Senin, 14 Maret 2011

Demokrasi, dari Uang oleh Uang dan untuk Uang

13000800211020379432
Demokrasi, itulah satu kata yang bisa menghipnotis jutaan orang, dengan rayuannya orang berani melakukan apa saja, bahkan untuk memenangkan pemilihan umum orang berani mengeluarkan modal yang gak tanggung-tanggung. Miliaran rupiah di gelontorkan untuk meraih kursi, begitu mahalnya biaya demokrasi sehingga bagi para pemenang demokrasi dia harus mengembalikan modal yang ia gunakan saat kampanye.

Memang kenyataan lebih pahit dari harapan, rakyat yang selalu dijanjikan akan kesejahteraan ternyata tak kunjung tiba, sampai saat ini demokrasi belum bisa menunjukkan prestasi yang memuaskan bahkan para pelaku demokrasi kerap menunjukan perilaku yang sangat menyakitkan bagi rakyat. Mereka berani mengadakan kunjungan study tour disaat rakyat sedang dilanda musibah, mereka kerap menunjukan sikap kekanak-kanakkan dengan mempertontonkan kegaduhan di ruang sidang, mereka lebih rela membuat undang-undang pro kaum kapitalis liberal dibanding undang-undang yang pro rakyat, negara ini dijual ke tangan asing. 

Demokrasi sering menunjukan paradoks-paradoks didalam isinya, demokrasi yang diharapkan akan mensejahterakan ternyata lebih memihak uang, suara rakyat sudah diwakilkan oleh uang, demokrasi hanya untuk pemilik modal sehingga suara rakyat mudah dibeli oleh uang, demokrasipun ditujukan dan diperuntukkan untuk orang-orang yang mempunyai uang yang banyak sehingga demokrasi lebih cocok dengan istilah “dari uang oleh uang dan untuk uang”. Yah, hanya uanglah yang bisa meraih demokrasi, karena demokrasi sesungguhnya tidak faham suara mayoritas, demokrasi hanya faham uang. 

Rakyat jangan berharap mau kaya karena kekayaannya sudah terwakili oleh dewan, rakyat jangan berharap akan kesejahteraan karena kesejahteraan sudah terwakili oleh dewan. Itulah segudang permasalahan yang ada di demokrasi sehingga benarlah Sir Winston Churchill (PM Inggris pada masa PD-II) yang pernah mengatakan, “Demokrasi bukanlah sistem yang baik; dia menyimpan kesalahan dalam dirinya (built-in-error).” Jadi masihkah kita berharap pada demokrasi?


Agus Satriadi

Seorang santri dan sekaligus pemerhati masalah sosial di banten


Sumber: kompasiana.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails