Jumat, 11 Februari 2011

Patung Sphinx, Bukti Arkeologis Bencana Nuh 13.000 tahun yang silam

  http://1.bp.blogspot.com/_fcDnqMsKe0I/SxOZwgIF-0I/AAAAAAAAAAU/A-5YHoNGBfc/s1600/riddle-of-the-sphinx-screen2-bf.jpg


Banyak Arkeologi bingung, mengapa Sphinx di Mesir menghadap ke arah barat daya (Southwest).
Padahal sudah kita pahami bersama, berdasarkan penelitian catatan-catatan mengenai Mesir kuno, melalui gambar-gambar yang terdapat pada piramid dan sphinx, diketahui bahwa penguasa yang membangun benda-benda itu, mendewakan Matahari.

Oleh karenanya, apabila kita imaginasikan wajah Sphinx menghadap ke arah ufuk timur, tempat terbitnya matahari, secara mengejutkan diperoleh fakta bahwa Mekkah ternyata berada di wilayah kutub utara.


Apa makna semua ini ?

Seorang cendikiawan muslim, ustadz Nazwar Syamsu menduga, pergeseran posisi menghadap pada Sphinx erat kaitannya dengan bencana maha dahsyat ribuan tahun yang silam, yang kita kenal sebagai bencana banjir Nuh (Sumber : Yuwie.Com).

Hal ini juga didukung oleh informasi Al Qur’an, yang menceritakan posisi Bakkah (Mekkah), berada di wilayah Utara (QS. Nuh (71) ayat 14), sebelum peristiwa bencana Nuh (Sumber : Sains dan Dakwah).

Sphinx, adalah patung singa bermuka manusia yang juga merupakan obyek penting dalam penelitian ilmuwan, tingginya 20 meter, panjang keseluruhan 73 meter, dianggap didirikan oleh kerajaan Firaun ke-4 yaitu Khafre.
Namun, melalui bekas yang dimakan karat (erosi) pada permukaan badan Sphinx, ilmuwan memperkirakan bahwa masa pembuatannya mungkin lebih awal, paling tidak 10 ribu tahun silam sebelum Masehi.
Seorang sarjana John Washeth juga berpendapat: Bahwa Piramida raksasa dan tetangga dekatnya yaitu Sphinx, jika dibandingkan dengan bangunan masa kerajaan ke-4 lainnya, sama sekali berbeda, Sphinx diperkirakan dibangun di masa yang lebih purba.

Dalam bukunya “Ular Angkasa“, John Washeth mengemukakan: perkembangan budaya Mesir mungkin bukan berasal dari daerah aliran sungai Nil, melainkan berasal dari budaya yang lebih awal.

Ahli ilmu pasti Swalle Rubich dalam “Ilmu Pengetahuan Kudus” menunjukkan: pada tahun 11.000 SM, Mesir pasti telah mempunyai sebuah budaya yang hebat. Pada saat itu Sphinx telah ada, hal ini bisa terlihat, pada bagian badan Sphinx yang jelas sekali ada bekas erosi. Diperkirakan akibat dari banjir dahsyat di tahun 11.000 SM.



Perkiraan erosi lainnya pada Sphinx adalah air hujan dan angin.
 

Washeth mengesampingkan dari kemungkinan air hujan, sebab selama 9.000 tahun di masa lalu dataran tinggi Jazirah, air hujan selalu tidak mencukupi, dan harus melacak kembali hingga tahun 10.000 SM baru ada cuaca buruk yang demikian.


Washeth juga mengesampingkan kemungkinan tererosi oleh angin, karena bangunan batu kapur lainnya pada masa kerajaan ke-4 malah tidak mengalami erosi yang sama. Dan bisa terlihat, pada tulisan berbentuk gajah dan prasasti peninggalan kerajaan kuno, dimana tidak ada sepotong batu pun yang mengalami erosi, separah Sphinx.

Profesor Universitas Boston, dan ahli dari segi batuan erosi Robert S. juga setuju dengan pandangan Washeth sekaligus menujukkan: Bahwa erosi yang dialami Sphinx, ada beberapa bagian yang kedalamannya mencapai 2 meter lebih, dan jelas sekali merupakan bekas setelah mengalami tiupan dan terpaan angin yang hebat selama ribuan tahun.
Washeth dan Robert S. juga menunjukkan: Teknologi bangsa Mesir kuno tidak mungkin dapat mengukir skala yang sedemikian besar di atas sebuah batu raksasa, produk seni yang tekniknya rumit.
Jika diamati secara keseluruhan, kita bisa menyimpulkan secara logis, bahwa pada masa purbakala, di atas tanah Mesir, pernah ada sebuah budaya yang sangat maju, namun karena adanya pergeseran lempengan bumi, daratan batu tenggelam di lautan, dan budaya yang sangat purba pada waktu itu akhirnya disingkirkan, meninggalkan piramida dan Sphinx dengan menggunakan teknologi bangunan yang sempurna.
Dalam jangka waktu yang panjang di dasar lautan, piramida raksasa dan Sphinx mengalami rendaman air dan pengikisan dalam waktu yang panjang.
Temuan ahli arkeologi, berkenaan dengan Sphinx nampaknya sejalan dengan temuan Geologi, yang memperkirakan pada sekitar masa 11.000 SM, pernah terjadi banjir global yang melanda bumi. (Sumber : Kapal Nabi Nuh, Misteri Sejarah Peradaban Manusia ).

Peristiwa banjir global inilah, yang menurut Ustadz H.M. Nur Abdurrahman, sebagai banjir di era Nabi Nuh. Yang sangat luar biasa, dan memusnahkan seluruh peradaban ketika itu, dan yang tersisa adalah mereka yang meyakini Syariat Allah, melalui utusanNya Nabi Nuh As.

Sumber: kanzunqalam.wordpress.com

Misteri Huruf Hieroglyph, Mengungkap Kisah Nabi Idris

Peradaban Mesir Purba telah ada, sebelum 70.000 tahun yang lalu. Hal tersebut didasarkan kepada penemuan naskah kuno di dalam Piramid Besar Khufu (Cheops) di Giza, yang mengatakan bahwa piramid dibangun ‘pada waktu gugusan bintang Lyra berada di rasi Cancer‘. Menurut sejarawan, Abu Said El Balchi, peristiwa tersebut terjadi pada sekitar 72.000 tahun sebelum Hijrah Nabi.

Pendirian Piramid, erat hubungannya dengan pemujaan bangsa Mesir purba terhadap Oziris (Osiris), yang dipercaya sebagai jelmaan Orion yang kemudian menjadi dewa kematian. Dalam relief-relief di piramida yang ditemukan, Oziris gambarkan sebagai dewa yang mengenakan mahkota putih tinggi. Lewat kesaktiannya, Oziris dengan mudah bisa membinasakan bumi dan isinya.
Masyarakat Mesir Purba juga percaya bahwa dewa-dewa di langit itu harus mempunyai persinggahan di bumi. Atas dasar latar belakang itulah, kemudian Kompleks Piramida Giza dibangun. Tentu karena untuk Oziris, maka arsitektur posisi tiap piramidanya dibuat sedemikian rupa agar mirip dengan posisi rasi bintangnya. Termasuk membangun penjaganya, yakni makhluk berbadan singa berkepala manusia (sumber : yuwie.com).


Oziris, sejatinya adalah Nabi Idris?


Syaikh Thanthawi Jauhari di dalam Tafsir Jawahir-nya menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan IDRIS ialah Oziris atau Azoris, dan kalimat Idris adalah ucapan nama itu dalam bahasa Arab. Serupa juga dengan Yesoa diucapkan dalam bahasa Arab dengan Isa; Yohannes diucapkan dalam bahasa Arab, Yahya.

http://www.akropola.org/App_Upload/Image/galerije/slike/EG_BO_Oziris-faraon-Horus_big.jpg Oziris

Menurut Syaikh Thanthawi, Oziris atau Idris ini seorang Nabi yang diutus Allah kepada bangsa Mesir purba kala dan membawa ajaran-ajaran dan perubahan yang besar-besar.
Di dalam sejarah Mesir Purba disebutkan bahwa Oziris (Idris) itu meninggal karena di bunuh oleh saudaranya sendiri karena dengki akan pengaruhnya yang besar. Lalu dipotong-potong badannya untuk dihancurkan. Tetapi sepotong dari badan itu dipelihara oleh isterinya dan dibalsem; pembalseman mayat itulah kelaknya yang menjadi kepandaian yang utama dari orang Mesir purbakala.
Syaikh Thanthawi menguraikan panjang lebar, bahwa di zaman purbakala bangsa Mesir itu di antara Kerajaan dengan agama adalah satu, sehingga Idris itu pun merangkap juga raja. Itulah sebab dia didengki oleh saudaranya. Namun setelah dia mati orang Mesir memuliakan sekalian jasanya yang besar- besar.
Kata dongeng mereka, setelah seorang raja besar atau orang besar mati, bersidanglah hakim-hakim 42 orang banyak anggotanya memusyawaratkan dan mempertimbangkan tentang kebaikan atau keburukan raja semasa hidup-nya. Rupanya kebaikan Oziris atau Idris itu lebih banyak dan lebih berat dari pada keburukannya; maka ditempatkanlah dia pada tempat yang amat tinggi dan agung di alam lain.

Sayid Quthub di dalam “Fi Zhilalil Quran“pun memberatkan pendapatnya kepada pendapat Syaikh Thanthawi Jauhari ini, bahwa besar kemungkinan bahwa Idris ialah Oziris yang ternama dalam Sejarah Mesir Purbakala itu.

Di dalam tafsir-tafsir yang lama sejak Thabari, ar-Razi, al-Qurthubi, Ibnu Katsir dan yang sezaman tidak bertemu kemungkinan Oziris itu, dan baru bertemu pada Tafsir Syaikh Thanthawi Jauhari pada sekitar tahun 1928, atau pada Tafsir Sayid Quthub selepas tahun 1955.

Hal ini dikarenakan, Ilmu hasil penyelidikan kebudayaan dan Peradaban Bangsa Mesir Kuno, yang dikenal dengan nama “Egyptologi” barulah tumbuh sejak permulaan Abad Kesembilan belas, sejak para sarjana dapat membuka kunci rahasia Huruf Hieroglyph, huruf bangsa Mesir Purba itu.

Dari hasil penyelidikan yang baru berusia 165 tahun itu-lah didapat ceritera tentang orang besar Mesir yang bernama Oziris itu. Dan ajaran-ajaran Oziris yang didapat dari huruf-huruf Kuno itu bertemu pokok ajaran Tauhid. Cuma setelah lama kemudian sepeninggal dia, setelah pada mulanya hakim-hakim mengakui bahwa jasanya sangat besar, maka beliau di tempatkan di tempat yang Maha Tinggi di alam lain, yang pada akhirnya dipertuhankan, dipuja dan disembah (Sumber : Tafsir Al Azhar).

Dengan mengkaitkan Nabi Idris sebagai Oziris, jika dilihat dari masa kehidupannya, diperoleh informasi sebagai berikut :
1. Nabi Adam
Diperkirakan masa kehidupannya, sebelum 200.000 tahun yang lalu, bahkan ada pendapat yang mengatakan beliau telah ada sejak jutaan tahun yang lalu (silahkan baca : Teori Darwin, Nabi Adam dan Piramid Giza dan MISTERI ARKEOLOGIS, di tengah PUING reruntuhan TEORI EVOLUSI).
2. Nabi Idris
Diperkirakan masa kehidupannya, sebelum 70.000 tahun yang lalu.
3. Nabi Nuh
Diperkirakan masa kehidupannya, sebelum 13.000 tahun yang lalu (silahkan baca : Patung Spinx, bukti arkeologis bencana Nuh 13.000 tahun yang silam dan Kapal Nabi Nuh, Misteri Sejarah Peradaban Manusia)

Pendapat yang mengatakan, sesungguhnya Nabi Idris adalah leluhur dari Nabi Nuh mungkin ada benarnya. Akan tetapi jarak diantara keduanya, bukan hanya 3 atau 4 generasi (seperti yang dipahami selama ini), melainkan telah mencapai jarak puluhan, bahkan mungkin ratusan generasi.

Dan ingatlah di dalam Kitab darihal Idris. Sesungguhnya dia adalah seorang yang sangat benar, lagi seorang Nabi” (QS. Maryam (19) ayat 56).

WaLlahu a’lamu bishshawab

Sumber: kanzunqalam.wordpress.com

Misteri Arkeologis dan Puing Keruntuhan Teori Evolusi

Di awal abad ke-21 ini, Kaum Evolusionis sedang menghadapi dilema yang sangat berat, yaitu mereka harus mengakui TEORI EVOLUSI telah RUNTUH, atau berkeyakinan KERA-KERA PURBA adalah Para PENAMBANG BESI, yang gemar MEMAHAT BATU.


Penemuan Kebudayaan Jutaan Tahun

Pada tahun 1865 di pertambangan Abbey Nevada USA, ditemukan dalam satu gumpalan bijih logam berbentuk skrup besi sepanjang 2 inci (= 5 cm). Benda hasil karya manusia ini, telah ber-oksidasi dan meninggalkan bentuk fosil, yang diperkirakan berusia jutaan tahun.

Penemuan Hasil Karya Manusia, yang usianya sangat tua juga ditemukan di beberapa tempat, diantaranya :
1. Di gurun Gobi juga ditemukan bekas tapak sepatu (sandal?) dan diperkirakan berumur beberapa juta tahun.
2. Di satu pertambangan di Peru ditemukan paku besi ter-benam dalam karang. Sebelum kedatangan orang-orang Spanyol ke Amerika, paku besi tidak dikenal. Fosil paku ini diperkirakan berusia jutaan tahun.
3. Di Desa Schondorf Austria di-temukan besi bentuk kubus (panjang dan lebar kurang dari 1 cm) di dalam gumpalan batu-bara yang pecah. Kubus ini beralur disekelilingnya dan tepi alurnya rata. Benda ini seolah – olah merupakan bagian dari peralatan mesin, dan diperkirakan ber-umur jutaan tahun.
4. Pada barisan-barisan karang yang ada di Amerika Utara dan Selatan ditemukan banyak petroglyph (pahatan/ukiran pada batu) yang memperlihatkan gambar-gambar dinosaurus.
5. Pada tahun 1924 Doheny Expedition menemukan petroglyph (pahatan) yang amat purba di Havasupai dekat Grand Canyon USA. Satu gambar memperlihatkan orang-orang menyerang mammoth (gajah purba). Gambar lain memperlihatkan seekor tyrennosaurus (kadal purba raksasa) sedang ber-diri bertumpu pada ekornya.
6. Petroglyph-petroglyph yang ditemukan sepanjang sungai Amazon serta anak-anak sungainya, memperlihatkan gambar-gambar binatang purba khususnya stegosaurus.
7. Tapak-tapak kaki dinosaurus ditemukan di dasar sungai Paluxy dekat Glen Rose Texas USA berdampingan dengan tapak-tapak kaki manusia.
Sumber : kaskus.us


 
Jejak kaki manusia yang berumur 3,6 juta tahun di Laetoli, Tanzania 
(harunyahya.com)


Temuan arkeologis berumur jutaan tahun ini, sekaligus meruntuhkan Teori Evolusi, yang selama ini dijadikan pedoman berkenaan dengan sejarah umat manusia :
Menurut perkiraan evolusionis, manusia modern saat ini bermula dari sesosok mahkluk mirip kera, yang disebut Australopithecus (hidup pada sekitar 4 juta tahun sampai dengan 1 juta tahun yang lalu).
Australopithecus adalah sejenis kera yang telah punah, dan mirip dengan kera masa kini. Volume tengkorak mereka adalah sama atau lebih kecil daripada simpanse saat ini. Terdapat bagian menonjol pada tangan dan kaki mereka yang mereka gunakan untuk memanjat pohon, persis seperti simpanse sekarang, dan kaki mereka terbentuk untuk mencengkeram dan bergelantung pada dahan pohon.

Yang membedakan mereka dengan kera, meskipun mereka memiliki anatomi sangat mirip kera, tetapi mereka bisa berjalan tegak.
Sumber : HarunYahya.com

Para pendukung Teori Evolusi Darwin, berkeyakinan pada sekitar 1 juta tahun yang lalu, nenek moyang manusia sama sekali belum berbudaya, mereka saat itu masih asyik bertengger di atas pohon-pohon, sambil sesekali turun ke tanah, untuk mencari biji-bijian yang bisa dimakan.

Dan ketika temuan arkeologis umat manusia, berumur jutaan tahun ditemukan…
Kaum Evolusionis hanya bisa terdiam seribu bahasa.

Dalam meng-analisis Misteri Kebudayaan, yang berumur jutaan tahun ini, setidaknya terdapat tiga pendapat, yaitu :
1. Peninggalan jutaan tahun tersebut, adalah berasal dari makhluk berakal, sebelum turunnya Nabi Adam (Diperkirakan kemunculan Nabi Adam, bersamaan dengan keberadaan, Homo Sapiens, pada sekitar 200.000 tahun yang silam). Makhluk sebelum Adam ini, memiliki tabiat suka berperang dan membuat kerusakan di bumi. Pendapat ini, didasarkan kepada dialog antara Allah dengan para malaikat, sebelum diciptakannya Nabi Adam :
Dan ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di muka Bumi. Malaikat berkata : mengapa Engkau hendak menjadikan di muka bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah. Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau. Tuhan mengatakan : Sesungguhnya Aku lebih tahu segala sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya” (QS. Al Baqarah (2) ayat 30).

2. Peninggalan jutaan tahun tersebut, sejatinya berasal dari Bani Adam, atau dengan kata lain, mereka berpendapat kehadiran Nabi Adam, sudah mencapai jutaan tahun lamanya. Hal ini semakin dipertegas dengan hadits yang menceritakan bahwa, tinggi dari Nabi Adam mencapai 60 Hasta atau sekitar 30 Meter (silahkan baca Teori Darwin, Nabi Adam dan Piramid Giza), dimana proses untuk menjadi keadaan manusia sekarang, dengan tinggi sekitar sekitar 1,5 m – 2,0 m, tentu diperlukan waktu yang sangat lama.

3. Peninggalan jutaan tahun tersebut ada yang berasal dari Bani Adam, yang sesungguhnya telah berbudaya selama jutaan tahun lamanya, akan tetapi ada juga yang berasal dari makhluk berakal sebelum Adam, sebagaimana yang disampaikan oleh para malaikat, sebagai makhluk yang gemar berbuat onar dan berperang.

Dari ketiga pendapat di atas, ada satu persamaan bahwa jarak dari masa kehidupan Nabi Adam hingga sampai kepada bencana Nuh, yang terjadi sekitar masa 11.000 SM (silahkan baca, Patung Spinx, bukti arkeologis bencana Nuh 13.000 tahun yang silam dan Kapal Nabi Nuh, Misteri Sejarah Peradaban Manusia), memiliki rentang waktu yang sangat lama, yakni mencapai ratusan ribu bahkan jutaan tahun.
Dengan demikian, adalah wajar, apabila ada pendapat yang mengatakan, sebelum terjadinya bencana global di masa Nabi Nuh, manusia sesungguhnya telah mencapai peradaban teknologi yang sangat tinggi.

WaLlahu a’lamu bishshawab

Sumber: kanzunqalam.wordpress.com

Kontroversi New7Wonders



Alasan "Lebay", Komitmen Pemerintah dan Kompetisi "Tandingan"

Tadi malam, saat membuka situs blog resmi  New 7 Wonder, saya sempat tersenyum-senyum sendiri didepan monitor komputer. Dalam artikel bertajuk “New7Wonders keeps Komodo, but removes Ministry of Culture and Tourism from official role” sang penyelenggara kompetisi New 7 Wonder itu menyatakan tetap mempertahankan voting Taman Nasional Komodo dalam ajang New 7 Wonder namun “memecat” Kementerian Kebudayaan Pariwisata (Kemenbudpar) sebagai Official Supporting Committee mereka.
Bernard Weber, President and Founder New 7 Wonder (N7W) dalam blog itu menyatakan :
“Every action by the Ministry of Culture and Tourism last week strengthened the case for us to withdraw from Indonesia completely. If we depended on the Ministry, then today we would be forced to announce a complete pull-out.”
“Fortunately, in the past days we have received many encouraging and supporting requests from the public and leading individuals to allow Komodo to continue as a Finalist in the Official New7Wonders of Nature”
“The main news today is this: with the removal of the Ministry of Culture and Tourism from its official role in the campaign, voting for Komodo can continue.“
Pernyataan Weber menurut saya sungguh aneh. Bagaimanapun sebagai pemangku otoritas dan regulasi dibidang kebijakan Kebudayaan dan Pariwisata di Indonesia, Kemenbudpar seyogyanya tetap menjadi mitra strategis yang paling pas untuk mereka dalam kompetisi ini.

Alasan mereka bahwa Kemenbudpar melakukan pengingkaran komitmen dengan menolak Indonesia menjadi tuan rumah deklarasi New 7 Wonder yang turut menjadi dasar pemikiran perusahaan asal Swiss ini mengeluarkan Kemenbudpar sebagai mitra kepanitiaan resmi , sungguh sangat menggelikan dan kekanak-kanakan.

Dalam siaran pers resmi yang dikeluarkan oleh Kemenbudpar kemarin (7/2), Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik secara jelas menyatakan:
”Pemerintah Indonesia tidak pernah membuat perjanjian dengan pihak penyelenggara N7W maupun pihak lain, di luar kesepakatan yang telah tercantum dalam Standard Participation Agreement”
”Pemerintah Indonesia menilai N7W bertindak terlalu jauh dan tidak masuk akal, dengan mengaitkan status TNK sebagai finalis N7W dengan tawaran menjadi tuan rumah untuk acara pengumuman pemenang. Untuk menjadi tuan rumah acara tersebut Pemerintah harus membayar pembayaran license fee sebesar USD10 juta. Biaya tersebut belum termasuk biaya penyelenggaraan acara seperti biaya produksi, tempat acara serta lain-lain yang secara total bisa mencapai USD45 juta. Pemerintah menganggap pemilihan finalis New7Wonders seharusnya didasarkan atas aspek keunikan dan besarnya dukungan masyarakat dunia, bukan atas persyaratan pembayaran uang jasa sebagai tuan rumah yang bernilai jutaan dolar,”
Menteri juga menegaskan bahwa Pemerintah Indonesia telah memenuhi seluruh persyaratan penominasian, yakni dengan memberikan dukungan resmi pada tiga nominasi dari Indonesia; (1) Taman Nasional Komodo, (2) Danau Toba dan (3) Anak Gunung Krakatau, pada Agustus 2008 silam, serta mendaftarkan diri sebagai Official Supporting Committee dan mengisi “Standard Participation Agreement” yang menetapkan Pemerintah, antara lain, untuk memenuhi kewajiban administrasi sebesar USD199 untuk masing-masing nominasi dari Indonesia.

Fakta-fakta diatas menyebutkan bahwa sesungguhnya Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kemenbudpar telah mengikuti prosedur standar yang telah ditetapkan. Tidak ada pengingkaran karena memang segala kewajiban administratif telah terpenuhi dan sejauh ini pemerintah tidak terlibat dalam pembicaraan bersama konsorsium swasta sebagaimana yang kerap disebut-sebut oleh N7W.

Dari penjelasan Menbudpar diatas, semakin terlihat jelas faktor uang yang berada dibalik ajang New 7 Wonder ini. Perusahaan swasta asal Swiss itu berusaha menampilkan “pencitraan” yang rapi dengan publikasi menawan bahwa seakan-akan, ada dukungan dan desakan publik untuk tetap mempertahankan TN Komodo dalam daftar nominasi N7W ini. Alasan “lebay” yang dikemukakan itu sesungguhnya untuk menutupi hasrat besar untuk memanfaatkan potensi raksasa yang dimiliki Indonesia untuk memperoleh keuntungan.

Dengan mencoret TN Komodo dalam nominasi tentu akan begitu besar potensi penghasilan yang lenyap dan dapat diraup oleh perusahaan ini. Indonesia, dengan jumlah populasi 238 juta jiwa dan berada pada peringkat keempat penduduk terbanyak didunia, mengalami pertumbuhan spektakuler dalam hal penggunaan internet dan aktifitas online selain terkenal memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi .

Seperti dikutip dari berita di Kompas.com Indonesia menempati urutan pertumbuhan tercepat kedua di dunia dari sisi jumlah pengguna Facebook. Indonesia hanya kalah dari AS yang juga merupakan pengguna Facebok terbanyak di dunia.

Berdasarkan survei Inside Facebook yang dilakukan eMarketer, jumlah pengguna Facebook di Indonesia naik 1.431.160 juta pengguna dalam sebulan terakhir. Pada 1 Desember 2009, e-marketer mencatat jumlah pengguna Facebook di Indonesia 13.870.120 pengguna, sedangkan pada 1 Januari 2010 sebesar 15.301.280 pengguna. Indonesia hanya satu peringkat di bawah AS yang mencatat kenaikan jumlah pengguna 4.576.220 pengguna dalam periode yang sama dari 98.105.020 menjadi 102.681.240 pengguna.
Meski demikian, persentase kenaikan jumlah pengguna Facebook di Indonesia mencapai dua kali lipat AS. Indonesia naik 10 persen, sedangkan AS hanya 5 persen. Kenaikan 10 persen termasuk persentase pertumbuhan tertinggi di dunia. Selain Indonesia, beberapa negara yang mencapai kenaikan dengan persentase 10 persen antara lain Filipina dan Malaysia.
Fakta yang lain, seperti dikutip dari detik, Indonesia adalah pengguna Twitter kedua terbesar di dunia setelah Brasil berdasarkan lembaga pemeringkat Comscore. dengan persentase sebesar 20,5 %. Penetrasi mobile internet yang begitu cepat dan murah kian menambah intensitas pengguna aksesnya di Indonesia.
Pertimbangan ini tentu saja tidak diabaikan oleh N7W untuk menggugah dan memicu sentimen nasionalisme bangsa ini guna meraup benefit sebanyak-banyaknya melalui voting online dalam ajang kompetisi N7W dengan tetap mempertahankan Taman Nasional Komodo dalam N7W.

Pemerintah Indonesia, dengan atau tanpa N7W, tetap akan berkomitmen mempromosikan TNK, sebagai warisan dunia yang telah ditetapkan oleh UNESCO pada tahun 1991 dan perlu dilindungi serta dijaga kelestariannya. Keikutsertaan TNK dalam N7W tersebut tentu dilakukan untuk lebih mempopulerkan pengakuan TNK sebagai Situs Warisan Dunia.

Saya sangat mengapresiasi niat Mas Keke (atau Riyeke Ustadiyanto, SEO Creative Director Marketbiz.net) dan kawan-kawan yang menggagas Kompetisi SEO Komodo Contest di www.contest.comodo.me. yang dapat menjadi semacam “tandingan” atas kompetisi ini.

Melihat polemik dari Pulau Komodo sebagai New 7 Wonders (7 Kejaiban Dunia Baru), maka kita buktikan saja, bahwa memang saatnya mengatakan sebenarnya ke khalayak dunia di Google dan Search Engine lainnya, merupakan kewajiban kita semua.
Kami mengajak Anda semua untuk mengatakan dan menyuarakan bahwa Pulau Komodo adalah 7 Keajaiban Dunia sebenarnya. SEO Contest ini tidak dilatarbelakangi oleh politik, kepentingan dan murni apa yang harus dikatakan pada dunia.
Kata kunci yang di lombakan adalah “Komodo Island is the NEW 7 Wonders of  The World”
Sebuah niat yang luhur yang patut didukung. Semoga aksi nyata mewujudkan impian “Komodo Island is the NEW 7 Wonders of The World” yang digagas lewat kompetisi ini dapat terwujud nyata dan menunjukkan pada dunia bahwa Taman Nasional Komodo memang layak menyandang predikat ini tanpa harus tergantung pada kompetisi N7W yang sarat kepentingan dan unsur komersil.


Sumber: daengbattala.com

New7Woders dan Kotroversi yang Menyertainya


Komodo (sumber : Kompas.com)


Menarik sekali membaca blog Mas Priyadi yang membahas soal Fakta-Fakta di Balik New 7 Wonders yang digagas oleh sebuah perusahaan privat di Swiss untuk melakukan pemilihan 7 keajaiban dunia baru yang dilaksanakan melalui kontes popularitas online berskala global. Taman Nasional Komodo terpilih menjadi salah satu finalis dari 28 negara untuk menjadi salah satu kandidat pemenang dalam ajang ini.


Dan situasi mendadak “memanas” ketika hari ini diberitakan nominasi Indonesia terancam di-elimninasi dalam kompetisi terkait ketidaksiapan menjadi tuan rumah deklarasi yang akan diadakan tanggal 11 November 2011. Tak kurang pengacara kondang Todung Mulya Lubis yang juga Ketua Masyarakat Transparansi Indonesia ditunjuk oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) sebagai pengacara untuk menghadapi situasi ini. Alasan eliminasi dari nominasi hanya karena Indonesia tidak bersedia menjadi tuan rumah (hosting) deklarasi sungguh tidak adil setelah mekanisme voting itu sendiri dilaksanakan sejak 2008.
Seperti yang saya kutip dari Kompas.com, Direktur Jenderal Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kembudpar) Sapta Nirwandar menyatakan:
“Kita minta keadilan, voting dari 2008 masa hilang karena gak mau hostingHormatin dong voting dari tahun 2008. Ini voting kan bukan hanya dari orang Indonesia, tetapi juga luar negeri,” kata Sapta kepada Kompas.com via telepon, Jumat (4/2/2011).
Namun, Sapta mengakui bahwa di perjanjian umum pada saat mendaftar terdapat klausa yang menyatakan bahwa pihak New7Wonders berhak mengeliminasi apabila tidak sesuai dengan ketentuan. “Tapi itu kan kalau punya dosa. Ini dosanya apa?” ucapnya.
Sapta menuturkan bahwa eliminasi jelas dikaitkan dengan posisi Indonesia sebagai tuan rumah. Sapta menambahkan, Indonesia tidak ikut jadi tuan rumah karena tidak siap dengan kondisi biaya. “Kalau dia (New7Wonders) mau eliminasi, eliminasi Indonesia yang tidak sanggup jadi host. Ini kita yang dieliminasi Komodo yang jadi finalis. Mestinya profesional,” katanya.
Pihak New7Wonders memang telah melakukan kontrak dengan sebuah konsorsium swasta di Indonesia. Sapta mengatakan, pihaknya tidak pernah tahu ada kontrak tersebut. Selama ini, ia melanjutkan, pihak Kembudpar baru sebatas mengadakan pembicaraan saja mengenai ketertarikan menjadi tuan rumah dan sama sekali belum terikat kontrak dengan New7Wonders.

Dalam sebuah berita di Kompas.com hari ini dipaparkan pula,
Gugatan kepada New 7 Wonder akan dilayangkan melalui pengacara Todung Mulya Lubis. Surat tersebut juga akan ditembuskan kepada 27 finalis New7Wonders lainnya.
“Todung mengirim surat mengenai masalah ini ke pihak New7Wonders. Tahap pertama nanti kita lihat dulu reaksinya,” kata Direktur Jenderal Pemasaran Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kembudpar) Sapta Nirwandar kepada Kompas.com via telepon, Jumat (4/2/2011).
Dalam surat Menbudpar Jero Wacik yang ditujukan kepada Wakil Presiden Boediono perihal “The Truth Behind N7W: Konsistensi, Kredibilitas, dan Kehormatan Bangsa”, Kembudpar telah menyiapkan langkah-langkah dari aspek hukum dan sosial masyarakat.
Dari aspek hukum, Kembudpar telah berkonsultasi dengan Todung selaku pengacara. Selain itu, Kembudpar juga belum pernah menandatangani perjanjian sebagai tuan rumah penyelenggaraan deklarasi New7Wonders. Langkah yang akan diambil Kembudpar adalah menyampaikan surat pengunduran diri dari minat menjadi tuan rumah.

Sementara itu, pada berita di Tempo Interaktif, Sapta mengungkapkan:
Ancaman Yayasan New7Wonders (N7W) yang bakal mengeliminasi Komodo dari nominasi tujuh keajaiban baru dunia, sangat merugikan Indonesia.
Yayasan internasional itu menyatakan akan mengeliminasi Komodo jika pemerintah dan konsorsium swasta tidak memenuhi landasan hukum yang disepakati. Namun, pemerintah membantah adanya kontrak dengan N7W tentang penunjukkan Indonesia sebagai tuan rumah deklarasi kompetisi pada 11 November mendatang.
Menurut Sapta, saat ini masyarakat luas baik dalam maupun luar negeri sudah memberikan suaranya untuk memilih Komodo. “Tentu jika komodo dieliminasi akan mengecewakan para pemilihnya,” kata Sapta.
Kekecewaan itu, kata Sapta, saat ini sudah mulai terasa. Salah satunya di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT). Masyarakat NTT, kata Sapta, mengusulkan agar pemerintah membuat kompetisi tandingan untuk menampung suara yang sudah terkumpul bagi Komodo. “Tapi kami belum menindaklanjuti usul tersebut.”

Pada Blog “Save Komodo” (yang nampaknya menjadi “corong” informasi New7Wonder) , atas nama “anak bangsa” secara “heroik” menyebutkan:
Kini setelah memasuki tahun kedua, Komodo terancam dicopot dari nominasinya. Mengapa? Karena barangkali kita semua terlalu cuek dan kurang cerdas memanfaatkan peluang besar ini dan seringkali juga kurang cermat bergaul dengan masyarakat internasional.
Yayasan N7W di Zurich yang bertindak sebagai pemrakarsa dan pemilik hak penyelenggaraan sebenarnya sudah menetapkan dan memilih Indonesia sebagai tempat penyelenggaraan Deklarasi dan Penganugerahan 7 Keajaiban Alam Yang Baru pada tanggal 11 Nopember 2011. Indonesia dipilih karena selain banyak keanekaragaman hayatinya, juga karena masyarakatnya yang ramah serta terlah berkali-kali sukses menyelenggaraan berbagai pertemuan dan festival internasional. Dan yang paling penting lagi adalah azas demokrasi di Indonesia sangat luar biasa. New7Wonders adalah 100% pilihan masyarakat dan rakyat dunia bukan pilihan pemerintah atau lembaga pemerintah. Jadi azas demokrasi adalah tulang punggung dari eksistensi dan kompetisi ini. Indonesia telah menjadi raksasa demokrasi dunia.

Sejak Komodo ditetapkan sebagai finalis 7 Kejaiban Alam Dunia, pemerintah sadar bahwa untuk bersaing dengan calon keajaiban alam dunia lainnya seperti Amazone, Great Barrier Reefs, Grand Canyon, Kilimanjaro dan Sundhaban yang memiliki dukungan milyaran masyarakatnya tidak mudah. Oleh karena itu maka dibutuhkan strategi khusus untuk tampil dan menang sebagai salah satu keajaiban alam dunia yang baru. Strategi ini diwujudkan dalam keinginan pemerintah untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan Deklarasi dan Penganugerahan Pemenang 7 Keajaiban Alam Dunia yang baru. Keingingan ini sudah berkali-kali disampaikan kepada masyarakat dan Yayasan N7W. Bahkan pada awal tahun 2010 yang lalu, Kemenbudpar selaku pemrakarsa ide ini telah mengundang pihak N7W dating ke Jakarta untuk memberi saran dan masukan bagaimana agar Komodo menang dan Indonesia menjadi tuan rumah Penganugerahan dimaksud. Berkali-kali N7W datang ke Jakarta untuk meninjau dan memastikan bahwa Jakarta, Indonesia pantas menjadi tuan rumah. Pemerintah sangat antusias. Bahkan rancangan Keputusan Presiden tentang Panitia Nasional Vote Komodo dan rencana menjadi tuan rumah sudah diajukan sejak pertengahan Januari 2010.
Pada bagian lain, situs ini juga menceritakan kronologis peristiwa hingga Taman Nasional Komodo terancam dieliminasi dari nominasi 7 New Wonders.

Sore tadi saat saya ikut hadir dalam sebuah pertemuan informal bersama sejumlah perwakilan rekan blogger dari berbagai komunitas bersama Kemenbudpar yang di-inisiasi oleh IDBlognetwork. Saya sedikit banyak mendapatkan pencerahan soal kontraversi yang terjadi soal New 7 Wonders ini.
Berikut catatan saya:
1.  Merujuk pada situs blog resmi New 7 Wonder disebutkan angka yang cukup fantastis untuk lisensi fee penyelenggaraan event deklarasi sebesar US$ 10 Juta (Rp 100 Milyar) yang konon telah secara legal ditandatangani dalam kontrak bersama New 7 Wonders dengan “Private Consorsium” (Tidak jelas ini “private consorsium” apa, istilah yang sama disebut Pak Sapta pada awal kutipan artikel diatas dengan istilah sebagai “konsorsium swasta”) .
Bagi saya angka Rp 100 Milyar bukanlah sebuah nilai yang sedikit dan banyak yang bisa dilakukan untuk dunia pariwisata di Indonesia dengan uang sebesar itu ketimbang untuk sebuah perhelatan deklarasi gelar “7 New Wonder” yang terkesan seremonial belaka. Nilai itu bisa lebih besar lagi bila ditambahkan biaya penyelenggaraannya sendiri (konon dapat mencapai US$ 35 juta). Saya sempat tersenyum saat salah seorang peserta diskusi nyeletuk,”Duit itu mending dipake beli makanan komodo dan pengembangan habitatnya disana!”.

2. Mekanisme pemilihan lewat voting di internet sangat rentan manipulasi. Pemungutan suara secara online bisa saja dilakukan berkali-kali oleh pihak yang sama apalagi tidak dilakukan verifikasi dan audit independen untuk itu. Kontraversi memang kerap terjadi pada ajang ini. Seperti tercantum di Wikipedia terdapat 14 juta suara dari dalam negeri Yordania telah memilih Petra–sebuah situs bersejarah disana–padahal populasi penduduk Yordania sendiri berada dibawah 7 juta orang.

Saya tertarik pada pernyataan di situs World Heritage Convention UNESCO, Badan Resmi PBB yang mengurus soal konservasi situs keajaiban dunia yang menyatakan secara tegas bahwa:
The list of the “7 New Wonders of the World” will be the result of a private undertaking, reflecting only the opinions of those with access to the internet and not the entire world.  This initiative cannot, in any significant and sustainable manner, contribute to the preservation of  sites elected by this public.
Kredibilitas UNESCO dalam penetapan reservasi daerah atau tempat yang perlu dilestarikan merupakan sebuah rujukan valid karena tentu telah melalui kajian-kajian ilmiah yang komprehensif serta mendalam dan tidak sekedar kesan sesaat atau pertimbangan sentimental belaka.

3. Saya tidak mengerti mengapa lantas status nominasi Taman Nasional Komodo terancam dihapus hanya lantaran Indonesia tak bersedia menjadi tuan rumah deklarasi. Ah, come on, ini sebuah alasan yang mengada-ada. Kita sudah cukup cerdas untuk memahami tak ada kaitan apapun antara kedua hal ini. Seharusnya, atas dasar keadilan, nominasi Komodo tetap jalan meski Indonesia tidak jadi tuan rumah.
Saya sependapat dengan apa yang disinyalir Mas Priyadi dalam tulisan diblognya bahwa:
New7Wonders hanyalah eksploitasi terhadap rasa nasionalisme. Indonesia adalah negara yang memiliki jumlah penduduk yang besar dan mayoritas memiliki rasa nasionalisme yang tinggi. Wajar jika kini kita semua menjadi incaran mereka. Terlihat mereka seperti sangat berat hati jika harus memindahkan lokasi acara puncak ke luar Indonesia, sampai-sampai harus memberi ancaman untuk mendiskualifikasi Pulau Komodo.
Harapan saya, dan mungkin juga harapan seluruh masyarakat Indonesia bahwa kita tentu akan menolak upaya-upaya sistematis  yang “memanfaatkan” sentimen nasionalisme bangsa ini untuk kepentingan segelintir pihak yang hanya ingin menangguk keuntungan komersil dari sana.

4. Saya mendukung sikap Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata untuk mengambil langkah tegas bahkan untuk melakukan rencana gugatan kepada 7 News Wonder.  Kehormatan dan harga diri bangsa ini layak diperjuangkan. Saya tidak sependapat atas apa yang dikatakan si “anak bangsa” yang menyatakan: barangkali kita semua terlalu cuek dan kurang cerdas memanfaatkan peluang besar ini dan seringkali juga kurang cermat bergaul dengan masyarakat internasional. Justru bagi saya,momentum ini telah menggugah kecerdasan dan kesadaran kita semua untuk kian peduli pada potensi pariwisata negeri sendiri dan By the way, memangnya siapa pula yang dimaksud dengan “masyarakat internasional” sehingga membuat kita seringkali  jadi kurang cermat bergaul ? Lembaga 7 New Wonder? Meminjam Kalimat Sule OVJ : “Owh, Tidak Bisa! :)


5. Apapun langkah yang diambil oleh Pemerintah Indonesia dalam menyikapi situasi ini, saya yakin inilah langkah terbaik. Jika memang Taman Nasional Komodo mesti dihapuskan dalam ajang kompetisi, bukanlah sebuah hal yang harus dirisaukan. Saya yakin segenap elemen bangsa ini akan mengerahkan segala kemampuan terbaiknya  untuk bersama-sama mempromosikan daerah wisata di Indonesia, dengan atau tanpa ajang 7 New Wonders.  Promosi Taman Nasional Komodo dan Daerah wisata potensil lainnya di Indonesia, lewat cara dan bentuk apapun, adalah manifestasi cinta dan rasa kebangsaan kita yang tinggi untuk bangsa ini.

MAJU TERUS INDONESIAKU !

 Sumber: daengbattala.com

Sebuah Surga di Bahari Derawan




Sebuah nirwana tropis berada di salah satu pulau wilayah Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya Kabupaten Berau dan di Selat Sulawesi, tak jauh dari perbatasan Malaysia. Pulau Derawan menjadi sebuah destinasi wisata bahari pilihan menawan buat Anda yang menyukai pantai dengan hamparan pasir putih lembut berkilat serta air jernih. Apalagi ditambah bonus menjumpai penyu-penyu jinak yang berenang-renang riang saat kita melakukan penyelaman.

Terkadang saat duduk di ujung jembatan kayu yang mengarah ke laut, kita dapat menyaksikan penyu-penyu hijau itu hilir mudik di permukaan air yang bening. Sesekali bahkan penyu-penyu tersebut nampak berkeliaran di sekitar cottage yang berada di pesisir pulau. Saat malam tiba, beberapa penyu naik ke darat dan bertelur di sana.

Paduan warna laut dan lumut yang memukau menghasilkan gradasi warna biru dan hijau, serta hutan kecil di tengahnya, membuat pulau ini menyajikan pemandangan alam begitu indah yang sayang untuk dilewatkan begitu saja. Yang tersisa, kenangan mendalam.




Dr. Carden Wallace dari Museum Tropis Queensland, Australia pernah meneliti kekayaan laut Pulau Derawan dan menjumpai lebih dari 50 jenis Arcropora (hewan laut) dalam satu terumbu karang. Tak salah kiranya jika Pulau Derawan terkenal sebagai urutan ketiga teratas di dunia sebagai tempat tujuan menyelam bertaraf internasional

Pulau ini memang relatif kurang begitu dikenal khususnya di dalam negeri karena untuk mencapainya butuh perjuangan tersendiri yang cukup berliku. Anda mesti menuju ke Balikpapan dulu dari Jakarta, Surabaya, Yogyakarta atau Denpasar, untuk menuju pulau ini. Kurang lebih dua jam waktu tempuh penerbangan dari Jakarta ke Balikpapan.

Dari Balikpapan, Anda masih harus terbang menuju Tanjung Redeb selama satu jam dengan menaiki pesawat kecil yang dilayani oleh KAL Star, Deraya atau DAS. Selain itu, Tanjung Redeb juga bisa dicapai melalui laut, dengan menaiki kapal dari Samarinda atau Tarakan ke Tanjung Redeb dilanjutkan dengan menyewa motorboat menuju pulau Derawan dengan lama perjalanan kurang lebih 2 jam.




Banyak wisatawan manca negara yang baru turun dari pesawat di bandara Kalimarau, Tanjung Redeb langsung berangkat ke pulau Derawan dengan motorboat yang sudah ditambatkan di sebuah pelabuhan khusus.

Alternatif lain bisa juga melalui perjalanan darat dari Balikpapan ke Tanjung Batu lalu dari sana menyeberang ke Pulau Derawan. Hanya saja ini bukan pilihan yang bagus karena perjalanan penyeberangan itu sendiri memakan waktu hingga belasan jam dengan medan yang relatif tidak menyenangkan.

Meskipun begitu, tahukah Anda, justru banyak wisatawan asing yang sudah tahu lebih banyak soal keberadaan pulau eksotis ini. Sejumlah wisatawan Jepang dari Tokyo melalui travel yang ada di sana “tembak langsung” berangkat ke Singapura atau ke Sabah kemudian melanjutkan perjalanan ke Balikpapan, lalu ke Tanjung Redeb menggunakan pesawat kecil.

Mereka memanfaatkan waktu mereka selama di Derawan dengan menyelam, menyusuri keindahan bawah laut di pulau tersebut yang memang merupakan lokasi terbaik untuk olahraga selam. Apalagi dengan kondisi pulau yang terpencil dan “masih perawan” kian menambah pesona siapapun juga untuk menikmatinya selama mungkin.




Tak usah jauh-jauh, hanya dalam jarak 50 meter dari bibir pantai, kita sudah dapat menyaksikan terumbu karang yang indah dan ikan-ikan beraneka warna hilir mudik. Airnya sangat bening. Anda pun bisa menyewa snorkel seharga Rp 30 ribu per hari. Bila ingin menyelam lebih dalam, kita dapat menemukan ikan-ikan yang lebih “eksotis” seperti kerapu, ikan merah, ikan kurisi, ikan barracuda, teripang, dan kerang. Pada batu karang di kedalaman sepuluh meter, terdapat karang yang dikenal sebagai "Blue Trigger Wall" karena pada karang dengan panjang 18 meter tersebut banyak terdapat ikan trigger (red-toothed trigger fishes).

Pulau Derawan menyediakan fasilitas-fasilitas tempat penginapan (cottage), penyewaan peralatan menyelam dan juga restoran. Ada pula penginapan-penginapan bertarif murah yang dikelola oleh warga sekitar. Kisaran harganya mulai dari Rp 45 ribu sampai Rp 100 ribu/malam.


Masih belum puas?

Anda dapat meninjau juga pulau lainnya yang berada di sekitar Derawan. Misalnya: Pulau Sangalaki, Maratua, dan Pulau Kakaban yang mempunyai keunikan tersendiri. Ikan Pari Biru (Manta Rays) yang memiliki lebar mencapai 3,5 meter berpopulasi di Pulau Sangalaki. Malah bisa pula ditemui—jika cukup beruntung—ikan pari hitam dengan lebar “bentang sayap” 6 meter . Sedangkan Pulau Kakaban mempunyai keunikan yaitu berupa danau prasejarah yang ada di tengah laut, satu-satunya di Asia.

Oleh Amril Taufik Gobel

Sumber: id.travel.yahoo.com

Senggigi, Sebuah Pantai Wisata nan Elok di Lombok

Lupakanlah sejenak rutinitas pekerjaan dan kepenatan hidup dengan menikmati indahnya pesona alam Pantai Senggigi di Lombok. Salah satu pulau di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) selain Pulau Sumbawa ini memiliki pantai yang sangat terkenal dan menjadi pilihan berlibur bagi wisatawan mancanegara maupun lokal.

 
Photo credits - Tempo/Dimas Aryo


Untuk mencapai Pantai Senggigi dibutuhkan waktu kurang lebih 15 menit dari Kota Mataram menggunakan mobil. Dengan jarak sedekat itu, makin populer saja pantai eksotis ini. Senggigi telah menjelma menjadi ikon pariwisata NTB sejak diperkenalkan pada 1980. Perkembangannya sangat luar biasa jika indikatornya adalah pertumbuhan jumlah hotel, mulai dari kelas bintang tiga sampai lima berjejer dari selatan hingga utara.

Jika Bali memiliki Pantai Sanur, Kuta atau Legian, maka Pantai Senggigi dianggap mempunyai keindahan setara dengan pantai-pantai terkenal di Pulau Dewata tersebut. Pesisir pantainya asri dengan pasir putih terhampar di sepanjang hampir 10 km. Banyak aktivitas yang dapat Anda lakukan di sini, seperti berenang, bermain kano, menyelam, snorkeling atau sekadar berjemur dan menikmati pemandangan. Jika Anda ingin mengelilingi pantai Senggigi namun tidak ingin cepat lelah, Anda bisa menaiki cidomo, angkutan khas NTB yang ditarik oleh seekor kuda. Atau Anda juga dapat mengelilingi pantai dengan berjalan kaki.

 
Photo credits - Tempo/Taufik Subarkah


Suasana kian romantis ketika kita menikmati senja merah merona di batas cakrawala. Lukisan alam yang terjadi seakan menepis segala gundah dan melerai rasa letih. Lansekap jingga saat mentari terbenam begitu kontras berpadu dengan gradasi warna biru laut.

Pura Batu Bolong merupakan tempat wisata yang bisa ditemukan di pantai ini dengan berjalan kaki santai sekitar 30 menit. Pura ini dibangun di atas karang yang terletak di tepi pantai. Ada legenda yang berkembang mengenai pura di mana kita bisa melihat jelas Gunung Agung di Bali, yakni konon dahulu sering diadakan pengorbanan seorang perawan untuk dipersembahkan kepada ikan hiu di tempat ini. Ada pula legenda lain yang menyebutkan bahwa dahulu banyak para wanita yang menerjunkan diri dari tempat ini ke laut karena patah hati.

Tidak jauh dari Batu Bolong terdapat makam seorang ulama. Ini merupakan tempat suci bagi para penganut Wetu Telu. Batu Layar ramai dikunjungi pada saat Lebaran Ketupat, yang dirayakan oleh mereka yang berpuasa satu minggu setelah Idul Fitri.

Tersedia tempat penginapan yang representatif buat Anda, mulai dari hotel bintang tiga hingga bintang lima memadati kawasan pantai. Tidak hanya itu, puluhan restoran juga siap memanjakan lidah Anda selama berwisata di sana. Jangan lupa mencicipi hidangan khas Lombok berupa ayam taliwang dan plecing kangkung.

 
Photo credits - Tempo/Dimas Aryo


Untuk lebih menggencarkan promosi pariwisata kawasan ini, Pemda Kabupaten Lombok Barat setiap pertengahan tahunnya menjadwalkan penyelengaraan Festival Senggigi. Kekayaan atraksi budaya yang dipentaskan selama sepekan penuh tersebut membuat wisatawan terhibur dan kian betah untuk tinggal lebih lama.

Oleh-oleh atau cendera mata khas juga tersedia. Tepatnya di Jalan Raya Senggigi Km 7 terdapat pusat perbelanjaan berbagai cendera mata Lombok di Pasar Seni Senggigi (Art Market Senggigi). Pemprov NTB berharap ke depan, tempat ini menjadi surga belanja bagi para wisatawan yang berwisata di Lombok.

Pasar Seni Senggigi memiliki sekitar 12 kios (satu kios dihuni 4 - 6 pedagang). Kios-kios ini selesai dibangun dan diresmikan pada 11 Desember 1991 oleh Menteri Pariwisata dan Telekomunikasi Soesilo Sudarman. Di sana juga terdapat sekitar 56 pedagang kecil. Kios-kios cendera mata dibangun dengan bentuk rumah adat NTB yang beratap alang-alang kering.


 
Photo credits - Tempo/Taufik Subarkah


Berbagai macam kerajinan seperti mutiara, gelang, periuk dan anyaman bisa didapatkan di Pasar Seni Senggigi yang buka mulai pukul 09.00 sampai 19.00. Pedagang jenis pengasong cendera mata banyak yang menjajakan berbagai aksesoris hingga di area pantai. Harga yang ditawarkan bervariasi mulai dari Rp 10 ribu s/d Rp 100 ribu.

Tidak terlalu sulit sebenarnya mencapai Pantai Senggigi. Jika Anda berangkat dari Bali, tiba di Pelabuhan Lembar, Anda bisa langsung menuju pantai Senggigi menggunakan bis 3/4 atau mencarter mobil bersama penumpang lainnya. Sementara dari Jakarta dan kota besar lainnya, tiba di bandara Lombok, Anda dapat menaiki taksi yang akan mengantar ke hotel tempat Anda menginap. Dari Ampenan, Anda bisa menaiki bemo yang tersedia mulai pukul 06.00 pagi hingga 19.30 dengan biaya sekitar Rp. 1,500 jurusan Ampenan-Senggigi, atau Senggigi-Ampenan.

Oleh: Amril Taufik Gobel

Sumber: id.travel.yahoo.com
Related Posts with Thumbnails