Selasa, 03 Januari 2012

Manufacturing Hope (2): Neraka dari "Manajemen Musyrik"


Menteri BUMN Dahlan Iskan. (FOTO ANTARA/Agus Bebeng)

"Nerakanya perusahaan adalah negative cash flow, rugi dan akhirnya bangkrut."
Jakarta (ANTARA News) - Manufacturing hope tentu juga harus dilakukan untuk bandara-bandara kita. Di samping mencarikan jalan keluar untuk hotel-hotel yang ada di Bali, selama mengikuti KTT ASEAN saya juga berkunjung ke pelabuhan perikanan Benoa, melihat aset-aset BUMN yang tidak produktif di Bali dan diajak melihat proyek Bandara Ngurah Rai yang baru.

Tanpa dilakukan survei  pun,  semua orang sudah tahu betapa tidak memuaskannya Bandara Ngurah Rai ini. Semua orang ngomel, mencela, dan mencaci-maki sesaknya, ruwetnya, dan buruknya. Bandara ini memang tidak mampu menanggung beban yang sudah 4 kali lebih besar dari kapasitasnya. Memang PT Angkasapura I, BUMN yang mengelola bandara ini sudah mulai membangun terminal yang baru. Namun,  terminal baru itu baru akan selesai paling cepat 2 tahun lagi.

Berarti selama 2 tahun ke depan keluhan dari publik masih akan sangat nyaringnya. Bahkan, keluhan itu akan bertambah-tambah karena di lokasi yang sama akan banyak kesibukan proyek. Bongkar sana bongkar sini. Pindah sana pindah sini. Membangun terminal baru di lokasi terminal yang masih dipakai tentu sangat repot. Lebih enak membangun terminal baru di lokasi yang baru sama sekali.

Menghadapi persoalan yang begitu stress hanya hope-lah yang bisa di-manufacture! Karena itu memajang maket bandara baru itu besar-besar di ruang tunggu atau di tempat-tempat strategis lainnya menjadi penting. Saya berharap penumpang yang ngomel-ngomel itu bisa melihat gambar bandara baru yang lebih lapang dan lebih indah. Perhatian penumpang harus dicuri agar jangan lagi selalu merasakan sumpeknya keadaan sekarang, melainkan diajak merasakan mimpi masa depan baru yang segera datang itu.

Pun PT Angkasapura II yang mengelola Bandara Soekarno-Hatta juga harus membantu manufacturing hope itu. Caranya ikut membantu memasangkan maket bandara baru Ngurah Rai di lokasi Bandara Soekarno-Hatta. Bahkan, maket baru bandara Cengkareng sendiri juga harus lebih banyak ditampilkan secara atraktif di Soekarno-Hatta.

Tentu, sambil menunggu yang baru itu, bandara yang ada harus tetap diperhatikan. Mungkin memang tidak perlu buang uang terlalu banyak untuk sesuatu yang dalam dua tahun ke depan akan dibongkar. Namun, tanpa membuat bandara yang ada ini lebih baik, orang pun akan kehilangan harapan bahwa bandara yang baru kelak akan mengalami nasib tak terurus yang sama. Itulah sebabnya, khusus Soekarno-Hatta, manajemen Angkasapura II akan melakukan survei persepsi publik yang akan dilakukan oleh lembaga survei yang kredibel dan independen.

Manufacturing hope kelihatannya juga harus lebih banyak diproduksi untuk industri  rekayasa. Dirgantara Indonesia (pembuatan pesawat), PT PAL Surabaya (pembuatan kapal), PT Bharata Surabaya (mesin-mesin), PT Boma Bisma Indra Surabaya-Pasuruan (mesin-mesin), PT INKA (pembuatan kereta api), dan banyak lagi industri jenis itu sangat memerlukannya. Semua BUMN di bidang ini sulitnya bukan main. Kesulitan yang sudah berlangsung begitu lama.

Di barisan ini, termasuk dok perkapalan IKI Makassar, Dok Perkapalan Koja Bahari Jakarta, dan industri sejenis  yang menjadi anak perusahaan BUMN, seperti jasa produksi milik PLN dan perbengkelan di lingkungan BUMN lainnya. Beberapa di antaranya bahkan sangat-sangat parahnya. PT PAL, misalnya, sudah terlalu lama merah dalam skala kerugian yang triliunan rupiah.

Perseroan Terbatas (PT) IKI Makassar idem dito. Sudah dua tahun perusahaan galangan kapal terbesar di Indonesia timur ini tidak mampu membayar gaji karyawan. Perusahaan ini terjerumus ketika menerima order pembuatan kapal penangkap ikan modern sebanyak 40 buah tapi dibatalkan pemerintah di tengah jalan. Kini, 14 kapal ikan yang sudah terlanjur jadi itu mengapung mubazir begitu saja. Sudah lebih 10 tahun kapal-kapal modern itu berjajar menganggur. Bahan-bahan kapal yang belum jadi pun sudah menjadi besi tua dan berserakan memenuhi seluruh kawasan galangan kapal itu. Peralatan produksinya juga sudah menganggur bertahun-tahun. Salah satunya bisa membuat ngiler siapa pun: crane 150 ton! Dok Perkapalan Surabaya yang ordernya begitu banyak dan sibuk saja hanya punya crane terbesar 50 ton!

Dulu, sekitar 15 tahun yang lalu, saya pernah mengkritik pemerintah di bidang ini. Saya menulis di media, mengapa industri rekayasa kita begitu jelek nasibnya. Mengapa kita impor permesinan bertriliun-triliun rupiah setiap tahun, tapi industri rekayasa di dalam negeri terlantar berat. Bahkan tokoh sekaliber B.J. Habibie pun tidak berhasil mengatasinya. Waktu itu pun saya sudah membayangkan alangkah hebatnya Indonesia kalau semua potensi itu disatukan dalam satu koordinasi yang utuh. Kalau saja ada kesatuan di dalamnya, kita bisa memproduksi pabrik apa pun, alat apa pun, dan kendaraan apa pun. Pembangkit listrik, pabrik gula, pabrik kelapa sawit, pesawat, kapal, kereta, motor, mobil, apalagi sepeda, semuanya bisa dibuat di dalam negeri.

Sebagai orang yang kala itu sering mengunjungi pabrik-pabrik sejenis di Tiongkok, saya selalu mengeluh: alangkah lebih modernnya peralatan yang dimiliki pabrik-pabrik kita dibanding pabrik-pabrik yang saya kunjungi itu. Peralatan yang dimiliki  PT Bharata, misalnya, jauh lebih modern dari yang saya lihat di Tiongkok saat itu. Ahli pesawat dari Eropa mengagumi modernnya peralatan di PT Dirgantara Indonesia.

Kini, dalam posisi saya yang baru ini, saya tidak bisa lagi hanya mengkritik. Tanggung jawab itu kini ditumpukkan di pundak saya. Saya tidak boleh lupa bahwa saya pernah mengkritik pemerintah. Saya tidak boleh mencari kambing hitam untuk menghindarkan diri dari tanggung jawab. Tentu saya juga menyadari bahwa saya bukanlah seorang yang genius seperti Pak Habibie. Saya hanya mengandalkan hasil dari manufacturing hope.

Tidak mudah perusahaan yang sudah mengalami kemerosotan yang panjang bisa bangkit kembali. Karena itu saya harus menghargai dan memuji upaya yang dilakukan manajemen Dirgantara Indonesia (DI) belakangan ini. Rasanya, untuk bidang ini, DI akan bangkit yang pertama. Many thanks to kesungguhan Presiden SBY yang telah menginstruksikan agar pengadaan seluruh keperluan militer dilakukan di dalam negeri, kecuali peralatan sekelas tank Leopard, helikopter Apache, atau kapal selam yang memang belum bisa dibuat sendiri. Pesawat tempur sekelas blok 52 pun, tekad Presiden SBY tegas: harus diproduksi di dalam negeri meski harus bekerja sama dengan pihak luar.  Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro juga sangat serius dalam mengontrol pelaksanaan instruksi presiden itu.

Maka DI kelihatannya segera mentas. Kegiatan jangka pendek, menengah, dan panjangnya sudah tertata. Dalam waktu pendek ini, sampai dua tahun ke depan, pekerjaannya sudah sangat banyak: membuat pesawat militer CN 295 dalam jumlah yang besar. Order ini akan berkelanjutan menjadi program jangka menengah karena PT DI juga sekaligus diberi hak keagenan untuk Asia Pasifik. Jangka panjangnya PT DI sampai memproduksi pesawat tempur setara blok 52 bekerja sama dengan Korea Selatan.

Adanya kebijakan yang tegas dari Presiden SBY, komitmen pembinaan yang kuat dari Kementerian Pertahanan, kapabilitas personel DI yang unggul (terbukti satu bagian dari sayap pesawat Airbus 380 yang gagah dan menarik itu ternyata selalu diproduksi di PT DI), dan fokus manajemen dalam melayani keperluan Kementerian Pertahanan adalah kunci awal bangkitnya industri pesawat PT DI.

Instruksi Presiden SBY itu juga berlaku untuk PT Pindad. Maka kebangkitan serupa juga akan terjadi untuk PT Pindad. Semoga juga di PT Dahana. Maka tidak ada jalan lain bagi PT PAL untuk mengikuti jejak PT DI. Kalau saja PT PAL fokus melayani keperluan pembuatan dan perawatan kapal-kapal militer nasibnya akan lebih baik. Apalagi anggaran untuk peralatan militer kini semakin besar. Menyerap semaksimal mungkin anggaran militer itu saja sudah akan bisa menghidupi. Dengan syarat pelayanan kepada keperluan militer itu sangat memuaskan: mutunya dan waktu penyelesaiannya.

Lupakan dulu menggarap kapal niaga yang ternyata merugikan PAL begitu besar. Lupakan menggarap bisnis-bisnis lain, apalagi sampai menjadi kontraktor EPC seperti yang dilakukan selama ini. Semua itu hanya menganggu kefokusan manajemen dan merusak suasana kebatinan jajaran PAL sendiri. Memang ada alasan ilmiah untuk mengerjakan banyak hal itu. Misalnya untuk memanfaatkan idle capacity. Tapi godaan memanfaatkan idle capacity itu bisa membuat orang tidak fokus. Dalam bahasa agama “tidak fokus” berarti “tidak meng-esakan”. "Tidak meng-esakan” berarti “tidak bertauhid”. “Tidak bertauhid” berarti “musyrik”. Memanfaatkan idle capacity di satu pihak sangat ilmiah, di pihak lain bisa juga berarti godaan terhadap fokus. Saya sering mengistilahkannya “godaan untuk berbuat musyrik”. Padahal orang musyrik itu masuk neraka. Nerakanya perusahaan adalah negative cash flow, rugi dan akhirnya bangkrut.

Kalau pun PT PAL kelak sudah fokus menekuni keperluan militer tapi masih juga rugi, negara tidak akan terlalu menyesal. Tapi kerugian PAL karena  menggarap kapal niaga asing  sangatlah menyakitkan. Apalagi kalau kerugian itu menjadi beban negara. Rugi untuk memperkuat militer kita masih bisa dianggap sebagai pengabdian kepada negara. Tapi rugi karena menggarap kapal niaga asing dan kemudian minta uang kepada negara sama sekali tidak bisa dimengerti.

Hanya kepada orang-orang yang bisa fokuslah, saya banyak berharap. Hanya di tangan pimpinan-pimpinan yang fokuslah, BUMN bisa bangkit.

*Menteri BUMN

 
Editor: Kliwon
http://www.antaranews.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails