Jumat, 19 Agustus 2011

Meninjau Sistem Pemerintahan Islam (Edisi Indonesia)

Meninjau Sistem Pemerintahan Islam

00 Muqaddimah

SISTEM pemerintahan (politik) Islam sangat jauh berbeda dengan sistem politik, ideologi-ideologi dan isme-isme akal manusia. Islam memiliki tafsiran dan bentuk yang khusus dan istimewa tentang pemerintahan. Tafsirannya jauh lebih bijaksana dan adil daripada ajaran-ajaran lainnya. Hal ini mungkin tidak jelas kalau kita bandingkan dengan pemerintahan umat Islam yang ada di dunia hari ini. Sebab bagi saya negara-negara umat Islam hari ini tidak menjalankan Islam yang syumul (menyeluruh). Mereka tidak mengikuti jejak sejarah kegemilangan Islam di zaman Rasul dan Khulafaur Rasyidin serta Salafussoleh.
Saya akan merujuk tulisan ini kepada sejarah Islam di zaman kegemilangannya. Bukan kepada Kerajaan Saudi, Iran,  Pakistan atau negara-negara umat Islam yang lain, yang mengaku negara Islam atau berundang-undang Islam.

Sistem pemerintahan Islam adalah sistem pemerintahan yang menggunakan Al Quran dan Sunnah sebagai rujukan dalam semua aspek hidup, seperti dasar undang-undang,  mahkamah perundangan, pendidikan, dakwah dan perhubungan, kebajikan, ekonomi, sosial, kebudayaan dan penulisan, kesehatan, pertanian, sain dan teknologi, penerangan dan peternakan. Dasar negaranya adalah Al Quran dan Sunnah. Para pemimpin dan pegawai-pegawai pemerintahannya adalah orang-orang baik, bertanggung jawab, jujur, amanah, adil, faham Islam, berakhlak mulia dan bertakwa. Dasar pelajaran dan pendidikannya ialah dasar pendidikan Rasulullah, yang dapat melahirkan orang dunia dan orang Akhirat, berwatak abid dan singa, bertugas sebagai hamba dan khalifah ALLAH. Dasar ini terdapat dalam buku saya, PENDIDIKAN RASULULLAH.

Sistem ekonominya bersih dan adil. Suci dari riba, monopoli, penindasan, penipuan dan hal haram lainnya. Pembagiannya adil menurut keperluan untuk kemudahan, kewajiban, kedudukan dan bidang seseorang. Sistem sosialnya bersih dari kemungkaran dan maksiat terang-terangan. Setiap orang dihormati hak asasinya serta diberi peluang untuk melaksanakan hak-hak asasi masing-masing sesuai dengan bakat dan kebolehannya. Sistem ketentaraan berjalan atas disiplin Islam. Kebudayaan dan adat-istiadat dibenarkan berbagai asalkan semuanya tidak bertentangan dengan Islam.

Perlantikan presiden ada caranya tersendiri, cara yang adil dan tepat. Berbeda dengan cara demokrasi dan revolusi serta cara diktator. Sistem syura juga tersendiri, unik dan harmoni. Segalanya jauh berbeda dengan apa yang terjadi dalam syura sekuler.

Demikianlah seterusnya dalam mengelola hal-hal pengobatan, rumah tangga, alat-alat perhubungan, media cetak dan elektronik, jalan raya, pertanian dan segala-galanya adalah mengikuti cara hidup Islam. Politik atau pemerintahan Islam sebenarnya bukan saja karena orang-orangnya adalah Islam. Tetapi yang lebih utama dari itu adalah pengisiannya dengan program-program yang bersifat Islam. Tanpa ciri-ciri ini,  syariat ALLAH tidak akan muncul di atas muka bumiNya walaupun nama dan slogan pemerintahan Islam diserukan.
Kita lihat di Pakistan, Islamic Country, katanya mengambil Al Quran dan Hadist sebagai dasar perlembagaan dan perundangan serta pemerintahan negaranya. Bukankah negaranya itu merupakan negara yang rendah martabat kedudukannya di mata dunia? Mengapa?

Itu adalah karena Islam cuma pada nama dan slogan, tetapi tidak dalam praktisnya. Ekonominya kapitalis, pendidikan sekuler, politik demokrasi, sosialnya ala Barat dan lain-lain, semuanya itu dilabelkan dengan nama Islam. Orang miskin menonjol kemiskinannya, yang kaya terlalu kaya. Akibat mencampurkan minyak dan air dan macam-macam campuran lagi, terjadi satu campuran yang tidak terpakai. Jadilah Pakistan negara yang sangat memalukan untuk dikatakan sebuah negara Islam.

Demikianlah sama halnya dengan negara Islam yang lain, yang tidak mengisi pemerintahan dengan pemerintahan Islam, hingga negara-negara itu bukan saja tidak cantik dan indah tetapi menyedihkan dan memalukan untuk diakui sebagai Negara Al Quran dan Sunnah, Negara ALLAH dan Rasul. Bukannya mudah untak membangunkan Negara Islam seperti yang ALLAH inginkan. Tidak semudah yang difikirkan oleh pejuang-pejuang Islam hari ini.

Saya memandang tapak Negara Islam ialah sebuah thoifah yang ciri-cirinya bagaikan bayangan  Negara Islam. Thoifah yang menzahirkan kebenaran dengan semua sistem lslam itu dilaksanakan secara syumul. Untuk membangun thoifah, tapak Negara Islam itu, ada satu kaedah khusus yang unik dan tersendiri, jauh berbeda dengan kaedah-kaedah yang dipakai oleh manusia-manusia di abad ini.
 
 
 

BAB 01 Pemerintahan (Ulil Amri)

DALAM Islam arti ulil amri atau pemerintah itu banyak tafsirannya. Di antaranya:
  1. Ulil amri diartikan dengan para ulama yang amilin, ulama yang kewibawaannya dihormati orang banyak.
  2. Ulil amri yang diartikan dengan ahlul halli wal 'aqdi.
  3. Ulil amri yang diartikan dengan orang-orang yang berkuasa didalam sebuah negeri atau sebuah negara.
  4. Ulil amri yang dimaksudkan dengan pemimpin-pemimpin jemaah Islam, dan lain-lain.

Di dalam buku ini, pembahasan ulil amri yang saya maksudkan ialah ulil amri yang diartikan dengan pemerintah yang berkuasa di dalam sebuah negeri atau negara. Pemerintah atau orang yang berkuasa dan mengelola sebuah negara disebut ulil amri. Arti ulil amri ialah yang mempunyai perintah. Tetapi kita selalu menyebutnya pemerintah. Pemerintah diistilahkan sebagai yang mempunyai perintah (ulul amri) karena mereka mempunyai kuasa untuk perintah (suruh) rakyatnya baik untuk berbuat atau meninggalkan suatu perkara. Mereka juga memiliki sultoh (kekuasaan dan kekuatan) baik berbentuk maknawiyah atau lahiriah. Kekuasaan dan kekuatan maknawiyah itu seperti undang-undang, peraturan dan akta. Sedangkan sultoh lahiriah ialah polisi, tentara, hakim, pegawai pemerintahan dan sebagainya. Dengan kekuasaan dan kekuatan tersebut, ulil amri akan dapat dan mampu memaksa rakyat agar patuh dan dapat menghukum rakyat yang ingkar terhadap perintah mereka.

Pemerintah dalam Islam disebut juga khalifah. Yakni khalifah ALLAH. Artinya, pengganti ALLAH atau wakil ALLAH di bumi. Mereka bertanggung jawab terhadap rakyat untuk menjalankan kerja-kerja yang ALLAH perintahkan. Yakni berkhidmat kepada rakyat, memimpin, mendidik, mengajar, mengelola, mengurus, menyelesaikan masalah rakyat, membangun kemajuan negara dan masyarakat. ALLAH menginginkan semua hamba-hambaNya  dipimpin dan diurus dengan baik agar semuanya mendapat pelayanan dan hak-hak yang sepatutnya mereka dapat dari ALLAH SWT di dunia ini. Untuk itu, segala harta benda dan khazanah perbendaharaan negara diserahkan ke dalam tangan mereka. Supaya dibagikan dengan adil dan disediakan segala keperluan rakyat dan negara. Hingga negara berada dalam keadaan aman, makmur dan mendapat keampunan ALLAH.

Karena pemerintah adalah pengganti ALLAH dalam menjalankan keadilan di kalangan manusia, maka ALLAH SWT telah memerintahkan hamba-hambaNya agar taat pada pemerintah sesudah ketaatan pada ALLAH dan Rasul. Inilah firmanNya:
Wahai mereka yang beriman, taatilah ALLAH, taatilah Rasul dan yang mempunyai kuasa di kalangan kamu (kaum muslimin). (An Nisa' 59)

Ketaatan kepada ulil amri yang adil, yang benar-benar mewakili atau mengganti ALLAH mengurus bumi, adalah penting supaya hukum-hukum ALLAH yang hendak dijalankan dalam negara dapat berjalan dengan baik. Dan kehidupan hamba-hambaNya dapat diurus dengan baik. Terhadap rakyat yang memiliki watak keras kepala dan melawan perintah,  pemerintah dibenarkan menghukum mereka untuk mengkawal kebaikan dalam masyarakat. Dengan syarat kesalahan itu betul-betul kesalahan yang diiktiraf oleh syariat. Pemerintah tidak boleh membuat hukum dan undang-undang sendiri dengan tidak menghiraukan undang-undang dan hukum ALLAH. Jika didapati pemerintah tidak menghiraukan hukum ALLAH, maka akan jatuh kepada hukum baik fasiq, zalim atau kafir. FirmanNya:
"Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum ALLAH, maka mereka adalah orang fasiq." (Al Maidah: 47)
"Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum ALLAH, maka mereka adalah orang zalim." (Al Maidah: 45)
"Barangsiapa yang tidak berhukum dengan hukum ALLAH, maka mereka adalah orang kafir." (Al Maidah: 44)

Kalau pemerintah sudah tidak taat dengan ALLAH, maka dalam keadaan itu rakyat tidak lagi wajib taat pada ulil amri (dalam perkara yang bertentangan dengan syariat). Rasulullah SAW bersabda:
"Tiada ketaatan kepada seorang makhluk dalam hal mendurhakai ALLAH. "

Karena di tangan mereka ada kekuasaan, kekuatan dan kekayaan negara, maka para ulil amri itu bebas untuk melakukan sebanyak-banyaknya kebaikan atau kejahatan. Tergantung kepada beriman atau tidaknya mereka. Pemerintah yang beriman akan berjaya menjadi penguasa yang adil seperti yang ALLAH perintahkan. Tapi pemerintah yang tidak beriman atau lemah imannya akan menyalahgunakan kuasa dan harta negara untuk kepentingan nafsu mereka.

Pemerintah yang adil, yang dapat melayani rakyatnya dengan baik, yang menjatuhkan hukuman dengan tepat dan meletakkan rakyat pada posisi yang tepat, sehingga rakyat mendapat hak dan keperluan yang cukup, adalah pemerintah yang telah menunaikan amanah dan tanggung jawab dengan betul. Rasulullah SAW bersabda:
Sehari seorang raja yang bertindak adil, lebih besar pahalanya daripada (seorang abid) beribadah 60 tahun. (Riwayat Ahmad)

Sabdanya lagi:
Keadilan sesaat lebih baik dari ibadah 60 tahun.

Ibadah yang dilakukan oleh si abid hanya menguntungkan dirinya saja. Sedangkan satu keadilan yang dilakukan oleh pemerintah dalam satu waktu, akan mencurahkan kebaikannya kepada jutaan rakyat. Kebaikan yang sama, kalau dibuat oleh seorang yang tidak memiliki kuasa, tidak banyak yang akan merasakannya. Sebab itu ALLAH SWT sangat meninggikan derajat pemerintah yang adil. Hal ini cukup masyhur dalam sebuah Hadist Qudsi:
Ada tujuh golongan yang ALLAH lindungi mereka di hari yang tiada perlindungan selain perlindunganNya. Mereka itu ialah raja atau pemerintah yang adil, pemuda yang tekun beribadah kepada Tuhannya, lelaki yang hatinya terpaut kepada masjid, dua orang lelaki yang saling berkasih sayang  karena ALLAH mereka bertemu dan berpisah pun karenaNya. Dan seorang lelaki yang digoda oleh seorang perempuan yang memiliki kedudukan dan kecantikan, lalu dia berkata, "Aku takut kepada ALLAH Tuhan Sekalian Alam." Dan lelaki yang bersedekah (berderma) secara sembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dibelanjakan oleh tangan kanannya, dan lelaki yang mengingati ALLAH sewaktu sunyi, lalu mengalir air matanya. (Riwayat Al Bukhari)

Dari tujuh golongan manusia yang beruntung itu, raja atau pemerintah yang adil mendapat tempat pertama di sisi ALLAH. Betapa tingginya penghormatan yang diperoleh. Mengapa? Sebab derajat itu sangat susah untuk dicapai. Tidak mudah  untuk menjadi raja atau pemerintah yang adil. Memang hampir semua orang, sebelum menjadi pemerintah, bercita-cita untuk adil terhadap rakyat. Tapi bila kuasa dan harta negara berada dalam tangan, hati sudah berubah. Hakikat ini tak mungkin dapat dinafikan. Sebab ALLAH sendiri mengakuinya dengan berfirman:
Tiadalah kehidupan dunia itu melainkan harta benda yang menipu daya. (Al Hadid: 20)

FirmanNya lagi:
Dihiasi manusia dengan perkara yang menjadi kecintaan nafsu, wanita, anak-anak, barang berharga baik emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak dan tanaman. Demikian itu adalah hanya untuk kehidupan di dunia. Dan di sisi ALLAH ada tempat yang lebih baik. (Ali Imran: 14)

Dunia kalau tiada,  ia tidak akan menipu. Tapi kalau sudah dalam tangan, bisikannya sungguh menggoda dan hampir tidak ada manusia yang selamat dari godaannya. Sebab nafsu pun sangat mencintai dunia. Nafsu menginginkan dunia yang indah dan menawan itu menjadi milik sendiri saja. Rasa sayang dan rugi untuk dilepaskan pada orang lain. Dengan itu maka pemerintah yang lemah iman atau yang tidak beriman sama sekali, akan mengeruk harta negara untuk kantongnya, keluarga dan kaum kerabatnya saja. Kalaupun rakyat dapat, maka takarannya terlalu kecil, sama sekali tidak seimbang dengan pendapatan pemerintah yang berkuasa. Sedangkan bagi rakyat yang dianggap musuh pemerintah, sama sekali tidak mendapat hak apa-apa. Mereka tertindas dan terzalim.

Hal itu bukan cerita asing dalam dunia hari ini bahkan di sepanjang sejarah. Kebanyakan pemerintah yang beragama Islam atau bukan, gagal untuk bertindak seadil-adilnya dalam pemerintahan. Mereka memanfaatkan amanah rakyat sebagai peluang untuk menjadi kaya-raya. Tugas dan tanggung jawab kepemimpinan disalahartikan dengan menjadikannya satu sumber pendapatan yang lumayan. Hak-hak rakyat dan negara rela dikorbankan.

Tunjukkan di tempat manakah sekarang ini yang pemerintahnya tidak hidup kaya raya di atas pemerintahannya ? Jangankan Perdana Menteri, menteri-menteri, gubernur dan anggota dewan, bahkan wakil rakyat pun hampir tidak ada yang tidak mengambil kesempatan untuk menjadi kaya di atas jabatan yang diamanahkan rakyat padanya. Jabatan itu diperebutkan demi pendapatan yang lumayan, tidak lagi untuk kepentingan rakyat jelata dan negara. Apalagi untuk agama. Pihak yang merasa tertindas karena ketidakadilan pemerintah itu, berebut pula untuk menjatuhkan pemerintah, dan mendukung golongan yang lain yang berjanji membawa keadilan. Namun waktu golongan itu menjadi pemerintah, hal yang sama pun berlaku. Akhirnya rakyat tetap juga tertipu atau menjadi mainan para pemerintah. Nampaknya para pemerintah dan wakil-wakil rakyat menjadikan kedudukannya sebagai pabrik atau ladang untuk mengeruk hasil kekayaan. Sebab itu tidak mengherankan bila masing-masing golongan berlomba-lomba merebut kursi di pemerintahan, hingga terjadi krisis di dalam satu partai.

Akibat dari pemerintah yang tidak adil ini, keadaan masyarakat dan negara akan menjadi tidak stabil, resah, gelisah, tidak tenang, berhutang, mundur dan lain-lain lagi. Seluruh rakyat akan terkena akibatnya. Sedangkan kalau orang yang tidak memiliki kuasa membuat salah, tidak terlalu banyak orang yang terlibat. Sebab itu hukuman ALLAH di Akhirat untuk pemerintahan yang zalim, menganiaya, khianat, berkepentingan dan menindas itu sangat berat. 

Rasulullah SAW bersabda:
Manusia yang paling dahsyat siksaan di Hari Qiamat ialah pemimpin yang zalim. (Riwayat Ath Thabrani)

Pemerintah yang adil pernah wujud dalam sejarah. Tapi tidak banyak dan tidak lama. Tidak sebanyak pemerintah yang tidak adil dan zalim itu. Di antara pemerintah adil yang pernah muncul dalam sejarah menurut ukuran Islam ialah Rasulullah SAW, Khulafaur Rasyidin, Sayidina Umar Abd. Aziz, Muhammad Al Fateh dan Salahuddin Al Ayyubi. Selain zaman mereka ini, tidak berlaku pemerintahan yang betul-betul adil walaupun masing-masing pemerintah sudah mengaku bahwa mereka adalah pemerintah yang adil. Mereka cuma mampu berbuat beberapa kebaikan. Tetapi macam-macam penindasan dan kekejaman lain dilakukan dengan leluasa. Akibat mereka tidak cukup bertakwa, tidak mendalami syariat ALLAH dan tidak mau tunduk pada kebenaran.

Di dunia hari ini hampir-hampir tidak ada pemerintahan yang adil, sekalipun di dalam negara umat Islam yang mengakui undang-undang ALLAH sebagai perlembagaan negara sebagaimana berlaku di Pakistan, Arab Saudi dan Iran. Hal itu terjadi karena melaksanakan keadilan tidak semudah menulisnya di atas kertas. Penentang-penentang kebenaran dan keadilan dalam diri manusia itu sendiri yakni nafsu dan syaitan cukup kuat menentangnya. ALLAH berfirman:
 Sesungguhnya nafsu itu sangat mengajak pada kejahatan. (Yusuf: 53)

 Sebab itu dalam sejarah Islam seperti yang dipraktekkan oleh ulama-ulama besar, salafussoleh, tokoh-tokoh sahabat, imam mazhab yang empat dan lain-lain, jabatan sebagai pemerintah tidak direbut atau diminta-minta. Mereka bukan saja tidak berani mengaku untuk bersikap adil pada rakyat, bahkan mereka merasa takkan mampu berlaku adil. Karena jabatan itu tidak diminta-minta bahkan ditolak ketika ditawarkan. Mereka sanggup didera daripada menjadi pemerintah. Tidak pernah terjadi di kalangan mereka ada yang dipenjara karena gila merebut kekuasaan. Rasulullah sendiri pun pernah menolak permintaan Abu Hurairah yang meminta untuk menjadi pemerintah. Sedangkan sahabat itu adalah orang yang cukup baik.

Memang dalam Islam wajib hukumnya (yakni fardhu kifayah) mewujudkan kerajaan atau pemerintahan. Haram hukumnya kalau terjadi kekosongan dalam pemerintahan. Tapi para ulama besar salafussoleh lebih suka bila orang lain yang memerintah, dan mereka sebagai penasihatnya. Bila menjadi penasihat yang tegas, hakikatnya mereka turut terlibat langsung dalam pemerintahan. Selain dari itu para ulama tsb gigih berjuang untuk memperbaiki masyarakat dengan iman dan takwa. Bilamana rakyat soleh dan solehah,  mereka akan berperanan penting membantu pemerintah untuk memerintah dengan adil. Kejayaan Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin dalam pemerintahan mereka adalah karena rakyat juga sangat membantu, hasil didikan awal yang telah diusahakan sejak lama.

Menolak jabatan memerintah ini dapat dibuat selagi jabatan itu memang ada yang menyandangnya. Tapi bila terjadi di satu negara, jabatan itu dikosongkan dan tidak ada orang yang mau mengisinya, maka waktu itu Islam mewajibkan dari kalangan umat Islam yang memiliki persediaan dan kelayakan untuk mengisinya. Kalau ada di kalangan umat Islam waktu itu ditunjuk oleh orang banyak untuk memerintah, maka haram baginya menolak. Sebagai pribadi,  hukumnya menjadi fardhu ain karena sudah tidak ada orang lain lagi. Haram hukumnya membiarkan kekosongan pemerintahan berlaku.

Tapi hari ini umat Islam bertengkar karena memperebutkan jabatan sebagai pemerintah,  dengan dua alasan:
  1. Pemerintah yang ada tidak Islami.
  2. Takut orang bukan Islam mengambil alih pemerintahan.
  3.  
Sikap itu sebenarnya bertentangan dengan dasar Islam. Kita tidak boleh menepuk dada mengaku bahwa kita mampu menjalankan keadilan seperti yang dikehendaki Islam. Sedangkan ulama-ulama besar yang tinggi ilmu dan takwanya itu pun tidak pasti bahwa mereka dapat selamat dari tipuan dunia. Sebab itu mereka menolak. Mereka lebih suka menjadi penasehat saja secara tidak resmi. Apalagi kita yang lemah-lemah ini!

Langkah sebaik-baiknya ialah:
  1. Nasihati pemerintah yang ada dengan penuh hikmah agar mereka dapat bertindak adil dalam pemerintahan. Doakan pula mereka agar dibantu ALLAH.
  2. Berjuang membina rakyat agar beriman dan bertakwa dengan menjalankan seluruh syariat ALLAH dan meninggalkan laranganNya. Kalau rakyat sudah baik-baik, tinggal pemerintah saja yang tidak adil, itu pun sudah cukup baik. Mudah-mudahan satu masa naik pemerintah yang baik dari kalangan rakyat yang baik-baik tadi. Hal ini terjadi di zaman salafussoleh selepas Khulafaur Rasyidin. Masyarakatnya soleh-soleh tapi pemerintahnya sudah mulai menyeleweng.
  3. Benahi jemaah atau partai sendiri supaya menjadi contoh dalam hal pembangunan insan dan pembangunan materiil. Kalau benar-benar layak, sekalipun kita tidak suarakan bahwa kita layak, nanti akan ada orang yang menolong menyuarakan.
  4. Para pemimpin jemaah atau partai yang sangat berkeinginan hendak memerintah mestilah menunjukkan kewibawaan diri dan partainya. Di mana di dalam diri dan partainya, Islam sudah terbangun, hingga orang yakin dia layak menjadi seorang pemimpin.
  5. Mengapa sejak partai-partai Islam berjuang di dunia hari ini tidak dibuat satu unit yang benar-benar terlatih untuk berdakwah kepada orang-orang yang bukan Islam agar mereka masuk Islam? Kalau mereka masuk Islam, banyak masalah dapat diselesaikan. Yang banyak terjadi, kita ceritakan Islam membawa keadilan kepada semua golongan termasuk mereka yang bukan Islam adalah untuk memancing pemilih bukan mengajak mereka masuk Islam. Padahal para rasul diutus ke dunia, tugasnya antara lain mengajak dan menyeru orang-orang yang bukan Islam kepada Islam. Mengapa program itu tidak kita jadikan sebagai program partai? Di sini menunjukkan partai-partai Islam itu lebih bercorak politik daripada bercorak Islam.

Kalau betul takut orang bukan Islam akan menawan kuasa pemerintahan, mengapa umat Islam tidak bersatu dalam satu partai saja? Sudah sepatutnya  umat Islam memiliki satu partai saja agar orang-orang Islam memilih satu partai saja.

Sebenarnya jabatan memerintah adalah amanah yang berat. Orang yang amanah dan jujur tidak akan berani memberanikan diri untuk melakukannya. Kecuali orang-orang yang memiliki kepentingan lain yang indah-indah dalam jabatan itu, mereka sangat gairah untuk mendapatkannya. Dan biasanya orang seperti itu bila naik jadi pemerintah, apa yang dibuat hampir tidak berbeda dengan yang dibuat oleh orang sebelumnya. Yakni tidak adil dan menindas. Umat Islam perlu sadar dan faham rahasia hakikat ini.

Janganlah terpedaya dengan orang-orang yang  gigih berjuang untuk jadi pemerintah. Sedangkan mereka tidak serius dalam memperbaiki diri, keluarga, partai dan masyarakat agar beriman dan bertakwa untuk menjalankan syariat ALLAH. Bila tidak ada tanda-tanda zuhud dan takwa pada diri mereka yang lebih daripada orang lain, dengan apa mereka dapat menang terhadap nafsu dan tipuan dunia? Apa jaminan bahwa mereka dapat lebih bertindak adil daripada orang lain? Dan apa jaminan mereka tidak akan mengulangi kesalahan orang-orang lama?

Kalau naik hanya untuk ulangi kesilapan itu, artinya kita sengaja membiarkan orang itu terjun ke Neraka dan membawa rakyat bersama-samanya. Kalau benar inginkan pemerintahan Islam, dalam keadaan kita pun tidak bersedia, nasihatilah pemerintah yang ada serta doakan mereka. ALLAH yang tahu bagaimana nanti untuk mengabulkan doa dan hasrat suci kita itu. Di samping itu kita bersedia untuk membaiki diri dan kelompok sendiri. Sebab bila sudah ada wibawa, orang banyak sendiri yang akan menunjukkan bahwa partai kitalah yang layak memimpin mereka.
 
 
 
 

BAB 02 Pemerintah Wakil ALLAH bukan Wakil Rakyat

SEMUA ideologi dan isme di dunia ini memandang bahwa pemerintah atau pemimpin itu adalah wakil-wakil rakyat yang naik untuk memperjuangkan hasrat rakyat. Mereka akan bersuara mengikuti suara rakyat, bertindak mengikuti kehendak rakyat. Hakikatnya dasar pemerintah ditentukan oleh rakyat. Dengan kata lain, dalam sistem pemerintahan sekuler, dasar dan tujuan pemerintahan ditentukan oleh akal dan nafsu manusia semata-mata. Itu pun bukan oleh pemerintah itu sendiri tapi oleh rakyat. Sebab itu pemerintah juga disebut wakil rakyat.

Dalam Islam, pemerintah ditunjuk atau dilantik oleh ALLAH, baik secara langsung atau tidak. Kalau nabi-nabi dan rasul-rasul ditunjuk secara langsung oleh ALLAH melalui wahyuNya. Sedangkan selain mereka, ditunjuk secara tidak langsung baik mereka ditunjuk atau diisyaratkan secara umum oleh Hadist ataupun dilantik melalui ahlul halli wal 'aqdi. Sepanjang sejarah semua pemimpin Islam yang haq, yang pernah menegakkan keadilan bukan dipilih oleh rakyat melalui pemilu tetapi dinaikkan sendiri dengan persetujuan hati manusia atau dinaikkan oleh ahlul halli wal 'aqdi. Demikianlah caranya ALLAH melantik wakil-wakilNya.
Artinya dalam Islam, pemerintah itu ialah wakil ALLAH. ALLAH yang melantik dan ALLAH yang akan menaikkan. Jadi mereka bertanggung jawab untuk menjalankan dasar dan tujuan pemerintahan yang ALLAH tentukan. Kesemuanya telah termaktub dalam Al Quran dan Sunnah. Selaku wakil ALLAH, pemimpin-pemimpin itu adalah orang-orang yang faham tentang ALLAH, tahu tentang Kerajaan ALLAH, faham dasar dan tujuan pemerintahan yang ALLAH tentukan, faham hukum-hukum yang datang dari ALLAH dan tahu melaksanakannya. Sewaktu melantik mereka, ALLAH seolah-olah berkata begini:

Bumi ini Aku yang punya. Manusia-manusia itu hamba-hambaKu. Aku malu bumi itu dan hamba-hambaKu itu dikelola, diurus, dididik, dipimpin dan dimajukan dengan sebaik-baiknya. Untuk itu, Aku lantik kamu menjadi wakilKu untuk menjalankan kerja-kerja pemerintahan seperti yang telah Aku tunjukkan dalam Al Quran dan Hadist NabiKu.

Wakil-wakil ALLAH yang paling utama ialah nabi-nabi dan rasul-rasul. Berikutnya ialah para waliNya yang bertaraf mujaddid. Hadist juga menunjukkan kepemimpinan Imam Mahdi dan Pemuda Bani Tamim dari Timur di akhir zaman ditunjuk oleh ALLAH melalui lidah RasulNya. Begitu juga pemerintahan Muhammad Al Fateh telah diisyaratkan oleh Hadist. Karena mereka ini semuanya adalah wakil-wakil ALLAH yang dilantik secara langsung atau tidak, maka kita lihat pemerintahan dan kenaikan mereka begitu unik sekali. Mereka dilantik bukan hasil pilihan rakyat. Pemerintahan mereka benar-benar membawa keamanan dan kemakmuran pada negara dan rakyat.

Pemerintah atau pemimpin Islam yang tidak ditunjuk oleh wahyu secara langsung, hakikatnya  juga ditunjuk oleh wahyu bila ia dilantik oleh ahlul halli wal 'aqdi, karena kaedah perlantikan pemerintah atau pemimpin melalui ahlul halli wal 'aqdi, adalah kaedah yang ditunjuk oleh Al Quran. Maka menurut kaedah itu artinya menerima pemerintah yang ditunjuk oleh wahyu secara tidak langsung. Sebab itu bagi saya, Khulafa'ur Rasyidin dan pemerintah lain yang dilantik oleh ahlul halli wal 'aqdi adalah pemerintah yang ditunjuk oleh wahyu secara tidak langsung. Mereka itulah pemerintah Islam yang haq. Sebab itu hasil pemerintahan mereka sungguh luar biasa. Yakni tercapainya keamanan dan kemakmuran hakiki. Suasana yang dijamin oleh  ALLAH  kalau manusia benar-benar menurut syariatNya.

Cara naiknya wakil rakyat ialah melalui pemilihan secara berpartai. Untuk dapat suara, mereka hanya perlu pandai bicara. Kalau pandai beragumentasi lebih bagus lagi. Kadang-kadang pandai juga menghina dan memfitnah lawan. Kalau perlu, main kotor. Karena yang mereka jalankan adalah politik Barat, di mana orang Barat pun mengakui kekotorannya, Politic is a dirty game. Rakyat umum yang menilai kepemimpinan seorang karena kepandaiannya berbicara dan banyak berjanji manis, akan memberi suara murahan, maka naiklah si tukang pandai bicara tadi menjadi pemimpin atau wakil rakyat.

Kenaikan wakil-wakil ALLAH menjadi pemerintah jauh berbeda dengan cara-cara kenaikan wakil-wakil rakyat tadi. Hal itu dapat dilihat bagaimana Rasul-Rasul, Khulafaur Rasyidin dan para mujaddid tampil menjadi pemimpin ummah. Mereka menjadi pemimpin sebelum dilantik menjadi pemimpin resmi. Mereka mulai memimpin dari seorang diri. Lama-kelamaan menjadi beratus hingga beribu orang yang menerima kepemimpinannya. Maka ia menjadi pemimpin dengan sendirinya untuk ribuan pengikutnya. Manusia menjadikannya sebagai tempat rujuk. Mereka menyerahkan diri dan hati padanya, bukan hanya memberi suara. Pada mulanya ia adalah pemimpin tidak resmi atau termasuk juga sebagai ulil amri tidak resmi. Bila tiba saatnya,  ia ditunjuk menjadi pemimpin resmi, bukan melalui pemilihan tetapi dengan hati, yang sebelumnya telah disetujui lebih dahulu oleh ahlul halli wal 'aqdi.

Terbukti dalam sejarah bahwa pemerintahan Islam yang sempurna, adil serta bijaksana, karena Penciptanya adalah Zat Yang Maha Bijaksana, telah menghasilkan sebuah masyarakat terbaik yang tiada tandingannya. Yakni masyarakat contoh generasi salafussoleh sekitar 300 tahun dari Rasulullah. Tentang ciri-ciri istimewa mereka waktu itu yang menjadikan mereka masyarakat terbaik akan saya sebutkan dalam bab khusus yaitu Pemerintah Contoh (Bab 15), insya ALLAH. Walaupun terjadinya sudah lebih dari seribu tahun, namun kini Al Quran dan Sunnah tetap segar di tangan kita. Mengikuti keduanya, artinya mengulangi sejarah kegemilangannya.

Semoga benar-benar menjadi kenyataan, yaitu perjuangan Islam yang sedang memuncak ini sampai ke tujuannya.
 
 
 
 

BAB 04 Tanggung Jawab Rakyat Terhadap Pemerintah

DALAM Islam terdapat peraturan-peraturan yang lengkap tentang tanggung jawab pemerintah dan juga tanggung jawab rakyat. Peraturan serta tanggung jawab itu sudah terbukti, kalau dilaksanakan dengan betul dan sempurna membawa hasil yang sangat baik. Kebaikannya dapat dirasakan bersama oleh pemerintah, rakyat dan negara keseluruhannya. Buktinya terdapat dalam negara contoh yang telah dibangun untuk kita oleh Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin dengan bantuan salafussoleh kira-kira 1400 tahun yang lalu.

Walaupun hal itu sudah jauh dari kita, ditinggalkan oleh zamannya, namun kalau kaedah yang dipakai itu digunakan untuk zaman ini, tentu hasil yang sama akan  diperoleh. Kaedah-kaedah selain itu, yang direka oleh manusia-manusia setelah zaman itu termasuk segala macam ideologi yang dianut hari ini ternyata belum pernah menciptakan kejayaan yang sama seperti apa yang diciptakan oleh sejarah Islam. Yaitu keamanannya, kasih sayangnya, kemakmuran, keadilan, keharmoniannya, perpaduan dan lain-lain. Yang dapat dibuat oleh mereka ialah meluaskan kekuasaan.

Hatta satu hakikat yang patut kita sadari bahwa kejayaan umat Islam ialah jika mereka kuat dengan agamanya. Sedangkan kejayaan orang bukan Islam ialah di waktu mereka meninggalkan agamanya. Artinya, hanya agama Islam saja yang kalau diikuti betul-betul akan membawa kejayaan dunia dan Akhirat. Tetapi agama lain, karena tidak mempunyai peraturan,  kalau diikuti tidak membawa kejayaan apa-apa. Kecuali mereka meninggalkan agamanya. Yang mereka dapat hanya kemajuan dunia, di sudut materiil saja.

Saya sudah sebutkan tanggung jawab para pemerintah menurut agama Islam. Tetapi perlu diingat, rakyat juga memiliki tanggung jawabnya terhadap pemerintah dan negara. Kalau rakyat lalai atau ingkar terhadap tanggung jawabnya, negara juga tidak akan selamat dan mereka akan menanggung dosanya. ALLAH SWT telah menjelaskan dalam Al Quran tentang tanggung jawab rakyat terhadap pemerintah. FirmanNya:
Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada ALLAH, taatlah kepada Rasul dan pemimpin di kalangan kamu. (An Nisa: 59)

Itulah tugas rakyat yang paling asas dan utama kepada pemerintahnya. Kalau terlaksana tanggung jawab itu, niscaya dengan mudah negara itu menuju kejayaannya. Sebaliknya kalau tugas itu tidak selesai, macam-macam kekusutan dan masalah akan timbul serta akan membuat negara terombang-ambing dan kocar-kacir. Bila rakyat taat dengan segala arahan dan perintah dari pemerintah yang adil, artinya segala rancangan-rancangan baik akan terlaksana dengan jayanya. Apapun proyek, rancangan, arahan dan hasrat pemerintah akan disambut oleh rakyat dengan suka rela, setia, rela berbuat dan sanggup berkorban apa saja untuk itu.

Gabungan antara dasar serta aturan yang bijaksana dan baik dengan tenaga maksimum yang dikorbankan oleh rakyat dengan penuh taat dan rela terhadap pemerintahnya akan membawa negara pada puncak kejayaan peradabannya. Dengan kata lain, kombinasi antara pemerintah dan sistem yang baik dengan rakyat yang baik akan mencetuskan kebaikan yang merata dalam masyarakat untuk dikecap oleh semua pihak. Sebaliknya tanpa rakyat yang taat, impian indah para pemerintah hanya tinggal angan-angan kosong saja. Pemerintah akan merasa dikecewakan oleh rakyatnya sendiri.

Sebab itu pemerintah mesti bersungguh-sungguh dalam mendidik rakyat agar mereka menjadi taat dan setia. Untuk itu, rasa mengasihi antara rakyat dan pemerintah mesti ditanam betul-betul. Sebab dari kasih sayang baru akan datang taat. Orang susah taat pada seseorang yang tidak dikasihinya. Sedangkan isteri yang sudah kasih pada suaminya pun belum dapat taat. Karena kasih itu didorong oleh nafsu bukan kasih murni. Apalagi rakyat, yang tidak memiliki hubungan atau ikatan apa-apa dengan pemerintah, tidak mungkin mereka dapat taat dengan mudah.

Ketaatan rakyat itu hukumnya wajib. Artinya kalau rakyat tidak taat pada pemerintah yang adil, mereka telah melakukan perkara haram yang tentunya satu kesalahan. Rakyat perlu faham, perintah taat itu bukan datang dari pemerintah. Tetapi datang dari ALLAH berdasarkan ayat Al Quran yang sudah tertulis di atas. Jadi kalau rakyat durhaka pada pemerintah, artinya mereka durhaka pada ALLAH. Kalaupun pemerintah tidak hukum, ALLAH pasti menghukumnya.

Syarat ketaatan itu ialah selagi pemerintah itu taat pada ALLAH. Sedangkan bila pemerintah sudah durhaka pada ALLAH, rakyat tidak lagi wajib taat padanya. Bahkan berdosa hukumnya memberi ketaatan pada pemerintah yang durhaka pada ALLAH. Rasulullah bersabda:
Tiada ketaatan kepada makhluk dalam soal mendurhakai ALLAH.
Pemerintah atau pemimpin yang wajib ditaati itu ada beberapa jenis, yaitu:
  1. Pemerintah negara atau negeri.
  2. Pemimpin jemaah.
  3. Ketua atau pemimpin dalam suatu bidang seperti ketua atau menteri pendidikan, ketentaraan, pertanian, ekonomi dan sebagainya.

Selain mereka, ada juga ketua-ketua kecil yang menjalankan program dari ketua umum. Selagi mereka taat menjalankan dasar negeri atau negara, jemaah atau bidang-bidang tertentu, maka mereka juga wajib ditaati.
Ada orang berkata, dia tak dapat taat pada ketua-ketua lain selain ketua satu. Orang itu sombong dengan ketua-ketua bawahan. Dia merasa tidak layak untuk tunduk pada ketua kecil-kecil. Hal itu kalau dibenarkan akan membawa perpecahan dalam masyarakat. Akan ada dua tiga ketua di satu tempat. Perpaduan dan pembangunan terancam. Sebab itu mesti memahami hal di bawah ini:

Pemimpin bawahan dilantik oleh pucuk pimpinan. Artinya pemimpin bawahan adalah wakil atau orang kepercayaan pemimpin atas. Oleh itu kalau kita tidak taat pada pemimpin yang dilantik dan dipercayainya, sama halnya seperti kita tidak taat pada pucuk pimpinan.

Ujian ketaatan adalah perkara biasa dalam perjuangan. Siapa yang selalu gagal adalah orang-orang lemah yang tidak layak untuk ikut dalam perjuangan. Bahkan mereka adalah penentang baik sadar atau tidak. Ketaatan yang dituntut oleh Islam bukan saja dalam hukum-hukum wajib dan sunat. Karena hukum yang wajib dan sunat itu kalaupun tidak disuruh oleh pemerintah, memang mesti dibuat untuk  perkara yang wajib dan elok dibuat untuk perkara yang sunat. Sebab sudah diperintahkan oleh ALLAH dan Rasul. Begitu juga larangan pemimpin yang mesti ditaati, bukan dalam soal haram dan makruh saja. Sebab yang haram dan makruh memang sudah dilarang oleh ALLAH. Walaupun pemimpin tidak melarang kita mesti menghindarkannya.

 Ketaatan pada pemerintah juga mesti diberi dalam hal-hal yang mubah. Atau dalam soal-soal ijtihadul fikri yakni pendapat atau rancangan pemimpin yang mesti ditaati walaupun kita memiliki pendapat atau rancangan yang lain. Selagi rancangan pemimpin tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam Islam, kewajiban taat pada hukum-hukum yang mendatang ini disebut wajib aradhi (wajib mendatang).  Contoh-contoh perkara yang wajib ditaati oleh rakyat terhadap pemimpin, antaranya:
  1. Di waktu musuh menyerang, pemerintah mengerahkan tenaga manusia dari rakyatnya untuk memerangi musuh. Maka rakyat wajib taat. Dalam Islam, siapa yang lari dari medan perang boleh dihukum bunuh. Karena dia dianggap telah melakukan dosa besar.
  2. Di waktu kemarau, waktu darurat, waktu bencana atau waktu susah makan minum, pemerintah memerintahkan orang-orang kaya mengeluarkan bantuan baik untuk senjata, peralatan atau makanan untuk fakir miskin dan lain-lain lagi, maka mereka wajib taat. Kalau mereka enggan, pemerintah yang adil itu boleh memaksa dan merampas harta mereka yang kaya tapi bakhil itu.
  3. Kalau pemerintah sudah siapkan satu kawasan kediaman baik kampung atau kompleks pemukiman dalam rancangan memindahkan rakyat, agar rakyat beralih ke kawasan baru itu, maka rakyat wajib pindah. Kalau ingkar, mereka jatuh dosa.
  4. Rakyat yang diperintahkan menukar jabatan kerja atau tempat kerja juga wajib mentaati arahan itu.
  5. Kalau pemerintah mengarahkan penduduk satu kawasan membuat pertanian, wajib bagi mereka mengusahakan pertanian. Berdosa kalau mereka usahakan peternakan. Atau pemerintah menyuruh menanam padi, berdosa hukumnya kalau menanam jagung.
  6. Hatta suruhan kawin dan cerai, kalau terjadi, rakyat wajib taat. Kalau pilihan kita ditolak oleh ketua, maka kita juga mesti mematuhinya dan menikah dengan pilihan yang ditunjukkan. Semua hal itu kalau tidak ditaati, jatuh kepada dosa.

Demikianlah peraturan dalam Islam untuk menjayakan pemerintahan yang adil, aman, makmur dan lain-lain. Islam bukan bermaksud mengungkung kebebasan atau menafikan kebijaksanaan (kreativitas) rakyat. Biasanya pemimpin yang adil lebih adil dan terpimpin dari rakyatnya dalam memboat keputusan. Dan rakyat yang taat akan lebih terpimpin fikiran dan kreativitasnya.

Rakyat yang menentang pemerintah yang adil boleh diperangi. Hal ini pernah dibuat oleh Sayidina Abu Bakar. Yakni beliau memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Tentunya mula-mula orang yang keras kepala ini dinasihati. Tetapi sesudah dinasihati pun masih keras kepala, maka boleh diperangi hingga mereka kembali menjadi rakyat yang taat.
 
 
 
 

BAB 05 Pemerintahan yang Baik, yang Lemah, dan yang Cacat


SETIAP orang di kalangan umat Islam wajib mempunyai pemimpin. Karena pemimpinlah yang akan menyelamatkan hidupnya dunia dan Akhirat. Oleh karena itu mencari dan menentukan pemimpin untuk diikuti dan ditaati, adalah kewajiban setiap umat Islam.
Bukan semua orang boleh menjadi pemimpin. Ada pemimpin yang resmi tetapi sebenarnya dia bukan seorang pemimpin. Ada Juga orang yang tidak menjadi pemimpin resmi tetapi dialah yang sepatutnya menjadi pemimpin. Untuk mengenali pemimpin yang baik dan tidak, Islam memberi garis panduan umum pada kita. Saya akan mencoba menyatakan hal itu supaya saudara pembaca dapat dipandu untuk menentukan siapakah pemerintah atau pemimpin anda yang sepatutnya.

Dalam Islam, kepemimpinan boleh dibagi menjadi tiga kategori yaitu:
1. Pemimpin yang baik.
2. Pemimpin yang lemah.
3. Pemimpin yang cacat (rusak).


A. Pemimpin Yang Baik

Pemimpin yang baik ialah pemimpin yang memiliki empat kekuatan yaitu kekuatan jiwa, kekuatan akal (memiliki buah fikiran), kekuatan perasaan dan kekuatan fisik. Dengan syarat keempat bagian itu ditunjang oleh iman dan takwa.

Kuat Jiwa

Seorang pemimpin memerlukan kekuatan jiwa karena pemimpin perlu memiliki sifat-sifat tabah, redha, berani, tahan uji, yakin dengan diri, tegas, optimis, sungguh-sungguh, lapang dada, kasih sayang dan serius dalam tugasnya.
Sifat-sifat itu semuanya sangat penting untuk memikul beban kepemimpinan yang pasti ditempuh oleh seorang pemimpin. Tanpa sifat-sifat itu, pemimpin tidak akan mampu menyelesaikan masalah dan persoalan yang timbul, baik di kalangan manusia atau di dalam urusan pembangunan materiil. Misalnya apabila ada anak buah, pengikut atau rakyat membuat masalah, kekacauan atau menghalangi perjalanan perjuangan, pemimpin yang tidak tegas akan ragu-ragu atau tidak sampai hati untuk bertindak dan menghukum orang tersebut. Rasa kasihan, tidak sampai hati dan lain-lain, membuat dia rela 'benalu' itu terus merusak pohon. Hasilnya, masalah yang timbul terbiar untuk mengeruhkan suasana negara, masyarakat atau jemaahnya. Kalau negara, masyarakat atau jemaah ditimpa ujian baik dari dalam atau luar, pemimpin yang tidak kuat jiwa akan mudah melatah, panik dan ketakutan atau bertindak membabi buta. Semangat untuk meneruskan perjuangan mungkin patah. Tindakan yang terburu-buru atau tergopoh-gopoh mungkin akan dibuat, yang memungkinkan salah langkah. Pengikut yang melihat hal itu akan turut cemas dan sekaligus lemah semangat juang mereka.

Pemimpin yang tidak kuat jiwa bila tercabar atau terancam, biasanya tidak akan tahan menerimanya, lalu akan terus menjawab dan bertindak. Dia boleh menantang orang lain. Tapi dia jangan ditantang. Pasti dia tidak akan tahan. Biasanya membawa akibat buruk kepada diri dan pengikutnya sendiri. Kadang-kadang musuh sengaja memancing supaya dia  berbicara yang bukan-bukan agar musuh melihat kelemahannya bila dia bertindak dengan mencela, mempermainkan dan menjatuhkan lawannya.

Pemimpin yang tidak kuat jiwa biasanya merelakan rakyat bersikap lamban, malas dan main-main terhadap aktivitas pembangunan. Yang penting bagi mereka rakyat mendukung. Kesungguhan untuk menggiatkan anak buah agar lebih aktif dan berdisiplin tidak ada,  akhirnya negara atau jemaah tidak membangun, rakyat mundur dan tidak berakhlak serta banyak masalah yang tidak selesai.

Kuat Mental

Kekuatan mental sangat penting bagi seorang pemimpin. Pemimpin laksana lampu penyuluh perjalanan hidup rakyat atau pengikut dan negara atau jemaah. Tanpanya, rakyat atau pengikut sebuah negara atau jemaah seolah-olah berada dalam kegelapan. Bila pemimpin lemah fikirannya, dia akan kekurangan ide yang baik dan tepat untuk bertindak, merancang dan menyelesaikan masalah. Dia tidak memiliki buah fikiran sendiri, hanya meminjam buah fikiran orang lain. Dia mudah buntu dalam kepemimpinannya. Bila tertantang atau terancam, tidak tahu bagaimana untuk melepaskan diri atau membalas. Kadang-kadang karena tidak cerdik, perkara yang tidak baik dikatakannya baik atau sebaliknya. Keadaan berbahaya dibiarkannya. Tipuan dan umpan musuh termakan olehnya.

Maka akan terjadi masalah masyarakat dan negara atau jemaah oleh pemimpin yang tidak cerdik, tidak kreatif, tidak ada ide dan tidak berstrategi ini. Sedangkan bagi pemimpin yang mempunyai akal yang tajam, dia dapat membaca sebab-sebab timbulnya satu masalah dengan tepat dan pandai mencari penyelesaian yang konkret. Dia melihat kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi terhadap sesuatu tindakan yang orang lain tidak nampak. Hal-hal yang tersirat dapat dibaca dan difahaminya. Tipuan musuh dapat dipantau dan dia mempunyai daya tindak balas yang lebih bijaksana dan tajam. Rancangannya tepat, strateginya tepat. Buah fikirannya mampu menjayakan program pembangunan insan dan materiil dalam masyarakat, negara atau jemaahnya. Karena dia tidak bersandar atau mengutip buah fikiran orang lain tetapi mempunyai pandangan sendiri yang sesuai, tepat dengan persoalan dan keadaan semasa di zamannya.

Kuat Perasaan

Kekuatan perasaan juga penting sekali bagi seorang pemimpin. Yakni kekuatan untuk menimbang-nimbang kepentingan dan masalah orang lain. Kekuatan untuk bertenggang rasa, berlemah-lembut dan berkasih sayang dengan manusia. Kekuatan untuk menangkap hal-hal di sebalik hati manusia dan tahu bagaimana menghibur mereka. Pemimpin yang tidak memiliki semua ini adalah pemimpin yang akan kasar, bengis dan kejam dengan manusia. Pengikut taat kepadanya dalam keadaan terpaksa dan takut. Lama- kelamaan pengikut akan jemu dan akan meninggalkannya. Dia kurang halus dalam menyelesaikan masalah. Dia tidak sensitif dengan ragam manusia. Membujuk, menjaga hati, mengambil hati, menghibur dan lain-lain yang perlu untuk menawan hati manusia tidak ada dalam kamus tindakannya. Keadaan kepemimpinannya akan tegang, serius dan formal sekali. Tenggang rasa, berlapang dada dan memaafkan pengikut yang bersalah atau lemah jarang terjadi. Dia banyak memaksa dan memecahkan ukhuwah. Akhirnya kepemimpinannya tidak membawa hasil yang sebaik-baiknya.

Sedangkan pemimpin yang memiliki kekuatan perasaan akan halus dalam membuat pertimbangan dan tindakannya dengan manusia. Dia ditaati dengan kasih sayang. Dia dipuja oleh pengikut karena pandai melayan dan menghibur hati pengikut dengan tidak mengorbankan prinsip dan identitas. Dia tegas tapi tidak keras. Dia bersungguh-sungguh tapi tidak memaksa. Dia lembut, pengasih dan pemaaf tetapi tidak lamban, lemah dan lalai. Dia sabar tapi tidak membiarkan anak buahnya. Pemimpin seperti ini adalah pemimpin di hati rakyat bukan di mata rakyat. Dia diterima karena akhlaknya bukan saja karena bijaksana dan beraninya. Walaupun dia sudah pensiun atau mati tetap diterima kepemimpinannya dan akan dikenang serta disanjung. Sedangkan pemimpin yang tidak halus akhlaknya, belum lagi pensiun orang sudah berharap agar dia meletakkan jabatan. Bila tua atau mati, langsung dilupakan orang. Makamnya tidak diziarahi orang.

Kuat Fisik

Kekuatan fisik bagi seorang pemimpin termasuk suatu hal yang penting. Kalau pemimpin tidak aktif, selalu tidak sehat, tidak lincah dan tidak hadir program, kepemimpinannya menjadi jumud dan kaku. Sebab itu para rasul yang ditugaskan untuk memimpin umat, semuanya diberi fisik yang kuat. Hingga mereka sanggup untuk mengembara dan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain melintasi padang pasir, gunung-gunung, gua dan hutan belantara. Cuma dengan berjalan kaki atau mengendarai kendaraan saja. Di samping mereka adalah makhluk ALLAH yang diberi akal tajam, jiwa yang kebal dan perasaan yang halus dan tinggi.  Orang biasa atau pemimpin biasa tidak ada yang dikaruniakan semua itu kecuali kalau diusahakan. Itupun tidak dapat menandingi Rasul.

Pemimpin yang sempurna dengan kekuatan- kekuatan tersebut tadi,  ditunjang oleh takwa dan iman, itulah pemimpin yang akan berjaya dalam kepemimpinannya. Berjaya dalam arti kata dapat memimpin dan mendidik umat untuk memperoleh hasil yang tepat dan baik, yaitu mentaati ALLAH dan Rasul. Sekalipun tidak banyak orang yang dipimpinnya, tetapi pimpinan itu benar dan tepat. Sedangkan kalau banyak pengikut tetapi hasilnya tidak tepat dan benar, maka pengikut yang banyak itu seperti buih di lautan saja. Dan pemimpin itu dianggap gagal. Karena mendapat banyak pengikut yang tidak berkualitas. Pengikut yang sudah diberi subsidi pun masih tidak dapat membangun.

Seperti halnya penggembala binatang yang dapat mengawal binatang ternaknya dengan baik. Tidak Seekor pun binatangnya itu makan tanaman orang atau tidak hilang ditangkap serigala. Dia dianggap berjaya walaupun binatang gembalaannya tidak banyak. Sebaliknya kalaupun banyak binatang ternaknya itu, tetapi kurus-kurus fisiknya, berpenyakit, liar-liar, selalu mati ditangkap serigala, suka makan tanaman orang lain dan lain-lain, bermakna penggembala itu gagal.

Para pemimpin di dunia hari ini umumnya tidak dapat menciptakan kejayaan yang memuaskan dalam kepemimpinan mereka. Sekalipun dia seorang yang memiliki  empat kekuatan tersebut. Namun karena kekuatan itu tidak ditunjang oleh ilmu wahyu, iman dan takwa, maka kekuatan tadi tidak mencapai kesuburan yang maksimum. Laksana pohon dari benih yang baik tetapi karena kurang mendapat baja yang baik, kesuburan dan hasil yang diberi tidak dapat dikatakan berjaya.

Ilmunya cuma di sekitar hal-hal yang terjangkau oleh otak saja. Rahasia tersirat di balik hati manusia yang dipimpin, kemungkinan masa depan tindakannya serta kesan terhadap alam ghaib tidak dianggap penting. Ilmunya tumpul dan dangkal. Kekuatan jiwanya tidak sampai kepada kemerdekaan yang hakiki karena ia terpaut pada kepentingan dunia. Tidak pada ALLAH yang Maha Tinggi. Demikian juga kehalusan hatinya tidak sampai kepada akhlak yang seagung-agungnya karena nafsunya tidak berjaya diperangi habis-habisan.
Dengan itu kejayaan pemimpin yang memiliki keempat kekuatan tetapi tidak bertakwa, mungkin sebanyak 10% saja dibandingkan dengan kejayaan pemimpin  bertakwa yang memiliki keempat kekuatan asas itu. Keistimewaan lain yang diperoleh pemimpin yang bertakwa ialah:

1. Ia diberi ilmu yang tidak ada dalam kitab, dalam pengalaman atau pada guru. Ia diajar secara langsung oleh ALLAH, Maha Guru bagi segala guru, yang ilmuNya bagaikan lautan. Ilmu itu diajarkan melalui perantara hati, bukan akal lagi. Jadi hati orang ini bercahaya, dapat menyuluh kehidupan yang nyata dan gaib dengan sangat terang. Ia melihat perkara-perkara yang tidak dapat dilihat oleh mata dan otak. Hal itu berdasarkan firman ALLAH:
Bertakwalah kepada ALLAH, niscaya ALLAH akan mengajar kamu. (Al Baqarah: 282)
FirmanNya dalam Hadist Qudsi :
Takutilah firasat orang Mukmin karena mereka memandang dengan cahaya ALLAH. (Riwayat At Tarmizi)
Di dalam satu Hadist lagi:
Barang siapa beramal dengan ilmu yang ia tahu, ALLAH akan pusakakan kepadanya ilmu yang dia tidak tahu. (Dikeluarkan oleh Abu Nuaim)

2. Dilepaskan dari masalah dan mendapat rezeki dari sumber yang tidak diduga. Pemimpin sangat memerlukan bantuan di waktu 1001 masalah rakyat mendatanginya. Tanpa bantuan ALLAH, umumnya pemimpin tidak mampu untuk menyelesaikan masalah, bahkan makin dicoba makin banyak masalah. Seorang tuan pemilik mobil kalau tidak dibantu oleh tukang mobil dalam memperbaiki kerusakan mobil, karena ingin memperbaiki sendiri, niscaya mobil itu akan lebih rusak lagi.

Contohnya masalah AIDS yang sedang menantang dunia hari ini. Karena tidak dirujuk pada ajaran ALLAH dan pertolongan Nya, penyelesaian yang dibuat, membawa kepada tumbuhnya berbagai masalah lagi. Mungkin AIDS dapat diatasi dengan pemakaian kondom misalnya  tetapi zina terus juga terjadi. Hakikatnya, masalah tak juga selesai karena zina itu adalah penyakit sosial yang sangat dahsyat. Sedangkan kalau masalah ini dirujuk kepada ALLAH, ALLAH sendiri yang akan membuka jalan-jalan keluar dari masalah tersebut.

Di samping itu dengan takwa, ada rezeki dari sumber yang tidak terduga. Sebab itu orang bertakwa dapat menyelesaikan masalah ekonomi dan lain-lain, karena untuk mereka ada jalan-jalan pemasukan rezeki yang luar biasa melalui usaha-usahanya. Hal itu dapat disaksikan dengan nyata dalam realitas kehidupan orang-orang bertakwa serta dapat diterima logika akal walaupun bukan logika menurut ukuran otak biasa. Otak biasa hanya mampu menangkap logika-logika lahiriah dalam kehidupan biasa saja. Pada otak, tidak masuk akal kalau dikatakan syaitan itu akan tersiksa dalam api Neraka. Sebab ia diciptakan dari api. Api dengan api tidak akan terasa sakit. Tetapi mengapa manusia yang dibuat dari tanah terasa sakit kalau dilempar dengan tanah. Tanah dengan tanah akankah terasa sakit?

Hadirnya pemimpin yang baik ke dunia benar-benar membawa kebahagiaan pada seluruh manusia. Bagaikan adanya seorang ayah dalam sebuah keluarga. Islam memerintahkan umatnya wajib taat pada pemimpin seperti itu. Dia tidak boleh ditukar. Kepemimpinannya seumur hidup. Selagi tidak ada uzur syariat seperti sakit, dia tidak boleh mengundurkan dirinya dari memimpin.

Hal itulah yang dipraktekkan oleh Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin. Mereka memerintah seumur hidup dan mendapat ketaatan total dari rakyat. Kejayaan kepemimpinan mereka begitu menonjol karena dapat melahirkan barisan pemimpin bawahan yang bersifat internasional. Dari situlah dapat melahirkan empire Islam di sebagian besar dunia.

B. Pemimpin Yang Lemah

Kalau pemimpin yang baik dan berjaya itu adalah pemimpin  bertakwa yang mempunyai empat kekuatan, maka pemimpin yang lemah itu adalah pemimpin yang tidak memiliki salah satu atau lebih dari empat kekuatan tersebut. Apakah jiwanya tidak cukup kuat, akalnya tidak cukup tajam, perasaannya tidak cukup halus atau fisiknya tidak cukup sehat. Boleh jadi juga lebih dari satu anggota itu yang lemah.

Tetapi kelemahan pemimpin akan begitu menonjol kalau pemimpin itu lemah fikiran, sekalipun dia orang baik dan bertakwa. Dia tidak menindas, tidak menzalimi, tidak menyalahgunakan kuasa dan tidak mencari kepentingan diri dalam tugas sucinya itu. Tetapi kelemahan itu disebabkan dari lemah akal.

Pemimpin yang lemah akal tidak memiliki buah fikiran dan ide. Tidak juga kreatif dan berstrategi. Akibatnya, bila negara kurang maju dan tidak dapat memajukannya, dia tidak tahu bagaimana caranya untuk menciptakan kemajuan. Juga tidak tahu bagaimana untuk mempertahankan kemajuan yang sudah dicapai. Masalah tidak dapat dilihat sebagai masalah dan kalau pun tahu masalah, tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Tidak mengerti bagaimana caranya mendidik rakyat atau pengikutnya yang tidak terdidik, yang menimbulkan bermacam-macam masalah,  agar terdidik dan tidak menimbulkan masalah. Pembangunan insan di kalangan rakyat tidak terjadi dengan sempurna. Akhirnya terjadi macam-macam kejahatan dan masalah. Hasilnya, di bawah kepemimpinan yang lemah fikiran itu, negara tidak maju. Rakyat terlantar.  Musuh dapat mempermainkan dan menjatuhkannya kapan saja.

Sebaliknya, seorang pemimpin yang tajam akalnya akan mempunyai macam-macam ide untuk kemajuan negara dan rakyat. Pandai juga dia menyampaikan idenya kepada rakyat untuk difahami dan dilaksanakan. Pemimpin juga tahu cara memimpin dan mengajar hingga terlaksananya perancangan teori dan buah fikirannya itu. Kalau ada masalah, kelihatan juga olehnya bagaimana cara penyelesaiannya. Rakyat yang bermasalah dapat dihadapi dan diatasi masalah mereka dengan baik. Gerak tipu musuh dapat diketahui untuk dibalas dengan tepat, berkesan dan membawa maut. Demikianlah peranan akal, laksana lampu penyuluh yang baik. Kalau kuat takwanya, ia akan lebih terang benderang menerangi negara dan masyarakat atau jemaahnya.

Namun tanpa kekuatan jiwa, fikiran yang kuat tidak membuahkan apa-apa. Hanya tinggal teori-teori dan ide serta berbagai-bagai perancangan tetapi tidak terlaksana. Sebab untuk melaksanakan buah fikiran dan perancangan, seorang pemimpin mesti dibantu oleh jiwa yang kuat, bercita-cita, berani, yakin dengan diri, tahan uji, sanggup berkorban apa saja dan lain-lain. Mungkin idenya sampai bertimbun-timbun dalam berbagai-bagai risalah, buku-buku dan kitab-kitab namun ia terus tersembunyi dalam kamarnya. Tidak berani turun gelanggang ke tengah masyarakat karena takut pada resiko, cemas atas kemungkinan-kemungkinan tidak baik, tidak berani memecah tradisi, tidak sanggup melawan arus dan macam-macam hal lagi.

Akhirnya teori tinggal teori selama-lamanya. Tidak ada praktekknya. Benih yang baik tidak ditanam, maka ia tidak akan berbuah. Pemimpin seperti itu biasanya hanya mampu menjadi pemimpin kertas kerja, pemimpin seminar, pemimpin simposium, pemimpin forum dan lain-lain. Mukanya selalu ditonjolkan di layar tv sebagai tokoh. Tetapi tidak dapat membawa pengikut turun gelanggang. Mereka berangan-angan dengan teori ilmiahnya itu. Bukan saja kemajuan tidak terjadi bahkan pemimpin itu kian tertinggal dan dilupakan orang. Bukan saja tidak mampu mengajak rakyat atau pengikut menghidupkan pertanian di tanah yang tidak terpakai, pertanian di tanah subur yang sudah diproses pun terbengkalai. Bukan saja tidak dapat membangun pabrik, pabrik yang telah dibuat secara kecil- kecilan pun tidak dapat dibantu dalam mengedarkan produknya.

Itulah negara atau jemaah intelek yang melarat namanya. Menyandarkan nasib pada orang lain. Keperluan asas pun disediakan oleh musuh. Kalau pun ada yang senang, hanya individu pemimpin itu. Bagaimana negara atau jemaah hendak berdikari, maju, membangun dan menaklukkan negara lain?

Sebaliknya kalau jiwa saja yang kuat, otak lemah, jadilah pemimpin bagaikan lembu menanduk tembok. Hebat keberaniannya tetapi apa faedahnya meruntuhkan tembok? Salah-salah, tanduk yang patah. Itulah keberanian membabi buta namanya. Keberanian, cita-cita dan keyakinan yang tidak dirancang, tidak bijaksana, tidak berdisiplin dan sembrono. Pemimpin seperti itu lebih banyak membuat masalah daripada membuat kebajikan. Negara, jemaah, rakyat atau pengikut jadi susah dibuatnya.

Demikianlah seterusnya kalau pemimpin hanya memiliki kekuatan perasaan dan kekuatan fikiran saja, akan lemah juga kepemimpinannya. Dan kalau ada kekuatan jiwa dan perasaan saja, akan lemah juga bentuk kepemimpinannya. Sekurang-kurangnya kalau tidak dapat memiliki semuanya, pemimpin itu mesti memiliki kekuatan fikiran dan jiwa. Selain itu, pemimpin itu dianggap lemah. Pemimpin yang lemah itu hakikatnya bukan pemimpin. Kalau mereka bertaraf ulama, mereka adalah ulama berwatak abid, bukan berwatak pejuang dan pemimpin.

Sebaiknya pemimpin yang lemah ini kalau sangat susah untuk diperbaiki kepemimpinannya, sepatutnyalah dia mengundurkan diri dari tugasnya secara suka rela. Dia akan disanjung karena keikhlasannya mencari pengganti yang lebih kuat dan mampu. Atau kalau pemimpin tersebut tidak sadar kelemahannya, rakyat mesti peka dan menasihati pemimpin dengan penuh hormat takzim agar mengganti pemimpin dengan yang lebih kuat, layak dan mampu. Kepentingan negara,  jemaah dan rakyat atau pengikut lebih utama dari kepentingan pribadi. Semua pihak mesti merasa bertanggung jawab terhadap nasib negara, bangsa, agama dan masyarakat. Berdosa hukumnya membiarkan negara lemah dan mundur tanpa berusaha mengatasinya.

C. Pemimpin Yang Cacat (Rusak)

Kepemimpinan yang cacat (rusak) menurut pandangan Islam berawal dari pribadi pemerintah yang jahat. Mereka tidak beriman dan bertakwa atau lemah imannya karena sangat lalai mengusahakannya. Akibatnya, akhlak mereka buruk sekali. Mereka sombong, takabur dan angkuh dengan rakyat atau pada pengikutnya, bakhil dan tamak dengan harta, kasar dan pemarah, hasad dengki dan pendendam serta perangai buruk dan jahat lainnya.
Hidup mereka bukan berjuang untuk pembangunan negara, rakyat atau jemaahnya, tetapi hidup berfoya-foya, bermewahan dan mubazir uang negara. Rakyat yang tidak sefaham ditindas dan dizalimi. Mereka telah menyalahgunakan kuasa dengan sewenang-wenang. Lebih cerdik mereka itu, lebih hebat kejahatan yang dilakukan. Lebih kuat jiwanya, lebih biadab mereka dengan ALLAH dan zalim terhadap rakyat dan harta negara.

Demikianlah untuk  pemerintahan yang tidak beriman dan bertakwa serta jahil dengan ajaran Al Quran dan Sunnah. Negara atau jemaah dalam pimpinan mereka akan hidup segan, mati tak mau. Rakyat hidup tanpa pimpinan, terbiar dan tidak menentu tujuan hidupnya. Jauh sekali dari menjadi manusia-manusia soleh yang dikehendaki oleh Islam. Mungkin sedikit banyak ada kemajuan dan pembangunan lahiriah tetapi rakyat atau pengikutnya hidup dengan lebih memburu dunia daripada Akhirat.

Biasanya, bila pemerintah sudah kejam, zalim dan berfoya-foya, lama-kelamaan terjadilah huru-hara dalam negara. Sesama pemerintah saling bersengketa karena memperebutkan harta kekayaan. Rakyat yang cerdik sudah berharap agar pemerintah yang ada diganti saja. Para pengampu(?) dan penjilat akan menghasut pemerintah bertindak terhadap penentang-penentangnya. Dengan harapan mereka mendapat upah dan keistimewaan hidup di sisi tuannya. Maka dipuja dan dipujilah pemerintah yang sudah rusak itu. Akibatnya kegelisahan dan ketegangan hidup terasa di mana-mana, di dalam negara. Waktu itu biasanya terjadi macam-macam bala bencana  di dalam negara untuk memproses  setiap hati agar merasakan perlunya suatu perubahan dalam pemerintahan. Karena pemerintahan yang ada sudah hilang wibawa dan keberkatannya.

Dalam pandangan Islam, pemerintah seperti itu patut dinasihati oleh ulama-ulama agar mereka insaf, bertaubat dan segera mengubah sikap. Sekiranya pemerintah atau pemimpin tidak mengubah sikap mereka wajib memilih orang lain yang lebih baik, yang lebih bertakwa untuk mengendalikan urusan memerintah negara. Sehingga negara dan rakyat, jemaah dan pengikut selamat serta mereka pun selamat. Tetapi sekiranya mereka keras kepala dan para ulama pun memuji-muji pemerintah, biasanya mereka juga akan jatuh dalam keadaan terhina oleh bencana-bencana yang ALLAH timpakan hingga mereka hilang lenyap dari muka bumi ALLAH ini.

Lihatlah firman ALLAH dalam surah Al An'am:
Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka. Padahal (generasi itu) telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan padamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka. Kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (Al An'am : 6)

Atau mereka itu akan jatuh terhina dengan cara-cara yang lain. Dan ALLAH berkuasa melakukannya.
 
 
 
 

BAB 06 Pemerintah yang Adil

DUNIA merindukan pemerintah yang adil, karena hanya pemerintah yang adil saja, yang dapat membawa perpaduan, keamanan, kedamaian, kemakmuran serta pengampunan ALLAH kepada penghuni dunia ini. Hari ini dunia tidak aman, tidak ada perpaduan, tidak ada kemakmuran yang menyeluruh dan jauh sekali dari mendapat keampunan ALLAH. Mengapa saya katakan dunia kini tidak ada perpaduan, tidak ada keamanan, tidak ada kemakmuran dan tidak diampunkan oleh ALLAH?

Sebab kalau dunia ini aman karena dipimpin dan dididik oleh pemerintah yang adil, yang melahirkan kehidupan manusia yang penuh dengan keimanan, ketakwaan, ketenangan, kelegaan, kepuasan dan kebahagiaan, sudah tentu sunyi dari kegelisahan, krisis, ketegangan, kesempitan dan penderitaan. Manusia dari semua lapisan dan golongan saling berkasih sayang, tolong menolong, hormat-menghormati, bertenggang rasa, maaf-bermaafan, bekerja sama, dapat duduk bersama dan saling mendoakan. Hal itu terjadi karena hati manusia sudah dibersihkan dari segala hasad dengki, dendam, sombong, bakhil, tamak, gila dunia, gila puji, gila pangkat dan lain-lain oleh pemimpin, pemerintahnya atau melalui pendidikan. Bila hati tidak lagi kotor, manusia menjadi orang-orang yang merendahkan diri sesamanya, pemurah, pemaaf, berkasih sayang, bertenggang rasa, mencintai kebenaran dan memburu kebaikan. Alangkah tenang dan amannya dunia ini di waktu itu. Yakni mengulangi sejarah kehidupan generasi salafussoleh.

Saya katakan dunia kini tidak makmur karena manusia sedang merasa tidak cukup dengan segala yang ada padanya. Orang kaya merasa tidak cukup dan tidak puas, apalagi orang miskin. Orang yang memiliki berpuluh-puluh  bungalo mewah pun tidak puas. Orang yang bergaji besar pun masih tidak cukup dengan gajinya. Hampir tidak ada seorang pun manusia hari ini yang sudah tidak mau mengambil apa-apa dari harta dunia ini.

Sebab itu tabung-tabung kebajikan dan baitul mal kosong. Sedangkan dalam masyarakat yang makmur, yang dulu pernah wujud, yaitu pemerintah yang adil, semua orang berebut mengisi tabung kebajikan dan baitul mal terutama orang kaya. Mereka lebih suka memberi daripada menerima. Sebab itu negara dan masyarakat menjadi begitu makmur dengan harta yang berlebihan dalam tabung-tabung kepunyaan masyarakat. Individu-individunya merasa kaya, cukup puas dengan apa yang ada.

Hari ini kalau manusia dapat berubah menjadi orang-orang yang suka memberi daripada menerima, merasa cukup dengan harta yang sedikit, apa lagi harta yang banyak, tentu segala kekayaan individu akan menjadi milik masyarakat. Tabung-tabung kebajikan dan baitul mal akan penuh. Tidak akan ada yang terlalu kaya dan tidak ada yang terlalu miskin. Semua merasa cukup keperluannya, terasa kemakmuran negara dikecap oleh semua anggota masyarakat. Hari ini orang yang paling kaya pun tidak merasa cukup karena hubungan hati dengan ALLAH dan pautan pada Akhirat telah terputus sama sekali.

Mana ada negara di dunia hari ini yang memiliki harapan mendapat pengampunan dari ALLAH? Sedangkan syarat itu penting sekali dipenuhi oleh sebuah negara demi tercapainya negara yang bersih dari maksiat dan mungkar. Selagi negara itu belum dapat mengawal dan membersihkan  maksiat dan mungkar, dapatkah dibanggakan negara itu sebagai negara yang baik? Dapatkah pemerintahnya  disebut sebagai pemerintah yang adil?

Demi tercapainya sebuah negara yang aman, makmur dan mendapat keampunan ALLAH itulah maka kita sangat memerlukan pemerintah yang adil. Apa arti adil tersebut? Adil menurut pengertian biasa dan menurut istilah bahasa ialah meletakkan sesuatu pada tempatnya. Misalnya kopiah dipakai di kepala, sandal dipakai di kaki, itu adil namanya. Tapi kalau sandal dijunjung, kopiah diinjak, itu tidak adil namanya atau tidak cocok dan tidak sesuai tempatnya. Demikianlah seterusnya.

Namun dalam konteks pemerintah yang adil, keadilan tidak lagi dapat disandarkan pada pengertian menurut istilah bahasa atau pengertian biasa yang tersebut itu. Sebab tidak cukup luas untuk mencakup seluruh bidang dan gelanggang pemerintah dalam negara.

Pengertian adil menurut syariat Islam ialah menjalankan hukum-hukum ALLAH pada tindak-tanduk, pembangunan, percakapan dan hukuman apapun (yang hendak dijatuhkan kepada yang bersalah). Dengan kata lain, keadilan itu terbagi kepada beberapa bagian:
  1. Menjalankan aktivitas dalam semua tindak-tanduk serta dalam semua materiil seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan, pertanian, pemerintahan dan lain-lain, selaras dengan syariat Islam.
  2. Membentuk atau mendidik insan supaya menjadi hamba dan khalifah ALLAH serta meletakkan mereka tepat pada tempatnya sesuai dengan kecakapan, kemampuan dan peranan masing-masing. Dan memberi peluang untuk mereka menyumbangkan kreativitas asal tidak melanggar syariat.
  3. Menjalankan hukum-hukum ALLAH yaitu hukum hudud, qisas dan ta’zir dalam hukuman apapun yang hendak dijatuhkan kepada yang bersalah.
  4. Tindakan dan hukuman syara' itu hendaklah dijalankan kepada siapa saja dan pada semua golongan. Keadilan yang dituntut oleh Islam terhadap orang yang bersedia memikul amanah memerintah negara seperti yang saya sebutkan di atas, dapat diuraikan seperti berikut tanpa kecuali termasuk menteri-menteri, raja-raja dan hakim-hakim.
  5. Membagi-bagikan harta benda negara dan kemudahan untuk rakyat serta pembayaran yang tepat menurut keperluan dan tanggung jawab, tanpa pemubaziran dan sia-sia.
  6. Individu pemerintah juga sebagai warga negara tidak dapat dikeluarkan atau dikecualikan dari langkah-langkah atau hukum-hukum keadilan yang telah digariskan dalam negara. Pemerintah bukan golongan istimewa terhadap tuntutan-tuntutan melaksanakan hukum-hukum ALLAH. Semua orang sama saja di sisi ALLAH sekalipun dia seorang raja, presiden atau perdana menteri. Kalau bersalah mesti dihukum. Kalau tidak bersalah mesti dilepaskan dari hukuman.

Perlu diingat bahwa pemerintah laksana ayah terhadap rakyat. Kalau ayah tidak pernah menuntut apa-apa dari anak-anak yang dibesarkan, demikianlah pemerintah, tidak mencari keuntungan apa-apa dalam menjalankan tanggung jawabnya terhadap rakyat. Tidak juga mengungkit-ungkit jasa mereka kepada rakyat.
Uraian Keadilan Dalam Konteks Pemerintahan
1. Pemerintah yang adil itu dapat menyelaraskan semua tindak-tanduk dengan hukum fardhu dan sunat yang telah ditentukan oleh ALLAH. Serta dapat menghindarkan perkara-perkara yang haram dan makruh. Dalam tuntutan ini termasuk semua kerja-kerja pembangunan di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, pertanian, kebudayaan, pemerintahan, sosial, politik dan lain-lain. Pemerintah yang gagal menepati syarat itu dianggap sebagai pemerintah yang zalim terhadap hukum ALLAH dan segala tindakan serta sumbangannya tidak bernilai di sisi ALLAH.

Sebaliknya pemerintah yang taat pada ALLAH, menegakkan hukum-hukum wajib dan sunat serta menjauhi perkara yang haram dan makruh dalam pemerintahan di semua aspek, dalam melayani rakyat yang beraneka ragam, adalah pemerintah yang berjaya menegakkan hukum dan tamadun (peradaban) Islam. Usaha-usahanya menjadi ibadah. Semakin banyak pembangunan dilakukan artinya semakin banyak ibadahnya pada ALLAH dan semakin hebat kemajuan dan tamadun berlaku dalam negara. Di Akhirat, pemerintah yang adil itu akan menerima ganjaran pahala yang besar di sisi ALLAH. Layaklah Syurga untuk tempat istirahatnya.

2. Para pemerintah mesti memastikan semua rakyatnya terdidik dan terpimpin. Rakyat tidak boleh dibiarkan tanpa didikan dan pimpinan. Rakyat yang Islam mesti diasuh dengan iman dan syariat Islam. Mereka mesti diajar tentang dunia dan Akhirat. Supaya sesuai dengan keyakinan mereka bahwa hidup di dunia cuma sementara, hidup di Akhirat yang kekal abadi. Dan kepada rakyat yang bukan Islam mesti diusahakan supaya Islam (selamat) secara berhikmah, bukan dipaksa.

Selama ini dalam pemerintahan-pemerintahan di negara-negara umat Islam di dunia, rakyat yang Islam dibiarkan untuk hidup memburu dunia semata-mata tanpa memburu Akhirat yang maha tinggi itu. Ilmu dunia diberi setinggi-tingginya tetapi ilmu Akhirat dibatasi dan disempitkan atau tidak diperhatikan sama sekali. Akibatnya, umat Islam tidak menjadi betul-betul Islam. Rakyat menjadi umat yang hanyut dalam jahiliah sekulerisme, hidup tanpa identitas dan tanpa pembangunan tamadun Islam yang gagah dan agung.
Rakyat yang sudah diberi ilmu dunia dan Akhirat, hendaklah disusun peranan dan bidang tugas masing-masing di kedudukan yang tepat. Supaya tidak ada rakyat yang tercecer, menganggur, membuang tenaga dan sia-sia. Setiap rakyat mesti memiliki tugas sesuai dengan profesinya sebagai sumbangan kepada negara di samping untukmendapat rezeki yang halal.

Pemerintah juga mesti memberi peluang atau kebebasan kepada rakyat untuk berkreativitas, selagi kerja itu tidak bertentangan dengan syariat. Kalau kerja itu bertentangan dengan syariat, pemerintah mesti tegas menghalangnya. Kerajaan yang membenarkan pertunjukan-pertunjukan maksiat oleh keluarga-keluarga raja atau pihak yang memiliki kepentingan kepada mereka atau pihak keluarga, tetapi sebaliknya melarang perkara yang haram itu dari orang-orang bawahan adalah pemerintah yang tidak adil.

3. Pemerintah mesti menjalankan hukum ALLAH, yakni hukum hudud dan hukum ta’zir. Hukuman-hukuman ini diputuskan oleh mahkamah pengadilan terhadap terhukum tanpa memandang siapakah yang bersalah itu. Baik raja atau rakyat jelata, orang kaya atau miskin, berjabatan besar atau berjabatan kecil, semuanya mesti dihukum bila bersalah. Dan semuanya mesti dibebaskan kalau tidak bersalah.

Hukuman-hukuman ALLAH itu adalah hukuman yang adil. Kadar hukumannya tepat dengan kadar kesalahan yang dilakukan. Sebab itu hukumannya sangat berkesan untuk membuatkan terhukum jera dan berhenti dari kesalahannya. Orang yang menyaksikan pun tidak akan berani untuk melakukan kesalahan tersebut. Untuk uraian panjang lebar silahkan rujuk buku saya FALSAFAH PELAKSANAAN HUKUM HUDUD DALAM MASYARAKAT.

4. Pemerintah yang adil cukup berhati-hati dalam masalah harta negara dan rakyat. Harta yang begitu banyak, yang diserahkan padanya, adalah amanah yang mesti dipikul dengan sebaik-baiknya. Harta itu mesti digunakan dan disalurkan dengan sebaik-baiknya tanpa mengambil  kepentingan apa-apa. Kita heran bahwa telah lazim berlaku, para pemerintah tega mengambil gaji yang sangat besar, menimbun uang di bank-bank dan menumpuk beragam harta selama mereka menjadi orang besar negara.

Lazim terjadi  di negara mana pun di dunia kini, pemerintah dan pembesarnya menjadi kaya-raya apabila memegang jabatan tersebut. Seolah-olah jabatan itu satu peluang untuk mencari harta benda. Seolah-olah bila menjadi pemerintah seseorang berhak untuk mengeruk harta negara untuknya. Seolah-olah memerintah itu satu 'bisnis' yang sangat menguntungkan. Atau seolah-olah ladang yang memberi hasil lumayan.

Dalam Islam, seperti yang dipraktekkan oleh Rasulullah dan Khulafa’ur Rasyidin, pemerintah adalah khadam yang berkhidmat untuk rakyat. Mereka bukan saja tidak mengambil harta rakyat yang diamanahkan, bahkan harta-harta mereka pun dikorbankan untuk kepentingan negara dan rakyat. Mereka hidup lebih zuhud daripada rakyat bahkan mati tidak meninggalkan apa-apa untuk dipusakakan pada waris-warisnya.

Artinya dalam Islam, kepemimpinan atau pemerintahan ialah perjuangan atau lambang khidmat yang membagi-bagi dan menggunakan keperluan untuk membina negara yang aman, makmur dan mendapat keampunan ALLAH, sebagaimana yang ALLAH syaratkan. Untuk mendapatkannya, pemerintah perlu melakukan segala upaya dan pengorbanan. Mereka mesti membuktikan pada ALLAH kejujuran mereka menerima amanah yang besar itu. Kalau mereka gagal berarti mereka tidak lulus dalam ujian, dan hukuman ALLAH sangat berat baik di dunia atau di Akhirat.

Sebab itu Sayidina Umar lbnu Khattab sewaktu menjadi pemerintah, di satu musim kemarau telah bersumpah untuk tidak makan kecuali minyak zaitun dan roti. Beliau tidak mau rakyatnya susah. Beliau ingin sama-sama untuk menanggung dan merasakan masalah rakyat. Karena itu, wajahnya menjadi kekuningan karena hanya memakan minyak zaitun.

Hal ini tidak terjadi dalam konsep pemerintahan sekuler, di mana para pemerintahnya telah menjadikan tugas kepemimpinan sebagai perlombaan untuk menjadi kaya-raya. Perihal nasib rakyat dan negara adalah soal berikutnya yang dianggap tidak ada siapa pun, yang akan meminta mereka mempertanggungjawabkan. Maka jadilah di dunia kini si kaya menekan si miskin. Orang besar menelan orang kecil. Negara kaya, kaya sekaya-kayanya sedangkan negara miskin, miskin semiskin-miskinnya. Mana ada hari ini negara yang betul-betul aman, makmur dan mendapat keampunan ALLAH? Sekalipun negara yang kaya apalagi yang miskin.

Kalaulah pemerintah-pemerintah orang Islam kembali mengamalkan sistem pemerintahan Islam, barulah kemungkinan umat Islam menjadi empire  sekali lagi. Tetapi selagi pemerintah hidup kaya-raya, rakyat terlantar, negara berhutang, nasib disandarkan pada musuh, materiil meniru cara Barat, rakyat tidak dididik dengan iman dan Islam, selama itulah negara-negara umat Islam tidak akan bersatu, aman, makmur dan mendapat keampunan ALLAH. Bukan saja tidak dapat menjadi negara maju bahkan akan terus dijajah lahir batinnya. Firman ALLAH dalam surah Al An’am:
Dan Dialah yang membuat kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu dari sebagian yang lain beberapa derajat untuk mengujimu tentang apa yang diberikanNya padamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat siksaanNya dan sesungguhuya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al An'am: 165)

5. Pemerintah dan keluarga mereka tidak boleh dikecualikan dari segala peraturan dan hukuman dalam negara. Rasulullah pernah bersabda:
Kalaulah Fatimah anak Muhammad mencuri, pasti kupotong tangannya.(Riwayat Muslim)
Sabda Rasulullah lagi,
Dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Apakah kamu meminta kecuali dari hukuman hudud? Kemudian baginda bangun lalu berucap, sabdanya, "Wahai manusia, sesungguhnya binasa mereka yang sebelum kamu ialah karena apabila orang ternama di kalangan mereka mencuri didiamkan saja, tapi apabila orang bawahan mencuri lalu dihukum hudud. (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Maknanya dalam Islam siapa saja yang bersalah mesti dihukum dengan seimbang, sekalipun ia dari keluarga raja atau dari keluarga pemerintah. ALLAH berfirman lagi dalam surah Al An'am:
Dan apabila kamu berkata (dalam memutuskan hukuman) maka bertindak adillah walaupun dia adalah kerabatmu dan penuhilah janji ALLAH (perintah-perintahNya). (Al An'am: 152 )

Pemerintah yang melindungi dirinya, keluarga, kerabatnya dan golongan raja dari hukuman adalah pemerintah yang tidak adil dan tidak jujur dalam menegakkan kebenaran dan kebaikan. Sebab membiarkan orang yang bersalah tanpa dihukum sebenarnya membiarkan dia terus jahat dan terbiar (tidak dididik). Selain dari itu, rakyat yang terhukum, akan senantiasa tidak puas hati karena ada orang lain yang juga bersalah tapi dilepaskan atau dilindungi dari hukuman hanya karena dia dari keluarga pemerintah atau keluarga raja. Hal ini membuat rakyat jadi liar dan tidak puas hati dengan pemerintah. Bila keadaan itu terjadi dalam sebuah negeri atau negara, hilanglah berkahnya dan terjadilah bermacam-macam masalah yang tidak dapat dikawal.

Menurut Islam, sebuah pemerintahan yang tidak adil, akan jatuh kepada salah satu hukum, fasiq, zalim atau kafir. Tergantung kepada bentuk-bentuk atau sebab-sebab penolakan mereka terhadap hukum-hukum ALLAH. Namun dalam hal ini, perlu saya ingatkan bahwa dalam Islam, hukum fasiq, zalim dan kafir itu bukan saja ditujukan kepada pemerintah yang menolak hukum ALLAH. Tetapi siapa saja kalau menolak hukum ALLAH baik dalam diri, rumah tangga atau jemaah, jatuhlah ia ke dalam salah satu hukuman itu.

Rakyat juga tidak boleh hanya mengolok-olok pemerintah yang tidak adil. Karena pemerintah itu naik dari rakyat. Bagaimana rakyat, begitulah pemerintah. Sebaik-baiknya rakyat dan pemerintah keduanya taat pada ALLAH, barulah terbentuk keadilan yang sempurna. Berjayanya Khulafaur Rasyidin melaksanakan pemerintahan yang adil adalah karena rakyat mereka secara umum orang-orang soleh dan solehah. Yakni orang yang bertindak adil pada diri masing-masing. Rakyat sangat membantu dalam menjalankan atau mengingatkan pemerintah tentang keadilan. Sebab itu pernah seorang pemerintah bernama Makmun mengingatkan rakyatnya
"Kamu meminta aku menjalankan pemerintahan yang adil seperti yang dilakukan oleh Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar. Maka untuk itu kamu sendiri hendaklah menjadi sebagaimana rakyat kedua khalifah tsb. yakni rakyat yang baik."

Ya, rahasia utama untuk membangun pemerintahan yang adil adalah mengusahakan takwa di pihak pemerintah dan rakyat. Sebab itu, bagi mereka yang merindukan negara adil, aman, makmur dan mendapat keampunan ALLAH, takwa mesti disediakan sebagai tapaknya oleh pemerintah dan juga rakyatnya.
 
 
 
 

BAB 07 Pemerintahan Islam yang Tidak Berwibawa


DALAM surah Al A'raf ALLAH berfirman:
Tiap-tiap umat mempunyai ajal (tiap-tiap bangsa mempunyai batas waktu kejayaan atau keruntuhan); maka apabila telah datang ajalnya mereka tidak dapat mengundurnya barang sesaat pun dan tidak (pula) dapat memajukan masanya. (Al A’raf: 34)

Sudah menjadi Sunnatullah bahwa dalam hidup ini, baik individu, jemaah, kerajaan atau empire  berada di antara pergantian jatuh dan bangun. ALLAH lah yang menjatuhkan dan ALLAH jugalah yang berkuasa menaikkan, dengan sebab-sebab yang ALLAH tentukan. Biasanya naik dan gagahnya sebuah kerajaan disebabkan oleh dua faktor, yakni takwa dan quwwah. Sedangkan jatuh dan hinanya sebuah kerajaan  disebabkan oleh kelemahan takwa atau quwwah itu. Dengan kata lain, naiknya suatu kerajaan itu adalah karena kewibawaannya, sedangkan kejatuhannya terjadi karena tidak lagi berwibawa.

Kewibawaan pemerintahan Islam terletak pada takwa. Sedangkan kewibawaan pemerintah bukan Islam terletak pada quwwah. Ciri-ciri Pemerintah yang bertakwa itu antara lain adalah:
  1. Mempunyai akhlak-akhlak yang baik seperti jujur, zuhud, pemurah, penyayang, tawadhuk, pemaaf, tegas, berani, cinta ALLAH dan lain-lain membuat mereka menjadi pribadi contoh untuk rakyat.
  2. Sangat berkhidmat untuk rakyat, hingga semua rakyat terasa mendapat hak dan pelayanan yang sama menurut keperluan dan kemudahan yang sesuai dengan kewajiban dan kepentingan masing-masing serta tidak juga melanggar syariat. Harta rakyat yang diamanahkan tidak dikhianati dan disia-siakan.
  3. Mampu memimpin dan mendidik rakyat (yang Islam) untuk menjadi manusia berilmu, berakhlak dan berjuang. Manusia yang selamat dunia dan Akhirat. Sehingga pemerintah benar-benar dirasakan sebagai penyelamat. Hasil kepemimpinannya, terbina peradaban (tamadun) insaniah dan  materiil dalam negara. Yakni tamadun Islam yang unik dan menakjubkan dunia.
  4. Di bawah pemerintahan yang bertakwa, bantuan ALLAH yang diterima akan menyelesaikan banyak masalah, dan tipu daya musuh dapat diatasi.
  5. Dengan akhlak, khidmat, pimpinan, didikan dan rahmat ALLAH, maka pemerintah sangat dikasihi oleh rakyat. Kasih murni kepada orang yang dianggap berjasa, pembela dan penyelamat. Kata-kata pemimpin ditaati dan dipatuhi sepenuh hati. Kesalahan pemimpin dimaafkan dan didoakan. Masalah pemimpin dipikul dan menjadi beban bersama. Rakyat sanggup bergandeng bahu dan berkorban apa saja demi mempertahankan negara dan pemimpin yang dicintai. Di waktu negara kekurangan uang, mereka rela berkorban uang. Bahkan di waktu musuh mengancam, mereka rela menggadaikan nyawa secara sukarela demi mempertahankan negara.

Demikianlah peranan kasih dan cinta. Bila rakyat sudah merasakannya, mereka tidak perlu disuruh dan dipaksa untuk membuktikan tanggung jawab mereka. Sedangkan rakyat yang tidak diikat dengan kasih sayang pada negara dan pemimpin akan mengolok-olok pemimpin di belakangnya, bekerja karena upah bahkan menipu untuk melepaskan diri dari tugas dan tanggung jawab.

Sesungguhnya, kebanyakan pemerintah yang beragama Islam di negara-negara di dunia hari ini, tidak merasakan nikmat kasih sayang rakyat sebagaimana sepatutnya. Sebabnya karena pemerintah itu sendiri tidak berwibawa. Karena mereka tidak benar-benar bertakwa. Mereka melupakan ALLAH, ALLAH melupakan mereka. Mereka tidak serius dengan rakyat, maka rakyat pun main-main dengan mereka. Mereka bermewah-mewah dan berfoya-foya, maka rakyat pura-pura setuju dan taat di depan tapi di belakang tidak.
Hari ini sudah lazim bila pemimpin dihina, dicaci maki oleh rakyat. Tapi sementara itu, mereka (rakyat) memuji-muji di depan untuk mengharapkan peluang-peluang hidup dan kepentingan mereka. Walaupun di waktu lain mereka bagaikan musuh, yang memihak kepada musuh untuk memburuk-burukkan pemimpin atau menjatuhkannya.

Itulah nasib pemerintah yang tidak lagi berwibawa. Kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan di antaranya ialah:
  1. Mereka tidak lagi merujuk perihal kehidupan dan pemerintahan mereka kepada ALLAH dan Rasul, yakni kepada Al Quran dan Sunnah. Mereka menganut faham dari ideologi yang dibuat oleh manusia baik secara sadar ataupun tidak. Tapi sementara itu mereka tetap mengaku menganut Islam. Yakni mengaku menerima Al Ouran dan Sunnah sebagai pegangan hidup. Sepatutnya sebagai seorang Islam, mereka tidak perlu pada ideologi yang lain.
  2. Karena ideologi-ideologi itu sempit, tidak termasuk di dalamnya cara-cara memperbaiki hati dan akhlak manusia. Lebih-lebih lagi bila tidak ada hubungan dengan hal-hal gaib, maka umumnya para pemerintah itu hatinya terus menerus jahat dan akhlaknya bejat. Hati penuh dengan sombong, takabur, tamak, gila dunia, dendam, pemarah, hasad, mementingkan diri dan la in- lain yang kesemuanya itu dibiarkan menjadi sikap dan akhlak lahir mereka.

    Mereka memerintah dengan sombong, mementingkan diri, mengambil kepentingan, menindas, menzalimi terutama pada orang yang tidak sefaham dengan mereka, dan membiarkan masyarakat dan negara tanpa pimpinan dan didikan yang sempurna menurut Islam, dikarenakan tidak bertanggung jawab atau tidak faham mendidik rakyat. Hanya semata-mata memikirkan kemajuan materiil atau kemajuan dunia saja.
  3. Ilmu-ilmu tentang kepemimpinan dan pendidikan untuk rakyat tidak jelas dasar dan tujuannya. Artinya mereka memimpin dan mendidik dalam keadaan yang tidak menentu dan kabur arahnya. Kadang-kadang seperti meniru-niru dan terbawa-bawa oleh isu semasa. Mereka seakan mencoba-coba dalam proses trial and error dengan visi atau wawasan yang berubah-ubah dari masa ke masa. Akibatnya negara dan rakyat menjadi mangsanya.

    Panduan-panduan tertulis untuk memerintah hingga berjaya yang dirujuk pada satu model pemerintah yang pernah berjaya,  tidak pernah dan tidak dibuat. Seolah-olah memerintah itu adalah satu proses percobaan yang belum pernah selesai, yang hasilnya belum boleh ditentukan. Sedangkan dalam Islam, semua sudah ditunjukkan oleh ALLAH dan Rasul dan pernah terjadi di zaman salafussoleh, kita tinggal meniru saja.
  4. Perpaduan dan kasih sayang antara satu sama lain tidak terpupuk. Sekalipun terhadap pemimpin dan sesama satu jemaah atau satu partai, hati tidak ada kasih sayang. Memang semua orang mencanangkan perpaduan dan kasih sayang, tapi hampir-hampir tidak ada yang berhasil. Sebab cara dan tujuannya tidak betul.

    Bila kasih sayang tidak wujud, Artinya ikatan hati antara kedua pihak tidak wujud. Oleh itu dengan apa rakyat akan taat dan setia? Bahkan dengan orang-orang separtai pun begitu juga. Akhirnya pemimpin dengan urusannya, rakyat pula dengan urusannya. Hampir-hampir tidak ada hubungan lagi antara rakyat dengan pemerintah. Rakyat tidak merasa bahwa dia memiliki pemimpin. Kalaupun ada seperti tak ada, tidak perlu apa-apa. Kesalahan pemimpin dicaci-maki.

    Masalah negara dibebankan pada pemimpin saja. Musuh negara tidak dirasakan sebagai musuhnya. Kalau perlu, dia berpihak pada musuh. Rakyat merasa mereka tidak memiliki tanggung jawab apa-apa terhadap pemimpin dan negara. Sebab itu pemimpin sendirian dalam program pembangunan. Rakyat tidak turut membangun, menunggu saja pembangunan oleh pemerintah, tanpa melakukan pembangunan dua arah. Sebaliknya sewaktu-waktu rakyat meruntuhkan pembangunan. Itulah akibat gagalnya kepemimpinan oleh pemimpin yang tidak berwibawa. Sepatutnya pemimpin mendapat nikmat kasih sayang, taat setia dan pengorbanan dari rakyat walaupun dia tidak memintanya, untuk sama-sama merasakan sebuah negara aman, makmur dan mendapat keampunan ALLAH
    .
  5. Pemerintah yang tidak berwibawa lagi, sesudah tidak dipedulikan dan dilupakan oleh rakyat, akhirnya bekerja mengeruk harta benda negara untuk diri, keluarga serta kerabatnya. Sebab mereka sudah terasa kemungkinan kekuasaan akan berpindah tangan, lalu mengambil peluang terakhir untuk menyediakan bekal menjadi orang terbuang yang kaya. Hal itu akan mempercepat kejatuhan mereka. Jatuh dalam keadaan terhina di atas kekayaan dan kemewahannya.

Sepatutnya bila telah insaf bahwa diri sudah tidak berwibawa, sudah lemah dan sudah tidak dikehendaki oleh rakyat, pemimpin bawahan sudah tidak hormat, sudah buat banyak masalah, maka lebih baik bertaubat dengan ALLAH dan minta maaf dengan rakyat. Kemudian tarik dirilah secara terhormat, dengan mencari pengganti yang berwibawa, yang sesuai dengan selera rakyat. Kalau tidak ada dari dalam jemaah dan partai sendiri, apa salahnya mengambil pemimpin lain yang didatangkan dari luar partai? Yang penting ia lebih berwibawa dan baik serta sudah berada di hati rakyat walaupun dia belum dilantik menjadi pemimpin. Kalau hal itu dapat dibuat, tentu rakyat akan hormat dan pemerintahannya akan diakhiri dengan cerita indah-indah dan mulia.

Tapi hari ini, mana ada pemerintah yang begitu ikhlas? Yang ada ialah pemerintah yang tidak mau mengaku lemah, sebaliknya tanpa malu-malu tetap mengaku adil, gagah dan mencoba sedaya upaya mempertahankan kekuasaannya. Kadang-kadang dalam masa yang sama merayu pada musuhnya. Walaupun mereka tahu sikap itu buruk dan salah, tapi mereka tidak boleh berbuat lebih baik dari itu. Karena nafsu cinta dunia, ego dan tamak itu sudah dilayan dengan baik sekian lama. Lalu tidak mungkin ia dapat dijinakkan lagi di saat-saat yang kritis itu.
 
 
 

BAB 08 Kelemahan Demokrasi Memilih Pemimpin


HAMPIR semua pemerintah atau pemimpin di dunia kini baik orang Islam atau bukan, telah naik melalui pemilihan. Yakni hasil pemilihan rakyat jelata di hari pemilihan yang dilakukan beberapa tahun sekali. Pemimpin mana pun yang mendapat suara lebih dari yang lain, dia lah yang naik menjadi pemerintah untuk negara tersebut. Cara pemilihan pemimpin yang seperti itu adalah cara Barat yang menganut ideologi liberal kapitalisme, yang mempraktekkan sistem demokrasi terbuka.

Hal seperti itu jauh berbeda dengan Islam yang merujuk pada Al Quran, Hadist dan ulil amri (ahlul halli wal 'aqdi). Dalam Islam, pemilihan pemimpin dibuat berdasarkan sistem demokrasi terpimpin. Artinya, mereka dipilih dari kalangan beberapa orang yang menjadi intipati masyarakat yang disebut ahlul halli wal 'aqdi. Di antara cara Islam dan cara Barat itu, terdapat perbedaan yang jauh. Saya akan membandingkan kedua hal itu supaya kita dapat melihat kebenaran dan kebijaksanaan sistem Islam.

Perbedaan #1

  • Kita telah difahamkan bahwa melalui pemilihan umum, pemimpin yang naik adalah pilihan mayoritas rakyat jelata. Padahal bila diamati, hal itu tidak semestinya terjadi. Misalnya dua orang calon bertanding di kawasan yang memiliki 10 ribu pemilih. A mendapat 4500 suara, B mendapat 4000 suara dan yang tidak memilih 1500. Perbedaan antara keduanya cuma 500 suara saja. Tetapi yang tidak memilih sebanyak 1500. Artinya A cuma diterima oleh 4500 orang rakyatnya. Sedangkan 5500 lagi menolak kepemimpinannya. Hal itu sebenarnya akan membentuk satu pemerintahan yang tidak stabil. Negaranya mudah goyang.

    Keadaan akan menjadi lebih malang kalau terjadi seperti ini: terdapat tiga orang calon yang bertanding di kawasan yang pemilihnya ada 10 ribu orang. Keputusannya,
    A dapat 3300 suara
    B dapat 3300 suara
    C dapat 3400 suara
Artinya C menang dengan penyokongnya 3400 sedangkan penentangnya kalau ditambahkan antara dua calon yang lain ialah 6600. Secara demokrasi, bagaimana dapat dipastikan bahwa dia naik atas dukungan mayoritas? Karena penentangnya lebih banyak daripada pendukung. Coba gambarkan dalam sebuah negara yang penyokongnya sedikit dan penentangnya banyak, bagaimana negara itu akan stabil? Huru-hara selalu terjadi dan pemerintahan dapat tumbang dengan mudah.

Perbedaan #2

Melalui sistem pemilihan umum, semua rakyat disuruh memilih pemimpin termasuklah orang tua yang sudah uzur, orang buta, orang jahil, orang jahat,  perempuan dan orang-orang yang tidak tahu-menahu mengenai pemimpin dan kepemimpinan. Orang-orang seperti itu turut menentukan corak kepemimpinan negara. Saya yakin, di sebagian negara (yang tidak berpendidikan) 95% dari pemilih yang memilih itu tidak tahu-menahu tentang dasar pemerintahan partai yang didukungnya. Apakah keputusan mereka menjamin kebaikan dalam pemerintahan? Kalaulah satu partai itu menang hasil dukungan orang-orang jahil itu, apakah partai itu dapat berbangga? Padahal yang menentangnya adalah dari kalangan  cerdik pandai yang dapat menilai sekalipun jumlahnya minoritas.

Perbedaan #3

Hari ini bermacam-macam golongan manusia yang turut memilih. Golongan peniaga, petani, buruh, nelayan, cendekiawan, budayawan, seniman, artis, olah ragawan, pegawai-pegawai dan lain-lain yang datangnya  dari berbagai bangsa dan kaum minoritas. Masing-masing golongan mempunyai niat masing-masing. Mereka memilih satu partai bukan karena menyokong dasar partai itu. Tetapi karena marah pada partai lawan.
Sebab itu bila partai yang disokongnya menang, maka mereka akan menuntut keinginan mereka masing-masing. Sepuluh golongan, sepuluh perkara yang diminta. Sekalipun yang diminta itu membebankan pemerintah dan rakyat, namun terpaksa dilakukan. Dasar partai yang sebenarnya hilang tenggelam. Pemerintah tidak dapat mewarnai negara tetapi rakyatlah yang melakukannya. Pemerintah terpaksa menuruti kehendak-kehendak golongan tadi, bukan menuruti dasar partainya serta kepentingan umum. Lebih-lebih lagi kepentingan ALLAH dan Rasul.

Perbedaan #4

Bila pemilih itu tidak faham dasar partai yang didukungnya, mereka juga tidak dapat menilai segala penyelewengan yang dibuat oleh pemerintah. Artinya, mereka tidak dapat menegur atau memperbaiki kesalahan yang dilakukan oleh pemerintah. Hal itu membuat pemerintah dapat melakukan apa saja dengan sewenang-wenang. Di situ mungkin ada orang berkata, "Itulah perlunya orang-orang yang baik menjadi calon". Saya jawab begini, "Orang baik, tidak pernah mencalonkan diri. Kenaikan mereka adalah karena ditonjolkan oleh orang lain melalui cara yang bersih". Yaitu melalui ahlul halli wal 'aqdi. Lagi pula mana boleh orang-orang baik yang menang kalau mayoritas rakyat yang memilih jahat-jahat belaka?

Perbedaan #5

Sebagian orang yang mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin adalah orang-orang politik yang kebolehan istimewanya adalah pandai berpidato. Pembicaraannya membangkitkan semangat dan mempesona orang yang mendengar serta pandai mencari kesalahan-kesalahan dan menuduh orang lain. Artinya, dia mengaku dirinya baik dan bukan orang lain yang membuat pengakuan tentang kebaikannya. Maka jadilah dia tokoh besar. Perangainya tak difikirkan oleh orang, cara hidupnya tidak diperhatikan, agamanya atau takwanya tidak dipedulikan, ilmu, pengalaman,  kecerdikan dan karisma kepemimpinannya tidak diperhitungkan, kreativitas dan buah fikirannya tidak dinilai, keturunan, latar belakang dan pendidikan yang diterima tidak diperdulikan.

Pendek kata, syarat-syarat untuk menjadi pemimpin cuma dinilai pada pandai berkampanye, pandai berbicara dan pandai membicarakan kejelekan orang lain saja. Sedangkan memimpin itu bukannya untuk berbicara atau mengejek orang saja. Sebaliknya memimpin ialah:
  1. Mendidik manusia agar menjadi hamba ALLAH dan khalifahNya. Yakni menjadi abid dan mujahid. Menjadi orang dunia dan Akhirat. Bukan dunia saja dan bukan Akhirat saja. Untuk itu pemimpin mesti memiliki ilmu dan pengalaman mendidik yang cukup.
  2. Memimpin atau memandu rakyat untuk membangun tamadun insaniah dan tamadun materiil dalam negara. Semua tenaga manusia hendak digemblen agar sama-sama membangun dan menciptakan tamadun. Jangan ada yang tercecer, menganggur dan hidup tanpa tujuan. Dan jangan sampai negara terlantar, berhutang, dipermainkan atau huru-hara.
  3.  Menjawab 1001 macam masalah yang timbul dari masa ke masa dan menjawab 1001 tanda tanya yang timbul dalam masyarakat. Kalau hal-hal seperti itu tidak diselesaikan, negara akan kusut dan kocar-kacir. Maka untuk itu seorang pemimpin perlu  mendapat pertolongan dari ALLAH secara nyata atau gaib dan mendapat ilmu ilham dari ALLAH untuk menjawab setiap persoalan. Di mana semua itu hanya diberi kepada pemimpin yang bertakwa.

Firman ALLAH:


Barang siapa yang bertaqwa kepada ALLAH niscaya ALLAH lepaskan dia dari masalah hidup dan memberi rezeki dari sumber yang tidak diduga. (Ath Thalaq: 2-3)

FirmanNya lagi:
Bertaqwalah kepada ALLAH, niscaya ALLAH akan mengajar kamu.(Al Baqarah: 282)

ALLAH menjadi pembela (penolong) orang yang bertaqwa. (Al Jatsiyah: 19)
Barangsiapa yang bertakwa akan terlepas dari kejahatan (musuh). (Ath Thalaq: 5)
4. Pemimpin hendaklah menjadi pribadi contoh di mana dengan melihat kehidupan pemimpin, rakyat dapat meniru. Untuk itu pemimpin mesti bagus ibadahnya dan akhlaknya seperti merendah diri, pemurah, sabar, lapang dada, zuhud, pemaaf, pengasih, berani, jujur, ikhlas, gigih berjuang dan berkorban dan macam-macam sifat baik lagi. Untuk itu,  pemimpin mesti bertakwa. Hanya takwa yang dapat mengawal dan mendorong akhlak yang baik itu dari kejahatan nafsu dan syaitan.
.
5. Merancang dan memberi panduan serta ide untuk pembangunan. Untuk itu pemimpin mesti memiliki ide,  buah fikiran,  strategi dan kreatif. Pemimpin tidak boleh emosional, berfikiran buntu, gopoh-gopoh, lemah jiwa, merajuk, putus asa dan lamban. Fikiran mesti tajam, jiwa mesti kuat, perasaan halus dan fisik tangkas. Sebab itu dalam Islam, perempuan tidak boleh menjadi pemimpin. Selain itu karena otaknya tidak terlalu tajam untuk menjangkau kemungkinan-kemungkinan masa depan atau yang tersirat, fisiknya juga mudah lemah dan emosionalnya tinggi. Kaum lelaki juga kalau sifatnya demikian tidak layak menjadi pemimpin walaupun ia pandai berbicara dan ijazahnya tinggi.
6.  Kebijaksanaan menewaskan musuh. Kita tidak mungkin mengelak dari orang-orang yang mau menjatuhkan kita. Musuh tidak boleh disalahkan karena  memang itu kerjanya. Yang penting kita mesti menewaskan dia. Pemimpin mesti licin dan bijaksana dalam menghadapi musuh. Sekali lagi, pimpinan ALLAH dalam hal ini sangat penting. Untuk itu takwa juga yang menjadi syaratnya. Sayidina Umar berkata, "Aku lebih takut pada dosa-dosamu daripada musuh- musuhmu. Sebab bila kamu berdosa, ALLAH akan membiarkanmu kepada musuhmu."
Lihatlah, betapa beratnya kerja pemimpin. Tidak boleh dibuat senang-senang dan oleh sembarang orang. Karena itu, memimpin tidak boleh menjadi rebutan dan diperdagangkan. Sebab hanya boleh dibuat oleh orang-orang khusus, yang memang dikaruniakan kebolehan dari Allah, orang yang terdidik dan dipimpin oleh ALLAH. Otaknya tajam, jiwa asalnya tahan bagaikan besi baja. Akhlaknya terbentuk dari kecil, strateginya lihai, fikiran tembus dan kecenderungan memimpin bukan untuk kepentingan atau dilantik dengan resmi di majelis permusyawaratan.

Orang seperti itu, kalaupun tidak dilantik, dia boleh memimpin. Orang lain tidak boleh merebut dan mencuri kebolehannya memimpin. Orang seperti itu diangkat menjadi pemimpin bukan dengan jari atau suara tapi dikehendaki oleh hati. Orang suka dengan kepemimpinannya bukan hasil kampanye atau memperjualbelikan suara. Hasil dari kerja kepemimpinan yang sudah dibuktikan,  manusia akan merasa berhutang budi karena kerja dan jasa kepemimpinannya, sebelum ia dilantik menjadi pemimpin resmi.

Perbedaan #6

Bila orang itu mencalonkan diri untuk menjadi pemimpin sementara rakyat belum yakin dengan kebolehannya, karena belum terbukti bahwa ia adalah pemimpin, maka ia mesti berlakon menjadi pemimpin. Ia akan mengangkat-angkat diri dan membuat janji-janji manis yang tidak ada jaminan untuk dilaksanakan. Ia juga mesti menghina pihak lawan yang menentang pencalonannya. Karena takut kalah, demi mendapatkan suara, kerja-kerja kampanye dan membeli suara terpaksa dilakukan. Perebutan sengit itu tidak mungkin selamat dari riya', ujub, sombong, benci, dendam, marah, tipu, berpura-pura, hasad dengki, menyebut-nyebut janji muluk yang palsu dan mazmumah lain. Ia juga akan memfitnah, mencerca, mengejek dan lain-lain.
Alangkah kotornya jalan itu. Alangkah bahaya dan jahatnya. Orang Barat pun mengakui dengan ungkapan Politic is a dirty game. Yang kalah akan merasa terhina dan yang menang membusung dada. Rasa sengketa tidak akan terkikis dari jiwa-jiwa mereka. Kepemimpinan seperti itu mustahil akan dapat mewujudkan perpaduan yang murni dan kerja sama yang baik. Sepanjang masa, pemimpin akan merasakan pimpinannya senantiasa ditentang dan kedudukannya terancam. Lalu dia akan senantiasa mencari jalan untuk mempertahankan kedudukan. Tugas kepemimpinan sudah menjadi barang yang diperebutkan untuk kepentingan pribadi dan duniawi semata-mata.

Perbedaan #7

Untuk mempertahankan kursi yang dibeli tadi, pemimpin juga sanggup membuat apa saja sekalipun menindas,  menipu, mengancam dan menghukum. Pihak lawan akan dianaktirikan dan pendukung terpaksa dijaga hatinya. Kehendak pendukung mesti ditunaikan sekalipun hati nurani tidak setuju. Artinya rakyat yang menentukan corak pemerintahan. Pemimpin ikut saja. Pemimpin dididik oleh rakyat. Maklumlah dia wakil rakyat dan bukan wakil ALLAH.
Sering terjadi dua partai yang berbeda dasarnya, bekerja sama untuk menentang partai pemerintah yang juga berbeda dasarnya. Mengapa sekarang boleh mendukung seseorang dan menentang yang lain? Sedangkan kedua-duanya tidak sefaham dengannya. Itu tandanya mereka berjuang bukan untuk mempertahankan dasarnya, tapi lebih bermotif untuk menang dan mendapat kedudukan.
Baru-baru ini terjadi Kerajaan Kelantan yang katanya Kerajaan Islam, karena naik melalui pemilihan, terpaksa mengambil hati dan menjaga hati rakyat agar terus memilihnya. Maka pemain dan peminat olah raga didekati dan diberi hati. Sedangkan olah raga yang dilaksanakan hari ini, umumnya tidak bercorak Islam. Sepatutnya rakyat mesti tunduk pada dasar pemerintah tetapi terjadi hal sebaliknya, di mana pemerintah tunduk pada kemauan rakyat.

Perbedaan #8.

Pemerintah yang naik melalui suatu partai politik pasti tidak selamat dari sentimen kepartaian. Yakni  akan mengutamakan orang-orang partainya dengan menganaktirikan rakyat yang lain, yang tidak separtai dengannya. Sudah tentu golongan-golongan lain tidak puas. Keadilan dan perpaduan sebenarnya tidak dapat ditegakkan selama-lamanya.

Hal ini terbukti dalam pengalaman kita yang sudah sekian lama hidup dalam negara yang mengamalkan demokrasi Barat ini. Partai pemerintah belum terbukti dapat membuat semua atau mayoritas rakyat mengakui dan membantu dasar yang diperjuangkan. Sedangkan dalam pemerintahan Islam, orang bukan Islam pun terima dan bekerja sama menjayakan kemajuan.

Perbedaan #9

Biasanya pemimpin atau pemerintah yang ditunjuk oleh jari ini, mereka tidak dicintai dengan kasih murni dari hati. Kasih rakyat pada mereka kalaupun ada adalah karena kepentingan-kepentingan jabatan, gaji atau subsidi yang diharapkan. Ketaatan yang diberikan, hanya di depannya saja. Sedangkan di belakang mereka, rakyat menipu dan durhaka.

Sebab itu pemimpin tersebut, kalau berbuat salah walaupun secara tidak sengaja mereka akan dicaci maki dan dijatuhkan. Rakyat mudah melupakannya apalagi kalau sudah tidak berkuasa. Baru saja pensiun, hidup mereka sudah  terbuang, tersisih dan terhina. Bila mereka mati langsung dilupakan orang. Maqamnya tidak diziarahi. Padahal pemimpin-pemimpin Islam, maqamnya diziarahi walaupun sudah beribu tahun. Kalau seperti itulah  demokrasi Barat, untuk apa lagi dipertahankan dan diperjuangkan? Kalau sudah nyata kotor, buruk dan jahat, mengapa diikuti? Tidakkah yang menerimanya itu artinya memiliki sifat yang sama juga?

Perbedaan #10

Satu lagi keburukan demokrasi adalah memungkinkan dilantiknya musuh untuk menjadi pemimpin. Yakni musuh melobi untuk menjadi calon. Karena pandainya berkampanye, dia menang untuk menjadi pemimpin kepada rakyat.

Perbedaan #11

Di satu kawasan yang mayoritas orangnya jahat, maka wakil yang naik atas suara mayoritas itu pun biasanya orang jahat. Kalaupun orang baik menjadi calon di sana, pasti kalah.
Bagi orang-orang yang mencintai kebenaran, mereka tentu mencari-cari satu cara baru yang suci, bersih dan mulia. Apakah tidak ada lagi di dunia ini kebenaran dan kemuliaan sehingga manusia terpaksa bergelimang dengan najis dan kejahatan demokrasi? Jawabnya ada, yaitu Islam. Yakni kebenaran mutlak yang datang dari ALLAH termaktub dalam Al Quran, tergambar dalam Sunnah Rasulullah SAW dan perjalanan Khulafaur Rasyidin.

Sebenarnya pemilihan pemimpin secara demokrasi itu sudah berjalan sejak 4-5 ribu tahun dahulu oleh orang-orang Yunani. Karena manusia waktu itu tidak banyak, maka mereka menjalankan demokrasi secara langsung. Yakni semua rakyat datang ke satu dewan persidangan untuk mewakili diri masing-masing dalam acara pelantikan pemimpin yang hendak dibuat. Misalnya penduduk sepuluh ribu orang maka kesepuluh ribu orang itu datang untuk menyatakan pandangan dan menentukan pemimpin yang dikehendakinya.
Dari situ kelihatan bahwa orang-orang sekuler itu memandang tujuan melantik pemerintah ialah untuk menjalankan kehendak-kehendak rakyat. Sebab itu mereka dinamakan wakil rakyat. Sedangkan dalam Islam, pemerintah bukan wakil rakyat. Tetapi wakil ALLAH (khalifatullah) untuk menjalankan pemerintahan menurut cara yang ditentukan oleh ALLAH. Kedua pandangan itu mempunyai maksud, cara dan tujuan yang amat berbeda.

Kembali pada masalah memilih pemimpin dengan cara demokrasi itu, yang telah diwarisi hingga hari ini oleh orang-orang sekuler,  tidak lagi dapat dibuat secara langsung. Sebab utamanya ialah karena manusia sudah terlalu banyak. Jadi tentu tidak praktis kalau berjuta-juta manusia itu hendak dikumpulkan di satu tempat untuk menjalankan pemilihan pemimpin. Lalu demokrasi itu disesuaikan menjadi demokrasi tidak langsung. Yaitu demokrasi perwakilan rakyat. Di mana beribu-ribu rakyat di satu kawasan akan memilih wakil-wakil mereka di parlemen melalui pemilihan umum. Wakil itulah yang membawa identitas, hasrat, pandangan dan seterusnya menyuarakan kehendak-kehendak rakyat. Wakil itu dikenal sebagai wakil rakyat.
Masalahnya, Apakah betul wakil rakyat itu mewakili rakyat? Kalaulah rakyat di kawasan itu adalah petani, hidup ala kadarnya, menginginkan hidup yang berkecukupan dan pemimpin yang berjuang untuk kebaikan hidup mereka dunia dan Akhirat, apakah wakilnya juga akan membawa identitas dan hasrat yang sama? Ataukah pemimpinnya pergi membawa identitas dan hasrat pribadinya yang telah diperoleh dari hasil amanah rakyat yang dikhianatinya? Ataukah pemimpin itu sudah berlagak menjadi orang besar dan kaya, yang bicaranya pun besar serta mau memperjuangkan kebesaran dan kekayaannya itu? Saya lihat itulah yang terjadi sekarang. Rumah wakil-wakil rakyat bagaikan istana gagah berpagar, di tengah-tengah rumah-rumah kayu rakyatnya. Mobil wakil-wakil rakyat bagaikan singa melintasi deretan rakyat yang berjalan kaki atau bermotor.  Sandang pangan wakil rakyat, adalah sesuatu yang mustahil dapat dirasakan oleh rakyat.

Begitu menjadi wakil rakyat, ia berjuang atas nama rakyat yang diamanahkan padanya untuk membuat dirinya serta keluarganya berbeda dengan rakyat. Gayanya  seolah-olah wakil dari kalangan orang-orang kaya dan raja- raja, bukan lagi mewakili rakyat yang serba daif dan sederhana. Aneh, wakil rakyat sepatutnya betul-betul  merakyat. Ia adalah bayangan rakyat untuk menyuarakan hasrat rakyat. Bagaimana bisa bayang-bayang lain dari obyeknya. Suaranya pun sudah lain. Tentu ada sesuatu yang sudah salah. Yaitu menyalahgunakan amanah rakyat,  khianat dan zalim dengan tugas yang dipikulkan oleh rakyat. Hal ini mesti disadari oleh kita semua. Supaya segala penyakit masyarakat dapat dipastikan untuk diobati demi tercapainya masyarakat idaman yang aman, makmur dan mendapat keridhaan ALLAH.

Selain dari pemilihan pemimpin dengan suara rakyat ini, ada satu lagi cara kenaikan pemimpin yang dibuat di dunia. Yakni cara diktator. Cara itu sebenarnya lebih jahat dan kejam. Hal itu terjadi secara kekerasan oleh seorang yang ingin berkuasa. Dengan menggunakan kuasa tentara, ia menggulingkan pemerintah yang ada, lalu naiklah ia bertakhta memerintah negara. Rakyat mesti menerimanya, rela atau terpaksa.

Dia monopoli kekuasaan untuk dirinya saja tanpa seorang pun dapat campur tangan dalam urusan pemerintahan. Dengan itu ia memerintah dengan leluasa, sesuka hatinya. Siapa mencoba mengritik akan ditangkap dan dipenjarakan. Pemerintahan diktator ini terkenal sekali kejamnya dalam sejarah. Bertakhta di hati, beraja di mata. Pemerintahan seperti itu hari ini terbentuk  di Syria, Libya, Iraq, Myanmar, Kuba dan tempat-tempat lain.

Dalam tajuk berikut  akan saya uraikan sistem demokrasi terpimpin yang terdapat dalam Islam. Yakni bagaimana pemilihan pemimpin itu dibuat. Moga-moga ALLAH akan mengajar kita tentang kebenaran itu untuk difahami dan diperjuangkan. FirmanNya:
Bertaqwalah kepada ALLAH, niscaya ALLAH akan mengajar kamu. (Al Baqarah 282)
                              
 
 

BAB 09 Cara Islam Melantik Pemimpin


ISLAM kelihatan lebih bijaksana dari demokrasi Barat dalam hal melantik pemimpin, dengan tidak meminta semua orang ikut serta atau campur tangan dalam memilih pemimpin negara. Sebab tidak semua rakyat tahu menilai tentang siapa pemimpin yang layak dan siapa yang tidak layak untuk mereka. Sedikit saja jumlah orang-orang bijaksana dalam masyarakat dan negara yang benar-benar tahu tentang mana  pemimpin yang benar-benar layak memerintah negara. Sedangkan rakyat yang awam, yang banyak itu, biasanya tidak faham dalam hal-hal kepemimpinan dan kenegaraan. Oleh karena itu menjadi tidak bijaksana kalau mereka diminta memberi suara untuk menentukan pemimpin-pemimpin negara. Karena bila pilihan mereka tidak tepat,  nanti negara akan menjadi korbannya.

Dalam Islam, orang-orang yang diajak untuk menentukan pemimpin negara adalah orang-orang yang memiliki kelayakan sebagai berikut:
  1. Memiliki ilmu pengetahuan Islam yang cukup (khususnya dalam soal-soal kepemimpinan dan kenegaraan) di samping mempunyai takwa dan akhlak yang tinggi. Dengan takwa dan ilmu, mereka mampu menilai dengan tepat dan adil, siapa pemimpin negara yang betul-betul layak.
  2. Memiliki pengaruh dalam masyarakat, sehingga rakyat percaya, segan dan hormat padanya. Pandangannya, kata-katanya serta arahannya dipercaya, didengar, diterima dan ditaati, sekalipun dia belum menjadi pemimpin secara resmi di peringkat manapun. Bila ia sudah memilih seorang pemimpin, masyarakat akan setuju dan yakin dengan pilihannya itu. Yakni tidak akan timbul desas-desus di belakang. Dengan hal yang demikian, akan selamatlah negara dari ketidakpuasan hati rakyat terhadap pemimpin. Dan selamat juga dari pencalonan pemimpin yang tidak layak.

Dalam Islam, orang-orang yang dibenarkan memilih pemimpin, yang memenuhi syarat tadi disebut ahlul halli wal 'aqdi. Mereka termasuk sebagai ulil amri yang tidak resmi. Yakni pemimpin-pemimpin yang didengar kata-katanya oleh rakyat, walaupun ia bukan pemimpin yang resmi. Seperti para ulama yang beramal dengan ilmunya, yang berakhlak dan dengan sebab itu ia mempunyai wibawa yang tinggi.
Contoh yang jelas tentang pelantikan pemimpin menurut cara Islam dapat dilihat di zaman Khulafaur Rasyidin. Apabila Rasulullah wafat, Sahabat-Sahabat besar yang dijamin Syurga karena takwa dan kehebatan lain telah memilih Sayidina Abu Bakar untuk menjadi Amirul Mukminin. Pemilihan itu diketuai oleh Sayidina Umar Al Khattab selaku ulil amri yang tidak resmi atau anggota ahlul halli wal 'aqdi. Beliau telah memegang tangan Sayidina Abu Bakar sebagai tanda bai'ah dengannya atas perlantikan beliau menjadi khalifah. Sahabat besar yang lainnya seperti Sayidina Usman, Sayidina Abdul Rahman bin Auf, Sayidina Abu Ubaidah, Sayidina Saad Abi Waqqas, Sayidina Said, Sayidina Zubair dan lain-lain yang menjadi ahlul halli wal 'aqdi turut setuju. (Selama ini mereka memang dianggap sebagai pemimpin secara tidak resmi oleh masyarakat. Bahkan kalau salah seorang dari mereka yang dilantik menjadi pemimpin, tetap dapat diterima oleh masyarakat di waktu itu seperti Sayidina Umar Al Khattab, Sayidina Usman bin Affan, Sayidina Ali Abi Talib dan Sahabat lainnya). Karena orang yang ditunjuk dan orang yang menunjuk memang sudah berada di hati masyarakat, sudah menjadi pemimpin tidak resmi yang kata-katanya didengar dan ditaati.

Seluruh kaum Muslimin yang terdiri dari orang-orang Ansar dan Muhajirin serta rakyat jelata umumnya setuju dan menurut saja karena mereka merasa Sahabat-Sahabat besar itu lebih tahu dan lebih adil dari mereka tentang soal-soal kepemimpinan dan memilih pemimpin ini. Lagipula bagi rakyat di waktu itu, orang-orang yang menunjuk dan yang ditunjuk sebagai pemimpin itu memang orang orang yang mereka cintai dan yakini. Di mana kalaupun mereka tidak jadi pemimpin resmi, memang sudah dirasakan sebagai pemimpin di kalangan mereka. Sebab mereka itu merupakan tempat rujuk dalam masyarakat.

Rakyat tidak pernah dipanggil memilih untuk menentukan siapakah yang patut memimpin mereka. Semuanya ditentukan oleh Ahlul Halli Wal 'Aqdi. Apabila Sayidina Abu Bakar wafat, maka Sayidina Umar dilantik oleh Ahlul Halli Wal Aqdi untuk menjadi khalifah. Seperti tadi juga, perlantikan itu diterima dengan senang hati oleh seluruh kaum Muslimin. Sayidina Umar memang sudah di hati rakyat sebelum menjadi pemimpin resmi. Kenaikannya memang ditunggu-tunggu oleh semua. Hati orang memang  padanya. Tidak ada siapa yang mau menggugat atau menentang kepemimpinannya. Kalaupun dilakukan pemilihan dia akan menang tanpa bertanding. Sebab semua orang sudah mengakui kepemimpinannya berdasarkan apa yang sudah dikenal tentangnya. Sayidina Umar tidak perlu menonjol-nonjolkan diri, mengangkat-angkat diri, memuji-muji diri dan melobi untuk menjadi pemimpin seperti yang terjadi dalam negara demokrasi hari ini. Dan memang tidak mungkin semua hal itu terjadi  bagi pemimpin yang bertakwa. Mereka telah menawan hati rakyat karena takwa dan akhlak yang tinggi serta dengan jasa-jasa kepemimpinan secara tidak resmi sebelum ini. Maka untuk menjadi pemimpin resmi, dia tidak memerlukan suara dari rakyat kare na dia memang sudah di hati rakyat.

Dengan keadaan ini, rakyat dalam negara tidak terpecah-pecah menjadi berbagai-bagai partai, tim, camp atau golongan-golongan yang saling berlawanan. Perpaduan dan kesatuan terjalin secara menyeluruh. Demikianlah yang dapat dijayakan dalam negara dan masyarakat Islam tulen. Di mana pemimpin dan rakyatnya sama-sama bertakwa dan soleh-soleh belaka. Maka urusan pemerintahan dan pengurusan negara berjalan dengan mudah dan rapi. Rakyat semuanya taat dan bersatu di bawah satu pemimpin. Pemimpin adil dan tidak pilih kasih. Sentimen golongan, tim, camp dan kepartaian tidak wujud.
Tapi hal yang murni dan indah seperti itu tidak lama bertahan. Di zaman pemerintahan Muawiyah, kemurnian pemerintahan sudah mulai tercemar. Pelantikan pemimpin dibuat atas nama keluarga. Maka mulailah perpecahan menjadi golongan-golongan dalam negara. Di mana mulai wujudnya sistem feodal di dalam masyarakat Islam. Kita berharap akan terjadi sekali lagi pemerintahan Islam tulen di akhir zaman ini. Yakni pemimpin yang diterima dengan hati oleh rakyat. Bukan ditunjuk oleh jari. Kalaupun ia tidak memimpin secara resmi, kata-katanya sudah didengar. Dalam pimpinannya, rakyat tidak lagi berpecah-pecah dan tidak lagi saling berkelahi dan berlawanan antara satu sama lain. Insya ALLAH, pada puncak kebangkitan Islam di Malaysia, kita akan menyaksikan berulangnya sejarah yang indah ini. Yakni pemimpin bertakwa yang memimpin rakyat bertakwa dalam satu pemerintahan Islam yang adil.
 
 
 
 

BAB 10 Perhatian Untuk Partai dan Badan-badan Islam


DENGAN izin ALLAH saya telah bukakan kelemahan-kelemahan sistem demokrasi dalam hal melantik pemimpin. Kemudian disusul pula dengan memperlihatkan keistimewaan Islam dalam hal tersebut. Maka di sini saya ingin menarik perhatian partai-partai Islam dan badan-badan Islam di seluruh dunia tentang persoalan perlantikan pemimpin itu.

Ada dua hal yang mesti difikirkan:
1. Keikutsertaan mereka dalam pemilu demokrasi ala Barat.
2. Cara pelantikan pemimpin yang dijalankan dalam partai dan harakah Islamiah.
Selaku orang-orang yang bercita-cita memperjuangkan hukum-hukum ALLAH,  sepatutnya kita berdaya upaya mencoba untak menjalankan seluruh hukum ALLAH itu dalam kehidupan. Kecuali kalau memang betul-betul tidak berdaya, mudah-mudahan ALLAH maafkan.

Dalam hal pemilihan pemimpin cara Barat dalam pemilu, jelas bertentangan dengan Islam. Bahkan cara tersebut begitu lemah sekali. Namun partai-partai Islam tetap menyertainya juga dengan alasan tiada pilihan lain. Menurut mereka itulah satu-satunya cara untuk mendapatkan kekuasaan memerintah Negara Islam. Walaupun saya tidak setuju dengan alasan itu, namun bersedia bertenggang rasa untuk menerimanya. Tetapi kemudian ada satu persoalan baru! Bukankah dalam pemilihan pemimpin intern di dalam partai, tidak ada lagi yang menghalangi kita untuk mengikuti sistem Islam. Tetapi mengapa tidak dilakukan? Mengapa hingga hari ini badan-badan dan partai-partai Islam itu masih meniru cara Barat dan tidak menghiraukan cara-cara yang ditunjuk oleh wahyu?

Dalam musyawarah nasional atau di dalam maktamar-muktamarnya, diundang perwakilan-perwakilan dari selurah negara termasuk kaum ibu untuk ikut serta dalam pemilihan pemimpin. Yakni dengan menjalankan pemilihan oleh ribuan orang yang hadir. Artinya pemimpin yang naik adalah pilihan dari ribuan orang yang beraneka ragam, berbagai kehendak, berbagai pandangan, berbagai sifat yang semuanya mengharapkan pemimpin yang naik itu akan dapat memenuhi tuntutan dan kemauan masing-masing. Sudah tentu sebelumnya terjadi lobi, saling mempengaruhi dan lain- lain. Hasilnya, pemimpin atau pemerintah dalam jemaah itu diwarnai oleh pengikut atau rakyatnya. Dasar dan tujuan pemerintahan dalam jemaah bukan ditentukan oleh pihak pemerintah tapi menurut kehendak dan nafsu para perwakilan. Yakni kehendak-kehendak anggota partai tsb. berupa buruh, petani, nelayan, olah ragawan, bintang film, artis, ahli akademis, peIajar dan golongan lain-lain serta profesi yang berbeda satu sama lain. Maka untuk menunaikan 1001 tuntutan, dasar pemerintahan partai atau dasar jemaah tercemar dan terkorban. Pemerintah dan partai tidak dapat dijuruskan ke satu tujuan yang khusus, yang tepat dan membawa kebaikan mutlak menurut Islam.

Sedangkan, dalam Islam pemerintah adalah wakil ALLAH, yang akan menjalankan dasar dan tujuan yang ditentukan oleh ALLAH. Bukannya dasar dan tujuan yang ditentukan oleh para perwakilan rakyat. Rakyat mesti tunduk kepada dasar pemerintahan yang telah ditentukan oleh ALLAH. Sebab itu dalam Islam, pemerintah bukan dipilih oleh rakyat. Sebab rakyat tidak semuanya tahu apa dasar-dasar dan syarat-syarat pemerintahan Islam. Orang yang tahu, faham dan adil dalam soal-soal kepartaian atau kenegaraan dan pemerintahan itu dinamakan ahlul halli wal 'aqdi. Mereka orang bertakwa, orang alim, orang berwibawa, orang berpengaruh, yang kata-kata dan pandangannya diterima serta diiktiraf oleh rakyat. Suaranya seolah-olah mewakili suara rakyat. Mereka itu disebut juga ulil amri yang tidak resmi. Yakni pemimpin yang tidak resmi. Walaupun tidak ditunjuk untuk menjadi pemimpin resmi tetapi kepemimpinan dan kewibawaannya sudah diakui oleh orang banyak. Sebab itu bila mereka itu menunjuk calon pemerintah di dalam partai atau negara, pilihan itu tepat dan mendapat dukungan rakyat. Kenaikannya tidak menimbulkan perpecahan dan persengketaan di kalangan anggota partai atau rakyat.

Itulah cara Islam. Cara yang benar, tepat dan adil. Tetapi mengapa pemimpin-pemimpin partai Islam dan harakah Islam tidak melaksanakan hukum ini dalam jemaah mereka? Mengapa tidak diwujudkan majelis syura dengan nama ahlul halli wal 'aqdi untuk menentukan pemimpin yang sebenarnya? Yakni yang layak menjadi wakil ALLAH untuk memimpin anggota partai atau rakyat di atas dasar yang ditentukan oleh ALLAH? Bukan ditentukan oleh perwakilan orang banyak di kalangan anggota partai sebagaimana  demokrasi Barat. Sebabnya saya ulangi lagi, bahwa dalam pandangan Islam pemerintah ialah wakil ALLAH untuk menjalankan dasar pemerintahan yang sudah ALLAH tentukan, dan bukannya wakil manusia untuk menunaikan tuntutan akal dan nafsu manusia yang sempit dan membabi buta itu.

Jadi persoalannya mengapa orang-orang yang memperjuangkan Islam itu tidak melaksanakan sistem Islam dalam perjuangan mereka, khusus dalam soal perlantikan pemimpin itu? Kalaulah persoalan itu didiamkan saja tanpa satu jawaban yang penuh tanggung jawab, kita akan  bertanya-tanya lagi, apakah mungkin mereka akan melaksanakan undang-undang Islam dan cara hidup Islam dalam seluruh negara kalau mereka betul-betul memerintah nanti? Sedangkan di satu sudut itu pun mereka sudah membohongi orang banyak di kalangan umat Islam yang tidak tahu bagaimana pemimpin dilantik dengan cara Islam. Apa logikanya seseorang akan berjaya dalam satu kerja yang maha berat sedangkan terhadap satu kerja kecil pun tidak mampu dijayakannya?

Saya tidak berfikir bahwa tokoh-tokoh pejuang politik Islam itu tidak tahu bahwa cara Islam melantik pemimpinnya jauh lebih bijaksana dari cara-cara pemilihan demokrasi atau cara memilih  yang diciptakan oleh Barat itu. Tetapi mengapa mereka tetap mengikuti cara-cara Barat yang tidak matang itu? Yakni melantik pemimpin dengan cara pemilu atau angkat tangan oleh beribu-ribu orang yang melihat kepemimpinan dari sudut kepentingan mereka masing-masing. Mereka itu sebenarnya jahil tentang ilmu kepemimpinan menurut Islam. Lalu perlantikan mereka terang-terangan salah dan bertentangan dengan syarat-syarat yang dikehendaki Islam. Artinya pemimpin yang naik itupun bukan pemimpin Islam sebenarnya yang tentunya tidak mampu menjalankan pemerintahan Islam dengan tepat, lalu apa yang akan terjadi dengan masyarakat dalam jemaah yang dipimpinnya?

Pernah terjadi dalam satu partai Islam di satu negara, sewaktu pemilihan pemimpin melalui suara dalam satu muktamar agung beberapa tahun yang sudah (tak perlu disebutkan namanya),  seorang musuh yang menyamar, telah diajukan oleh partai lawannya dan terpilih untuk menjadi salah seorang pemimpin partai. Hal itu sepatutnya tidak mungkin terjadi kalau pelantikan dibuat secara Islam. Yaitu yang memilih itu di kalangan ahlul halli wal 'aqdi saja.

 
 
 
 

BAB 11 Memerintah Bukan Membuat Jasa


Pemerintah menerima tugas memerintah tidak sama dengan seorang tenaga administrasi atau seorang mufti atau seorang guru resmi menerima suatu pekerjaan. Pegawai, mufti atau guru resmi meminta pekerjaan, biasanya karena untuk cari makan. Sedangkan pemerintah naik ke tahta pemerintahan adalah karena cita-cita perjuangan. Pemerintah yang beriman dan bertakwa bersedia menjadi pemerintah adalah karena ingin menegakkan kalimat Allah dalam negara dan kehidupan seluruh rakyat serta untuk berkhidmat kepada rakyat.
Dengan kata lain mereka menjadi khadam rakyat. Agar sistem sekuler diganti dengan sistem hidup Islam. Dengan cita-cita dan semangat perjuangan yang kuat, seluruh hidupnya dikorbankan untuk tujuan itu. Dapat dikatakan perjuangannya itu adalah hidup matinya. Dia bukan ingin uang, jabatan atau  kepentingan lain. Tapi yang diidamkannya ialah tertegaknya cara hidup Islam secara syumul dalam negara dan masyarakat serta dapat berkhidmat kepada rakyat. Demi hal itu, dia bukan saja tidak meminta upah sedikitpun, bahkan harta bendanyapun habis dikorbankan. Kecuali kalau ia tidak mempunyai apa-apa, maka Islam membolehkan ia mengambil sekedar keperluan dan kemudahan dari negara. Sekedar itu saja.

Hal ini dibuktikan oleh Khalifah Umar Ibnu Azis. Begitu ia menjadi pemerintah,  dia telah mengisytiharkan bahwa semua hartanya dan harta istrinya adalah milik negara. Artinya, hartanya dijadikan modal untuk menegakkan negara dan masyarakat Islam. Karena untuk membina negara yang baik itu keperluannya sangat banyak. Jadi  pengorbanan apa saja dari semua pihak sangat diperlukan. Dan khalifah adalah orang pertama yang melakukan pengorbanan itu. Sesudah menghabiskan harta bendanya, dirinya pun dikorbankan untuk cita-cita perjuangan hidup matinya itu. Selama menjadi khalifah (selama lebih 2 tahun), Sayidina Umar Ibnu Azis tidak ada waktu lagi untuk tidur dengan isterinya. Masanya dihabiskan untuk bekerja menegakkan cita-cita murninya itu.

Demikianlah bentuk pemerintah yang sebenarnya itu. Memerintah atas cita-cita perjuangan yang suci, ingin melihat agama Allah tertegak di bumi. Ingin membina sebuah negara yang aman, makmur dan mendapat keampunan Allah. Untuk itu mereka berkorban dan terkorban. Bukannya mengambil gaji besar di atas tumpahan keringat rakyat. Sesuai dengan firman Allah :
Sesungguhnya Aku jadikan manusia khalifah di bumi.(Al Baqarah:30)
Maka para pemerintah yang haq, mereka adalah khalifah Allah atau wakil Allah. Mereka diwakilkan oleh Allah di atas muka bumiNya ini, untuk mengurus dan mengimmarahkan (memajukan) bumi ini tepat dengan syariat Allah serta dapat berkhidmat kepada hamba-hamba Allah. Itulah yang menjadi tujuan perjuangan serta pemerintahannya. Rakyat dididik dan diurus untuk menjadi hamba-hamba Allah yang taat dan patuh pada Allah. Serta bekerja keras untuk membangun bumi ini  benar-benar menjadi bumi Allah.

Demikianlah konsep pemerintahan yang sebenarnya, yakni para pemerintah sebagai wakil Allah untuk mewarnai bumi dengan dasar dan tujuan yang ditetapkan oleh Allah. Wakil-wakil itu kemudian akan dipanggil kembali kehadirat Allah untuk mempertanggungjawabkan tentang tugas- tugasnya. Semua tingkah laku akan dipertanyakan. Rasulullah SAW bersabda :
Setiap kamu adalah penggembala dan kamu akan ditanya tentang gembalaannya. Pemimpin adalah penggembala dan dia akan ditanya tentang gembalaannya. (riwayat Al Bukhari)

Kalau ia bertindak adil, tepat dengan syariat maka selamatlah ia menjadi ahli syurga. Sebaliknya kalau ia khianat, nerakalah bagiannya.

Jadi, memerintah ialah tugas dan khidmat serta tanggung jawab, bukannya jasa. Kebaikan-kebaikan yang dilakukan bukan satu pengorbanan atau budi baik yang mesti dibangga-banggakan dan dibesar-besarkan. Tetapi adalah tugas yang wajib dilaksanakan. Artinya kalau tugas itu dilalaikan, ia dikatakan berkhianat dan berdosa. Sebaliknya kalau ia bertanggung jawab dengan baik, hal itu bukanlah jasa yang perlu diberi medali. Sebab ia cuma menunaikan kewajiban dan tugasnya. Sebab itu pemerintah yang menjalankan amanah dengan melakukan kebaikan-kebaikan untuk rakyat, tidak sepatutnya menepuk dada mengaku berjasa. Lebih-lebih lagi tidak boleh berlagak sombong, angkuh dan menunjuk-nunjuk serta menyebut-nyebut jasa, riya' dan ujub.
Kebaikan yang dilakukan itu selain merupakan tanggung jawab yang mesti ditunaikan, juga bukan merupakan kuasa kita. Allah lah yang telah memberikan hidayah dan taufiq hingga kita dapat melaksanakannya. Kalau begitu kita sepatutnya bersyukur kepada Allah karena mengizinkan kita menjadi pemerintah. Sedangkan kita hanyalah hamba seperti hamba-hambaNya yang lain. Tetapi dilebihkan dengan kebolehan menjadi pemimpin. Kemudian sesudah itu diizinkan pula melakukan kebaikan-kebaikan terhadap rakyat di saat pemerintah lain tidak mampu melakukannya. Maka sepatutnya kita merasa malu karena diri yang dhaif diberi keupayaan istimewa dari Allah untuk dapat menggembirakan rakyat. Anugerah itu adalah ujian agar kita lebih dekat dengan Allah. Bukan untuk menonjol-nonjolkan diri dengan menyebut-nyebut jasa. Tetapi kalau kita jadi sombong, angkuh, ujub dan riya' karena karunia-karunia itu artinya kita hamba yang tidak sadar diri. Kalau tidak di dunia, di akhirat pasti menderita. Allah  berfirman :
Jangan kamu batalkan ssedekah-sedekah kamu dengan mengungkit-ungkit minta dibalas  dan menyakiti (orang yang menerima) (Al Baqarah:264)

Satu hal lagi, yang mesti difahami ialah, pemerintah tidak boleh pilih kasih terhadap rakyat. Apa saja rancangan kemajuan dan bantuan mesti disamaratakan pada semua rakyat sekalipun dari partai lawan, sesuai dengan keperluan, kewajiban dan tugas-tugasnya. Pemimpin tidak boleh mendendam. Sebab ia memegang amanah untuk semua rakyat di seluruh negara sekalipun  orang bukan Islam. Juga tidak boleh mengancam untuk menarik kembali bantuan tersebut. Sebab hal itu adalah tanggung jawab, bukannya politik untuk memancing suara.

Pemerintah yang adil akan menyamaratakan khidmat kepada rakyat, sekalipun yang tidak disukainya. Ingatlah firman Allah :
Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu pendukung kebenaran karena ALLAH, juga menjadi saksi dengan penuh keadilan. Dan janganlah kebencian kamu kepada sesuatu golongan itu menyebabkan engkau tidak lagi bertindak adil. Bertindak adillah karena adil itu mendekati sifat takwa. Dan bertakwalah kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al Maidah: 8)

Pemerintah yang bertakwa, yakni takut pada ALLAH  bukan saja pada manusia, pada binatang pun ia dapat bertindak adil. Terbukti hal itu pernah dibuat oleh Sayidina Umar Al Khattab yang menangis karena kematian seekor kambing. Ia berkata,"Wahai Tuhan, jangan salahkan Umar  karena matinya seekor kambing rakyatku."
Dan ini hanya dapat dibuat oleh orang-orang yang takut pada ALLAH saja.
 
 
 
 

BAB 12 Regu dalam Pemerintahan


HUKAMA' pernah berkata:
Kebenaran yang tidak bersistem akan dapat dikalahkan oleh kebatilan yang bersistem.
Kata-kata itu memberi kefahamkan bahwa 'pejuang kebenaran' yang tidak berdisiplin akan dikalahkan oleh pejuang-pejuang kebatilan yang berdisiplin .
Pasukan pemain bola pun kalau ingin menang mesti menjadi regu yang padu. Sekiranya setiap pemain ikut selera masing-masing, sepak ke mana saja mereka suka tanpa mengikuti disiplin permainan yang tepat, niscaya mereka akan gagal.

Seorang pemimpin Islam, yang menginginkan kejayaan dalam pemerintahan mesti menyiapkan satu tim kepemimpinan yang jitu dan padu. Untuk membuat sebuah rumah, seorang arsitek mesti menyediakan pekerja yang cukup dan terlatih di dalam berbagai bidang, apalagi untuk membangun satu sistem hidup Islam yang syumul dalam sebuah negara, yang di dalamnya terdapat berbagai kementerian dengan dasar dan bidang masing-masing. Gambarkan jika seorang arsitek membuat bangunan seorang diri. Bagaimana jadinya? Juga gambarkan kalau pemimpin itu hanya memikirkan dirinya saja dengan membiarkan orang-orang bawahannya berbuat hal masing-masing.

Seorang khalifah, presiden atau perdana menteri di zaman modern ini, di belakangnya minimal berbaris :
  1. Gubernur-gubernur.
  2. Menteri-menteri Pusat.
  3. Pegawai-pegawai pemerintahan.
  4. Rektor universitas bersama dosen-dosen dan guru-guru besar.
  5. Pemimpin media massa termasuk tv dan surat kabar.
  6. Pakar-pakar ekonomi dan jutawan-jutawan negara.
  7. Doktor-doktor dan pengelola rumah sakit.
  8. Ketua-ketua hakim, hakim dan pengacara.
  9. Duta-duta ke luar negeri.
  10. Ketua polisi dan ketua tentara.
Itulah orang-orang yang akan membantunya untuk menjayakan sebuah Negara Islam. Kesemua bidang kerja itu mesti menjalankan dasar Islam yang dibuat oleh khalifah atau keputusan hasil syura Majelis Ahlul Halli Wal 'Aqdi yakni anggota Majelis Syuyukh (Majlis Eksekutif) atau dengan kata lain oleh pemerintah.
Itulah golongan pelaksana dasar kerajaan. Atau orang-orang yang menjalankan dasar pemerintah. Mereka tidak boleh membuat dasar sendiri. Kalaupun mereka memiliki undang-undang tersendiri,  cita-cita tersendiri, rusaklah program membangun Islam oleh pemerintah. Atau kalau mereka lalai dalam tugas atau tidak suka dengan pemerintah, itupun dapat menggagalkan rancangan negara.

Oleh karena itu, tim ini mesti betul-betul ikut disiplin , rajin dan taat pemimpin. Di antara hal-hal penting yang  mesti lakukan betul-betul oleh orang-orang ini adalah:
  1. Menggunakan dasar perjuangan pemimpinnya itu sebagai dasar perjuangan mereka.
  2. Menggunakan tujuan perjuangan pemimpin sebagai tujuan perjuangan mereka.
  3. Menggunakan buah fikiran pemimpin mereka sebagai buah fikiran mereka. Dengan maksud mereka itu sefaham. Seolah-olah kepala mereka satu.
  4. Mereka mesti menjadi orang-orang yang bertakwa. Takwa itulah yang menjamin kejujuran, amanah, bertanggung jawab, selamat dari fitnah perempuan dan lain-lain.
  5. Meniru  sikap, tindakan, akhlak dan cara hidup pemimpin.  Dengan kata lain, mereka itu adalah bayangan pemimpinnya.
  6. Menjalin ukhuwah dan kasih sayang sesama mereka bagaikan satu keluarga besar, dengan pemimpinnya bagaikan ayah dan ibu.
Alangkah indahnya sebuah pemerintah yang kaki tangan, mata dan telinga semuanya bekerja keras untuk menjayakan cita-cita yang satu, dengan satu hati dan satu fikiran yang masing-masing bertakwa kepada ALLAH. Sebaliknya alangkah kusutnya pemerintahan yang bercampur-aduk antara berbagai niat, kepentingan, mazmumah dan macam-macam buah fikiran. Pemimpin nomor satu dengan kefahamannya, pemimpin nomor dua dengan ragamnya, pemimpin nomor tiga dengan tipu dayanya, demikian pula pemimpin-pemimpin seterusnya. Apa yang akan terjadi pada negara yang mereka perintah itu? Bolehkah dikatakan sebagai Negara Islam?

Mau tidak mau, pemimpin nomor satu mesti menyediakan pasukan pemerintah dan pengurus-pengurus negara yang satu cita-cita, bertakwa, sama buah fikirannya, saling berkasih sayang dan menuju ke tujuan yang satu. Barulah munasabah dia membawa satu perubahan menuju Islam yang syumul, sesuai dengan cita-cita dan dasar perjuangannya. Negara Islam tidak dapat tertegak kalau hanya menjadi cita-cita pemimpin nomor satu saja.

Untuk tujuan di atas, langkah yang sebaik-baiknya bagi seseorang yang memiliki cita-cita memerintah, adalah memulai dengan melahirkan kawan-kawan dan pembantu- pembantunya. Mulai dengan mendidik seorang demi seorang untuk menjadi seperti dia, baik dalam cita-citanya, ilmunya, jiwanya, kasih sayangnya dan lain-lain. Hingga orang-orang itu merasa dia adalah ketua dan gurunya, walaupun dia sendiri tidak mengisytiharkannya begitu. Lama-kelamaan tentu terkumpul banyak kawan-kawannya hingga terbentuk sebuah jemaah walaupun tanpa daftar resmi. Jemaah yang satu hati dan fikiran itu, diberi tugas masing-masing menurut kebolehan, minat dan profesi untuk membangun proyek dalam jemaah sekaligus sebagai latihan memerintah. Maka terjadilah sebuah pemerintahan kecil Islam bagai satu pasukan pemain bola yang begitu padu, jitu dan berdisiplin.

Apa yang saya sebutkan itu, adalah cara-cara yang dibuat sendiri oleh Rasulullah SAW. Baginda memulai pembinaan empire Islam dengan mendidik seorang demi seorang seperti yang digambarkan. Dialah guru, pemimpin, perancang, pemikir dan ayah yang mendidik, memimpin dan membagi-bagi kerja kepada anak-anak menurut bidang masing-masing.

Keluarganya kian membesar, gabungan berbagai bangsa dan negara. Maka dengan ciri yang tetap sama, terjadilah sebuah kerajaan Islam di Madinah, yang kemudian membesar, mengIslamkan 3/4 dunia. Rasulullah menjadi ayah dan pemimpin seumur hidup. Siapa yang masuk Islam, belajar darinya dan menganggap dia adalah guru bahkan ayahnya. Inilah dia sebab utama berhasil dan gagahnya kepemimpinan baginda.
Hal itu kelihatan tidak berlaku lagi sejak beberapa ratus tahun belakangan ini. Umat Islam berjuang tanpa meniru disiplin Nabinya. Mereka lebih kebarat-baratan. Mereka memulai cita-cita Negara Islam dengan mendaftarkan nama anggotanya di bawah satu badan terdaftar resmi baik politik atau bukan. Pendaftaran itu juga didasarkan pada kehendak musuh politiknya. Ahli yang terdaftar itu hanya didasarkan kepada kemauan individu tersebut dengan kesediaan membayar iuran beberapa rupiah. Tanpa memperhitungkan apakah mereka betul-betul bercita-cita Islam, mau dipimpin, sanggup taat, tanpa kepentingan dan tepat ilmunya.
Mereka pun membuat musyawarah untuk memilih pemimpin. Tanpa memperhitungkan apakah dia itu seorang pendidik, guru dan ayah. Keutamaan pemimpin hanya diukur pada ijazah dan kepandaian berbicara. Maka berjalanlah perjuangan tanpa tujuan dan langkah-langkah yang diarahkan. Hati dan fikiran tidak disatukan melalui satu sistem tarbiah yang lengkap. Tarbiah yang berkesan, di mana hati, fikiran dan fisik betul-betul Islam, dari buah fikiran yang benar-benar menafsirkan Al Quran dan Hadist dari seorang pucuk pimpinan.
Maka tidak heran, pengikut tidak dapat didisiplinkan untuk membangun cara hidup Islam dalam seluruh sistem hidup yang diperlukan oleh umat Islam, sekalipun dalam jemaah yang kecil. Apalagi kalau besar. Lalu dapatkah jemaah itu menglslamkan sebuah negara dan dunia seluruhnya?
 
 
 
 

BAB 13 Bagaimana Mengumpulkan Uang dan Membangun Ekonomi dalam Negara Islam


SEBUAH Negara Islam sangat jauh bedanya dengan sebuah negara yang tidak Islam. Dengan kata lain, negara yang rakyatnya mengamalkan sistem hidup Islam sangat berbeda dengan negara yang mengamalkan sistem-sistem hidup sekuler. Sebabnya ialah sistem hidup Islam itu mempunyai dasar dan tujuan yang jauh berbeda dengan sistem lain. Dalam soal ekonomi negara, Islam mengharamkan riba, tipuan, korupsi dan penindasan. Hutang piutang juga tidak digalakkan. Agar negara dan rakyat tidak mudah dicatur oleh orang lain. Pemubaziran dan membuang harta dengan sia-sia dan kurang bermanfaat ditentang. Hasil-hasil pengeluaran dari sumber-sumber yang haram seperti riba, pelacuran, judi dengan cara-cara yang tidak halal ditolak. Bahkan sumber yang makruh pun dihindarkan seperti hasil tembakau.

Negara Islam, negara yang berdikari dalam soal ekonomi. Maksudnya, ia dapat berdiri sendiri tanpa minta sedekah atau berhutang dan bergantung dengan orang lain. Lebih-lebih lagi dengan musuh-musuh Islam. Bahkan sepatutnya Negara Islam itu mempunyai kelebihan harta dan uang, yang melimpah ke negara umat Islam yang lain. Sebab itu dalam sejarah, negara-negara Islam mempunyai tamadun yang luar biasa dan mengagumkan. Bahkan umat Islam telah pernah menjadi empire memerintah 3/4 dunia,  mempunyai sistem percaturan ekonomi Islam yang begitu licin dan berhasil.

Dengan izin ALLAH, saya akan coba membentangkan di sini bagaimana caranya Islam membina keuangan dalam negara serta melancarkan proyek ekonomi rakyat, sistem pembagian harta untuk mencapai sebuah negara yang aman, makmur dan mendapat keampunan ALLAH.

Sumber sumber Keuangan

1. ALLAH SWT berfirman:
Barangsiapa yang bertakwa kepada ALLAH niscaya dilepaskan dari masalah hidup dan diberi rezeki dari sumber yang tidak diduga. (Ath Thalaq 2-3)
FirmanNya lagi:
Kalau penduduk satu kampung itu beriman dan bertakwa, Kami (ALLAH) akan bukakan barakah dari langit dan bumi. (Al A'raf 96)

Dengan janji-janji yang pasti itu, maka dalam negara yang orang-orangnya mayoritas bertakwa kepada ALLAH, niscaya terdapat rezeki-rezeki yang ALLAH datangkan dengan cara-cara yang tidak disangka-sangka. Di samping itu segala usaha akan diberkati, yakni usaha yang sedikit mendapat hasil yang banyak apalagi kalau usahanya besar. Misalnya, tanam-tanaman subur memberi hasil lumayan, binatang-binatang ternak berkembang biak dan menghasilkan susu atau daging yang banyak. Nelayan pulang dari laut membawa bakul atau wadah yang penuh dengm hasil tangkapan. Itulah negara yang diberkati. Ekonomi di sudut itu sudah dilupakan orang sekalipun ulama-ulamanya. Bahkan orang akan tertawa karena tidak masuk akal.
Untuk itu pemerintah mesti mengambil berat soal takwa mereka dan juga takwa rakyat jelata. Karena takwa adalah rahasia utama dan perkara asas untuk kejayaan ekonomi dalam Negara Islam. Pendidikan takwa itu mesti menjadi dasar dalam sistem pendidikan di sekolah dan untuk orang dewasa.

2. Pemerintah dan rakyat jelata yang bertakwa dalam Negara Islam mesti membuktikan ketakwaan mereka dengan sifat khidmat, pemurah, mengutamakan orang lain, zuhud dan qanaah. Yakni dapat hidup secara sederhana dan merasa cukup dengan kesederhanaan itu. Batas kesederhanaan yang dimaksudkan ialah hidup dalam keadaan cukup keperluan asas dan kemudahan-kemudahan hidup. Keperluan asas yang dimaksudkan ialah tempat tinggal, makanan-makanan asas, pakaian dan sejenisnya secara sederhana yakni tidak berlebihan dan tidak kekurangan.
Kemudahan-kemudalan hidup seperti kendaraan, listrik, air, telepon, keperluan dapur, perabot rumah dan lain-lain yang semuanya berguna untuk memudahkan menjalankan tanggung jawab dan memberi faedah untuk rakyat. Kelengkapan rumah atau hiasan yang haram, sia-sia dan mubazir tidak dibenarkan oleh Islam. Pemubaziran itu haram hukumnya. Itu ditegaskan oleh ALLAH dengan firmanNya:
Sesungguhnya orang-orang mubazir mereka itu adalah saudara syaitan. Dan syaitan itu kufur terhadap Tuhannya.(Al Isra': 27)

Dalam Islam, taraf hidup pemerintah dan rakyat sama saja. Laksana anak dengan ayah, yang tinggal dalam sebuah rumah, tentu tidak berbeda, kecuali mungkin keperluan ayah lebih daripada keperluan anak-anaknya. Dan kemudahan hidup ayah lebih daripada kemudahan yang dikehendaki oleh anak-anak. Karena ayahnya itu memerlukan kemudahan dalam mengurus dan mengendalikan tanggung jawab untuk kepentingan anak-anaknya. Itu saja bedanya.

Pemubaziran sangat ditentang. Menghabiskan harta dengan sia-sia juga dilarang. Artinya dalam Negara Islam, tidak ada pemerintah atau orang kaya yang hidup bermewah-mewahan dan berfoya-foya. Mereka hidup sederhana. Kelebihan harta mereka (kalau ada) adalah untuk tabung-tabung jihad dan untuk rakyat yang memerlukan. Kekayaan orang kaya adalah untuk menampung keperluan negara dan rakyat yang susah. Bukannya hendak menumpuk-numpuk harta untuk berfoya-foya dan membuang harta dengan sia-sia.

Tujuan ALLAH menciptakan miskin dan kaya ialah supaya kedua golongan saling memberi dan menerima untuk menambah ukhuwah antara mereka. ALLAH tidak bermaksud supaya orang kaya berbangga dan si miskin sakit jiwa. Sebab itu menurut Islam, dalam harta orang kaya itu ada hak orang miskin yang mesti ditunaikan. Sekiranya tanggung jawab itu diabaikan, masalah dan kepincangan akan berlaku dalam masyarakat. Beban dan dosa-dosanya juga ditanggung oleh orang kaya. Kasus mencuri, merampok, hasad dan membunuh akan dilakukan oleh orang-orang miskin yang jahat kepada si kaya yang sombong dan bakhil. Huru-hara itu

Dalam keadaan pemerintah dan rakyat hidup sederhana, maka kekayaan negara akan terkumpul untuk digunakan dalam proyek-proyek pembangunan milik rakyat bersama. Negara dan rakyat akan menjadi makmur dan maju tanpa perlu minta sedekah atau berhutang sana-sini, karena akan menghilangkan kemerdekaan serta menjatuhkan harga diri agama, negara dan bangsa.

3. Sumber keuangan negara juga dapat diperoleh dari zakat, baik zakat harta atau zakat fitrah. Hal itu memang diwajibkan oleh Islam. Sebab itu pemerintah mesti serius dalam usaha mendidik rakyat agar semuanya membayar zakat. Yakni dididik dengan iman, betapa orang yang membayar zakat diberi ganjaran yang besar oleh ALLAH dan sebaliknya azab Neraka untuk yang tidak berzakat. Sayidina Abu Bakar telah memerangi golongan yang tidak mau membayar zakat. Kalaulah hukum itu diberlakukan betul-betul oleh pemerintah yang berwibawa, niscaya uang zakat akan lebih berperanan dalam kehidupan. Dan bila uang-uang tsb dibagi-bagikan dengan betul kepada delapan asnaf tersebut, niscaya beban negara akan berkurang, kehidupan fakir miskin dapat sedikit dilkan dan akan menghasilkan macam-macam kebaikan insya-ALLAH.
Selain zakat, orang kaya juga sangat dianjurkan agar bersedekah, mewakafkan harta, menjamu, berkorban, membantu dalam kesusahan, membantu biaya pengobatan, memberi bea siswa dan dalam usaha-usaha atau perniagaan rakyat kecil-kecilan, membantu sekolah-sekolah, mesjid, membuat jalan raya dan lain-lain. Anjuran itu sangat banyak dan jelas dalam Al Quran dan Hadist. Bahkan Rasulullah dan para Sahabat berhabis-habisan harta untuk jihad di jalan ALLAH. Mereka ingin menyimpan kelebihan harta dunia itu untuk Akhirat. Sebab mereka ingin selamat dari penghisaban di Padang Mahsyar yang dahsyat.

Sebab itu untuk hidup di dunia mereka mengambil  untuk kemudahan hidup sekedar keperluan. Kekayaan mereka diserahkan kepada ALLAH yakni untuk menegakkan masyarakat dan tamadun Islam. Mereka sengaja memilih kemiskinan di dunia untuk menegakkan hukum ALLAH di dunia dan menjadi orang kaya Akhirat. Itulah pilihan hidup mereka. Pilihan yang bijaksana, karena mengutamakan sesuatu yang kekal abadi.
Negara yang dapat melaksanakan hidup sederhana baik di kalangan rakyat maupun pemerintah, dapat pula mengumpulkan uang zakat serta orang-orang kaya dapat bertindak menjadi bank kepada masyarakat, semangat pengorbanan untuk jihad fisabilillah pun tinggi, niscaya mereka dapat berdikari dalam soal ekonomi. Beban hutang negara dapat diselesaikan ataupun bila negara belum berhutang, tidak perlu berhutang lagi. Untuk membuktikan itu cukup saya perhitungkan sebagai berikut :
Di Malaysia misalnya ada 100 orang, di mana tiap-tiap orang mengambil gaji bulanannya sebanyak RM10 ribu sebulan. Artinya uang negara sebanyak RM l juta telah disia-siakan. Kalau mereka hanya mengambil RM3000 sebulan, berapa banyak uang negara dapat diselamatkan.

Tapi untuk mendapatkan suasana hidup bertakwa itu tidak mudah. Membuat orang-orang kaya bersifat pemurah bukan mudah. Membuat pemerintah menjadi orang-orang yang zuhud bukana mudah. Menjadikan orang miskin redha dan sabar, bukan mudah. Perlu ada usaha yang serius dan sungguh-sungguh dari semua golongan terutama dari para pemerintah dan para ulama. Pendidikan takwa yang sangat berkesan perlu diusahakan. Saudara pembaca dapat merujuk hal ini dalam buku saya PENDIDIKAN RASULULLAH.

Membangun Ekonomi Rakyat

Sesudah mengumpulkan uang negara melalui cara-cara hidup yang disebutkan tadi, sekarang saya akan bentangkan bagaimana pemasukan uang dari sumber-sumber yang dapat diusahakan oleh rakyat. Semoga rancangan ekonomi itu benar-benar dapat menyelesaikan masalah ekonomi umat Islam.

1. Biasanya ALLAH telah melimpahkan rezeki untuk negara. Sebab rezeki itu adalah rahmat dan anugerah dari ALLAH yang telah dijanjikan. Terhadap seseorang yang memiliki anak yang banyak pun ALLAH berpesan, jangan bimbang dengan rezeki anak-anak. FirmanNya:
Dan janganlah kamu membunuh anak kamu (membatasi kelahiran anak) karena takut kemiskinan. Kamilah yang memberi rezeki kepada kamu dan juga mereka.(Al Isra': 31)

Demikian juga dalam negara. Sebab itu ALLAH melimpahkan macam-macam harta di dalam negara. Misalnya di Malaysia terdapat bahan-bahan galian seperti emas, perak, timah, minyak dan lain-lain. Ada juga khazanah hutan seperti balak kayu. Di laut ada ikan, di darat ada hasil pertanian dan lain-lain. Semua itu adalah rahmat dan limpahan rezeki dari ALLAH yang kalau dibagikan dengan adil pasti cukup untuk mewujudkan kemakmuran kepada rakyat dan negara. Cara untuk menggunakan khazanah kekayaan negara itu dengan sebaik-baiknya ialah:
a. Melibatkan rakyat atau paling tidak orang miskin untuk memiliki saham dalam mengusahakan pengeluaran khazanah itu. Dengan diberikan saham kepada mereka secara subsidi dari pemerintah.
b. Membuat perusahaan untuk mengusahakan pengeluaran kekayaan bumi tsb, supaya hasilnya merata dan melimpah-ruah kepada negara dan rakyat, sekaligus menambah pendapatan rakyat.
Kalaulah langkah-langkah ini dapat dijayakan, yang tentunya dimulakan dengan jiwa-jiwa takwa insan-insannya, maka harta tidak lagi tertumpuk dalam tangan beberapa individu saja tetapi menjadi milik bersama rakyat dan negara.
Perlu diingat, di negeri manapun yang memiliki sumber minyak,  balak atau sumber kekayaan lain bagi negeri itu, pemerintah mesti menggunakan hasil-hasil pendapatan tersebut untuk membangun negeri itu terlebih dahulu. Sebelum uang itu dialirkan ke pusat atau ke tempat lain. Pembangunan seperti jalan raya, bea siswa, mendirikan rumah untuk orang miskin dan kemudahan serta keperluan lain.

2. Supaya umat Islam dan rakyat dapat menjadi pengusaha, penyedia dan pengeluar barang halal, suci dan bersih, pemerintah mesti menggalakkan industri-industri kecil atau home industry di kalangn rakyat. Yakni menimbulkan perusahaan kecil-kecilan di rumah masing- masing untuk membuat makanan ringan, minuman dan kerajinan tangan. Cara itu tidak memerlukan tahap dan biaya penyelenggaraan yang besar.
Penerangan tentang pentingnya rakyat menyediakan tenaga dalam kegiatan-kegiatan ekonomi seperti itu mesti dibuat secara serius dari masa ke masa. Yakni dengan memberi keterangan tentang peranan kegiatan tersebut sebagai fardhu kifayah yang sangat dituntut oleh Islam,  demi tertegaknya ekonomi yang suci, halal dan menyeluruh. Orang-orang bertakwa mesti membuktikan iman mereka dengan menjalankan hukum-hukum ALLAH itu dalam kehidupan mereka.

Untuk menjamin berlangsungnya proyek yang penting itu pemerintah mesti menyediakan tenaga dan uang yang cukup untuk membantu perjalanannya serta menyelesaikan masalah pemasaran dengan mendirikan agen-agen yang berhubungan. Atau menggiatkan jalinan kerja sama antara usaha di kalangan rakyat. Paling tidak di kalangan mereka yang terlibat dengan home industry. Untuk tujuan menyediakan bahan mentah serta mengumpulkan hasilnya untuk dipasarkan baik di dalam atau di luar negeri.
Gambarkanlah keadaannya bila proyek itu dapat dijalankan dengan baik, negara akan mempunyai hasil kekayaan buatan anak-anak dalam negeri secara halal, pengangguran dapat dihapuskan, pendapatan rakyat dapat ditingkatkan dan selamat dari tekanan-tekanan golongan kapitalis.

3. 9/10 rezeki ada dalam perniagaan. Demikianlah Rasulullah memberitahu kita. Jadi kekayaan umat Islam dapat dicari melalui perniagaan. Pemerintah mesti melatih, mendidik dan membuka peluang-peluang perniagaan sebanyak-banyaknya kepada rakyat. Hal itu adalah ibadah fardhu kifayah yang dituntut. Jika sekiranya tidak dilakukan, dosanya akan ditanggung bersama. Umat Islam mesti memiliki tempat berbelanja sendiri untuk kemudahan rakyat dan mesti berjalan menurut cara Islam.

Bantuan subsidi hendaklah diberikan kepada rakyat yang sudah menunjukkan potensi yang baik. Pemerintah mesti adil dalam memberikan subsidi, supaya benar-benar merata dan tepat pada orangnya. Subsidi jangan digunakan untuk kepentingan politik. Selain dari itu, pelaksanaan kerja sama antar perusahaan dan sistem mudarabah (yakni berbagi tenaga dan modal antara kedua pihak) juga dapat memperbanyak gelanggang perniagaan di kalangan rakyat.Kejayaan perancangan itu tergantung pada takwa, kesungguhan, bantuan-bantuan kepakaran dan modal. Untuk itu pemerintah mesti serius menyediakan semua itu. Di mana saja di dunia ini, siapa yang berjaya menjadi golongan peniaga, merekalah yang dapat menjadi pemegang tampuk ekonomi negara. Umat Islam mesti berdaya upaya untuk mendapatkan hal itu.Sebab kegagalan selama ini adalah karena pemerintah hanya mementingkan soal-soal kepakaran dan modal. Tetapi tidak atas dasar takwa. Orang yang membeli dan menerima, kedua-duanya tidak bertakwa. Sebab itu ALLAH lepas diriNya. Kalau orang kafir berjaya memang atas dasar quwwah (usaha lahir). Tetapi umat Islam mesti atas dasar takwa. Itulah yang tidak difahami oleh umat Islam selama ini termasuk di kalangan para pemerintah dan sebagian alim ulama.

4. Pertanian dan peternakan juga sangat penting dalam negara, sebagai sumber bahan mentah. Negara mesti memenuhi keperluan pangan dan keperluan asas sendiri tanpa mengharapkan sumbangan dari negara lain. Untuk itu kesadaran dan jiwa bertani dan beternak itu mesti ditanamkan sungguh-sungguh dalam diri rakyat. Buatlah rakyat melihat pertanian ini satu kerja mulia dan tinggi nilainya di sisi ALLAH  karena sebagian dari bahan mentah itu adalah keperluan asas kepada rakyat.Pemerintah mesti mencari jalan untuk membuat golongan petani menjadi golongan yang terhormat baik di segi pendapatan, kehidupan atau pergaulan. Pemuda-pemuda dan pemudi-pemudi mesti bersedia ke ladang, tanah yang terlantar mesti diusahakan. Untuk itu kita mesti meniru wilayah Yunnan dan wilayah-wilayah lain di Negeri Cina dalam sudut kesungguhan mereka, bukan di sudut takwa. Pertanian mereka sungguh mengagumkan. Seperti dikatakan tadi, subsidi, mudharabah dan kerja sama antar perusahaan adalah bantuan-bantuan yang sangat baik untuk menjayakan proyek itu. Sekali lagi, demi kejayaannya, hal tersebut jangan dijadikan mainan politik orang-orang tertentu.
5. Sekiranya usaha-usaha serius dalam negara tidak juga menyediakan keperluan yang cukup, maka pemerintah mesti mengusahakan supaya rakyat mengimpor keperluan dari luar. Kalau boleh, utamakan barang-barang dari negara umat Islam, dengan tujuan membantu ekonomi umat Islam di sana. Keuntungan lain dari kerja-kerja ekspor dan import ini adalah terjalinnya hubungan baik antara kedua negara dan rakyat mereka.

Saya kira cukuplah sampai di sini dulu rancangan umum tentang ekonomi negara. Di mana kalau dapat dilaksanakan secara menyeluruh, hasilnya sudah cukup untuk mewujudkan suasana makmur dalam negara. Di mana semua rakyat merasa cukup dan tentram tinggal di dalam negara. Pembangunan tamadun lahiriah akan dapat dijayakan dengan pesat tanpa menanggung hutang. Tabung-tabung kebajikan senantiasa terisi dan masalah masyarakat akan berkurang, insya ALLAH. Gambaran suasana dalam Negara Islam dapat disaksikan dengan jelas dalam negara-negara salafussoleh. Mudah-mudahan sejarah itu akan berulang sekali lagi, insyaALLAH.
 
 
 
 

BAB 14 Jangan Jadi Perampok

SATU pengkhianatan dan penzaliman besar yang dibuat oleh pemerintah-pemerintah dunia hari ini adalah menjadi kaya-raya hasil dari jabatan dan kedudukan memerintah. Hal itu jauh bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam Islam, seperti yang dipraktekkan oleh Rasulullah, Khulafaur Rasyidin dan Khalifah Umar Abdul Aziz, mereka lebih zuhud dan miskin sewaktu memerintah. Bahkan mereka mati tanpa meninggalkan harta pusaka apa-apa. Jadi kalau ada orang yang menjadi kaya-raya karena tugas itu, artinya satu kesalahan besar sudah dibuat. Rasanya tidak keterlaluan ka lau saya katakan, mereka itu adalah pemerintah yang telah merampok harta rakyat.

Karena merasa khazanah kekayaan negara diserahkan ke tangan mereka, maka mereka bebas untuk menggunakannya, lalu kekayaan itu diambil untuk kepentingan diri, keluarga dan kerabat mereka saja. Mereka menipu rakyat dan manusia seluruhnya. Mereka memutar lidah mengatakan tentang kebaikan tetapi sikap mereka di belakang rakyat jahat sekali. Firman ALLAH:
Dan sebagian manusia ketika berucap mengenai kehidupan di dunia sungguh mengagumkanmu. Dia bersumpah membuat pengakuan segala isi hatinya bulat untuk ALLAH, sedangkan dia itu adalah musuh yang sejahat-jahatnya. Apabila dia berpaling (di masa yang lain) berusaha merusak muka bumi, membinasakan tanam-tanaman dan binatang ternak. Dan ALLAH tidak suka kepada kerusakan.(Al Baqarah: 204-205)

Mereka menumpuk harta sesama mereka, saling memperebutkannya, lalu mereka berpecah belah, jatuh- menjatuhkan dan menyanjung, menjilat untuk mendapatkan kekayaan dan jabatan. Kebaikan kecil yang dibuat dibesar- besarkan kepada rakyat dengan melupakan perampokan besar yang mereka lakukan. Hampir di seluruh dunia hal perampokan ini sedang terjadi sekarang. Mereka memberi RM600 pada rakyat sebulan, paling banyak RM3000. Sedangkan mereka sendiri mengambil RM30 ribu sebulan, tidak termasuk biaya perjalanan, lodging dan lain-lain lagi. Itu yang resmi, yang tidak resmi lebih besar dari itu.

Apa alasan pemerintah untuk mengambil gaji sebanyak itu? Apa yang mereka makan, apa yang dipakai dan apa yang mereka gunakan? Besarkah perut mereka, badan mereka dan lain-lain hingga memerlukan uang sebanyak itu untuk keperluan bulanan mereka? Kalau rakyat dapat mencukupi dengan RM600 sebulan, artinya pemerintah sudah melebihi keperluan asas rakyat berlipat ganda banyaknya. Itu suatu pembohongan dan penipuan besar yang telah dilakukannya. Barangkali selain itu, pendapatan tidak resmi lebih banyak lagi. Maklum tidak ada yang berani mengintip mereka. Kalau begitu, ternyata sekarang dunia sedang diperintah oleh perampok-perampok dan penipu-penipu besar. Negara terpaksa menanggung hutang yang banyak.
Tidak aneh mengapa rakyat di hampir seluruh dunia hari ini sudah tidak segan-segan menunjukkan sikap penentangan terhadap pemerintah. Rakyat yang peka dan cerdik sudah tidak boleh ditipu lagi. Mereka mengharapkan keadilan dan menginginkan kepemimpinan yang benar-benar adil dan bersih. Hal itu hanya dapat dibuat oleh pemimpin  bertakwa yang cinta Akhirat menurut cara pemerintahan Islam yang tulen.
Dalam Islam, jabatan pemimpin bukan kerja untuk mendapatkan gaji. Sebab pemerintah bukan pengelola atau pengurus pabrik. Kalau pengurus pabrik, bolehlah mengambil gaji berapapun karena kilang itu dia yang punya. Gajinya boleh jauh lebih besar dari buruh. Atau dia sebagai pengelola atau pengurus pabrik kepunyaan majikan, dia boleh minta gaji sebanyak apapun yang dia inginkan menurut yang disetujui oleh majikannya. Negara bukan kepunyaan pemerintah tetapi kepunyaan bersama. Pemerintah bukan mengeluarkan modal untuk membangun negara. Mereka cuma diminta untuk menjaga, mengelola dan mengurusnya. Mereka menerima amanah mengendalikan perjalanan negara. Mereka tidak boleh mengambil gaji atas amanah itu.
Dalam Islam, pemimpin ibarat ayah kepada rakyatnya. Seorang ayah yang diamanahkan anak-anak untuk dijaga, tentu tidak akan mengambil gaji karena amanah itu. Bahkan dia yang akan mengorbankan hartanya untuk memastikan amanah itu benar-benar ditunaikan dengan baik untuk kepentingan anak-anak. Sebagaimana ayah hidup setaraf dengan anak, begitulah pemerintah dengan rakyat. Ayah yang tinggal serumah dengan anak-anak apakah akan berbeda hidupnya dengan anak-anaknya. Kalaupun berbeda ayah mungkin cuma makan sedikit lebih banyak sedikit, baju ayah sedikit lebih besar, ayah mempunyai mobil untuk memudahkan urusan tugasnya dalam mengurus kepentingan anak-anaknya. Tidak mungkin ayah akan minta digaji oleh anak-anak dan mengenakan biaya kepada anak-anak yang naik mobilnya. Dalam keadaan kesempitan, biasanya ayah sanggup lapar asalkan anak-anaknya kenyang. Tidak makan pun dia tak mengapa asalkan anak-anaknya selamat.

Ayah ingin menjadi ayah atas rasa tanggung jawab, bukan atas kepentingan. Demikian sepatutnya pemerintah sanggup menjadi pemerintah adalah karena rasa bertanggung jawab untuk mengurus hal-hal kenegaraan agar negara aman dan rakyat makmur. Keupayaan memimpin yang ALLAH berikan pada seorang pemimpin, adalah satu tuntutan untuk melaksanakan kewajiban menjaga negara dan rakyat. Kalau disalahgunakan, berdosalah hukumnya. Kalau rakyat yang baik itu cuma mengambil keperluan dan kemudahan hidup saja,  selebihnya diberi kepada pembangunan rakyat dan negara, maka sepatutnya pemerintah yang baik lebih-lebih lagi. Tentu bersedia untuk hidup sederhana dengan hanya mengambil keperluan dan kemudahan hidup saja dari harta negara. Selebihnya digunakan untuk pembangunan bersama negara dan rakyat jelata.
Akan saya buat satu tamsilan lagi untuk menunjukkan kedudukan pemerintah di sisi rakyat. Mereka bukan majikan terhadap pekerjanya. Sebab negara itu bukan kepunyaan pemerintah. Umpamakan negara itu sebagai sebuah rumah. Kalau ketuanya meninggal dunia, maka tentu diperlukan seorang ketua baru untuk mengendalikan rumah itu. Maka dilantiklah salah seorang anggota keluarga rumah itu yang paling layak. Yakni abang yang tertua dan tercerdik. Si abang pun kemudian menjalankan amanah itu dengan sebaik-baiknya. Demi keselamatan dan keharmonian rumah tangga, apakah ia akan minta gaji dari adik-adiknya, bersikap pilih kasih dan membiarkan adik-adik hidup sendiri? Tentu ia yang akan berkorban segala-galanya demi kebahagiaan keluarga mereka, kalau ia betul-betul abang yang baik.

Pemerintah tidak memiliki hak untuk berbuat sewenang-wenang dalam negara. Kalau hal itu sudah terjadi, tunggulah kehancuran bangsa dan negara tersebut. Lihatlah, paling tidak huru-hara akan berlaku. Dan bagi pemerintah, tunggulah Neraka di Akhirat. Moga-moga para pemerintah di dunia hari ini akan insaf dan jujur untuk mengakui kesalahan mereka terhadap rakyat den bersedia untuk mengubah corak pemerintahan yang zalim kepada pemerintahan Islam.
 
 
 
 

BAB 15 Pemerintah Contoh

PEMERINTAHAN ISLAM yang sebenarnya, yang sesuai dengan kehendak-kehendak Al Quran dan Hadist, hanya dapat ditegakkan oleh beberapa orang saja dalam sejarah. Itupun terjadinya tidak lama, sekitar beberapa tahun saja. Memang demikianlah sunnatullah bahwa kebenaran yang tulen itu tidak panjang umurnya. Bak bunga asli, tidak lama kembangnya dan cepat layu. Sedangkan bunga plastik, tahan lama.

ALLAH memunculkan pemerintahan contoh sesekali supaya manusia dapat membuat perbandingan antara pemerintah-pemerintah yang hak dan yang batil. Supaya manusia tahu arti kebatilan dan kebenaran. Supaya manusia mengakui kelemahannya dan sadar akan kehebatan Tuhannya.Pemerintahan Islam contoh itu hakikatnya pemerintah dari ALLAH. ALLAH sendiri langsung campur tangan dalam urusan-urusan pemerintahan tersebut. Mula-mula ALLAH melahirkan wakilNya, yakni seorang manusia, kemudian ALLAH memberi ilmuNya. ALLAH tanggung rezekinya, ALLAH jadwalkan langkah-langkah perjuangannya, ALLAH tipu musuh-musuhnya, ALLAH menjayakan segala-galanya. Hingga berakhirlah dengan satu bentuk kehidupan yang aman, makmur dan mendapat keampunan ALLAH.

Itulah yang terjadi pada Rasulullah SAW, yang kemudian disambung oleh Khulafaur Rasyidin (Sayidina Abu Bakar As Siddiq, Sayidina Umat Al Khattab, Sayidina Usman Ibnu Affan dan Sayidina Ali bin Abi Talib). Pemerintahan mereka hanya mengambil masa lebih kurang 30 tahun saja yaitu di awal-awal tahun hijrah. Hingga tahun 100 hijrah atau awal kurun kedua, lahir pula Khalifah Umar Abdul Aziz, diikuti 100 tahun selepas itu dengan lahirnya Imam Syafi'i sebagai mujaddid kurun kedua dan pemimpin thoifah untuk zamannya. Demikianlah seterusnya 600 tahun kemudian, muncullah Muhammad Al Fateh yang membebaskan Konstantinopel sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah. Tetapi sebelum itu telah lahir Salahuddin Al Ayyubi yang menawan kembali Baitul Maqdis. Mereka semua membawa pemerintahan contoh bertaraf ummah dan thoifah. Terutama Rasulullah SAW, betul-betul mewakili ALLAH untuk memimpin manusia kepada kebenaran hingga terbentuklah oleh baginda sebuah masyarakat dan kerajaan Islam kecil, tepat seperti yang ALLAH inginkan. Hakikatnya itulah  kerajaan yang dibentuk oleh ALLAH sendiri sebagai satu-satunya negara dan masyarakat terbaik untuk dicontoh dan ditiru oleh dunia sepanjang zaman.Bila Rasulullah wafat, artinya selesailah tugasnya memimpin dan memerintah umat, Sayidina Abu Bakar menyambung kerja-kerja tersebut. Diikuti oleh Sayidina Umar Al Khatttab, yang turut meniru kerja-kerja Rasulullah di zaman Pemerintahannya. Demikianlah seterusnya hingga kerajaan Islam yang adil dan baik itu tidak dapat ditiru oleh pemerintah-pemerintah selepas Khulafaur Rasyidin itu. Generasi selepas Sayidina Ali tidak cukup layak dan tidak memenuhi syarat-syarat untuk menegakkan pemerintahan yang adil. Hingga ALLAH melahirkan seorang pemimpin di setiap awal 100 tahun yang bertaraf mujaddid.
Rasulullah SAW bersabda:
ALLAH akan mengutus untuk umat ini, setiap awal 100 tahun mereka yang memperbaharui (mujaddid) urusan agamaNya.

Dengan cara-cara yang sesuai untuk mujaddid tersebut, ALLAH sendiri yang mendidik dan menjaganya, memberi rezeki dan ilmu serta kecerdikan dan lain-lain hingga berulanglah satu pemerintahan yang benar-benar adil, di tangan para mujaddid. Mereka dapat menepati kehendak Al Quran dan Sunnah RasulNya di zaman mereka. Sebenarnya apa yang mereka bawakan, betul-betul pembaharuan yang memeranjatkan orang sezamannya. Sebab apa yang diperjuangkannya tidak terduga dan tidak mampu dilakukan oleh orang lain. Orang lain pun tidak terfikir untuk berbuat apa-apa. Karena mujaddid itu sebenarnya orang yang ALLAH janjikan. Hadist di atas menjadi hujjah(bukti) kenyataan ini. Mujaddid adalah orang yang dijanjikan.

Selain mujaddid, belum pernah diceritakan adanya individu yang berjaya menegakkan pemerintahan yang adil. Banyak yang memerintah tetapi tidak adil. Memang mereka ingin berlaku adil tetapi ternyata tidak mampu. Sebab halangan, ujian dan masalahnya cukup banyak dan besar. Tidak ada yang tahan kecuali hanya orang-orang ALLAH.Saya sebutkan itu bukan bermaksud untuk melemahkan semangat pejuang-pejuang Islam dan yang berjuang menegakkan Islam. Sekali-kali tidak, karena  berjuang itu memang tuntutan agama. Siapa yang melakukannya sangat besar pahalanya. Terbunuh karenanya, syahid. Saya berkata demikian, karena melihat pejuang- pejuang Islam di dunia hari ini, cita cita mereka begitu besar, sedangkan kemampuan dan potensi yang ada kecil saja. Mereka berbincang tentang persoalan internasional dan Islamic Country. Sedangkan diri, keluarga dan jemaah atau partai (harakah) sendiri, tidak memiliki cukup kemampuan. Pengikut diajak berangan-angan besar. Sedangkan usaha, pengorbanan, tenaga, perpaduan dan jiwa, lemah sekali.  Hingga perjuangan Islam yang dielu-elukan dianggap hal yang lucu oleh para peninjau. Oleh pendukungnya tidak lagi disegani, karena jelas tidak ada wibawa.

Para mujaddid, pemimpin yang ALLAH lantik itu, bukan meminta kuasa memerintah dan tidak juga merebutnya. Sebab itu mereka tahu tugas memimpin itu tidak boleh diperebutkan. Bahkan mereka dapat menasihati, itu pun sudah cukup baik. Dalam keadaan mereka takut dengan kekuasaan itu, tapi sebaliknya manusia sangat menginginkan kepemimpinan dari mereka. Dengan kekuasaan ALLAH, ALLAH pun akan menyerahkan kuasa memerintah itu kepada mereka. Banyak orang tertarik dengan kepemimpinan mereka. Lalu mereka pun mendapat banyak pengikut. Jemaah mereka menjadi begitu berwibawa, kepemimpinan mereka sangat dikagumi. Dalam keadaan demikian, walaupun dia tidak meminta kuasa memerintah, namun ALLAH serahkan juga padanya.

Demikianlah hasilnya pemerintahan yang adil. Tetapi selain itu, pemimpin yang naik melalui demokrasi, umumnya tidak mampu berlaku adil, walaupun keinginannya begitu besar sekali. Sebab itulah saya peringatkan tadi, supaya pejuang-pejuang Islam jangan berangan-angan. Kalau kita rasa kita bukan orang yang dijanjikan ALLAH, rasanya cukuplah kita berjuang secara kecil-kecilan saja. Baiki diri, keluarga dan masyarakat serta jemaah dengan sungguh- sungguh. Kalau usaha itu berjaya, itu pun sudah cukup besar rasanya. Apa Artinya kita memerintah negara tetapi Islam tidak tertegak oleh kita. Orang hilang kepercayaan terhadap kita. Lebih baik kita menjadi penasihat kepada pemerintah, itulah yang lebih bijaksana rasanya.

Hal itulah yang telah dibuat oleh Imam Syafi'i ketika dia ditawarkan memerintah, lalu ditolaknya. Demikian juga Imam Ahmad, menolak tawaran memerintah. Mereka tidak malu memerintah tetapi tetap menasihati pemerintah agar berlaku adil. Orang yang bertakwa itu, sangat takut dengan ALLAH dalam urusan memimpin. Yang jelas mereka tidak memperebutkannya.Bertindak adil dalam pemerintahan tidaklah mudah. Sedangkan pemerintah yang tidak adil, tidak dapat lepas dari Neraka. Dalam pengalaman dunia, hanya beberapa orang saja pemerintah yang adil, yakni yang layak untuk ke Syurga. Selain mereka, semuanya ke Neraka. Apakah anda suka kiranya jabatan memerintah itu membuka pintu Neraka untuk anda? Tidak bukan? Sebab itu takutlah pada ALLAH kiranya anda dicalonkan untuk menjadi pemimpin. Umumnya pemimpin gagal dalam tugasnya. Terlalu sedikit yang berjaya.Memimpin sebenarnya kerja yang sangat berat dan sulit. Karena itu tidak munasabah untuk dijadikan rebutan. Kalau ada orang yang dapat lebih berbuat, kita sepatutnya bersyukur. Apakah kita ingin berebut untuk memanjat pohon kelapa? Tentu tidak, bukan? Kalau ada orang lain yang dapat membuatnya, kita merasa lega bukan? Demikianlah menjadi pemimpin yang adil, hakikatnya jauh lebih susah dari kerja memanjat pohon kelapa. Apa pendapat anda?Berikut saya paparkan satu contoh pemerintahan adil, yang sangat sulit dan berat untak dijayakan. Moga-moga kita dapat menirunya, kalau kita betul-betul ingin memimpin umat ini.


Sayidina Umar Al Khattab setelah menjadi khalifah

1. Sayidina Umar setelah menjadi khalifah sangat memperhatikan urusan manusia. Selepas dilantik menjadi khalifah, Beliau tidak berupaya tidur di waktu malam. Beliau berkata, "Aku tidak dapat tidur di waktu siang, takut urusan rakyat tidak sesuai. Aku tidak dapat tidur di waktu malam, takut urusanku dengan ALLAH tidak selesai."

3. Di waktu sembahyang malam, hatinya tidak dapat bertumpu pada shalat, karena fikirannya diganggu oleh urusan manusia, kemudian beliau pun menangis.

4. Setiap hari selepas shalat Subuh, Beliau duduk memikirkan urusan manusia serta membagi-bagikan rampasan perang (ghanimah) kepada orang-orang yang berhak. Yaitu rampasan perang yang disampaikan kepadanya oleh ketua-ketua tentara yang menawan negara-negara musuh.

5. Setiap kali beliau menerima harta, beliau senantiasa berfikir kepada siapa harta itu hendak diberikan.

6. Sayidina Umar pernah duduk di hadapan harta yang banyak dan rampasan perang yang sangat besar sekali. Kemudian beliau menyuruh sebagian Sahabat menghitungnya. Selepas itu beliau mengisytiharkan dasar pembagian harta. Ucapannya kepada orang banyak, "Demi ALLAH, tiada Tuhan melainkan Dia, tiada seorangpun di kalangan manusia melainkan baginya ada hak atas harta itu. Tiada seorangpun yang lebih berhak daripada orang yang lain. Saya juga tidak berhak, melainkan saya sama seperti salah seorang dari mereka."

7. Beliau senantiasa bergaul dengan manusia. Kemana saja beliau pergi, beliau senantiasa membawa tongkat kecil di tangannya. Siapa yang bersalah (melakukan kemungkaran dan dosa) dipukul dengan tongkatnya.

8. Sayidina Umar pernah melihat penjual susu menipu di sebuah pasar, lantas beliau memukulnya, kemudian mengancam untuk memenjarakannya. Selepas itu, susu tersebut dibagi-bagikan kepada fakir miskin dan beliau memberi peringatan bahwa siapa yang menipu akan diazab dengan azab yang menyakitkan. Kemudian beliau mengingatkan manusia tentang Sabda Rasulullah SAW, "Barang siapa menipu, maka bukanlah dari golongan kami."

9. Waktu siang Beliau mengelilingi pasar Madinah untuk memperhatikan keadaan rakyatnya. Di waktu malam beliau berjalan-jalan keluar untuk mengetahui keperluan rakyat dan di tangan kanannya ada tongkat.
10.Sayidina Umar pernah melihat ada di kalangan orang-orang yang beribadah di dalam masjid, yang tidak bekerja, lantas beliau memukulnya.

11. Sayidina Umar selalu bertanya kepada orang-orang yang ditemuinya di dalam masjid selepas shalat tentang usaha-usaha mereka. Jika didapat ada yang tidak mempunyai usaha, Beliau menggalakkan berniaga atau mendorong untuk menambah kemahiran.

12. Sayidina Umar tidak memberi zakat kepada muallaf karena Beliau berijtihad bahwa Islam telah kuat, berwibawa dan tidak berkeinginan mengambil hati seseorang.

13. Sayidina Umar sangat keras mendisiplinkan diri dan keluarganya. Beliau dan keluarganya tidak sampai terlalu kenyang dan berpakaian berlebih-lebihan.

14. Beliau pernah melihat seekor unta yang gemuk dan cantik lantas bertanya, "Siapa pemilik unta ini?" Ada yang menjawab, "Itu unta Abdullah bin Umar (anak Sayidina Umar)". Mendengar jawaban itu, beliau mengutus seseorang memanggil Abdullah. Setelah Abdullah hadir, Sayidina Umar berkata, "Beruntunglah engkau wahai anak Amirul Mukminin. Unta apa ini?" Abdullah menjawab, "Aku membeli dengan uangku sendiri. Aku berniaga dan melakukan apa yang dikehendaki oleh kaum Muslimin."
            Sayidina Umar berkata, "Orang yang melihat akan berkata, jagalah unta itu karena unta itu milik anak Amirul Mukminin. Hal itu membuat untamu gemuk dan bertambah subur. Keuntungan yang engkau peroleh dari unta Amirul Mukminin! Wahai Abdullah Ibnu Umar, ambillah modal yang dulu engkau gunakan untuk membeli unta itu dan untungnya kau berikan kepada Baitul Mal."

15. Sayidina Umar pernah memanggil anggota keluarganya, kemudian berkata, "Manusia semua melihat kepada kamu sebagaimana burung melihat daging. Apabila kamu melakukan sesuatu, mereka akan melakukan. Jika kamu hati-hati, mereka juga akan hati-hati. Sesungguhnya demi ALLAH, tidak ada seorangpun dari kalangan kamu yang melakukan apa yang kularang dilakukan oleh manusia melainkan aku akan azab dia berganda-ganda karena kedudukannya sebagai keluargaku."

16. Seorang Arab Baduwi pernah berkata kepadanya, "Ya Umar! Bertakwalah kepada ALLAH!" Lantas seorang yang ada di dalam majelis itu berkata, "Orang yang seperti engkau hendak berkata kepada Amirul Mukminin bertakwalah kepada ALLAH?" Lantas Sayidina Umar berkata, "Biarlah dia berkata, maka tidak ada kebaikan bagi kamu yang tidak mengucapkannya, juga tidak ada kebaikan bagi kami kalau tidak mau mendengarnya. Biarlah dia ucapkan kepadaku, maka itulah ucapan yang sebaik-baiknya."

17. Sayidina Umar pernah mengajak manusia berhimpun di masjid. Kemudian naiklah beliau ke atas mimbar dan berpidato,"Wahai sekalian Muslimin, apa yang akan kamu katakan kalau aku sudah cenderung dengan dunia, sedangkan karena kalian takut bersalah, maka tiada seorang pun di kalangan kamu yang sanggup menegah karena membesarkan aku. Jika aku baik, tolonglah aku. Jika aku bersalah, betulkan aku." Kemudian seorang lelaki berkata, "Demi ALLAH, jika kami lihat engkau telah keluar dari kebenaran, niscaya kami akan kembalikan kamu kepada kebenaran." Kemudian melompat seorang lelaki yang lain lantas berkata, "Demi ALLAH, ya Amirul Mukminin, jika kami melihat kamu menyeleweng, niscaya kami membetulkan engkau dengan pedang-pedang kami."
Kemudian Sayidina Umar berkata, "Moga-moga ALLAH merahmati kamu. Segala puji bagi ALLAH yang telah membuat ada di kalangan kamu, orang yang akan meluruskan Umar dengan pedang-pedangnya."

18. Sayidina Umar pernah berucap di atas mimbar, "Wahai manusia, aku akan berdoa, aminkanlah." Dia pun mengangkat dua tangan dan berdoa, "Wahai Tuhan, aku ini kasar, lembutkanlah aku untuk orang yang mentaati Engkau sesuai dengan kebenaran, karena menuntut keredhaanMu dan Hari Akhirat. Dan berilah aku rezeki kekerasan dan ketegasan terhadap musuh-musuhmu dan orang-orang yang fasiq dan munafiq dengan tidak menzalimi mereka dan tidak juga memusuhi mereka. Wahai Tuhanku, aku bakhil. Maka jadikanlah aku pemurah dengan tidak membuang-buang harta, mubazir dan tidak riya' serta bermegah-megahan. Jadikanlah aku dengan demikian itu, bertujuan karena ZatMu dan Negeri Akhirat.
"Jadikanlah aku merendahkan sayap dan diri terhadap orang-orang Mukmin. Ya ALLAH, aku ini telah banyak lalai, dan ilhamkan aku untuk mengingatMu di dalam keadaan apapun. Dan ingatkanlah aku kematian di setiap ketika. Wahai Tuhanku, aku ini lemah beramal untuk mentaatiMu, berilah aku rezeki, kegagahan dan kekuatan ke atasnya dengan niat yang baik dan yang tidak akan terjadi, kecuali dengan taufiq dan kemuliaanMu. Wahai Tuhan tetapkan aku dengan keyakinan, kebajikan dan kekuatan. Dan berilah aku khusyuk pada apa saja yang membuat Engkau redha padaku, dan berilah aku rezeki untuk muhasabah diri dan memperbaiki segala niat serta senantiasa mengawasi terhadap segala yang syubhat. Wahai Tuhan, rezekikanlah aku berfikiran dan mengambil perhatian pada apa saja yang akan diucapkan oleh lidahku dari kitabMu dan berilah aku kefahaman dan sangat memperhatikan pengertiannya dan mengkaji rahasia-rahasia dan beramal dengan apa yang tersimpan."

19. Selepas berdoa beliau berucap, "Wahai manusia, sesungguhnya Arab itu seumpama unta yang lemah dan akan menuruti orang yang menuntunnya, di mana saja dia dituntun. Sesungguhnya demi Tuhan, aku akan membawa kamu di atas hal kebenaran." Kemudian beliau pun turun dari mimbar dan menulis satu surat kepada petugas-petugasnya, meminta mereka sangat memperhatikan untuk memperbaiki urusan mengatur keuangan orang banyak dan bertanggung jawab terhadap keperluan-keperluan manusia. Selepas itu beliau berucap,"Wahai para gubernur sekalian, sesungguhnya kalau kami lihat harta ini halal bagi kami niscaya kami akan menghalalkan untuk kamu. Apabila tidak halal bagi kami, kami akan larang untuk diri kami, maka hendaklah kamu hindarkan untuk diri-dirimu."

20. Sayidina Umar sangat aktif mengirim tentaranya ke negara-negara lain seperti Iraq dan Syam, tetapi bukan untuk menjajah atau untuk kekayaan dunia. Beliau melakukan seperti yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan Sayidina Abu Bakar dengan tujuan mempertahankan Islam dari serangan musuh, menyebarkan ajaran Islam dan membebaskan manusia dari belenggu kehinaan dan penghambaan sesama manusia (oleh bangsa Parsi dan pemerintahan Rom), dan juga untuk membangun masyarakat manusia atas asas meneguhkan rasa persaudaraan di bawah satu naungan, satu agama, bertoleransi, adil dan memberi kebaikan. Caranya ialah mengajak manusia dengan cara yang bijaksana dan nasihat-nasihat yang baik. Hanya jika mereka memerangi, barulah akan diperangi.

21. Sayidina Umar pernah menasihati para kadhi (hakim) agar jangan menghukum dengan melihat yang zahir semata-mata. Beliau mengambil iktibar dari kisah Nabi Yusuf a.s. Sesungguhnya saudara Nabi Yusuf a.s. mencampakkannya ke dalam perigi, kemudian mereka kembali kepada bapak mereka dengan menangis.
22. Sayidina Umar sangat mesra dengan Sayidina Ali. Beliau selalu bersababat dengannya walaupun perbedaan umur di antara keduanya sangat jauh. Persahabatan antara keduanya sangat rapat dan mereka sangat berkasih sayang. Di antara satu sama lain senantiasa mengiktiraf kedudukan masing- masing.

23. Apabila Sayidina Ali menyebut namanya di sisi Sayidina Umar, Sayidina Umar akan berkata: "Ali orang yang paling pandai menghukum di kalangan kami." Apabila Sayidina Umar menghadapi kesamaran dalam suatu masalah, dan Sayidina Ali tidak ada bersamanya, hatinya tidak tenang dalam menghukum, lalu dia akan berkata, "Tidak ada keputusan sedangkan Abal Hassan tidak ada." Seringkali beliau menyebut, "ALLAH tidak akan menghidupkan saya di satu bani yang Abal Hassan tidak ada padanya."

24. Sayidina Ali juga mengakui kelebihan yang ada pada Sayidina Umar. Beliau selalu saja menyebut tentang kelebihan Sayidina Umar karena beliau pernah mendengar Rasulullah SAW menyebut, "Sebaik-baik manusia selepas Rasulullah SAW ialah Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar."

25. Sayidina Umar sangat amanah dalam menjaga harta Baitul Mal. Pada satu ketika dia naik ke atas mimbar hendak memberi nasihat, tiba-tiba dia merasa sakit. Ada orang mengatakan bahawa obatnya ialah madu lebah. Sedang di waktu itu di dalam Baitul Mal (Perbendaharaan Negara) ada tersimpan setong (segariba) madu lebah. Namun beliau berkata, "Kalau tuan-tuan izinkan, saya akan mengambilnya sedikit, tetapi kalau tidak, haramlah saya mengambilnya."
Beliau juga pernah berkata, "Wahai umat, kamu harus maklum bahwa harta Baitul Mal itu bukanlah kepunyaanku atau keluargaku. Harta Baitul Mal adalah kepunyaan kamu, dan kamu berhak menerimanya. Aku diamanahkan supaya menjaga harta kamu ini. Dan kelak aku akan ditanya oleh ALLAH tentang bagaimana caranya aku menjaga harta itu dan bagaimana caranya aku mengurus kepentingan umat Islam. Celakalah aku nanti sekiranya ALLAH mendapatkan aku tidak amanah terhadap harta Baitul Mal itu."

26. Melayani seluruh rakyat dengan rasa persamaan dan bersikap adil walaupun kepada orang yang dipandang rendah.
Pada satu hari Umar pergi naik haji, Safyan Ibn Umayyah menyediakan dan mengajaknya makan. Lalu dikeluarkanlah sebuah nampan besar makanan diangkat oleh empat orang khadam. Mereka pun makan tetapi khadam-khadam itu berdiri saja. Lalu Umar berkata, "Mengapa saya lihat khadam-khadam tuan tidak makan bersama." Lalu mereka menjawab, "Tidak, demi ALLAH ya Amirul Mukminin, tetapi mereka makan sesudah kita untuk menunjukkan kebesaran kita." Mendengar itu beliau marah, lalu berkata, "Tiap-tiap kaum yang merendah-rendahkan khadamnya akan direndahkan ALLAH. Ayo, khadam-khadam, mari makan bersama-sama!" Maka khadam-khadam itupun makan bersama-sama sehingga tidak ada lagi makanan yang dimakan oleh Amirul Mukminin.

27. Sayidina Umar sangat tegas bila berhadapan dengan penganiayaan dan sikap mementingkan diri seorang Muslim terhadap saudaranya yang lain.
Pernah terjadi seorang lelaki datang ke kampung di sebuah oasis meminta air minum. Malangnya penduduk kampung pedalaman itu tidak mau memberinya, hingga orang itu mati. Maka oleh Sayidina Umar seluruh penduduk kampung itu dikenakan diat (denda karena membunuh).

28. Sayidina Umar tidak pilih kasih, tidak takut dalam urusan pemerintahan sekalipun kepada tokoh-tokoh besar yang berpengaruh. Suatu masa ketika tangan kanannya memegang tongkat (cambuk) Sayidina Umar pergi ke Mekkah. Beliau telah bertemu dengan Abu Sufyan (seorang pembesar yang terkenal) yang sedang duduk berdekatan dengan batu-batu. Umar berkata, "Angkat batu ini!" Lalu batu itu diangkat oleh Abu Sufyan. "Ini juga, ini juga," kata Beliau lagi. Semuanya diangkat oleh Abu Sufyan dengan tidak bertanya apa sebabnya, untuk apa, sampai 5 atau 6 buah batu. Setelah itu Sayidina Umar terus mengadapkan mukanya ke Ka'bah lantas menangis, "Segala puji bagiMu ya ALLAH yang telah membuat Umar sanggup memerintah Abu Sufyan di pusat kelahirannya sejati (Mekkah) dan diturutinya perintah itu."

29. Sayidina Umar berdaya upaya menyeimbangkan sikap lunak dan kerasnya semasa memerintah. Pernah orang mengadu kepadanya melalui Abdul Rahman bin Auf, "Umar, engkau telah menimbulkan rasa takut sehingga mata kami tidak kuat menentang matamu." Lalu berkata Sayidina Umar kepada Abdul Rahman bin Auf, "Benarkah mereka berkata demikian? Demi ALLAH, aku telah mencoba melunakkannya sehingga disebabkan sikap itu aku takut dimurkai oleh ALLAH. Aku telah mencoba berkeras, sehingga aku juga takut dimurkai ALLAH karenanya. Oh bagaimana lagi? Bagaimana nasibku dibandingkan dengan mereka?"

30. Bila rakyat melihatnya, mereka takut kepada ALLAH.  Seorang lelaki Quraisy telah menemui Sayidina Umar dan berkata, "Bersikap lunaklah kepada kami, sebab kami sudah amat gentar melihatmu." Umar menjawab, "Apakah di situ tersimpan perbuatan saya yang zalim?" "Tidak," jawab lelaki itu. Maka kata Umar, "Kalau demikian, biarlah ALLAH menambah takut dalam hatimu terhadap aku."

31. Sayidina Umar sangat takut kepada ALLAH dalam urusan pemerintahannya. Pada satu ketika Anas bin Malik sengaja mengikuti Sayidina Umar tanpa sepengetahuannya. Sampai di satu kamar yang kecil, Umar masuk ke dalamnya sedang Anas mendengarnya dari sebelah dinding. Anas melaporkan, "Setelah dia bersunyi diri dalam kamar itu terdengarlah dia berkata kepada dirinya sendiri, bolehkah engkau bersenang diri wahai Umar, takutlah kepada ALLAH, jika tidak kau akan diazabNya."

32. Sayidina Umar tidak berbangga dan sangat menjaga hatinya ketika menjadi khalifah. Pada satu ketika dia mengangkut air di belakang badannya. Maka beliau ditegur oleh sahabat-sahabatnya, "Hai Amirul Mukminin, mengapa tuan sendiri yang memikul air ini?" Jawabnya, "Aku merasa bahwa diriku telah merasa takabur, lalu kupikul air ini untuk menundukkannya." Beliau sangat menganjurkan rakyatnya hidup berdikari. Sayidina Umar pernah berkata, "Pelajarilah hidup susah, karena mungkin engkau kelak akan menderita dengan kesusahan." Beliau juga pernah berpesan, "Pekerjaan yang kelihatannya rendah lebih mulia dari sikap meminta-minta."

34. Sayidina Umar sangat toleransi dengan rakyatnya sekalipun bagi mereka yang bukan Islam. Pada suatu hari, yaitu ketika Baitul Muqaddis telah dibebaskan oleh tentara Islam, beliau pergi ke Gereja Al Qiamah di Baitul Muqaddis untuk menziarahi pendeta kristen untuk bertukar fikiran dan bermesra dengan mereka. Dalam percakapan itu, pendeta kristen itu sangat kagum dengan sifat tawadhuk, sopan santun dan pekerti mulia yang dilahirkannya. Sifat-sifat itu jarang ada pada pemimpin-pemimpin kristen Kerajaan Rom yang memang keras dan zalim. Ketika mereka berbincang, tiba waktu shalat. Memang tidak salah kalau Beliau shalat di dalam gereja sekalipun. Tetapi sebaliknya beliau melakukan shalat di luar bangunan itu. Ketika ditanya, "Mengapa tuan shalat di luar? Bukankah lebih nyaman shalat di dalam ?" Sayidina Umar menjawab, "Benar tuan. Memang tidak ada salahnya. Tetapi saya tidak mau di kemudian hari kelak orang menuduh saya menukar gereja menjadi mesjid lalu perbuatan saya dicontoh oleh kaum Muslimin."

35. Sayidina Umar sangat mementingkan nasib rakyatnya. Beliau selalu duduk bersama rakyatnya, makan dan berbincang bersama tanpa kelihatan perbedaan tingkat hidup di antara beliau dan rakyatnya. Pernah terjadi satu musim kemarau yang sangat dahsyat hingga makanan begitu begitu sukar didapat di Madinah. Sayidina Umar bersama-sama rakyatnya begitu menderita dengan ujian ini. Satu ketika dibawa oleh pelayannya sedikit minyak sapi dan susu ke rumahnya. Kata pelayan itu, "Ya Amirul Mukminin, saya membeli sedikit minyak sapi dan susu ini dari uang saya sendiri untuk tuan..."
Mendengar kata-kata pelayannya, beliau berkata, "Pergilah engkau hadiahkan kepada orang Islam yang lebih memerlukan. Aku tidak akan makan makanan seperti susu dan minyak sapi itu selagi aku masih melihat ada orang Islam yang lapar dan susah di negara ini."
Beliau selalu shalat dan berdoa di malam hari di masjid. Suatu malam datanglah seorang utusan dari Iraq ke Madinah untuk bertemu dengan Khalifah Umar. Karena waktu itu haripun telah jauh malam utusan itu singgah bermalam di mesjid. Waktu itu Sayidina Umar baru selesai shalat. Melihat tetamu itu masuk Beliau pun mendekatinya seraya bertanya, "Anda nampaknya datang dari jauh. Dari mana anda datang? Apa yang anda inginkan?"
Jawab utusan itu (tanpa mengetahui orang yang bertanya itu ialah Sayidina Umar sendiri), "Aku datang untuk bertemu Khalifah. Tetapi hari telah jauh malam, aku keberatan sekali mengganggu beliau di rumahnya..." Sayidina Umar memberitahu orang itu bahwa ia boleh bertemu dengan khalifah di manapun dan kapan saja. Bila melihat utusan itu kurang percaya tentang apa yang didengarnya, beliau pun berkata, "Sayalah Umar..." Utusan itu terkejut karena khalifah masih berjaga walaupun hari telah larut malam dan sanggup melayani tetamu. Tidak tidak menyangkan sama sekali! Amirul Mukminin berkata, "Wahai saudaraku... jika saya tidur di malam hari maka berarti saya menyia-nyiakan diri saya sendiri. Jika saya tidur di siang hari, berarti saya mengabaikan umat!"

37. Sayidina Umar sangat adil sekalipun kepada orang bukan Islam. Pada satu masa beliau melihat seorang tua menadahkan tangan kesana kemari meminta sedekah. Beliau amat  terharu lantas bertanya, "Pak, mengapa hidup jadi begini? Tidakkah bapak punya anak?"
            "Saya orang susah tuan. Kalau tidak meminta sedekah bagaimana saya hendak membayar jizyah?"
Maka sadarlah Khalifah Umar bahwa orang tua itu beragama yahudi. Beliau berkata, "Hai orang tua. Engkau tidak patut bekerja mencari nafkah untuk keluarga lain. Dan aku tidak mau melihat bapak hidup meminta-minta. Mulai hari ini biaya hidupmu dan keluargamu akan dibiayai oleh Baitul Mal setiap bulan!"
Setelah orang tua itu berlalu, Sayidina Umar berkata kepada pembantunya, "Sedih sekali aku melihat orang yahudi tua itu. Tidak adil kalau kita biarkan dia meminta-minta sedangkan semasa mudanya dia telah penat lelah mencari nafkah untuk keluarganya dan menunaikan tanggung jawab kepada negara. Tetapi setelah tua ia masih terus mencari uang untuk membayar pajak. Itu tentu tidak sesuai. Segera tulis namanya sebagai golongan yang berhak mendapat bantuan dari kita setiap bulan."

38. Beliau sangat mengasihi rakyatnya sekalipun kepada anak-anak.
Satu ketika sewaktu melantik seorang gubernur baru di satu wilayah, Sayidina Umar berjalan-jalan melihat keadaan rakyat bersama gubernur barunya. Beliau telah melihat seorang anak kecil lalu diangkat, ditimang serta diciumnya. Melihat keadaan Umar yang sangat halus dan penyantun itu, gubernurnya berkata, "Wahai Amirul Mukminin, patutkah tuan melayani anak kecil seperti ini? Saya fikir tidak perlu bagi seorang pemerintah melayani anak kecil. Demi ALLAH saya sendiri tidak pernah berbuat demikian."
Mendengar itu beliau menjawab, "Demi ALLAH, tahukah engkau bahwa barangsiapa yang tidak mempunyai belas kasihan dan santun terhadap orang lain maka ia tidak sepatutnya diberi amanat untuk memelihara kepentingan umat. Tidakkah engkau tahu wahai pejuang ALLAH, bahwa anak-anak kecil juga sebagian rakyat kita? Aku bukan saja khalifah untuk umat Islam. Tetapi juga khalifah untuk anak-anak!"

39. Sayidina Umar sangat ditaati oleh rakyatnya hingga air Sungai Nil pun mematuhi perintahnya.
Ketika gubernurnya di Mesir Amru Al Ash mengirim surat bahwa air Sungai Nil telah semakin surut dan kering. Menurut kepercayaan penduduk asal (bangsa Qibti), seorang anak dara mestilah dikorbankan untuk membuat air mengalir seperti biasa, Sayidina Umar cuma mengirim surat dengan pesannya surat itu hendaklah dijatuhkan ke dalam Sungai Nil. Surat itu berbunyi:
"Surat ini dikirimkan oleh Umar, Amirul Mukminin kepada Sungai Nil. Hai Sungai Nil... kalaulah air yang mengalir pada tubuhmu itu bukanlah dari kuasa ALLAH maka kami tidak memerlukan engkau sama sekali. Tetapi kami percaya ALLAH itu Maha Berkuasa dan kepadaNya kami mohon supaya engkau mengalir seperti biasa." Ketika surat itu jatuh ke dalam Sungai Nil, airnya pun mengalir seperti sedia kala.

40. Beliau sangat takut dengan amanah kekhalifahan yang disandangnya dari awal hingga akhir hayatnya. Ketika dilantik menjadi khalifah beliau berkata, "Kalaulah aku tahu ada di antara kamu lebih baik dan lebih kuat dariku dalam menjalankan tanggung jawab sebagai khalifah, aku lebih rela leherku dipotong daripada menerima jabatan ini..." Ketika hampir wafat setelah ditikam, beliau berpesan kepada anaknya (Abdullah bin Umar), "Wahai Abdullah, keluarga Umar tidak menaruh niat sedikit pun untuk menjadi khalifah. Cukuplah di kalangan mereka Umar Al Khattab saja yang akan ditanya oleh ALLAH SWT tentang tanggung jawabnya terhadap umatnya. Anakku... sekali kali jangan, jangan engkau mengingat ingat akan jabatan khalifah ini..."
 
 
 

BAB 16 Warga Negara dalam Negara Islam


DALAM Negara Islam, siapa saja yang berada di dalamnya atau yang datang ke situ,  para wisatawan bahkan pelarian-pelarian yang mencari perlindungan,  secara otomatis semuanya dianggap warga negara (penduduk negara). Mereka semuanya dihormati, dilindungi dan dijaga kebajikannya tanpa menghiraukan kaum, bangsa, agama, warna kulit, bahasa dan lain- lain. Demikianlah Islam memandang manusia, sama saja. Bahkan bumi ALLAH ini dianggap kepunyaan bersama. Siapa pun boleh tinggal di tempat manapun yang dia suka. Tidak perlu ada batas geografi antar negara, tidak perlu ada paspor dan visa. Begitulah takrif kesatuan internasional atau global menurut Islam.

Cuma sayangnya, dunia hari ini tidak mempraktekkan konsep ini. Di waktu mereka menyuarakan perpaduan dan kerja sama, mereka juga memecah-mecahkan dan mengkotak-kotakkan bumi ALLAH ini, kononnya supaya  mereka mudah memerintah. Di negara-negara yang katanya Islam seperti Kerajaan Saudi dan Iran, juga kelihatan sama, tidak membawa perpaduan internasional ini. Masing-masing tidak terlepas dari fanatik asobiah.

Kita merindukan Negara Islam sejati. Yang terbuka untuk siapa saja. Wisatawan seolah-olah menjadi tetamu yang dilayan sebaik-baiknya (ikramudduyuf). Dan kalaupun wisatawan mau tinggal lebih lama juga boleh. Pelarian-pelarian juga dianggap tetamu dan warga yang pasti dilindungi. Demikianlah Islam membenarkan karena Islam adalah penyelamat, pelindung yang memberi keamanan dan kemakmuran pada warganya.
Untuk memudahkan urusan pemerintahan dan  pengurusan warganya, Negara Islam mengklasifikasikan seluruh rakyat hanya menjadi dua kategori, yakni:
1. Warga negara Islam (Muslim citizenship).
2. Warga negara bukan Islam (non Muslim citizenship).
Pemisahan ini adalah karena berbedanya cara hidup orang Islam dengan yang bukan Islam. Ada peraturan yang dikenakan kepada orang Islam tetapi tidak dikenakan pada orang bukan Islam. Misalnya, umat Islam diwajibkan membayar zakat bila cukup nisab dan haulnya, sedangkan umat bukan Islam tidak berzakat. Sebab itu bagi warga negara yang bukan Islam, ada beberapa peraturan khusus untuk mereka.
Mari kita lihat hak-hak yang diberikan oleh Negara Islam kepada warganya yang Islam dan yang bukan Islam.

A. Warga negara lslam

Setiap orang Islam, baik yang asli (penduduk setempat) atau mendatang (pendatang, wisatawan, tetamu, pelarian dan lain-lain) mendapat hak asasi yang sama saja. Orang besar, orang kecil, orang berjabatan, orang tidak berjabatan, orang kaya, orang miskin tidak dibeda-bedakan dalam urusan mendapatkan hak-hak asasi. Yaitu
1. Kebebasan untuk memiliki rumah, harta dan lain-lain.
2. Kebebasan bekerja dan berbicara.
3. Peluang belajar di dalam dan luar negeri.
4. Melaksanakan dan mengurus hak-hak agama.
5. Kalau dihina akan dilindungi dan penghina itu akan dihukum.
6. Mempertahankan kehormatan diri, harta, keluarga dan lain-lain. Bahkan dalam ajaran Islam seorang yang mati karena mempertahankan dirinya, harga dirinya, keluarganya dan hartanya itu dianggap mati syahid.

Sabda Rasulullah
Siapa yang terbunuh karena mempertahankan hartanya maka dianggap syahid, dan siapa yang terbunuh karena mempertahankan darahnya maka dia juga syahid, siapa yang terbunuh karena mempertahankan agama (harga diri)nya maka dia syahid dan siapa yang terbunuh karena mempertahankan keluarganya maka dia juga syahid.(Riwayat Abu Daud dan At Tarmizi)

Itulah dia hak-hak asasi umat Islam secara umum dalam Negara Islam. Mereka dibolehkan, bahkan bebas berorganisasi, beraktivitas, berdagang, mengumpulkan harta, berjuang, menikmati hiburan, menulis, mengeluarkan pendapat dengan syarat tidak melanggar syariat ALLAH dan tidak melanggar hak asasi orang lain. Juga tidak bertentangan dengan perintah pemimpin, bila perintah itu sesuai dengan ajaran Islam. Arahan pemimpin yang tidak syar'i tidak wajib ditaati.
Rasulullah SAW bersabda:
Hormat dan patuh kepada orang Muslim adalah wajib, baik perkara itu disukai atau tidak selama tidak diperintahkan perkara maksiat. Apabila seseorang itu diperintahkan supaya melakukan maksiat maka tidak ada hormat dan ketaatan.(Riwayat Al Bukhari)

Umat Islam dalam Negara Islam sepatutnya adalah orang-orang yang mengikuti cara hidup Islam, dengan merujuk kepada Rasulullah dan salafussoleh. Supaya umat Islam menjadi seperti para Sahabat, di mana mereka itu menjadi tuan di dunia dan menjadi tuan di Akhirat. Mereka dapat menumbangkan Rom dan Parsi. Mereka bukan saja menjadi negara maju bahkan muncul sebagai empire yang menguasai 3/4 dunia. Mereka bukan saja terkenal di langit, tapi juga di bumi. Bahkan mereka terus terkenal dan disebut sampai ke zaman sekarang, 1400 tahun sesudah mereka meninggal. Maqam mereka tetap diziarahi. Mereka bukan saja kaya, bahkan dunia berada dalam tangan mereka. Bahkan sekarang ini mereka sedang  kenikmatan Barzakh yang kelazatannya tidak tergambarkan dan tidak terkatakan.

Umat Islam kalau terus meniru Barat, nampaknya takkan sampai ke mana-mana. Kejayaan dunia pun ala kadarnya. Kalau ada yang kaya hanya sejumlah jari saja. Kepentingan Akhirat terlepas sama sekali. Oleh itu apa salahnya kita alihkan pandangan pada ALLAH. Lupakan Barat dan Timur yang difatamorganakan itu. Jangan-jangan ALLAH dan Rasul akan memberikan segala yang kita impikan itu. Sebab ALLAH telah berjanji untuk menolong dan ALLAH tidak memungkiri janji yang dibuatnya.

B. Warga negara Bukan lslam

Menurut pandangan Islam, terdapat dua jenis warga negara dari kalangan orang bukan Islam yaitu:
1. Kafir zimmi.
2. Kafir 'ahdi (mu'ahid).

Kafir zimmi ialah orang bukan Islam yang bermaustautin (bermukim) dalam Negara Islam di mana mereka itu mengaku taat setia kepada pemerintah dan negara. Walau bangsa apapun mereka, baik penduduk asli (penduduk setempat) atau mendatang akan mendapat hak-hak asasi seperti juga umat Islam mendapatkan hak-haknya. Yakni:
1. Kebebasan memiliki rumah dan harta.
2. Peluang-peluang belajar di dalam dan luar negeri.
3. Kebebasan bekerja dan berbicara dengan syarat tidak melanggar hak asasi orang lain.
4. Bebas menganut agama apa pun. Pemerintah atau umat Islam tidak boleh memaksa mereka menganut Islam. Sebab ALLAH berfirman:
Tiada paksaan dalam memilih agama.
5.Berhak untuk menjadi pemimpin atau menteri-menteri di kalangan mereka.
6. Diberi perlindungan bila mereka dihina. Sekalipun yang menghina itu dari kalangan orang Islam sendiri,  pasti dihukum.
7. Berhak mempertahankan harga diri, harta dan keluarga.

Berbeda dengan umat Islam, warga negara bukan Islam tidak dikenakan zakat, fitrah, sedekah, berkorban dan lain-lain sebagai sumbangan kepada negara dan masyarakat. Dengan sumbangan tersebut negara akan jadi kuat dan dapat menguatkan individu-individu terutama orang-orang susah. Maka untuk tujuan yang sama di samping kepentingan- kepentingan keselamatan dan pengurusan mereka, Negara Islam menetapkan warganya yang bukan Islam mesti membayar jizyah atau pajak kepala. Tidak ada pajak lainnya. Kadar pajak itu menurut taraf hidup dan kemampuan masing-masing seperti yang diputuskan oleh hakim atau ketua negara.
Bagi kafir mu'ahid yakni orang bukan Islam yang tinggal di Negara Islam karena adanya hubungan-hubungan diplomatik, ekonomi, perdagangan, persahabatan dan lain-lain, walau  bangsa apapun mereka, dari negara mana, apa agama dan warna kulit, namun tetap dilindungi oleh Negara Islam. Mereka mendapat hak-hak dan dilindungi dari penghinaan. Sama halnya dengan kafir zimmi tadi.

Kafir Harbi

Terdapat sejenis lagi orang kafir menurut ukuran Islam. Tetapi mereka itu bukan warga negara. Mereka adalah musuh Islam yang dipanggil kafir harbi. Mereka memiliki niat untuk bermusuhan dengan umat Islam. Orang itu walaupun belum berperang senjata, cuma perang saraf saja, tetapi tetap dianggap sebagai musuh Islam. Kalau mereka menyerang, negara wajib membalas serangan tersebut. Namun umat lslam sekali-kali tidak diajarkan untuk memulai serangan, sekalipun perbuatan musuh itu begitu jelas sekali. Tetapi apabila mereka menyerang, wajib dibalas atau dilawan dengan dua tujuan penting yaitu:
1. Menjaga harga diri agama, negara dan masyarakat.
2. Menghindari fitnah agar kejahatan tidak berkepanjangan
dan tidak menyebar kemana-mana.

Dalam peperangan, harta musuh boleh dirampas sebagai harta rampasan perang. Orang-orang tawanan perang dijadikan hamba sahaya. Kecuali kalau dia memeluk Islam, secara otomatis dia merdeka dan mendapat hak-hak warga negara seperti orang-orang Islam yang lain.
Demikianlah pertimbangan Islam dalam memberi keselamatan dan naungan kepada manusia seluruh dunia. Mana ada penindasan dan kekejaman atau peperangan yang dicanangkan oleh Islam? Tertolaklah bahwa Islam agama peperangan dan kekejaman.
 
 
 

BAB 17 Syura Dalam Islam


Firman ALLAH SWT:
Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan apapun. (Ali Imran 159)
Urusan mereka (orang Islam)  dimusyawarahkan sesama mereka. (Asy Syura 38)
Rasulullah SAW pun bersabda:
Hajat tercapai bagi mereka yang membuat 'istikharah', dan tidak ada penyesalan bagi mereka yang bermusyawarah, dan tidak susah mereka yang berhemat dengan cermat. (Riwayat At Tabrani)
Berdasarkan ayat-ayat ALLAH dan sabda Rasulullah yang tertulis di atas, Islam menggalakkan umatnya mengadakan syura (musyawarah). Karena berdasarkan pengalaman kita, syura memang besar faedahnya kepada hidup kita dan masyarakat. Sebab itu ALLAH sendiri yang memerintahkan supaya syura dipraktekkan. Manusia selalu berhadapan dengan:
1. Masalah-masalah hidup di rumah, dalam masyarakat dan dalam negara.
2. Keperluan-keperluan ekonomi, pendidikan, pembangunan dan lain-lain lagi.
3. Gangguan musuh.
4. Kebuntuan fikiran.

Maka semuanya itu, kalau disyurakan baru dapat menghasilkan keputusan yang sebaik-baiknya, dibandingkan dengan keputusan-keputusan yang dibuat secara pribadi.Arti syura menurut bahasa ialah berunding atau bertukar fikiran. Manakala dari segi istilah syariat Islam, arti syura atau musyawarah ialah bertukar fikiran atau berbincang antara dua orang atau lebih dalam menghadapi hal-hal yang dibenarkan oleh syariat sesuai dengan  adab-adab, cara cara yang syar’i untuk memperoleh hasil yang baik dan benar yang akan menjadi tindakan bersama,  seseorang atau satu kelompok.

Perkara-perkara yang disyurakan itu ialah masalah kehidupan seperti menyelesaikan krisis, masalah ekonomi, pendidikan, ketentaraan, pertanian dan lain-lain lagi. Setiap anggota diminta mengeluarkan fikiran, kemudian dipertimbangkan bersama. Mana pendapat yang benar atau kuat dan tepat alasannya atau lebih munasabah (memungkinkan) dan lebih mendekati kebenaran, maka itulah keputusan syura yang wajib diterima bersama untuk menjadi tindakan bersama, tindakan seseorang atau tindakan suatu kelompok.

Dalam syura, perbincangan mesti dua arah atau lebih. Tidak dikatakan syura kalau satu pihak saja yang berbicara dan memberi pendapat. Syura secara Islam mesti dilakukan dengan bertata-tertib, beradab, berperaturan dan cara-cara yang ditetapkan oleh Islam. Syura yang tidak mengikuti kaedah syar'i tidak dianggap syura Islam walaupun diberi nama syura Islam. Nama tidak penting, yang penting ialah ciri-cirinya.
Berikut ini ialah tata tertib atau disiplin dan adab-adab syura menurut Islam:
  1. Tujuan dan niat anggota syura ialah mencari dan menegakkan kebenaran karena ALLAH. Masing-masing mesti mengawal diri dari maksud riya', bermegahan, ujub atau untuk hobi semata-mata. Sebaiknya masing-masing mempunyai rasa takut pada ALLAH, kalau-kalau terjadi perbincangan yang tidak tepat dan tidak selaras dengan kehendak ALLAH dan Rasul. Untuk mengelak dari riya', ujub dan bermegahan, caranya ialah masing masing mengharapkan kebenaran itu datangnya dari orang lain, bukan dari dirinya. Dan dia akan merendahkan diri untuk menerima dan mendukung kebenaran yang sudah ditemui itu.
  2. Sekiranya kebenaran itu keluar dari mulut kita sendiri, segeralah banyak bersyukur pada ALLAH, karena memperlihatkan kebenaran itu kepada kita. Bukankah kita dhaif untuk menemukannya kalau bukan dengan petunjuk dari ALLAH? Dengan ilmu dan keyakinan yang demikian, Islam menyelamatkan majelis syura dari timbulnya rasa sombong, bermegahan, menunjuk kepandaian, merasa diri lebih tinggi, mujadalah (debat tidak menentu), keras kepala, hina-menghina, jatuh-menjatuhkan dan akhlak lain yang keji.
  3. Di waktu seorang anggota syura berbicara, anggota- anggota yang lain mesti menghormati pandangannya dan sama-sama mendengarnya. Biarkan dia menghabiskan bicaranya walaupun  kita tidak setuju pendapatnya. Memotong bicara kawan atau minta dia berhenti sebelum habis berbicara adalah tidak beradab dalam syura. Sikap itu sangat dibenci.
  4. Bila seorang anggota syura selesai memberi pandangannya, ucapkan terima kasih. Kalau didapatkan ucapannya benar, beri tahniah dengan sepotong doa:
     Moga-moga ALLAH membalas kamu dengan kebaikan.
  5. Sekiranya pendapat yang diberi salah, jangan sekali-kali menghinanya. Betulkan dengan mesra dan kasih sayang menggunakan hujah-hujah yang bernas.
  6. Sekiranya kita sendiri yang melakukan kesalahan atau mengeluarkan pendapat yang salah, minta ampunlah kepada Tuhan dan merendah dirilah untuk menerima hakikat kesalahan itu.
  7. Misalnya terjadi perbedaan pendapat yang serius hingga sukar untuk menyatukan pandangan, maka demi perpaduan, pandangan ketua atau pemimpinlah yang mesti diterima.
  8. Dalam syura Islam jangan sekalipun terjadi mujadalah, berburuk sangka, sakit hati, caci maki, berkelahi, lempar kursi, pukul meja, tunjuk pistol, geram, dendam dan sebagainya. Anggota-anggota syura akan sanggup untuk mengalah, bersabar untuk mencari nas (dalil) atau bersikap tawakuf (menerima tidak, menolak pun tidak). Bahkan demi menjaga ukhuwah karena ALLAH, di akhir majelis, masing-masing akan saling bermaaf-maafan dan berbaik sangka serta bersabar untuk menanti bantuan ALLAH dalam masalah apapun yang timbul. Di penutupnya, sama-sama membaca surah Wal ‘Ashr dan doa kifarah, yakni meminta ampun kepada ALLAH. InsyaALLAH dengan cara itu, umat Islam akan senantiasa membuat keputusan yang tepat, bersih dan diberkati ALLAH.

SIAPA ANGGOTA MAJELIS SYURA
Dalam Islam, syarat-syarat untuk menjadi anggota majelis syura sangat dititikberatkan. Tidak semudah syura-syura yang terjadi kini, di mana siapa saja boleh terlibat. Sifat-sifat anggota majelis sangat menentukan bentuk keputusan sesuatu syura. Baik anggotanya, baiklah keputusannya. Tidak baik anggotanya, tidak baiklah keputusannya.

Atas dasar itu, Islam menetapkan beberapa ciri atau sifat-sifat orang yang dapat diajak bersyura. Mereka adalah:
1. Beragama Islam. Dengan orang bukan Islam tidak ada syura (yakni dalam urusan khusus umat Islam saja). Hal itu berdasarkan Hadist Rasulullah:
Mereka yang hendak selesaikan sesuatu urusan maka mereka bermusyawarah yang anggotanya orang-orang Islam. ALLAH bersama mereka dalam menyelesaikan urusan itu. (Riwayat Ath Thabrani)
Orang bukan Islam itu, mereka tidak tahu mana yang hak dan mana yang batil menurut pandangan Islam. Selain itu orang kafir yang memusuhi Islam, kalau terbawa ke dalam majelis syura, akan memberi pandangan-pandangan yang jahat dan beracun serta membahayakan umat Islam. Bagaimanapun dalam Negara Islam, hak-hak orang bukan Islam tidak diabaikan sama sekali. Urusan mereka dibincangkan bersama mereka. Artinya, segala kepentingan bersama dan keperluan mereka disyurakan dengan mereka.
2. Bertakwa. Tidak semua orang Islam layak diajak berbincang. Sebab tidak semua orang Islam mampu memberi fikiran yang adil dan ikhlas dalam perbincangan dan dalam membuat keputusan. Syarat takwa itu amat penting dalam melindungi dan mendorong manusia supaya membuat keputusan yang tepat, bersih dan diberkati.
3. Cerdik, yakni orang yang memiliki buah fikiran yang baik, bernas, sesuai logika, tajam dan tepat. Pandangan dari orang-orang seperti itu saja yang diperlukan. Selain dari mereka itu, tidak usah diundang untuk dibawa berbincang. Sebab mereka akan memberi pandangan yang tidak mengena (tepat). Hal itu membuat majelis tersebut membuang waktu saja. Selain itu, kalau pandangan mereka ditolak, nanti akan timbul kecil hati. Sebab itu lebih baik tidak diajak ke majelis syura.
4. Seorang yang sesuai dengan bidang yang akan dibincangkan. Syarat itu penting diperhatikan supaya orang-orang yang akan membuat keputusan dalam hal yang disyurakan itu, betul-betul orang yang tahu seluk beluk perkara tersebut. Kalau orang pertanian, ditanya fikirannya tentang hal-hal ketentaraan, tentu dia akan memberi jawaban yang tidak tepat. Dan kalau pandangannya diterima sebagai keputusan syura, akan merugikan negara dan masyarakat itu sendiri.

Kesalahan ini nampaknya sudah jadi tradisi dalam masyarakat sekuler sekarang. Bahkan dalam soal-soal agama pun, penyelesaiannya dicari menggunakan kaedah yang salah. Umpamanya, dalam menyelesaikan masalah agama maka dibuat satu seminar dengan tajuk yang berkaitan. Lalu diundanglah di dalamnya segala macam manusia. Yang bukan ahlinya pun ada, yang tidak shalat pun ada, yang tidak cerdik, kaum perempuan, yang buka aurat pun ada dan macam-macam lagi. Bila tiba saatnya memberi pendapat, maka digabunglah pendapat kesemuanya itu, lalu dijadikan sebagai keputusan seminar atau keputusan bersama (resolusi) untuk dijadikan tindakan.

Bagi saya, keputusan itu sungguh meragukan. Dalam Islam Rasulullah bersabda:
Tiada agama bagi mereka yang tidak berakal.
Artinya, di kalangan orang-orang beragama, yang paling cerdik itulah yang paling kuat dan tepat agamanya. Sebab itu perbincangan tentang masalah agama itu hanya layak dibuat oleh orang-orang tersebut. Orang-orang selain mereka tidak dapat diharapkan ilmu dan fikirannya. Tetapi apa yang terjadi sekarang ini, urusan agama bukan ditimbang pada-syarat-syarat tersebut. Sebaliknya dibuat mengikuti selera sekuler. Pelantikan mufti misalnya,  disyaratkan pada faktor senioritas bukan faktor ilmu, ketakwaan, kecerdikan dan pengalamannya. Hasilnya, berawal dari kesalahan tadi, macam-macam kesalahan dalam berfatwa telah dibuat, yang mengakibatkan banyak timbul masalah dalam masyarakat. Apa yang difatwakan meragukan.


JUMLAH ANGGOTA SYURA

Dalam Islam, jumlah anggota majelis musyawarah bukan mesti sampai satu dewan. Syura dapat dibuat oleh paling kurang antara dua orang anggotanya saja. Keputusan perbincangannya dianggap sebagai keputusan majelis syura. Tempat perbincangannya juga bukan mesti di tempat yang dikhususkan, istimewa atau secara resmi. Tetapi syura juga boleh dilakukan seperti berikut ini:
Misalnya seorang ketua (pemimpin) ingin mengadakan syura dengan seorang anggotanya yang cukup layak untuk tujuan itu. Ketika berpikir untuk memanggil anggota tersebut, tiba-tiba dia berjumpa di majelis kenduri. Karena itu, selesai majelis kenduri,  ketua boleh terus memanggil anggotanya itu masuk mobil, mengajak berjalan-jalan sambil berunding hingga persoalan itu selesai. Di situlah mereka membuat keputusan untuk dijadikan tindakan. Itupun dianggap keputusan syura yang sah. Tanpa membuang waktu dan uang yang banyak.

Cara syura seperti itu, sebenarnya akan memberi hasil yang lebih baik daripada syura yang dibuat secara resmi. Sebab terjadi dalam keadaan yang lebih mesra dan lebih bersifat dari hati ke hati. Tetapi tentunya Islam tidak menafikan majelis-majelis resmi, di tempat-tempat resmi dan di waktu-waktu resmi. Semuanya ditimbang menurut keperluan, untung dan rugi, strategi dan kehendak keadaan waktu itu dan sebagainya.

Akhir sekali saya akan uraikan perkara-perkara apa yang boleh dan tidak boleh disyurakan. Karena dalam Islam bukan semua perkara mesti disyurakan. Ada perkara-perkara yang keputusannya hanya dibuat oleh ketua saja, pengikut atau rakyatnya wajib taat dan menerima dengan sepakat. Hal seperti itu banyak terjadi di antara Rasulullah dan para Sahabat. Di mana keputusan dibuat tanpa tanya jawab dan perbincangan dengan siapa pun. Sahabat-Sahabat hanya menerima dengan patuh. Kadang-kadang keputusan, undang- undang atau hukum-hukum yang diarahkan itu memeranjatkan dan tidak difahami. Tetapi karena mereka yakin pemimpin mereka itu mendapat pimpinan langsung dari ALLAH, maka mereka pun dapat taat.

Syura dalam Islam dibenarkan dan digalakkan terhadap perkara-perkara berikut:
1. Perkara-perkara yang belum ditetapkan hukumnya oleh ALLAH SWT. Hukum-hukum yang sudah jelas sarih atau sahih dan qat'i kedudukannya dalam Islam, tidak boleh disyurakan. Seperti tentang wajibnya shalat, puasa, menutup aurat, berjihad, bersilaturrahim dan lain-lain lagi. Demikian juga sebaliknya seperti haramnya arak, judi, zina, buka aurat, bergaul bebas dan sebagainya.
Perkara-perkara itu tidak boleh dimusyawarahkan lagi. Sebab ALLAH sudah membuat keputusan yang tidak boleh dibatalkan dalam musyawarah.
2. Hukum-hukum yang belum lagi diijmakkan oleh ulama mujtahidin yang menjadi pegangan Ahli Sunnah Wal Jamaah.
3. Perkara-perkara yang belum diperintahkan oleh ketua jemaah atau ketua negara. Untuk keputusan-keputusan yang sudah dibuat oleh ketua, dan sudah diperintahkan untuk dilaksanakan, di mana perintah itu tidak bertentangan dengan syariat, tidak boleh disyurakan lagi. Sekalipun arahan itu kita tidak setuju dan tidak faham, namun kalau benar jemaah itu jemaah Islam, tentu mereka dapat taat kepada pemimpin mereka.
4. Perkara yang bukan keputusan dari satu syura yang telah dibuat baik dalam keluarga, jemaah atau negara. Keputusan apapun yang telah diambil oleh syura manapun, tidak boleh disyurakan sekali lagi. Tidak boleh ada satu syura lain untuk menolak satu keputusan syura yang telah diambil, bila keputusan itu dibenarkan oleh syariat. Hal itu berdasarkan firman ALLAH:
Bermusyawarah dengan mereka dalam sesuatu perkara, setelah kamu bulat menerimanya, maka bertawakallah kepada Allah.(Ali Imran: 159)

Bila satu keputusan telah dibuat, jangan ada lagi yang berdalih, ragu-ragu, tidak puas hati dan ingin merombak kembali. Laksanakanlah dengan bertawakkal kepada ALLAH. Hal itu pernah berlaku di kalangan para Sahabat dengan Rasulullah. Yaitu ketika para Sahabat mau merombak satu keputusan syura yang telah dibuat setelah diputuskan bahwa mereka akan menentang musuh Quraisy di luar Kota Madinah (dalam Perang Uhud). Rasulullah berkata, pantang Rasulullah membatalkan keputusan syura.
Contoh lain ialah ketika satu keputusan telah dibuat untuk menjodohkan si pulan dengan seorang perempuan. Tiba-tiba terjadi keraguan dengan keputusan tersebut. Maka dalam Islam, hukumnya tidak boleh membatalkan keputusan pertama itu. Tentang ragu-ragu tersebut hendaklah dihadapi dengan bertawakkal kepada ALLAH. Kecuali dengan alasan-alasan yang dibenarkan oleh syariat, barulah keputusan pertama boleh dibatalkan. Umpamanya, didapatkan lelaki itu penipu, penjahat, berpenyakit dan membuat kerja terkutuk yang lain.

Karena perkara-perkara yang boleh disyurakan itu ialah perkara-perkara yang belum ditetapkan hukum dan caranya oleh ALLAH, perkara yang belum diarahkan oleh ketua dan perkara yang belum diputuskan oleh syura sebelumnya, artinya perkara-perkara itu ialah:
  1. Soal-soal teknik dan style yang wajib dan sunat untuk dapat melaksanakan hukum-hukum ALLAH. Misalnya, dalam melaksanakan shalat boleh dibincangkan tentang tempat wudhuknya, tempat shalat, cara-cara untuk mengajak orang banyak untuk shalat dan lain-lain lagi. Usaha-usaha untuk mengharamkan arak boleh disyurakan, umpamanya berbincang bagaimana untuk membatasi penghasilan arak, penjualannya dan alternatif pengganti arak. Kiaskanlah dengan hal-hal lain seperti cara-cara untuk membangun rumah sakit Islam, di mana, kapan, sebesar apa, bagaimana bentuknya dan sebagainya.
  2. Soal-soal ke arah pelaksanaan perintah ketua jemaah atau negara. Misalnya, ketua mengarahkan pindah. Maka syurakan bagaimana cara-cara perpindahan itu dapat dibuat. Atau ketua arahkan buat program Maulid Nabi, maka disyurakanlah cara-cara menjayakannya.
  3. Syura mengenai perkara-perkara yang mubah hukumnya. Misalnya, pembinaan tempat-tempat wisata, program musafir (ekspedisi), membangun tempat-tempat hiburan yang halal dan sebagainya.

MAJELIS SYUYUKH

Dalam Islam, dasar pemerintahan negara ditentukan oleh majelis tertinggi yang dinamakan Majelis Syuyukh (Dewan Eksekutif). Selain untuk menentukan dasar, majelis itu juga merupakan badan yang mengijinkan atau membuat keputusan terhadap persoalan-persoalan negara yang penting. Sebab itu  disebut juga Majelis Tamfiz (Dewan Perijinan). Misalnya, pemimpin ragu-ragu untuk bertindak terhadap suatu keputusan maka hendaklah dibawa ke Majelis Tertinggi (Syuyukh atau Tamfiz) untuk diputuskan dan diluluskan. Contoh lain ialah tentang hukum-hukum yang tidak jelas dan tentang isu pemimpin serta kepemimpinan negara, maka Majelis Syuyukh yang bertanggung jawab untuk memberi keputusan, melantik atau menggugurkan serta membuat perubahan dari masa ke masa. Anggota Majelis Syuyukh boleh juga dipanggil Ahlul Halli Wal ‘Aqdi. Ciri-ciri istimewa mereka itu ialah:
1. Ulama yang bertakwa
2. Luas ilmunya
3. Dihormati umum
4. Berpengalaman
5. Pengetahuan umumnya luas

Dengan maksud supaya ciri-ciri itu membuat keputusan yang mereka buat diterima dan dihormati oleh orang banyak. Namun, mereka itu tidak mesti dari kalangan pemimpin resmi. Siapa yang sesuai dengan ciri-ciri tadi, maka layaklah dijemput untuk menjadi Ahlul Halli Wal ‘Aqdi atau anggota Majelis Syuyukh.

Begitulah serba ringkas tentang sistem syura menurut praktek Islam. Begitu sederhana, tenang, selamat dan memberi hasil yang besar dan hebat. Kenaikan pemimpin bukan hasil lobi tetapi dari hati. Pemimpin bukan mengharapkan gaji tapi bagai ayah yang menjaga anak-anak atas rasa tanggung jawab dan kasih sayang. Ayah dan ibu lebih suka melihat anak-anak senang dan bahagia sekalipun  dia menjadi korban.
Karena itu Parlemen Islam bagaikan sebuah keluarga. Keluarga yang harmoni, yang aman damai dan penuh tanggung jawab. Tidak ada sengketa, mencaci-maki, mujadalah dan akhlak-akhlak buruk. Masing-masing takut pada ALLAH, tidak bermegahan. Masing-masing bermaksud mencari kebenaran bukan kepentingan. Masing-masing bertanggung jawab dan tidak culas.

Dengan itu barulah lahir ketenangan di tengah masyarakat. Yang batil lenyap, kebenaran tertegak. Rakyat taat, pemimpin bertanggung jawab. Apa pendapat anda tentang parlemen yang berkasta-kasta, suka mujadalah (berdebat), sindir- menyindir, tidak serius, kebenaran tidak jelas, pemimpin diolok-olok,  saling menjatuhkan, kursi melayang dan tinju diacungkan?



BAB 18 Majelis Kehakiman Islam


DALAM buku saya, FALSAFAH PELAKSANAAN HUKUM HUDUD DALAM MASYARAKAT, telah ditegaskan bahwa ALLAH SWT telah memerintahkan hukuman-hukuman hudud dan ta'zir dijalankan terhadap segelintir orang-orang jahat untuk mengawal kebaikan-kebaikan dalam masyarakat. Dengan hukuman hudud dan ta'zir itu, masyarakat selamat dan aman damai dari gangguan segelintir penjahat.

Pelaksanaan hukum ALLAH itu dibuat di mahkamah Islam oleh Majelis Keadilan atau Kehakiman Islam di dalam Negara Islam. Majelis keadilan atau kehakiman itu akan menyelaraskan hukum-hukum hudud dan ta'zir ini supaya  dijatuhkan kepada semua terdakwa di setiap mahkamah di seluruh negara.

Di dalam Negara Islam, mahkamah tidak dibedakan kepada mahkamah sipil dan mahkamah syariah. Hukum-hukum hudud dan ta'zir untuk segala bentuk kesalahan dijatuhkan oleh satu mahkamah. Tidak ada pembedaan kesalahan sipil dan kesalahan syariah sebagaimana terjadi dalam negara sekuler hari ini. Tetapi bila kita mengkategorikan mahkamah-mahkamah menjadi mahkamah rendah, mahkamah tengah dan mahkamah tinggi, tidaklah salah dan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Supaya para hakim dibagi menurut kemampuan. Yang penting setiap hakim itu menghukum dengan hukum ALLAH.

Mahkamah Islam dikendalikan oleh Majelis Keadilan atau Majelis Kehakiman. Majelis ini adalah badan bebas yang dilantik oleh khalifah (pemerintah). Maksudnya, badan itu tidak tunduk pada pengaruh apapun, sekalipun pada khalifah atau ketua negara. Di mana bila ketua negara dituduh bersalah, Majelis Keadilan akan tetap mengadilinya. Bahkan bila anggota majelis itu sendiri yang didapatkan bersalah, mereka tetap diadili oleh anggota majelis yang lain.

Begitulah pembahasan kehakiman dalam Islam, yang memperlihatkan betapa jujur dan adilnya dalam menegakkan kebenaran dan keadilan. Tidak ada siapa pun yang berada di atas undang-undang atau kebal terhadap undang-undang. Tiada siapa pun yang terlepas dari hukuman bila ia bersalah. Dan tidak ada satupun yang terhukum jika tidak bersalah. Di dalam Islam,  kaedah menghukum itu diantaranya ialah:
"Lebih baik tidak menghukum daripada salah menghukum"


Anggota Majelis Keadilan (Kehakiman) lslam

Anggota majelis ialah hakim-hakim Islam. Khalifah boleh melantik dirinya sendiri untuk menjadi anggota majelis, sekiranya beliau tidak keberatan. Jika tidak, beliau boleh melantik dari kalangan kadhi-kadhi atau hakim-hakim. Bila mereka itu dilantik, mereka tidak terikat dan tidak dipengaruhi lagi oleh khalifah.Tujuan utama majelis itu seperti yang tersebut di atas tadi ialah untuk menyelaraskan undang-undang Islam (yakni hukum-hukum hudud dan ta'zir) yang akan dihukumkan kepada semua terdakwa di seluruh mahkamah. Baik kejahatan kriminal dan perdata, semuanya diadili dan dihukum di bawah satu mahkamah.

Untuk tujuan itu, supaya majelis itu benar-benar berfungsi, bebas dari pengaruh apapun, betul-betul adil dalam membersihkan negara dari maksiat dan mungkar, tidak ada yang teraniaya dan terlepas dari hukuman, maka syarat-syarat keanggotaan majelis adalah seperti berikut:

Tuan Hakim yang menjadi ahli Majelis Keadilan atau Majelis Kehakiman mestilah seorang lelaki, beragama Islam, baligh, akil dan merdeka. Dengan sifat-sifat istimewa yang wajib ada:

Syarat 1:

Bertakwa (warak dan adil). Sebab seorang yang bertakwa itu sangat takut kepada ALLAH. Dengan itu dia sangat bimbang dan berhati-hati dalam menjatuhkan hukuman. Orang yang tidak bertakwa tidak ada perasaan seperti itu.Jika ada orang bukan Islam bertanya, "Apakah buktinya orang Islam mengaku bahwa mereka dapat bertindak adil?"

Di sini saya malu menjawab bahwa takwalah yang menentukannya. Seorang yang betul-betul cinta dan takut kepada ALLAH tidak akan tegak dan tidak akan berani untuk berbuat tidak adil dalam tugasnya. Sebab ALLAH sangat memerintahkan hamba-hambaNya agar berlaku adil. Lihatlah firmanNya:
Berlaku adillah, karena adil itu mendekati taqwa. (Al Maidah : 8)

Logikanya begini:
Dalam satu kelas, ada seorang anak murid yang sangat sayang dan sangat takut kepada gurunya. Bila guru menyuruh suatu pekerjaan, dialah yang paling gairah menyambut suruhan gurunya. Di waktu guru marah, dialah yang paling ketakutan dan cepat-cepat mencari jalan agar guru hilang marahnya.
Dalam keadaan demikian, adakah murid ini tega untuk tidak menghiraukan suruhan-suruhan gurunya? Dibandingkan dengan murid lain, mana yang lebih banyak berbuat untuk gurunya? Dengan kata lain, siapa yang lebih adil dalam menjalankan peraturan kelas yang dibuat oleh guru? Jawabnya, tentulah murid itu, bukan?

Demikianlah juga terhadap hukum ALLAH itu, hanya orang bertakwa kepada ALLAH saja yang akan sungguh- sungguh melaksanakannya karena bertindak adil itu adalah perintah ALLAH. ALLAH menciptakan manusia mencintai keadilan secara fitrah. Sedangkan orang Islam yang bertakwa melakukannya karena dorongan (iman) takut dan cinta kepada Zat yang empunya hukum. Tentu orang bertakwalah yang sepatutnya lebih berhasil dalam urusan itu. Sebab dorongan fitrah tidak cukup kuat dibandingkan dengan dorongan takut dan cinta. Untuk mengenal orang yang bertakwa, lihatlah hidupnya, yakni perilakunya terhadap hukum-hukum ALLAH. Dibandingkan dengan orang-orang lain, dia lebih serius dengan hukum-hukum ALLAH. Dia gairah melaksanakan hukum yang wajib dan sunat serta sungguh-sungguh mujahadah meninggalkan yang haram dan makruh. Akhlaknya dengan manusia sangat tinggi, jauh berbeda dengan manusia yang tidak bertakwa. Dalam pergaulannya, dia kelihatan tidak pemarah, tidak emosional, bersifat pemurah, pemaaf, mudah minta maaf, simpati, bertimbang rasa dan mahmudah yang lain.

Syarat 2:

Luas ilmunya tentang hukum, sah dan batal, hudud dan ta'zir serta hal lain yang berkaitan dengannya. Sepatutnya ilmunya bertaraf mujtahid. Jika tidak, sekurang-kurangnya dia terkenal sebagai pakar hukum.

Syarat 3:

Ilmu pengetahuan umum seperti ilmu psikologi manusia, situasi masyarakat dan isu terbaru hendaklah luas.

Syarat 4:

Cerdik dan peka.

Syarat 5:

Berpengalaman .

Dengan segala syarat dan sifat-sifat tadi, barulah seorang hakim atau kadhi itu dikatakan berwibawa. Ia diyakini dan disegani oleh orang banyak.

Di zaman ini sulit rasanya untuk mendapatkan hakim-hakim atau kadhi-kadhi yang berwibawa seperti ini. Sebab itu untuk Negara Islam, pejuang-pejuang Islam mesti serius menyediakan kadhi-kadhi atau hakim-hakim yang bersifat seperti itu. Terutama badan-badan politik Islam yang gairah menginginkan Negara Islam. Persediaan ke arah itu janganlah dipandang kecil. Sebab hal itu menentukan berhasil atau gagalnya Negara Islam, bila badan politik Islam itu menguasai sebuah negara.

Perlu rasanya saya sebutkan di sini tentang kedudukan hakim-hakim yang bukan Islam di dalam Negara Islam. Mahkamah Islam hanya dipertanggungjawabkan oleh hakim-hakim dan kaki tangan yang beragama Islam saja. Sebab hanya orang Islam yang tahu hukum-hukum Islam dan yang bertakwa. Sebab itu hakim-hakim bukan Islam tidak dilibatkan kecuali bila berlaku kesalahan-kesalahan orang-orang bukan Islam yang berkaitan dengan adat-istiadat dan agama mereka. Maka hal itu akan ditanyakan kepada hakim-hakim mereka. Namun untuk kesalahan-kesalahan umum seperti zina, mencuri, mwmbunuh, maka hudud dan ta'zir juga akan dijalankan, sekalipun kepada terdakwa yang bukan Islam. Untuk lebih jelas lagi tentang konsep ini silahkan membaca buku FALSAFAH PELAKSANAAN HUKUM HUDUD DALAM MASYARAKAT.


Tanda-tanda Penyelamat hampir Tiba

SEJARAH pasti berulang. Kebangkitan Islam yang kedua di akhir zaman sudah jelas dijanjikan oleh ALLAH melalui lidah Rasulullah SAW. Sebab itu dunia menunggu-nunggu saat terjadinya peristiwa itu. Di setiap kurun generasi baru mengharap di tangan merekalah terjadinya janji yang indah itu. Namun hingga kini belum lagi menjadi kenyataan.

Proses kebangkitan itu sudah diceritakan secara umum dalam rangkaian Hadist-Hadist yang khusus. Bermula dari Hadist yang menceritakan watak dunia waktu itu yang kembali mengulangi ciri-ciri jahiliah. Maka untuk penyelesaiannya, dijanjikan seorang Khalifah Rasulullah untuk akhir zaman yaitu Imam Mahdi (Muhammad bin Abdullah). Namun Imam Mahdi tidak datang sendirian. Beliau akan didahului oleh seorang Pemuda dari Bani Tamim yang akan menyerahkan kuasa padanya. Ciri-ciri kumpulan Bani Tamim itu juga agak masyhur di kalangan ulama-ulama Islam yang peka terhadapnya. Terdapat banyak kitab-kitab yang menceritakannya. Di antaranya Aj Jami Us Soghir 'Aqdud Durar Fi Akbaril Muntazar dan lain-lain. Masa berlakunya peristiwa itu tidak dijelaskan. Namun tempat terjadinya nyata disebut di Timur dan di Khurasan. Berikut akan saya  turunkan rangkaian Hadist-Hadist tentang peristiwa-peristiwa akhir zaman itu. Yakni proses kebangkitan Islam yang telah diset lengkap oleh ALLAH, untuk kembali Islamnya dunia ini sekali lagi.
Rasulullah SAW bersabda:
Telah berlaku zaman Kenabian ke atas kamu, maka berlakulah zaman Kenabian itu sebagaimana yang ALLAH kehendaki. Kemudian ALLAH mengangkat zaman itu. Kemudian berlakulah Zaman Kekhalifahan (Khulafaur Rasyidin) yang berjalan seperti zaman Kenabian. Maka berlakulah zaman itu, sebagaimana yang ALLAH kehendaki. Kemudian ALLAH mengangkatnya lalu berlakulah zaman Pemerintahan yang menggigit (zaman Fitnah). Berlakulah zaman penindasan dan penzaliman (pemerintahan diktator) dan berlakulah zaman itu sebagaimana yang ALLAH kehendaki. Kemudian berlaku pula zaman Kekhalifahan (Imam Mahdi dan Nabi Isa) yang berjalan di atas cara hidup zaman Kenabian.(Riwayat Ahmad)

Dari Ibnu Umar r.a. bahwa Nabi SAW sambil memegang tangan Sayidina Ali baginda bersabda, "Akan keluar dari sulbi ini seorang lelaki yang akan memenuhi bumi ini dengan keadilan. Apabila kamu mendapati demikian itu, hendaklah kamu bersama Pemuda dari Bani Tamim itu. Sesungguhnya dia datang dari sebelah Timur dan dialah pemegang panji-panji Al Mahdi".(Riwayat Ath Thabrani)

Jika dunia tidak tinggal hanya sehari saja niscaya ALLAH SWT memanjangkan hari itu sehingga bangkit padanya seorang lelaki dari keturunanku atau dari kaum keluargaku, yang namanya menyerupai namaku, dan nama bapaknya menyerupai nama bapakku, ia akan mewarnai bumi dengan keadilan dan seksama sebagaimana (sebelumnya) bumi dipenuhi kezaliman dan kekejaman.(Riwayat Abu Daud dan Tarmizi)

Akan berlaku di akhir zaman Islam muncul dari bumi sebelah timur. (dari kitab Sababul Inhithath Al Muslimin oleh Sayid Hasan Ali An Nadawi)

Dari Abdullah bin Mas'ud yang berkata, "Ketika kami berada di sisi Rasulullah SAW tiba-tiba datang sekumpulan anak-anak muda dari kalangan Bani Hashim. Apabila terpandang akan mereka, maka kedua mata Rasulullah SAW berlinang air mata dan wajah baginda berubah. Aku pun bertanya, "Mengapa kami melihat pada wajahmu sesuatu yang tidak menyenangkan hati kami?" Baginda menjawab, "Kami ahlul bait telah ALLAH SWT untuk kami Akhirat lebih dari dunia. Kaum kerabatku akan menerima bencana dan penyingkiran setelahku kelak sehinggalah datang suatu kaum dari sebelah Timur dengan membawa bersama-sama mereka panji-panji berwarna hitam. Mereka meminta kebaikan tetapi tidak diberikannya. Maka mereka pun berjuang dan memperoleh kejayaan lalu diberikanlah apa yang mereka minta itu tetapi mereka tidak menerima hingga mereka menyerahkannya kepada seorang lelaki dari kaum kerabatku yang memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kedurjanaan. Siapa di antara kamu yang sempat menemuinya maka datangilah mereka walaupun mereka merangkak di atas salju" (Riwayat Ibnu Majah)

Sesungguhuya ketika zahir Al Mahdi, menyerulah malaikat dari atas kepalanya, "Inilah Al Mahdi sebagai khalifah ALLAH maka kamu ikutilah". Seluruh manusia tunduk dan patuh padanya dan mengecap kasih sayangnya. Sesungguhuya Al Makdi itu menguasai Timur dan Barat. Dan adapun yang membuat bai'ah kepadanya di antara rukun dan maqam, yang pertama sebanyak ahli Badar. Kemudian Abdal dari Syam mendatanginya, diikuti oleh Nujaba' dari Mesir dan Asoib dari Timur. Setelah itu ALLAH mengutus kepadanya tentara dari Khurasan dengan bendera-bendera hitam dan mereka menuju ke Syam. Dan ALLAH mengutus kepadanya dengan 3000 malaikat dan anggota (Ashabul) Kahfi di antara pembantu-pembantunya.

Dari Al Hassan, bahwasanya Nabi menyebut bala yang akan menimpa keluarganya hingga ALLAH mengutus panji-panji hitam dari Timur, siapa yang menolongnya ALLAH akan menolongnya dan siapa menghinanya ALLAH akan menghinanya, hingga mereka itu mendatangi seorang lelaki yang namanya seperti namaku. Mereka pun melantiknya memimpin mereka, maka ALLAH pun membantu dan menolongnya.(Riwayat Nuaim bin Hammad)

Dari Sauban r.a. dia berkata, telah bersabda Rasulullah SAW, "Akan datang Panji-Panji Hitam (kekuasaan) dari sebelah Timur, seolah-olah hati mereka (pendukung-pendukung) bagai kepingan-kepingan besi (jiwa berani). Barang siapa mendengar tentang mereka, hendaklah datang kepada mereka dan berbai'ahlah kepada mereka sekalipun merangkak di atas atas salju."(Dikeluarkan oleh Al Hafiz Abu Naim)

Dari Ali r.a. berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Akan keluar seorang lelaki dari seberang sungai yang dikatakan Al Harist Harrast, yang dihadapannya seorang lelaki yang disebut Mansur (yang dibantu), dia yang memudahkan urusan atau membela keluarga Muhammad SAW sebagaimana Quraisy telah membela Rasulullah SAW. Wajib setiap orang Mukmin menolongnya atau baginda bersabda, "Wajib orang Mukmin menerimanya". (Riwayat Imam Abu Daud dan Al Hafiz Abu Abdul Rahman An Nasa'i, Al Hafiz Abu Bakar Al Baihaqi dan Asy Syeikh Abu Muhammad Al Hussain)

Dan Amirul Mukminin Sayidina Ali Abi Talib pernah berkata:
ALLAH mengumpulkan Sahabat-Sahabatnya (Rasulullah) sebanyak jumlah ahli Badar atau jumlah tentara Thalut sebanyak 313 orang lelaki. Seolah-olah mereka singa-singa yang keluar dari hutan. Hati-hati mereka bagaikan kepingan besi. Jika mereka berkeinginan (bercita-cita) untuk mengubah bukit niscaya mereka dapat mengubahnya dari tempat asalnya. Gaya (style) mereka satu, bentuk pakaian juga satu, seolah-olah bapak mereka itu bapak yang satu. (Dari kitab Aqdud Durar Fi Akhbaril Muntazar, Beirut 1983, halaman 95)

Apa yang ingin saya katakan ialah bahwa saat ini watak dunia sudah sama seperti yang digambarkan di dalam Hadist-Hadist tersebut. Yakni watak jahiliahnya, watak politiknya, watak kebangkitan Islamnya, watak Khurasan dan lain-lain.

Watak jahiliah dunia ini sudah lumrah dikatakan oleh semua pihak. Bukan satu yang tersembunyi lagi. Telah terlalu nyata bahwa manusia-manusia modern kini adalah manusia jahiliah. Dunia ini adalah dunia jahiliah. Sudah berulang zaman jahiliah kedua di akhir zaman. Para pemimpin berfoya-foya, menzalimi, merampok uang rakyat dan tugas kepemimpinan dijadikan ladang tempat mengeruk kekayaan lumayan. Ulama-ulama menjilat, gila dunia, hasad dengki dan membuat agama menjadi bahan bisnis untuk mencari untung duniawi. Sebahagian besar orang-orang kaya adalah lintah darat, menindas, menipu, riba menjadi amalan dan uang dijadikan umpan untuk memancing manusia kepada segala bentuk maksiat. Pemuda-pemudi di zaman jahiliah adalah agen-agen mungkar yang memperjuangkan keruntuhan moral, hidup tanpa tujuan, berfoya-foya, bercinta, berzina dan membiarkan segala macam penyakit sosial dalam masyarakat. Si miskin menjadi pelarian dalam negeri sendiri, hidup gelisah, penuh hasad dan dendam dengan si kaya lalu membuat macam-macam kekacauan dalam masyarakat.

Para cerdik pandai jahiliah gila ilmu tetapi bukan untuk beramal. Ilmu diperdagangkan untuk mencari kekayaan. Ilmu yang dikatakan tinggi itu pun cuma ilmu tentang dunia dan bukan ilmu-ilmu di sebalik dunia dan sesudahnya. ALLAH Tuhan Pencipta dan sumber bagi segala ilmu tidak betul-betul dikenal, bahkan tiada tempat dalam alam jahiliah. Kebenaran dianggap kebatilan. Kebatilan dianggap kebenaran. Arak menjadi minuman standar, zina diiklankan, suami keluar pintu depan, isteri lewat pintu belakang, anak-anak durhaka dan biadab, mesjid kosong dari mengingat ALLAH, karena dijadikan tempat berbincang hal-hal dunia, panggung pertunjukan penuh sesak, maksiat dipuja, kebaikan ditentang dan sebagainya. Karena ciri-ciri tersebut, tujuan hidup manusia sudah menjadi kurang lebih sama dengan tujuan hidup hewan dan tumbuhan. ALLAH berfirman:

Dan sesungguhnya KAMI sediakan Neraka Jahannam untuk sebagian besar jin dan manusia, di mana mereka mempunyai hati tetapi tidak mau menggunakannya untuk memahami (hukum Islam), mereka mempunyai mata tetapi tidak mau menggunakannya untuk melihat (kehebatan Allah), mereka juka memiliki telinga tetapi tidak mau menggunakannya untuk mendengar (ajaran Islam). Mereka itu seperti binatang ternak bahkan lebih sesat lagi. Mereka adalah orang yang lalai. (Al A'raf:172)

Karena zaman jahiliah sudah berulang, maka berulang jugalah watak-watak masalah dalam masyarakat manusia. Mereka hidup benci-membenci, tuduh-menuduh, tekan-menekan, saling bersengketa, berkrisis, berperang. Keamanan hampir-hampir tidak ada. Rakyat tidak taat pada pemerintah karena pemerintah tidak berakhlak dan tidak adil terhadap rakyat. Dunia berjalan di atas 1001 masalah. Pemimpin-pemimpin dunia bersidang untuk mencari penyelesaian tetapi terjadi masalah baru yang lebih rumit. Ilmu dan akal mereka tidak mampu mencari jalan damai. Sistem hidup yang dilaksanakan menemui jalan buntu. Para pemerintah tidak tahu bagaimana mencari gantinya. Lalu membiarkan keadaan menjadi lebih kronik sedangkan  mereka terus tenggelam dalam  kemewahan dan kelalaian. Rakyat bukan saja menolak sistem feodal yang mereka perjuangkan bahkan membenci pemerintah. Mereka mengolok-olok dan memberontak terhadap pemerintah.
Sebab itu hampir semua negara-negara demokrasi di dunia, mendapatkan mayoritas suara terhadap pemerintah berkurang. Artinya rakyat sudah tidak suka dengan pemerintah. Mereka memilih hanya karena tidak ada pilihan lain. Kalau ada pilihan yang lebih baik niscaya mereka tidak memilih lagi. Di seluruh dunia, manusia bertanya-tanya dan menanti-nanti ketibaan seorang pembela dan penyelamat. Setiap hati menginginkan penyelesaian untuk masalah dunia. Penguasa dunia zaman jahiliah yakni Rom dan Parsi dibenci dan ditentang oleh anak-anak jajahan masing-masing di waktu zaman jahiliah itu sudah hampir berakhir. Sebab rakyat atau anak-anak jajahan sudah tidak tahan lagi dengan tekanan dan penzaliman serta peperangan yang mereka lakukan tidak henti-hentinya.

Maka hal itu jugalah yang sedang terjadi di dunia jahiliah kedua ini. Amerika dan Rusia ditentang oleh pendukung-pendukungnya sendiri. Buktinya di Rusia, 12 buah negara menuntut kemerdekaan dari Moskow. Akibatnya, punahlah komunis dan hancurlah kekuatan empire jahiliah itu. Kestabilan ekonomi dan politik tidak wujud lagi. Amerika juga sedang berhadapan dengan masalah yang lebih kurang sama. Yakni negara-negara yang berkiblat kepadanya kini sudah mencari-cari kiblat lain. Bahkan rakyatnya sendiri melihat Amerika sudah terlalu melampaui batas, kejam dan lemah. Saya kira lambat-laun Amerika juga akan senasib dengan Rusia, insya-ALLAH. Begitu juga setiap rakyat di dunia telah membenci pemerintahannya masing-masing. Bahkan orang-orang yang kelihatan berpihak padanya pun turut membencinya.

Apabila orang menolak dan membenci Amerika, dan di setiap negara rakyat membenci pemerintahnya, Artinya orang juga tidak percaya lagi pada sistem atau ideologi yang dipegangnya. Ya, ideologi-ideologi yang menjadi dasar pemerintahan negara-negara di dunia kini sudah menemui titik buntu. Perjalanannya sampai kepada banyak masalah yang tidak dapat diselesaikan termasuk oleh ideologi nasionalisme, kapitalisme dan lain-lain. Masyarakat udah merasakan kegagalan ideologi yang mereka anut. Gagal untuk membentuk perpaduan, akhlak mulia, ekonomi yang bersih, pendidikan yang sempurna dan sistem hidup yang lain. Satu alternatif untuk ideologi yang gagal itu sangat diperlukan sekali.

Melihat berita-berita dunia melalui tv dan surat kabar di seluruh dunia, di mana terjadi demonstrasi, kerusuhan dan penentangan lisan oleh rakyat kepada pemerintah. Ketika Perang Teluk meletus, di seluruh dunia terjadi unjuk rasa terhadap Amerika. Rakyat sudah begitu berani terhadap singa tua itu. Selain dalam tulisan, mereka menyalurkan rasa geram dan benci di jalan-jalan, di lapangan, di warung-warung kopi, restoran, di klub-klub, di mesjid, surau dan di mana saja. Mereka menginginkan keadilan dan kedamaian. Pemimpin dunia yang ada dirasakan sudah keterlaluan dan tidak layak memimpin lagi. Politik dan orang-orangnya tidak lagi dipuja bahkan kelihatan begitu kotor dan jahat. Orang politik bukan pencetus kedamaian tapi perusak dan pemecah belah. Pemimpin politik tidak dipercayai lagi. Orang sudah mulai merasakan pemimpin yang baik itu bukan dari orang politik. Dan mereka bertanya-tanya, menanti-nanti dan mencari tokoh baru yang dirindukan, bilakah akan tiba?

Artinya dunia jahiliah kedua ini sudah berada di ujung umurnya. Maka dalam situasi seperti itu, sejarah menceritakan tentang bermulanya kelahiran dunia baru yang indah. Di waktu itulah Muhammad Rasulullah dan orang-orangnya sedang berjuang gigih untuk membangun dunia Islam. Hal ini pula yang sedang berulang di depan mata kita sekarang. Bersama jatuhnya Rusia dan lemahnya Amerika, Islam sedang bangkit perlahan lahan. Setapak sistem jahiliah menuruni tangga keruntuhan, setapak pula Islam mendaki tangga kejayaan.
Tepat seperti yang disabdakan bahwa kebangkitan itu terjadi di Timur. Dan sekarang Islam dari Timur itu sedang mengembangkan sayapnya, mengarah ke bumi Khurasan. hal itu terjadi menurut jadwal yang tersusun rapi, untuk melengkapi proses kebangkitan itu. Yakni hingga berlakunya apa yang disabdakan tentang seorang pemuda Bani Tamim yang akan menyerahkan kuasa kepada Imam Mahdi.

Siapa yang faham dan dapat menyelesaikan apa yang terjadi di dunia hari ini, pasti sudah dapat menerima bahwa tidak lama lagi akan muncul Muhammad kedua, bersama sahabat-sahabatnya sebagaimana kehadiran Rasulullah di zaman jahiliah pertama dahulu. Tetapi kezahirannya itu didahului oleh Pemuda Bani Tamim dan orang-orangnya. Atau siapa tahu sebenarnya kezahiran itu sudah dimulai atau sedang bekerja, cuma dunia belum mengetahuinya? Atau ada golongan yang mengetahuinya tetapi mereka sedang menentang kebangkitan itu karena hasad dengki dan tidak senang hati. Boleh jadi penentangan itu dilakukan oleh ulama-ulama sebagaimana terjadi pada ulama-ulama Yahudi dan kristen dahulu. Bila tiba masanya nanti,  ia akan tampil ke muka untuk mengisytiharkan dirinya dan Islam yang dibawanya.

Umat Islam mesti menyadari hal itu dan berbahagia dengan kabar gembira itu. Inilah janji agung yang ALLAH hadiahkan pada umat akhir zaman. Bahkan sudah dan sedang terjadi di depan mata kita. Anda pasti melihatnya kecuali mata anda buta. Orang Yahudi pun sudah cukup arif tentang kebangkitan itu dan mereka sudah bersedia menantinya. Mereka tahu sekarang giliran Islam dan mereka mesti kalah bahkan menyerah secara rela atau terpaksa. Ini proses ulangan sejarah. Dan ini janji ALLAH yang pasti terjadi. Siapa pun tidak dapat mengelak dan menghalangnya. Dan bila hal itu terjadi, Artinya berlakulah kembali pemerintahan Islam yang adil. Pemimpinnya bagaikan payung, ulama umpama obor, si kaya menjadi bank, si miskin redha, pemuda harapan negara, pemudi tiang negara. Waktu itu negara benar-benar berada dalam keadaan aman, makmur dan mendapat keampunan ALLAH.

Penyelamat kecil (Pemuda Bani Tamim) dan penyelamat besar (Imam Mahdi) yang bakal lahir itu, saya yakin bukan dari kalangan orang politik. Karena sudah maklum bahwa yang merusak dunia hari ini adalah orang politik. Jadi mana mungkin akan ada dari kalangan mereka yang dapat menjadi penyelamat dunia ini. Pemimpin yang adil ialah orang-orang ALLAH, di mana ALLAH menaikkan mereka sebagai pemimpin melalui cara-cara yang ALLAH takdirkan. Sebagaimana naiknya Rasulullah dan para mujaddid bukan melalui politik atau hasil pilihan rakyat jelata, maka demikianlah naiknya penyelamat akhir zaman baik pemimpin yang kecil (Pemuda Bani Tamim) maupun pemimpin yang besar (Imamul MahUi), tidak mungkin melalui politik dan pemilihan.  Politik penuh permainan, kepentingan, tipuan dan kebatilan. Orang-orang yang bersih pasti tidak menempuh jalan yang bahaya dan kotor itu.

Watak orang-orang ALLAH itu biasanya adalah orang-orang yang sangat dibenci dan juga sangat disayangi. Pendukungnya adalah orang yang tidak diduga dan penentangnya juga orang yang tidak disangka. Pemimpin-pemimpin itu bukan lahir dari sistem pendidikan biasa. Kita berdoa moga-moga ALLAH segerakan janji-janjiNya untuk kita. Dan kita berharap agar kita turut bersedia untuk terlibat di dalam operasi agung ini. Moga-moga kita tidak termasuk ke dalam orang-orang yang tidak mempercayai, apalagi menentangnya.


Bab 03 Pemerintahan Islam

DALAM Islam adanya seorang pemimpin atau pemerintah dalam negara adalah wajib hukumnya. Maknanya, setiap rakyat dalam satu negara, wajib memiliki pemimpin. Kalau tidak ada pemimpin, maka berdosalah setiap orang Islam dalam negara itu.

Pentingnya pemimpin adalah untuk mengajar, mendidik dan memimpin rakyat kepada jalan kebenaran, keadilan, keselamatan dan kebahagiaan hidup yang hakiki dunia dan Akhirat. Dengan kata lain, pemimpin bertanggung jawab untuk membuat rakyat dan negara aman, makmur dan mendapat keampunan ALLAH. Untuk itu pemimpin bukanlah dari sembarang orang. Pemimpin Islam bukannya hasil dipilih, diperebutkan atau hasil menonjolkan diri. Pemimpin bukan juga dipilih karena tamatan dan gelar. Sebab memimpin bukan pekerjaan untuk mendapatkan rezeki dan tidak juga untuk mencari publisitas. Lebih-lebih lagi bukan ladang tempat mengeruk kekayaan.

Tugas pemimpin adalah tugas menyelamatkan umat di dunia dan Akhirat. Untuk itu dia hendaklah menjadi seorang yang betul-betul dapat melakukan kerja itu. Kebolehan atau karisma kepemimpinan m‱rni telah ALLAH bekalkan padanya. Ditambah dengan ilmu kepemimpinan yang ALLAH didik padanya, watak, latar belakang kehidupan, didikan awal yang diterima dan lain-lain, yang serba ada untuk membuat dia layak membawa umat kepada keselamatan dunia Akhirat. untuk menjadi penggembala lembu pun mesti ada syarat-syarat khusus, apalagi untuk menggembala manusia, yang nafsunya lebih liar lagi dari lembu itu. Mana boleh tugas itu diberikan pada siapa saja yang mau. Kalau bukan orangnya, umat akan rusak dibuatnya. Sebab itu Islam menetapkan syarat-syarat dan sifat-sifat yang wajib ada pada seorang pemimpin.

Marilah kita kaji syarat-syarat dan sifat-sifat itu dengan teliti supaya kita tahu siapa yang layak untuk kita pilih sebagai pemimpin dan siapa pula yang tidak layak memimpin dalam sebuah Negara Islam.
Syarat syarat menjadi pemimpin:
  1. Beragama Islam. Orang yang bukan Islam tidak boleh menjadi pemimpin kepada orang Islam.
  2. Lelaki. Perempuan tidak boleh menjadi pemimpin. Cuma boleh menjadi wakil pemimpin.
  3. Baligh. Anak-anak tidak boleh menjadi pemimpin.
  4. Akil yakni berakal cerdik. Orang yang lemah akal atau gila tidak boleh menjadi pemimpin.
  5. Merdeka. Hamba sahaya tidak layak menjadi pemimpin.
  6. Sempurna anggota tubuhnya. Orang cacat tidak boleh menjadi pemimpin. Sebab cacat itu menghalanginya untuk aktif dalam tugasnya.


Sifat-sifat yang wajib bagi pemimpin:

1. Memiliki ilmu Islam dan buah fikiran
Sepatutnya ilmunya bertaraf mujtahid. Paling tidak ia mempunyai ilmu yang agak luas secara menyeluruh. Yakni pemikirannya dalam semua aspek ilmu didasarkan pada ilmu wahyu dan sabda Nabi. Karena sebagai pemimpin, ia mesti tahu untuk menjatuhkan hukum halal atau haram, wajib atau sunat, makruh atau mubah dan lain-lain. Karena dasar, teknik dan tujuan kerja ke atas sesuatu perkara termasuk hal-hal pemerintahan, proyek-proyek perindustrian, pendidikan, pertanian, kesehatan, ketentaraan dan lain-lain,  yang tentunya hendak dibangunkan, mesti diberi jawaban dan jalan penyelesaian yang tepat dengan Al Quran dan Hadist. Demikian juga terhadap isu semasa apapun baik isu yang kecil atau besar, dalam negara atau di luar negara yang selalu terjadi, berubah dan berkembang di dunia, yang perlu ditentukan hukumnya.

Pemimpin mesti dapat menentukan sikap yang benar menurut Islam, boleh atau tidak, halal atau haram, bahaya atau tidak dan kemungkinan lain. Hal ini sungguh penting, yang mana kalau pemimpin gagal menentukan sikap yang tepat untuk jangka pendek atau jangka panjang, banyak kemungkinan yang tidak baik akan terjadi pada negara dan masyarakat. Maka pemimpin sangat memerlukan ilmu Islam, buah fikiran, ide yang kreatif dan strategi dalam kepemimpinannya.

Rasulullah SAW ketika melepaskan Sayidina Muaz menjadi gubernur di Yaman, baginda bertanya,
"Dengan apa nanti engkau menghukum?"
 "Dengan Kitabullah," jawab Muaz.

"Kalau tidak ada?"
"Dengan Sunnah RasulNya."
"Jika tidak ada dalam Sunnah?"
Muaz menjawab, "Aku akan berijtihad dengan fikiranku."
Rasulullah berkata, "Segala puji bagi Allah yang menyelaraskan kefahaman utusan Rasulullah dengan apa yang diredhai Rasulullah."
(Riwayat Ahmad, Abu Daud dan At Tarmizi)
Dalam soal kepemimpinan, 1001 hal dan persoalan akan timbul. Sedangkan tidak semua hal itu ada dalam Al Quran dan Hadist. Di situlah ide dan buah fikiran (yang berdasarkan wahyu) seorang pemimpin sangat penting, sehingga ia dapat melakukan ijtihadul fikri dalam semua hal yang ditimbulkan. Sebaliknya kalau seorang pemimpin tidak tajam akalnya, ilmunya pun tidak cukup, tidak kreatif dan tidak berstrategi, negara dan rakyat akan jadi hidup segan mati tak mahu. Rakyat akan menjadi liar. Masalah yang timbul lebih banyak dari kebaikan yang terjadi. Sekalipun dari segi peribadi, pemimpin itu seorang yang baik.
llmu kepemimpinan yang ada dalam pengajaran di universitas pada hari ini telah melahirkan pemimpin dunia yang tidak bersandar pada ilmu-ilmu wahyu itu. Mereka ternyata telah gagal memimpin manusia dan negara menjadi betul-betul aman, makmur dan mendapat keampunan ALLAH. Umat Islam pun disebabkan merujuk ke sana,  bukan saja tidak dapat membuat negaranya maju,  layak menaklukkan dunia, bahkan masalah-masalah dalam negara pun tidak dapat diatasi dan rakyat tetap tidak terdidik. Begitu juga ilmu yang didapatkan di pengajian-pengajian pondok atau pesantren dan di sekolah-sekolah agama hari ini gagal melahirkan pemimpin yang dapat menyelesaikan pembangunan insaniah dan pembangunan materiil ummah.
Umumnya, negara-negara umat Islam di dunia ini, rakyatnya menderita, menghadapi masalah keuangan, krisis sesama sendiri, perpecahan, perkelahian, pergeseran, tindas-menindas, menyalahgunakan kuasa, tuduh-menuduh dan 1001 masalah yang tidak dapat dijawab dan diselesaikan oleh pemimpinnya. Bahkan pemimpin berperanan membuat masalah, untuk menjadikan negara lebih lemah, mundur dan bertambah hancur. Itulah hasil kepemimpinan yang sedang terjadi di seluruh dunia hari ini, yang merujuk ilmu kepemimpinan pada ideologi-ideologi rekaan manusia. Atau merujuk kepada pengajian-pengajian yang pasif dan beku seperti pengajian yang ada di pondok-pondok dan pesantren.

2. Mengerti memimpin rakyat
Pemimpin seolah-olah orang yang matanya terbuka, bertugas membawa orang-orang buta menuju tujuannya. Rakyat yang berjuta-juta dalam sebuah negara hendak dijaga, dilindungi, digerakkan fisik, mental dan spiritualnya agar berguna untuk diri, keluarga, masyarakat, agama dan negara. Mereka hendak diletakkan pada kedudukan dan peranan yang tepat supaya setiap orang dapat memberi sumbangan kepada agama, negara dan masyarakat.

Tidak mudah untuk memimpin orang. Tidak mudah orang mengikuti kata-kata kita. Tidak mudah untuk mengumpulkan orang untuk bersama-sama kita. Untuk satu hati dan satu kata-kata. Dan juga, tidak mudah untuk membuat rakyat yang jahil itu menjadi pandai, yang malas menjadi rajin, yang keras kepala menjadi jinak, yang tidak pernah bekerja disuruh bekerja, yang jahat menjadi baik, yang tidak faham syariat akan difahamkan, yang menentang menjadi taat dan sebagainya. Lebih-lebih lagi tidak mudah untuk membina negara dan masyarakat maju di atas segala masalah, kelemahan dan kejahilan ini. Tetapi itulah tugas pemimpin Islam. Dia mesti tahu cara-cara memimpin, tahu seni silatnya, umpan-umpannya, rahasia-rahasia dan segala-galanya.

Ilmunya itu bukan berada di dewan kuliah di universitas manapun. Sumber ilmu yang diperoleh oleh seorang pemimpin itu sebenarnya datang dari:
  1. Al Quran dan Hadist.
  2. Watak dan jiwa kepemimpinan yang terasuh sejak kecil.
  3. Latar belakang kehidupan dan pengalaman hidup di tengah-tengah masyarakat dan kehidupan pancaroba.
  4. Pengalaman memimpin, cita-cita perjuangan dan hidupnya.
  5. Bantuan ALLAH baik dari segi ilmu-ilmu yang diilhamkan atau setidak-tidaknya yang didorongkan.
Kerja memimpin tidak dapat dibuat dengan resmi, dari atas pentas atau dari jauh. Untuk membuat si buta pandai berjalan, tidak dapat diperintah saja dari jauh. Kita mesti pegang tangannya. Dituntun perlahan-lahan atau beri dia tongkat. Ajar cara menggunakannya secara sungguh-sungguh dan berkali-kali hingga dia pandai sendiri. Artinya, pemimpin mesti hidup di tengah-tengah rakyat. Makan bersama, shalat jemaah bersama, berbincang bersama dan lain-lain. Jangan hanya berjumpa mereka pada waktu majelis resmi saja. Hingga kehidupan lahir dan batin pemimpin dapat dicontoh, diikuti, diteladani dan lain-lain. Rumah pemimpin, jangan sampai mengecilkan hati rakyat. Pendapatan pemimpin jangan sampai melukai hati rakyat. Pendeknya, untuk kejayaan memimpin hingga rakyat kasih dan taat setia padanya, pemimpin mesti menjadi sebagian dari rakyat.
Pemimpin yang menjauhi rakyat, tidak mau tahu masalah rakyat, nanti rakyat pun akan tidak mau tahu padanya. Maka kepemimpinan pemimpin tersebut tidak akan menghasilkan apa-apa. Rakyat terbiar bagaikan lembu dibiarkan oleh pengembalanya. Apa yang terjadi?

3. Mendidik
Selain dari memiliki ide dan ilmu kepemimpinan yang tepat, pemimpin mesti mampu mendidik umat. Dia mampu menyampaikan ilmu pada rakyat baik ilmu Al Quran dan Hadist atau buah fikirannya. Pemimpin yang pandai tetapi rakyat tidak terdidik, tidak juga dapat menjayakan kepemimpinannya. Macam-macam keputusan dan aturannya tidak dapat dilaksanakan. Bila pembangunan insan tidak berjaya, pembangunan materiil juga tidak akan berjalan.

Untuk mendidik dengan jayanya, pemimpin mesti mengenal dirinya dan pandai mendidik dirinya. Seorang yang tidak kenal diri dan tidak tahu mendidik dirinya, niscaya tidak dapat mengenal rakyatnya dan tidak tahu mendidiknya. Mengenal diri yang dimaksudkan ialah mengenal sifat-sifat lahir dan batin baik yang positif maupun negatifnya. Sifat positif ialah sifat mahmudah seperti berani, pemurah, kasih sayang, sabar, tawadhuk, pemaaf, lemah-lembut dan lain-lain. Sifat negatif ialah sifat mazmumah seperti penakut, ego, bakhil, pemarah, dengki, dendam, riya', cinta dunia dan lain-lain.

Seorang pemimpin yang kenal dirinya memiliki sifat positif dan negatif, akan berusaha menyuburkan sifat-sifat yang baik itu dan berusaha membuang sifat-sifat jahat. Cara untuk melakukan mujahadatunnafsi ini mesti melalui proses takhalli, tahalli dan tajalli. Saya telah membicarakan persoalan ini dengan panjang lebar dalam buku saya yaitu IMAN DAN PERSOALANNYA, MENGENAL DIRI MELALUI RASA HATI.

Apa yang perlu diingat oleh pemimpin ialah gagalnya kepemimpinan yang ada di dunia hari ini umumnya adalah karena adanya sifat jahat yang diperturutkan pada diri mereka. Terutama sifat-sifat ego, pemarah, bakhil, mementingkan diri, tidak ada belas kasihan, riya' dan sebagainya. Sifat-sifat ini kalau dikekalkan, orang cepat lari dari kita. Orang benci, kecil hati dan marah pada kita. Di depan kita mungkin mereka tunduk atau menunjukkan kepatuhan. Karena takutnya mereka pada kita (maklumlah kita memiliki kuasa, memiliki polisi dan tentara). Tetapi dalam hatinya dan di belakang kita mereka membicarakan keburukan kita. Segala kepandaian, kehebatan dan jasa kita tidak akan bernilai, kalau kita selalu menyakiti hati mereka. Kita akan tinggal sendirian dan dilupakan orang. Waktu masih hidup sudah terjadi, apalagi setelah mati. Bahkan mungkin hal itu akan menjadi modal musuh untuk menjatuhkan kita.

Sebab itulah ALLAH sangat melarang sifat mazmumah itu diikuti, sebab akan membinasakan diri kita sendiri. Sifat riya' misalnya, akan memusnahkan kebaikan kita karena kita berbuat bukan karena ALLAH. Tetapi karena mengharapkan pujian manusia agar orang kenang jasanya, memberi hati dan pilihan untuknya. Dia akan menyebut-nyebut jasanya serta mengungkit-ungkit kalau ada orang yang menentangnya. Orang seperti itu selain dibenci oleh manusia, ALLAH pun sangat marah padanya. Firman ALLAH:
Wahai orang yang beriman janganlah kamu membatalkan sedekah kamu (segala bentuk kebaikan) dengan menyebut-nyebut meminta dibalas dan menyakiti (perasaan penerima).(Al Baqarah 264)
Jadi, pemimpin yang memiliki sifat riya' mesti belajar dan mendidik diri untuk menjadi orang ikhlas. Hal itu bukan mudah. Apalagi seorang yang tidak memiliki ilmu agama. Yakni ilmu ihsan, akhlak atau tasawuf. Lebih-lebih lagi bagi orang yang menentang ajaran tasawuf, sufi dan tareqat. Dengan ilmu apa lagi mereka dapat membersihkan hati dan melawan nafsu? Dengan ilmu kemasyarakatan, ilmu sains atau ilmu apa?
Bila nafsu dibiarkan, tidak dilawan melalui latihan mujahadah yang berdisiplin dan istiqamah, bahkan diturutkan semau-maunya, pemimpin bukan saja tidak menjadi orang baik (soleh dan bertakwa) bahkan bertambah crook dan menjadi perompak serta pencetus masalah dalam negara. Akhirnya bukan saja rakyat, kawan satu partai pun benci. Dan coba anda gambarkan serta saksikan ke dalam negara yang pemimpinnya tidak mendidik dirinya dan rakyatnya juga tidak terdidik, lalu semuanya menurutkan nafsu tamak, gila dunia, ego, pemarah, gila kuasa, bakhil, takabur, dengki, dendam, benci-membenci, saling mengumpat, memfitnah, riya', ujub, jahat sangka, mengangkat-angkat diri, menjatuhkan orang lain, tidak sabar, tergopoh-gopoh dan 1001 macam mazmumah lagi. Apa yang akan terjadi?

Wujudkah keamanan, kemakmuran dan keampunan ALLAH itu? Rasakanlah dalam sebuah rumah tangga yang  perangai ahlinya seperti itu, maka sama halnya dalam negara dan masyarakatnya. Mereka hidup dalam ketegangan, kegelisahan dan huru-hara. Mereka semua ingin keluar dari negara tsb. untuk mencari ketenangan dan kasih sayang yang murni. Akhirnya rumah tangga dan masyarakat tersebut akan hancur, hingga musnahlah bangsa itu.

4. Takwa
Pemimpin Islam mestilah seorang yang memiliki sifat-sifat takwa. Yakni orang yang sangat patuh dan taat pada ALLAH dan Rasul, lahir dan batin. Sangat takut dengan dosa dan sangat memperjuangkan hukum-hukum ALLAH dalam diri dan keluarga serta masyarakatnya. Orang seperti itulah, orang yang dekat dengan ALLAH. Dia redha dengan ALLAH, dan ALLAH pun redha padanya. Apa yang ia lakukan semuanya mendapat restu dari ALLAH. Dalam Hadist Qudsi, ALLAH berfirman:
Takutilah olehmu firasat orang Mukmin karena ia memandang dengan cahaya ALLAH. (Riwayat At Tarmizi)

Orang-orang seperti itu kerjanya dibantu, dimudahkan dan diberkati oleh ALLAH. ALLAH menyatakan janjiNya ini dalam firmanNya:
Barang siapa yang bertakwa kepada ALLAH, ALLAH akan lepaskan ia dari masalah hidup dan memberi rezeki dari sumber yang tidak diduga. (Ath Thalaq: 2-3)

ALLAH menjadi pembela bagi orang-orang yang bertakwa. (Al Jasiyah: 19)

Jika penduduk satu kampung beriman dan bertakwa, Kami akan bukakan berkat dari langit dan bumi.(Al A'raf: 96)
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada ALLAH dan ucapkanlah perkataan yang benar. Nanti ALLAH akan memperbaiki pekerjaanmu dan mengampuni dosamu. Dan siapa yang mematuhi ALLAH dan RasulNya, sesungguhuya dia akan memperoleh keberuntungan yang besar. (Al Ahzab: 70-71)

Pemimpin Islam hanya akan berjaya dalam kepemimpinan kalau ia memiliki takwa. Tanpa takwa, ALLAH akan biarkan mereka kepada 1001 masalah yang maha rumit. Masalah itu telah menyebabkan banyak pemimpin dunia diserang penyakit yang bukan-bukan. Hal itu bukan rahasia lagi. Tiap-tiap hari kita diberitahu oleh surat kabar, tv, radio dan media massa lain. Saya sendiri telah melihatnya dengan mata kepala sendiri perihal dunia hari ini yang semakin kusut dan hancur, akibat melupakan ALLAH dan ALLAH pun melupakan kita.

Mari kita lihat beberapa contoh bagaimana ALLAH menyelesaikan dan membantu kita terhadap musuh melalui takwa.
1. Sayidina Umar Al Khattab telah melepaskan tentaranya ke medan perang dengan berpesan,"Aku lebih takut dosa-dosamu daripada musuh-musuhmu. Karena kalau kamu berdosa, ALLAH akan biarkan kamu kepada musuh-musuhmu."
Dalam satu peperangan, tentara Islam tidak menang dan tidak kalah selama tiga bulan berperang. Bila Sayidina Umar tahu hal itu, ia pun pergi memeriksa tentaranya. Didapati mereka itu sudah tidak halus takwanya. Mereka lalai bersugi (membersihkan gigi) dan tidak meluruskan saf-saf shalat. Bila hal-hal tsb. diperbaiki, maka dengan mudah tentara Islam menang dalam perang tersebut.
Lihatlah, baru tidak bersugi dan tidak lurus saf shalat pun ALLAH hukum, apalagi kalau tidak shalat, buka aurat, riba, bergaul bebas, mengumpat, jatuh-menjatuhkan, tamak dan merebut kuasa?

2. Sebab itu Salahuddin Al Ayyubi tidak membenarkan tentaranya pergi ke medan perang jika mereka tidak bangun malam untuk shalat dan membaca Al Quran tetapi tidur sampai pagi. Walaupun hal-hal itu tidak wajib tetapi itulah lambang takwa. Siapa yang tidak melebihkan bakti pada ALLAH (overtime untuk ALLAH), ALLAH tidak memberi keistimewaan apa-apa padanya.

3. Muhammad Al Fateh, karena dia dan tentaranya orang bertakwa, maka sewaktu mau masuk ke pintu Kerajaan Rom, yang jalan airnya ditutup, kapal-kapalnya pun dapat belayar di atas daratan. Mungkin ALLAH belah bumi untuk pelayaran itu. Begitu besarnya bantuan ALLAH pada hamba-hambaNya yang bertakwa.

Itulah rahasia kejayaan pemimpin Islam. Yakni dalam menghadapi masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh otak manusia, maka ALLAH sendiri menolong menyelesaikan di luar dugaan dan di luar akalnya. Serta diberikanNya jalan keluar yang mudah. Sebab ALLAH itu Maha Bijaksana lagi Maha Kuasa.


Penutup

SEBAGAI penutup buku ini, perkara paling penting yang ingin kukatakan ialah tentang rasa cinta dan syukur yang lebih mendalam padaMu ya ALLAH.  Hamba yang maha lemah dan berdosa ini,  tidak ada upaya untuk mengangkat sekalipun kelopak matanya sendiri jika tidak diizinkan olehMu ya ALLAH, tetapi kini Engkau telah mengizinkan aku untuk menyiapkan sebuah buku penting berjudul MENINJAU SISTEM PEMERINTAHAN ISLAM.

Sesungguhnya ya ALLAH, hamba pun heran bagaimana si kerdil ini dapat pergi begitu jauh meninjau lautan ilmu yang maha dalam itu. Sedangkan dalam hidup ini, hamba tidak memegang ijazah apapun. Padahal pemegang ijazah tinggi dengan berbagai gelar itupun hamba lihat tidak menghasilkan apa-apa sebagaimana yang Engkau berikan kepadaku.

Sesungguhnya ya ALLAH, semua ini adalah kuasa Dikau untuk memperlakukan siapapun menurut kataMu, 'kun fayakun' (jadi! terus jadi). Mengapa ini diberikan pada hambaMu ya ALLAH, sedangkan hamba ini maha dhaif dan sangat berdosa padaMu Tuhan. Hamba malu ya ALLAH. Janganlah hendaknya karena ini hamba lalai dalam bersyukur dan dalam mencintaiMu.

ALLAH takdirkan buku ini disiapkan di waktu negara-negara di dunia sedang menghadapi krisis dan dilema pada pemerintah dan sistem pemerintahan yang mereka jalankan.

Para penguasa itu saling menjatuhkan dalam urusan yang rakyat amanahkan kepada mereka. Hakikatnya mereka sedang merasakan bahwa jalan yang dipilih hanya membawa kemajuan-kemajuan duniawi. Biasanya manusia-manusia yang berada dalam keadaan seperti itu, hilang bahagia dan bertanya-tanya pada Tuhan.

Moga-moga buku ini mendapat restu dari Tuhan. Di mana Kalamullah itu diwahyukan kepada RasulNya, lalu dipusakakan kepada kita hingga hari ini. Saya cuma menerangkan apa yang dimaksudkan ALLAH dan RasulNya, khusus dalam soal sistem pemerintahan. Supaya bagi mereka yang sudi, sesudah segala percobaan yang dibuatnya begitu menyusahkannya, bersedia untuk menerima dan melaksanakan hukum ALLAH ini.

Bedanya sistem politik Islam dengan yang bukan Islam berakar pada tauhid. Roh tauhid itu bagi manusia seolah-olah akar tunjang untuk sebatang pohon. Batang, dahan, ranting, bunga, daun dan buah, semuanya bergantung kepada akar tunjang. Gambarkan sebatang pohon yang akar tunjangnya lemah atau tidak ada sama sekali. Tentu tidak panjang umur pohon itu bukan?

Politik bukan berdiri sendiri. Politik terjadi karena manusia mengamalkannya. Kalau pengamal itu kuat tauhidnya, badai topan dalam politik tidak akan menjerumuskan manusia itu. Tetapi tanpa roh tauhid yang kuat, umat Islam biasanya akan terlambung atau terbenam oleh gelombang-gelombang di lautan kehidupan yang senantiasa bergelora ini.

Hancurnya sistem pemerintahan komunis dan raja-raja adalah karena akar tunjangnya tidak kuat dan terlalu lemah. Bahkan tidak ada. Mereka hanyut lemas, karam, tenggelam dan mati. Kelihatannya golongan kapitalis dan nasionalis juga sedang dirundung malang akibat menolak Tuhan dalam politik mereka. Mereka seperti anak-anak kecil yang tidak mau terikat dengan ibu bapak dalam urusan hidup mereka. Gambarkanlah!
Bila tauhid sudah kuat, syariat ALLAH dalam sistem pemerintahan pun akan terwujud. Syariat yang indah dalam Negara Islam, hasil menerima ALLAH dan Rasul sebagai pegangan dan rujukan ialah sebagai berikut:
  1. Taraf hidup para pemerintah sederhana, yakni tidak mewah dan mubazir. Mereka mengambil harta negara sekedar keperluan dan kemudahan hidup saja. Itu pun untuk diri dan keluarga yang di bawah tanggung jawabnya saja, bukan untuk kerabat atau anggota keluarga yang tidak di bawah tanggung jawabnya.
  2. Orang-orang kaya menjadi bank bagi negara dan masyarakat, mengorbankan harta ke jalan ALLAH untuk saham Akhirat. 
  3. Rakyat taat dan kasih kepada pemerintah
  4. Maksiat terang-terangan tidak mendapat tempat. Pergaulan bebas lelaki perempuan terjaga.
  5. Keperluan dan kemudahan hidup rakyat dapat dipenuhi oleh pemerintah.
  6. Kalau ditakdirkan ada juga orang yang susah, mereka redha atau sabar dengan ujian itu.
  7. Suasana hidup aman damai, berkasih sayang, hormat menghormati dan tolong-menolong antara satu sama lain hingga orang lain pun ingin berteduh di bawahnya.
  8. Mendapat ampunan dari ALLAH.
Itulah ciri-ciri istimewa sebuah Negara Islam. Ciri-ciri itu berbeda sekali dengan negara yang tidak menjalankan sistem Islam. Bukti sejarah cukup jelas untuk membenarkan kenyataan itu. Lihatlah pemerintahan Khulafaur Rasyidin, Sayidina Umar Abdul Aziz dan Muhammad Al Fateh. Tetapi jangan pandang pada Kerajaan Saudi dan Iran, karena di sana cuma ada Negara Islam sekuler. Isinya bukan Islam. Kita berharap moga-moga ALLAH jadikan sekali lagi di akhir zaman ini, sebuah pemerintahan Islam contoh yang mirip negara salafussoleh. Supaya dunia yakin dan menirunya untuk mendamaikan krisis dan masalah yang sedang melanda seluruh dunia jahiliah ini.


Sumber: http://kawansejati.ee.itb.ac.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails