Jumat, 25 Maret 2011

Kisah Sukesi, Pendidikan Seks dalam Tradisi Jawa

13009350732013811402

Dasamuka, sang Pemangku Angkara sumber: wayang@wordpress


Kisah Sukesi.  Ini adalah bagian dari kisah epik Ramayana yang aslinya dituturkan oleh Valmiki (yang gak ada hubungannya sama Val Kilmer ya!) atau Walmiki, nun jauh di India sana. Ramayana ini, nasibnya sama seperti Mahabarata, sesampainya di Indonesia lalu di”aransemen” ulang, disesuaikan dengan budaya lokal dan kemudian dianggap sebagai “milik” sendiri. Susah untuk disebut sebagai plagiasi, karena Ramayana (dan Mahabarata) dikenal luas hampir di seluruh kawasan Asia Tenggara, wilayah yang pernah bersinggungan dengan Hindu, seperti Thailand, Laos, Birma, Malaysia bahkan sampai ke Filipina.

Kisah Sukesi adalah sempalan cerita (bhs Jawa: carangan). Disebut sempalan, karena cerita ini adalah cerita tambahan, tempelan atau sisipan dari kisah utama, hasil olah “aransemen” karya anak bangsa, yang justru tidak dikenal dalam kisah aslinya. Siapa pengarang atau penggubahnya, saya tidak tahu. Karena mungkin masa itu penggubah cerita tidak terlalu dihargai hak intelektualnya.

Setiap cerita sempalan, biasanya sarat pesan, penuh pitutur (petuah, nasehat) dan tuladha (contoh). Dengan kearifan tradisi, semua pesan ini dibungkus rapat dalam alur cerita yang indah. Kalau tidak jeli, semuanya akan berlalu begitu saja, tertutup oleh bungkus yang memang indah ini. Apalagi cerita ini, yang bertemakan petuah yang menyerempet-nyerempet hubungan antara lelaki dan perempuan. Dari dulu seks jadi hal tabu dibicarakan secara terbuka. Sarananya? Ya cerita macam inilah.

Kalau saya sebut di judul sebagai tradisi Jawa, sepertinya tidak tepat benar, karena cerita ini juga dikenal di Sunda dan Bali. Entahlah di Sasak dan Banjar yang juga mengenal wayang.

Wayang? Benar, cerita ini biasanya dipentaskan melalui pagelaran Wayang Orang atau Wayang Kulit (Jawa) dan Wayang Golek (Sunda). Judul ceritanya bisa macam-macam, tapi biasanya tidak jauh dari: Alap-alapan Sukesi (Kisah Sukesi), Laire Dasamuka (Lahirnya Dasamuka), Sastra Jendra, en so on, en so on. Kuno? Gak relevan lagi dengan kemajuan dan teknologi kekinian? Ah, simak dululah, baru komentar!
So?  Sekarang bolehkah saya persilahkan Ki Dalang naik panggung buat memulai ceritanya?



Ringkasan Cerita.

Prabu Sumali, raja Alengka sedang pusing berat. Anak perempuan semata wayangnya, Dewi Sukesi yang cantik bak bidadari ogah disuruh kawin, biar usianya sudah sangat cukup. Putri itu hanya mau menikah dengan laki-laki yang mampu menjelaskan padanya arti yang terkandung dalam surat Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Berkat ilmunya yang tinggi, Prabu Sumali sebenarnya tahu isi dan arti surat itu. Dia tahu juga siapa-siapa saja yang menguasai ilmu itu, tapi dia tahu betul bahwa menjelaskannya kepada siapapun adalah terlarang, karena itu rahasia Dewa.

Sudah ratusan kali dia menjelaskannya pada putrinya, tapi Dewi Sukesi tetap ngeyel dan keukeuh saja. Putrinya percaya, suatu hari akan datang laki-laki jodohnya yang sanggup menjelaskan padanya arti surat itu. Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu!

Meskipun tanpa Koran, tanpa Infotainment, tanpa Hape apalagi Internet, kabar itu sudah menyebar ke seluruh dunia (pewayangan). Tidak ada laki-laki yang tidak tertarik oleh wanginya mawar Alengka yang seksi dan semloheh ini. Bermacam bujukan, rayuan bahkan ancaman ditujukan kepada sang Putri dan bapaknya. Tapi Sukesi tetap bergeming. Dan meskipun gondok bin sebel, tapi tidak ada seorang calonpun yang berpikir untuk mengganggu stabilitas negara kuat seperti Alengka. Status quo Sang Dewi rasanya akan berkepanjangan.

Kabar ini akhirnya sampai juga ke negara Lokapala.

Prabu Danaraja, raja Lokapala yang baru saja duduk di tahta menggantikan ayahnya, masih bujangan ting ting. Cakepnya alamaaaak, kaya Brad Pitt. Segudang perempuan pasti mau kalau dia mengajak kawin. Masalahnya, sang Prabu Danaraja ini tergila-gila abis oleh Dewi Sukesi. Dia juga tahu persis, ayahnya yang baru saja meletakkan tahta dan menjadi pendeta itu, Begawan Wisrawa menguasai ilmu persuratan yang diminta itu.

Mulailah Sang Danaraja menggerilya bapaknya sendiri. Cara halus sambil mewek-mewek, sampai cara kasar mau bunuh diri. Nah lu.

Anak polah bapa kepradah. Anak bertingkah, ayahnyalah yang susah.

Meskipun tahu itu larangan Dewa, tapi harus berbuat apa? Ada pikiran untuk mengajari sang anak dengan ilmu itu, biar anaknya sendiri yang jalan, tapi bukannya larangan itu akan dilanggar dua kali? Akhirnya dengan sikap apa boleh buat, demi kebahagiaan sang anak, berangkatlah Begawan Wisrawa ke Alengka, melamar Sukesi untuk anaknya, Sang Danaraja.

Prabu Sumali di Alengka, senang betul menerima Wisrawa yang kakak seperguruannya itu. Pikirnya pas betul kalau Sukesi mendapatkan jodoh seorang Danaraja. Percaya penuh akan keluhuran budi dan bersihnya hati sang kakak seperguruan, Sumali mengijinkan Sukesi untuk diajak Wisrawa ke tempat terpencil agar tidak ada orang lain yang mendengar uraian surat itu.

Dan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu itupun mulai kawedhar.


13009265801584395554
Dasamuka, sang Pemangku Angkara sumber: wayang@wordpress

Kahyangan, tempat Dewa bersemayam, ribut besar. Rahasia Dewa dibuka oleh anak manusia yang tak berhak menuturkannya! Batara Guru, penguasa tunggal Kahyangan yang marah bukan main lalu mengutus Batara Kamajaya dan Batari Ratih, pasangan Dewa dan Dewi Cinta untuk turun ke dunia, menghukum Wisrawa dan Sukesi. Pasangan yang nerak angger-angger (melanggar aturan) itu.

Usai mendengar uraian surat itu, Batari Ratih menyusup masuk ke jiwa Sukesi. Pandangan Sukesi yang semula melihat Wisrawa sebagai sosok ayah dan guru, segera berubah menjadi sosok kekasih. Seketika Sukesi ambruk ke pangkuan Wisrawa menyerahkan dirinya. Wisrawa yang kuat iman dan tinggi pekertinya kukuh menolak penyerahan ini sambil mengingatkan Sukesi bahwa dirinya hanyalah sekedar utusan. Utusan seorang pria yang jauh lebih pantas daripada dirinya untuk jadi suami Sukesi. Tapi Sukesi menyatakan bahwa sejak awal, dia hanya mau diperistri oleh seorang laki laki yang mampu menceritakan kepadanya rahasia surat itu. Tidak peduli dia utusan atau tidak.

(Ini adalah bagian yang paling indah dari cerita ini, kalau saja yang cerita adalah sang maestro, Ki Dalang Narto Sabdho alm. Sayang, saya tidak punya kemampuan dan kekayaan bahasa sebaik beliau)

Dalam kondisi ini Batara Kamajaya menyusup masuk dalam jiwa Wisrawa dan membobol pertahanannya. Kemudian segala macam pertimbangan, baik, buruk, benar, salah semuanya menghilang. Yang ada hanya nafsu. Dua mahluk itupun tenggelam dalam jerat asmara penuh angkara. (Ssssst, seperti film Indonesia, adegan macam ini lantas dipotong dan diganti klip lautan yang menggelora hehehe).

Apa mau, hubungan tak patut ini membuahkan keturunan. Sang jabang bayi lahir bersama bulan mati, hujan lebat, angin prahara dan petir bersahutan. Setan tertawa menandai lahirnya Raja Angkara di masa depan. Sang Dasamuka.

Usai kelahiran Dasamuka, pasangan ini masih saja tenggelam dalam nafsu, dan berturut-turut lahirlah buah nafsu itu, Kumbakarna kedua dan Sarpakenaka ketiga. 3 orang bayi berwujud raksasa dari pasangan manusia biasa.

Setelah kelahiran Sarpakenaka, Batara Kamajaya dan Batari Ratih menganggap hukuman telah cukup, dan mereka segera keluar dari jiwa sepasang manusia itu. Wisrawa dan Sukesi segera sadar dari jeratan nafsu yang membelit mereka. Penyesalan yang lahir praktis tidak ada gunanya. Mereka turun dari pengasingan dan menghadap Sumali yang apabolehbuat, akhirnya merestui hubungan itu dan menikahkan mereka.

Mereka bertobat dan mohon ampun atas dosa-dosa mereka. Setelah pertobatan dan restu ayahanda, pasangan ini melahirkan anak keempat berwujud manusia berwajah cakap. Sang Wibisana, yang kelak selalu mengingatkan kakak-kakaknya ketika bertindak salah.

Apa reaksi anak Wisrawa, Sang Danaraja?
Wancinipun meh ndungkap raina, sanghyang Aruna katingal abrit ing bangwetan, , ocehing peksi ing wit kanigara kados suwanten pangrengiking kidungipun tiyang nandhang branta. Pindha ungeling sulingipun tiyang, cekikering ayam wana ing pagagan, peksi merak nyengungong undang-undang, kombang mangrurah sekar ing kamar pasarean wangi. Uuuuunnnggggg…..


Pesan dalam cerita.

Pesan ini tersirat amat kuat kalau yang kita saksikan adalah pagelaran Wayang kulit yang lengkap (yang sampai pagi itu), tapi tidak sempat “keluar” di Wayang Orang atau Wayang Kulit yang instan, yang durasinya cuma 2-3jam itu.

Hubungan seks itu sebaiknya tidak melulu didasarkan atas nafsu semata. Di sana terkandung satu tujuan, titipan dari Sang Maha Pencipta, untuk melestarikan spesies kita, umat manusia. Doa, harapan dan kondisi mental yang kuat dari sang Calon Ayah dan Sang Calon Ibu yang mengiringi pembuahan sel telur oleh sperma akan membantu Sang Maha Pencipta meniupkan ruh yang baik kepada Sang Penerus.
Kalau hanya nafsu yang dikedepankan, Dasamuka lah wujudnya.  Nafsu akan membuahkan Angkara

Bijak dan masih relevan dengan kekinian kan?

Ahmad Jayakardi
Sumber: kompasiana.com

1 komentar:

  1. Sesungguhnya, semua ini telah kuperhatikan, semua ini telah kuperiksa, yakni bahwa orang-orang yang benar dan orang-orang yang berhikmat dan perbuatan-perbuatan mereka, baik kasih maupun kebencian, ada di tangan Allah; manusia tidak mengetahui apapun yang dihadapinya.
    Segala sesuatu sama bagi sekalian; nasib orang sama: baik orang yang benar maupun orang yang fasik, orang yang baik maupun orang yang jahat, orang yang tahir maupun orang yang najis, orang yang mempersembahkan korban maupun yang tidak mempersembahkan korban. Sebagaimana orang yang baik, begitu pula orang yang berdosa; sebagaimana orang yang bersumpah, begitu pula orang yang takut untuk bersumpah.
    Inilah yang celaka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari; nasib semua orang sama. Hati anak-anak manusiapun penuh dengan kejahatan, dan kebebalan ada dalam hati mereka seumur hidup, dan kemudian mereka menuju alam orang mati.

    Tetapi siapa yang termasuk orang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik dari pada singa yang mati.
    Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa, tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap.
    Baik kasih mereka, maupun kebencian dan kecemburuan mereka sudah lama hilang, dan untuk selama-lamanya tak ada lagi bahagian mereka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari.
    Mari, makanlah rotimu dengan sukaria, dan minumlah anggurmu dengan hati yang senang, karena Allah sudah lama berkenan akan perbuatanmu.
    Biarlah selalu putih pakaianmu dan jangan tidak ada minyak di atas kepalamu.
    Nikmatilah hidup dengan isteri yang kaukasihi seumur hidupmu yang sia-sia, yang dikaruniakan TUHAN kepadamu di bawah matahari, karena itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari.
    Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.
    Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua.
    Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.

    BalasHapus

Related Posts with Thumbnails