Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Agustus 2012

Wisata Kuliner di Purwokerto



Purwokerto berlatarbelakang Gunung Slamet
Kalau sebelumnya saya pernah singkat bercerita tentang Purwokerto dalam tulisan saya“Dieng – Negeri di atas awan”, maka kali ini saya akan lebih detil menceritakan wisata rasa atau kuliner dari kota yang membesarkan saya selama 3 tahun semasa di SMA ini.
.
  • SOTO
Berbicara tentang kuliner dari Purwokerto, satu yang menjadi masakan khas dan tidak ada kemiripan lainnya di seantero negeri ini adalah SOTO. Apakah yang membedakansoto Purwokerto (atau Soto Sokaraja) dengan soto-soto lainnya? Ada paling tidak dua hal utama, yaitu SAMBAL dan KRUPUK.
Bagi Anda yang belum pernah merasakan Soto versi Purwokerto, barangkali tidak terbayangkan untuk makan soto dicampur sambal kacang. Ya, itulah keunikan nomor satu.
Keunikan kedua ada pada krupuk berwarna warni – merah kuning hijau, yang diremukkan dan ditaburkan ke dalam sotonya sehingga warnanya makin meriah.
Berbeda dengan soto versi Kudus, Solo, atau Jawa Timuran yang menawarkan kesegaran rasa dalam kuah bening yang gurih… maka Soto Purwokerto / Sokaraja ini menawarkan rasa campuran antara kaldu sapi atau ayam + sambal kacang + kecap manis yang menghasilkan soto yang kental dan mengenyangkan. Tidak heran untuk menghindari kekenyangan, porsi Soto di daerah ini hanyalah 2/3 mangkok saja. Bagi yang doyan (seperti saya) biasanya sekali pesan langsung 2 porsi biar mulutnya tidak sempat nganggur menunggu porsi kedua, he he he…
Nah, ada 2 aliran Soto yang terkenal di daerah ini: SOTO AYAM (biasanya di Purwokerto) dan SOTO SAPI (biasanya di Sokaraja – 5 km timur Purwokerto).
    1. Soto Ayam yang sering saya kunjungi di Purwokerto adalah di Soto Ayam Pak Sungeb dan Soto Ayam Jalan Bank – keduanya berlokasi di Jalan Bank, sekitar 300 meter sebelah barat Alun-alun Purwokerto. Salah satu dari kedua tempat tersebut masuk ke dalam kategori wajib untuk disambangi tiap kali saya pulang ke Purwokerto.
    2. Adapun untuk Soto Sokaraja, bisa dikatakan ini lebih terkenal (bukan berarti Soto Ayam-nya tidak terkenal ya…). Lokasinya sekitar 5 km dari Purwokerto menuju ke arah Purbalingga / Wonosobo / Yogyakarta. Daging sapi dalam soto Sokaraja memang lebih berlemak dibandingkan daging ayam sehingga membuat kuahnya lebih kental. Dan jangan heran, salah satu opsi untuk dicampurkan ke dalam Soto Sokaraja adalah LANTING – itu lho yang kayak cincin bentuknya dibuat dari singkong. Warung Soto Sokaraja langganan saya adalah Soto Pak Kecik, yang sudah kondang dari jaman saya kecil (berapa puluh tahun yang lalu ya…). Kalau dari arah Purwokerto adanya di sisi kanan jalan. Pokoknya, begitu masuk warung langsung pesan dua!!! Begitu datang, langsung masukkan 2 sendok sambal kacang, ditambah kecap manis, plus 1 bungkus lanting. Muak nyuuuussss….. atau bahasa Purwokerto-nya NYLEKAMIN alias MBLAKETAKET… Oh iya, kalau lagi di Sokaraja jangan lupa mencicipi getuk gorengnya yang terkenal dan maniisss…
      Getuk Goreng Asli Sokaraja - ada lebih dari 7 cabang berderet...
      .
      • Sate Kambing
      Berbicara tentang Sate, setidaknya ada 3 jenis sate yang cukup berbeda alirannya: (1) Madura – terkenal dengan sate ayamnya; (2) Solo – terkenal dengan Sate Kambingnya yang kaya lada; (3) Tegal & Banyumas – terkenal dengan Sate Kambingnya yang menonjolkan rasa daging tanpa banyak bumbu. Tentu saja di luar itu masih banyak sate-sate jenis lain yang unik seperti sate ambal khas Kebumen contohnya.
      Berada di kawasan Banyumas, Purwokerto-pun mengikuti mainstream sate di kawasan tersebut yang hampir mirip dari mulai Tegal – Prupuk – hingga Purwokerto yaitu Sate Kambing yang dibakar (hampir) tanpa bumbu. Kenapa saya tulis “hampir”? Karena sepanjang penglihatan saya dagingnya memang tidak ada bumbunya waktu dipanggang, tapi ada beberapa pedagang yang sedikit mengolesinya dengan bumbu ketika sudah setengah matang.
      Nah, untuk urusan sate kambing di Purwokerto maka favorit saya adalah Sate Kambing Tiga Saudara. Lokasinya sekitar 100 meter sebelah timur dari perempatan Kebondalem – Gatot Subroto. Kalau lagi musim liburan, jangan harap bisa mendapatkan sate di sini setelah jam 8 malam. Pernah suatu liburan, saya datang ke situ jam 7 malam sudah disambut dengan tulisan “SATE HABIS”… hu hu hu…
      Apa yang special dari warung sate ini, ya itu tadi… Satenya dibakar tanpa bumbu barangkali ada bumbu rahasia yang sifatnya minor, hingga tidak kasat mata dan kasat lidah… ketika sate dihidangkan, warna dagingnya adalah PINK KECOKLATAN. Ya betul, jadi bukannya coklat atau hitam seperti sate kebanyakan… Sate Kambing Tiga Saudara ini ketika disajikan tidak ada unsur kecap sama sekali di daging satenya.
      Bumbu untuk mencocolnya saya biasanya pilih kecap dan potongan cabai saja. Bahkan, karena saya sangat suka dengan keaslian rasa daging kambing maka seringkali saya makan sate tersebut tanpa bumbu sama sekali.
      Wah, itu namanya kelembutan dagingnya – aroma daging yang menyeruak ke hidung manakala kita menelannya, benar-benar wah… saya menyebutnya rasa Sate Kambing ini berkelas. Aroma kelembutan daging tanpa bumbu-bumbu lain itu benar-benar, hmmmmmm….. Nyuuuussss….
      .
      • Bakmi Goreng – Godhog – Nyemek
      Satu menu lain yang cukup nikmat untuk teman menikmati malam di Purwokerto adalah BAKMI.
      Mungkin memang orang Purwokerto senang dengan makanan yang rasanya cenderung “berat”, maka bakmi-bakmi yang ditawarkan di Purwokerto memiliki cita rasa yang kental – berbeda dengan bakmi Jogja / Kulonprogo yang menawarkan rasa gurih ayam samar-samar dan tidak terlalu “nonjok”. Untuk mendukung kekentalan tersebut, lagi-lagi kecap bermain peran penting di sini.
      Untuk menyesuaikan keinginan pelanggan, tersedia 3 jenis bakmi: Bakmi Goreng, Bakmi Godhog alias Rebus, dan Bakmi Nyemek alias “in between”.
      Ini bakmi gorengnya yang mak nyus...
      .
      Ini bakmi goreng versi nyemek yang tidak kalah mak nyusnya...
      .
      Untuk yang doyan bakmi, banyak tempat yang menawarkan bakmi di Purwokerto dengan rasa yang paling tidak di atas passing grade.
      Beberapa yang cukup terkenal antara lain:
        • Bakmi Palma – di perempatan Palma Jalan Sudirman (300 meter timur Alun-alun)
        • Bakmi Nyemek Berkoh.
        • Bakmi Gongso (yang ini cita rasanya campur Semarang-an), di ujung timur Jalan Sudirman – sebelah timur Pasar Wage.
        • Bakmi lesehan di sisi utara Kebondalem, depan Medico Labora menghadap ke Jalan Gatot Subroto.
      Makan Bakmi enaknya malam hari, karena bakalan cocok dengan udara Purwokerto yang agak dingin kalau malam hari (walaupun terakhir saya ke sana sudah tidak dingin lagi, jadi sedih…).
      Nikmatnya malam hari makan bakmi goreng...
      .
      • Serabi
      Selain serabi Solo dan serabi (atau surabi) Bandung, Purwokerto juga punya serabi yang khas lho…
      Kalau serabi Solo berwarna putih dan tanpa kuah, surabi Bandung berkuah coklat, maka Purwokerto memiliki serabi yang pinggirnya putih dan tengahnya coklat. Jadi ibarat memadukan rasa Solo dan Bandung dalam satu paket.
      Serabi versi Purwokerto, pinggir putih tengah coklat...
      .
      Agak berbeda dengan serabi Solo (Notosuman) yang gurih dan rasanya kalau saya bilang “rasa priyayi”, maka serabi Purwokerto ini rasanya “rasa merakyat” karena tidak menawarkan gurihnya santan tetapi lebih tawar pada bagian putihnya. Bonus atau bagian enaknya ya di bagian coklatnya yang ada di tengah karena disitulah yang ada gulanya.
      Jadi kalau makan serabi Purwokerto ini saya jadi kayak anak kecil, dimakan pinggirnya dulu yang putih untuk kemudian menikmati “the best part”nya yang coklat di bagian terakhir. Norak ya? He he he…. Biarin aja ah.
      Dulu banyak sekali mbok-mbok yang jualan serabi ini, di banyak tikungan atau perempatan. Sekarang ini sudah sangat sulit menemuinya. Satu yang dapat saya temui ada di pertigaan Jl. Dr. Angka dan Jl. Gereja. Dan jualannya hanya pagi hari.
      Saya coba beli beberapa, yah masih enak juga dengan rasa “marginal”nya yang khas… he he he…
      Serabi Dr. Angka Purwokerto
      .
      Pagi-pagi pada antri serabi di Dr. Angka Purwokerto
      .
      • Menu warung pantai Widarapayung
      Di liburan akhir tahun 2009 kemarin ini saya sekeluarga sempat mampir ke pantai di sisi selatan Purwokerto – tepatnya 9 km sebelah selatan KROYA. Ini merupakan pantai bersejarah bagi saya, karena di pantai inilah untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya bisa berenang. He he he, kurang penting ya?
      Pantai Widarapayung ini sama dengan pantai Parangtritis di Jogja, menghadap ke Samudera Hindia dan memiliki pantai pasir hitam yang lebar. Akibatnya, panasnya minta ampun…
      Selain menu khas Banyumasan seperti kupat tahu, di pantai ini ada menu yang unik dan barangkali susah mencarinya di daerah lain yaitu YUTUK GORENG.
      Enaknya makan kupat tahu di pinggir pantai Widarapayung...
      .
      Mendoan yang lebih gede daripada piringnya...
      .
      Ini lho yang namanya YUTUK goreng, dari jauh kayak strawberry dari dekat kayak capit kepiting...
      .
      Saya tidak tahu apa bahasa Indonesianya Yutuk, tapi sepertinya ini sejenis Crustaceae (keluarga udang atau kepiting gitu deh…) yang hidup di dalam pasir. Digoreng begitu saja, yutuk ini menjadi berwarna merah dan bisa di”kremus” begitu saja. Rasanya sih nggak maknyus-maknyus amat, tapi uniknya itu lho yang bikin penasaran…
      Dan berikut ini suasana pantainya, bagus lho…
      Lebarnya garis pantai Widarapayung Kroya
      .
      Batagor di pantai...
      .
      Ini bukan Lone Ranger, tapi sewa kuda buat keliling pantai...
      .
      Sumber: http://wisatajiwa.wordpress.com

      Jumat, 22 Juni 2012

      Kampung Laut, Semarang



      Mudik terakhir kemarin aku berkesempatan main ke Kampung Laut, yang ternyata adalah sebuah resto dan pemancingan yang berdiri dipinggir laut di sebuah teluk di Semarang Utara, lokasinya bersebelahan dengan PRPP Semarang.


      Sebuah halaman parkir yang luas terdapat di area ini, dan pintu gerbang masuknya adalah sebuah lorong beratapkan kayu dengan view laut tempat pengunjung memancing. Jadi lokasinya seperti berdiri di atas air, dan kita bisa melihat ikan-ikan di bawah kita.


      Masuk ke dalam terdapat riung semacam pondok kecil yang bisa diisi 6-8 orang, tapi ada juga yang lebih dari itu. Ada semacam genta kecil di tiap pondoknya, jadi jika ingin memanggil pelayan tinggal memukulnya. Tapi tanpa memukul pun sang pelayan sudah datang sendiri. Di sudut agak dalam ada sebuah panggung kecil tempat band beraksi, jika ingin nyanyi sendiri bisa juga koq diiringi organ tunggal, sedangkan di sisi belakang panggung itu terdapat kasir yang bersebelahan dengan toilet.



      Di sana juga terdapat tempat bermain anak-anak, mushola, pondok-pondok yang memanjang mengitari kolam laut untuk memancing. Di sebuah sudut dekat mushola bahkan terdapat aquarium yang berisi lumba-lumba (atau apalah, kurang jelas). Di sebuah tempat terpisah, ada area yang diperuntukkan bagi mereka yang sudah booking untuk acara khusus semacam pernikahan, atau reuni, ya pokoknya semacam gedung pertemuan gitu deh.


      Jika kau datang bersama keluarga, cobalah datang pada siang hari, tapi jika hanya bersama pasanganmu atau teman-teman datanglah malam hari. Viewnya sangat cantik.. karena banyak lampu-lampu kecil di setiap sudut tiang kayunya. Hampir seratus persen bangunan di Kampung Laut terbuat dari kayu, bahkan ada yang dibuat mengapung dengan menggunakan drum, jadi jika menapaknya akan terayun-ayun.


      Kalau kalian ke Semarang, cobalah mampir ke sini....



      Jumat, 18 Mei 2012

      Sedapnya Kupang Sate Kerang



      Sedapnya Kupang Sate Kerang Khas Jatim

      Jika Anda mengunjungi Jawa Timur, tepatnya kota Surabaya dan Sidoarjo, jangan lupa untuk menikmati kuliner unik khas pesisir "Kupang Lontong". 
      Sebenarnya Kupang Lontong bisa anda temukan di banyak kota di Jawa Timur seperti Malang, Lamongan, Tuban, Pasuruan, Gresik, dsb namun yang rasanya paling ‘nendang’ hanya ada di Surabaya dan Sidorajo.

      Karena memang sebenarnya kupang tidak tahan lama kesegarannya, jadi akan lebih nikmat jika dinikmati di daerah yang dekat dengan daerah penangkapannya. Kuliner ini merupakan hidangan sepinggan yang terdiri atas lontong, kuah petis, sate kerang dan kupang.

      Ada juga tambahan irisan ‘Lento’, sejenis gorengan campuran antara singkong serut, taoge dan kacang tolo. Rasanya benar-benar unik dan nikmat perpaduan petis, bawang goreng dan kupang dengan kuah asam pedas manis yang segar, sangat cocok untuk dinikmati pada saat cuaca sedang panas. 



      Tentu saja yang membuat unik hidangan ini adalah kupang-nya, sejenis binatang laut kecil-kecil seperti tiram yang banyak dibudidayakan di daerah pesisir timur Jatim. Berwarna coklat pucat dengan kepala berwarna hitam. Dipastikan Anda  akan kesulitan menemukan hidangan ini di luar Jatim.



      Kupang adalah makanan sejenis kerang yang dimasak dengan campuran bumbu bawang putih, untuk menghidangkan biasanya dicampur dengan petis kupang, jeruk nipis , lontong dan irisan lento, bila suka bisa ditambahkan cabe rawit, lebih maknyus dimakan dengan Sate Kerang.

      Untuk minumannya bisa Es Degan Hijau atau kelapa muda, disamping segar es degan bisa meminimalisir alergi kupang & kerang.  

      http://www.wartanews.com

      Mangut Kepala Manyung




      Mengasap ikan sudah lazim dilakukan oleh para juru masak tradisional di pesisir Jawa untuk menghasilkan aroma sedap pada masakan. Nah… di Semarang Jawa Tengah pengasapan ikan ini disebut dengan mangut yang juga menjadi masakan khas warga Semarang. Dengan kombinasi bumbu rempah dan pedasnya cabe, Mangut Ikan menjadi buruan para penggemar kuliner di kota Semarang dan sekitarnya.

      Banyaknya Mangut Manyung di Semarang tapi yang paling ramai dikunjungi oleh pemanja lidah adalah Warung Mangut Bu Fat di jalan Ariloka Semarang Barat menurut Bu Bekti Mulyani sang pemilik warung yang menjadi penerus Bu Fat mengatakan, untuk menciptakan rasa mangut manyung yang khas enak dan nendang harus diupayakan tidak berbau amis serta  bumbu rempah-rempah dan cabe yang banyak ditambah santan yg kental.

      Harga hidangan mangut manyung di Warung Mangut Bu Fat cukup bersahabat. Seporsi ikan manyung asap plus nasi & minuman cukup Rp. 10 ribu rupiah saja. Kalau anda memesan kepala manyung yang super besar harganya Rp. 35 ribu rupiah yang bisa disantap bertiga. Wuihhh bener-bener marem. Maka gak heran kalau setiap jam makan siang warung ini ramai dipadati pembeli. Oh..iya pembeli tidak hanya dari kota Semarang saja namun juga luar kota. Bahkan karena saking swedep dan wenaknya, mantan menteri keuangan Sri Mulyani menjadi pelanggan tetap mangut manyung bu Fat. Sementara untuk hari biasa menurut bu bekti bisa laku 20-30 kepala manyung sedang untuk hari libur atau kalau pas ramai bisa sampai 40-50 kepala manyung.

      Falsafah atau ungkapan gajah mati meninggalkan gading dipegang oleh keluarga ini. Hal ini terbukti Resep mangut manyung dari tangan bu Fat mengalir di tangan anak-anaknya. Uniknya lagi, di Warung Mangut Bu Fat ini semuanya, mulai dari yg memasak masih satu keluarga.
      Yang membedakan Warung Mangut Bu Fat berbeda dengan mangut lainya adalah sedap dan tidak berbau amis juga ditambah harganya yg terjangkau.
      Tak kenal makanya tak sayang…suka pedes dan swedep….serta pelayanan yg memuaskan silahkan mencoba Warung Mangut Bu Fat.

      http://www.rasikafm.co.id

      Nasi Gandul Pati


      Nasi Gandul 

      Foto: Bondan W



      Pati
       - Nasi gandul adalah sajian khas Pati, Jawa Tengah. Dilihat sepintas, ia sangat mirip dengan nasi pindang dari Kudus, tetapi tanpa daun so (daun melinjo muda). Kalau nasi pindang kudus adalah hasil persilangan antara soto dan rawon, maka nasi gandul pati adalah persilangan antara soto dan gule. Nasi gandul memang lebih nendang dan mlekoh rasanya bila dibanding dengan nasi pindang.

      Sajian ini merupakan kombinasi dari dua masakan yang masing-masing dimasak dengan bumbu sangat kaya. Elemen pertama adalah empal daging sapi (juga termasuk jeroan) yang dimasak dalam bumbu-bumbu harum, kemudian digoreng sebentar. Empalnya sudah gurih bila dimakan begitu saja.

      Elemen kedua adalah kuah santan yang juga sangat gurih. Rasa jintan dan ketumbar mencuatkan citarasa gulai atau kari India. Sedangkan lengkuas dan bawang putih mewakili unsur-unsur soto yang populer di Jawa. Diperkaya dengan bumbu-bumbu lain, diikat dengan santan yang membuatnya sungguh mak nyuss.

      Tidak semua penjual nasi gandul – baik di Pati, maupun di kota-kota lain – menyajikannya dengan cara yang sama. Tetapi, yang pasti, hampir semua penjual nasi gandul memakai alas piring dari daun pisang. Tampaknya ini merupakan ciri penting yang tidak boleh tidak. Sebagian penjual memakai gunting untuk memotong-motong daging maupun jeroan. Cara menggunting ini juga populer dilakukan di Kudus, misalnya ketika menyajikan nasi pindang. Para penjual nasi kari ayam di Medan pun menggunakan gunting untuk memotong-motong daging ayam. 

      Ada penjual nasi gandul yang menuang kuah di atas nasi, kemudian menggunting-gunting empal di atasnya. Tetapi, ada pula yang menggunting empalnya dan menaburkannya di atas nasi, baru kemudian dituangi kuah. Di atasnya ditaburi bawang merah goreng yang renyah.

      Mengapa disebut nasi gandul? Pertanyaan sederhana ini ternyata sulit menemukan jawabnya. Hampir tidak ada jawaban memuaskan, termasuk dari mereka yang berdagang nasi gandul. Satu-satunya jawaban yang agak masuk akal adalah karena nasi dan kuahnya "gemandul" (bergantung) di atas piring yang terlebih dulu dialasi daun pisang.

      Lauk wajib untuk nasi gandul adalah tempe goreng. Seperti terlihat di foto, tempenya adalah jenis yang dibungkus individual. Tipis, padat, dan kering. Teksturnya yang garing itu sangat padan dengan tendangan kuah nasi gandul yang mantap. Tentu saja, lauk-pauk gorengan lainnya juga cocok untuk mendampingi nasi gandul. 

      Kalau sedang di Pati, makanan berkuah nan gurih ini paling cocok disantap dengan didampingi es sirup kawista yang aromanya sangat harum.

      http://food.detik.com

      Mangut Pe Juwana





      Juwana - Deskripsi paling singkat tentang mangut adalah gulai pedas bernuansa Jawa. Tingkat kepedasannya adalah: dari pedas hingga pedas sekali. Sajian ini mewakili makanan rakyat yang sederhana dan merupakan hidangan sehari-hari.

      Di sekitar Semarang, kebanyakan mangut dibuat dari ikan pari asap. Kadang-kadang juga ditambah tahu goreng untuk membuatnya lebih berisi. Di kalangan peranakan Tionghoa, bisa juga ditambah dengan rebung. Tergantung kualitas ikan pari asap yang dipakai, kadang-kadang aroma mangut kurang disukai karena berbau pesing (seperti amonia). Tetapi, bila kualitas ikan parinya istimewa, sajian pedas ini akan membuat banyak orang terpana.

      Penggunaan santan dan kunyit dalam kepekatan berbeda – sesuai selera masing – juga membuat mangut berbeda-beda penampilannnya. Ada yang sangat kuning dengan kuah kental, ada pula yang encer dan warnanya kecoklatan. Begitu juga tingkat kepedasannya dapat disesuaikan sesuai selera. Di daerah-daerah Pantai Utara Jawa, mangut hampir selalu disajikan secara sangat pedas. Bumbu-bumbunya pun harus mencitrakan kesan garang. Mungkin itu semua sengaja dilakukan untuk mengimbangi aroma ikan asap sebagai bahan utama. Cadas!

      Sepengetahuan saya, ada dua jenis mangut, yaitu gagrak Pantai Utara Jawa (populer di lintasan Semarang – Tuban), dan gagrak Pantai Selatan Jawa (populer di sekitar Yogyakarta). Gagrak Pantai Selatan Jawa ini lebih "jinak" karena kurang pedas, lebih bersantan dan lebih gurih, dengan tendangan trasi yang cukup terasa. Di sekitar Yogyakarta, banyak warung yang menyediakan mangut dari ikan lele asap atau ikan lele goreng.

      Di Juwana, Jawa Tengah, ada sebuah warung kecil dengan kualitas mangut yang saya anggap juara Indonesia. Rekor ini belum terpatahkan hingga sekarang, sekalipun saya sudah berkunjung ke berbagai warung lain yang menyediakan mangut.

      Awalnya, sekitar sepuluh tahun yang lalu, keberadaan warung ini saya ketahui dari Kwik Kian Gie, mantan Menko Kesra, yang memang berasal dari kota kecil ini. Ternyata, warung ini menempel di sebelah pabrik rokok cap Tapal Kuda yang dimiliki Nyoman, adik Kwik. Mangutnya pedas pol! Hingga 15 menit sesudah makan, keringat masih terus bercucuran.

      Di sini ada mangut kepala ikan manyung asap dan mangut ikan pari asap. Ada juga mrico – mirip sayur asam dari bahan ikan laut – hidangan khas daerah Pati-Rembang, juga tersedia di sini. Bila kepedasan, warung ini menyediakan penawarnya: pisang, kuweni, es tape ketan hijau, dan lain-lain.


      http://kulinerseputarpati.blogspot.com

      Kamis, 17 Mei 2012

      Menikmati Malam Jogja di Angkringan Lik Man


      Angkringan
      Pada dasarnya angkringan adalah Penjual makanan dan minuman sederhana yang memakai gerobak atau angkring. Dahulunya para pedagan angkringan ini berjalan keliling namun saat ini kembanyakan mempunyai tempat mangkal tersendiri. Begitu juga dengan Angkringan Lik Man ini. Angkringan ini mengkal atau menetap di Utara Stasiun tugu tepatnya di Jl. Wongsodirjan. Tidak sulit menemukan tempat ini karena setiap malam pasti sangat ramai dikunjungi. Dari arah Tugu Yogyakarta lurus keselatan nah sebelum masuk area stasiun tugu ada jalan satu arah dari barat disitulah angkringan Lik Man berada.
      Disebut akringan Lik Man sendiri pada dasarnya masih belum jelas karena orang yang berjualan yang dipanggil Lik Man sendiri bernama Siswo Raharjo sedangkan yang merupakan pelopor atau pertama kali yang berjualan ditempat itu justru orang tua dari Bp. Siswo Raharjo yang bernama Bp. Pawiro yang berasal dari Cawas, Klaten.  Awal jualan Bp. Pawiro sendiri dulunya tidak menetap ditempat itu juga, Dia berjualan berkeliling disekitar stasiun Kereta Api Tugu. Bp. Pawiro ini berjualan mulai tahun 1950 dan digantikan anaknya yakni Bp. Siswo Raharjo pada tahun 1969. Sekitar tahun tujuh puluhan Bp. Siswo Raharjo mulai berjualan menetap di utara stasiun tugu tersebut.
      Angkringan disini karena pengunjungnya kian hari kian bertambah maka tempat duduk yang biasanya mengitari angkringan sudah tidak mencukupi lagi, maka saat ini bagi pengunjung akan lebih santai menikmati makanan dan minuman di tempat ini dengan duduk lesehan di pinggir jalan, sehingga ciri khas jogja semakin terasa. Makanan yang disajikan hampir sama dengan angkringan pada umumnya yakni Nasi Kucing, ini berupa nasi dengan lauk oseng tempe atau teri dengan sambal . disebut nasi kucing mungkin karena porsi yang sedikit hanya sekitar satu gengaman tangan. Yang lain daripada yang lain yang sering menjadi menu istimewa ditempat ini adalah Kopi Joss, kopi hitam kental yang dicelupin bara arang dari tungku yang seketika berbunyi “joss” sehingga orang menyebutnya demikian. Bagi yang tidak senang minum kopi masih banyak menu minuman yang disajikan ada teh, jahe, Jahe susu, atau yang dingin juga ada. Untuk makanan selain Nasi Kucing ada bermacam-macam gorengan ada mendoan, tahu susur (tahu isi sayur), Kepala Ayam yang di goreng manis (Bacem) dan masih banyak macamnya.
      Yang menjadi ciri khas jogja lainnya adalah harganya bisa dikatakan sangat murah, Nasi Kucing satu bungkus hanya seharga Rp. 1.000,-, Aneka macam gorengan rata-rata Rp. 500,-, Aneka macam sate pada kisaran Rp. 1.000,- hingga Rp. 2.000,- dan aneka minuman mulai dari Rp. 1.000 s/d Rp. 2.500,-. Sangat murah, menikmati hidangan rakyat dengan nuansa malam yang penuh kebersamaan, menyatu dengan berbagai macam latar belakang pengunjung yang berbeda-beda.

      Menikmati Gudeg Jogja di Kampung Wijilan















      Sentra makanan khas Gudeg Jogja berada di sepanjang Jalan Wijilan sebelah Timur Alun- alun Utara Yogyakarta, tempat ini menjadi tempat pertama kalinya muncul dan terkenalnya Gudeg Jogja. Tak lengkap liburan anda ke Yogyakarta jika tidak menikmati makanan khas yang sudah terkenal oleh wisatawan Mancanegara dan domestik ini. Gudeg Jogja berbahan dasar Gori atau nangka muda , yang dikukus sekitar 24 jam dalam suhu yang sangat panas untuk menguapkan kuahnya. Gudeg Jogja berbeda dengan Gudeg yang lain karena tidak berkuah, gudeg kering berwarna coklat tua kemerah- merahan dengan rasa yang manis dan gurih.












      Gudeg Jogja ini bisa anda nikmati dengan berbagai lauk, mulai dari daging ayam dan telur yang direbus  dan dipindang hingga berwarna coklat,dipadu dengan rasa pedas yang didapat dari perpaduan tempe dan sambel krecek menjadikan gudeg ini mempunyai cita rasa pedas manis yang bisa membuat lidah anda bergoyang. Anda bisa menikmati gudeg ini dengan harga yang bervariasi mulai dari Rp.5.000 sampai puluhan ribu rupiah tergantung dari jenis lauk yang anda pilih. Bagi anda berminat untuk melihat proses pembuatan gudeg jogja, dari beberapa warung yang ada di kampung wijilan memperbolehkan anda untuk melihat langsung proses pembuatan gudeg Jogja ini, jika anda penasaran dengan proses pembuatanya.












      Gudeg  ini mampu bertahan 3 hari,karena gudeg ini merupakan gudeg kering, jadi bisa bertahan lama dan tidak basi,bisa anda jadikan oleh- oleh  kelurga dirumah. Dari Gudeg yang bisa bertahan lama dan cita rasa yang sangat menakjubkan inilah gudeg Jogja mampu terkenal  oleh wisatawan domestik maupun Mancanegara dan di kota- kota di Indonesia, karena kebanyakan dari wisatawan membawa gudeg Jogja untuk dibawa pulang kerumah sebagi buah tangan. Seperti oleh – oleh yang lain, gudeg jogja mempunyai bungkus yang unik, yaitu dari besek, dari bambu yang dianyam ataupun dari kendil yang terbuat dari tanah liat.
      Sumber: http://panduanwisata.com

      Jejamuran, Menikmati Makanan Serba Jamur




      Jejamuran , terletak di Jalan Magelang km 10 Yogyakarta, tepatnya di Niron, Pandowoharjo, Sleman Yogyakarta. Restoran ini mempunyai bangunan dua bagian dan belakang yang cukup luas. Jejamuran mulai buka dari pukul 10.00- 09.00 malam. Restoran ini menyediakan menu makanan yang smuanya berbahan dasar dari jamur yang segar. Mulai dari jamur tiram, jamur merang, jamur shiitake, jamur kancing, jamur lingzhie dan  masih banyak lagi. Keistimewaan restoran ini yang selain semua menu berbahan dasar dari jamur yang tidak terdapat direstoran lain, disini juga disediakan jamur segar untuk anda jadikan oleh- oleh.









      Menu yang disediakan di Restoran ini bervariatif, mulai dari sate jamur, sup jamur, oseng- oseng jamur, pepes jamur, empal jamur dan masih banyak lagi menu yang ditawarkan, dari olahan jamur yang pedas sampai yang manis, dari yang kering sampai yang berkuah, dari yang dibakar sampai yang digoreng anda bisa nikmati direstoran ini. Mulai dari harga Rp.4.000 sampai ribuan rupiah, anda bisa memilih menu yang sesuai dengan selera anda.Sambil makan anda akan diiringi dengan musik dari musisi yang ada direstoran jejamur, menambah suasana nyaman anda.









      Telah kita ketahui jamur baik untuk dikonsumi bagi tubuh kita, jamur mengandung senyawa bioaktif, berbagai macam asam amino, vitamin dan mineral yang baik untuk kesehatan tubuh. Jamur juga telah terbukti menaikan bisa menaikkan kekebalan tubu, menurunkan tekanan darah dan kandungn lemah dalam tubuh sehingg bisa menghambat pertumbuhan tumor, antiinflamasi dan anti mikroba. Di restoran ini anda akan diberi pengetahuan tentang seluk- beluk  jamur dan cara budidayakan jamur. Untuk anda yang ingin bertanya- Tanya tentang jamur, anda bisa langsung bisa bertanya kepada petugas yang telah disiapkan oleh restoran ini.
      Sumber: http://panduanwisata.com

      Rabu, 18 Januari 2012

      Nasi Pecel "Yu Sri" Semarang


      Ternyata di Semarang ada juga tempat makan pecel yang enak. Lokasinya di Simpang Lima, namanya Nasi Pecel "Yu Sri". Diajak oleh Pak Suroto, teman saya dari Depkominfo, kami beserta rombongan lainnya langsung meluncur ke Simpang Lima yang jaraknya hanya sekitar 10 menit dari hotel Pandanaran untuk menikmati nasi pecel ini.

      Buka sejak pukul 17.00, warung ini tidak pernah sedikitpun sepi. Pengunjung terus mengalir untuk menikmati nasi dengan sayuran rebus yang diberi bumbu kacang ini, dan disajikan diatas pincuk daun pisang.
      Penjaja makanan tidak pernah berhenti, benar-benar tidak pernah berhenti, untuk mengambil nasi, sayur, lauk pauk lainnya dan kemudian mengguyurnya dengan bumbu pecel. Kita pun harus menunggu giliran untuk dapat tempat duduk di warung kecil ini, dan setelah selesai makan rasanya tidak enak berduduk lama-lama karena sudah banyak orang yang berdiri untuk menanti giliran agar bisa duduk makan.

      Sebagai lauk pendamping kita bisa memilih banyak jenis penganan. Salah satu yang paling laris adalah sate keong. Selain itu jeroan seperti Paru, Babat, dan Usus juga menjadi favorit lauk pendamping.Jeroan ini digoreng basah, seperti dibacem lah. Tahu dan Tempe juga pasti tersedia, selain peyek udang. Saya sendiri memilih lauk pendamping babat,telor ceplok, sate usus ayam dan sate ati ampela. Hmmmmmmmm, yummi banget deh pokoknya, walaupun bumbu kacangnya masih lebih dahsyat bumbu pecel SGPCnya Jogja.

      Dan yang lebih hebat lagi, harganya juga murah. Makan ber-enam dengan tiap orang mengambil sate cukup banyak, jeroan dan lainnya, tentu dengan disertai minum teh botol, kami cukup membayar 69rebu perak :) Kesimpulan: Jika kamu ke Semarang sempatkan untuk ke Simpang Lima, menikmati kuliner tradisional Nasi Pecel "Yu Sri".

      Sumber: http://www.banyumurti.net
      Related Posts with Thumbnails