Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Januari 2012

Siapa Sebenarnya Suharto? (2)























Pasca Perang Dunia II, AS melihat Rusia sebagai satu-satunya pihak yang bisa menghalangi hegemoninya atas dunia. Diluncurkanlah Marshall Plan sebagai upaya membendung pengaruh komunisme yang kian lama kian meluas, dari Eropa Timur ke arah Asia selatan, sebuah wilayah yang sangat strategis dari sisi perdagangan dunia dan geopolitik, juga sangat kaya dengan sumber daya alam dan juga manusianya. AS sangat cemas jika wilayah tersebut dikuasai Soviet. Dari semua negeri di wilayah itu, Indonesia-lah negara yang paling strategis dan paling kaya. AS sangat paham akan hal ini, sebab itu di wilayah ini Indonesia merupakan satu-satunya wilayah yang disebut dalam Marshall Plan.

Namun untuk menundukkan Indonesia, AS jelas kesulitan karena negeri ini tengah dipimpin oleh seorang yang sukar diatur, cerdas, dan licin. Dialah Bung Karno. Tiada jalan lain, orang ini harus ditumbangkan, dengan berbagai cara. Sejarah telah mencatat dengan baik bagaimana CIA ikut terlibat langsung berbagai pemberontakan terhadap kekuasaan Bung Karno. CIA juga membina kader-kadernya di bidang pendidikan (yang nantinya melahirkan Mafia Berkeley), mendekati dan menunggangi partai politik demi kepentingannya (antara lain lewat PSI), membina sel binaannya di ketentaraan (local army friend) dan sebagainya. Setelah berkali-kali gagal mendongkel Bung Karno dan bahkan sampai hendak membunuhnya, akhirnya pada paruh akhir 1965, Bung Karno berhasil disingkirkan.

Setelah peristiwa 1 Oktober 1965, secara de facto, Jenderal Suharto mengendalikan negeri ini. Pekan ketiga sampai dengan awal 1966, Jenderal Suharto menugaskan para kaki tangannya membantai mungkin jumlahnya mencapai jutaan orang. Mereka yang dibunuh adalah orang-orang yag dituduh kader atau simpatisan komunis (PKI),  tanpa melewati proses pengadilan yang fair. Media internasional bungkam terhadap kejahatan kemanusiaan yang melebihi kejahatan rezim Polpot di Kamboja ini, karena memang AS sangat diuntungkan.

Jatuhnya Bung Karno dan naiknya Jenderal Suharto dirayakan dengan penuh suka cita oleh Washington. Bahkan Presiden Nixon menyebutnya sebagai “Hadiah terbesar dari Asia Tenggara”. Satu negeri dengan wilayah yang sangat strategis, kaya raya dengan sumber daya alam, segenap bahan tambang, dan sebagainya ini telah berhasil dikuasai dan dalam waktu singkat akan dijadikan ‘sapi perahan’ bagi kejayaan imperialisme Barat.

Benar saja, Nopember 1967, Jenderal Suharto menugaskan satu tim ekonom pro-AS menemui para ’bos’ Yahudi Internasional di Swiss. Disertasi Doktoral Brad Sampson, dari Northwestern University AS menelusuri fakta sejarah Indonesia di awal Orde Baru. Prof. Jeffrey Winters diangkat sebagai promotornya. Indonesianis asal Australia, John Pilger dalam The New Rulers of The World, mengutip Sampson dan menulis:

“Dalam bulan November 1967, menyusul tertangkapnya ‘hadiah terbesar’ (istilah pemerintah AS untuk Indonesia setelah Bung Karno jatuh dan digantikan oleh Soeharto), maka hasil tangkapannya itu dibagi-bagi. The Time Life Corporation mensponsori konferensi istimewa di Jenewa, Swiss, yang dalam waktu tiga hari membahas strategi pengambil-alihan Indonesia. 

Para pesertanya terdiri dari seluruh kapitalis yang paling berpengaruh di dunia, orang-orang seperti David Rockefeller. Semua raksasa korporasi Barat diwakili perusahaan-perusahaan minyak dan bank, General Motors, Imperial Chemical Industries, British Leyland, British American Tobacco, American Express, Siemens, Goodyear, The International Paper Corporation, US Steel, ICI, Leman Brothers, Asian Development Bank, Chase Manhattan, dan sebagainya.”

Di seberang meja, duduk orang-orang Soeharto yang oleh Rockefeller dan pengusaha-pengusaha Yahudi lainnya disebut sebagai ‘ekonom-ekonom Indonesia yang korup’. 

“Di Jenewa, Tim Indonesia terkenal dengan sebutan ‘The Berkeley Mafia’ karena beberapa di antaranya pernah menikmati beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat untuk belajar di Universitas California di Berkeley. Mereka datang sebagai peminta-minta yang menyuarakan hal-hal yang diinginkan oleh para majikannya yang hadir. Menyodorkan butir-butir yang dijual dari negara dan bangsanya. Tim Ekonomi Indonesia menawarkan: tenaga buruh yang banyak dan murah, cadangan dan sumber daya alam yang melimpah, dan pasar yang besar.” 

Masih dalam kutipan John Pilger, “Pada hari kedua, ekonomi Indonesia telah dibagi sektor demi sektor.” Prof. Jeffrey Winters menyebutnya, “Ini dilakukan dengan cara yang amat spektakuler.”
“Mereka membaginya dalam lima seksi: pertambangan di satu kamar, jasa-jasa di kamar lain, industri ringan di kamar satunya, perbankan dan keuangan di kamar yang lain lagi; yang dilakukan oleh Chase Manhattan duduk dengan sebuah delegasi yang mendiktekan kebijakan-kebijakan yang dapat diterima oleh mereka dan para investor lainnya. Kita saksikan para pemimpin korporasi besar ini berkeliling dari satu meja ke meja lainnya, mengatakan, ‘Ini yang kami inginkan, itu yang kami inginkan, ini, ini, dan ini.’ Dan mereka pada dasarnya merancang infrastruktur hukum untuk berinvestasi. Tentunya produk hukum yang sangat menguntungkan mereka. Saya tidak pernah mendengar situasi seperti itu sebelumnya, di mana modal global duduk dengan wakil dari negara yang diasumsikan sebagai negara berdaulat dan merancang persyaratan buat masuknya investasi mereka ke dalam negaranya sendiri.”

Freeport mendapatkan gunung tembaga di Papua Barat (Henry Kissinger, pengusaha Yahudi AS, duduk dalam Dewan Komisaris). Sebuah konsorsium Eropa mendapatkan Nikel di Papua Barat. Sang raksasa Alcoa mendapatkan bagian terbesar dari bauksit Indonesia. Sekelompok perusahaan Amerika, Jepang, dan Perancis mendapatkan hutan-hutan tropis di Kalimantan, Sumatera, dan Papua Barat. 

Sebuah undang-undang tentang penanaman modal asing yang dengan terburu-buru disodorkan kepada Presiden Soeharto membuat perampokan negara yang direstui pemerintah itu bebas pajak untuk lima tahun lamanya. Oleh Suharto, rakyat dijejali dengan propaganda pembangunan, Pancasila, dan trickle down effect terhadap peningkatan kesejahteraannya, tapi fakta yang terjadi di lapangan sesungguhnya adalah proses pemiskinan bangsa secara sistematis yang dilakukan rezim Suharto.


















Pada 12 Maret 1967, Jenderal Soeharto dilantik sebagai Presiden RI ke-2. Tiga bulan kemudian, dia membentuk Tim Ahli Ekonomi Kepresidenan yang terdiri dari Prof Dr. Widjojo Nitisastro, Prof. Dr. Ali Wardhana, Prof Dr. Moh. Sadli, Prof Dr. Soemitro Djojohadikusumo, Prof Dr. Subroto, Dr. Emil Salim, Drs. Frans Seda, dan Drs. Radius Prawiro. Seluruhnya pro kapitalisme.

Nopember 1967, Suharto mengirim tim ekonomi ini ke Swiss menemui para CEO Yahudi Internasional. Lahirlah UU PMA 1967 yang sangat menguntungkan imperialis Barat. Prinsip kemandirian ekonomi Indonesia yang dijaga mati-matian Bung Karno, oleh Jenderal Suharto dihabisi dengan menjadikan Indonesia sebagai negara yang sangat tergantung pada Barat sebagai kekuatan kapitalis dunia.

“Indonesia Baru” yang lebih pro-kapitalisme sesungguhnya telah dirancang sejak tahun-tahun 1950-an. David Ransom dalam artikelnya yang populer berjudul “Mafia Berkeley dan Pembunuhan Massal di Indonesia: Kuda Troya Baru dari Universitas-Universitas AS Masuk ke Indonesia” (Ramparts, 1970) memaparkan jika AS menggunakan dua strategi untuk menaklukkan Indonesia, tentu saja dengan menyingkirkan Bung Karno. Pertama, membangun satu kelompok intelektuil yang berpikiran Barat. Dan kedua, membangun satu sel dalam tubuh ketentaraan yang siap bekerjasama dengan AS.

Yang pertama didalangi oleh berbagai yayasan beasiswa seperti Ford Foundation dan Rockeffeler Foundation, juga berbagai universitas ternama AS seperti Berkeley, Harvard, Cornell, dan juga MIT. David Ransom menulis, dua tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI), sebuah partai kecil yang berhaluan sosialis-kanan, yakni Soedjatmoko dan Sumitro Djojohadikusumo menjadi ujung tombak pembentukan jaringan intelektuil pro-Barat di Indonesia. Mereka, demikian Ransom, dibina oleh AS sejak akhir tahun 1949-an.
Sedang tugas kedua dilimpahkan kepada CIA. Salah satu agennya bernama Guy Pauker yang bergabung dengan RAND Corporation mendekati sejumlah perwira tinggi lewat salah seorang yang dikatakan berhasil direkrut CIA, yakni Deputi Dan Seskoad Kol. Soewarto. Dan Intel Achmad Soekendro juga dikenal dekat dengan CIA. Lewat orang inilah, demikian Ransom, komplotan AS, mendekati militer. Suharto adalah murid dari Soewarto di Seskoad.

Di Seskoad inilah para intelektuil binaan AS diberi kesempatan mengajar para perwira. Terbentuklah jalinan kerjasama antara sipil-militer yang pro-AS. Paska tragedi 1965 dan pembantaian  rakyat Indonesia, yang dituduh komunis, dan  kelompok ini mulai membangun ‘Indonesia Baru’. Para doktor ekonomi yang mendapat binaan dari Ford kembali ke Indonesia dan segera bergabung dengan kelompok ini, di antara Emil Salim.

Jenderal Suharto membentuk ­Trium-Virat (pemerintahan bersama tiga kaki) dengan Adam Malik dan Sultan Hamengkubuwono IX. Ransom menulis, “Pada 12 April 1967, Sultan mengumumkan satu pernyataan politik yang amat penting  yakni garis besar  program ekonomi rejim baru itu yang menegaskan mereka akan membawa Indonesia kembali ke pangkuan Imperialis.  Kebijakan  tersebut  ditulis  oleh  Widjojo  dan Sadli.”

Ransom melanjutkan, “Dalam merinci lebih lanjut program ekonomi yang baru saja di  gariskan Sultan, para teknokrat dibimbing oleh AS. Saat Widjojo kebingungan menyusun  program stabilisasi ekonomi, AID mendatangkan David Cole, ekonom Harvard yang baru saja membuat regulasi perbankan di Korea Selatan untuk membantu Widjojo. Sadli juga sama, meski sudah doktor, tapi masih memerlukan “bimbingan”. Menurut seorang pegawai Kedubes AS, “Sadli benar-benar tidak tahu bagaimana seharusnya membuat suatu regulasi Penanaman Modal Asing. Dia harus mendapatkan banyak dari Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Ini merupakan tahap awal dari program Rancangan Pembangunan Lima Tahunan (Repelita) Suharto, yang disusun oleh para ekonom Indonesia didikan AS, yang masih secara langsung dimbing oleh para ekonom AS sendiri dengan kerjasama dari berbagai yayasan yang ada.

Juni 1968, Jenderal Suharto secara diam-diam dan mendadak mengadakan  reuni dengan orang-orang binaan Ford, yang dikenal sebagai “Mafia Berkeley” (untuk merancangkan susunan Kabinet Pembangunan dan badan-badan penting tingkat tinggi lainnya): sebagai Menteri Perdagangan ditunjuk Dekan FEUI Sumitro Djojohadikusumo (Doctor of Philosophy dari Rotterdam), Ketua BPPN ditunjuk Widjojo Nitisastro (Doctor of Philosophy Berkeley, 1961), Wakil  Ketua BPN ditunjuk Emil Salim (Doctor of Philosophy, Berkeley, 1964 ), Dirjen Pemasaran dan Perdagangan ditunjuk Subroto (Doctor of Philosophy dari Harvard, 1964), Menteri Keuangan ditunjuk Ali Wardhana (Doctor of Philosophy, Berkeley, 1962), Ketua Team PMA Moh. Sadli (Master of Science, MIT, 1956), Sekjen Departemen  Perindustrian ditunjuk Barli Halim (MBA Berkeley,  1959), sedang Sudjatmoko, penasehat Adam Malik, diangkat jadi Duta Besar di Washington, posisi kunci poros Jakarta-Washington.

Tim ekonomi “Indonesia Baru” ini bekeja dengan arahan langsung dari Tim Studi Pembangunan Harvard (Development Advisory Service, DAS) yang dibiayai Ford Foundation. “Kita bekerja di belakang layar,” aku Wakil Direktur DAS Lister Gordon. AS segera memback-up penguasa baru ini dengan segenap daya sehingga stabilitas ekonomi Indonesia yang sengaja dirusak oleh AS pada masa sebelum 1965 bisa sedikit demi sedikit dipulihkan.

Mereka inilah yang berada dibelakang Repelita yang mulai dijalankan pada awal 1969,  dengan mengutamakan penanaman modal asing dan swasembada hasil pertanian. Dalam banyak kasus, pejabat birokrasi pusat mengandalkan pejabat militer di daerah-daerah  untuk mengawasi kelancaran program Ford ini.

Mereka bekerjasama dengan para tokoh daerah yang terdiri dari para tuan tanah dan pejabat administratif. Terbentuklah kelompok baru di daerah-daerah yang bekerja untuk memperkaya diri dan keluarganya. Mereka, kelompok pusat dan kelompok daerah, bersimbiosis-mutualisme. Mereka juga  menindas para petani yang bekerja di lapangan. 

http://yananto.wordpress.com

Siapa Sebenarnya Suharto? (1)

















Bulan November 41 tahun lalu, Jenderal Suharto yang telah sukses mengkudeta Bung Karno, mengirim satu tim ekonomi yang terdiri dari Prof. Sadli, Prof. Soemitro Djoyohadikusumoh, dan sejumlah profesor ekonomi lulusan Berkeley University AS—sebab itu tim ekonomi ini juga disebut sebagai ‘Berkeley Mafia’—ke Swiss. Mereka hendak menggelar pertemuan dengan sejumlah konglomerat Yahudi dunia yang dipimpin Rockefeller.

Di Swiss, sebagaimana bisa dilihat dari film dokumenter karya John Pilger berjudul “The New Ruler of the World’ yang bisa didownload di situs youtube, tim ekonomi suruhan Jenderal Suharto ini menggadaikan seluruh kekayaan alam negeri ini ke hadapan Rockefeler cs. 

Dengan seenak perutnya, mereka mengkavling-kavling bumi Nusantara dan memberikannya kepada pengusaha-pengusaha Yahudi tersebut. Gunung emas di Papua diserahkan kepada Freeport, ladang minyak di Aceh kepada Exxon, dan sebagainya. Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UU PMA) tahun 1967 pun dirancang di Swiss, menuruti kehendak para pengusaha Yahudi tersebut.

Sampai detik ini, saat Suharto sudah menemui ajal dan dikuburkan di kompleks pemakaman keluarga di dekat Imogiri, di sebuah daratan dengan ketinggian 666 meter di atas permukaan laut (!?), perampokan atas seluruh kekayaan alam negeri ini masih saja terus berjalan dan dikerjakan dengan sangat leluasa oleh berbagai korporasi Yahudi Dunia. Hasilnya bisa kita lihat di mana-mana: angka kemiskinan di negeri ini kian membengkak, kian banyak anak putus sekolah, kian banyak anak-anak kecil berkeliaran di jalan-jalan raya, kian banyak orangtua putus asa dan bunuh diri, kian banyak orang gila berkeliaran di kampung-kampung, kian banyak kriminalitas, kian banyak kasus-kasus korupsi, dan sederet lagi fakta-fakta tak terbantahkan jika negeri ini tengah meluncur ke jurang kehancuran. Suharto adalah dalang dari semua ini.

Tapi siapa sangka, walau sudah banyak sekali buku-buku ilmiah yang ditulis para cendekia dari dalam dan luar negeri tentang betapa bobroknya kinerja pemerintahan di saat Jenderal Suharto berkuasa selama lebih kuarng 32 tahun, dengan jutaan fakta dan dokumen yang tak terbantahkan, namun nama Suharto masih saja dianggap harum oleh sejumlah kalangan. Bahkan ada yang begitu konyol mengusulkan agar sosok yang oleh Bung Karno ini disebut sebagai Jenderal Keras Kepala (Belanda: Koepeg) diberi penghargaan sebagai pahlawan nasional dan diberi gelar guru bangsa. Walau menggelikan, namun hal tersebut adalah fakta.
Sebab itu, tulisan ini berusaha memaparkan apa adanya tentang Jenderal Suharto. Agar setidaknya, mereka yang menganggap Suharto layak diberi gelar guru bangsa atau pun pahlawan nasional, harus bisa bermuhasabah dan melakukan renungan yang lebih dalam, sudah benarkah tindakan tersebut.

Fakta sejarah harus ditegakkan, bersalah atau tidak seorang Suharto harus diputuskan lewat jalan hukum yakni lewat jalur pengadilan. Adalah sangat gegabah menyerukan rakyat ini agar memaafkan dosa-dosa seorang Suharto sebelum kita semua tahu apa saja dosa-dosa Suharto karena dia memang belum pernah diseret ke muka pengadilan.

Tulisan ini akan berupaya memotret perjalanan seorang Suharto, sebelum dan sesudah menjadi presiden. Agar tidak ada lagi pemikiran yang berkata, “Biar Suharto punya salah, tapi dia tetap punya andil besar membangun negara ini. Hasil kerja dan pembangunannya bisa kita rasakan bersama saat ini. Lihat, banyak gedung-gedung megah berdiri di Jakarta, jalan-jalan protokol yang besar dan mulus, jalan tol yang kuat, Taman Mini Indonesia Indah yang murah meriah, dan sebagainya. Jelas, bagaimana pun, Suharto berjasa besar dalam membangun negara ini!”

Atau tidak ada lagi orang yang berkata, “Zaman Suharto lebih enak ketimbang sekarang, harga barang-barang bisa murah, tidak seperti sekarang yang serba mahal. Akan lebih baik kalau kita kembali ke masa Suharto…” Hanya orang-orang Suhartoislah, yang mendapat bagian dari pesta uang panas di zaman Orde Baru dan mungkin juga sekarang, yang berani mengucapkan itu.  Atau kalau tidak, ya bisa jadi, mereka orang-orang yang belum tercerahkan.


 














Suharto lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921, dari keluarga petani yang menganut kejawen. Keyakinan keluarganya ini kelak terus dipeliharanya hingga hari tua. Karirnya diawali sebagai karyawan di sebuah bank pedesaan, walau tidak lama.

Dia sempat juga menjadi buruh dan kemudian menempuh karir militer pertama kali sebagai prajurit KNIL yang berada di bawah kesatuan tentara penjajah Belanda. Saat Jepang masuk di tahun 1942, Suharto bergabung dengan PETA.  Ketika Soekarno memproklamirkan kemerdekaan, Soeharto bergabung dengan TKR.

Salah satu ‘prestasi’ kemiliteran Suharto yang sering digembar-gemborkannya semasa dia berkuasa adalah Serangan Umum 1 Maret 1949 atas Yogyakarta. Bahkan ‘prestasi’ ini sengaja difilmkan dengan judul ‘Janur Kuning’ (1979) yang memperlihatkan jika serangan umum itu diprakarsai dan dipimpin langsung oleh Letkol Suharto. Padahal, sesungguhnya serangan umum itu diprakarsai Sultan Hamengkubuwono IX.  

Hamengkubuwono IX lah yang memimpin serangan umum melawan Belanda. Hamengkubuwono IX adalah seorang nasionalis yang memiliki perhatian terhadap nasib rakyatnya, karena itu ia tidak mau untuk di jajah. (lihat biografi Sultan Hamengkubuwono IX).

Pada 1959, Suharto yang kala itu menjabat sebagai Pangdam Diponegoro dipecat oleh Nasution dengan tidak hormat karena Suharto telah menggunakan institusi militernya untuk mengumpulkan uang dari perusahaan-perusahaan di Jawa Tengah. Suharto kala itu juga ketahuan ikut kegiatan ilegal berupa penyelundupan gula dan kapuk bersama Bob Hasan dan Liem Sioe Liong.

Untuk memperlancar penyelundupan ini, didirikan prusahaan perkapalan yang dikendalikan Bob Hasan. Konon, dalam menjalankan bisnis haramnya ini, Bob menggunakan kapal-kapal ‘Indonesian Overseas’ milik C.M. Chow. Siapa C.M. Chow ini? Dia adalah agen ganda. Pada 1950 dia menjadi agen rahasia militer Jepang di Shanghai. Tapi dia pun kepanjangan tangan Mao Tse Tung, dalam merekrut Cina perantauan dari orang Jepang ke dalam jaringan komunis Asia.

Pada 1943, Chow ditugasi Jepang ke Jakarta. Ketika Jepang hengkang dari Indonesia, Chow tetap di Jakarta dan membuka usaha perkapalan pertama di negeri ini. Chow bukan saja membina WNI Cina di Jawa Tengah dan Timur, namun juga di Sumatera dan Sulawesi. Salah satu binaannya adalah ayah Eddy Tansil dan Hendra Rahardja yang bermarga Tan. Tan merupakan sleeping agent Mao di Indonesia Timur. Pada pertengahan 1980-an, Hendra Rahardja dan Liem Sioe Liong mendirikan sejumlah pabrik di Fujian, Cina (Siapa Sebenarnya Suharto; Eros Djarot; 2006).

Nasution kala itu sangat marah sehingga ingin memecat Suharto dari AD dan menyeretnya ke Mahkamah Militer, namun atas desakan Gatot Subroto, Suharto dibebaskan dan akhirnya dikirim ke SSKAD (Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat). Selain Nasution, Yani juga marah atas ulah Suharto dan di kemudian hari mencoret nama Suharto dari daftar peserta pelatihan di SSKAD, yang mana hal ini membuat Suharto dendam sekali terhadap Yani. Terlebih  Amad Yani adalah anak kesayangan Bung Karno.

Kolonel Pranoto Rekso Samoedro diangkat sebagai Pangdam Diponegoro menggantikan Suharto. Pranoto, sang perwira ‘santri’, menarik kembali semua fasilitas milik Kodam Diponegoro yang dipinjamkan Suharto kepada para pengusaha Cina untuk kepentingan pribadinya. Suharto sangat sakit hati dan dendam terhadap Pranoto, juga terhadap Nasution dan Yani.

Di SSKAD, Suharto dicalonkan untuk menjadi Ketua Senat. Namun DI. Panjaitan menolak keras dengan menyatakan dirinya tidak percaya dengan Suharto yang dinilainya tidak bisa dipercaya karena mempunyai banyak catatan kotor dalam kair militernya, antara lain penyelundupan bersama para pengusaha Cina dengan dalih untuk membangun kesatuannya, namun yang terjadi adalah untuk memperkaya dirinya.

Atas kejadian itu Suharto sangat marah. Bertambah lagi dendam Suharto, selain kepada Nasution, Yani, Pranoto, kini Panjaitan. Aneh tapi nyata, dalam peristiwa 1 Oktober 1965, musuh-musuh Suharto—Nasution, Yani, dan Panjaitan—menjadi target pembunuhan, sedangkan Suharto sendiri yang merupakan orang kedua di AD tidak masuk dalam daftar kematian.

Dan ketika Yani terbunuh, Bung Karno mengangkat Pranoto Rekso Samudro sebagai Kepala Staf AD, namun Pranoto dijegal oleh Suharto sehingga Suhartolah yang mengambil-alih kepemimpinan AD, sehingga untuk menghindari pertumpahan darah dan perangsaudara—karena Siliwangi di Jawa Barat (Ibrahim Adjie) dan KKO (Marinir) di Jawa Timur telah bersumpah untuk berada di belakang Soekarno dan jika Soekarno memerintahkan untuk ‘menyapu’ kekuatan Suharto di Jakarta, maka mereka menyatakan siap untuk berperang—maka Soekarno melantik Suharto sebagai Panglima AD pada 14 Oktober 1965.

http://yananto.wordpress.com

Sabtu, 10 Desember 2011

Joko Wi Menantang Politisi Senayan

 1323472395619223970
Ill. Google

By. Julianto Simanjuntak

“Menurut pengamatan stafnya. Djoko Wi terkadang masih minta dibelikan nasi kucing oleh supirnya, seharga seribu atau lebih plus “asesorisnya” berupa tahu dan tempe bacem”

Kamis, 8 Desember 2011 lalu Ketua  Mahkamah Konstitusi, Mahfud Md bersama Wali Kota Surakarta, Joko Widodo, menandatangani “Deklarasi Nasional Menuju Indonesia Bangkit, Birokrasi Bersih dan Melayani” di UI. Dalam  deklarasi itu disebutkan sapta utama birokrasi bersih dan melayani.
Tujuh sapta itu antara lain: (1) terapkan prinsip integritas dan akuntabilitas, (2)  tolak bentuk salahgunakan wewenang pemerintahan; (3)  transformasi administrasi negara,  (4) berikan pelayanan prima kepada masyarakat sebagai perwujudan birokrasi. Selanjutnya baca disini 

Mengapa Joko Wi yang diundang jauh-jauh dari Solo. Lagi pula jabatannya “hanya” setingkat Walikota. Mengapa bukan Presiden atau wakilnya, Ketua DPR, atau paling tidak setingkat Menteri atau Gubernur-lah. Apakah karena dia dianggap sebagai pejabat yang “layak” atau representatif  menandatangani deklarasi menuju Indonesia bersih bersama Mahfud MD.? Entahlah, hanya panitia yang tahu.


Gaya Hidup Walikota Solo

Menurut catatan Kompas Jumat 9 Des, Djoko Wi memang dikenal sebagai pejabat bersahaja dan merakyat. Hidupnya satu antara kata dengan perbuatan. Lihat saja Mobil Dinasnya tetap Toyota Camry 2002 peninggalan Walikota sebelumnya, kendati pernah enam kali mogok dia merasa tetap nyaman menggunakannya.

Mobil pribadinya (keluarga) adalah Avanza dan Livina. Ini tentu cukup sederhana bagi seorang Walikota Solo, Kota yang sangat maju di Jateng. Penulis sendiri sudah belasan kali bertugas dan berkunjung ke Solo, jadi tahu persis kemajuan Kota ini. Luar biasa. Contoh lain, soal makan beliau juga sederhana. Paling tidak menurut pengamatan stafnya. Djoko Wi terkadang masih minta dibelikan nasi kucing oleh supirnya, seharga seribu atau lebih plus “asesorisnya” berupa tahu dan tempe bacem.

Sesehari dia lebih senang mengunjungi rakyatnya dan memperhatikan aspirasi mereka. Mengundang kelompok rakyat tertentu diskusi di kantornya, dsb. Nah, Jangan heran penduduk Solo sangat mencintai Pak Djoko Wi, dan memilihnya kembali jadi walikota denga suara mayoritas. Tidak hanya warga Solo, banyak warga lain juga mengagumi sosok walikota ini.


Gaya Hidup sebagian Politisi Senayan

Sebaliknya, Belum lama media rame-rame menyoroti gaya hidup sebagian anggota DPR. Jadi buah bibir di masyarakar. Khususnya soal penggunaan Mobil mewah. Ternyata menurut penelitian Fitra, mobil yang dimiliki anggota DPR di luar daya beli gaji anggota Dewan yang terhormat.

Koordinator Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (FITRA) Ucok Sky Khadafi dalam percakapan di Jakarta, Jumat (18/11/2011), menjelaskan, mustahil anggota DPR memiliki mobil mewah kalau Hanya mengandalkan gaji pokok.

Mobil mewah yang beredar di DPR terpantau merk Bentley, Lexus RX 270, Hummer HR, Mercedes Benz, Toyota Alphard Velfire, Jeep Wrangler, dan Toyota Harrier. Padahal gaji dan  berikut tunjangan Ketua adalah Rp 50 juta per bulan. Mobil mewah yang dimiliki anggota DPR ada yang berharga hingga Rp 7 miliar. Lihat saja koleksi mobil mewah, anggota komisi III DPR, Bamsoet yang memiliki Bentley Continental GT senilai Rp7 miliar.

13234725001381286085
Mobil mewah Bentley, harganya 7 M. (Ill. Google)


Gaya hidup anggota DPR tidak bisa menjadi teladan bagi rakyat pemilih mereka yang sebagian besar hidup miskin dan sederhana, demikian Ketua Fitra.

Hal yang sama ditegaskan  sebastian salang pengamat Parlemen. ”Gaya hidup para elite politik itu diperhatikan masyarakat. Jika mereka terbiasa hidup mewah maka masyarakat bisa tergoda mencontoh gaya hidup mereka”.

Meski banyak yang mencela, Ketua  Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie menyatakan tidak menjadi masalah jika ada anggota DPR menerapkan gaya hidup mewah. Termasuk jika anggota Dewan tersebut menggunakan mobil mewah ke Senayan. Terutama jika memang ia pengusaha yang kaya. Hanya saja Pak Ical menganjurkan agar anggota parpolnya tidak menggunakan mobil yang bisa menjadi batu sandungan. Selanjutnya baca disini 

Berbeda dengan sebastian salang. Baginya Perlu adanya aturan yang mengatur gaya hidup anggota DPR agar tidak terjadi kesenjangan antar anggota DPR yang berasal dari latar belakang berbeda.
Disamping itu, dengan melihat mobil anggota DPR yang sederhana, maka masyarakat mendapat teladan untuk hidup lebih sederhana alias tidak hedon.


Penutup

Ahh, gaya hidup Djoko Wi benar-benar “menantang” sebagian Politisi kita Senayan. Andai saja pejabat dan politisi kita meniru gaya hidupnya Pak Djoko Wi, Enak rasanya melihat pejabat, dan rakyat kecil  tidak segan mendekat.

Nah, jangan Ada yang marah ya jika pihak penyelenggara “Deklarasi Nasional Menuju Indonesia Bangkit, Birokrasi Bersih dan Melayani” mengundang Djoko Widodo yang jauh-jauh dari Solo dan “hanya” setingkat Walikota.

Julianto Simanjuntak
Sumber: http://birokrasi.kompasiana.com

Jumat, 18 November 2011

Bung Hatta, Negarawan Uncorruptable: Kisah Menabung Utk “Sepatu Bally”, Tapi….

Alhasil, keinginan Bung Hatta untuk membeli sepasang sepatu Bally tak pernah kesampaian hingga akhir hayatnya. Bahkan, yang lebih mengharukan,  ternyata hingga wafat, guntingan iklan sepatu Bally tersebut masih tersimpan dengan baik.

 


DR. (HC) Drs. H. Mohammad Hatta atau lebih dikenal Bung Hatta adalah proklamator RI, Wakil Presiden I RI,  Bapak Koperasi Indonesia, negarawan, pahlawan, diplomat, dan ekonom. Itulah gelar kedaulatan yang Bung Hatta sandang. Namun, selain gelar-gelar diatas yang biasa kita baca, ada hal lain yang tidak kalah penting yang membuat saya kagum seraya bangga atas sosok Bung Hatta lainnya yakni santun, jujur, hemat, serta uncorruptable.

Bung Hatta lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat pada 12 Agustus 1902. Pada usia 19 tahun, Bung Hatta pergi ke Rotterdam, Belanda untuk belajar ilmu perdagangan/bisnis di Nederland Handelshogeschool (sekarang Universitas Erasmus) dan mendapat gelar Drs. Bung Hatta. Selama di Belanda, Bung Hatta terus melakukan perjuangan kemerdekaan untuk bangsa di nusantara. Aktivitasnya dalam organisasi menyebabkan Hatta pernah ditangkap pemerintah Belanda.

Tahun 1932 Hatta kembali ke Indonesia dan bergabung dengan organisasi CPNI yang bertujuan meningkatkan kesadaran politik rakyat Indonesia melalui proses pelatihan-pelatihan. Belanda menangkap Hatta, bersama Soetan Sjahrir, ketua Club Pendidikan Nasional Indonesia pada bulan Februari 1934. Hatta diasingkan ke Digul dan kemudian ke Banda selama 6 tahun.



Tahun 1945, Hatta secara aklamasi diangkat sebagai wakil presiden pertama RI, bersama Bung Karno yang menjadi presiden RI sehari setelah ia dan bung Karno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Oleh karena peran tersebut maka keduanya disebut Bapak Proklamator Indonesia. Ia mundur dari jabatan wakil presiden pada tahun 1956, karena berselisih dengan Presiden Soekarno. Bung Hatta meninggal di Jakarta, 14 Maret 1980 pada umur 77 tahun. Hingga akhir hayatnya, hanya meninggalkan satu wasiat kepada keluarganya, “Kalau saya meninggal, kuburkan saya di perkuburan rakyat”. Beliau ingin dikubur bersama rakyat yang telah ia perjuangkan selama hidupnya…

Bung Hatta, Sikap Negarawan yang Langka


 

Bila India memiliki Mahatma Gandhi sebagai bapak negarawan yang sederhana, santun, bersahaja bagi rakyatnya, maka Indonesia memiliki Bung Hatta. Sepanjang hidupnya, Bung Hatta berperilaku senantiasa menampilkan sikap yang santun terhadap siapa pun. Baik kawan maupun lawan. Terhadap Bung Karno yang pada masa sebelum kemerdekaan melakukan kerja sama cukup erat namun kemudian mereka tidak dapat bekerja sama secara politik, tetapi sebagai sesama manusia, Bung Hatta masih menghormatinya. Ketika Bung Karno sakit, Bung Hatta menengoknya. Demikian pula sebaliknya. Kesantunan menjadi sikap dalam hidupnya untuk saling menghargai.

Banyak  kisah tentang dia yang menyadarkan kita semua, bahwa Indonesia pernah memiliki seorang pemimpin dan negarawan yang teramat bersahaja. Dan, itu pula yang disampaikan Rachmawati Soekarnoputri dalam tulisannya yang dimuat di Harian Kompas, 9 Agustus 2002, Mengenang 100 Tahun Bung Hatta. Dalam tulisan tersebut, putri mendiang Bung Karno tersebut mengatakan, suri teladan yang perlu diteladani dari Bung Hatta adalah sifat dan perilakunya yang fair dan jujur. “Jujur di sini, tidak hanya terbatas pada tidak melakukan praktik KKN selama berkuasa atau menjabat. Namun, lebih dari itu, Bung Hatta jujur terhadap hati nuraninya,” kata Rachmawati.

Hal itu terlihat saat Bung Hatta mulai tidak sepaham dengan Bung Karno antara lain menganggap Bung Karno sudah ke-kiri-kirian, terlebih saat Bung Karno mencetuskan ide Nasakom, Bung Hatta yang sudah tidak sepaham lagi dengan Bung Karno memilih mengundurkan diri 1 Desember 1956.

Kejujuran yang diperlihatkan Bung Hatta dalam hal ini justru menunjukkan sikap ksatria seorang negarawan yang patut dihargai dan dicontoh. Kendati demikian, hubungan pertemanan antara Bung Hatta dan Bung Karno tidak lalu berubah menjadi permusuhan, malahan Bung Hatta melakukan kerja sama yang kritis terhadap Bung Karno (critical cooperation). Bahkan, adakalanya Bung Hatta memberikan masukan langsung datang ke Istana selain menulis surat atau menelepon. Dan, Bung Karno pun tetap menganggap Bung Hatta sebagai teman bukan musuh yang harus “dilumpuhkan”.

Rachmawati juga mengungkapkan bahwa sikap fair dan perilaku terasa ketika Bung Karno sakit setelah terjadinya G30S/PKI tahun 1965. Ketika Bung Karno mulai jatuh sakit, Bung Hatta tetap memberikan perhatian kepada Bung Karno. Bahkan, pada saat sakit yang diderita Bung Karno semakin parah pada tahun 1969 dan terpaksa harus dirawat di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, Bung Hatta bersikeras menjenguk Bung Karno di mana tak satu pun pejabat atau tokoh lain mau menjenguk Bung Karno.


Wakil Presiden Bung Hatta Harus Menabung Membeli Sepatu “Bally”, Tapi…..

 

Salah satu kisah mengugah dari Bung Hatta yang dikenang masyakarat adalah kisah  tentang sepatu Bally. Pada tahun 1950-an, Bally adalah merek sepatu bermutu tinggi yang berharga mahal. Bung Hatta, ketika masih menjabat sebagai wakil presiden, berniat membelinya. Untuk itulah, maka dia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya.

Setelah itu, dia pun berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut. Namun, apa yang terjadi? Ternyata uang tabungan tidak pernah mencukupi untuk membeli sepatu Bally. Ini tak lain karena uangnya selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu orang-orang yang datang kepadanya guna meminta pertolongan.  Alhasil, keinginan Bung Hatta untuk membeli sepasang sepatu Bally tak pernah kesampaian hingga akhir hayatnya. Bahkan, yang lebih mengharukan,  ternyata hingga wafat, guntingan iklan sepatu Ball tersebut masih tersimpan dengan baik. 

Andai saja Bung Hatta mau memanfaatkan posisinya saat itu, sebenarnya sangatlah mudah baginya untuk memperoleh sepatu Bally, misalnya dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalannya. Barangkali bukan hanya sepatu merek Bally yang mampu dibelinya. Bisa saja ia memiliki saham di pabrik sepatu dan berganti-ganti sepatu baru setiap hari. Tetapi, ia tidak melakukan semua itu. Ia hanya menyelipkan potongan iklan sepatu Bally yang tidak terbelinya hingga akhir hayat. Bila dilihat pada kondisi sekarang, seharusnya masa lalu juga demikian, tentu hal ini merupakan sebuah tragedi.

Seorang mantan wakil presiden, orang yang menandatangani proklamasi kemerdekaan, orang yang memimpin delegasi perundingan dengan Belanda –negara yang pernah menjajahnya—hingga Belanda mau mengakui kedaulatan Indonesia, ternyata tidak mampu hanya untuk sekadar membeli sepasang sepatu bermerek terkenal. Meski memiliki jasa besar bagi kemerdekaan negeri ini, Bung Hatta sama sekali tidak ingin meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain atau negara.

Menurut Jacob Utama, Pemimpin Umum Harian Kompas, segala yang dilakukan Bung Hatta sudah mencerminkan bahwa dia tidak hanya jujur, namun juga uncorruptable, tidak terkorupsikan. Kejujuran hatinya membuat dia tidak rela untuk menodainya dengan melakukan tindak korupsi.  Mungkin banyak masyarakat berkomentar, “Iya, lha wong sepatu Bally harganya, kan, selangit.”

Namun lagi-lagi itulah, ternyata bukan hanya sepasang sepatu itu yang tidak mampu dibeli Hatta. Barang lain yang juga tak mampu dibelinya adalah mesin jahit yang juga sudah lama didambakan sang istri. Wah, mengapa bisa begitu? Ya, tak lain karena setelah mengundurkan diri dari jabatan wakil presiden, 1 Desember 1956, uang pensiun yang diterimanya sangat kecil. Bahkan saking kecilnya, sampai-sampai hampir sama dengan Dali, sopirnya yang digaji pemerintah. Dalam kondisi seperti ini, keuangan keluarga Bung Hatta memang sangat kritis.

Sampai-sampai, pernah suatu saat Bung Hatta kaget melihat tagihan listrik, gas, air, dan telepon yang harus dibayarnya, karena mencekik leher. Beliau, pernah sampai mengirim surat kepada Ali Sadikin – gubernur Jakarta waktu itu, untuk di beri waktu keringanan membayar listrik, karena kondisi ekonomi Beliau yang sangat pas-pasan. Yang membuat Bang Ali terharu membaca surat Beliau. Dan tidak menyangka seorang Bapak Pendiri Bangsa ini memohon kepada Beliau untuk di beri keringanan. Seorang Bapak Bangsa yang telah memperjuangkan seluruh hidupnya untuk negeri ini, sekarang hidup dengan kondisi yang sangat sederhananya. Beliau juga seorang kepala keluarga yang mampu memberikan tauladan kepada keluarga. Harta yang Beliau wariskan kepada keluarga bukan uang atau tanah melainkan hanyalah setumpuk buku. Setelah wafatnya, keluarga menemukan buku harian, setumpuk uang dan potongan iklan sepatu Bally, sepatu yang ingin Beliau beli dan diidam-idamkan sampai akhir hidupnya.



Dalam keseharian, Bung Hatta tidak pernah putus asa. Beliau selalu rajin menulis untuk menambah penghasilannya. Baginya, biarpun hasilnya sedikit, yang penting diperoleh dengan cara yang halal.
Itu sebabnya, mengapa Bung Hatta mengembalikan sisa uang yang diberikan pemerintah untuk berobat ke Swedia. Itu dilakukan, karena sepulang dari Swedia Bung Hatta mendapati bahwa uang tersebut masih bersisa, dan dia merasa itu bukan haknya.

Sungguh mengagumkan. Apa yang dilakukan Bung Hatta adalah karena dia ingin menjaga nama baik. Bukan hanya dirinya sendiri, tetapi nama baik bangsa dan negara. Dalam konteks itu pula, maka Bung Hatta pun tidak berusaha bekerja di berbagai perusahaan meski sebenarnya sangat memungkinkan. Dalam pandangannya, jika dia bekerja pada perusahaan, maka citra seorang mantan wakil presiden akan runtuh. Juga, jika dia menjadi seorang konsultan, maka sebenarnya dirinya sedang terjebak ke dalam bias persaingan usaha yang sarat dengan kepentingan.

Pemikiran yang luar biasa itulah yang dijalankan oleh Bung Hatta. Bung Hatta lebih memilih hidup sederhana demi menjaga nama baik bangsa Indonesia. Bung Hatta telah mengorbankan dirinya bagi negeri ini. Bung Hatta begitu hati-hati menggunakan kekuasaan.

Semoga melalui artikel yang diangkat dari kisah nyata dari seorang pemimpin besar bangsa ini, seorang proklamator yang turut memperjuangkan NKRI dengan Pancasila sebagai falsafah bangsa, memberi kebanggaan sekaligus teladan bagi rakyat Indonesia, terutama generasi muda. Membaca kisah ini mestinya membuat malu bagi setiap warga Indonesia, terutama para pejabat, baik eksekutif, yudikatif maupun legislatif yang berebut kursi kekuasaan. Bagaimana mungkin anggota dewan sudah meminta jatah laptop diawal jabatannya? Bagaimana kontradiktifnya sikap Bung Hatta dengan sikap  Kementerian Kabinet Indonesia Bersatu II yang minta kenaikan gaji pasca 1 hari dilantik?

Semoga kisah Bung Hatta tentang Sepatu Bally menjadi bagian dari artikel dalam pendidikan sekolah terkait pendidikan antikorupsi dan bela negara. Sikap beliau membuat kita terharu sekaligus kagum mengetahu bahwa seorang Wakil Presiden RI yang juga bapak proklamator harus menabung untuk membeli sepatu “bally”, tapi…. hingga akhirnya hayatnya ia harus memendam cita-citanya! Terima kasih Bung Hatta!

Salam bela negara dengan tidak korupsi,

Dikutip dari berbagai sumber.
http://nusantaranews.wordpress.com

Selasa, 25 Oktober 2011

Biografi Yasser Arafat

























Mohammed Abdel-Raouf Arafat bin Qudwa al-Hussaeini lahir 24 Agustus 1929 di Kairo. Ayahnya adalah seorang pedagang tekstil keturunan Palestina dan Mesir, ibunya berasal dari keluarga Palestina di Yerusalem. Ibunya mening-gal ketika Yasser, begitu ia biasa dipanggil, berumur lima tahun, lalu ia dikirim untuk tinggal bersama pa-man dari pihak ibu di Yeru-salem, ibukota Palestina.


Ia menceritakan sedikit sekali tentang masa kecilnya, tetapi salah satu kenangan yang tak dilupakannya adalah ketika tentara Inggris menyerbu masuk ke rumah pamannya lepas tengah malam, memukuli anggota keluarganya dan memporak-porandakan perabotan.
Setelah empat tahun di Yerusalem, ayahnya memba-wanya kembali ke Kairo, di mana kakaknya yang lebih tua menjaganya termasuk saudara-saudara kandung-nya. Arafat tidak pernah menyebut-nyebut ayahnya, yang tidak terlalu dekat dengan anak-anaknya. Arafat bahkan tidak menghadiri penguburan ayahnya tahun 1952.

Di Kairo, sebelum berumur 17 tahun, Arafat menyelundupkan senjata bagi warga Palestina untuk digunakan melawan Inggris dan Yahudi. Usia 19 tahun, selama perang antara Yahudi dan negara-negara Arab, Arafat meninggalkan studinya di Universitas Faud (sekarang Universitas Kairo) untuk berjuang melawan Yahudi di daerah Gaza.
Kekalahan negara Arab dan berdirinya negara Israel membuatnya putus asa lalu mengurus visa untuk belajar di Universitas Texas. Setelah semangatnya pulih dan keinginan untuk terus mengejar mimpinya akan tanah Palestina yang merdeka, ia kembali ke Universitas Faud mengambil jurusan teknik sipil tetapi malah menghabiskan banyak waktunya sebagai pemimpin mahasiswa-mahasiswa Palestina.

Ia berhasil mengambil gelarnya tahun 1956, sempat bekerja di Mesir lalu ditempatkan kembali di Kuwait, pertama kali bekerja di departemen pekerjaan umum, lalu kemudian berhasil menjalankan usaha sendiri, perusahaan kontraktor. Tapi ia menghabiskan sebagian waktu luangnya dalam kegiatan politik, di mana ia menggunakan sebagian besar keuntungan usahanya untuk kepentingan itu.

Pada 1958, dia dan teman-temannya mendirikan Al-Fatah, jaringan rahasia gerakan bawah tanah, dimana pada 1959 mulai menerbitkan majalah yang menganjur-kan perang melawan Israel dengan senjata. Akhir 1964, Arafat meninggalkan Kuwait untuk menjadi seo-rang revolusioner sepenuh waktu, mengorganisasikan serangan Fatah ke Israel dari Yordania.

Pada tahun yang sama pula, berdirilah Palestine Liberation Organisation (PLO), yang disponsori oleh Liga Arab, mengumpulkan semua kelompok agar bersatu membawa Palestina menjadi negara merdeka. Sikap Arab lebih bersifat kebijakan mendamaikan dibandingkan kebijakan Fatah, tetapi setelah kekalahan mereka melawan Israel tahun 1967 dalam perang selama enam hari, Fatah bangkit dari bawah tanah sebagai kelompok paling kuat dan terstruktur dengan baik dibandingkan kelompok-kelompok lainnya yang membentuk PLO.

Fatah mengambil alih organisasi itu pada 1969 ketika Arafat menjadi ketua komite eksekutif PLO. PLO tidak lagi menjadi organisasi boneka negara-negara Arab, yang menginginkan agar warga Palestina tetap diam, melainkan menjadi organisasi nasionalis independen yang berpusat di Yordania.

Arafat membangun PLO menjadi sebuah ‘negara’ yang memiliki kekuatan militer sendiri dalam negara Yordania. Raja Hussein dari Yordania, sangat terganggu dengan serangan-serangan gerilya dan metode kekerasan lainnya yang mereka lakukan terhadap Israel, hingga pada akhirnya ia memaksa PLO keluar dari negaranya. Arafat mencari jalan membangun organisasi yang sama di Lebanon, tetapi tersingkir oleh pendudukan militer Israel. Ia berjuang mempertahankan organisasi itu tetap hidup, dengan memindahkan markas besarnya ke Tunisia. Ia berulang kali bertahan hidup, lolos dari kecelakaan pesawat, lolos dari pencobaan pembunuhan oleh agen rahasia Israel, dan pulih dari penyakit stroke yang serius.

Hidupnya adalah perjalanan, berpindah dari negara yang satu ke negara yang lain untuk mempromosikan Palestina. Selalu menjaga agar gerakannya tetap bersifat rahasia, sama seperti yang dia lakukan terhadap kehidupan pribadinya. Bahkan pernikahannya dengan Suha Tawil, seorang perempuan Palestina yang berusia separuh dari usianya, tetap dirahasiakan selama lima belas bulan. Isterinya pada waktu itu sudah aktif dalam kegiatan sosial khususnya bagi anak-anak cacat di rumahnya, tetapi penampilannya yang mencolok dalam pertemuan di Oslo menjadi kejutan bagi banyak pemerhati Arafat. Sejak itu, putri mereka, Zahwa, yang diberi nama sesuai nama ibu Arafat, lahir.

Periode setelah pengusiran dari Lebanon merupakan masa sulit bagi Arafat dan PLO. Lalu gerakan protes Intifada mendorong Arafat untuk menarik perhatian dunia terhadap kesulitan yang dihadapi Palestina.

Pada 1988 terjadi perubahan kebijakan. Dalam pidatonya di PBB di Jenewa, Swiss, Arafat menyatakan bahwa PLO menolak aksi terorisme dan mendukung ‘hak semua kelompok yang bertikai di Timur Tengah untuk hidup damai dan aman, termasuk negara Palestina, Israel dan negara-negara tetangga”.



Prospek ke arah perjanjian damai dengan Israel mulai cerah. Setelah kemunduran akibat keputusan PLO mendukung Irak dalam Perang Teluk tahun 1991, proses perdamaian mulai serius dilakukan, dimulai dari Perjanjian Oslo tahun 1993. Perjanjian ini akhirnya membawa Arafat, Yitzak Rabin, dan Shimon Peres memperoleh penghargaan Nobel Perdamaian tahun 1994

Yasser Arafat meninggal dunia pada tanggal 11 November 2004 di rumah sakit militer di Paris, Perancis. Ia diterbangkan ke Paris dari markas besar PLO di Ramallah, untuk mendapatkan perawatan medis akibat sakit yang dideritanya. Menurut laporan medis, Arafat meninggal dunia karena mengalami pendarahan hebat di otaknya.

Tapi dalam laporan itu juga disebutkan bahwa dari hasil pemeriksaan medis ditemukan gejala adanya infeksi dari semacam bakteri kuman yang meracuni darah. Namun tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang kemungkinan adanya racun atau virus yang menyebabkan kematian Arafat.

Referensi :
- http://tokohindonesia.com/aneka/tokohdunia/yasser-arafat/index.shtml
- http://www.suaramerdeka.com/harian/0411/10/nas02.htm
- http://www.eramuslim.com/berita/dunia/kematian-yasser-arafat-akan-diselidiki-kembali.htm


Sumber: http://kolom-biografi.blogspot.com

Biografi Osama Bin Laden


























Osama Bin Laden dilahirkan di Riyadh, Saudi Arabia pada tahun 1957. Dikenal sebagai dalang penyerangan teroris melawan Amerika Serikat dan kekuatan barat lainnya, termasuk pemboman Pusat Perdagangan Kota New York pada tahun 1993, bom bunuh diri pada kapal perang Amerika Serikat tahun 2000, dan serangan ke Pusat Perdagangan Dunia di kota New York dan Pentagon dekat Washington, D.C tanggal 11 September 2001 walaupun Ia tidak ada didalam daftar orang yang melakukan serangan ini namun iya dianggap sebagai dalangya yang paling dicari. dan menjadikan ia sebagai sepuluh orang yang paling dicari oleh FBI.


Dalam wawancara tahun 1998, dia memberikan tanggal lahir 10 Maret 1957. [6] Ayahnya Muhammad Awad bin Laden adalah seorang pengusaha kaya yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga kerajaan Saudi. Osama bin Laden adalah putra tunggal Muhammad bin Laden dari istri kesepuluh, Hamidah al-Attas. Osama orangtuanya bercerai segera setelah ia lahir; Ibu Osama kemudian menikah Muhammad al-Attas. Bin Laden belajar ekonomi dan administrasi bisnis di King Abdulaziz University. Beberapa laporan menyarankan bin Laden meraih gelar dalam teknik sipil pada tahun 1979, dan gelar sarjana administrasi publik pada tahun 1981. Sumber-sumber lain menggambarkan dia meninggalkan universitas pada tahun ketiga perkuliahanya, dan tidak pernah menyelesaikan gelar sarjana , Bin Laden sangat memiliki minat yang besar terhadap agama,


Keberatannya adalah pada kehadiran pasukan amerika Serikat di Saudi Arabia selama Perang Teluk Persia. Menjelang tahun 1993 ia telah mendirikan suatu jaringan yang dikenal dengan al-Qaeda.

Kelompok tersebut mendanai dan mengorganisir beberapa serangan ke seluruh dunia, termasuk bom truck detonasi melawan Amerika target di Saudi Arabia pada tahun 1996, pembunuhan turis di Mesir pada tahun 1997, dan pemboman secara simultan di kedutaan amerika Serikat di Nairobi, Kenya, dan Dar es Salaam, Tanzania pada tahun 1998, yang kesemuanya membunh hampir 300 orang.

Pada tahun 1994, pemerintah Saudi Arabia menyita passpornya setelah menuduhnya subversi, lalu ia lari ke Sudan, dimana ia mengorganisir camps yang melatih militant dengan metode teroris dan akhirnya ia lari pada tahun 1996. Ia lalu kembali ke Afghanistan, dimana ia menerima perlindungan dari pemimpin militant Taliban.

Sejak tahun 2001, Osama Bin Laden dan organisasinya telah menjadikanya sebagai sasaran utama oleh Amerika sebagai kampanye Perang terhadapo teroris. Osama dan rekan pimpinan Al-Qaeda diyakini bersembuyi didekat perbatasan Afghanistan dan Pakistan.

Desember 2001 berasal dari sumber yang tidak dapat disebutkan, Pakistan Observer melaporkan bahwa Bin Laden meninggal akibat komplikasi paru-paru dan dikuburkan dalam sebuah makam tak bertanda di Tora Bora pada 15 Desember. Laporan ini diklarifikasi oleh Fox News di Amerika Serikat pada Desember 26. Juga pada 26 Desember koran Mesir AlWafd - Harian mengklarifikasi kabar tersebut dan menyebutkan bahwa pejabat terkemuka Afghan Taliban, yang diduga hadir di pemakaman, menyatakan bin Laden telah dimakamkan pada atau sekitar Desember 13. Sebuah rekaman video yang dirilis pada tanggal 27 Desember memperlihatkan seorang kurus keliahtan sakit yang disebut-sebut sebagai Bin Laden, membuat ajudan Gedung Putih yang tidak disebutkan namanya memberikan komentar bahwa hal itu bisa saja dibuat tak lama sebelum kematiannya.

Referensi :
http://orangtopdunia.blogspot.com/2009/01/biography-osama-bin-laden.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Osama_bin_Laden


Sumber: http://kolom-biografi.blogspot.com

Biografi Muammar Qaddafi


Muammar khadafi, diktator, libya, biografi, pemimpin 













Muammar Abu Minyar al-Qaddafi atau Muammar Khadafi, lahir di Surt, Tripolitania, 7 Juni 1942, Khadafi besar dalam angin padang pasir yang keras. Dia lahir di suatu tenda Badui, di gurun pasir dekat Kota Sirt, pada 1942. Dia berasal dari suku kecil turunan Berber Arab, yaitu Khadafa. Tumbuh saat dunia Arab sedang bergolak, Khadafi tampaknya menyerap semua konflik itu ke jagad kecilnya. Di Palestina, konflik berlarat-larat setelah Yahudi membentuk negara Israel pada 1948. Dia juga larut dalam gelora nasionalisme Arab, yang diteriakkan pemimpin Mesir Gammal Abdul Nasser, pada 1952.

Tumbuh saat dunia Arab sedang bergolak, Khadafi tampaknya menyerap semua konflik itu ke jagad kecilnya. Di Palestina, konflik berlarat-larat setelah Yahudi membentuk negara Israel pada 1948. Dia juga larut dalam gelora nasionalisme Arab, yang diteriakkan pemimpin Mesir Gammal Abdul Nasser, pada 1952.

Bersekolah di madrasah setempat, Khadafi kecil telah menaruh minat besar pada sejarah. Selesai menjalani pendidikan lanjut, Khadafi terjun ke dunia militer. Di Libya pada saat itu, menjadi tentara adalah peluang emas memperbaiki taraf hidup bagi keluarga kurang mampu. Itu sebabnya, masuk militer adalah pilihan bagi anak-anak muda miskin seperti Khadafi.

Pada 1961, Khadafi masuk ke akademi militer. Dia lulus lima tahun kemudian. Dianggap punya prospek cemerlang, Khadafi terpilih ikut pendidikan militer lanjutan selama beberapa bulan di Akademi Militer Inggris, Sandhurst. Dia pun menerima pelatihan militer di Athena, Yunani. Sebagai perwira muda, Khadafi malu melihat negara Arab, yaitu Mesir, Suriah, dan Yordania, kalah perang dengan Israel di tiga front pada 1967. Dia kian geram, karena Raja Idris I dari Libya, hanya berpangku tangan melihat sesama bangsa Arab dipermalukan Israel dalam Perang Enam Hari.

Peluang itu tiba pada 1 September 1969. Saat itu, Raja Idris sedang ke Yunani untuk berobat. Muncul kabar, karena sering sakit-sakitan, Raja Idris akan lengser. Dia menyerahkan kekuasaan kepada keponakannya, yang menjadi putra mahkota, Sayyid Hasan ar-Rida al-Mahdi as-Sanusi, atau Hasan as-Sanusi. Tanggal penyerahaan tahta dari Raja Idris kepada Pangeran Hassan berlangsung pada 2 September 1969. Sehari sebelum ritual penyerahan tahta, saat Idris masih di luar negeri, Khadafi bergerak. Dia mengumumkan di radio, Libya berada di tangan Dewan Revolusi yang akan menyelamatkan negara dari kekosongan kekuasaan.

Junta militer pimpinan Khadafi lalu menangkap kepala staf militer dan kepala keamanan, yang setia dengan Raja Idris. Sang Raja terhenyak. Dia tak bisa lagi pulang, hingga wafat di Mesir pada 1983. Stasiun berita BBC menceritakan bagaimana Khadafi, perwira 27 tahun namun telah berpangkat kolonel, secara cemerlang melakukan kudeta tak berdarah. "Kudeta itu hanya memuntahkan beberapa peluru," tulis BBC.

Nasib calon raja yang batal, Hasan as-Sanusi lebih buruk. Dia menjadi tahanan rumah, dan sempat dipenjara selama tiga tahun pada 1971. Hasan dan keluarga diusir dari rumah mereka pada 1984. Hasan harus menggelandang di pantai, hingga diserang stroke. Khadafi mengizinkannya berobat ke London, Inggris. Hasan pun meninggal di sana. Dia dikuburkan di sebelah makam Raja Idris, di Madinah, Arab Saudi.

Setelah menyingkirkan kekuatan lama, pada awal berkuasa, rezim Khadafi melakukan perubahan besar. Kerajaan Libya dibubarkan. Dia lalu membentuk Republik Sosialis Arab, dengan nama resmi Republik Rakyat Sosialis Agung Jamahiriya Arab Libya.

Bendera nasional pun diganti, dari gabungan warna merah, hitam, dan hijau, dengan lambang bintang dan bulan sabit di tengah-tengah, menjadi warna hijau polos.

Khadafi pun tak menyatakan diri sebagai presiden atau raja. Dia menabalkan dirinya seorang “brother leader”, dan sang pemandu revolusi. Dia sempat menjabat perdana menteri selama 1970-1972. Sebagai pemimpin belia, Khadafi menunjukkan kepada bangsa Arab, perubahan radikal sedang bergerak di Libya.

Muammar khadafi, diktator, libya, biografi, pemimpin


Sistem pemerintahan Libya dirombak. Menurut kajian Library of Congress pada 1987 berjudul "Government and Politics of Libya", Libya dipimpin dua pilar utama, yang disebut dengan sektor. Salah satu pilar, yaitu "Sektor Revolusioner," terdiri dari Khadafi sebagai pemimpin Revolusi, Komite Revolusi, dan Dewan Komando Revolusi, yang beranggotakan 12 orang. Mereka inilah inti kekuasaan di Libya karena para komite dan dewan tidak dipilih, melainkan ditunjuk, serta tak ada masa bakti.

Pilar lain adalah “Sektor Jamahiriyah”, adalah Kongres Rakyat mewakili 1.500 wilayah, dan 32 anggota Kongres Rakyat Sha'biyat. Mereka dilihat sebagai lembaga legislatif. Para anggotanya dipilih setiap empat tahun. Sejak 1972, rezim Khadafi melarang partai politik. Media massa nasional pun dibelenggu agar tidak "menyesatkan" rakyat dengan pemberitaan kritis kepada pemerintah. Seperti Mao Zedong di China pada 1960an, Khadafi pada 1975 menerbitkan buku panduan ideologi bagi pejabat dan rakyat Libya. Dia menyebutkan sebagai "Kitab Hijau" (Green Book).

Terbit dalam bahasa Arab, Kitab Hijau menjabarkan tiga paham dasar, yaitu "Demokrasi berdasarkan Kekuasaan Rakyat," "Ekonomi Sosialisme" dan "Teori Internasional Ketiga." Paham itu lalu menjadi panduan bagi sistem demokrasi ala Khadafi, sekaligus panduan politik luar negeri Libya yang mengundang kontroversi. “Kitab Hijau” menolak demokrasi liberal ala Barat, dan mendorong sistem demokrasi langsung berdasarkan pembentukan komite-komite rakyat. Belakangan, sistem ini dikritik sebagai cara Khadafi mengamankan kepentingannya di balik jargon memberdayakan rakyat Libya.

Sikap anti Barat-nya kental. Dia menjadi sponsor gerakan anti imperialisme dan zionisme. Pada dekade 70an hingga 90an, Libya bahkan menjadi kawah pelatihan bagi kelompok radikal seperti Brigade Merah dari Jepang, "September Hitam" dari Palestina, MILF dari Filipina, dan IRA dari Irlandia Utara.

Mimpinya tentang Arab bersatu dipengaruhi gagasan Nasser. Khadafi berniat meneruskan Pan Arabisme yang dirintis presiden pertama Mesir itu. Maka, dua tahun setelah Nasser wafat pada 18 September 1970, Khadafi menggagas pendirian "Federasi Republik-republik Arab," meliputi Libya, Mesir, dan Suriah. Tapi ide itu gagal. Dia mencoba lagi pada 1972, dengan menggandeng Tunisia, tapi usaha itu kempis.

Ironisnya, gagasan itu berlawanan dengan tabiatnya yang suka berkelahi dengan tetangga. Misalnya, pada 1969, tak lama setelah dia berkuasa, Libya berperang dengan Chad. Menurut Gérard Prunier, penulis buku Darfur: a 21st century genocide, alasannya saat itu tak masuk akal: gara-gara presiden Chad saat itu seorang Kristen, dan berkulit hitam. Perang Libya-Chad berakhir pada 1994, melalui keputusan Mahkamah Pengadilan Internasional.

Muammar khadafi, diktator, libya, biografi, pemimpin


Selain itu, Libya pun sempat baku tembak dengan Mesir selama beberapa hari pada 1977. Soalnya, Khadafi kesal dengan manuver Presiden Mesir saat itu, Anwar Sadat, yang berdamai dengan Israel, setelah keduanya terlibat Perang pada Oktober 1973. Khadafi memang anti-Israel. Dia bahkan jengkel dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) pimpinan Yasser Arrafat. Pada 1995, Khadafi mengusir 30.000 warga Palestina dari Libya, setelah setahun sebelumnya PLO menggelar kesepakatan damai dengan Israel.

Khadafi juga berang dengan Mesir, karena melindungi dua perwira Libya pelaku rencana kudeta atas dirinya pada 1975. Konflik Libya-Mesir yang berlangsung empat hari akhirnya berakhir, setelah ditengahi oleh Aljazair. Dengan politik yang keras seperti itu Libya di bawah Khadafi akhirnya menjadi sorotan. Dia dibenci Barat karena mensponsori kelompok teroris. Dia dicap menjadi rezim berbahaya, karena diketahui mengembangkan senjata penghancur massal untuk menandingi musuhnya di Barat.

Maka, tak heran Presiden AS, Ronald Reagan, menjuluki dia sebagai "anjing gila", yang membuat Reagan menghujani Tripoli dan Benghazi dengan serangan bom pada 14 April 1986. Serangan itu terjadi setelah agen-agen Libya diketahui meledakkan suatu klab malam di Berlin, Jerman, pada 5 April 1986. Insiden itu membunuh tiga orang, dan melukai 229 lainnya - lebih dari 50 orang diantaranya tentara Amerika.

Dua tahun kemudian, terjadi tragedi peledakkan atas pesawat Pan American yang terbang di langit Lockerbie, Skotlandia. Ratusan penumpang dan awak pesawat tewas. Agen Libya dituduh terlibat dalam aksi keji itu. Setelah sempat menyangkal, rezim Khadafi belakangan menerima tanggungjawab tragedi di Lockerbie, dan bersedia membayar uang duka kepada keluarga semua korban.

Menurut catatan harian Telegraph, Tragedi Lockerbie tampaknya "petualangan terakhir" Khadafi dalam terorisme internasional. Pada dekade 1990-an, Libya mulai rujuk dengan Barat. Dia rupanya tak tahan hidup, terisolasi, dan banyak musuh, baik dari Barat maupun Arab.

Puncaknya pada 2003, saat Khadafi melucuti semua senjata penghancur massal milik Libya. Sejak saat itu, hubungan Libya membaik, termasuk dengan AS. Bahkan semasa George W. Bush berkuasa, pada 2006 AS mengumumkan Libya tak lagi masuk daftar negara berbahaya. Proyek dan invetasi asing pun mulai mengalir kembali ke Libya.

Hingga Februari 2011, sebenarnya tak ada lagi berita sensasional tentang Khadafi, dan rezimnya. Dia sepertinya tak mau cari gara-gara dengan dunia luar. Khadafi bahkan sesekali diundang ke Barat, dan berpidato di Sidang Majelis Umum PBB di New York pada 2009.

Khadafi pun akrab dengan mantan perdana menteri Inggris, Tony Blair. Dia dikabarkan tak lagi tertarik pada nasionalisme Arab - setelah beberapa kali gagal mewujudkan persatuan Arab. Kini, perhatiannya pada solidarisme sesama negara Afrika. Itu sebabnya, sejumlah pemimpin Afrika mengangkat Khadafi sebagai Ketua Uni Afrika periode 2009-2010.

Khadafi kini berusia 68 tahun, dan kian nyentrik. Dia, misalnya, tinggal di tenda setiap kali berkunjung ke luar negeri, dan senang dikelilingi banyak perempuan. Khadafi lebih suka dikawal pasukan khusus perempuan.

Pada satu lawatan ke Italia beberapa tahun lalu, Khadafi menjamu ratusan perempuan setempat. Dia membujuk mereka menjadi mualaf. Laman spesialis pembocor rahasia diplomatik AS, WikiLeaks, juga mengungkapkan Khadafi punya perawat perempuan asal Ukraina, bertubuh seksi, dan berambut pirang.

Wartawati senior BBC, Katie Adie, selalu teringat sifat nyentrik Khadafi. Saat bertemu untuk wawancara di Tripoli pada 1984, Khadafi memberi Adie dua buah buku, dan satu ucapan. "Buku pertama adalah Kitab Hijau, dan kedua adalah Kitab Suci Al Quran. Setelah itu, dia berucap kepada saya, 'Selamat Natal'," kata Adie seperti ditulisnya di harian The Guardian.

Bagi aktivis di Libya, seperti Mohammed al-Abdalla, Khadafi adalah diktator yang brutal. "Era 70-an, saat menghadapi gerakan mahasiswa, Khadafi terang-terangan menggantung para mahasiswa, yang berdemonstrasi di alun-alun Tripoli dan Benghazi," ujar al-Abdalla, sekrektaris jenderal Front Nasional untuk Keselamatan Libya, seperti dikutip stasiun berita Al Jazeera.

"Dia melakukan eksekusi, yang mungkin paling brutal pernah kami saksikan, atas 1.200 tahanan di penjara Abu Salim. Mereka sudah dipenjara, lalu dieksekusi dalam waktu kurang dari tiga jam," kata al-Abdalla. Kini, si kolonel tanpa urat takut, dan kadang ngawur itu, kembali tampil brutal. Sejak 15 Februari lalu, dia menghabisi rakyat yang kini menentangnya. Akankah dia mendengar teriakan rakyat Libya itu?

Satu bekas menterinya yang membelot, Abdul Fattah Younis al Abidi, mengatakan Khadafi adalah pemimpin 'keras kepala'. Abidi mengenal Khadafi sejak 1964. Dia yakin, sang kolonel akan bertindak ekstrim. "Dia akan memilih bunuh diri, atau dibunuh," kata Abidi.

Dalam bangunan Spring Arab bulan Februari 2011, sebuah gerakan demonstrasi menentang Gaddafi menyebar di seluruh negeri. Gaddafi menanggapi dengan mengirimkan militer dan pria bersenjata berpakaian preman di jalan-jalan untuk menyerang demonstran, namun banyak pihak diaktifkan. Gaddafi meninggalkan perang saudara. Pada 23 Agustus 2011, Gaddafi kehilangan kendali Tripoli ketika para pemberontak menangkap loyalisnya di Bab Al-Azizia. Pasukan loyalis Gaddafi berperang di lokasi yang terbatas.

Dia menghadapi penuntutan oleh Pengadilan Pidana Internasional yang telah mengeluarkan surat perintah penangkapan atas kejahatan terhadap kemanusiaan. Miliaran dolar asetnya telah dibekukan di seluruh dunia.


Referensi :
- http://id.wikipedia.org/wiki/Muammar_al-Qaddafi
- http://blogfetra.blogspot.com/2011/03/sejarah-kekejaman-muammar-khadafi.html


Sumber:  
http://kolom-biografi.blogspot.com

Biografi Saddam Husein

















Saddam Husein lahir pada tahun 1937di Tikrit. Kehidupan di Desanya teramat sangat keras, pada masa kecilnya saddam seringkali keluar rumah dengan membekali diri dengan senjata sebagai alat bela diri dikarenakan seringkali terjadi bentrokan antar dengan teman sebayanya. Pada usia 16 Tahun Saddam sudah menjadi ketua geng jalanan. Pada Usia 17 Tahun Saddam membunuh salah seorang saingan pamanya hingga dipenjara 6 bulan. Pada Usia 19 Tahun sudah berkomplot untuk menumbangkan monarki yang berkuasa dan pada usia 21 tahun melakukan percobaan pembunuhan dengan menembak perdana menteri Irak dengan senapan Mesin.

Pada usia 20 tahun ia terjun dalam dunia politik dengan bergabung dalam Partai Baath. Saddam memainkan peran penting dalam kudeta yang dilakukan Partai Baath terhadap Presiden Irak saat itu, Abdul Rahman Arif pada tahun 1968. Kudeta tersebut dipimpin oleh ketua Partai Baath, Hasan Al Bakr, yang setelah kudeta mengangkat diri sebagai presiden. Saddam pun diangkat sebagai wakil Hasan Al Bakr dan menduduki posisi itu selama 15 tahun. Selama itu pula, Saddam melakukan berbagai aksi represif terhadap rakyat Irak. Setelah semakin berkuasa, Sadam pun menyingkirkan Hasan Al Bakr dan merebut posisi sebagai presiden dan pemimpin Partai Baath.

Tak lama setelah Sadam menjadi pemimpin partai Baath, dia melakukan pembersihan besar-besaran dalam tubuh partai. Para penentangnya dibunuh. Para ulama penentang Saddam juga dibunuh atau disiksa dalam penjara. Selama 35 tahun menjadi pemimpin Partai Baath, dia melakukan berbagai pembunuhan massal terhadap rakyat Kurdi di utara Irak dan rakyat Syiah di selatan Irak.

Sebagian sejarawan meyakini, sejak sebelum kudeta tahun 1968, sesungguhnya Saddam sudah menjalin hubungan dengan AS. Menurut mereka, Saddam setelah pembunuhan terhadap Abdul Karim Qasim tahun 1959 melarikan ke Mesir dan di negara ini dia menjalin hubungan dengan agen-agen CIA. Empat tahun kemudian, Saddam pun kembali ke Irak.

Pelayanan penuh Saddam terhadap Gedung Putih mulai terlihat mencolok di hadapan opini umum sejak dia menjadi wakil presiden Hasan Al Bakr. Setelah dia menyingkirkan Hasan Al Bakr yang tak lain sepupunya sendiri, dan meraih tampuk kepresidenan, Saddam semakin meningkatkan kerjasamanya dengan Gedung Putih. Pelayanan terbesar yang dilakukan Saddam terhadap kehendak para penguasa AS adalah invasinya ke Iran pada tahun 1980, segera setelah kemenangan revolusi Islam Iran. Revolusi Islam Iran telah menumbangkan raja boneka Amerika, Shah Pahlevi. AS juga tidak bisa lagi mengeksploitasi kekayaan alam Iran sebagaimana yang telah dilakukannya selama era pemerintahan Pahlevi. Itulah sebabnya AS mendalangi serangan Saddam terhadap Iran.
Selain memberikan bantuan politik dan dana, negara-negara Barat itu juga membantu Saddam dalam memproduksi senjata pembunuh massal yang digunakan dalam menyerang Iran.

Menurut data, selama era perang itu, AS dan negara-negara Barat lain, serta negara-negara Arab, telah memberikan bantuan sebesar 120 milyar dollar kepada Saddam. Periode perang delapan tahun Irak-Iran adalah periode keemasan hubungan antara Saddam dan AS. Donald Rumsfeld pada tahun 1983 datang ke Irak untuk berjumpa dengan Saddam dan menjanjikan bantuan keuangan. Robert Fisk wartawan terkemuka dari AS menulis, "Pada zaman ketika Irak membeli gas kimia dari AS, saya dengan mata kepala sendiri melihat bahwa Rumsfeld bersalaman dengan Saddam.

Selama perang delapan tahun Iran-Irak itu, bangsa Iran telah kehilangan nyawa puluhan ribu warganya, mengalami kerugian materil ratusan milyar dollar, dan mengalami ketertinggalan pembangunan selama bertahun-tahun. Selama perang, Saddam juga menggunakan senjata dan bom kimia yang menyebabkan kematian puluhan ribu orang. Hari ini, terdapat sekitar 45.000 orang Iran yang masih hidup dengan menanggung berbagai penyakit akibat terkontaminasi senjata kimia. Setiap tahunnya, pemerintah Iran mengeluarkan dana 37 juta dollar AS untuk merawat para korban senjata kimia itu, namun tiap tahun pula banyak di antara mereka yang akhirnya gugur syahid. Namun, berkat perlindungan Tuhan dan kegigihan bangsa Iran dalam membela tanah air mereka, usaha Saddam dan negara-negara Barat untuk menganeksasi Iran akhirnya menemui kegagalan.

Setelah kalah dalam usahanya untuk menguasai Iran, Saddam pun mulai dikhianati oleh sekutunya itu. Atas lampu hijau dari AS, pada tahun 1991 Saddam menyerang Kuwait dengan tujuan menguasai ladang-ladang minyak di negeri itu. Namun, segera setelah serbuan Saddam ke Kuwait, AS malah menggalang pasukan multinasional untuk membela Kuwait. Tentu saja, pasukan Saddam yang memang sudah lemah karena delapan tahun bertempur dengan Iran, dengan mudah bisa dipukul mundur oleh AS dan sekutu-sekutunya. Kelemahan posisi Saddam dimanfaatkan oleh sebagian bangsa Irak untuk memberontak dari diktator yang selama ini sudah menyengsarakan mereka itu. Namun, lagi-lagi, Saddam berkonspirasi dengan AS. Tiba-tiba serangan pasukan AS terhadap Saddam dihentikan sehingga Saddam bisa berkonsentrasi merepresi warganya yang memberontak.

Namun tak lama kemudian, AS memimpin gerakan internasional untuk mengembargo Irak. Tentu saja, yang sengsara akibat embargo ini adalah rakyat kecil. Mereka kekurangan makan dan obat-obatan sementara Saddam dan para penguasa tetap hidup sejahtera. Setelah 12 tahun menderita akibat embargo itu, rakyat Irak pada tahun 2003 menghadapi penderitaan baru lagi, yaitu agresi AS ke wilayah mereka dengan alasan untuk menggulingkan Saddam. Setelah Saddam terguling pun, hingga hari ini AS dan Inggris tetap bercokol di negeri itu dan menimpakan penderitaan tak terkira bagi rakyat Irak.

Berbagai aksi AS ini, baik ketika mendukung Saddam dalam Perang Iran-Irak, membela Kuwait dalam Perang Teluk, lalu kembali mendukung Saddam dalam menghentikan pemberontakan warga Irak, kemudian datang ke Irak untuk menggulingkan Saddam, menunjukkan jatidiri para penguasa AS. Mereka sama sekali tidak memikirkan apapun selain kepentingan mereka sendiri. Dalam Perang Teluk, misalnya, AS berbalik memusuhi Saddam dengan tujuan menekan negara-negara Teluk. Akibat perang Teluk, negara-negara Teluk banyak yang membeli senjata dari AS karena takut diserang Saddam. Kuwait pun dipaksa membiayai peralatan perang yang didatangkan AS. Semua itu menunjukkan bahwa AS sengaja mendorong Saddam menyerang Kuwait demi keuntungan pabrik-pabrik senjata milik AS.

Demi meraih keuntungan pribadi, para penguasa AS menggunakan berbagai macam cara, dan salah satunya, mencari sekutu seperti Saddam Husein. Saddam Husein yang dibutakan oleh hawa nafsu dan ambisinya, tunduk patuh melayani keinginan AS. Kemudian, setelah Saddam dianggap tidak berguna lagi, AS pun berusaha mencari simpati rakyat Irak dengan menggulingkannya. Namun, ketika situasi di Irak menjadi semakin tidak terkontrol oleh AS, AS pun melakukan langkah lain, dengan menuduh Iran di balik segala kekacauan di Irak. Eksekusi Saddam pun dimanfaatkan untuk menekan Iran. Saddam diposisikan sebagai pahlawan Arab dan dengan cara itu, sentimen antar mazhab dan anti Iran dibesar-besarkan. Melalui cara ini, AS berharap bisa terjadi perang saudara di Irak dan AS dengan mudah bisa menguasai negara itu. Namun, tentu saja, rakyat Irak dan opini dunia yang sadar dan waspada, tidak akan termakan propaganda AS ini.

referensi :
- http://indonesian.irib.ir/index.php?option=com_content&task=view&id=121&Itemid=27
- http://id.shvoong.com/books/biography/1868550-saddam-husein-jejak-langkah-singa/


Sumber: http://kolom-biografi.blogspot.com

Jumat, 21 Oktober 2011

Biografi Dahlan Iskan

Dahlan Iskan (lahir tanggal 17 Agustus 1951 di Magetan, Jawa Timur), dalam bukunya Ganti Hati ada cerita menarik tentang tanggal kelahiranya, Dahlan Iskan menuturkan bahwa tanggal tersebut dikarang sendiri oleh pak Dahlan karena pada waktu itu tidak ada catatan kapan dilahirkan dan orang tuanya juga tidak ingat tanggal kelahirannya. Dan kenapa pak Dahlan memilih tanggal 17 Agustus, karena bertepatan dengan tanggal kemerdekaan Indonesia dan supaya mudah diingat.

Dahlan kecil dibesarkan dilingkungan pedesaan dangan serba kekurangan, akan tetapi sangat kental akan suasana religiusnya. Ada cerita menarik yang saya baca pada buku beliau Ganti Hati yang menggambarkan betapa serba kekurangannya beliau ketika waktu kecil. Disitu diceritakan Dahlan kecil hanya memiliki satu celana pendek dan satu baju, tapi masih memiliki satu sarung!. Dan dengan joke-joke pak Dahlan yang segar beliau menceritakan kehebatan dari sarung yang dimiliki. Disini beliau menceritakan bahwa sarung bisa jadi apa saja. Mulai jadi alat ibadah, mencari rezeki, alat hiburan, fashion, kesehatan sampai menjadi alat untuk menakut-nakuti.

Kalau Dahlan kecil lagi mencuci baju, sarung bisa dikemulkan pada badan atasnya. Kalau lagi mencuci celana, sarung bisa dijadikan bawahan. Kalau lagi cari sisa-sisa panen kedelai sawah orang kaya, sarung itu bisa dijadikan karung. Kalau perut lagi lapar dan dirumah tidak ada makanan, sarung bisa diikatkan erat-erat dipinggang jadilah dia pengganjal perut yang andal. Kalau mau sholat jadilah dia benda yang penting unutk menghadap Tuhan. Kalau lagi kedinginan, jadilah dia selimut. Kalau sarung itu sobek masih bisa dijahit. Kalau ditempat jahitan itu robek lagi, masih bisa ditambal. Kalau tambalanya pun robek, sarung itu belum tentu akan pensiun. Masih bisa dirobek-robek lagi, bagian yang besar bisa digunakan sebagai sarung bantal dan bagian yang kecil bisa dijadikan popok bayi. Ada pelajaran yang bisa kita petik dari cerita beliau, bahwa apapun kondisi kita, baik kurang, cukup atau lebih kita harus tetap bersyukur, sabar dan harus menikmati semuanya dengan apa adanya.



Dahlan Iskan Bersama Jawa POS

Jawa Pos didirikan oleh The Chung Shen pada 1 Juli 1949 dengan nama Djawa Post. Saat itu The Chung Shen hanyalah seorang pegawai bagian iklan sebuah bioskop di Surabaya. Karena setiap hari dia harus memasang iklan bioskop di surat kabar, lama-lama ia tertarik untuk membuat surat kabar sendiri. Setelah sukses dengan Jawa Pos-nya, The Chung Shen mendirikan pula koran berbahasa Mandarin dan Belanda. Bisnis The Chung Shen di bidang surat kabar tidak selamanya mulus. Pada akhir tahun 1970-an, omzet Jawa Pos mengalami kemerosotan yang tajam. Tahun 1982, oplahnya hanya tinggal 6.800 eksemplar saja. Koran-korannya yang lain sudah lebih dulu pensiun. Ketika usianya menginjak 80 tahun, The Chung Shen akhirnya memutuskan untuk menjual Jawa Pos. Dia merasa tidak mampu lagi mengurus perusahaannya, sementara tiga orang anaknya lebih memilih tinggal di London, Inggris.
Pada tahun 1982, Eric FH Samola, waktu itu adalah Direktur Utama PT Grafiti Pers (penerbit majalah Tempo) mengambil alih Jawa Pos. Dengan manajemen baru, Eric mengangkat Dahlan Iskan, yang sebelumnya adalah Kepala Biro Tempo di Surabaya untuk memimpin Jawa Pos. Eric Samola kemudian meninggal dunia pada tahun 2000.

Karir Dahlan Iskan dimulai sebagai calon reporter sebuah surat kabar kecil di Samarinda (Kalimantan Timur) pada tahun 1975. Tahun 1976, ia menjadi wartawan majalah Tempo. Sejak tahun 1982, Dahlan Iskan memimpin surat kabar Jawa Pos hingga sekarang. Dahlan Iskan adalah sosok yang menjadikan Jawa Pos yang waktu itu hampir mati dengan oplah 6.000 ekslempar, dalam waktu 5 tahun menjadi surat kabar dengan oplah 300.000 eksemplar. Lima tahun kemudian terbentuk Jawa Pos News Network (JPNN), salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia, dimana memiliki lebih dari 80 surat kabar, tabloid, dan majalah, serta 40 jaringan percetakan di Indonesia. Pada tahun 1997 ia berhasil mendirikan Graha Pena, salah satu gedung pencakar langit di Surabaya, dan kemudian gedung serupa di Jakarta. Pada tahun 2002, ia mendirikan stasiun televisi lokal JTV di Surabaya, yang kemudian diikuti Batam TV di Batam dan Riau TV di Pekanbaru.

Sejak akhir 2009, Dahlan diangkat menjadi direktur utama PLN menggantikan Fahmi Mochtar yang dikritik karena selama kepemimpinannya banyak terjadi mati lampu di daerah Jakarta. [3][1] Selain sebagai pemimpin Grup Jawa Pos, Dahlan juga merupakan presiden direktur dari dua perusahaan pembangkit listrik swasta: PT Cahaya Fajar Kaltim di Kalimantan Timur dan PT Prima Electric Power di Surabaya.[1]

 
info-biografi.blogspot.com


Dahlan Iskan Sang Maestro Bertutur




Hanya dalam seminggu buku GANTI HATI karya Dahlan Iskan [56 tahun] habis terjual. Diterbitkan JP Books, buku 328 halaman ini memuat kisah ganti hati alias transplantasi lever Pak Dahlan, bos Grup Jawa Pos, di Tianjin, Tiongkok. Operasi besar yang mahal, tapi juga sangat riskan bagi pasien.

Sebetulnya naskah karangan khas [features] ini sudah dimuat secara bersambung di halaman satu Jawa Pos sebanyak 32 seri. Tapi pembaca tidak puas. Mereka ingin mengoleksi tulisan enak ala Pak Dahlan dalam bentuk buku. Dan itu yang bikin buku ini laku keras.

"Setelah baca di tulisan-tulisan Pak Dahlan di Jawa Pos, saya justru semakin ingin membeli bukunya," ujar Pak Syamsul. Ia datang jauh-jauh dari Jember 'hanya' untuk mendapatkan buku GANTI HATI di Graha Pena, markas Jawa Pos, Jalan Ahmad Yani 88 Surabaya.

Menurut Mashud Yunasa, pengelola JP Books, buku GANTI HATI awalnya dicetak 30 ribu kopi. Langsung habis dalam sepekan. Padahal, belum semua permintaan terpenuhi. Maka, buku itu dicetak lagi 20 ribu kopi. Habis lagi. Cetak lagi. Nah, awal tahun 2008 diperkirakan sudah cetak 100 ribu lebih. Bukan main!

"Di Indonesia buku best seller baru habis enam bulan. Itu pun paling-paling cetak 5.000," ujar Mashud Yunasa. Dus, bisa dikatakan bahwa buku yang diluncurkan pada November 2007 ini merupakan best seller di Indonesia. Bisa jadi paling fenomenal dalam sejarah perbukuan di Indonesia.

Apa yang menarik dari GANTI HATI? Cerita tentang repotnya dokter-dokter di Tianjin mengganti lever Pak Dahlan? Bagaimana keluarga Pak Dahlan dag-dig-dug mengikuti proses transplantasi? Bagaimana Pak Dahlan harus sangat sabar menunggu lever hingga masuk ke ruang operasi? Bisa jadi, semuanya benar. Pak Dahlan menguraikan semua itu secara runut, jernih, gamblang.

Deskripsi atau penggambaran Pak Dahlan--elemen paling penting dalam tulisan features--sangat sempurna. Sejak masih mahasiswa, saya menganggap tulisan-tulisan Pak Dahlan termasuk the best di Indonesia. Ayah dua anak ini [Azrul dan Isna] sangat piawai menggambarkan sesuatu dalam kata-kata. Ibarat persilatan, Pak Dahlan termasuk pendekar pilih tanding. "Seng ada lawan," kata orang Ambon.

Namanya juga pendekar di rimba silat jurnalisme, Pak Dahlan memperkenalkan gaya baru dalam penulisan biografi di Indonesia. Judul buku memang GANTI HATI, proses transplantasi, pascatransplantasi, dan pernak-perniknya. Namun, kalau disimak baik-baik, Dahlan Iskan ingin bercerita tentang siapa sebenarnya dia. Buku ini menjadi ajang bagi Dahlan Iskan untuk menulis dirinya sendiri. Membeberkan dirinya kepada publik.

Masa kecil di Takeran, Magetan. Keluarga yang sangat miskin [kemiskinan struktural, miskin ramai-ramai.] "Baju kami sekeluarga tidak lebih dari 10," tulis Pak Dahlan. Saking bersahajanya, Dahlan kecil tak beralas kaki saat sekolah. Maka, cita-citanya sederhana saja: ingin punya SEPATU meskipun rombengan.

Gambaran kemiskinan di Takeran, kampung halaman Pak Dahlan, mungkin dramatis buat teman-teman yang tinggal di kota besar. Tapi bagi orang-orang desa, apalagi di luar Jawa, apalagi di Flores, bukan hal yang luar biasa. Memang demikianlah wajah kemiskinan di kampung-kampung kita.

Baju sekeluarga tak sampai 10. Rumah lantai tanah. Dinding bambu, atap daun kelapa (atau alang-alang). Tak pernah makan daging. Sebutir telur dimakan lima atau enam orang. Sekolah tak pakai sandal, apalagi sepatu. Banyak orang meninggal dunia karena tak ada dokter dan rumah sakit.

"Ah, ceritanya Pak Dahlan kok macam kita di Flores ya," komentar Frans, pria asal Flores, yang kerja di sebuah pabrik di Sidoarjo.

Nah, di sinilah menurut saya benang merah yang hendak disampaikan Pak Dahlan Iskan dalam bukunya. Yakni, MOTIVASI untuk berubah. Motivasi untuk mengubah nasib ke arah yang lebih. Okelah, kita lahir di kampung pelosok, desa terpencil, orang tua sangat miskin, penuh kekurangan. Tapi jangan sekali-kali engkau tangisi kemiskinanmu. Engkau harus kerja keras, kerja keras, kerja keras.

Jangan lupa berdoa [di buku ini terungkap bahwa Dahlan Iskan itu santri yang sangat religius]! Sebab, Tuhan tidak akan mengubah nasib seseorang kalau orang itu sendiri tidak mau mengubahnya. Jika masa lalumu yang miskin itu dikelola, dijadikan motivasi, maka hasilnya luar biasa. Pak Dahlan, kita tahu, merupakan 'raja media' di Indonesia. Ia mengelola ratusan media, sekian puluh anak perusahaan, yang tersebar di seluruh Indonesia.

"Saya mulai membangun Jawa Pos dari sebuah koran yang hampir bangkrut. Saya harus bekerja sepanjang malam. Besoknya tidak pakai libur. Bahkan, sudah bekerja sejak pagi lagi. Sampai malam lagi. Begitu seterusnya. Tidak libur.

"Besoknya sepanjang malam lagi, sepanjang siang lagi dan sepanjang malam lagi. Tujuh hari seminggu, 30 hari sebulan, 350 hari setahun, dikurangi saat bepergian,"
tulis pria kelahiran 17 Agustus 1951 ini.

Oh, ya, mengenai tanggal lahir 17 Agustus ini ada cerita lucu di halaman 202 yang bikin anda tertawa-tawa. Ternyata, tanggal lahir itu dikarang sendiri oleh Pak Dahlan karena di Takeran tidak ada catatan kelahiran.

"Bagi saya, tidak tahu tanggal lahir tidak penting-penting amat. Saya putuskan sendiri saja: saya lahir tanggal 17 Agustus 1951," tulis Pak Dahlan. Hehehe....

Buku ini juga bernilai religius. Religiositas ala Dahlan Iskan, tentu saja. Di sepanjang tulisan-tulisannya Pak Dahlan 'menyusupkan' filosofinya tentang doa, Tuhan, hidup, umur manusia, kritiknya terhadap takhayul, serta pandangan-pandangan keagamaan yang picik. Ada muatan sekularisasi [harus dibedakan dengan sekularisme lho!] dan rasionalisasi paham keagamaan yang sangat kuat.

Saya terkesan dengan cerita tentang doa Pak Dahlan sebelum menjalani operasi cangkok hati pada 6 Agustus 2007. Pak Dahlan saat disorong memasuki ruang operasi mengaku belum sempat berdoa. Lalu, dia ingat, sebagai orang beriman, harus berdoa, apalagi menghadapi momen sangat krusial dalam hidupnya. Tapi doa apa?

"Saya tidak mau ada kesan bahwa saya sombong kepada Tuhan. Tapi, segera saja saya terlibat perdebatan dengan diri saya sendiri: harus mengajukan permintaan apa kepada Tuhan? Bukankah manusia cenderung minta apa saja kepada Tuhan sehingga terkesan dia malas berusaha?

"Saya tidak mau Tuhan mengejek saya sebagai orang yang bisanya hanya berdoa. Saya tidak mau Tuhan mengatakan kepada saya: Untuk apa kamu saya beri otak kalau sedikit-sedikit masih juga minta kepada-Ku?

"Karena itu, saya memutuskan tidak akan banyak-banyak mengajukan doa. Saya tidak mau serakah. Kalau saya minta-minta terus kepada Tuhan, kapan saya menggunakan pemberian Tuhan yang paling berharga itu: OTAK? Maka, saya putuskan akan berdoa sesimpel mungkin,"
papar Dahlan Iskan.

Singkat cerita, Pak Dahlan pun berdoa menjelang operasi. Doa pendek, cermin kepribadiannya. "Tuhan, terserah Engkau sajalah. Terjadilah yang harus terjadi...." tutur Pak Dahlan.

http://hurek.blogspot.com
 

Kamis, 18 Agustus 2011

"Dul van Gubug" Pendiri Agrakom (detik.com)

 
 
Kawan, berkembangnya dunia internet di tanah air yang kita nikmati sekarang ini ternyata tidak bisa dilepaskan dari peran wong Grobogan yang bernama Abdul Rahman. Kisah sukses Abdul Rahman yang berasal dari keluarga petani di Gubug itu telah dimuat di Majalah SWA edisi No. 21 bulan Oktober 2009 dan akan dipaparkan disini oleh pgy dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 2009. 

Sebenarnya banyak kiprah sukses pemuda-pemuda Grobogan.Kali ini Abdul Rahman yang dipilih. Pemuatan kisahnya hanya satu tujuan : Semoga memberi inspirasi bagi pemuda-pemudi Grobogan untuk tidak takut untuk bermimpi besar dan tidak pantang menyerah menghadapi keadaan dalam menggapai mimpinya itu. Kuncinya seperti cerita di bawah nanti adalah tekun belajar dan menyukai tantangan. Kita pasti bisa......


 
 
 
PERJALANAN MENDAKI “Dul van Gubug”

Walau lahir di desa dan dibesarkan di kota kecil, Abdul Rahman mampu mengibarkan diri jadi perintis bisnis modern dotcom di Indonesia. Bagaimana perjalanan sukses pendiri Agrakom ini?

“Wah, Mas Dul bakalan kaya.Liat aja nanti, umur 40-an ”. Abdul Rahman, yang dipanggil Mas Dul itu, Cuma senyum-senyum.Juga teman-teman lain yang diramal rezekinya bakal biasa-biasa saja.Mungkin karena ramal-meramal itu dilakukan di antara beberapa pitcher bir yang telah hampir tandas.Atau mungkin juga, karena peramalnya hanyalah rekan wartawan yang, pada sore di awal tahun 1990-an itu, santai bersama selepas tekanan deadline.

Belasan tahun kemudian, ketika di sebuah kafe di bilangan Pondok Indah diingatkan tentang ramalan tersebut, Mas Dul yang sama cuma bilang, “ Udah lupa.” Lagi pula, lanjutnya cepat, “Aku nggak percaya pada ramalan.”

Bagi AR, demikian Dul kerap disebut,segala sesuatu hanya layak dipercaya kalau dapat diterangkan dengan logika.Padahal, perjalanan sukses AR sendiri terbilang unbelievable. Lompatan yang dia lakukan kelewat besar. Dari segi “ geografi ”, lompatan tersebut dari kampung halaman di pelosok Jawa Tengah bernama Gubug ke perumahan elite Pondok Indah dan, dari segi karier, dari seorang yang tak punya pekerjaan tetap menjadi co-founder,co-owner sekaligus CEO bisnis dotcom terakbar di Indonesia yang terus berkembang pesat : PT Agranet Mulicitra Siberkom alias Agrakom.

Saat ini, AR menyebutkan,jumlah karyawan Agrakom sebanyak 300-an.“Masih kecil…”ujarnya.Lelaki yang hobi menyelam ini jelas merendah.Agrakom, kita tahu, tak lain adalah pemilik Detikcom, kampiun situs berita online.Sebab itu, bisa ditebak, mereka mendominasi pasar iklan internet di Tanah Air.Kalau Detikcom menggengam 30% pasar iklan dunia maya yang pada 2008 bernilai US$ 15-20 juta, ini perkiraan yang cukup konservatif dari bisnis ini saja Agrakom telah meraup pendapatan US$ 5-6 juta, atau Rp. 50-60 miliar.Ditambah pendapatan dari bisnis lain, Salah satunya ring-backtone, pada tahun lalu diperkirakan perusahaan mereka menangguk revenues Rp. 85-100 miliar.

Didirikan pada September 1995,Agrakom bermula dari pertemuan Dul dengan Didi Nugrohadi yang, bersama Winardi (dan seorang mitra lagi bernama Armin), telah menggeluti bisnis creative advertising sejak awal 1994.Memiliki jejaring yang cukup luas,terutama berkat (almarhum) Winardi, mantan fotografer Majalah Tempo dan Editor yang kenal dekat dengan banyak petinggi BUMN, perusahaan yang mereka besut,PT Agra Kreatif Indikom, telah cukup maju.

“Waktu itu kami punya uang cukup banyak,” tutur Didi. Namun Budiono Dharsono, yang bergabung dengan Agra setelah tabloid Detik tempat dia menjadi redaktur pelaksana dibredel pemerintah Soeharto, meyakinkanya, “Kita mesti berbisnis sesuatu yang bagus, yang baru dan orang lain belum punya.” Budiono inilah yang memperkenalkan Didi dengan Dul.Merasa cocok, Dul sepakat memperkenalkan orang-orang Agra dengan Internet yang pada waktu itu, awal 1995, masih baru. “ Bisnis Internet muncul dari Abdul, 100% Abdul,” ujar Didi.

Ketika merencanakan Agrakom, Dul yang Masih menjadi Redaktur Khusus SWA menepati posisi komisaris.Dan Agra, Didi dan Budiono bergabung dibisnis baru ini, sementara Winardi, lulusan Sekolah Tinggi Seni Rupa Asri yang tak begitu tertarik pada teknologi, menjalankan Agra. Untuk menangani masalah teknis, mereka merekut Yayan Sopyan, mantan wartawan Detik.

“Kami punya uang,“ tutur Didi. “Meski uang kami tidak banyak, kami pakai uang sendiri, sekitar Rp 200 juta.” Pada masa prakrisis 1997, dengan kurs Rp. 2500/US$, modal yang “tak banyak” itu cukup buat menyewa kantor kecil Stadion Lebak Bulus, membayar gaji 8 karyawan (termasuk dua programmer dan dua desainer) dan, terutama, membeli peranti lunak Internat yang di Indonesia masih langka.

Mulanya, Dul berpikir ingin membuat bisnis Internet service provider (ISP).Akan tetapi di era Orde Baru itu, perizinan yang memerlukan infrastruktur telekomunikasi ini sangat rumit. “Orang mengira dalam bisnis itu yang sulit adalah modal.” Ujarnya . “Menurut pengalaman, di sini yang rumit justru perizinan.”

Kendala perizinan tersebut, dan munculnya banyak ISP yang didukung perusahaan besar, memaksa Dul mencari bisnis alternative. Dia lalu menyadari bahwa Internet bukanlah tentang teknologi. “Jadi, dari awal aku melihat Internet adalah tentang komunikasi,“ ujarnya. Maka, diarahkannya Agrakom sebagai penyedia solusi komunikasi online. Waktu itu, kalangan ISP juga menyediakan jasa pembuatan situs Web, tetapi Agrakom-lah perusahaan pertama yang menjadi penyedia jasa desain situs Web murni.

Sebagai perusahaan dengan jasa desain sebagai bisnis inti,Agrakom tentu terdorong memberikan desain Web yang terbaik komunikatif, enak dilihat, dan mudah diakses.Tak heran kalau Dul dan kawan-kawan mampu mengalahkan para pesaing yang, karena bisnisnya yang berbasis teknologi, tak terlalu memahami visi para pengguna. “Mereka hanya bikin yang asal mudah diakses saja.” Ujarnya.

Pada 1995 itu, kebanyakan perusahaan belum merasa perlu menyajikan informasi di dunia maya dan baru kalangan media yang menjejakkan kaki kekanal komunikasi yang belum banyak dikenal itu.Sebab itu, tak mengherankan, Agrakom menetapkan Kompas, kampiun industri media massa di Indonesia, sebagai target pertama. Waktu itu, harian dengan tiras terbesar ini telah memiliki situs Web.Kenyataan bahwa mereka menerima desain situs baru yang ditawarkan Agrakom menunjukkan kejelian Dul memilih model bisnis.

Sukses dengan Kompas, raksasa media yang high profile itu, menarik media besar lain,termasuk Bisnis Indonesia dan Infobank, mengetuk pintu Agrakom.Setelah itu, dan sejalan dengan semakin populernya Internet sebagai media komunikasi bisnis, berdatangan pula perusahaan-perusahaan besar lain dari beragam industri menjadi klien Agrakom.Sebut saja Grup Ciputra,PT Timah (Persero) dan Oto Multiartha.

“Segala sesuatu hanya layak dipercaya kalau dapat diterangkan dengan logika.”

Alhasil, menurut catatan Kontan, dalam dua tahun Agrakom berhasil menangguk pendapatan US$ 800.000 (waktu itu sekitar Rp. 20 miliar).Sukses awal ini ditandai dengan pindahnya kantor Agrakom dari lantai 2 ke lantai 1 yang lebih luas, walau masih di gedung yang sama, Stadion Lebak Bulus, Jakarta Selatan, buat menampung karyawan yang telah bertambah 30-an.Perkembangan bisnis Agrakom yang cepat juga membuat pengusaha lain mencium peluang dan menjajakan jasa situs Web.

Kendati demikian, bukan persaingan yang mengeras yang membuat pendapatan Agrakom terjun bebas. Yang membuat mereka gonjang-ganjing adalah krisis moneter yang melanda Tanah Air pada Oktober 1997. Permintaan klien yang bisnisnya terpuruk untuk mengubah standar biaya dolar yang dikutip Agrakom menjadi rupiah membuat pendapatan menurun, sementara biaya terus membengka.Maka, perusahaan-perusahaan dotcom pun mulai bertumbangan.

Agrakom masih mampu bertahan, karena tertolong oleh jasa pemeliharaan situs Web yang masih terus dibayar oleh klien. “Mereka, para klien itu, tak mau situsnya mati begitu saja,“ ujar Dul.Hal lain yang menolong, Agrakom sempat mendiversifikasi bisnis dengan mendirikan perusahaan public relations.

Namun, order yang merosot drastis membuat banyak tenaga menganggur,tenaga terlatih yang waktu itu cukup langka sehingga sayang kalau dilepas.Maka, para petinggi Agrarom berupaya keras mencari terobosan. Terpikir oleh mereka untuk membangun situs Web milik Agrakom sendiri.Salah satunya, yang terpikir oleh Dul, situs dengan search engine seperti Yahoo! “Tapi, kalau search engine global, pasti nggak bisa bersaing dengan Yahoo!” ujarnya. Dan, Dul tak menemukan bentuk search engine global khusus (yang belakangan sukses melahirkan alibaba.com dan lain-lain di Cina, negeri dengan system informasi tertulis yang unit itu).

Akhirnya, kita tahu, Agrakom meluncurkan situs berita online, pada 8 Juli 1998. “ Ide itu bukan dari aku, melainkan Budiono dan Yayan,” ujar Dul sambil menghirup anggurnya. Budiono juga yang merancang dan mengupayakan namanya, mengambil nama tabloid yang pernah digawanginya : Detikcom.

Awalnya situs yang sejak awal dirancang selalu menampilkan breaking news yang selalu di update ini model CNN tetapi mengambil bentuk media tulis online mencari media yang telah ada sebagai mitra.Karena tak ada yang berminat, mereka merekrut tiga wartawan.

Lagi-lagi, langkah Agrakom tersebut mengundang masuknya pesaing.Bahkan pesaing itu, Astaga.com, menyerbu dengan otot capital yang lebih kuat.Didirikan oleh seorang ekspatriat yang telah memilik jejaring Internasional, astaga.com berhasil menarik modal ventura.Setelah itu Indo.com (e-commerce) dan Jatis (software house) juga berhasil membangun otot capital yang kuat dengan bantuan perusahaan modal ventura dan bank investasi Internasional senilai jutaan dolar AS.

Dari satu sisi, terlihat posisi Agrakom terjepit bak pelanduk di tengah kawanan gajah.Namun Dul justru melihat sebuah peluang : bisnis Dotcom Indonesia telah dilirik oleh pemodal Internasional.Optimisme ini bertambah setelah Detikcom mendapat pinangan dari media asing. “Tawaran itu aku tolak karena mereka mau ambil semuanya,” ujarnya.

Untuk mendapatkan modal yang tepat, Dul melakukan pencarian di Internet. “ Aku kirim e-mail ke beberapa perusahaan keuangan diluar negeri,“ tuturnya, “Baru, setelah ada kecocokan, aku dan Budi(ono) ketemu wakil dari Tech Pacific dari Hongkong, di Singapura.”

Dalam pertemuan pada November 1999 tersebut, Dul membeberkan bahwa Astaga.com berhasil menarik modal ventura US$ 7 JUTA. Artinya, valuasi Astaga.com pasti jauh diatas US$ 7 juta. Lalu, dia menawarkan 16,7% saham Agrakom senilai US$ 1 juta. Artinya, keseluruhan perusahaan yang menjadi perintis bisnis berita online dan telah memiliki situs Web yang terus di update hanya di valuasi US$ 6 juta, jauh lebih kecil dari valuasi Astaga.com yang belum punya produk.

“Pembicaraan hanya berlangsung beberapa menit,” tutur Dul. “Setelah syarat dipenuhi, mereka langsung teken kontrak kerja sama.” Syarat yang diajukan Tech Pacific? Sebagai jaminan bahwa Detikcom akan dijalankan dengan serius, Dul diharuskan in-charge penuh dalam manajemen Agrakom. Agaknya, orang-orang dari boutique distributor teknologi informasi yang didirikan di Melbourne pada1985 itu tahu betul bahwa otak dari Agrakom adalah Abdul Rahman. Didi, salah satu pendiri Agrakom, juga menandaskan peran sentral AR. “Kalau tidak ada Dul,” ujarnya dalam wawancara melalui telepon dengan SWA, “tidak akan ada Detikcom.” Dialah yang memperkenalkan Internet dan menyakinkan bahwa Internet adalah bisnis masa depan. Bahkan sejak awal, waktu Dul masih di SWA dan cuma ke kantor Agrakom di Lebak Bulus tiga kali seminggu, lanjut Didi, “Setiap pembuatan proposal selalu melibatkan dia. Kami selalu minta opininya.”

Memenuhi komitmen dengan Tech Pacific, pada 2000 Dul menanggalkan baju wartawannya dan menerima jabatan sebagai CEO. “Budi(ono) milih jadi Pemred Detikcom,” tuturnya.

Setelah itu, seperti kata orang, adalah sejarah.Agrakom merekut lebih banyak wartawan dan pada 2001 mulai membukukan laba setelah menderita kerugian kecil pada 1999.Dan sekarang setelah Winardi dan Amin serta Yayan dan Didi keluar, Calvin Lukmantara damn Mitsui masuk, Tech Pacific melepas saham Agrakom ke Tiger Fund Singapura dengan pendapatan menebus Rp. 100 miliar, laba agrakom tentu tak kecil lagi.

Dan laba ini akan terus menggelembung dengan membesarnya kue iklan online serta tumbuhnya produk Detikcom.Kue iklan online misalnya, nilai pasar US$ 15 juta sampai US$ 20 juta itu baru sekitar 0,5 % belanja iklan total. Jadi, kalaupun belanja iklan secara keseluruhan tak bisa tumbuh kelewat bongsor, masih sangat luas ruang bagi kue iklan online untuk mengembang.Sebai gambaran, kue iklan online di Amerika Serikat mencapai 18%. Tak mengherankan, Dul pun optimis, “Pendapatan iklan tahun ini akan tumbuh hamper 100 %.

Apa yang membuat Abdul Rahman, yang berasal dari keluarga petani di Gubug, sebuah kecamatan di pelosok Jawa Tengah yang diapait dua pegunungan kapur, begitu jeli menangkap peluang bisnis yang bahkan tak terdeteksi oleh radar orang-orang pintar dari kota besar? Kalau anda menebak karena Dul van gubug sangat cerdas dan suka tantangan, itu tak salah.Ismed Surachmad, psikolog yang pernah menjadi staf sumber daya manusia Tempo ketika Dul menjadi wartawan disana pada 1983-84, mengatakan bahwa Dul memiliki IQ tinggi. “ Dia, bersama Bambang Harymurti, sudah dijagokan menjadi pemred to be,“ ujarnya. Belakangan, Bambang terbukti menggantikan Goenawan Mohamad sebagai Pemimpin Redaksi Tempo.

Dul yang enggan menetap sebagai wartawan tentu saja tak menjadi pemred.Akan tetapi keputusannya, dan terutama keberaniannya untuk tidak terikat pada pekerjaan tetap, itu ikut menempatkannya pada posisi yang tepat ketika peluang datang.Dalam keadaan seperti ini, IQ Dul yang tinggi dan keberaniannya mencari tantangan jadi faktor penentu dalam menangkap peluang bisnis?

Sekali lagi, tak salah, tetapi juga seluruhnya betul, sebab Dul bukanlah satu-satunya wartawan yang cerdas, berani ambil resiko dan mau kerja keras. Banyak faktor yang membuat Dul siap ketika peluang datang dan faktor-faktor tersebut umumnya tak dapat dikontrol, bersifat kebetulan.

Lazimnya, tempat dan lingkungan kelahiran di daerah yang kelewat udik membuat orang terkungkung dalam tempurung keterbelakangan desa.Pada Dul, hal ini tak terjadi karena berkat fackor eksternal seperti itu.Di sekolahnya, satu-satunya SD negeri di Gubug, kebetulan dia memiliki seorang guru yang mampu membukakan cakrawala ke dunia luar. “ Namanya Pak Yadi, ” katanya tanpa menyembunyikan rasa syukur. “ Dia bukan cuma bagus ngajarnya, tapi juga membangkitkan semangat.”

