Sabtu, 30 Oktober 2010

Belajar Strategi Perang Israel dan Cara Menghadapinya!!!















Substansi rezim Zionis Israel sebagai agresor sudah tidak dapat ditutup-tutupi lagi bagi siapapun. Bahkan sejatinya rezim ini didirikan berdasarkan penjajahan Palestina.
Sepanjang sejarah kita tidak akan menyaksikan sebuah kekuatan penjajah yang tidak menjadi agresor. Dengan kata lain, penjajahan hanya akan terealisasikan dengan agresi dan perang. Artinya, setiap kali ada penjajahan, sebelumnya pasti terjadi perang sebagai pendahuluannya. Pendeknya, penjajahan dan perang punya hubungan kausalitas. Oleh karenanya tidak diperlukan alasan untuk mengatakan bahwa rezim Zionis Israel adalah rezim agresor. Karena ketika rezim ini disebut penjajah berarti ia adalah agresor.

Adapun terkait masalah strategi militer Zionis Israel dalam melakukan perang dan prinsip-prinsip yang diterapkannya secara klasik dapat disimpulkan dalam 7 poin berikut:

1. Perang di daerah musuh
Rezim Zionis Israel sejak pembentukannya punya keyakinan bahwa agresi dan perang harus dimulai di mana medan pertempuran harus ada di kawasan musuh. Alasannya sederhana, karena secara strategi militer, Zionis Israel tidak memiliki luas wilayah yang besar dan dengan sendirinya tidak memiliki kedalaman strategi. Oleh karenanya, Zionis Israel tidak pernah mengizinkan pasukan musuh melewati perbatasannya dan melakukan perang di dalam wilayah Zionis Israel.


2. Kuasai informasi dan intelijen
Rezim Zionis Israel tidak akan memutuskan untuk melakukan agresi bila belum sampai pada kesimpulan bahwa mereka telah menguasai informasi dan intelijen musuh. Agresi yang mereka lakukan, baik itu benar atau salah, kembali pada penguasaan intelijen.


3. Serangan dadakan
Militer Zionis Israel senantiasa melakukan agresinya berdasarkan prinsip serangan mendadak. Ini adalah poin paling penting dalam mengidentifikasi perilaku selanjutnya dalam agresi-agresi selanjutnya. Apakah mereka dapat memulai perang baru dengan dasar serangan dadakan dan membuat musuhnya kecolongan.


4. Cepat dan dalam waktu singkat
Mengingat rezim Zionis Israel tidak mampu melakukan perang luas dan berkepanjangan, baik dari sisi militer dan opini publik Israel sendiri, selama ini mereka melakukan agresi cepat yang membuat musuh kecolongan dengan serangan mematikan terhadap target-target musuh dalam satu pekan. Oleh karenanya, satu pekan pertama perang operasi militer boleh dikata sudah berakhir. Benar, mungkin saja pihak musuh Israel melanjutkan perang dan itu akan berkepanjangan hingga tujuh atau sepuluh pekan. Namun operasi militer Israel sudah harus berhasil dalam pekan pertama.


5. Korban harus minim
Rezim Zionis Israel dalam merencanakan perangnya selalu menekankan satu prinsip ini bahwa dalam perang yang mereka lakukan hendaknya korban yang jatuh di pihak mereka sangat minim. Oleh karenanya, bila mereka merencanakan perang yang kemungkinannya bakal menjatuhkan korban yang banyak, mereka pasti tidak akan memulai serangan itu.


6. Angkatan Darat Penentu Kemenangan
Perang yang ditebar rezim Zionis Israel hingga sebelum perang 33 hari senantiasa bertumpu pada kekuatan angkatan darat sebagai penentu kemenangan perang. Sementara kekuatan angkatan udara hanya memainkan peran sebagai pasukan pendukung.


7. Kuasai lalu berunding gencatan senajata
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, rezim Zionis Israel akan berusaha sebisa mungkin agar di pekan pertama harus telah melakukan serangan mematikan ke target-target penting musuh lalu menduduki sebagian daerah musuh. Bila hal itu telah dilakukan, di pekan kedua Amerika, Barat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan mengintervensi dan memaksa kedua pihak agar melakukan perundingan damai. Sekalipun demikian, mungkin saja pihak yang diserang Israel masih tetap melanjutkan serangan balasannya. Bila hal itu dilakukan rezim Zionis Israel seakan-akan mendapat angin dan pembenaran untuk melakukan serangan balasan. Namun biasanya mereka segera meminta dilakukannya gencatan senjata.


Mencermati kenyataan ini, gencatan senjata dalam kamus strategi perang Israel tidak bermakna perdamaian. Gencatan senjata yang diinginkan Israel berarti mereka telah merealisasikan tujuan-tujuan militernya dan aksi selanjutnya adalah menjajah daerah yang telah dikuasainya. Oleh karena itu, mereka tidak boleh menderita kerugian dan korban yang banyak, tapi dengan gencatan senjata itu mereka sebenarnya telah mengokohkan posisi barunya.

Hal menarik dalam masalah agresi Zionis Israel terkait siapa pengambil keputusan dalam melakukan perang. Ternyata para politikus di Israel yang menjadi pengambil keputusan di Israel dan bukan para komandan militernya. Di sini, para komandan militer hanya memberikan laporan dan analisa mereka kepada kabinet. Pengambilan keputusan memulai perang berada di tangan Perdana Menteri Zionis Israel dan sejumlah menteri khusus. Di Israel sendiri para pengambil keputusan di kabinet disebut ‘Kabinet Kecil Keamanan' yang mencakup Perdana Menteri, Menteri Peperangan, Menteri Dalam Negeri dan beberapa menteri khusus lainnya yang bertugas membahas masalah ini. Keseluruhannya ada tujuh menteri yang ikut dalam sidang istimewa ini. Berbeda dengan sistem di negara-negara lain di mana ada Dewan Keamanan Nasional yang akan mengambil keputusan soal masalah ini, di Israel dewan ini sekalipun ada, tapi boleh dikata tidak memiliki fungsi apa-apa.















Mengingat pengambil keputusan perang adalah perdana menteri, maka siapa yang menjadi Perdana Menteri Rezim Zionis Israel menjadi sangat penting. Di Israel seorang perdana menteri harus memiliki pengalaman militer. Oleh karena itu, sangat mungkin sekali metode pengambilan keputusan seorang perdana menteri akan berbeda dengan perdana menteri lainnya.
 
Dengan gambaran semacam ini, tujuh prinsip klasik metode perang Israel tetap dipertahankan oleh para penguasa Tel Aviv hingga lengsernya diktator Irak Saddam Husein. Begitu cepatnya Baghdad jatuh oleh pasukan pendudukan Amerika pada tahun 2003 memunculkan adanya perubahan dalam strategi militer Israel. Rezim penjajah Palestina begitu terpesona dengan kemenangan cepat Amerika di Irak. Oleh karenanya mereka segera membentuk tim membahas faktor-faktor apa saja yang menentukan kemenangan Amerika.

Faktor pertama yang mereka temukan adalah penggunaan teknologi canggih. Mereka menilai teknologi canggih yang dimiliki oleh AS mampu menundukkan Baghdad dalam sekejap. Atas dasar ini, mereka sampai pada satu kesimpulan bahwa Israel harus memanfaatkan teknologi canggih dalam perang mendatangnya.

Faktor kedua menurut mereka ada pada peran urgen dan prinsip dari angkatan udara Amerika. Kekuatan udara AS menjadi faktor paling determinan dalam menaklukkan kekuatan militer Irak. Sementara pasukan darat AS dengan mudah masuk dan menguasai Baghdad. Sejatinya angkatan darat AS praktis tidak memasuki perang yang sesungguhnya. Karena militer Irak sebenarnya sudah takluk dihancurkan angkatan udara Amerika terlebih dahulu. Itulah mengapa mereka dapat dengan cepat menduduki Irak.

Poin penting lainnya terkait hancurnya sistem komunikasi militer Irak. Pasukan udara Amerika dengan memanfaatkan teknologi modern berhasil menghancurkan sistem jalur komunikasi militer Irak. Militer AS menghancurkan jalur komunikasi yang menghubungkan staf komando Irak di Baghdad dengan satuan-satuan tempurnya di daerah-daerah. Pasukan Irak yang berada di Basrah akhirnya tidak mampu melakukan hubungan dengan Baghdad yang berujung pada ketidakmampuan mereka untuk mengambil keputusan. Di sini, para komandan pasukan Irak yang berada di garis depan dan di daerah-daerah malah mendapatkan informasi perang lewat televisi Aljazeera, disebabkan hubungan ke Baghdad terputus.

Faktor penting lainnya adalah korban yang sangat sedikit dari pihak Amerika. Kenyataan ini sangat mempesonakan militer Israel karena hal ini yang sangat diinginkannya.
Akhirnya militer Israel menjadikan perang Amerika di Irak sebagai panduannya dan meninggalkan strategi militer klasik yang sebelum ini diterapkannya. Langkah pertama yang mereka lakukan adalah fokus memperkuat angkatan udaranya. Atas dasar ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah Israel seorang perwira angkatan udara diangkat menjadi kepala staf gabungan militer Israel. Ia adalah Jenderal Dan Halutz.

Pemilihan Jend. Dan Halutz bermakna bahwa Israel serius mengubah strategi perang dari penekanan pada angkatan darat pada angkatan udara. Tidak hanya itu, Israel bahkan mengambil langkah lebih jauh mengubah kebijakannya terkait pasukan cadangan. Karena di Israel selalu saja dibahas terkait anggaran milier yang begitu besar, bahkan lebih besar dari anggaran pembangunan. Oleh karena itu, anggaran pasukan cadangan pun disunat dan difokuskan membentuk pasukan darat dalam kelompok-kelompok kecil namun diharapkan sangat efektif agar mampu membantu peran signifikan angkatan udara.

Setelah melakukan perubahan ini rezim Zionis Israel mencoba menerapkan strategi barunya dalam perang 33 hari di Lebanon. Berdasarkan analisa dan strategi baru ini Israel beranggapan dengan teknologi modern bukannya sepekan, tapi hanya dalam dua hari mereka bakal mampu menghancurkan kekuatan Hizbullah. Mereka beranggapan hanya dalam dua hari mereka mampu berhasil menghancurkan seluruh pusat-pusat kekuatan Hizbullah lewat kekuatan udara dan setelah itu mereka akan menduduki Lebanon dalam sebuah operasi kecil dari pasukan daratnya. Perang ini akan berakhir sedemikian mudahnya.

Perang 33 hari dimulai dengan gambaran ini. Dua hari dari prediksi para komandan militer Israel telah berlalu, tapi ternyata hasilnya berbeda dari prediksi yang ada. Sepekan berlalu dan tidak ada yang berubah hingga perang berlanjut menginjak pekan kedua. Akhirnya militer Israel baru mulai memahami bahwa strategi yang mereka pakai gagal meraih tujuan yang telah ditetapkan sebelum ini. Karena dalam perang 33 hari itu, tidak satupun dari para pemimpin level satu dan dua tidak ada yang tewas dalam serangan udara Israel. Yang terjadi adalah hanya dua dari pemimpin level tiga dari Hizbullah yang syahid dan mereka yang tewas lainnya berasal dari pasukan biasa Hizbullah yang syahid di medan tempur dan bukan diakibatkan serangan udara.

Semua ini menunjukkan betapa kekuatan udara tidak mampu mengakhiri perang dan ini baru dimengerti Israel setelah perang berlanjut hingga pekan kedua. Para pemimpin militer dan politik Israel baru sadar bahwa strategi yang mereka pakai itu ternyata keliru. Mereka tidak dapat menyelesaikan perang hanya bergantung pada kekuatan udara. Sementara segala target yang dibayangkan selama ini telah dimusnahkan mereka sejak pekan pertama. Karena apa saja yang mereka anggap sebagai pusat Hizbullah telah mereka bombardir dan tidak ada yang tersisa.

Kelemahan mereka dari sisi intelijen terkait target-target Hizbullah membuat mereka bak orang tolol yang akhirnya memaksa membuka arsip mereka terkait letak tempat-tempat Hizbullah. Setelah mendapatkannya tanpa perlu dikaji kembali mereka langsung membombardir daerah itu. Padahal tempat-tempat yang dahulunya milik Hizbullah itu telah beralih kepemilikian. Sebagai contoh, ada sebuah rumah di kota Nabatieh yang dahulunya milik seorang pemimpin Hizbullah yang telah diidentifikasi oleh pihak Israel beberapa tahun lalu sebelum perang 33 hari. Rumah itu sebenarnya telah dijual kepada seseorang dan dalam perang itu menjadi target serangan udara Israel. Akibat serangan itu, sebuah keluarga berikut 8 anaknya syahid seketika.

Ketidakmampuan Israel mendapatkan informasi intelijen terkait tempat-tempat Hizbullah lagi-lagi menjadi kekalahan intelijen rezim penjajah ini. Dari sisi persenjataan pun mereka tidak tahu apa senjata yang dimiliki Hizbullah. Ketika Hizbullah menggunakan senjata-senjata barunya, khususnya rudal dari darat ke laut, mereka kecolongan dan mengklaim bahwa rudal itu ditembakkan oleh para perwira Sepah Pasdaran Iran. Karena informasi intelijen yang mereka miliki menyebutkan bahwa Hizbullah benar memiliki rudal ini, tapi belum mampu menggunakannya. Di sini, kegagalan mereka coba ditepis dengan memunculkan perang urat saraf agar kekalahan intelijen mereka dapat ditutupi.

Sumber: www.indonesian.irib.ir

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails