Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Mei 2012

FPI Lebih Baik dari Pahlawan Marvel’s Team




Negara kita adalah negara Hukum, artinya segala bentuk tindakan maupun rancangan harus sesuai dengan dasar hukum, dan tentunya Master Point dari hukum itu adalah Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, berdasarkan Pasal 1 angka (3).

Hukum di negara kita berbasis Demokratis, dan mempunyai kekuatan utama yaitu semua sama dihadapan Hukum, dan dikuatkan berdasarkan pancasila Sila ke-2 yang berbunyi: Kemanusiaan yang adil dan beradab, artinya Hukum sebagai dasar utama negara mempunyai tugas untuk memberikan keadilan bagi masyarakat Indonesia.

Setelah Aturan disusun dengan kerangka yang cocok dengan karakter Indonesia, maka diwujudkanlah lembaga yang berwenangan untuk menegakan keadilan tersebut, dan berbagai macam lembaga yang harus menegakan keadilan, baik dari kepolisian, Advokat, dll.

Namun, berbeda jauh dari harapan yang diminta oleh UUD, melalui Peraturan perundangan dibawah UUD. jelaslah, bahwa perzinahan itu adalah tindakan yang melanggar asusila, dan wajib utk diberi sanksi bagi mereka yang melanggar, pelacuran apalagi merupakan tindakan yang melanggar hukum, Asusila, bahkan Norma lainnya juga.

Jika, lembaga tidak bisa bertindak, maka siapa yang harus menegakan hukum, dan saat ini semua rakyat menginginkan Korupsi dari pejabat segera dibasmi, tapiPenulis mengatakan benar tidak akan bisa dibasmi, jika dari kalangan kecil sebagai virus kecil tidak bisa dibasmi, karena virus besar lahir akibat virus kecil (Teori Kausalitas) jika virus kecil saja tidak bisa dibasmi apalagi mau membasmi virus besar, akan terlihat mustahil..!

Kemudian, “gregetan” dari masyarkat/kelompok yang membela bangsa dan negara, mulai bersuara dan bertindak tentunya, karena jika hanya bersuara dengan mengatakan: Mari basmi korupsi, kebodohan dan apa jenis maka itu diartikan kurangnya kecerdasan yang dimiliki oleh orang yang hanya bisa bersuara.

Lahirlah FPI, dan sejenisnya, bukan kita mengarah kepada basis agama saja, karena ini juga berdasarkan ketentuan Hukum, jika penegak tidak bisa bergerak, maka siapa yang akan bergerak. apa kita harus menunggu superman, spidermen, bahkan Marvel’s Team.

Bangsa indonesia harusnya juga berterima kasih dengan FPI, karena FPI juga banyak membantu masyarakat dan menyadarkan Pemerintah yang sedikit rabun, yaitu dengan tindakan Prostitusi dihancurkan, Miras dibinasakan, Perzinahan disingkirkan, erotisme di sapu bersihkan.

Dan tindakan yang di suarakan oleh FPI adalah tindakan yang sejajar dengan UUD dan Peraturan lainnya, untuk itu Penulis mengajak siapa saja, untuk bisa berfikir Positif, dengan menelusuri penyebab terjadinya lahirnya Penegak yang bersuara dan bertindak.
“Jika Negara tidak bisa bergerak, maka kami pemuda yang akan bertindak”, seru itu yang harus kita tanam dari niat dan perbuatan positif serta berfikir Positif.

Muhammad Agus
www.kompasiana.com

Sebuah Harapan untuk Palestina




Perjuangan menuntut kebebasan dan keadilan senantiasa menjadi tuntutan bagi mereka yang hak dan keadilannya dirampas. Ketika seseorang dirampas hak dan keadilannya maka sesungguhnya ia sedang mengalami penindasan. Hal inilah seperti yang dialami oleh mereka yang terpenjara kebebasannya oleh penguasa yang bersikap sewenang-wenang. Mereka yang kini terisolasi dalam penjara kegelapan yang tak tentu harapan, kapan mentari kebebasan mengeluarkan mereka dari belenggu-belenggu karat, tanpa pengadilan dan cengkraman tangan penindas yang arogan.

Kehidupan yang kini dialami sedikitnya 4.610 tahanan politik Palestina yang mendekam dalam penjara-penjara Zionis Israel, dan 322 diantaranya adalah tahanan administratif (data dari Asosiasi Dukungan Terhadap Tahanan dan Haka Azasi Manusia, Addameer yang diterbitkan 1 April 2012). Dimana penahanan administrasi merupakan praktek kontroversial yang digunakan oleh Tel Aviv untuk menahan setiap orang yang merupakan warga Palestina, tanpa tuduhan atau pengadilan selama enam bulan, dan masa penahanan mereka akan diperpanjang hingga tanpa batas.

Mereka ditahan tanpa melalui proses pengadilan bahkan sebagian dari para tahanan mendapat perlakuan hukum yang tidak semestinya oleh pemerintahan Israel,  seperti tahanan yang sakit yang mendapatkan perlakuan penganiayaan, larangan kunjungan keluarga dan penggeledahan dengan cara menghina dan menyalahi aturan kepada mereka yang ingin mengunjungi tahanan.

Dengan kondisi yang begitu akhirnya para tahanan melakukan aksi penentangan terhadap aturan kesewenang-wenangan pihak penjara terhadapa mereka. Sebagian dari tahanan Palestina itu melakukan aksi mogok makan sebagai sikap ketidakadilan yang diperlakukan pemerintahan Israel kepada mereka. Sikap yang mereka tunjukkan ini terekspresikan pada 17 April bulan kemarin.Menurut laporan dari Republika. CO.ID. Gaza, 14/5, lebih kurang 1.600 sampai 2.500 tahanan Palestina melakukan aksi mogok makan massa guna menuntut hak-hak mereka sebagai manusia. Mereka memprotes peraturan yang diberlakukan Israel terhadap para tahanan administrasi, penggunaan sel isolasi, pelarangan kunjungan keluarga, dan penyiksaan terhadap tahanan yang sakit. Dalam melakukan aksinya ada dari sebebagian besar tahanan mogok makan itu melakukan mogok makan selama sebulan, bahkan tiga di antara mereka 70 hari lebih.

Sebuah sikap yang sangat bertentangan dengan nilai kemanusiaan yang dilakukan oleh sebuah negara ilegal yang memaksakan kemerdekaannya diatas penderitaan masyarakat dan negara lain. Kezaliman pemerintahan Israel yang rapuh memaksakan kehendaknya, dan kini berhadapan dengan suara-suara mereka yang terzalimi akan haknya. Mereka berteriak dari dalam penjara-penjara yang jauh dari pantauan pembela dan pencari kebenaran. Entah sampai kapan kezaliman ini berakhir.

Jeritan mereka kini didengar dunia luar, di Gaza warga Palestina mendengar jeritan dan harapan mereka, masyarakat dan warga menggelar aksi unjuk rasa, mengekspresikan solidaritas mereka kepada mereka yang ditahan, mendekam diberbagai penjara rezim Zionis Israel. Menurut IRIB Indonesia, para demonstran itu melakukan aksi gelar mereka di depan kantor Komite Palang Merah Internasional pada ahad 13 Mei, yang diselenggakan oleh Front Pembebasan Arab, sebuah faksi dari otoritas Palestina. Dimana dalam aksinya para demonstran meneriakan slogan-slogan untuk mendukung ribuan tahanan Palestina.
Kami menyerukan kepada organisasi internasional untuk turun tangan dan membantu para tahanan Palestina. Kami juga meminta mereka untuk menekan Israel guna mengakhiri penahanan administratif.” kata salah seorang demonstran seperti yang dikutip IRIB Indonesia.

Bahkan suara penentangan yang lebih keras itu pun datang dari para pejabat faksi Palestina dan mengancam akan melancarkan intifadah ketiga, jika ada tahanan Palestina yang tewas akibat mogok makan tersebut.Salah satu faksi Palestina yang menentang kezaliman Israel itu adalah dari organisasi Pemimpin Jihad Islam, Muhammad al-Hindi, dimana beliau memperingatkan Israel, setiap kematian tahanan Palestina yang melancarkan aksi mogok makan akan mencetuskan intifadah ketiga, seperti yang dilansir media Republika. CO.ID. Gaza, 7/5/2012. Al-Hindi menyatakan “Perlawanan ini akan menjadi pintu gerbang bagi persatuan di Palestina“.

Bukankah dalam sejarah Palestina di tahun 1987 dimulailah intifadah pertama, dan berakhir tahun 1993 setelah adanya penandatanganan Perjanjian Oslo dan pembentukan Otoritas Nasioan Palestina. Kemudian intifadah kedua terjadi pada tanggal 29 Septembar tahun 2000 saat perdana Menteri Israel Ariel Sharon dan seribu pasukan bersenjata memasuki lingkungan masjid Al-Aqsa. Intifadah kedua ini berakhir setelah Israel dan Palestina setuju untuk berdamai, 8 Februari 2005.
Sebuah harapan akan kebebasan dan keadilan bagi seseorang yang bernama manusia akankah terpenuhi? Mudah-mudahan bukan harapan semu. Aksi para tahanan itu pun berhenti setelah Tel Aviv tunduk kepada tuntutan mereka untuk meningkatkan kondisi penjara yang lebih baik. Para tahanan Palestina sepakat mengakhiri aksi mogok makan mereka setelah melakukan negosiasi antara para pejabat penjara dan salah seorang tahanan senior Palestina di penjara Ashkelon di mana Mesir sebagai mediator.

Pihak Israel akhirnya setuju untuk mengeluarkan tahanan dari sel isolasi dan bergabung dengan tahanan lainnya serta memperbolehkan kunjungan keluarga dari Gaza dan Tepi Barat. Harapan yang menjadi tumpuan hidup kini menjadi nyata setelah kabar penandatanganan perjanjian yang dilakukan 14 Mei 2012 itu akhirnya membuat warga Palestina di Gaza bersorak gembira.

Harapan untuk sebuah kebebasan dan keadilan kiranya belum terpenuhi. Palestina perjuanganmu masih berlangsung. Kini telah terjadi lagi insiden dalam perayaan “Nakba Day”(Hari Bencana) di mana terjadi bentrok antara Polisi Israel dan demonstran Palestina. Padahal baru terjadi kesepakatan antara para tahanan Palestina dengan pihak Israel untuk mengakhiri aksi mogok makan. Tradisi Nakba Day yang jatuh pada 15 Mei di Palestina perayaan itu merupakan sejarah terpenting bagi mereka karena pada tanggal itu ratusan ribu dari warga Palestina melarika diri atau diusir dari rumah mereka dalam perang yang menyertai deklarasi kemerdekaan Israel.

Peringatan yang biasanya ditandai dengan protes dan bentrokan dengan Israel ini adalah hari bencana bagi penduduk Palestina akibat pengusiran massal oleh Israel sehingga mereka kehilangan haknya sebagai bangsa yang merdeka.

Menurut laporan Republika. CO.ID. Ramallah, (15/5), mulai senin 14 Mei ribuan warga Palestina sudah memulai rangkaian pawai dan demonstrasi menjelang peringatan Nakba Day di berbagai kota Tepi Barat, kota Ramallah. Para demonstran juga dijadwalkan dilakukan di Yerusalem Timur, wilayah yang diduduki Israel, serta di jalur Gaza.

Dalam aksinya para demonstran mengibarkan bendera Palestina dan sebuah kunci raksasa sebagai simbol optimisme mereka untuk pulang ke rumah mereka. Kegiatan peringatan “Hari Bencana” yang diselenggarakan oleh pihak otoritas Palestina juag adalah sebagai aksi bentuk solidaritas terhadap para tahanan Palestina di penjara-penjara Israel.

Masalah Palestina bukanlah masalah warga yang mendiami wilayah Palestina saja. Masalah Palestina itu bukan masalah umat Islam saja, tapi masalah Palestina merupakan masalah seluruh umat manusia. Kezaliman terhadap sebuah bangsa, berarti kezaliman kepada semua bangsa yang lain di dunia ini. kezaliman kepada seseorang sama juga dengan kezaliman kepada seluruh umat manusia. Warga Palestina yang terpenjara haknya cuma contoh yang terwakilkan bagi manusia lainnya di seluruh dunia. Bagaimana sebuah bangsa yang telah kehilangan hak kebebasan dan keadilannya harus menapaki perjuangan sedikit demi sedikit untuk meraih sebuah harapan, sebuah cita-cita demi masa depan sebuah bangsa yang merdeka, berdaulat dan diakui dunia.

Inilah sebuah tulisan yang mendiskripsikan perjuangan sebuah masyarakat dan bangsa terzalimi, menjadi saksi akan kezaliman sebuah bangsa yang bernama Palestina. Yakin bahwa sebuah kekuatan akan lahir dari sebuah kelemahan.  Sejarah senantiasa menjadi guru dan penabur ibrah (pelajaran) bagi mereka yang berakal. Jadikanlah “Hari Bencana(Nakba Day)” sebagai gerakan memperjuangkan dan merebut hakmu yang hilang. Sebagai motivasi akan nilai-nilai kemenangan yang akan diraih. Palestina perjuanganmu belum selesai. Kuatkanlah kesatuan di antara kalian, sebab sebuah kemenangan perlu kegigihan, keberanian di samping persatuan. Inilah sebuah harapan dari penulis, Sebuah Harapan untuk Palestina.



Irwan Mushaddaq
http://politik.kompasiana.com

Reformasi... Bukan Sambal Terasi !!!!


1337233877979365838


( Potret Sejarah Bangsa Gagal Mental )


Gong reformasi ditabuh. Suara pembaharuan menggema. Euforia kebebasan massa setelah tiga puluh tahun terkungkung dalam tiran meluap menggelora, bagai air tumpah dari bendungan besar. Udara kemerdekaan yang dinanti-nantikan rakyat, meski harus ditebus dengan nyawa ribuan anak bangsa yang selalu saja menjadi korban perubahan zaman, tumbal wajib setiap permainan kekuasaan, sudah biasa. Perjuangan selalu membutuhkan bergalon- galon keringat, darah dan air mata. Rakyat kecil tak peduli, apapun dikorbankan dengan kepolosan khas tetap setia menjadi martir bagi perjuangan bangsa. Perubahan, perbaikan, pembaharuan.

Hampir lima belas tahun waktu berlalu, sayup-sayup gaung suara itu makin menghilang. Nyaris tak lagi terdengar, lenyap, senyap, sepi ditelan hari. Gelombang harapan yang dulu menggunung kini telah tergulung kandas, tinggal buih-buih dan riak kecil di tepian. Senada seirama dengan nasib sebagai penghuni wilayah tepian, kaum pinggiran. Harta, nyawa dan kebersamaan anak bangsa yang sempat terguncang gagal ditebus dengan harga yang layak dan sepadan. Kesia- siaan yang terulang, sudah kebiasaan, potret sejarah bangsa yang gagal mental.


Anak- anak negeri tak ubahnya hanya disuguhi sambel terasi, pedas, panas dan sedap terasa di lidah dalam sesaat, hanya tersisa aroma terasi yang masih sedikit menyengat hidung, itupun hanya ketika uap dari mulut dihembuskan ke udara. Seperti itulah aroma reformasi, tak lebih kata-kata bersejarah, sisa-sisa aroma tajam di hidung rakyat, hanya sesekali dihembuskan di pinggir halaman koran, tapi cita rasa dan manfaat nyata bagi rakyat kecil nyaris tak tersisa.


Kelemahan mendasar anak bangsa di republik ini, tak cerdas memetik pelajaran berharga, kendati telah dibayar terlalu mahal. Pengorbanan besar terbuang sia-sia. Bangsa gagal mental. Tumpul dan bebal. Sepertinya kurun empat ratus tahun semenjak kemerdekaan bangsa ini diinjak-injak oleh kekuatan asing masih kurang lama untuk belajar. Mental bangsa ini memang telah hancur berantakan. Mungkin satu-satunya yang tersisa adalah mental feodal yang memang sengaja atau tidak sengaja ditanamkan oleh mereka pada masa pendudukan kolonial.


Sejarah bangsa menjadi panggung sandiwara. Ada tragedi, epos, komedi, atau hanya sekadar opera dan pentas hiburan rakyat. Sekuel cerita dengan tampilan berbeda. Drama bersambung, episode sejarah, pembauran mistis, mitos dan legenda. Protagonis versus antagonis, pahlawan versus penjahat, jalinan kisah berputar, sedikit basa-basi, konflik sana-sini, antiklimaks, pergelaran selesai, bubar. Ronde demi ronde, orde demi orde, rezim demi rezim silih berganti silih mengisi. Pergiliran dan regenerasi, perjalanan klasik sejarah bumi pertiwi.


Tapi skenario cerita selalu sama. Pada awalnya semua bergerak serentak maju tak gentar berjuang berdarah-darah menghancurkan musuh bersama, tapi setelah kemenangan dalam genggaman tiba-tiba sebagian elit yang merasa berpiutang jasa dalam perjuangan menagih upah dan saling berebut jatah ransum kekuasaan. Lupa teman lupa kawan, lupa tetes keringat, darah dan air mata kebersamaan. Patriotisme dan nasionalisme amblas tanpa bekas. Muncul lagi feodalisme wajah baru. Segelintir raksasa menjadi tiran mayoritas kurcaci. Rakyat kecil, kembali sengsara, menderita dan tersingkir, hanya mendapat sisa-sisa makanan lezat dari pesta pora istana raja. Penjajah asing pergi, penjajah lokal mengambil alih fungsi, kemerdekaan yang dicita-citakan hanya menjadi prasasti konstitusi, kurikulum wajib pelajaran sekolah dan mata kuliah.


Orde kolonialisme, orde lama, orde baru dan orde reformasi, rakyat kecil selalu saja disuguhi menu istimewa, sambel terasi. Panas, sedap dan pedas berkobar saat mengunyah perjuangan, tapi rasa nikmatnya segera menghilang beberapa saat setelah kemenangan diproklamirkan. Perut-perut kecil kembali menahan lapar, justru mulas yang didapat, sebab porsi nasi yang seharusnya dibagi dengan adil dan merata, habis ditelan mulut- mulut lebar para raksasa. Jatah kurcaci selalu cuma sisa-sisa, dan yang pasti, sambel terasi. Yang berotak selalu memperalat yang hanya berotot. Mental yang rusak memang selalu membawa kerusakan besar bagi sebuah bangsa, kendati bangsa besar Indonesia.

Bangsa ini telah gagal mental. Tidak teguh dalam memegang pendirian dan kepribadian. Tidak konsisten dalam menempatkan budi pekerti luhur sebagai balok tumpu berpijaknya pikiran, ucapan dan perbuatan. Mental yang hanya bertujuan jangka pendek, kebendaan dan kepentingan sesaat, maka ketika diuji dengan sedikit kesenangan dan kenikmatan kue kekuasaan dan kemewahan, mudah lupa diri.

Mental tempe, kedelai diproses saat pagi, langsung bisa dimakan saat sore. Mental karbitan, matang pemaksaan, bukan matang karena kedewasaan. Mental penakut, takut menghadapi tantangan perubahan, takut pembaharuan, takut menghadapi kesulitan di depan. Cari aman, takut resiko, ingin hasil cepat tapi malas berkeringat. Cari jalan pintas, potong kompas, jalan apapun diterabas yang penting urusan tuntas. Mental pengecut, berani berbuat tapi enggan bertanggung jawab. Lempar batu sembunyi tangan, begitu ada kegagalan dan kesalahan sibuk mencari kambing hitam sebagai korban untuk melanggengkan kekuasaan. Mental pengkhianat, bermanis muka, tampak baik dan bisa dipercaya di kala punya hajat, namun setelah kesempatan didapat tak segan mendepak kawan dan pendukung setia, melanggar amanat.

Mental tempe, mental karbitan, mental penakut, mental pengecut dan mental pengkhianat adalah mental pecundang, bukan mental pemenang, mental yang sakit alias mental munafik. Dusta berbicara, ingkar janji dan khianat amanat. Bangsa ini masih saja gagal membentuk mental sehat. Bangsa gagal mental. Sayangnya penyakit gagal mental ini banyak menjangkiti kalangan orang- orang pintar, kaum intelek dan cerdik cendekia. Kalangan yang berperan krusial menentukan arah dan nasib bangsa. Merekalah yang mahir memanfaatkan momentum untuk meraih tujuan pribadi, keluarga atau golongan semata. Orang-orang awam selalu diperalat, menjadi kuda tunggangan, sapi perah di saat senang maupun susah, korban empuk ketidakadilan hukum dan kekuasaan.

Slogan-slogan perjuangan, jargon-jargon keadilan, simbol-simbol kesejahteraan yang kerap diusung untuk menarik simpati massa saat pertarungan politik dan perebutan kekuasaan hanyalah pepesan kosong. Tak ada beda dengan sambel terasi, pedas sesaat lalu tinggal aroma yang menyengat.

Perubahan, perbaikan, pembenahan entah dengan nama reformasi, revolusi atau rekonstruksi sama saja. Rakyat kecil tak peduli dengan teori-teori rumit dan berbelit. Terserah mau pakai hukum apa, peraturan dan perundang-undangan model bagaimana yang penting bisa makan dengan tenang tanpa gangguan. Rakyat kecil tak butuh kaya asal tidak ada pemiskinan. Rakyat kecil tak butuh kemewahan asal tidak ada penggusuran. Rakyat kecil tak butuh subsidi asal tidak ada pencurian dan penutupan pintu rejeki. Rakyat kecil tak butuh pintar dan haus gelar asal tidak ada pembodohan dan penyempitan kesempatan belajar.

Rakyat kecil tak peduli sistem demokrasi, republik, otoriter atau monarki, asal hak-haknya dijamin dan keadilan ditegakkan. Untuk apa demokrasi kalau hanya menghamburkan uang untuk kertas surat dan kotak suara, mengongkosi partai-partai kecil yang tak ketahuan juntrungan arah tujuannya, sidang-sidang sengketa pemilu yang berliku- liku, mobilisasi massa yang mengganggu kenyamanan kerja, gontok-gontokan sesama saudara hanya karena pilihan berbeda. Anggaran belanja negara yang nota bene uang rakyat terbuang percuma. Pileg, pilpres, pilgub, pilkada, dan segala pil atas nama demokrasi tak kalah tinggi daya rusaknya dibanding narkoba dalam merusak mental bangsa. Jual beli suara, suap dan politik uang justru makin meluas dan mengganas. Demokrasi biaya tinggi, terlalu mahal untuk membayar sebuah kebebasan bersuara. Perut lapar tak butuh bersuara, yang dibutuhkan adalah makanan murah dan stok selalu tersedia, agar cacing- cacing dalam perut kosong berhenti bersuara.

Rakyat kecil tak peduli apakah pemimpin itu presiden, perdana menteri, kaisar, sultan atau raja, juga tak peduli bagaimana cara munculnya gubernur, bupati atau walikota, camat dan kepala desa, asal harkat dan martabatnya sebagai manusia merdeka tak diciderai dan ketenangan menjalankan ibadah dan kebebasan beragama bisa terjaga. Rakyat kecil tak menuntut banyak selain ketenangan dan hak hidup yang layak.

Reformasi, revolusi atau rekonstruksi, demokrasi, republik, otoriter, atau monarki, pileg, pilpres, pilgub atau pilkada, presiden, perdana menteri, sultan atau raja, gubernur, bupati, walikota, camat atau kepala desa, semua itu hanya istilah-istilah buatan manusia, teori dan pemikiran orang-orang pintar, mungkin memang sudah seharusnya ada dan dibutuhkan. Tapi manusia tetap otak di belakang senjata, baik buruk hasilnya bagi rakyat kecil, tergantung dari mental orang yang menjalankannya. Jika mental manusianya sehat, akan jadilah kebaikan dan maslahat. Namun jika mental manusianya sakit akan jadilah keburukan dan penyakit, tak ubahnya sambel terasi, panas, sedap dan pedas di lidah beberapa saat, lalu tinggal aroma menyengat di rongga mulut, dan dampak akhirnya perut yang melilit, alias sakit.
Mental adalah penentu sukses tidaknya bangsa dalam mengantarkan tujuan luhur kemerdekaan yang telah digagas dengan cerdas para visioner pendahulu, founding father, para pendiri republik ini. Merekalah orang- orang pilihan yang menghabiskan hidupnya dalam pergulatan penderitaan memperjuangkan harga diri bangsa, bersimbah darah, bermandi keringat dan berenang dalam air mata demi pembebasan negeri ini dari penindasan. Mental-mental mereka telah terkikis oleh kepongahan anak bangsa di era teknologi dan informasi. Nyaris habis. Nyaris tak tersisa. Tak perlu heran, selama mental bangsa masih sakit tak perlu berharap akan mampu mengangkat harkat rakyat kecil agar tak tersingkir dan terabaikan, amanat penderitaan rakyat tak akan mampu tertunaikan.

Bangsa bermental pecundang akan tetap menjadi pecundang dan bangsa bermental pemenang akan tetap menjadi pemenang. Cukup sudah sekian lama berkubang dalam lumpur sejarah kegagalan menjadi pelajaran bersama. Nasib dan nyawa rakyat kecil yang selalu dikorbankan adalah harga yang terlalu mahal untuk dibayar, sekaya apapun harta negara di bumi nusantara. Hanya ada satu cara agar bangsa ini tak menjadi bangsa pandir yang gagal mental. Perangi segera penyakit kemunafikan. Jujur berbicara, menepati janji dan menunaikan amanat. Hanya itu saja, tak ada yang lebih baik.

Handoyo El Jeffry
http://politik.kompasiana.com

Jumat, 27 Januari 2012

Korupsi dan Ancaman Runtuhnya NKRI

1315114751319324680
Lambang NKRI


Beberapa bulan yang lalu Negara Sudan Selatan resmi memisahkan diri dari Negara Republik Sudan dan beberapa tahun yang lalu juga Negara Timor Leste resmi memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sementara beberapa waktu yang lalu juga Papua semakin kencang menyuarakan untuk memisahkan diri dari NKRI. Pertanda apakah ini?

Apa yang terjadi di Republik Sudan memang sedikit berbeda dari Indonesia, di Sudan terlah terjadi perang saudara selama dua puluh tahun antara Sipil dan dan pemerintah, Penindasan kejam Pemerintah Sudan terhadap wilayah Sudan Selatan merajalela dan akhrinya Sudan Selatan melakukan Referendum untuk memisahkan diri, dan saat ini resmi berdiri Negara Sudan Selatan. Apa yang terjadi di Sudan Selatan tidak jauh berbeda dengan Timor Timur sebelum merubah nama negaranya menjadi Timor Leste, Rakyat Timur Timur waktu itu hanya mendapatkan sedikit perhatian dalam pembangunan, banyak desa tertinggal dan kekurangan gizi, akhirnya Timor Timur merasa Pemerintah Republik Indonesia berlaku tidak adil, dan pada akhirnya memisahkan diri menjadi Timor Leste, Apa yang dialami Timor Leste tidak jauh berbeda dengan Papua saat ini, jika Kita mengkaji data statistik, Masyarakat miskin lebih banyak di Papua, Tertingalnya Pendidikan, Desa Tertinggal dan masalah sosial lainnya yang harusnya menjadi petrhatian Pemerintah nyatanya terabaikan, Papua merasa Pemerintah tidak adil dan gaung munculnya Papua Merdeka semakin keras disuarakan.

Coba lihat saja peristiwa-peristiwa di Dunia saat ini, Warga Negara Portugal, Italia, Spanyol dan Yunani baru-baru menyerbu jalan untuk memprotes program penghematan pemerintah mereka. London dilanda kerusuhan dan penjarahan sementara Somalia menghadapi kekeringan, kelaparan dan kemiskinan. Di Israel ada protes biaya hidup yang tinggi. Pemberontakan di Jazirah Arab dan Afrika, Muammar Gaddafi dan pemberontak di Libya, Presiden Bashar Assad dan orang di Suriah dan Presiden Ali Abdullah Saleh dan para Islamis di Yaman dan Amerika Serikat dalam krisis Ekonomi berkepanjangan.

Intinya, sudah banyak Warga Dunia Penghuni Negara-Negara tersebut tidak mempercayai kepemimpinan pemerintah karena kepemimpinan tidak peduli banyak untuk rakya mereka. Apakah ini terjadi di Indonesia? Sangat terjadi, bahkan gaung turunkan Yudhoyono-Boediono terlah ada sejak dua tahun lalu, Masalah Air Bersih yang semakin kering, Pemadaman listrik, pembangunan hanya mengutamakan Jakarta dan Tanah Jawa, Kemiskinan yang terus bertambah, pengemis dan anak jalanan hanya menjadi berita tetapi tidak diurus sesuai dengan Undang-Undang, Gizi disebagian wilayah di Indonesia yang semakin memburuk, Anak-anak yang putus sekolah, tahun 2011 ini ada jutaan alumni SMU yang tidak bisa melanjutkan kuliah karena biaya pendidikan yang mahal,Korupsi yang merajalela, Koruptor yang sudah ketahuanpun tidak diproses secara hukum , banyak penjahat berdasi yang keluar dari Penjara, untuk masalah-masalah lainnya Anda bisa urutkan dari masalah yang sudah saya sebutkan, saking banyaknya. 

 
13151148481580227413
Index Korupsi Dunia from wikipedia.com


Inflasi, Pengangguran, Perselisihan sipil, Tawuran warga, kesulitan ekonomi, Pelacuran, Jika rumah Anda atau toko Anda kebakaran anda menelpon pemadam kebakaran maka mereka akan kekuaranan air, Jika Anda menelepon polisi, mereka mungkin tidak memiliki cukup bensin di kendaraan mereka untuk perlombaan ke TKP. Inilah yang sebentar lagi akan terjadi di Negara kita.

Maka, Jika kondisi ini semakin parah yang terjadi adalah 33 Provinsi yang ada akan meminta memisahkan diri dari Negara Kesatuan Rupublik Indonesia (NKRI) dengan referendum warga setempat. Saya tidak mencoba untuk menyeryukan pemisahan diri di negara kita, justru saya mencintai Republik ini, saya berharap dari sabang sampai Merauke tetap utuh selamanya.

Jangan terkecoh dengan makna Demokrasi, bukan Negara Otoriter saja yang mengalami ini, banyak Negara Demokratis sudah mengalaminya, inti dari semua ini adalah KETIDAK ADILAN. Seperti halnya saya, banyak Orang Indonesia mungkin memiliki nilai visi kesadaran nasional, masih ada orang-orang yang tulus dan tetap bersama-sama dalam persatuan dan hidup damai dibawah naungan Republik ini. 
 
13151150531509765251
Nasionalisme Untuk NKRI Adalah Harga Mati

 
Ada beberapa Indikator dan inti dari apa yang ingin saya sampaikan dalam Artikel ini, jika kita mampu mengatasi indikatormasalah ini maka kita akan tetap utuh dalam NKRI, tetapi jika tidak, saya memprediksi akan banyak Provinsi selain Papua yang meminta memisahkan diri dari Republik Indonesia yang kita cintai ini, dan Timor Leste sudah melakukan itu. Setelah Anda membaca 10 Indikator ini, Anda boleh berkomentar ada berapa Indikator yang ada Di Indonesia, jika ada 10 maka Indonesia dalam ANCAMAN RUNTUHNYA NKRI. Waspadalah. 
 
1. Perang Saudara / Tawuran Warga : Tawuran warga antar gank, antar kampung, rebutan lahan bisnis, antara Satpol PP dengan PKL misalnya, Masalah ini akan menjadi salah satu Indikator permasalahan pemisahan diri dari NKRI.
2. Kolonialisme : Baik penjajahan Geografis atau Penjajahan Ekonomi, baik Penjajah Asing maupun Penjajahan Pemerintah terhadap rakyatnya, misalnya disebuah daerah ada orang asing yang kaya raya dan menguasai Ekonomi, jika kita melihat hal ini ada di Negara kita, inipun bisa menjadi salah satu Indikator masalah yang dapat menjadi bom waktu.
3. Korupsi : Jika di negara Kita, Kementerian yang paling kuat dalam pemerintahan tanpa bangunan fisik adalah “Departemen Korupsi” di mana tingkat besar penipuan, pemborosan, penyalahgunaan dan penggelapan dana pemerintah adalah modus standar operasi. Kas negara dan kekayaan dikendalikan sebagian besar oleh beberapa pejabat pemerintah (Baik Masa Orde Baru dan Masa Reformasi), kroni dan keluarga mereka. Maka ini salah satu indikatornya.
4. Kebijakan Ekonomi: Negara kita telah mengalami langkah-langkah penghematan banyak atau program penyesuaian struktural di masa lalu namun perekonomian masih menentang semua logika ekonomi yang wajar. Sebaliknya, ada kesenjangan miskin dan kaya, tingkat kemiskinan yang tinggi, inflasi tinggi, tingkat pengangguran tinggi, pendidikan yang buruk dan sistem kesehatan, kelangkaan bensin, pasokan listrik tidak menentu, Pemadaman bergilir oleh PLN, Pajak TOL yang semakin meningkat, Harga Sembako yang semakin tidak terjangkau, kurangnya infrastruktur dan fasilitas publik fungsional sosial.
5. Intervensi Militer : Pemerintah negara Kita pernah didominasi oleh rezim militer atau penguasa mutlak lebih dari warga sipil yang terpilih secara demokratis atau negara Kita masih di bawah cengkeraman militer dengan ancaman kudeta militer. Atau mungkin Militer adalah politisi di seragam. Oh , Indonesia masih seperti itu, bagaiman Soekarno lama memerintah, Soeharto lebih lama lagi dan Sekarang Yudhoyonopun sama, jika yang trerplih orang sipil alamat tidak akan lama karena secara diam-diam dijatuhkan oleh militer dengan lobi Intelijennya.
6. Kebijakan Nasional Liberal : Jika formulasi kebijakan nasional di negara Kita didasarkan pada Sistem Liberal Sekuler, dan setiap janji nasional atau pemilihan didasarkan pada dikotomi regional seperti Utara vs Selatan, atau Timur vs Barat, dan Pemerintah Pusat sebagai Mahakuasa kontrol terhadap daerah atau provinsi di negara itu terutama pada alokasi dana dan sumber daya.
7. Sumber Daya Alam: Sumber daya alam a(misalnya minyak mentah dan gas alam) terkonsentrasi di daerah tertentu di negara Kita. Saat ada daerah lain baik berkeinginan untuk menyabot mereka atau melakukan kontrol terbuka atasnya. Daerah yang meletakkan “telur emas” bagi negara dan ternyata justru orang-orang setempat menjadi orang miskin, pertanda ini adalah Indikator pendukung pemisahan diri.
8. Masyarakat Majemuk : Negara Republik Indonesia memiliki lebih dari Ribuan kelompok etnis dengan bahasa yang berbeda dan budaya. Persatuan nasional dipromosikan dalam namaBhineka Tunggal Ika. Di antara 2 atau 4 kelompok etnis utama tetapi sebuah kelompok etnis ingin mendominasi pemerintah nasional (lahir-ke-aturan nepotisme). Ironisnya, Anda adalah diperlakukan seperti “orang asing” yang tidak diinginkan di negara Anda sendiri jika Anda tinggal atau bekerja di lokasi etnis yang berbeda lain dari Anda di negeri ini.
9. Intoleransi Agama : Antara pemeluk agama tidak saling menghormati, saling terjadi caci maki dan sumpah serapah nama Tuhan, dan sebagainya, maka ini pertanda indikator runtuhnya NKRI.
10. Gerakan separatis : Perasaan Anti-Pemerintah saat ini ada di negara Kita dan ada agitasi untuk tanah air terpisah oleh suatu wilayah atau seperangkat suku. Ada panggilan konferensi terbuka untuk bangsa yang berdaulat untuk menentukan masa depan negara atau kemungkinan referendum untuk memisahkan diri. Sebut saja dulu Ada Gerakan Aceh Merdeka, Organisasi Papua Merdeka, Rakyat Maluku Selatan.


Pembaca yang terhormat, dari 10 Indikator yang saya sebutkan diatas kita bisa mengelompokan tingkat Ancaman runtuhnya NKRI, Anda bisa mengisi di kolom Komentar untuk menentukan berapa Indikator yang ada, Pengelompokannya sebagai berikut :
A. 9-10 : Negara NKRI cepat atau lambat berisiko tinggi akan runtuh
B. 6-8 : Negara NKRI rentan untuk runtuh.
C. 3-5 : Negara NKRI dapat menghindari potensi Keruntuhannya
D. 0-2 : Negara NKRI Alhamdulillah Aman dari upaya pemisahan Diri


13151152831488100595
You Can Stop Corruption from cyberprotes.com
 

Di Indonesia, Indikator yang paling membahayakan adalah Korupsi dan Keadilan Hukum, maka potensi terbesar untuk memecah kesatuan Republik Indonesia adalah Korupsi. Dalam kata lain Koruptor itu tidak Cinta NKRI sama sekali.


Satu-satunya cara untuk mencegah Runtuhnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah menyelesaikan masalah-masalah dalam 10 Indikator pontesi masalah diatas, atau memilih menjadikan Negara kita menjadi Negara Kerajaan seperti Inggris dan sebagainya meskipun semua masalah yang dihadapi negara. Jika tidak itu akan membuat orang dari suatu negara datang bersama-sama sehingga mereka akan berpikir bagaimana untuk berpikir, memutuskan bagaimana untuk memutuskan, dan bertindak bagaimana untuk bertindak. Sebuah negara dapat melakukan ini dengan merangkul semua Stake Holder untuk mengatasi masalah-masalah dari 10 Indikator diatas untuk menciptakan keputusan yang berkualitas tinggi untuk masa depan bangsa dengan konsensus bersama.

Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhan (Adi Supriadi) 
Direktur Rabbani Hamas Institute Indonesia
http://politik.kompasiana.com

Kamis, 26 Januari 2012

Mario Teguh Vs. Bob Sadino, Seberapa Penting Kuliah (Berpendidikan)?


 


 
Bob Sadino: “Mau kaya? berhentilah sekolah atau berhentilah kuliah sekarang juga, and start action, karena ilmu di lapangan lebih penting daripada ilmu di sekolahan atau kuliahan.”

Mario Teguh: “Berhati-hatilah dengan orang yang membanggakan keberhasilannya walaupun dia berpendidikan rendah. Itu tidak boleh dijadikan dalil. Pendidikan itu penting. Buktinya, dengan pendidikan yang sedikit saja, dia bisa berhasil, apalagi jika dia terdidik dengan lebih baik. Bukankah kita dianjurkan untuk menuntut ilmu sampai ke negeri Cina? Dengan ilmu, segala sesuatu bisa mencapai kualitas tertingginya.”

Anda sepakat dengan siapa???

 
Pastinya ada yang sepakat dengan si pengusaha (Bob Sadino) juga ada yang sepakat dengan si Motivator (Mario Teguh). Kedua pendapat ini menjadi acuan dalam tulisan ini mengingat ke dua orang ini dianggab  orang dalam kategori berhasil dan keduanya memiliki profesi yang berbeda. Tapi dalam konteks ini kita tidak sedang membahas kiprah mereka, tetapi lebih kepada mengkaji pendapat mereka tentang Pendidikan dan hubungannya dengan Keberhasilan.

Berpendidikan tinggi selalu diidentikan dengan berhasil dan ukurannya adalah status sosial yang hebat dan salah satunya indikatornya adalah materi yg cukup atau bahkan materi yang lebih dari ukuran pendapatan orang-orang pada umumnya. Namun sering sekali terjadi hal yang sebaliknya, justru orang yang gagal di bangku sekolahan (kuliah)  malahan berhasil dalam status sosial dan berlimpah secara materi , seperti layaknya Bill Gate dan Pendiri FaceBook, dan banyak juga di Indonesia orang-orang seperti ini, yang berhasil tanpa selesai kuliahnya ataupun tidak sempat mengenyam pendidikan yang tinggi.

Ketika kesuksesan dapat di raih tanpa kuliah, untuk apalagi sebenarnya kuliah (berpendidikan)? Mari sejenak kita defenisikan apa itu pendidikan. Menurut wikipedia, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Lebih filosofis lagi Pendidikan adalah Untuk Memerdekakan Manusia (Ki Hadjar Dewantara) maupun  Pendidikan adalah Untuk Memanusiakan Manusia (Driyarkara).

Defenisi pendidikan diatas, secara khusus oleh kedua tokoh pendidikan tersebut, secara tegas menyatakan pendidikan itu tidak mengajarkan anak didik bagaimana mencari kekayaan materi secara baik dan benar tetapi lebih kepada mengajari sang anak didik secara SADAR untuk berguna bagi dirinya dan orang lain bila perlu berguna bagi bangsa dan dunia. Sederhannya pendidikan menjadi alat untuk membentuk karakter anak didik. Perlu kita sadari untuk menjadi terdidik itu tidaklah harus melalui jenjang pendidikan formal , bisa juga melalui jalur non formal, sama halnya ketika memperdebatkan mana duluan Teori atau Praktek, pilihannya tergantung persepsi individu yang akan memutuskan sesuai kebutuhan (cita-cita) dan pengalaman , seorang ilmuwan cenderung berteori dulu sementara seorang pekerja lapangan cenderung Praktek aja langsung layaknya seorang pengusaha  dan kedua-duanya berpotensi untuk Berhasil dan juga  Gagal.

Atas kondisi diatas alangkah lebih berhasilnya seseorang bila ia mampu memadukan antara Teori dan Praktek. Hal ini menegaskan bahkan mengenyam pendidikan di sekolah formal masih perlu, disisi lain sekolah formal dapat menjadi tempat membentuk Karakter anak didik, sesuai identitas ke-Indonesiaan, sehingga nantinya ia tidak menjadi ilmuwan yang anti Tuhan maupun Pengusaha “Hitam”, apalagi menjadi  menjadi Penindas baru atas jabatan yang akan di embannya.

Sudahkah penyelenggara pendidikan Formal kita menjadi tempat bagi pembentukan karakter anak didik, saya pastikan belum saudara-saudara, lihat bagaimana filosis pendidikan kita Tak Tentu Arahnya, tergantung angin BARAT berhembus kemana, kesitulah sistem pendidikan kita Membebek, ganti menteri ganti kebijakan, ironisnya ijazah ASPAL masih banyak yang berseliweran kesana-kesini menawarkan dagangannya kepada pejabat-pejabat yang doyan tradisi feodal, yaitu Gelar kesarjanaan. Uniknya gelar kesarjanaan kemudian menjadi tameng dan topeng bahwa ia adalah seorang yang terdidik.

Mungkin sebentar lagi nasib lulusan SMK sama saja dengan lulusan SMU. Ketika lulusan Perguruan Tinggi (PT) yang sering disebut Pengangguran Terdidik melanda negeri ini, lulusan SMU ogah masuk PT, untuk apa?? Toh selain biaya kuliah mahal, ntar juga pengangguran, kata si Melki anak tetangga sebelah. 

Banyaknya penganguran lulusan PT membuat mendiknas periode 2004-2009 gembar-gembor di TV biar lulusan SLTP masuk SMK saja. Namun apabila hasil-hasil kreativitas anak-nak SMK tidak tersalurkan, satu dekade berikutnya  itu sama saja dengan lulusan SMU, akhirnya karya-karya SMK akan  stagnan karena diterpa gerombolan produk-produk china, orang kemudian rame-rame kuliah tanpa arah, otomatis tingkat pengangguran semakin membengkak. Lihat bagaimana mobil ESEMKA rakitan anak didiknya pak JOKO Wi di Solo, negara setengah hati mengurusnya. Hal ini melengkapi  , bahwa arah pendidikan nasional kita belum menemukan rohnya dan para pengambil kebijakan  masih kebingungan, atau mungkin juga sengaja bingung, demi kepentingan golongannya.

Bila akhirnya institusi-institusi pendidikan gagal mencetak anak didik yang berkarakter, cerdas, berahlak mulia dan berpihak terhadap kepentingan masyarakat. Maka selama itu juga, pendidikan formal akan menjadi bahan yang empuk untuk diperdebatkan oleh para Pengusaha dan Motivator. Padahal pendidikan melalui jalur Formal itu sangat penting, untuk generasi yang akan membela peradaban bangsa ini dikemudian hari.

Kalau begitu profesi yang Hebat dan mulia itu adalah  menjadi Pengusaha dan Motivator dong??Tidak harus, sebab menjadi berguna itu tidak harus apalagi wajib menjadi Pengusaha maupun  Motivator. Bahkan bila negara mampu mensejahterakan rakyatnya melalui diferensiasi kerja maka Pengusaha tidak menjadi pilihan tunggal untuk keluar dari kesulitan ekonomi. Apalagi Motivator, jikalau institusi mampu mencetak anak didik yang cerdas, maka dia tidak butuh para MOTIVATOR.

Jontra Sihite
http://edukasi.kompasiana.com

Selasa, 24 Januari 2012

Gus Dur: Gitu Aja Kok Repot, Mega: No Comment, SBY: Emang Gue Pikirin

 


Dalam perjalanan republik ini kita sudah dipimpin oleh 6 orang presiden dengan gaya dan tipe yang berbeda. Presiden dalam sistem pemerintahan kita merupakan pemimpin tertinggi dalam pemerintahan. Setiap pemimpin pasti memiliki style dan gaya memimpin yang berbeda, juga berbeda dalam menghadapi masalah. Bahkan tidak jarang style itu menjadi ciri khas pemimpin tersebut.

Tiga presiden terakhir kita yang walau sama-sama berasal dari etnis/suku yang sama namun berbeda dalam gaya menghadapi persoalan bangsa. Pertama Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang merupakan presiden Indonesia yang keempat. Walau memerintah dengan waktu yang singkat (1999-2001) tapi selama pemerintahannya banyak menimbulkan kontroversi. Namun seperti biasa setiap kritikannya ditanggapi dengan ucapan ringan “gitu aja kok repot”

Gus Dur dikenal presiden RI paling suka berplesiran ke luar negeri. Kondisi dalam negeri yang kacau balau diambang disintegrasi tapi Gus Dur tetap enjoy dengan bepergian keluar negeri. Salah satu kontroversi dari Gus Dur adalah ketika mengajak Israel untuk berdamai dengan Indonesia termasuk rencana membuka hubungan bisnis, rencana yang membuat umat Islam menjadi marah, tentu tanggapan Gus Dur rileks “gitu aja kok repot”.

Lain lagi dengan Megawati, presiden wanita pertama Indonesia ini. Megawati dikenal sebagai presiden paling irit komentar. Karena sikapnya itu banyak yang meragukan kapasitas politiknya, Mega bisa naik presiden hanya karena dia putri dari Presiden Soekarno. Mega tentu berbeda dengan Benazir Bhuto atau Indira Gandhi yang juga putri seorang Pemimpin sebelum meneruskan dinasti orang tuanya.

Polemik pemerintahan Mega adalah penjualan LNG Tangguh dengan harga sangat murah ke China. Penjualan ini merugikan Indonesia secara ekonomi. Termasuk dengan memeberikan door prize berupa realese and discharge kepada obligor hitam yang kebetulan kebannyakan dari etnis Tionghoa, sepertinya Mega punya hubungan dekat dengan pebisnis China. Di cecer masalah penjualan Tangguh, Mega tetap diam membisu. Masa pemerintahan Mega banyak membuat mahasiswa geram karena sikapnya tidak mau berdialog atau berdiskusi dengan mahasiswa, pokoknya no comment lah.

Yang paling menggemaskan adalah pemerintahan “auto pilot” SBY. Banyak yang menilai SBY yang dianggap cerdas dan bersih ternyata memilki kelemahan yaitu tidak memilki keberanian dan visi membawa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar. Paling nyata adalah kasus korupsi yang menggurita dari pejabat daerah sampai pejabat negara. Dan seperti biasa SBY hanya jago membuat himbauan untuk tidak korupsi, bahasa krennya Nato (no action talk only). Negeri auto pilot ini beruntung masih bisa survive. Walau diklaim sukses dibidang ekonomi tapi dibidang hukum rapor SBY merah menyala. Dikritik karena lamban dan hanya jago retorika tidak membaut SBY bergeming “emang gue pikirin” begitu kira-kira ucapan SBY.

Kasihan negeri ini koruptor dan mafia telah menyandera negeri ini. Dan semoga presiden 2014 nanti mempunyai visi menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa besar yang disegani oleh dunia, bangsa yang lepas dari masa kelam bernama korupsi, bangsa yang mampu mengurus kekayaan alamnya dan bangsa yang mampu membuat bangsa lain menghormati tiap inchi wilayah Indonesia.

Indra Sastrawat
Sumber: http://politik.kompasiana.com
Related Posts with Thumbnails