Senin, 20 Desember 2010

Sejarah "Hari Ibu" di Indonesia

sayangi-ibu


Sejarah Hari Ibu diawali dari bertemunya para pejuang wanita dengan mengadakan Konggres Perempuan Indonesia I pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta, di gedung yang kemudian dikenal sebagai Mandalabhakti Wanitatama di Jalan Adisucipto. Dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Hasil dari kongres tersebut salah satunya adalah membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani).

Organisasi perempuan sendiri sudah ada sejak 1912, diilhami oleh perjuangan para pahlawan wanita abad ke-19 seperti M. Christina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutiah, R.A. Kartini, Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Achmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain.


Peristiwa itu dianggap sebagai salah satu tonggak penting sejarah perjuangan kaum perempuan Indonesia. Pemimpin organisasi perempuan dari berbagai wilayah se-Nusantara berkumpul menyatukan pikiran dan semangat untuk berjuang menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib kaum perempuan. Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap adalah persatuan perempuan Nusantara; pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan; pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa; perdagangan anak-anak dan kaum perempuan; perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita; pernikahan usia dini bagi perempuan, dan sebagainya. Tanpa diwarnai gembar-gembor kesetaraan jender, para pejuang perempuan itu melakukan pemikiran kritis dan aneka upaya yang amat penting bagi kemajuan bangsa.

Penetapan tanggal 22 Desember sebagai perayaan Hari Ibu diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Peringatan 25 tahun Hari Ibu pada tahun 1953 dirayakan meriah di tak kurang dari 85 kota Indonesia, mulai dari Meulaboh sampai Ternate.

Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga kini.

Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya lebih untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Dari situ pula tercermin semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja bersama. Di Solo, misalnya, 25 tahun Hari Ibu dirayakan dengan membuat pasar amal yang hasilnya untuk membiayai Yayasan Kesejahteraan Buruh Wanita dan beasiswa untuk anak-anak perempuan. Pada waktu itu panitia Hari Ibu Solo juga mengadakan rapat umum yang mengeluarkan resolusi meminta pemerintah melakukan pengendalian harga, khususnya bahan-bahan makanan pokok. Pada tahun 1950-an, peringatan Hari Ibu mengambil bentuk pawai dan rapat umum yang menyuarakan kepentingan kaum perempuan secara langsung.

Satu momen penting bagi para wanita adalah untuk pertama kalinya wanita menjadi menteri adalah Maria Ulfah di tahun 1950. Sebelum kemerdekaan Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Tahun 1973 Kowani menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW). ICW berkedudukan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa-bangsa.

Kini, Hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu, memuji ke-ibu-an para ibu. Berbagai kegiatan pada peringatan itu merupakan kado istimewa, penyuntingan bunga, pesta kejutan bagi para ibu, aneka lomba masak dan berkebaya, atau membebaskan para ibu dari beban kegiatan domestik sehari-hari.

sumber: id.wikipedia.org

Alangkah Lucunya Euforia Sepakbola Negeri Ini


12923030641962769745
supporter indonesia

Saya meminjam judul film “Alangkah Lucunya Negeri Ini” yang ditulis oleh Musfar Yasin dan diperankan oleh aktor senior Deddy Mizwar. Kemenangan tim nasional sepakbola kita pada fase group piala AFF dengan nilai sempurna yaitu “menghabisi” Malaysia (5-1), Laos (6-0) dan Thailand (2-1) bukanlah sebuah kelucuan. Hasil itu sebuah kerja keras, kekompakan tim, kejelian pelatih dan dukungan suporter yang terus bernyanyi memberikan semangat di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Lalu, dimanakah kelucuannya? Ada beberapa hal yang saya amati, yaitu media masa , masyarakat dan pengurus PSSI.


Kelucuan media masa kita

Sebelumnya kita harus membagi antara media masa yang benar-benar khusus mengupas tentang olahraga dan media infotainment yang lebih banyak menyajikan “bumbu-bumbu” penyedap di luar konteks olahraga. Mengenai media yang khusus meliput tentang olahraga, khususnya mengenai sepakbola, maka arah dan konsep pemberitaannya cukup jelas. Perkembangan timnas kita, taktik, kekuatan lawan, peluang, skema permainan dan lain sebagainya.

Lalu, bagaimana dengan media infotainment yang tiba-tiba memberitakan para pemain timnas kita bagai selebritas baru yang dikupas habis-habis dalam pemberitaannya? Inilah yang saya maksudkan dengan kelucuan itu. Coba perhatikan di layar kaca pada segment gosip artis pada beberapa minggu ini? Yang diberitakan hanyalah kegantengan Irfan Bachdim dan latar belakang pacarnya ataukah pemain naturalisasi Christian Gonzales. Artis-artis wanita pun dimintai komentarnya, yang maaf bagi saya lebih banyak mengomentari kegantengan daripada permainannya. Saya pun resah seperti keresahan Anas Urbaningrum yang nge-Tweet, jangan sampai si Irfan main sinetron saja.

Kehadiran media yang selama ini tidak biasanya meliput sepakbola juga dirasakan sangat mengganggu oleh pelatih Timnas Indonesia, Alfred Riedl. Sebagaimana diberitakan dalam situs goal.com, latihan pertama setelah libur selama dua hari usai melakoni tiga laga penyisihan Grup A, lapangan latihan timnas PSSI di kawasan Gelora Bung Karno Jakarta, Jumat [10/12], suasana bak pasar malam.

Selama ini, Riedl paling tidak suka jika ada media yang menyoroti individu pemain. Riedl pun akhirnya melarang media melakukan wawancara pemain di hotel, serta tak mengizinkan pemain menghadiri undangan datang ke stasiun televisi.

“Apa yang terjadi saat ini adalah pemain sudah seperti sirkus. Ini sudah sangat berlebihan. Kami ingin bekerja sama dengan media, tapi bukan seperti ini caranya. Pemain saya bukan seperti kuda sirkus, dan anda sutradaranya yang bisa menyuruh mereka melakukan ini dan itu. Itu tidak boleh terjadi,” cetus Riedl.

“Jika diangkat-angkat terus tentu seorang pemain sedikitnya akan merasa ‘tinggi’, itu yang tidak boleh, karena pasti dia akan beranggapan dirinya lebih baik dibanding yang lainnya. Padahal, sepakbola itu permainan tim, keberhasilan itu adalah kerja keras tim dan bukan individu,” ungkapnya.

“Kami akan berusaha menjauhkan media dari hotel, karena pemain jadi sangat terganggu. Kami berharap kalian bisa bekerja sama. Wawancara hanya boleh dilakukan saat pemain berjalan dari lapangan ke dalam bus usai latihan.”


Euforia masyarakat, sampai kapan?

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, euforia adalah perasaan gembira atau rasa nyaman yang berlebihan. Saya juga termasuk di antara masyarakat yang larut dalam euforia itu. Kapan lagi bisa melihat timnas kita memperlihatkan permainan cantik dan memperoleh kemenangan beruntun seperti itu? Apalagi selama ini kita sudah sudah miskin prestasi selama bertahun-tahun lamanya di persebakbolaan Asia Tenggara ataukah Asia pada umumnya. Kemenangan timnas juga bagai obat pelepas stress kita akan gejala sosial dan hukum yang menggerogoti negeri ini. Sejenak kita dihibur daripada pusing dengan berita-berita mafia hukum dan korupsi.

Tetapi, disinilah sebenarnya ujian yang sesungguhnya. Apakah dukungan sebagai bentuk nasionalisme kita hanya di saat kemenangan saja? Harus diakui penampilan gemilang Timnas kita di ajang piala AFF tahun ini melahirkan  banyak pecinta bola di negeri ini. Ibu-ibu yang sering nonton sinetron mulai berpaling ke olahraga paling  populer di dunia ini.  Anak-anak punya idola baru di timnas bukan hanya Messi ataukah Ronaldo.  Saya perhatikan, acara nonton bareng untuk timnas kita digelar dimana-mana manakala timnas bertanding. Sekali lagi kita mengapresiasi itu semua, tetapi jangan hanya euforia sesaat.

Menurut saya, euforia masyarakat jangan sampai seperti habis manis sepah di buang. Berbagai pengalaman dengan pelatih-pelatih sebelumnya yang mendapat caci maki karena tidak bisa memberikan kemenangan adalah pelajaran penting. Bola itu bulat dan selalu memberikan kejutan-kejutan. Kita tentu berharap Garuda terus terbang tinggi, tetapi jika suatu saat langkah kita akan tersendat, euforia itu jangan sampai surut. Terus dukung pelatih, pemain dan seluruh team. Untuk pengurus PSSI? Hmmmm, mari membahasnya.


Bukan kemenangan PSSI

Kita harus sepakat bahwa seandainya kemenangan timnas kita dalam ajang piala AFF bukanlah kemenangan PSSI. Lihatlah, di SUGBK, apapun hasilnya, suporter terus bernyanyi, “Nurdin turun, Nurdin turun, Nurdin turun.”

Selama kekuasaan Nurdin Halid dan antek-anteknya, timnas kita miskin prestasi. Jangankan prestasi, lolos ke Piala Asia 2011 dan kalah dalam penyisihan group pada SEA Games tahun lalu sudah menunjukkan bahwa arah sepakbola kita kian mengkhawatirkan. Herannya (dan inilah kelucuannya), di saat prestasi kita anjlok dan tidak bisa berbuat apa-apa, justru PSSI mengajukan Indonesia sebagai tuan rumah piala dunia 2022. Untungnya FIFA mencoret Indonesia sebagai peserta bidding tuan rumah karena tidak memenuhi syarat dan jaminan dari pemerintah.

Melihat prestasi timnas Indonesia sampai sejauh ini di ajang piala AFF, sepatutnya kita memberi apresiasi yang setinggi-tingginya untuk pelatih Alfred Riedl. Harus diakui, “bule” Austria itu menolak intervensi Nurdin cs dalam mengutak-atik timnas. Mau bukti? Alred Riedl pernah mengusir Manajer Timnas Andi Darussalam menjelang uji coba timnas melawan Maladewa. Kita harus salut pada pelatih Riedl dalam menekankan pentingnya kedisiplinan, sehingga pemain berkelas seperti Boaz Salosa yang selama ini “rutin” mendapatkan tempat di timnas didepak dari tim inti. Pemain senior dan kapten Bambang Pamungkas pun harus rela menjadi pemain cadangan dan keberanian pelatih Riedl untuk memberikan tempat bagi muka-muka baru penghuni timnas Indonesia haruslah diacungi jempol.


Harapan

Tentunya ada banyak harapan agar Garuda kita terus terbang tinggi, namun dibalik itu semua, tentunya kita tetap harus rendah hati dan menghormati setiap lawan, seperti kata pelatih Riedl. Menjaga momentum kemenangan adalah perjuangan seungguhnya, sehingga kita semua tidak larut dalam kemenangan yang berlebihan. Perjalanan masih panjang dan arah serta masa depan sepakbola kita terus menatap ke depan. Pembinaan pemain muda, menjauhkan olahraga dari politik dan korupsi serta perombakan kepengurusan PSSI untuk lebih profesional adalah harapan kita semua.

Yustus Maturbongs 
Sumber: kompasiana.com

Alfred Riedl, Pelatih Bertangan Besi

http://koranbogor.com/wp-content/uploads/2010/12/Alfred-Riedl.jpg

Di balik menawannya performa tim nasional Indonesia dalam ajang Piala AFF, ada seorang Alfred Riedl yang tak kenal kompromi dan bertangan besi.

Saat Riedl ditunjuk sebagai pelatih tim nasional Indonesia yang baru menggantikan Benny Dollo, tidak sedikit yang meragukannya karena Riedl dianggap tidak cukup hebat. Pelatih kebangsaan Austria ini hanya dianggap sudah mengenal medan Asia Tenggara karena sebelumnya memegang Vietnam dan Laos, tapi tak lebih dari itu.

Riedl ternyata adalah seseorang yang bertangan besi dan tak kenal kompromi demi mencapai tujuannya. Saat ia pertama kali datang ke pemusatan latihan tim nasional, ia memberikan latihan fisik yang luar biasa sulit kepada para pemain timnas. Beberapa pemain dikabarkan muntah-muntah karena tidak terbiasa. Tidak sedikit yang protes karena Riedl dianggap memforsir pemain. Tapi ia tidak peduli.

Kerasnya latihan fisik yang diberikan Riedl ternyata diakibatkan rendahnya VO2max yang dimiliki para pemain kita yang berujung pada sering melorotnya stamina pada penghujung pertandingan, penyakit klasik timnas kita. Dari 23 pemain yang ia jajal pada latihan pertama, hanya satu orang pemain yang dikabarkan memenuhi ambang batas VO2max, sisanya tidak. Bisa dibayangkan betapa kacaunya tim nasional kita dulu.

Selain itu Riedl juga tak mau tunduk pada kemauan petinggi PSSI yang sering seenaknya. Ia pernah mengusir Andi Darussalam Tabusalla karena dianggap tidak berkepentingan berada di area teknik. Kejadian ini menyebabkan timbul friksi antara dirinya dengan pengurus PSSI, apalagi Riedl juga enggan mendengarkan masukan dari para pejabat federasi sepakbola Indonesia yang ia anggap tak tahu apa-apa itu.



































”Saya pelatih tim nasional, bukan mereka. Saya berkuasa penuh atas tim saya,” tegas Riedl kala itu.
Sifat Riedl yang tak mau diatur itu sempat membuat PSSI gerah dan ingin menggantinya dengan orang lain. Jika anda ingat, sempat ada wacana menggelikan untuk mendatangkan Fatih Terim dari Turki untuk melatih tim nasional.

Riedl juga menunjukkan hak prerogatif penuhnya saat menunjuk skuad timnas untuk Piala AFF ini. Seperti diketahui, ia mencoret nama Boaz Solossa yang tak kunjung datang memenuhi panggilan. Hal ini sempat menimbulkan prahara karena bagaimana pun Boaz adalah pemain terbaik yang dimiliki Indonesia. Riedl dianggap terlalu keras dan bisa mengancam prospek tim saat turnamen nanti.
Tapi Riedl tidak ambil pusing. Menurutnya disiplin adalah hal nomor satu dalam tim dan ia tak bisa pilih kasih terhadap seorang pemain bintang sekalipun.   

 


































Indonesia telah melaju ke final AFF dan segala kekerasan hati Riedl berdampak positif bagi timnas. Hasil kerasnya latihan fisik Riedl bisa dilihat dari stamina timnas yang bermain fit selama 90 menit, tidak lagi drop di menit-menit akhir. Tanpa Boaz, Riedl bisa memaksimalkan Oktovianus Maniani yang tak ubahnya duplikat.

Tapi Riedl tidak ambil pusing. Menurutnya disiplin adalah hal nomor satu dalam tim dan ia tak bisa pilih kasih terhadap seorang pemain bintang sekalipun.

 


















Riedl, bekas striker dengan torehan 210 gol selama karirnya di liga-liga Eropa itu, telah menularkan disiplin dan semangat menyerangnya kepada tim nasional kita tanpa peduli pada suara-suara miring yang bisa menghambat kerjanya.

Oleh: Pangeran Siahaan

Sumber:supersoccer.co.id

Sepakbola Pemersatu Bangsa Indonesia

 
Presiden SBY bersama Ibu Ani Yudhoyono dan Menegpora Andi Mallarangeng 
Prestasi Timnas Indonesia benar-benar membius semua kalangan masyarakat Indonesia. Di tengah kondisi negara yang sedang carut-marut, permainan apik Timnas di lapangan hijau, seakan mampu melupakan semua masalah negara ini.
Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono sudah menyempatkan diri dua kali menghadiri laga semifinal Piala AFF 2010 melawan Filipina. Dan SBY menjadi salah satu saksi yang menyaksikan perjuangan Tim Merah Putih dalam melangkah ke final. RI-1 mengucapkan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia yang sudah memberikan dukungan dan doa terhadap Timnas Indonesia. “Saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan atas doa dan dukungan yang penuh terhadap timnas sepakbola,” jelas SBY di Istana Negara, Jakarta (20/12/2010). “Dalam kehidupan demokrasi bisa saja kadang-kadang politik kita menghangat begitu, kadang-kadang ada benturan di antara elit politik itu wajar. Itu kehidupan demokrasi, demikianlah politik. 
Tapi yang penting rakyat tidak boleh terpecah belah. Rakyat harus tetap kompak bersatu memelihara persaudaraan,” lanjut SBY. “Melalui sepakbola kita merasakan kesatupaduan, tidak ada yang membeda-bedakan identitas mereka. Apa pun asal daerahnya, suku-etnisnya, agama, profesinya, bahkan partai politiknya. Kita semua satu, rakyat Indonesia yang bangga akan negerinya. Bangga akan merah putih, mudah-mudahan tradisi dan budaya begini bisa kita kembangkan,” tutup SBY di sela acara penganugerahan penghargaan di bidang industri tahun 2010.
Sumber: bola.okezone.com

Christian "el Loco" Gonzales Bangun Masjid di Gresik



http://www.voa-islam.com/timthumb.php?src=/photos2/Azka/christian-el-loco-gonzales.jpg&h=235&w=355&zc=1


Christian Gerard Alfaro Gonzales menjadi pencetak gol tunggal dalam laga pertama semifinal Piala AFF Suzuki antara kesebelasan Filipina melawan Indonesia Kamis malam (16/12).

Top scorer tiga musim Liga Indonesia itu ternyata membangun sebuah masjid di Gresik, Jawa Timur.
Pria kelahiran Monteveido, Uruguay pada 30 Agustus 1976 itu membangun masjid di Gresik, Jawa Timur, pada 2008. Masjid yang berdiri di tanah seluas sekitar 500 meter persegi itu diberi nama An Nur.

Masjid itu kerap digunakan untuk kegiatan jamaah berzikir. Kegiatan berzikir di masjid itu dipimpin Hj Nurhasanah, ibu angkat ‘El Loco’.
“Beliau merupakan sosok yang menjiwai keislaman. Kami salut, dia bisa mengalahkan santri asli,” kata Annisa, salah satu pengurus Masjid An Nur.

Klik kode berikut  untuk melihat videonya:

http://www.vivanews.com/embed/video/12290/

 Sumber: solopos.com dan vivanews.com

Kecongkakan Spanduk Nurdin Halid di Gelora Bung Karno

 
 
Nurdin Halid membuat satu lagi kesalahan besar saat Piala AFF berlangsung di Jakarta. Fenomena spanduk di Stadion Gelora Bung Karno, yang adalah katedral-nya sepakbola Indonesia, adalah sebuah penodaan atas keluhuran stadion.

Kita tahu, dalam sepakbola, stadion adalah segalanya. Para pemuja sepakbola ada yang menyebutnya sebagai gereja, kuil, atau altar -- ringkasnya: tempat paling adiluhung dalam perayaan sepakbola. Di sanalah, di stadion itu, semua urusan akan diselesaikan atau justru akan dimulai, segala cerita akan dibangun atau mungkin dihancurkan, emosi akan dikerek ke udara atau malah akan terbantun seketika.

Di level itu, stadion adalah sebuah "public-space", tempat keragaman suara dirayakan, tempat warga punya ruang untuk mengekspresikan semangat (komunalisme). Ia adalah altar di mana kebebasan seorang suporter bisa dikerek setinggi-tingginya, sekaligus ia pula yang mempertanggungjawabkan dan menanggung risiko atas kebebasan yang dirayakannya di sana.

Stadion, sekali lagi, adalah puncak pengalaman dalam melibatkan diri dengan sepakbola -- apapun posisi Anda, sebagai pemain, suporter, wasit, sampai presiden sebuah federasi sepakbola.

Tentu saja stadion membutuhkan "keteraturan" tersendiri. Semua studi antropologi tentang ritus-ritus juga selalu menemukan adanya "keteraturan", "pola", "rukun", dll. Dalam upacara sepakbola di stadion, keteraturan terutama terkait dengan isu keamanan, baik isu keamanan yang sifatnya fisikal maupun keamanan di level non-fisikal (misalnya: isu rasisme). Ini sudah jadi standar di mana pun, tentu saja dengan gradasi yang berbeda-beda di tiap tempat, tergantung kesiapan, juga tergantung intensitas duel yang sedang di gelar di stadion.

Tapi di luar isu keamanan itu, upacara sepakbola di dalam stadion sudah sepatutnya dibiarkan berlangsung secara alamiah dan bergulir secara organis. Upaya pembatasan pada kelangsungan upacara sepakbola, apalagi hanya sekadar untuk menjaga kepentingan seseorang, adalah pengingkaran terhadap sepakbola sebagai sebuah peristiwa, sepakbola sebagai sebuah event, sepakbola sebagai sebuah upacara dan perayaan.

PSSI dan Nurdin Halid, saya kira, telah melakukan dua hal tidak patut yang membuat keduanya layak didakwa telah menodai keluhungan Stadion Utama Gelora Bung Karno sekaligus upacara perayaan sepakbola ini.

Pertama, PSSI dan Nurdin Halid telah membatasi stadion sebagai cagar alam kebebasan bersuara para suporter. Nurdin dan antek-anteknya memasang spanduk-spanduk yang menguntungkan dirinya sendiri. Nurdin boleh saja berkilah bukan dia yang memasangnya. Tapi fakta bahwa spanduk-spanduk itu sudah terpasang jauh sebelum suporter berdatangan tak bisa membuatnya mengelak.

Tentu saja kita bisa katakan bahwa seorang PSSI dan Nurdin pun boleh dan berhak bersuara. Hanya saja, jika demikian argumennya, maka PSSI dan Nurdin juga tak punya secuil pun hak untuk memberangus spanduk dan poster-poster yang mengkritik dan menghujatnya. Itu baru adil.

Tapi keadilan itu tidak terjadi. PSSI dan Nurdin dengan sewenang-wenang melarang para suporter dan pemuja sepakbola membawa spanduknya sendiri ke dalam stadion. Tas digeledah di pintu masuk Stadion (bukan untuk menyita benda-benda berbahaya seperti pisau, misalnya) tapi justru untuk menyita spanduk-spanduk, apa pun isi dan bunyi spanduknya.

Jika pun dalam Stadion Gelora Bung Karno akhirnya masih terpasang spanduk-spanduk, spanduk itu masuk karena kerja-keras para suporter untuk mengakali aparat-aparat yang sudah di-set up untuk menjaga ketunggalan-suara (monophone) dan memberangus keragaman-suara (polifhone).

Kami harus bertarung urat syaraf dengan orang-orang berkaos merah berlengan hitam (yang masuk ke stadion tanpa tiket) sepanjang 80 menit agar bisa memasang spanduk dalam laga tim nasional melawan Laos. Itu pun tidak bertahan lama, hanya sekitar 5-8 menit. Orang-orang dengan handy-talkie di tangan segera memberangus spanduk itu. Jika Presiden saja bisa membiarkan dirinya dikritik dan dihujat, kenapa PSSI dan Nurdin Halid merasa harus diistimewakan?

Orang mungkin berpikir bahwa sweeping hanya berlaku untuk spanduk yang mengkritik PSSI dan Nurdin Halid. Ternyata salah. Spanduk yang mendukung nama seorang pemain di tribun selatan atas, dalam laga versus Thailand kemarin, dipaksa untuk diturunkan oleh  preman-preman yang dikerahkan. Hanya karena kekompakan suporter di tribun selatan sajalah preman-preman itu akhirnya "mengalah" dan membiarkannya.

PSSI dan Nurdin Halid hanya mengizinkan spanduk-spanduk yang mereka buat sendiri. Spanduk-spanduk dengan cetakan yang bagus, dengan font yang rapi, dengan kalimat-kalimat yang formal layaknya seorang siswa sedang belajar SPOK (subyek, predikat, obyek, keterangan).

Apa yang terjadi? Bagi saya, Stadion Gelora Bung Karno, kehilangan sejumlah hal yang paling alamiah. Alih-alih membakar semangat, spanduk-spanduk PSSI itu malah membuat secara visual stadion terasa begitu formal dan kaku. Terasa benar sebentuk keteraturan yang dipaksakan, bukan gelora yang membuncah secara alamiah. Bagusnya suporter Indonesia tak henti-hentinya bernyanyi; laku yang membuat stadion Gelora Bung Karno bisa tetap terjaga auranya yang magis.

Pertanyaannya: adakah federasi sepakbola di dunia ini yang hanya mengizinkan stadion diisi oleh spanduk yang dibuat oleh federasi sepakbola sendiri?

Kedua, PSSI dan Nurdin Halid terbukti "mengotori" keluhungan Stadion Gelora Bung Karno dengan memasukkan suporter bayaran dan preman-preman bayaran.

PSSI dan Nurdin boleh berkilah, tapi perilaku orang-orang itu tak bisa membuat mereka menyangkal. Sebelum laga, mereka berkumpul di depan Kantor PSSI, dengan kaos merah berlengan hitam, lalu sebagian dari mereka mengawal Nurdin Halid masuk ke stadion (tentu tanpa tiket), sebagian lagi menyebar ke semua sektor, menjaga spanduk-spanduk bikinan PSSI dan Nurdin Halid, dan saat jeda masing-masing mendapat jatah nasi bungkus. Dalam laga melawan Thailand, orang-orang berbadan kekar berkeliaran di tribun selatan atas, memaksa beberapa spanduk yang dibawa suporter untuk diturunkan.

Harian TopSkor (6 Desember 2010, hal. 14) melaporkan bahwa mereka disuplai oleh seseorang yang mereka panggil Pak Yapto Suryo Sumarno, dengan upah 60 ribu rupiah, berikut kaos, jatah nasi bungkus dan tiket cuma-cuma.

Dengan mengizinkan suporter bayaran dan preman-preman bayaran itu masuk ke stadion, PSSI dan Nurdin Halid justru telah memperlakukan laga tim nasional tak ubahnya sebagai sebuah kampanye partai politik. Dengan itu, PSSI dan Nurdin Halid telah memperlakukan laga tim nasional sebagai miliknya, bukan perayaan kolektif para pemuja sepakbola dan pendukung tim nasional Indonesia.

Dengan alasan inilah, kita patut menolak kenaikan harga tiket semifinal Piala AFF.

Sejujurnya, kenaikan harga tiket adalah hal wajar. Harga tiket babak penyisihan dengan semifinal wajar saja berbeda. Tapi, kenaikan harga tiket itu tak bisa diterima jika PSSI dan Nurdin Halid masih membiarkan orang-orang bayaran dan preman-preman itu masuk ke stadion. Para pemuja sepakbola dan suporter tim nasional bayar tiket mahal-mahal, ealah... PSSI dan Nurdin malah membiarkan antek-anteknya masuk tanpa tiket. Jika mau egaliter dan solider, seorang Nurdin Halid pun harusnya masuk dengan membeli tiket.

Percayalah, para pemuja sepakbola di Indonesia tak akan membiarkan tim nasional bertanding tanpa dukungan. Tanpa suporter bayaran pun Stadion Gelora Bung Karno akan sesak dengan para suporter yang tak akan lelah-lelahnya bernyanyi untuk Bambang Pamungkas, Christian Gonzales, dkk. Menyelundupkan suporter bayaran sama saja meragukan kecintaan publik sepakbola Indonesia pada tim nasional Indonesia.

Ingat, ini tim nasional Indonesia, bukan tim PSSI. Tim nasional adalah milik orang Indonesia, bukan punya PSSI dan Nurdin Halid. Catat juga: Stadion Utama Gelora Bung Karno adalah milik bangsa Indonesia, dan jelas-jelas bukan milik PSSI atau Nurdin Halid.

Saya (juga para pemuja sepakbola yang lain) selalu dan akan selalu datang ke Senayan untuk tim nasional, tapi jelas bukan demi PSSI apalagi Nurdin Halid.

Zen Rachmat Sugito



Sumber: www.detiksport.com

Sepakbola dan Nasionalisme

http://3.bp.blogspot.com/_p377u_Bf94c/TO-J7NPNF_I/AAAAAAAAAgk/u-JAh0yRDf8/s1600/suporter.jpg 

Hampir semua orang mengenal—atau setidaknya pernah bermain—sepak bola, sebuah olahraga yang mendunia. Sepak bola memiliki sejarahnya sendiri. Dalam sejarahnya, sepak bola dimiliki oleh banyak bangsa, ada Tsu Chiu di Cina; Harpastum di Yunani; Epykiros di Romawi. Orang Indonesia sendiri mengenal sepak takraw.

Tengkorak orang Viking pernah digunakan sebagai bola ketika orang Inggris memainkannya. Tengkorak yang berat itu lalu diganti dengan usus sapi. Saat itu sepak bola dimainkan oleh 500 orang tiap regunya dengan panjang lapangan 3-4 kilometer. Karena sering dimainkan di jalan raya dan kadang sangat kasar, maka Raja Inggris pernah melarangnya.

Sepak bola modern lahir dengan diitandai berdirinya ‘The Football Association’, sebuah perkumpulan sepak bola tingkat pertama dunia yang didirikan oleh bekas pelajar dan mahasiswa dengan dibatu klub-klub bola dari London dan Cambridge ditahun 1863. Asiosiasi ini menerapkan peraturan-peraturan yang memungkinkan permainan ini dilakukan dimana saja. Penyebaran sepak bola ke seluruh dunia dipercepat dengan berkembangnya teknologi media masa dan mobilitas para pedagang, mahasiswa, misionaris dan para pelaut. Atas inisiatif Jules Rimet, ‘Federation Internationale De Football Amateur’ di Perancis menambah perhubungan internasional antara perkumpulan bola tingkat nasional.



Sepak Bola di Hindia

Kolonialisasi Belanda Indonesia membawa masuk budaya barat, termasuk permainan sepak bola. Tanpa disadari, orang-orang kulit putih mengajarkan kaum pribumi gaya hidup barat, termasuk sepak bolanya. Awalnya, permainan sepak bola tidak berbeda dengan dansa-dansi di kamar bola, hanya untuk orang kulit putih saja.

Masuknya sepak bola ke tanah Hindia (Indonesia) tidak lepas dari jasa orang-orang kulit putih yang bekerja di instansi pemerintahan atau pada sektor swasta seperti di perkapalan, perkebunan atau industri lainnya. Sepak bola yang tengah populer   diparuh kedua abad XIX itu, dipilih oleh para pegawai itu  sebagai olehraga untuk menjaga kebugaran.

Golongan pribumi adalah golongan terakhir, setelah Eropa (khususnya Belanda) dan Tionghoa, yang mengenal sepak bola. Awalnya sepak bola dikalangan pribumi hanya dikenal oleh orang-orang terpandang saja. Dikalangan pribumi olah raga ini cepat berkembang lantaran orang pribumi sudah ada sepak takraw dengan bola rotannya.

Unsur duel langsung beradu kekuatan dengan lawan, menjadi kekuatan pendorong timbulnya semangat kehormatan dan kegigihan dan dalam menghadapi kesulitan dilapangan, lalu dimanfaatkan oleh kaum pergerakan. Sepak bola oleh kaum pergarakan juga menjadi media paling baik dalam mendidik, setidaknya menanamkan, semangat nasionalisme menghadapi kolonialisme Belanda.

Diawal perkembangan sepak bola di tanah Hindia, mulai muncul klub-klub sepak bola. Road-Wit  (merah putih) yang didirikan pada tahun 1894 oleh sekelompok orang-orang Belanda adalah klub sepak bola yang pertama kali didirikan di tanah Hindia. Dua tahun kemudian, di Surabaya, lahir Victory, klub sepak bola yang didirikan oleh John Edgar murid HBS.Klub-klub sepak bola mulai berdiri di kantor-kantor atau dinas-dinas pemerintah maupun maskapai.

Terbentuknya klub-klub sepak bola lama kelamaan memunculkan perkumpulan bola berupa bond  dibeberapa kota pusat kekuasaan kolonial di Jawa. Bond-bond tersebut antara lain: West Java Voetbal Bond (yang kemudian menjadi Voetbalbond Batavia en Omstreken); Soerabajas Voetbalbond; Bandoeng Voetbal Bond dan Semarang Voetbal Bond.  Di Semarang, 1914, diadakan kejuaraan sepak bola antar klub-klub lokal dari empat kota besar (Batavia, Bandung, Surabaya dan Semarang). Tam,pil sebagai pemenang adalah klub dari Batavia. Ini adalah event olah raga terbesar di pulau Jawa masa itu.

Ditahun 1919, terbentuk Nederlandsch Indische Voetbal Bond (Perkumpulan Sepak Bola Hindia Belanda, disingkat NIVB). Organisasi ini mengorganisir pertandingan anatar kota tahunan dengan aturan tetap. Secara bergilir NISV mengadakan pertandingan bergilir di Semarang, Surabaya, Bandung dan Batavia hingga tahun 1936. NIVB sebagai organisasi sepak bola pernah mengantongi keuntungan dari penjualan tiket pertandingan antar keseblasan. Ditahun 1922, NIVB mengantongi keuntungan sebesar f 12.425,- dari hasil penjualan 12.559 tiket masuk pertandingan. Sayangnya ditahun 1925, NIVB mendapat pemasukan yang lebih rendah, hanya sebesar f 10.633,- dari hasil penjulanan 11.797 tiket masuk pertandingan.

Semakin seringnya diadakan pertandingan sepak bola, semakin mempercepat pula perkembangan sepak bola di Hindia. Pertandingan sepak bola natar keseblasan itu biasa dilakukan bersamaan dengan pasar malam. Sekolah menjadi jalur perkembangan sepak bola yang efektif selain melalui kejuaraan sepak bola antar klub. Sepak bola masuk sebagai bagian dari mata pelajaran olahraga di sekolah maupun di lembaga pendidikan yang terbuka bagi anak-anak golongan Belanda maupun pribumi terpandang. Jadi, oleh pemerintah kolonial, sepak bola tidak lagi sekedar permainan biasa. Di tingkat sekolah saja sering diadakan pertandingan antar sekolah. Melalui event macam ini, NIVB menjadi ajang mencari pemain muda berbakat.

Semakin berkembangnya arus transportasi karena jaringan jalan dan rel kereta api yang semakin berkembang membuat sepak bola terus berkembang lagi. Masyarakat dipenjuru pulau Jawa menganggap pertandingan sepak bola sebagai ajang keramaian yang selalu ditunggu-tunggu. Hanya untuk menyaksikan pertandingan bola saja rela bepergian ke luar kota dengan mobil atau kereta api baik keseblasan lokal maupun keseblasan luar negeri yang diundang untuk bertanding di Hindia.

http://2.bp.blogspot.com/_CIw1C9sdMEk/TP647qDI-VI/AAAAAAAAAnI/pSHkO5053bo/s1600/Tekuk+Thailand+Dapat+Bonus+Rp+500+Juta.JPG

Sepak Bola Pribumi dan Nasionalisme


Perkembangan sepak bola di Hindia, tidak hanya melahirkan klub-klub sepak bola  Belanda (kulit putih) saja, belakangan klub-klub sepak bola orang-orang Tionghoa dan pribumi juga muncul. Di Surabaya ada klub Patjarkeling yang didirikan oleh haji Muhamad Zen ditahun 1902. Muhamad Zen memimpin klub ini sampai tahun 1922. Di Surakarta, muncul klub: Romeo, Mars, Kars, Truno Kembang, Maz Dez, Tjahja Kwitang, Star dan lainnya. Klub-klum sepak bola Tionghoa yang muncul antara lain: Tiong Hoa Oen Tang Hweee-UMS di Batavia; Tionghoa Surabaya; YMC Bandung dan Union Semarang.

Diawal perkembangan sepak bola di Hindia cenderung didominasi oleh kaum Belanda saja. Rasa tidak suka lalu muncul. Bersamaan dengan kebangkitan nasional ditahun 1908, perasaan tidak suka akan dominasi Belanda juga muncul. Lahirnya Boedi Oetomo yang menjadi manifestasi munculnya jiwa nasionalisme, juga memiliki badang olehraga dimana sepak bola menjadi salah satu cabangnya. Demi kemajuan olahraga ini, disetiap konferensi-nya, Boedi Oetomo juga mengadakan pertandingan sepak bola. Selain Boedi Oetomo, Jong Java juga aktif mengadakan pertandingan sepak bola.

Usaha merintis sepak bola bercorak kebangsaan sudah mulai dilakukan sejak 1922. Di Surakarta, sekelompok bumiputra merasa perlu diadakannya sebuah persatuan sepak boal sendiri untuk wilayah Jawa. Tahun 1924, lahirlah Comite Java Voetbalbond  yang dipimpin oleh dr Widioningrat. Sayangnya, perkumpulan tadi tidak berjalan karena tidak adanya perhatian dari klub sepak bola di luar Surakarta. Muncul usaha lanjutan dari usaha yang gagal sebelumnya,   pada 2 Oktober 1927 diadakan pertemuan yang dipimpin oleh Soeroto. Hasil pertemuan itu adalah mengadakan kongres di Surabaya beberapa orang lalu dikirim ke ke daerah-daerah lain di Jawa untuk membentuk persatuan sepak bola di Jawa.

Sebagai pribumi yang menjadi bagian dari kekuasaan kolonialisme Belanda, tidak jarang orang-orang persepak-bolaan pribumi menerima perlakuan pahit. Ketika itu sebuah klub pribumi di Jawa Tengah akan melakukan pertandingan dengan klub sepak bola Belanda, karena klub yang diajak adalah anggota NIVB maka NIVB dikirimi surat. Malangnya NIVB melarang semua klub bola untuk bertanding. Dengan tegas, NIVB melarang klub-klub bawahannya bertanding dengan klub pribumi yang tidak teratur. Akhirnya kesebelasan militer Belanda di Amabarawa diajak dan bersedia. Keseblasan saepak bola militer ini tidak terikat dengan NIVB karena hanya keseblasan ini hanya bernaung dibawah kesatuan militernya saja. NIVB tidak tidak tinggal diam, sebelum pertandingan wakil NIVB datang untuk melarang pertandingan tersebut. Usaha itu sia-sia, kapten keseblasan militer itu menolak kemauan wakil NIVB tadi.

Ketika banyak perkumpulan sepak bola bergerak sendiri-sendiri tanpa koordinasi, Soeratin gundah. Saat itu, diawal dekade 1920an, banyak pemain sepak bola pribumi yang berkiprah dalam pertandingan-pertandingan yang dilakukan NIVB, hingga NIVB sendiri terus berkembang. Soeratin lari dari kegundahan dengan berkampaye untuk sebuah perkumpulan sepak bola pribumi pada tingkat nasional, tingkat Indonesia. Perkumpulan sepak bola yang nantinya akan mengangkat derajat bangsa pribumi dan mengalahkan sepak bola orang-orang Belanda. “Kalau di sepak bola kita bisa mengalahkan Belanda, kelah di lapangan politik pun kita bisa mengalahkan Belanda”  begitulah ucap Soeratin. Banyak yang setuju dengan ucapan dan kampanye Soeratin, akhirnya sebuah persatuan sepak bola lahir. Pada hari minggu tanggal 19 April 1930, berkumpul wakil-wakil dari persatuan sepak bola pribumi di Gedung Batik, dekat alun-alun utara kraton Yogyakarta. Persatuan sepak bola ini berasal dari Batavia, Bandung, Magelang, Surabaya, Surakarta, Semarang dan Yogyakarta sendiri. Mereka bersepakat mendirikan sebuah wadah sepak bola bernama PSSI, kala itu bernama Persatoean Sepak raga Seloeroeh Indonesia. Ditahun 1952 berubah menjadi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia. Saat itu banyak perkumpulan sepak bola memakai nama Belanda. PSSI bukanlah persatuan sepak bola pribumi yang memakai nama dengan bahasa Indonesia, sebelumnya ada Persatuan Sepak Bola Indonesia Mataram (PSIM). Nama PSSI maupun PSIM masih ada sekarang.

Dalam pertemuan itu tadi, Soeratin diangkat sebagai ketua pertamanya. Sebagai konsekuensi pengangkatan sebagai ketua, PSSI yang belum memiliki kantor tetap lalu menjadikan rumah Soeratin di daerah Jetis, Yogyakarta sebagai kantor. Demi eksistensi PSSI yang dipelopori dan dipimpinnya, Soeratin menyusun program-program mempromosikan perkumpulan sepak bola nasional barunya pada kalangan pribumi. PSSI merencanakan diadakannya kejuaraan sepak bola tiap tahunnya dengan nama Stendentournooi.  Kejuaraan ini hanya boleh diikuti perkumpulan sepak bola daerah yang mengadakan kompetisi tingkat lokal saja. Kursus perwasitan juga diadakan untuk menghasilkan wasit-wasit pribumi yang memiliki standar sama dengan wasit-wasit Belanda. Kompetisi tingkat pelajar juga diadakan untuk mendapatkan pemain muda masa depan PSSI.

Sebuah kejadian hebat terjadi untuk pertama kali dalam sejarah PSSI. Saat itu, 1937, klub sepak bola asal Tiongkok, Nan Hwa,  atas undangan NIVB datang ke Hindia untuk bertanding dengan klub Hindia. Banyak persatuan sepak bola Belanda tumbang oleh Tiongkok itu.Pada 7 Agustus 1937, dengan tim dadakan PSSI berkesempatan melawan keseblasan Nan Hwa. Tanpa diduga, kendati banyak tim Belanda tumbang, PSSI berhasil menahan imbang 2:2 tim asal Tiongkok itu. Hal ini adalah bukti bahwa, dalam hal sepak bola pribumi tidaklah kalah dengan orang Belanda. Pemerintah Kolonial tidak melarang keberadaan PSSI, dimata pemerintah sepak bola tidak memiliki kaitan dengan politik.



Pemecatan Soeratin

Kesibukan Soeratin di PSSI bukan tanpa akibat. Perusahaan tempatnya bekerja, Boukundige Bureau Sitsen En Lausade, tidak menyenangi kegiatan Soeratin di PSSI. Perusahaan itu lalu memberi pilihan kepada Soeratin: PSSI atau pekerjaannya. Soeratin lebih memilih PSSI dan pekerjaannya dengan gaji f 1000,- ditinggalkannya.Soeratin memilih apa yang dipilih Sneevliet sebelum diusir dari Indonesia belasan tahun sebelumnya. Bukan hal baru seorang pengurus sepak bola pribumi kehilangan pekerjaan dengan penghasilan tinggi lantaran memimpin sebuah perkumpulan sepak bola pribumi. Ada seorang perwira KNIL lulusan Akademi Militer Breda di pecat lantaran menjadi bendahara perkumpulan sepak bola, padahal pemerintah kolonial menganggap sepak bola tidak ada kaitannya dengan politik.

Suratin Sosrosugondo adalah putra seorang guru. Dia lahir pada 17 September 1898 di Yogyakarta. Pendidikan tinggi yang pernah diraihnya pada Sekolah Tinggi Tehnik di Heclenburg, dekat Hamburg, Jerman. Dari kampus itu, ditahun 1927, Soeratin memperoleh gelar Insinyurnya. Dalam kehidupan pribadinya dia menikah dengan Raden Ajeng Sri Wulan, adik kandung dr Soetomo. Setelah keluar dari Boukundige Bureau Sitsen En Lausade,  Soeratin ketika menjadi ketua PSSI pernah mendirikan biro bangunannya walau tidak tidak sukses. Dia pernah bekerja dengan gaji f 100,- pada kesunanan Surakarta. Ketika Soeratin pindah ke Bandung, PSSI sudah berkantor di Solo. Setelah menjadi ketua kehormatan PSSI, ditahun 1941, Soeratin terpilih lagi menjadi sebagai ketua   PSSI.

PSSI adalah persepakbolaan nasional pertama, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia. Organisasi ini berdiri pada, lima belas tahun lebih tua dari pada Republik Indonesia. Dalam dunia pergerakan saja PSSI cukup mampu membuat kaum bumiputra bangga dengan kesuksesannya menahan tim Tiongkok dengan hasil seri. Kendati secara hukum kaum bumiputra berada dua tingkat dibawah orang Belanda, namun dilapangan sepak bola hanya ada kesetaraan.

Soeratin sudah menyatukan tekad orang-orang pergerakan untuk menggunakan sepak bola sebagai sarana perjuangan politik dalam pergerakan. Usaha Soeratin memang belum sepenuhnya tercapai, namun apa yang dicapai Soeratin patut dipandang bahwa usaha penyetaraan antara antara orang Belanda dengan bumiputra mulai menampakan hasil. Kesuksesan PSSI dimasa pergerakan adalah pencerahan bagi kaum pergerakan diatas rumput hijau. Sayang kesuksesan menahan imbang tim Tiongkok, yang telah mengalahkan tim Belanda, tidaklah diikuti dengan titik cerah kesuksesan kaum pergerakan dalam waktu yang cepat. Manifestasi sepak bola sebagai lapangan politik pergerakan setidaknya mampu memicu kepercayaan diri kaum pergerakan nasional.
 
Sumber: www.bhinnekatunggalika.com

Sepakbola dan Nasionalisme


http://3.bp.blogspot.com/_QAiRSffiNv0/TQWZii4hbXI/AAAAAAAAAKE/hwtYiJ8m-oY/s1600/TIMNAS-INDONESIA.jpg

Bulan ini Indonesia mendadak dilanda demam sepakbola, meskipun piala dunia 2010 sudah berakhir beberapa bulan lalu. Itu terjadi setelah kemenangan berturut-turut dalam bapak penyisihan piala AFF. Diawali dari kemenangan besar 5-1 atas Malaysia, membantai Laos 6-0 dan terakhir menandukkan Thailand 2-1 jelas tidak bisa dianggap sebagai keberuntungan. Berita-berita di koran dan televisi mulai diwarnai dengan eforia prestasi sepakbola kita yang selama ini sangat terpuruk.

Berbeda dengan demam sepakbola di musim Piala Dunia, di mana dukungan masyarakat terpecah bagi tim-tim luar negeri yang berlaga, kali ini dukungan seluruh rakyat terpusat untuk timnas Indonesia. Kalau dulu aku sempat kesulitan, bahkan belum pernah, menemukan kaos timnas terjual dipinggir jalan, belakangan ini dengan mudah aku bisa menemukan kaos timnas sepakbola kita di pinggir jalan. Malahan menjelang pertandingan leg kedua antara Indonesia melawan Filipina diberitakan adanya antrian pedagang, bukan pembeli, yang ingin membeli kaos timnas untuk dijual kembali karena tergiur keuntungan dua kali lipat. Ini akibat antusiasme masyarakat Indonesia, baik di Jakarta maupun di luar ibu kota untuk memberi dukungan kepada timnas. Selain itu, di kampung juga mulai terlihat anak-anak bermain sepakbola, dan sesekali meneriakkan yel-yel “Indonesia”, “Garuda di dadaku”, dan menyebut nama-nama pemain timnas seperti Gonzales, Irfan Bachdim, Bambang Pamungkas dan lainnya.

Antrian masyarakat untuk bisa menyaksikan pertandingan secara langsung pun tak terelakkan, meskipun harga tiket pertandingan melambung. Beberapa kalangan menganggap tindakan PSSI menaikkan harga tiket ini dirasa tidak mendukung timnas dilihat dari antisiasme masyarakat dalam mendukung timnas. Namun PSSI tetap diam saja, malah dalam pertandingan kedua sepertinya tiket dinaikkan. Tapi tetap saja, dukungan masyarakat  bagi sepakbola Indonesia tidak surut di tengah kekacauan dalam tubuh PSSI. Kekacauan itu masih terlihat dalam penjualan tiket untuk laga kedua semifinal AFF ini. Para pendukung timnas yang sudah berlelah-lelah mengantri dengan tertib akhirnya gagal mendapat tiket pertandingan karena loket tidak segera dibuka. Sangat disayangkan, anarkisme tidak bisa dihindari. Masyarakat mulai melakukan perusakan kantor PSSI dan juga membakar bendera PSSI tersebut sebagai wujud kekecewaan. Tindakan anarkis jelas tidak bisa dibenarkan apapun alasannya, namun PSSI seharusnya bisa introspeksi.

Sebagai satu-satunya organisasi yang menaungi sepakbola nasional, meskipun tanpa campur tangan pemerintah, harusnya PSSI bisa lebih profesional dan mengutamakan nasionalisme. Tidak bisa dipungkiri, kebangkitan sepakbola nasional ini turut membangkitkan rasa nasionalisme dan persatuan masyarakat. Seharusnya PSSI bisa lebih mengakomodir euforia masyarakat ini dengan banyak memberi kemudahan, bukan hanya mencari untuk sebesar-besarnya. Setidaknya ada dua hal yang seharusnya diperbaiki dari PSSI terkait penyelenggaraan pertandingan AFF ini, juga untuk pertandingan-pertandingan selanjutnya.

Pertama dalam penjualan tiket. Penjualan yang dilakukan secara terpusat di Senayan jelas menimbulkan antrian yang banyak dan bisa memacu keributan. Ada baiknya kalau tempat penjualan tiket bisa disebar di berbagai tempat dan sebagian lagi dilakukan secara online. Tentu mekanismenya harus ketat untuk menghindari praktek per-calo-an yang masih menjadi penyakit masyarakat. Siang tadi sempat menyaksikan adanya orang yang dihajar massa gara-gara diduga sebagai calo. Soalnya sekalipun tiket dijual terpusat, praktek percaloan tetap tidak bisa dihindari, disinilah perlu kerjasama dengan aparat kepolisian untuk mencegah hal ini terjadi.

Hal kedua yang perlu diperbaiki dari PSSI adalah dukungan bagi penonton yang bukan hanya penggemar bola namun juga pendukung timnas yang sedang bertanding. Bagi banyak pihak, dukungan ini adalah wujud nasionalisme masyarakat. Dari pengalaman laga kedua semifinal antara Indonesia - Filipina, jelas bahwa tidak semua pendukung akan bisa masuk ke stadion. Alangkah baiknya kalau di sekitar stadion dibuat semacam layar tancap sehingga masyarakat juga bisa menyaksikan pertandingan meskipun tidak secara langsung di dalam stadion. Kalau sewaktu demam piala dunia banyak sekali acara nonton bareng digelar, seharusnya acara inipun bisa digelar di berbagai tempat di ibukota untuk mengurangi kepadatan penonton di senayan. Oke, ini memang bukan tugas PSSI, namun sebagai pengayom persepakbolaan nasional, seharusnya mereka juga memikirkan hal ini. Pastilah tidak sulit untuk menggandeng sponsor yang mau menjadi mitra, apalagi kalau ditambah dengan alasan nasionalisme.

Tidak bisa dipungkiri, olahraga bisa membangkitkan rasa nasionalisme masyarakat. Tidak hanya sepakbola, namun juga bulutangkis dan tinju. Sayang sekali prestasi kita setelah reformasi bergulir nampaknya demikian merosot meskipun dukungan masyarakat tidak pernah surut. Memang, waktu final piala Asia terakhir, banyak masyarakat yang begitu kecewa terhadap timnas yang gagal di penyisihan grup meskipun sempat menang atas Bahrain. Namun saat ini, meskipun hanya di kancah regional Asia Tenggara, terbukti sepakbola bisa membangkitkan kembali antusiasme masyarakat dan semangat nasionalisme. Kebanggaan akan merah putih dan garuda terasa membara. “Garuda di dadaku”, akan terus bergema sampai penghujung tahun ini. Semoga saja kali ini Indonesia bisa juara!

Sumber: kurnia.blogdetik.com

Nasionalisme Lewat Sepak Bola

http://sgstb.msn.com/i/E8/95E5B6BD6518B484446EA1E0E39FE5.jpg
Garuda didadaku….. garuda kebangganku….. kuyakin hari ini pasti menang….”

Begitulah potongan lagu Band Netral ini membahana di sepanjang pertandingan Indonesia vs Philipina pada laga semifinal piala AFF. Pertandingan ini dimenangkan oleh Indonesia dengan skor 1-0 lewat melalui gol semata wayang seorang pemain naturalisasi, Christian Gonzales.

Selama 90 menit kita mendapat suguhan permainan aktraktif dari timnas. Media massa pun bersuara sama mengenai prestasi timnas ini: kebangkitan sepak bola Indonesia. Sepintas lalu, kita sepertinya melihat secercah harapan.

Bagi rakyat Indonesia, kemenangan timnas telah menjadi obat pelipur lara setelah selama bertahun-tahun menjadi korban: kemiskinan, bencana alam, korupsi, dan lain sebagainya.

Di tengah keterpurukan dan kemunduran bangsa ini, sepak bola telah menjadi tempat persemaian baru bagi nasionalisme Indonesia. Gelora Bung Karno berubah menjadi lautan warna merah dan putih.




Prestasi dan prestise

Sepak bola merupakan olahraga paling favorit rakyat Indonesia, bahkan bisa dikatakan menjadi olahraga rakyat. Olahraga ini dapat dimainkan oleh semua kalangan, dari orang muda sampai tua, pria maupun wanita, dilapangan, dikampung-kampung, dikompleks bahkan disudut-sudut gang. Wajar saja jika rakyat Indonesia sangat menginginkan timnasnya punya prestasi yang lebih baik.

Iya, sepakbola memang tak bisa dilepaskan dari persoalan prestasi dan prestise. Demi prestise misalnya, diktator-fasis Mussolini rela menggunakan kekuasannya untuk menghentikan langkah Rumania pada final piala dunia 1934, dimana ia mengancam tidak akan membiarkan seorang pemain Rumania pun bisa keluar lapangan jika mereka sampai mengalahkan Italia.

Sementara Adolf Hitler, pemimpin Fasis Jerman, memerintahkan agennya untuk mencuri trofi piala dunia, dan katanya, trofi itu harus disembunyikan dibawah kolong tempat tidur Presiden FIFA.
Begitu pula dengan Presiden SBY, karena sepak bola telah menjadi “pertunjukan” paling akbar dan paling banyak menyita perhatian rakyat, maka ia pun berusaha mencari “populer” dengan ikut menonton langsung pertandingan.

SBY membawa serta tiga panser untuk menemaninya nonton bola, sesuatu yang malah menciptakan “situasi tidak nyaman” bagi penonton lainnya.
Untuk mengejar prestasi dan prestise, PSSI mencoba jalan pintas untuk mengangkat prestasi timnas, yaitu dengan melakukan naturalisasi pemain. Beberapa pengamat menganggap jalan ini sebagai jalan pintas. Namun, bagi rakyat banyak, persoalan naturalisasi atau bukan, yang penting adalah timnas bisa memenangkan pertandingan dan membawa pulang piala.


Riuh rendah Nasionalisme

Eforia kemenangan timnas ini melanda semua negeri, seakan memberikan suntikan moral kepada bangsa Indonesia untuk bangkit.
Namun, ketika Firman Utina, dkk bisa bermain tangguh dalam menghadapi lawan-lawannya, maka Presiden SBY justru terlihat punya kebiasaan menunduk ketika bertemu bangsa asing.

Kita menginginkan keperkasaan pemain-pemain Indonesia di lapangan hijau bisa pula ditonton dan diikuti oleh pemimpin negeri, agar mereka tidak mudah menjadi subordinat di hadapan bangsa-bangsa lain, terutama di hadapan negeri-negeri imperialis.

Dan, kita juga sangat berharap, bahwa sentiment nasionalisme bukan saja terbakar saat timnas bertempur dengan tim negara lain di stadion gelora Bung Karno, tetapi bisa berkobar-kobar membakar setiap dada rakyat dan pemuda Indonesia saat berhadapan dengan penjajahan baru: Neoliberalisme.

Dalam sejarah perjuangan nasional Indonesia, sepak bola pernah menjadi kendaraan penting dalam perjuangan anti-kolonial. Soeratin berhasil mendirikan organisasi bernama Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (PSSI), yang tujuannya disebut untuk melawan kolonialisme Belanda.Tidak salah pula kalau kita berharap bahwa sepak bola akan menjadi sarana penting untuk memicu kembali kebangkitan nasionalisme Indonesia.

Oleh : Babra Kamal

Sumber: berdikarionline.com

10 "Lubang Neraka" di Bumi

10. Chuquicamata (Chili)




















Chuquicamata adalah sebuah lubang terbuka penambangan tembaga di Chili. Ini adalah tambang dengan total produksi terbesar tembaga di dunia meskipun bukan tambang tembaga terbesar. Tambang ini memiliki kedalaman 850 meter.


9. Udachnaya Pipa (Russia)





















Udachnaya Pipe adalah sebuah tambang berlian di Rusia. Pemilik tambang merencanakan untuk menghentikan operasinya pada tahun 2010. Tambang ini ditemukan pada tahun 1955 dan memiliki kedalaman lebih dari 600 meter.


8. Sinkhole (Guatemala)




















Pada tahun 2007, kedalaman mencapai 300 kaki , menelan selusin rumah di Guatemala - membunuh 2 orang dan menyebabkan ribuan orang dievakuasi. Lubang pembuangan itu disebabkan oleh hujan dan aliran limbah bawah tanah.


7. Diavik Mine (Kanada)


















The Diavik Mine adalah tambang di Northwest Teritori Kanada. Tambang dibuka pada tahun 2003, menghasilkan 8 juta karat atau sekitar 1.600 kg (3.500 lb) berlian setiap tahun.


6. Mirny Diamond Mine (Siberia)






















Mirny Diamond Mine kedalamannya mencapai 525m dan memiliki diameter 1200m. Ini adalah yang pertama, dan salah satu yang terbesar, tambang berlian di Uni Soviet ini sekarang ditinggalkan. Sementara untuk beroperasi, itu akan memakan waktu dua jam untuk truk melintasi dari atas ke bawah tambang.


5. Great Blue Hole (Belize)






















Great Blue Hole adalah lubang pembuangan air di lepas pantai Belize. Lubang mencapai 1.000 meter dan lebar 400 meter. Itu dibentuk sebagai gua kapur selama ice age terakhir.


4. Bingham Canyon Mine, Utah (USA)





















Bingham Canyon Mine adalah tambang tembaga di pegunungan Oquirrh, Utah. Kedalaman tambang adalah 0,75 mil (1.2 km), 2,5 mil (4 km) lebar. Ini adalah penggalian buatan manusia terbesar di dunia.


3. Monticello Dam (California)






















Monticello Dam adalah bendungan di Napa County, California, Amerika Serikat yang paling terkenal karena katup bulat besar dengan laju 48.400 meter kubik per detik.


2. Kimberley Diamond Mine (Afrika Selatan)





















Kimberley Diamond Mine (juga dikenal sebagai Big Hole) menjadi lubang galian tangan terbesar di dunia. Dari 1866 -1914 ,50.000 penambang menggali lubang dengan sekop, menghasilkan 2.722 kg berlian. Upaya-upaya sedang dilakukan untuk memilikinya terdaftar sebagai situs warisan dunia.


1. Darvaza Gas Crater (Turkmenistan)




















Pada tahun 1971, ahli geologi menemukan gas alam secara besar2ran di situs ini. Tujuan awal pengeboran hanyalah untuk mengukur tekanan gas tapi pengeboran ambruk dan meninggalkan lubang besar. Untuk mencegah gas beracun keluar, lubang diberikan izin untuk dibakar. Tapia pi itu terus menyala hingga hari ini dan banyak cara telah dilakukan untuk menghentikannya

iPad Sukses, China Menyusul Tiruannya

















Terobosan terbaru dari Apple dengan mengeluarkan computer sensasional yaitu iPad tak dapat di pungkiri menghebohkan dunia gadget di seluruh dunia, lewat iPad apple ingin memperkenalkan terobosan computer full touchscreen di masa depan. 
Dengan harga perkiraan $890 tak membuat para konsumen mengurungkan niatnya untuk membeli computer mungil ini. Keantusiasan itu terbukti dari penjualan iPad yang mencapai 2 juta buah dalam 60 hari. Komputer mungil ini hanya mempunyai berat 0,68 kg dengan tebal hanya13.4 mm, mengandalkan penampang selebar 9,7 inchi bersifat capasitive touchscreen.
Jangan harap menemukan full konektifitas layaknya pada PC/Netbook, di iPad kita hanya akan menemukan Wi-Fi & Bluetooth saja, tak ada card reader/pun port USB. Sungguh menyulitkan bila kita ingin menambahkan modem misalnya, atau sekedar mentransfer data ke flashdisk atau handphone, lain halnya jika kita berada di tempat dengan full Wi-Fi 24jam
Untuk segi performance tak bisa di bilang buruk ataupun baik karena belum mempunyai rival pembanding, dengan prosesor A4 SYSTEM APPLE CUSTOM 1 GHZ dan POWER VR SGX GPU. Bisa kita bandingkan performance nya dengan handphone tercanggih masa kini dan bahkan tak bisa melampau kinerja netbook dengan prosesor intel atom sekalipun. Bahkan dengan $US 890 kita sebenarnya sudah bisa mendapat netbook atau PC dengan LCD super lebar. Tapi entah mengapa iPad sungguh laris manis di pasaran. 
Kesuksesan Apple ini tak di sia-siakan oleh vendor-vendor asal china, inilah beberapa rival dari iPad asal china yang ikut meramaikan pasar:

1. iPed















Merupakan produk dengan nama dan ejaan paling dekat dengan iPad. Namun tablet tersebut memiliki beberapa perbedaan dengan ipad yaitu pada sistem operasi yang digunakan berbasis Android dan prosesor chip Intel dengan memori RAM 128MB berkapasitas 16GB.


2. Apad
















Kemunculan produk Apad China ini berbarengan dengan iPed. Belum banyak data yang diketahui dari gadget tersebut. Namun, yang dapat dipastikan, gadget ini berlayar 7 inci dengan bersistem android juga. Kabarnya, tablet layar ini dilengkapi koneksi WiFi.


3. iRobot















Tablet ini menggunakan sistem Android 1.5 dan bertenaga prosesor buatan RockChip yang paling baru, RK 2808. Kabarnya iPad China ini seharga US$130 sampai US$250.

4. P88
















Tablet ini kabarnya merupakan tablet imitasi pertama dikarenakan  muncul saat iPad belum diluncurkan. Tablet 10 inci ini memilih platform Windows dengan prosesor Intel Atom 1,6 Ghz, memori RAM 1GB dan kapasitas 160GB dilengkapi dengan 3 USB port dan VGA. Berbobot 1kg dengan kemampuan multitasking.
Tablet tersebut dibanderol cukup mahal yakni US$440.


5. Zenithink



















Tablet 10 inci ini diotaki dengan prosesor ARM Cortex-a8 berkecepatan 1GHz dengan memori RAM 512 MB dan penyimpanan media sebesar 16GB. Sistem operasi yang digunakan berbasis Android 2,1 dan mampu menyetel video 1080 px. Tersedia dalam 2 macam ukuran namun belum ada keterangan resmi tentang harga iPad china ini.


Ada juga merk-merk lain seperti WePad,gPad,Moonse E700 1, tidak hanya china saja, RIM vendor asal Kanada pun dikabarkan akan mengeluarkan BlackPad.
Related Posts with Thumbnails