menambahkan warung mulai buka jam 12.00 hingga 17.00 ini. Saat ini ada 5 karyawan yang membantunya. Hartatik belajar memasak dan mengelola warung dari rumah makan ternama di Semarang. “Dulu saya sempat menjadi karyawan restoran. Tapi berhenti setelah menikah,” jelas istri Aji Susilo ini.

Empat tahun menjadi karyawan restoran, wanita yang biasa dipanggil Tatik ini belajar banyak tentang restoran. Ilmu itu dimanfaatkan untuk mengelola warungnya yang berdiri sejak Februari 2007 itu. Kini, Tatik sudah membuka cabang di kawasan Sampangan, dengan menu serupa yaitu ayam gepuk. Selain ayam, disediakan pula ikan baik lele atau gurami. “Kalau ada pelanggan tidak suka ayam, bisa memilih gorengan ikan,” katanya.

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Pondok Lontong Tahu Gimbal Ngaliyan Semarang





Lontong tahu gimbal sudah sangat familiar bagi masyarakat Semarang. Lontong dicampur tauge, tahu telur goreng dan peyek udang disiram sambal kacang, ditaburi bawang goreng dan irisan seledri ini cocok dinikmati sebagai menu makan siang. Makan sepiring cukup mengenyangkan perut.

Pondok Lontong Tahu Gimbal dan Mi Kopyok, Mi Lontong di Jalan Panembahan Senopati, Ngaliyan, Semarang bisa menjadi pilihannya. Ny. Mimin atau akrab disapa Bu Mimin, pengelolanya, piawai dalam meracik menu itu. Tak heran kalau warungnya selalu ramai pembeli, padahal baru buka sekitar 6 bulan. Kalau tidak makan di warung, biasanya  dibungkus untuk dinikmati di rumah atau kantor.

Sebelum membuka warung makan, Bu Mimin adalah loper beras dan telur. Kemudian banting stir jualan lontong tahu gimbal karena merasa capek di jalanan. Kebetulan di pinggir Jalan Senopati tersebut masih ada area pedagang kaki lima yang kosong.

“Awalnya saya jual menu ayam goreng kremes, tapi kurang laku. Hanya seminggu bertahan. Lalu saya ganti lontong tahu gimbal, mi kopyok dan mi lontong ini,”ujar Bu Mimin yang mengaku sebelumnya tidak suka masak itu.

Istri dari Abdul Rahman yang tinggal di Jalan Karonsih Selatan Gang 12/782 ini mencoba meracik lontong tahu gimbal. Beberapa waktu, ia coba dan coba terus, ternyata menurut suami, anak dan orang tua, rasanya mantap. Lantas, ia memberanikan diri mengganti menu ayam kremes menjadi lontong tahu gimbal. Tak diduga respon pembeli tinggi. Kebetulan di kawasan tersebut, waktu itu belum ada yang jual menu yang sama.

“Pelanggan saya bilang, kalau bumbu manis, asin dan pedasnya pas, sehingga banyak yang cocok. Saya juga tidak menduga bakal lancar seperti ini,”tambahnya seraya menambahkan warungnya buka mulai jam 10.00 sampai sore.

Untuk harga satu porsi lontong tahu gimbal tanpa telur Rp 5000, pakai telur Rp 6500. Sedangkan mi kopyok dan mi lontong masing-masing Rp 5000 per porsi. “Tidak saya patok mahal. Harapan saya siapa saja bisa beli di sini,”kata perempuan berusia 39 tahun itu sambil tersenyum ramah.
Ia ikut lomba Kuliner Khas Semarang persembahan Dji Sam Soe kerjasama dengan Jawa Pos Grup (Radar Semarang dan Meteor) untuk melestarikan menu tersebut, agar tidak hilang kalah oleh masakan ala barat.

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Ayam Goreng Pak Di Semarang




Ayam goreng nan renyah, dengan bumbu khas dapat dinikmati di warung Pak Di di Gang Tengah 37 kawasan Pecinan Semarang. Selain dari kekhasan bumbu ayam, cara menggoreng ayam hingga kering menambah kemantapan rasa.

Nama warung ayam goreng ditempat ini, diambilkan dari nama pemiliknya yaitu Marsudi alias Pak Di, 60, warga Jalan Kentangan Utara no 80 Semarang. Bumbu khas Pak Di ini menggunakan garam, bawang putih, kemiri, kunyit, ketumbar ditambah air kelapa. Kunyit selain memberi warna ayam menjadi kuning, juga menghilangkan bau amis.

Jenis ayam yang digunakan, pejantan berbulu putih. “Ayam-ayam itu saya beli dari Pasar Kobong,” terangnya. Kelebihan lainnya pada cara mengolah. Bila di tempat lain ayam direbus terlebih dahulu sebelum digoreng, ayam goreng Pak Di tidak demikian.

“Saya menggunakan ayam mentahan yang langsung digoreng. Agar ayam tersebut, awet rasa manisnya,” katanya. Meski mentahan tanpa direbus, tapi ayam goreng Pak Di tetap terjaga kebersihannya. Ia menggunakan air bekas cucian beras untuk menghilangkan lendir ayam. Sehingga daging benar-benar terjaga kebersihannya.

Untuk satu ekor ayam, biasanya dipotong-potong menjadi 4 bagian. Yakni 2 di bagian dada, dan 2 bagian paha.

Satu porsi ayam, harganya sekitar Rp 9 ribu. Terdiri sepiring nasi, ayam dan es teh. “Pelanggan sebagian besar warga di sekitar tempat ini,” terangnya.

Warung yang selalu kebanjiran pelanggan di jam-jam makan siang ini, setiap hari buka dari pukul 10.30 hingga 15.00. “Setiap hari rata-rata terjual 50 porsi,” katanya.

Usaha membuka warung ini, dilakukan oleh Pak Di bersama istrinya Warsi sejak tahun 1998 lalu. “Dulu waktu situasi kondisi bagus sehari bisa laku 100 porsi, tapi karena sekarang sedang sulit, sehari hanya sekitar 40 porsi,” katanya. Meski demikian bapak 2 orang ini, masih menerima pesanan dari para pelanggan. “Berapapun pesanan kami layani, tidak ada batasan jumlah,” jelasnya.

 Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Sate Sapi Bumbon




Membakar sate bumbon dengan bumbu suuedaooo...
Anda penggemar sate? Jangan lewatkan sate sapi yang satu ini. Barangkali daging yang empuk biasa ditemui di warung lain. Tapi di warung sate bumbon Pak Sarmidi Jalan Simongan Raya 119 Semarang (depan Kelenteng Gedung Batu) ini punya keistimewaan tersendiri.

Selain dagingnya empuk, bumbu meresap, sajian sate dilengkapi sayur lodeh nangka muda dan tauge serta irisan bawang merah, cabe, juga sambal kacang. Begitu digigit, rasanya mak nyus, bumbu terasa mantap. Ini yang membedakan dengan warung-warung sate lainnya.

Dinamakan bumbon karena bumbunya lengkap dan meresap. “Setelah dibakar langsung dimakan sudah enak meskipun tidak pakai bumbu kacang atau kecap,”ujar Junaedi, 44 yang akrab disapa Pak Jun. Junaedi adalah anak dari Sarmadi yang dulu juga penjual sate. Sarmadi sendiri meneruskan usaha orang tuanya. Dengan kata lain, sate bumbon turun-temurun alias warisan keluarga.

Daging dipilih dari bagian has dalam sehingga empuk. Sementara pengolahannya juga khas. Menurut Pak Jun, daging sapi dipotong-potong lalu diuleni dengan bumbu, setelah itu direndam gula aren selama 2 jam agar rasanya sedap. “Ada 17 jenis rempah bumbu yang kami gunakan,”kata mantan supir bis Semarang-Sukorejo itu.

Pelanggan boleh memesan nasi atau lontong tergantung selera. Satu porsi sate 10 tusuk, nasi atau lontong ditambah es teh, harganya Rp 20 ribu. Pelanggan akan mendapatkan menu tambahan tauge dan sayur lodeh nangka muda. Ini yang menjadi khas sate bumbon ala Pak Jun. Bila pelanggan ingin membawa pulang, bisa memilih sambal kacang kering atau sudah dicampur air. Sambal kacang rasanya sedap, sering dibawa untuk oleh-oleh ke Batam. Bahkan pelanggan setia Pak Jun memesan khusus untuk dibawa naik haji. “Selama 40 hari masih tahan dan enak,”katanya menceritakan keunikan racikan sambal kacangnya.

Menurut cerita Pak Jun, warung satenya dibuka sejak setahun lalu, tepatnya bulan Juni. Semula ia makelar mobil dan juga pengemudi bis Semarang-Sukorejo. Kemudian ada kawannya yang menawari tempat berjualan di Semarang. Karena di Kendal persaingan semakin ketat, Pak Jun pun memutuskan pindah ke Semarang sampai sekarang. Pelanggan sate bumbon cukup banyak, dari kalangan mahasiswa, pegawai kantor dan  masyarakat umum lainnya. Tampaknya menu istimewa sate plus sayur lodeh dan tauge menjadi pemikat pelanggan.

Pak Jun berharap dirinya menang dalam lomba Kuliner Khas Semarang yang diadakan  Dji Sam Soe kerjasama dengan Jawa Pos Grup (Radar Semarang, Meteor). “Wah senang sekali kalau bisa juara,”harapnya.

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com
Related Posts with Thumbnails