Selain itu,faktor kedua dan yang tak kalah penting, desa yang minim fasilitas tersebut juga memungkinkan imajinasinya berkembang.Pasalnya, di dekat rumah ada taman bacaan, alias kios persewaan buku (umumnya komik dan novel) yang di kota besar semacam Jakarta marak pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, sehingga minat bacanya bisa tumbuh subur. “ Di situ aku mengenal buku-buku Kho Ping Hoo,” tuturnya.

Karena otaknya encer, kegetolan Dul kecil membaca bermacam-macam buku tak menghalangi prestasi sekolahnya.Pada 1971, dia lulus SD dengan nilai sempurna, seluruh mata pelajaran yang diujikan waktu itu Berhitung, Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam mendapat nilai 10.

Dul kecil meneruskan SMP di kota yang lebih besar, Kudus.Karena nilai kelulusan SD-nya yang bagus, dia tenang saja ketika didaftarkan di SMP negeri satu-satunya di Kota Keretek itu.Dia tak tahu, karena pindahan dari desa, dia ditempatkan sebagai cadangan. “ Waktu itu ibuku berjuang keras sampai aku dapat kelas, “ tuturnya dengan rasa haru.

Bagi seorang Dul, ibunya yang bernama Siri Muanah adalah segalanya. Memang, Dul juga bercerita tentang ayahnya, Muhammad Karamah, tetapi hanya yang terkait dengan hal-hal yang membuat ibunya menjadi pejuang yang hebat bagi anak-anaknya. “Kakekku orang Arab asli,” tuturnya. Sang kakek bercerai dari neneknya, anak seorang kepala desa di Gubug, ketika ayah Dul masih kecil. “Lalu nenekku itu kawin lagi dengan orang kaya di desa dan punya 2-3 anak lagi.”

Mendapat pendidikan yang cukup baik, Muhammad sempat jadi manajer di sebuah perusahaan rokok kecil. Namun, ayah Dul kemudian memutuskan jadi pedagang. Berpatungan dengan para pedagang tekstil di Solo, semua orang Arab, suatu hari sang ayah kebagian tugas kulakan. Hasilnya? Bangkrut. Karena, tutur Dul, “Gerbong yang mengangkut barang-barang yang dia beli dari Jakarta hilang.” Pada masa perang kemerdekaan itu, gerbong barang memang sering dijarah dalam perjalanan.

Muhammad pun lalu memboyongkan mudik keluarganya. Untungnya, ayah Dul pandai bergaul. Dia bisa main main bridge dan lancar berbahasa belanda maupun arab sehingga cepat akrab dengan pejabat desa dan para pedagang Cina. Hubungan dengan pedagang Cina itu, seorang pedagang beras, nantinya membantu sang ayah membeli lahan dan menata-ulang hidupnya sebagai petani.

Dalam keadaan terpuruk itulah, Siri sang ibu bermetamorfosis dari seorang ibu rumah tangga biasa menjadi pejuang yang gigih bagi anak-anaknya. “ Ibuku dari Kudus,” kata AR. Karena berasal dari daerah yang lebih maju perdagangan, bahkan industri, telah tumbuh dikota yang dekat dengan Demak, pusat kekuasaan baru setelah Majapahit runtuh pada awal abad ke 16 Siri memiliki ketrampilan lebih dibanding kaum perempuan Gubug. Maka, dituntut oleh keadaan, ibu tujuh anak itu lalu membuka usaha jahitan, kemudian juga sebuah toko pakaian kecil. “ waktu itu, jahitan kebaya ibuku dikenal sampai ke Purwodadi.”

Memiliki keberdayaan secara financial, Siri yang sadar pentingnya pendidikan mengirim semua anaknya ke Kudus selulus SD. Di kota itu, Dul dan saudara-saudaranya dititipkan ke neneknya. Kudus membuka lebih luas cakrawala berpikir Dul. Kota yang lebih besar tidak hanya menyediakan fasilitas pendidikan yang lebih baik, tetapi juga lingkungan yang lebih kompetitif, yang memaksa seorang anak berupaya lebih keras dan mengasah bakatnya mendekati batas. Dan Dul mendapatkan lebih dari yang bisa diharapkan dari sebuah kota kabupaten. Faktor plus itu adalah: “Aku ketemu Waskito.”

Pertemanan dengan Waskito ini layak disebut khusus karena teman SMP yang berasal dari keluarga relative kaya ini ayah Waskito yang petinggi Dinas Pertanian setempat menyediakan banyak buku dan kaset musik buat sang anak membukakan Dul akses pada hal yang hanya dapat dinikmati anak-anak yang beruntung di kota besar.Dengan sobat sebaya yang juga memiliki minat luas itu, tuturnya, “ Aku bisa diskusi filsafat, sastra, sejarah, geografi : dengar macam-macam musik, bikin komik…”

Keberuntungan Dul mendapat teman yang secara tak sengaja memperluas cakrawala pengetahuan berlanjut. Temannya di SMA, Nalini yang anak dokter, memungkinkannya melahap beragam buku dalam bahasa Inggris yang langka di sebuah kota kecil.

Alhasil berkat dua “sparing partner” yang luar biasa tersebut. Nalini sekarang dikenal sebagai dr.Nalini Muhdi SpKJ(K), dosen Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Cabang Surabaya Dul menjadi mahasiswa yang memiliki bekal yang jauh lebih banyak ketimbang kebanyakan mahasiswa, bahkan yang berasal dari kota besar.Apalagi, latih tanding intelektual dengan Waskito yang kuliah di Yogyakarta terus berlanjut (sampai penyakit yang tak diketahui sebabnya memaksa dia jebol kuliah dari FISIP Universitas Gajah Mada).

Pilihan Dul belajar di Jurusan Fisika F-MIPA UGM, bertentangan dengan keinginan orang tua yang ingin dia jadi insinyur, juga memberi keuntungan sendiri.

“Waktu itu aku mau yang aku senang aja,” ujarnya tentang alasan memilih kuliah di Fakultas yang “kering” itu.Pilihan yang senang-senang ini ternyata memperkenalkan Dul pada komputer pada usia yang cukup dini.Apalagi, dia mengambil spesialisasi fisika teori yang, karena melibatkan perhitungan-perhitungan rumit,mengharuskannya belajar pemrograman secara cukup mendalam.Keuntungan lain, atmosfer “Kampus Ndeso” yang egaliter memperkental gaya kasual dan informal Dul--gaya yang ternyata paling pas buat memimpin orang-orang kreatif di bisnis superkreatif semacam dotcom.Setelah menyabet predikat lulusan tercepat.

“Yang aku lakukan sekarang ini, menjadi kaya, bukanlah obsesiku.”
“Waktu aku lulus pada 1982, belum ada kakak kelas yang lulus…”Dul sempat ingin jadi dosen di almamaternya. Tetapi, keinginan ini langsung pupus begitu dia dihadapkan pada setumpuk formulir litsus (penelitian khusus oleh Orde Baru buat menyaring orang-orang yang kelewat kritis dari system pendidikan) yang harus diisi. “Aku jadi males,” ujarnya.

Kebetulan, Tempo dan IBM pasang iklan lowongan di kampus. Dul melamar dan diterima di dua perusahaan itu. Dia memilih jadi wartawan. Alasannya? “Aku ini agak gagap, sulit berkomunikasi (terutama) dengan orang baru,” katanya mengakui. “Dengan jadi wartawan, aku pikir akan bisa belajar mengatasi kelemahanku.”

Pilihan untuk “belajar berkomunikasi” ini konsisten. Sebelumnya, ketika memilih jadi dosen (yang juga mengharuskan keterampilan komunikasi yang baik), Dul juga pernah melepas peluang masuk ke Schlumberger, perusahaan ekplorasi tambang internasional yang menawarkan gaji jauh lebih besar.

Akan tetapi, kegandrungan Dul belajar hal-hal baru tak membuatnya bisa bertahan lama di Tempo. Belum genap setahun di majalah berita mingguan ini, dia mengundurkan diri pada awal 1984. “Aku waktu itu pengen mengerjakan sesuatu yang lain,” tuturnya, sesuatu yang agaknya menjadi obsesi besarnya sampai saat ini.

Dul enggan menceritakan obsesinya tersebut, tetapi selama dua-tiga bulan dia menggelandang dari satu ke lain perpustakaan dan tempat-tempat bersejarah. Uang yang menipis mungkin mendorongnya untuk balik lagi ke Tempo pada Maret 1984. Pada periode ke-2 Tempo ini dia, atas inisiatif sendiri, meringkas buku-buku menarik – termasuk biografi Albert Einstein dan Jenderal Besar Benitto Musolini – dan diserahkan kepada wartawan senior yang membawahkannya. Tulisan tersebut ternyata dimuat dalam rubrik Selingan Tempo.

Artinya, hanya dalam tempo setahun menjadi wartawan, tulisan Dul telah “layak Tempo.” Tuturnya: “Dulu wartawan Tempo perlu waktu tiga tahun sebelum tulisannya dimuat di situ…”Upaya ekstra membuat Dul menonjol. Namun, seperti kata Malcolm Gladwell dalam Outliers, diperlukan banyak keberuntungan untuk menjadikan seseorang luar biasa menonjol. Lingkungan (ibu, teman-teman) yang kebetulan kondusif telah memungkinkan Dul yang cerdas dan pekerja keras bekal yang cukup untuk untuk mempelajari hal-hal baru. Dan pada periode ke-2 Tempo itu, kebetulan lain menunggu. Ditempatkan satu ruangan dengan beberapa wartawan senior yang ditugaskan mempersiapkan kelahiran sebuah majalah bisnis baru, dia mendapat peluang ikut membantu kelahiran Swasembada.

Maka, ketika pada 1985 Dul hengkang lagi dari Tempo, dia ditawari masuk SWA. Kali ini dia betah karena SWA yang waktu itu terbit bulanan memberikan waktu luang lebih banyak? Tidak juga. Lagi-lagi dengan alasan “Aku pengen mengerjakan sesuatu yang lain”, Dul mengundurkan diri pada 1986, dan hanya bersedia jadi penulis paruh waktu.

Waktu itu industri pers telah melengkapi diri dengan PC sehingga Dul menyentuh computer lagi. Rutinitas rupanya membosankan Dul. Maka, ketika Zaim Uchrowi (mantan wartawan Tempo yang sekarang menjadi Direktur Utama Balai Pustaka) memintanya membantu membenahi Berita Buana yang waktu itu diambilalih Sutrisno Bachir (sekarang menjadi Ketua PAN), dia lompat kapal. Periode harian Berita Buana (1988-90) itu lalu diteruskan dengan periode majalah mingguan bisnis Prospek (1990-93). Kedua media ini memang kandas, tetapi memberikan Dul pengalaman berharga mengelola dan memimpin bisnis baru yang cukup besar – sebuah pelajaran yang tak ternilai harganya.

Ketika begabung lagi dengan SWA, masih Redaktur Khusus, cikal bakal internet telah tumbuh. Dul yang telah cukup lama memiliki PC (benda pintar ini, pada akhir 1980-an, termasuk barang mahal bagi kantong kebanyakan wartawan) di rumah, mulai berlangganan Bulletin Board Service (BBS),layanan online yang memungkinkan penggunanya mengisi dan mengambil file yang ada di dalamnya (dan lebih mahal lagi bagi kantong wartawan).

“Untuk bayar langganan CompuServe aja US$ 25/jam,” tuturnya. “Itu belum termasuk biaya telepon , karena koneksi melalui dialup dan lambat.” CompuServe, kita tahu, adalah Divisi Layanan Informasi milik AOL, yang merupakan perintis global bisnis online service provider dan ISP.

Dengan demikian,Dul termasuk satu dari sedikit orang di Indonesia yang sejak dini mengenal Internet dan pemrograman.Selain itu , walau tak bisa dikatakan muda dari segi usia-AR lahir pada 13 Januari 1959-Dul waktu itu tak menjadi pegawai tetap institusi bisnis mana pun sehingga, serupa tetapi tak sama dengan Bill Gates atau Steve Jobs yang belum terikat pekerjaan tetap, tak mempertaruhkan sesuatu yang kelewat besar untuk terjun ke bisnis baru yang belum teruji. Apalagi, mitranya juga juga tak keberatan kalau dia juga hanya menjadi komisaris yang ke kantor tiga kali seminggu.

Ada lagi fakor kebetulan yang memungkinkan Dul mencatatkan namanya sebagai perintis bisnis dotcom di Tanah Air? Ya. “Aku kebetulan jadi wartawan,” katanya. Kebetulan yang satu ini, menurut lelaki yang menjaga kesehatannya melalui diet rendah karbohidrat ini, memberinya tiga advantages.
“Aku nggak peduli orang mau ngomong apa, bahkan nggak merasa perlu membuktikan apapun kepada siapa pun bahwa aku bisa sukses.”


ABDUL RAHMAN

Pertama, karena profesi sebagai wartawan memungkinkan Dul mendapat informasi terbaru, dia bisa menangkap arti penting perkembangan teknologi Internet sejak sangat dini. Lead time ini, ditambah pemahamannya yang sangaat cukup bagus tentang pemrograman dan komputer, membuatnya dengan cepat menyadari peluang yang ditawarkan oleh revolusi teknologi yang ternyata sangat disruptif, mengubah total lanskap bisnis itu.

Kedua, jam terbangnya yang cukup tinggi (sekitar 12 tahun) sebagai wartawan, dan di berbagai media pula, bukan Cuma membuat Dul dapat mengatasi kegagapannya. Lebih dari itu, dia juga jadi punya insight bahwa Internet is about communication, not technology. Pendekatan ke arah komunikasi ini terbukti menjadi kunci sukses Agrakom.

Selain itu, ketiga, profesi wartawan juga memungkinkannya memiliki jejaring yang luas ke para petinggi bisnis. Dan, karena dia bekerja di media yang memegang teguh kehormatan profesi – Grup Tempo adalah satu dari sedikit media yang mengaharapkan “amplop” – Dul meyakinkan. “Aku confident menghadapi mereka, para petinggi bisnis yang menjadi calon klien.”

Hal lain yang memberikan Dul kelebihan? “Mungkin karena aku cuek,” ujar lelaki berkulit gelap ini. “Aku nggak peduli orang mau ngomong apa, bahkan nggak merasa perlu membuktikan apa pun kepada siapa pun bahwa aku bisa sukses.”

Kekayaan tampaknya tak mengubah banyak seorang Dul, kecuali mobilnya yang sekarang SUV Lexus, tempat tinggalnya yang dilengkapi kolam renang pondok Indah dan hobi barunya menengok kawanan ikan yang bersliweran di antara terumbu karang di habitat aslinya di lepas pantai Pulau Weh atau Raja Ampat. Seragamnya masih tetap sama – jins belel, kaos polo seadanya, sepatu sandal. Dia juga masih suka menikmati waktu senggangnya dengan aktivitas yang sama : minum bir di kafe sambil membaca The Economist.

“Yang aku lakukan sekarang ini, menjadi kaya, bukanlah obsesiku,” ujar Dul. Alasan ini saja agaknya cukup untuk membuatnya senyum-senyum, dan segera melupakan, ketika pada awal tahun 1990-an diramal bakal jadi kaya raya. Walau tak disampaikan secara eksplisit, dia agaknya lebih suka menjadi intelektual, pemikir atau bahkan saintis.

Kalau pertumbuhan bisnis Agrakom sesuai dengan yang diharapkan, dan Dul yakin akan demikian, pada 2012 perusahaan yang dipimpinnya akan cukup besar untuk menarik professional manajemen yang mumpuni buat membawa perintis bisnis dotcom itu ke tingkat selanjutnya. Saat itu, katanya dengan mata menerawang, “Aku bisa pensiun dan hanya mengerjakan hal-hal yang aku benar-benar suka…” 
 
Sumber: Facebook - Peduli Grobogan Yuk
 
Related Posts with Thumbnails