Kamis, 24 Maret 2011

Sekolah Mahal, Tanya Kenapa?

Ilustrasi "Sekolah Mahal, Tanya Kenapa?" (GATRA/Enggar Yuwono)




















Sistem pendidikan kita sedang menghadapi krisis solidaritas, jauh dari reksa demokratis, dan abai terhadap keadilan sosial. Meski kita telah memasuki millenium ketiga, cara kita menanggapi tiga serangan ini tak beranjak jauh dari warisan semangat baru zaman Adam Smith pada tahun 1850-an. Semangat itu adalah, "Mengeruk kekayaan, melupakan semuanya, kecuali diri sendiri!"

Biaya sekolah memang mahal. Tidak ada satu individu yang dari dirinya sendiri mampu membiayai kebutuhan pendidikan. Karena itu harus ada manajemen publik dari negara. Sebab negaralah yang dapat menjamin bahwa setiap warga negara memperoleh pendidikan yang layak. Negaralah yang semestinya berada di garda depan menyelamatkan pendidikan anak-anak orang miskin. Tanpa bantuan negara, orang miskin tak akan dapat mengenyam pendidikan.

Namun, ketika negara sudah dibelenggu oleh empasan gelombang modal, sistem pendidikan pun bisa ditelikung dan diikat oleh lembaga privat. Serangan ini pada gilirannya semakin mereproduksi kemiskinan, melestarikan ketimpangan, mematikan demokrasi dan menghancurkan solidaritas di antara rakyat negeri!

Mengapa sekolah mahal bisa dilacak dari relasi kekuasaan antar-instansi ini, yaitu antara lembaga publik negara dan lembaga privat swasta. Ketimpangan corak relasional di antara dua kubu ini melahirkan kultur pendidikan yang abai pada rakyat miskin, menggerogoti demokrasi, dan melukai keadilan.

Sekolah kita mahal, pertama, karena dampak langsung kebijakan lembaga pendidikan di tingkat sekolah. Ketika negara abai terhadap peran serta masyarakat dalam pendidikan, pola pikir Darwinian menjadi satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Sebab tanpa biaya, tidak akan ada pendidikan. Karena itu, membebankan biaya pada masyarakat dengan berbagai macam iuran merupakan satu-satunya cara bertahan hidup lembaga pendidikan swasta. Ketika lembaga pendidikan negeri yang dikelola oleh negara berlaku sama, semakin sempurnalah penderitaan rakyat negeri. Sekolah menjadi mimpi tak terbeli!

Kedua, kebijakan di tingkat sekolah yang membebankan biaya pendidikan pada masyarakat terjadi karena kebijakan pemerintah yang emoh rakyat. Ketika pemerintah lebih suka memuja berhala baru ala Adam Smith yang "gemar mengeruk kekayaan, melupakan semua, kecuali dirinya sendiri, " setiap kewenangan yang semestinya menjadi sarana pelayanan berubah menjadi ladang penjarahan kekayaan. Pejabat pemerintah dan swasta (kalau ada kesempatan!) akan berusaha mengeruk uang sebanyak-banyaknya dari proyek anggaran pendidikan.

Ketiga, mental malingisme pejabat negara, juga swasta, semakin menggila terutama karena tuntutan persaingan di pasar global. Indikasi Noam Chomsky tentang keterlibatan perusahaan besar Lehman Brothers dalam menguasai sistem pendidikan rupanya juga telah menyergap kultur pendidikan kita. "Jika kita dapat memprivatisasi sistem pendidikan, kita akan menggunungkan uang." Itulah isi pesan dalam brosur mereka.

Banyak perusahaan berusaha memprivatisasi lembaga pendidikan, kalau bisa membeli sistem pendidikan. Caranya adalah dengan memanfaatkan kelemahan moral para pejabat negara. Bagaimana? Dengan membuatnya tidak bekerja! Karena itu, cara paling gampang untuk memprivatisasi lembaga pendidikan adalah dengan membuat para pejabat negara membiarkan lembaga pendidikan mati tanpa subsidi, mengurangi anggaran penelitian, memandulkan persaingan, dan lain-lain. Singkatnya, agar dapat dijual, lembaga pendidikan negeri harus dibuat tidak berdaya. Kalau sudah tidak berdaya, mereka akan siap dijual. Inilah yang terjadi dalam lembaga pendidikan tinggi kita yang telah mengalami privatisasi.

Pendidikan merupakan conditio sine qua non bagi sebuah masyarakat yang solid, demokratis, dan menghormati keadilan. Karena kepentingan strategisnya ini, mengelola pendidikan dengan manajemen bisnis bisa membuat lembaga pendidikan menjadi sapi perah yang menggunungkan keuntungan. Karena itu, sistem pendidikan akan senantiasa menjadi rebutan pasar. Jika pasar melalui jaring-jaring privatnya menguasai sistem pendidikan, mereka dapat merogoh kocek orangtua melalui berbagai macam pungutan, seperti, uang gedung, iuran, pembelian formulir, seragam, buku, jasa lembaga bimbingan belajar, dan lain-lain.

Negara sebenarnya bisa berperan efektif mengurangi mahalnya biaya pendidikan jika kebijakan politik pendidikan yang berlaku memiliki semangat melindungi rakyat miskin yang sekarat di jalanan tanpa pendidikan. Jika semangat "mengeruk kekayaan, melupakan semuanya, kecuali diri sendiri" masih ada seperti sekarang, sulit bagi kita menyaksikan rakyat miskin keluar dari kebodohan dan keterpurukan. Maka yang kita tuai adalah krisis solidaritas, mandeknya demokrasi, dan terpuruknya keadilan sosial.

Doni Koesoema, A


Sumber: Kolom, Gatra Nomor 23 Beredar Kamis, 19 April 2007

Antara Narkoba dan Wanita



Di dalam sebuah kisah, tepatnya di dalam sebuah kitab klasik yang ditulis oleh Imam Nawawi diceritakan. Seorang tokoh hebat yang memiliki ratusan bahkan ribuan santri (murid). Ia seorang agamawan yang rajin beribadah. Berjubah, berwibawa, disegani lawan maupun kawan. Hampir dipastikan, lelaki itu public figure yang sempurna. Melihat kondisi orang seperti ini, Iblispun berusaha bagaimana caranya menyesatkan orang ahli ibadah ini.

Sudah menjadi kewajiban bagi Iblis dan sekutunya untuk mengajak manusia agar supaya menyekutukan tuhan, atau berhianat, atau mengajak durhaka manusia atas perintah-Nya. Dan, orang-orang yang selamat ialah, mereka yang senantiasa tidak menuruti hawa nafsunya. QS al-Naziat (79:40-41) yang artinya:” Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya). Dan, sebagian besar manusia itu masuk Neraka, karena tidak bisa menahan hawa nafsunya. Apalagi, manusia sekarang memupuk nafsu itu dengan makanan dan minuman yang serba lezat. Puasa dan sholat malam sebagai tameng (perisai) jarang dilakukan, sehingga dengan mudah tergoda rayuan Syetan.

Barsisa…! seorang lelaki sekaligus tokoh agama adalah seorang ahli ibadah, ternyata tergoda rayuan Iblis. Ini mengisaratkan bahwa iblis sentiasa mencari peluang untuk menyesatkan manusia. Iblis tidak akan tinggal diam, sekecil apa-pun, Iblis akan menggunakan kesempatan itu untuk menjauhkan manusia dari tuhan.

Salah satu kelemahan manusia ialah nafsu syahwatnya. Barsisa adalah seorang ahli ibadah Bani Israil. Kuat beribadah, tetapi kurang berilmu, sehingga mudah tertipu oleh Iblis. Oleha karena itu, orang yang ber-ilmu itu lebih baik dari pada orang yang ahli ibadah. Iblis pernah akan mengoda orang yang akan melaksanakan sholat di dalam Masjid. Tetapi, dia ragu dan takut ketika akan memasuki masjid. Setelah ditanya oleh Malaikat, Iblis menjawab:” Saya memang akan menganggu orang sholat itu, tetapi karena ada orang yang sedang tidur, maka saya urungkan niatku”.

Lantas Malaikat itu kaget dan tertegun, kemudian menanyakan kepada Iblis:” memang kepana dengan orang tidur itu? Iblis menjawab lagi;” orang yang sedang tidur itu bukan orang biasa, dia orang yang ber-ilmu. Tidurnya orang yang ber-ilmu itu lebih menakutkan dari pada orang bodoh yang ahli ibadah”. Penjelasan Iblis itu mengisaratkan, bahwa orang yang ber-ilmu itu memang selalu mengatur hati (niat) di dalam setiap langkahnya. Orang yang ber-ilmu, ketika akan beranjak tidur, tidak lupa mengambil Air wudhu terdahulu dan berdo’a kepada-Nya.

Kisah di dalam kitab tabihu al-Ghofilin, yang ditulis oleh Imam al-Nawawi menceritakan:”Ibn Abbas r.a. mengisahkan bahawa pada zaman dahulu terdapat seorang lelaki yang sangat salih bernama Barsisa, yang telah beribadat di satu tempat ibadat selama 70 tahun. Dia tidak pernah melakukan maksiat biarpun sedikitpun.

Pada suatu hari Iblis mengumpulkan sekelopok golongan syaitan dan sekutunya, lantas bertanya di antara mereka:” Siapakah di antara kalian yang sanggup membinasakan Barsisa”.

Salah satu dari hadirin menjawab:” Saya bisa melakukannya”. Si Iblis mengatur langkah dan strategi dengan untuk membinasakan Barsisa. Sang Iblis mengenakan busana seperti busana yang dikenakan Barsiso, agar supaya menunjukkan bahawa dia adalah seorang rahib yang shalih dan ahli ibadah. Kemudian ia pergi ke tempat Barsisa beribadat. Setibanya di sana dia terus memberi salam, tetapi tidak mendapat jawapan. Barsisa tidak berhenti daripada sembahyangnya kecuali setelah 10 hari.

Ketika sedang bermunajat (ibadah), Barsiso cukup lama. Melihat kondisi seperti ini, berari cara mengoda Barsiso juga lewat ibadahnya. Melihatkan kondisi demikian Iblis menyatakan bahwa dirinya ingin berguru kepada Barsisa. Agar supaya dapat beribadah seperti dirinya.

Singkat cerita. Ahirnya Iblis berpura-pura menjadi orang yang ahli beribadah sehingga bisa mengalahkan ibadahnya Barsisa. Setiap sembayang, Sang Iblis yang menyamar menjadi seorang Ustdah dengan berbaju putih bersih itu selalu meneteskan air mata. Berhar-hari, Iblis melakukan demikian. Tidak terasa, Barsisa ahirnya terkagum-kagum dengan air mata yang mengalir deras itu.

Lantas Barsisa bertanya kepada Iblis yang menyamar itu:” kenapa engkau begitu nikmat dan lezat ketika sedang beribadah kepada Allah? Tanya Barsisa. Iblis menjawab:”Sebab, saya telah mengakui kesalahan yang sudah saya lakukan. Saya benar-benar menyesal dan bertaubat kepada Allah Swt, karena dosa-dosa saya begitu banyak dan besar. Mendengar jawaban ini, Barsisa mulai kagum dengan ibadahnya Iblis itu. Ahirnya keduanya terlibat dalam sebuah dialog.

Iblis:” tahukan engkau, kenikmatan taubat itu tidak mungkin bisa didapatkan kecuali telah melakukan dosa. Dan aku benar-benar telah menikmati indahnya bertaubat kepada-Nya. Ibaratnya orang yang tidak pernah sakit, tidak bisa menikmatinya nikmatnya sehat. Ibarat orang akan merasakan manisnya madu, jika dia pernah merasakan pahitnya jamu. Begitulah logi Iblis untuk menyakinkan Barsiso.
‘Lantas apa yang harus saya lakukan agara bisa merasakan nikmatnya taubat? Tanya Barsiso. Iblis menjawab:” lakukan saja dosa, seperti; membunuh, atau berbuat zina”. Barsiso menjawab:” tidak mungkin saya melakukan dosa yang demikian, itu adalah dosa besar dihadapan Allah Swt”. Iblis-pun memutar otaknya untuk meyakinkan Barsiso, kemudian mengatakan:” bagaimana dengan minuman keras (nyabu)? masih menurut Iblis:” nyabu itu bisa dikamar (hotel), dan tidak ada yang mengetahuinya.

Setelah mendengar penjelasan Iblis. Barsiso ahirnya terperdaya, di dalam hatinya dia mengatakan:” bener juga ya…..!minuman keras (nyabu), dikamar tidak ada yang melihatnya, baru kemudian saya bertaubat kepada Allah Swt. Tawaran ini ternyata masuk akal dan diterima, lantas segera dicobanya. Setelah beberapa waktu. Barsiso mengambil minuman keras, lantas meneguknya dikamar. Setelah pusing dan mabuk, Barsiso melihat seorang wanita yang sedang lewat depan kamarnya. Karena sudah dirasuki syetan dan syarafnya sudah tidak sadar. Ahirnya Barseso juga melakukan perbuatan zina. Ahirnya orang-orang mengetahui bahwa Barseso berbuat jahat. Belum sempat bertaubat Barsiso dihajar masa ahirnya meninggal dalam ke-adaan Suul Khotimah (trgias).

Minuman keras itu adalah awal dari sebuah kejahatan. Yoyo, Kangen Band, Iyut bin Slamet, Rivaldo, Cicitnya Pak Harto, Roy Marten, adalah orang-orang yang terperdaya Iblis. Jika dilihat dari sejarah Barseso, orang yang menjadi budak minuman keras (nyabu) bisanya dibarengi dengan perbuatan amoral (medok). Sebab, nyabu dan medok seolah-olah menjadi pasangan (komplementer) yang tidak bisa dipisahkan. Semoga, pemerintah terus tegas menindak pelaku dan pengedar. Yang terlanjur, semoga tuhan memberikan hidayah dan senantiasa berjalan pada jalan yang lurus. Wallahu a’lam.

Abdul Adzim

Sumber: kompasiana.com

Mengapa Sekolah Begitu Berat?

http://media.vivanews.com/images/2009/01/05/62320_jam_masuk_sekolah.jpg


Pertanyaan di atas diajukan oleh salah seorang anak yang saya kenal baik. Ia anak SD kelas 5, perempuan dan tergolong kelas menengah di sekolahnya. Tiap ia belajar, maka pertanyaan itu yang menggantung di bibirnya. Dengan sedikit paksaan iapun belajar, bahkan ibunya sudah tidak mampu mengajaknya mencintai pelajaran dan sekolah. Guru privatnyalah yang kemudian bertanggung jawab membawanya mencintai dunia pendidikan. Satu hal lagi yang lucu, ia selalu ingin menjadi seperti kucing piaraannya. Bisa bermalas-malasan, tak perlu pergi ke sekolah, ngerjain PR, ataupun mendengar guru marah sebab pekerjaan muridnya yang tidak tepat. Mungkin saat ini ia tak memahami pentingnya sekolah, tetapi jika keadaan ini dibiarkan maka institusi sekolah menjadi sesuatu yang tidak diinginkan dalam jangka panjang.

Tentunya masalah tersebut bukan masalah baru. Selalu terjadi dari tahun ke tahun dan mengganjal perkembangan pendidikan. Jadi sebenarnya siapa yang salah? Orang tuakah, guru, lingkungan, atau anak itu sendiri? Jawabannya tentu beragam. Yang lebih baik daripada menjawab adalah mengoreksi diri sendiri.
Saya sudah mengenal dunia pendidikan selama lebih dari 5 tahun, tetapi belum pernah benar-benar menjadi guru. Guru bantu yang sering saya jalani. Selama perjalanan tersebut, saya menemukan banyak hal yang unik pada siswa, hal-hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk membuat mereka makin mencintai pendidikan lewat kita. Salah satu yang paling menarik buat guru dan membosankan untuk siswa adalah pemberian PR. 

Tugas rumah menurut sebagian besar guru dikatakan efektif untuk membuat anak belajar di rumah. Betulkah pendapat tersebut? Kenyataan di lapangan, anak-anak sangat tidak menyukai guru-guru yang memberi PR bertumpuk sehingga mereka kehilangan sebagian waktunya di rumah. Saya selama menjadi pengajar memiliki kebiasaan tidak memberi PR. Membuat anak-anak paham di sekolah memberi kepuasan yang lebih. Efeknya anak-anak lebih menanti pelajaran kita daripada sebelumnya. Tentunya tanpa memberi PR menjadi tantangan yang berat, berarti dalam waktu yang pendek kita harus memahamkan mereka. Kuncinya adalah penguasaan atas materi secara lebih oleh pengajar. Jika kita masih sama juga seperti murid-murid kita mempersiapkan apapun secara mendadak, tentunya menjadi huru hara dan PR jadi solusi mengatasinya. Mau tidak mau harus terjadi sinergi untuk menghilangkan PR dari muka bumi. Anak-anak memiliki hak untuk bermain, berkumpul dengan keluarganya, serta mendapat ilmu yang baik.

Waktu SD kelas 1 kir-kira 20 tahun yang lalu, saya merasa senang sekali bersekolah. Guru-guru saat itu tidak memperkenalkan LKS (Lembar Kerja Siswa). Mereka dengan sepenuh hati membuat kami paham di sekolah, bahkan ketika ulangan semester dulu dikenal dengan EHB (Evaluasi Hasil Belajar) beliau-beliau dengan telaten mengawasi kami dan memberi petunjuk tak terinci untuk memudahkan kami mengerjakan soal ulangan. Pengajar saya saat itu begitu memahami bagaimana anak harus diperlakukan dan dibimbing. Sekarang kebanyakan dari mereka telah pensiun, atau mungkin sudah pensiun semua. Beliau-beliau menjadi idola bagi kami, bahkan sampai sekarang masih terkenang dengan kebaikannya.

Cara kedua yang saya rekomendasikan untuk membuat sekolah enjoyable, yakni tanpa LKS. Anak-anak bukanlah mesin scanner, yang hanya diberikan kertas-kertas untuk dipelajari sendiri. LKS adalah guru yang diam, mereka tidak memiliki afeksi (rasa kasih sayang). Anak-anak saat ini menghadapi tantangan yang luar biasa. Game online bertebaran di mana-mana, internet menyajikan gambar yang lebih cantik dan menarik, perubahan terjadi begitu cepat sehingga mereka pun menuntut sesuatu yang mampu bergerak dengan cepat dan mudah dipahami. Afeksi kunci untuk membuat mereka kembali mencintai dunia pendidikan, bersemangat setiap melihat matahari terbit untuk kembali bersekolah. Beberapa sekolah memang telah merekomendasikan untuk tidak menggunakan LKS, bahkan peraturan pendidikan juga menyatakan hal yang sama. Kesenjangan peraturan dan pelaksanaan tetap terjadi, sekolah-sekolah masih ada yang bersikukuh menggunakan LKS. Parahnya LKS dijadikan PR, plus tidak ada jawabannya atau pihak pembuat LKS memasukkan materi untuk anak SMA pada SMP. Nah!?!? Jadi mengapa sebagai guru kita tidak telaten dengan anak-anak dan menyerahkan urusan pada LKS?

Terus menerus belajar, juga memberi efek pada anak-anak untuk menyenangi pendidikan dan sekolah. Trik-trik mengajar harus ditemukan oleh guru, sehingga murid tidak bosan. Bisa saja triknya tetap tetapi yang mampu mebuat siswa paham dan cepat hapal dalam waktu singkat. Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, sekarang adalah jaman yang begitu cepat, edankan! Pendidikan dan materinya yang bejibun pun bisa dibuat lebih cepat dan mantab. Tentunya kita kenal dengan berbagai peta konsep, penyingkatan kata, nyanyian materi dan masih banyak cara lain untuk mengatasi materi yang berlebihan. Bimbingan-bimbingan belajar rupanya lebih ahli dalam hal ini. Guru yang benar-benar tentu tidak ingin kalah dengan para tentor di bimbel. Saya kenal dengan salah seorang tentor di bimbel, ia penyingkat materi yang gila-gilaan. Ia mampu merangkum materi biologi SMA selama tiga tahun dalam waktu satu jam. Saat ini proyek gila-gilaannya dia masih dipercobakan pada banyak materi yang lain. Anak-anak di bimbelnya memiliki energi untuk berangkat dengan membayangkan materi yang sesingkat junk food (makanan cepat saji). Saya sampai saat ini belum bisa menyamainya dalam hal tersebut. Yang terlihat sangat menonjol dari dirinya adalah kerelaannya untuk terus belajar, tiap ada buku baru tips trik belajar maka ia beli atau setidaknya numpang baca gratis di gramedia atau togamas. Belajar ternyata tidak sangat mahal kan?

Keikhlasan, hal terakhir ini sungguh membawa efek yang luar biasa pada anak didik. Ketika kita sudah secara penuh mengabdikan diri pada pendidikan, maka segala potensi, daya guna yang dikerahkan akan memberi dampak positif pada anak-anak. Ikhlas juga sangat dekat dengan hobby dan kesenangan. Berikut suatu pengalaman yang membuktikan bahwa ikhlas membuat segala sesuatu menjadi lebih mudah. Saya memiliki teman yang sangat mencintai game online dan menjadi pegawai warnet. Saking hobby dan cintanya, ia bisa sehari semalam ngegame atau download game baru. Anak-anak pelanggan warnetnya sungguh membutuhkan dan menyenanginya. Ia tak pernah mengeluh dengan pekerjaannya. Pembimbingan ngegame diberikannya dengan telaten, bahkan sampai-sampai ada anak yang tidak ngegame senang bersamanya hanya untuk berbincang-bincang. Bukan cewek loh, anak ini laki-laki dan masih kelas 4 SD, sedangkan teman tersebut juga laki-laki. Padahal gaji yang diterimanya tidak seberapa dibanding dengan gaji yang diperoleh guru-guru apalagi yang sudah PNS. Kalau kita mau ikhlas tentunya segala daya guna kita berikan untuk menyukseskan apa yang menjadi tujuan. Tujuan seorang guru adalah memberi jalan sukses untuk anak didiknya, jadi mengapa kita mengambil prinsip ikhlas dan menjadi workaholic.

Guru sudah berjuang mati-matian, akan tetapi tanpa dukungan dan motivasi orang tua, kecintaan pada pendidikan akan tetap sulit dibangun. Sebagai orang tua harus juga mampu memberi perhatian lebih atas pendidikan anaknya. Penekanan penghormatan pada guru, pentingnya belajar dan hidup mandiri perlu senantiasa ditanamkan. Orang tua sebagai guru di rumah juga dituntut mampu menyelenggarakan pendidikan yang baik. Sebab bukan materi lagi yang diberikan, maka tauladan sangat perlu diberikan ketika anak-anak berada di rumah.
Lingkungan memegang peranan tak kalah penting, tetapi dapat ditanggulangi oleh peran orang tua dan guru. Banyak anak mampu sukses dari lingkungan yang sulit, tetapi tak sedikit pula anak gagal dari lingkungan yang cukup mendukung. Kuncinya peran orang tua dan guru pada pembentukan motivasi anak. Jadi mengapa kita tidak berusaha membuat pendidikan selezat dunkin donut, secepat dan seindah game online, serta sehangat belaian kasih ibu? Sehingga tidak ada lagi anak yang berharap seperti kucing piaraannya. Semoga bermanfaat dan mari kita songsong pendidikan lebih baik. Selamat berkarya, pagi memberi energi positif dengan doa dan harapan yang baik. Amin.

Sumber: nizammansoor.wordpress.com

PNS : Gaji dan Produktivitas

http://1.bp.blogspot.com/_BAQEobYKy4g/TRXB2EixBhI/AAAAAAAAALo/chI3renT8sU/s1600/pns-korpri.jpg


Pegawai Negeri Sipil (PNS) akan memperoleh kenaikan gaji massal mulai tanggal 1 April 2011. Kenaikan gaji ini tentu patut disambut dengan suka cita oleh PNS, berapapun besarnya. Kenaikan massal ini tidak berhubungan dengan prestasi dan produktivitas PNS. Yang malas dan yang rajin sama saja menerima kenaikan gaji. Yang berprestasi dan yang biasa-biasa saja juga sama. Yang produktif dan yang kontra-produktif juga sama.

Orang yang sinis mengatakan bahwa percuma saja gaji PNS dinaikkan. Mereka tetap bermalas-malasan. Datang ke kantor pukul 10.00, baca koran, ngobrol ngalor-ngidul, makan siang, kembali bergosip, lalu pukul 16.00 pulang naik mobil dinas. Yang lebih sinis lagi adalah mereka yang merasa yakin bahwa percuma saja gaji PNS dinaikkan, sebab korupsi jalan terus, korupsi waktu, korupsi jabatan dan korupsi anggaran.

Sebagai konsekuensi kenaikan gaji tersebut, secara psikologis akan membuat harga barang konsumen akan naik. Inflasi pun akan naik pula. Akibat selanjutnya adalah masyarakat luas akan menerima dampak negatifnya. Apalagi  kalau harga BBM akan naik pula. Apalagi kalau harga kebutuhan pokok akan semakin tinggi pula. Dampak selanjutnya adalah  daya beli masyarakat akan semakin menurun. Tingkat kemiskinan pun akan meningkat.

Terlepas dari kemungkinan dampak negatif tersebut, secara mikro seharusnya pemerintah dapat melakukan perbaikan melalui penilaian yang lebih obyektif terhadap kinerja PNS di masing-masing departemen. PNS yang berprestasi memperoleh imbalan yang sesuai dengan sumbangan tenaga dan pikiran mereka dalam layanan publik. Sedangkan, yang tidak berprestasi seumur-umur tidak akan memperoleh imbalan prestasi kecuali kenaikan gaji massal seperti sekarang ini.

Penilaian prestasi (performance appraisal) seorang PNS dinilai secara periodik satu tahun sekali dimulai dari tanggal masuk yang bersangkutan yaitu pada saat secara resmi diangkat jadi PNS. Penilaian ini dilakukan oleh masing-masing kepala unit. Kepala unit juga dinilai oleh kepala biro dan kepala biro dinilai lagi oleh atasannya, demikian seterusnya dilakukan secara berjenjang.

Penilaian ini dilakukan sesuai dengan standar penilaian yang seobyektif mungkin dan tanpa ada perasaan like and dislike terhadap masing-masing bawahan yang dinilai. Atasan yang menilai bawahan pun akan dinilai oleh atasan langsungnya tentang bagaimana ia melakukan penilaian. Dengan demikian akan terjadi pengawasan penilaian secara terpadu di masing-masing unit, bagian, biro dan departemen.

Dengan demikian, masing-masing PNS akan merasa diperlakukan secara adil sesuai dengan prestasi dan produktivitas mereka. Ukuran keberhasilan seorang PNS adalah berapa sering ia naik gaji dan naik pangkat dalam kurun waktu tertentu dibandingkan dengan rekan kerjanya yang lain karena ia telah memberikan kontribusi yang signifikan terhadap unitnya, terhadap gaiannya, terhadap bironya, terhadap departemennya.
Dan masyarakat umum pun akan merasa senang hati apabila ada PNS yang sambil tersenyum mengatakan : ” Maaf pak, kami tidak menerima uang jasa ….. ” untuk setiap layanan yang diberikannya kepada publik. Dengan demikian urusan KTP, KK, paspor, sertifikat tanah, IMB, TDP. SIUP dan lain-lain menjadi lebih lancar dan bebas hambatan. Tapi, sayangnya, hal ini baru terjadi dalam sebuah mimpi siang yang gerah . . . . .

Djohan Suryana

Sumber: kompasiana.com

Related Posts with Thumbnails