Raja Kertaneagara (1)
Kertanagara mungkin merupakan satu-satunya tokoh Nusantara yang
“terpaksa” harus dicatat dalam perjalanan sejarah dunia ketika berbicara
mengenai Mongol. Ia lah tokoh yang membuat Nusantara menjadi satu dari
dua kerajaan yang tidak pernah dapat ditaklukan hegemoni Mongol setelah
Jepang, meskipun kemudian jepang dalam beberapa tafsiran sejarah
dinyatakan melakukan pembayaran rutin (upeti) terhadap Mongol sehingga
Mongol kemudian tidak meneruskan ekspedisi penaklukannya ke Jepang.
Ekspedisi Pamalayu, otonomi daerah, merupakan beberapa kebijakan
yang menjadi terobosan pada masa pemerintahan Kertanagara.
Nagarakratagama/Desawarnana, menempatkan masa pemerintahan raja
Kertanagara kedalam sebuah pembahasan khusus. Kitab Pujasastra yang
digubah dizaman Hayam Wuruk ini menempatkannya sebagai seorang Yogin
sejati pengikut Tantrisme Subhuti. Ciri khas keagamaan Tantrisnya
melahirkan konsepsi religius sinkretis Hindhu-Buddha, yang menurut Prof.
Aminuddin Kasdi, yang dikutipnya dari pendapat Soekmono dan Krom,
sebagai Tantrisme Kalacakra. Tak ayal kemudian, konsep religius ini
mempengaruhi jalan kebijakan politik yang Kertanagara tempuh. Dibawah
ini, kami sajikan sebuah makalah yang mengungkap secara gamblang
mengenai seorang Kertanegara beserta pandangan Politiknya dan
pandangannya terhadap Agama.
Latar Belakang
Pemerintahan raja Kertanagara sangat menarik perhatian , karena
selama Kertanagara memegang pemerintahan, terjadi berbegai peristiwa
sejarah yang penting untuk diketahui. Pemberitaan peristiwa sejarah itu
pun kadang-kadang menimbulkan persoalan yang meminta pemecahan dari para
ahli sejarah karena penjelasan mengenai jalannya peristiwa masih gelap.
Demikianlah untuk memahami jalannya peristiwa sejarah dalam
pemerintahan raja Kertanagara, khususnya kita harus mencurahkan
perhatian sepenuhnya.
Peristiwa sejarah penting yang masih
simpang siur pemberitaannya, seperti ekspedisi Pamalayu atau perluasan
cakrawala mandala, pemberontakan dalam negeri, pergantian para wreddha
patih dan pengangkatan para yuwa patih, serta kejatuhan Kertanagara
sebagai akhir dari kekuasaan Singhasari atau dinasti Rajasa.
Tinjauan antropolitik, sosiokultural, dan religi sangat diperlukan demi
terangnya masa-masa peralihan dari Singhasari ke Majapahit ini.
Pemusatan kajian dan pendekatan antropologi tidak bisa dipungkiri
menjadi pilihan akhir dari metode penelitian atas pemerintahan
Kertanagara, khususnya sebagai bagian dari analisis mikro raja-raja
dinasti Rajasa. Atas dasar itulah makalah ini dibuat dengan judul,
Singhasari, Masa Keemasan Kertanagara dan Keruntuhan Dinasti Rajasa,
Analasis Antroreligi, Antropolitik, dan Sosiokultural atas Pemerintahan
Kertanagara.
Pemerintahan Kertanagara merupakan masa
keemasan Singhasari dan merupakan zaman lahirnya embrio gagasan
Nusantara berupa perluasan cakrawala mandala yang diwujudkan dalam
ekspedisi Pamalayu. Namun ironisnya, kemajuan disatu pihak beriringan
denga kemunduran dipihak lain yaitu, pemeberontakan Jayakatwang sebagai
titik didih perlawanan atas sikap ahangkara raja Kertanagara.
Peristiwa-peristiwa sejarah disekitar masa Kertanagara mengandung
paradoks yang melahirkan pertanyaan, jika demikian bagaimanakan kiranya
bila masa Kertanagara dikaji dari sudut pandang antropologi prespektif
religi antropolitik, dan sosiokultural berkaitan dengan kejatuhan
Singhasari?
Makalah ini terbatas membahas masa akhir
Singhasari terfokus pada masa pemerintahan Kartanagara ( 1254-1292 M)
dari prespektif antropologi. Dan terlepas dari kajian antropologi dari
prespektif ekonomi.
HISTORIOGRAFI MASA PEMERINTAHAN RAJA KERTANAGARA
Negarakretagama pupuh 41/3 menguraikan bahwa pada tahun 1176 Saka
(1254 M) Raja Wisnuwardhana menobatkan putranya. Segenap raja Janggala
dan Panjalu datang ke Tumapel untuk menghadiri upacara penobatan itu.
Setelah dinobatkan, putra mahkota mengambil nama abhiseka Sri
Kertanagara.
Uraian diatas seolah-oleh memberi kesan pada
tahun 1254 itu, Wisnuwardhana menyerahkan kekuasaannya kepada putranya
Kertanagara. Hal itu tidak benar karena dalam prasasti Mula-Malurung
dinyatakan dengan jelas bahwa pada tahun 1255 Wisnuwardhana masih
memerintah di Tumapel, sebagai raja agung yang menguasai Janggala dan
Panjalu. Raja Kertanagara dinobatkan di Daha sebagai raja bawahan atau
raja muda-yuwaraja. Berkat kelahirannya dari perkawinan Wisnuwardhana
dengan Permaisuri Waning Hyun, Kertanagara mempunyai kedudukan sebagai
raja mahkota, mengepalai raja-raja bawahan lainnya. Sebagai raja bawahan
yang memerintah Daha, ia mempunyai hak untuk mengeluarkan prasasti
diwilayahnya. Hal itu memang terjadi. Prasasti Pakis Wetan, bertarikh 8
Februari 1267, dikeluarkan oleh raja Kertanagara pada waktu raja
Wisnuwardhana masih hidup.[1] Baru sepeninggal raja Wisnuwardhana pada
tahun 1270[2], Kertanagara bertindak sebagai raja agung menguasai
Singhasari[3] dan Kediri seperti mendiang Wisnuardhana.
Kidung Panji Wijayakrama pupuh 1 menguraikan watak Sri Kertanagara, yang juga bergelar Siwa-Buddha,[4] seperi berikut:
“Raja
Kertanagara mempunyai mahamantri, bernama Mpu Raganata. Mpu Raganata
adalah orang baik, jujur dan pemberani. Tanpa tedeng aling-aling, ia
berani mengemukakan keberatan-keberatannya terhadap sikap dan pimpinan
sang Prabu. Hubungannya dengan Prabu Kertanagara disamakan dengan
hubungan Patih Sri Laksmikirana dengan Prabu Sri Cayapurusa dalam cerita
Singhalanggala. Juga patih Sri Laksmikirana bersikap jujur, berani
membantah dan mencela sikap sang Prabu Cayapurusa. Prabu Kertanagara
yang berwatak angkuh dan sadar akan kekuatan dan kekuasaannya
(ahangkara), menolak mentah-mentah pendapat dam keberatan Mpu Raganata
bahkam beliau menjadi muram lagi murka, seolah-olah disiram dengan
kejahatan, mendengar ujaran Mpu Raganata. Dengan serta merta Mpu
Raganata dipecat dari jabatannya, digantikan oleh Mahisa Anengah Panji
Angragani.”
Dalam Kidung Harasawijaya pupuh 1/28b sampai
30a, disebut dengan jelas bahwa Prabu Kertanagara melorot Mpu Raganata
dari kedudukannya sebagai patih amangkubhumi menjadi ramadhyaksa di
Tumapel. Mpu Raganata kecewa, tidak senang dengan pemerintahan Sang
Prabu. Dikatakan dalam kidung tersebut, asmu ewa sang mantri wrédha
rirehira sang ahulun. Wiraraja dilorot kedudukannya sebagai demung
menjadi adipati di Madura Timur. Ia tidak senang terhadap pemerintahan
Raja Kertanagara. Dikatakan, tan trepti rehing nagari arawat-rawat
kewuh. Tumenggung Wirekreti dilorot kedudukannya sebagai tumenggung
menjadi mantri angabhaya (menteri pembantu). Pujangga Santasemereti
meninggalkan Pura untuk bertapa di hutan. Pupuh 1/82a menguraikan bahwa
penurunan Wiraraja dari jabatan demung manjadi adipati sangat melukai
hati dan menimbulkan kemarahan. Dari percakapan antara Wirondaya dan
Raja Jayakatwang, dalam pupuh 2/16a-16b dengan jelas diceritakan, bahwa
sejak pemecatan para wreddha mantri dan pengangkatan yuwa mantri
(menteri muda) rakyat tidak senang terhadap sikap Sang Prabu
Kertanagara. Perbuatan itu menimbulkan kegelisahan dan kesenjangan
antara generasi tua zaman Wisnuwardhana yang masih hidup dengan generasi
muda zaman Kertanagara yang mendukung gagasan perluasan cakrawala
mandala.
Demikianlah sepeninggal Wisnuwardhana dan Bhatara
Narasinghamurti, Prabu Kertanagara segera mengadakan perubahan
besar-besaran dalam bidang administrasi untuk disesuaikan dengan
pelaksanaan politik ekspansinya. Para pembesar yang telah lama mengabdi
dalam pemerintahan Prabu Wisnuwardhana dan tidak dapat menyesuaikan diri
dengan politik baru yang akan dijalankan oleh Prabu Kertanagara,
disingkirkan dan diganti oleh tenaga-tenaga baru, yang menyetujui
gagasan politik Sang Prabu Kertanagara. Perubahan itu menimbulkan
kegelisahan diantara para pengawal dan rakyat.
Nama Mpu
Raganata tidak tercatat dalam prasasti Sarwadharma yang dikeluarkan pada
bulan Kartika tahun 1191 Saka (Oktober-November 1269). Pada prasasti
tersebut , yang tercatat ialah Patih Kebo Arema dan Sang Ramapati, yang
sangat dipuja sebagai penasehat politik sang prabu dalam mengadakan
hubungan dengan pembesar-pembesar di Madura dan Nusantara. Sang Ramapati
mengepalai kabinet menteri yang terdiri dari patih, demung, tumenggung,
rangga, dan kanuruhan. Melihat fungsinya dalam pemerintahan, kiranya
Sang Ramapati dalam prasasti Sarwadharma itu sama dengan Mpu Raganata
dalam Pararaton dan Kidung Harsawijaya ataupun Panji Wijayakrama.
Timbullah pemberontakan bersenjata yang mengejutkan Prabu
Kertanagara. Kidung Panji Wijayakrama pupuh 1 menyebut pemberontakan
Kelana Bhayangkara, dan Negarakretagama pupuh 41/4 pemberontakan
Cayaraja.[5] Pemberontakan-pemberontakan itu, meskipun akhirnya dapat
ditumpas, menghambat pelaksanaan gagasan politik perluasan wilayah.
Untuk dapat menngirim tentara ke seberang lautan, kekeruhan didalam
negeri harus diatasi dulu.
Pararaton, Kidung Panji
Wijayakrama, Kidung Harsawijaya, dan Negarakretagama pupuh 41, semuanya
menyebutkan pengiriman tentara Singhasari ke negeri Melayu
(Suwarbabhumi) pada tahun Saka 1187 (1275 M), lima tahun setelah
pecahnya pemberontakan Kelana Bhayangkara atau Cayaraja. Dalam Kidung
Harsawijaya, dinyatakan bahwa nasehat Raganata tentang pengiriman
tentara ke Suwarnabhumi ditolak oleh Prabu Kertanagara. Raganata
mengingatkan sang prabu tentang kemungkinan balas dendam Raja
Jayakatwang dari Kediri terhadap Singhasari, sebab Singhasari dalam
keadaan kosong akibat pengiriman tentara ke Suwarnabhumi. Prabu
Kertanagara berpendapat, raja bawahan Jayakatwang tidak akan memberontak
karena beliau berutang budi kepada sang prabu.[6] Jayakatwang adalah
bekas pengalasan (pegawai) keraton Singhasari, yang diangkat sebagai
raja bawahan di Kediri oleh Sri Kertanagara.[7] Gagasan pengiriman
tentara ke Suwarnabhumi dapat dukungan penuh dari Mahisa Anengah,
pengganti Raganata. Demikianlah diputuskan untuk mengirimkan tentara ke
Melayu. Keputusan itu dilaksanakan pada tahun 1275 M. Dalam sastra
sejarah Jawa kuno, ekpedisi ke Melayu itu biasa disebut Pamalayu atau
perang Malayu.[8] Ekspedisi ke Malayu berhasil baik. Tentara Singhasari
berhasil menundukkan raja Malayu, Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa di
Dharmasraya, yang berpusat di Jambi dan menguasai Selat Malaka. Terbukti
dari isi prasasti pada alas arca Amoghapasa dari Padangroco yang
dikeluarkan oleh Sri Kertanagara pada bulan Bharadhapada tahun Saka 1208
(Agustus-Sepetember 1286 M).[9] Bunyinya sebagai berikut:[10]
“Salam
bahagia! Pada tahun Saka 1208, bulan Bhadrapada, hari pertama bulan
naik, hari Mawulu, Wage, hari Kamis, wuku Madangkungan, letak raja
bintang di barat daya... tatkala itulah arca paduka Amoghapasa Lokeswara
dengan empat belas pengikut serta saptaratna-tujuh ratna permata,[11]
dibawa dari bumi Jawa ke Suwarnabhumi ditegakkan di Dharmasraya, sebagai
hadiah Sri Wiswarupa. Untuk tujuan tersebut, Sri Kertanagara
Wikramottunggadewa memerintahkan rakryan mahamantri Dyah Adwayabrahma,
rakryan sirikan Dyah Sugatabrahma, payanan Hyang Dipangkaradasa, rakryan
demung Wira, untuk menghantar paduka arca Amoghapasa.
Semoga
hadiah itu membuat gembira segenap penduduk negeri Malayu, termasuk para
brahmana, ksatria, waisya, sudra, dan terutama pusat segenap para arya,
Sri Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmadewa.”
Negarakretagama pupuh 41/5 menguraikan bahwa Prabu Kertanagara dengan
pengiriman tentara itu sebenarnya mengharapkan agar Raja Dharmasraya
tunduk begitu saja karena takut akan kesaktian sang prabu. Ekspedisi ke
negeri Malayu yang berjaya gilang-gemilang, mempunyai akibat yang sangat
buruk didalam negeri. Pada tahun 1280 M., timbul pemberontakan yang
dipimpin oleh Mahisa Rangkah[12] menurut pemberitaan Negarakretagama
pupuh 42/1. Pembesar-pembesar yang kena pecat, terutama adipati Wiraraja
di Sumenep, mendapat kesempatan baik untuk membalas dendam dan
melampiaskan kemarahannya kepada Sri Kertanagara. Ia menghasut raja
bawahan Jayakatwang dari Kediri yang berkuasa di Gelang-gelang untuk
memberontak dengan cara mengirim surat[13] pada tahun Saka 1214 atau
1292 M, seperti berikut:
“Patih memberitahukan kepada sang
prabu. Padukanata dapat disamakan dengan orang yang sedang berburu,
hendaklah waspada memilih saat dan tempat yang setepat-tepatnya.
Pergunakan saat yang sebaik-baiknya. Sekarang inilah saat yang paling
baik dan paling tepat. Tegal sedang tandus; tidak ada rumput, tidak ada
ilalang; daun-daun sedang gugur, berhamburan ketanah. Bukitnya
kecil-kecil, jurangnya tidak berbahaya, hanya didiami harimau yang sama
sekali tidak menakutkan. Tidak ada kerbau, sapi, dan rusa yang
bertanduk. Jika mereka sedang menyenggut, baiklah mereka diburu. Pasti
tidak berdaya. Satu-satunya harimau yang tinggal adalah harimau guguh,
sudah tua renta, yakni empu Raganata.”[14]
Dari surat
hasutan Wiraraja diatas, nyata bahwa Singhasari dalam keadaaan kosong.
Tidak ada lagi orang yang dapat dibanggakan. Raganata adalah
satu-satunya pembesar, yang terpandang sebagai pahlawan, namun ia sudah
tua renta, seperti harimau kawakan, yang tidak lagi bergigi. Meskipun
demikian, raja Kertanagara segan menyadari kenyataaan itu. Beliau berani
menolak permintaan Meng Khi, utusan Kaisar Cina Kubilai Khan, untuk
mengakui kekuasaan kaisar dan mengirim utusan ke Tiongkok dengan membawa
upeti sebagai tanda takluk.[15] Meng Ki dipahat dahinya dan disuruh
pulang.[16] Hinaan terhadap utusan Kaisar Tiongkok itu berlangsung pada
tahun 1289 M. Prabu Kertanagara segan tunduk kepada kemauan Kaisar
Kubilai, apalagi takluk kepada kekuasaanynya.
Setelah
Jayakatwang membaca surat Wiraraja, tahulah beliau akan makna ibarat
yang disuarkan oleh Wiraraja dan segera bertanya kepada Wirondaya,
tentang bagaimana keadaan Singhasari sebenarnya. Jawabnya, semenjak Raja
Kertanagara memegang tampuk pimpinan kenegaraan, segala nasihat Mpu
Raganata dan para wreddha menteri diabaikan. Para wreddha menteri
digeser dari kedudukan mereka dan diganti oleh menteri muda. Sang prabu
cenderung untuk menerima segala nasehat para menteri baru. Rakyat tidak
puas dengan sikap demikian. Jayakatwang lalu menyakan pendapat Patih
Mahisa Mundarang. Jawabnya; “Moyang Paduka, Prabu Dandang Gendis
(Kertajaya), binasa akibat pemberontakan anak petani Pangkur, Ni Ndok.
Itulah raja Singhasari yang pertama dan bergelar Raja Rajasa. Bala
tentara Kediri sirna bagai gunung disambar halilintar. Prabu Kertajaya
beserta bala tentaranya musnah karena tindakan Ken Arok. Kediri
karenanya dijajah Singhasari. Padukalah yang memiliki kewajiban
membangun kembali kerajaan Kediri dan membalas kekelahan Prabu Kertajaya
marhum!”
Setelah mendengar nasihat adipati Wiraraja dan
pendapat patih Mundarang, Raja Jayakatwang segera mengeluarkan perintah
menyerbu Singhasari. Jaran Guyang berangkat menyerang Singasari dari
jurusan utara, Patih Mahisa Mundarang menyerang dari selatan. Bala
tentara Daha dibawah pimpinan Jaran Guyang melintas sawah ke jurusan
utara; membawa kereta, bende, gong, dan tunggul, berhenti di desa
Mameling. Banyak orang desa yang ketakutan, lari mengungsi ke kota
Singasari. Yang berani melawan, menderita luka parah. Utusan dari
Mameling sudah sampai di istana melaporkan bahwa tentara Kediri telah
sampai di Mameling, namun Prabu Kertanagara tidak percaya. Baru setelah
menyaksikan sendiri para pengungsi mengalir ke kota, beliau percaya akan
kebenaran laporan, namun telah terlambat. Nararya Sangramawijaya dengan
bala tentaranya, yang tidak siap berperang, mendadak diperintahkan
berangkat ke Mameling untuk menanggulangi musuh.
Sementara
itu, Prabu Kertanagara tinggal di pura, mengenyam kenikmatan hidup,
seolah-olah tidak ada bahaya mengancam. Ditemui oleh Patih Angragani,
beliau terperanjat mendengan sorak bala tentara Daha di manguntur. [17]
Kidung Harsawijaya menguraikan bahwa adhyaksa Raganata dan menteri
angabhaya Wirakreti memberi nasehat kepada sang prabu demikian: “Adalah
haram bagi seorang raja mati terbunuh olehh tentara musuh dalam
keputrian. Lawanlah musuh yang datang menyerang!” Demikianlah raja
Kertanagara kali itu mengindahkan nasehat Mpu Raganata. Raja
Kertanagara, Panji Anggragani, Mpu Ragganata, dan Wikreti gugur dalam
perlawanan gigih melawan musuh, yang mendadak datang menyerbu kota
Singasari. Sejarah Singasari berakhir dengan mangkatnya Prabu
Kertanagara pada tahun 1292. Negarakretagama pupuh 43/5 mencatat bahwa
Sri Kertanagara pulang ke Jinalaya pada tahun Saka 1214 (1292 M) dan
diberi gelar “Yang Mulia di alam Siwa-Buddha.”
Versi
Negarakretagama dan Pararaton mengatakan bahwa Jayakatwang adalah raja
Kediri perlu dibetulkan karena menurut prasasti Mula-Malurung,
Jayakatwang adalah raja Gelang-Gelang berkat perkawinannya denga Nararya
Turukbali, putri Sang Prabu Seminingrat atau Wisnuwardhana. Yang
menjadi raja Kediri sejak tahun 1254 sampai 1292 ialah raja Kertanagara.
Jadi, serangan Jayakatwang terhadap Singasari pada tahun 1292
dilancarkan dari Gelang-Gelang;[18] bukan dari Kediri seperti diuraikan
dalam Pararaton dan Negarakretagama serta beberapa kidung. Prasasti
Mula-Malurung mengatakan dengan jelas bahwa Jayakatwang adalah kemenakan
Raja Seminingrat, jadi saudara sepupu dengan Sri Kertanagara. Baru
setelah berhasil memusnahkan Sri Kertanagara, menurut prasasti
Pananggungan, 1296, Jayakatwang menduduki ibokota Daha dan memerintah
Singasari sebagai negara bawahan. Kidung Harsawijaya berulang kali
menyebut Jayakatwang raja Kediri, sehingga utusan Bupati Wiraraja dari
Sumenep datang ke Kediri untuk memberitahu sang prabu supaya serangan
terhadap Singasari segera dilancarkan, kesempatan yang baik jangan
dibiarkan lewat. Mahisa Mundarang memberikan nasehat yang serupa dan
menyebut Jayakatwang sebaga keturunan Raja Kertajaya. Berdasarkan
prasasti Mula-Malurung, utusan Wiraraja itu dikirim ke Gelang-Gelang
tidak ke Kediri. Kidung Harasawijaya mengatakan bahwa Sri Kertanagara
tidak khawatir tentang akan adanya kemungkinan serangan dari Kediri,
karena ia percaya bahwa raja Jayakatwang tidak akan menyalahgunakan
kebaikan sang prabu, yang telah sudi mengangkatnya sebagai raja Kediri.
Uraian diatas tidak tepat, karena yang mengangkat Jayakatwang sebagai
raja ialah Nararya Seminingrat menurut prasasti Mula-Malurung. Lagi
pula, Jayakatwang tidak diangkat sebagai raja Kediri, melainkan sebagai
raja Gelang-Gelang. Seperti ditunjukkan diatas, baru pada tahun 1292,
Jayakatwang menjadi raja Kediri setelah menaklukkan Kertanagara.
(bersambung)
Sumber: http://amanahrakyatindonesia.blogspot.com