Selasa, 13 September 2011

Gulai Kambing Bustaman




Berbicara tentang gulai kambing Kota Semarang, orang pasti teringat pada gulai kambing Bustaman. Karena keistimewaannya, gulai ini sudah menjadi ciri khas gulai Semarangan. Tak jarang pembeli dari luar kota pecinta masakan gulai, dipastikan menyempatkan diri menikmati gulai dengan cita rasa yang khas tersebut
Lahirnya gulai tersebut tidak lepas dari sejarah Kota Semarang. Dari sebuah kampung kuno di sekitar Jalan MT Haryono, terdapat seorang tokoh kampung yang sering dipangil dengan sebutan Uwak Bustam. Tokoh tersebut menjadi salah satu cikal bakal lahirnya pusat perdagangan. Juga penyembelihan  kambing di kampung tersebut sekitar tahun 1930-an hingga akhirnya tercetus nama Kampung Bustaman.

Gulai Bustaman memang berbeda dengan gulai umumnya, karena kuahnya tanpa menggunakan santan meski sama-sama menggunakan kelapa. Kelapa diparut dan digoreng sangan, tidak diperas menjadi santan. Gorengan parutan kelapa tersebut lalu ditumbuk halus dicampur rempah-rempah untuk bumbu kuahnya. Selain itu juga terdapat campuran cengkeh dan kayu manis.

Salah satu pedagang gulai Bustaman adalah Sabar yang kini warungnya  menetap di belakang Gereja Blenduk sejak tahun 1969 silam. Usaha itu dirintis oleh ayahnya Warso, dengan berjualan keliling dan dipikul. Kemudian Sabar menemukan tempat menetap di belakang Gereja Blenduk tersebut.

“Dulu kakek saya berjualan keliling. Tahun 1969 kami mulai menetap. Kemudian usaha itu diteruskan oleh bapak saya,” cerita Faizun, 28, anak dari  Sabar.

Daging kambing yang dimasak untuk gulai Bustaman umumnya bagian kepala, kaki serta jeroan. Selain itu yang sering dicari orang yakni bagian pipi, telinga, dan bagian lainnya. Karenanya, daging yang digunakan umumnya dari kambing betina. “Kita memang banyak ambil bagian kepala dan jeroan. Yang istimewa ya otaknya,” katanya

Kini rata-rata per hari, Gulai Kambing Bustaman laku 160 – 200 porsi. Dengan harga per porsi Rp 12 ribu lengkap dengan nasi  ditambah gerusan cabe rawit dan potongan bawang merah. Paling ramai, saat jam makan siang mulai dari pukul 11.00-14.00. Bahkan tak jarang saat jam tersebut gulai telah habis. “Kami buka setiap hari mulai pukul 08.00-16.00. Tapi kadang sebelum jam tutup gulai sudah habis duluan,” tandasnya

Sumber: http://kulinerkhassemarang.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails