Jumat, 12 November 2010

Kahlil Gibran: Penyair


Dia adalah rantai penghubung
Antara dunia ini dan dunia akan datang
Kolam air manis buat jiwa-jiwa yang kehausan.

Dia adalah sebatang pohon tertanam
Di lembah sungai keindahan
Memikul bebuah ranum
Bagi hati lapar yang mencari.

Dia adalah seekor burung ‘nightingale’
Menyejukkan jiwa yang dalam kedukaan,
Menaikkan semangat dengan alunan melodi indahnya.

Dia adalah sepotong awan putih di langit cerah.
Naik dan mengembang memenuhi angkasa.
Kemudian mencurahkan kurnianya di atas padang kehidupan.
Membuka kelopak mereka bagi menerima cahaya.

Dia adalah malaikat diutus Yang Maha Kuasa mengajarkan Kalam Ilahi.
Seberkas cahaya gemilang tak kunjung padam.
Tak terliput gelap malam
Tak tergoyah oleh angin kencang
Ishtar, dewi cinta, meminyakinya dengan kasih sayang
Dan, nyanyian Apollo menjadi cahayanya.

Dia adalah manusia yang selalu bersendirian,
hidup serba sederhana dan berhati suci
Dia duduk di pangkuan alam mencari inspirasi ilham
Dan berjaga di keheningan malam,
Menantikan turunnya ruh.

Dia adalah si tukang jahit yang menjahit benih hatinya
di ladang kasih sayang dan kemanusiaan menyuburkannya.

Inilah penyair yang dipinggirkan oleh manusia pada zamannya.
Dan hanya dikenali sesudah jasad ditinggalkan
Dunia pun mengucapkan selamat tinggal dan kembali ia pada Ilahi

Inilah penyair yang tak meminta apa-apa,
dari manusia kecuali seulas senyuman.

Inilah penyair yang penuh semangat dan memenuhi
cakerawala dengan kata-kata indah.
Namun manusia tetap menafikan kewujudan keindahannya.

Sampai bila manusia terus terlena?
Sampai bila manusia menyanjung penguasa yang
meraih kehebatan dgn mengambil kesempatan??
Sampai bila manusia mengabaikan mereka,
yang boleh memperlihatkan keindahan pada jiwa-jiwa mereka.

Simbol cinta dan kedamaian?
Sampai bila manusia hanya akan menyanjung jasa org yang sudah tiada?
dan melupakan si hidup yg dikelilingi penderitaan
yang menghambakan hidup mereka seperti lilin menyala
bagi menunjukkan jalan yang benar bagi orang yang lupa

Dan oh para penyair,
Kalian adalah kehidupan dalam kehidupan ini:
Telah engkau tundukkan abad demi abad termasuk tirainya.


Penyair..
Suatu hari kau akan merajai hati-hati manusia
Dan, karena itu kerajaanmu adalah abadi.
Penyair..periksalah mahkota berdurimu..
kau akan menemui kelembutan di sebalik jambangan bunga-bunga Laurel …

(Dari ‘Dam’ah Wa Ibtisamah’ -Setitis Air Mata Seulas Senyuman)
(Kahlil Gibran)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails