Selasa, 08 Maret 2011

Bena, Desa Adat yang Masih Tersisa di Flores

detik_IMG_2780JPG-
Desa Bena dari kejauhan


Perjalanan kami hari ini (24/10/2010) adalah mengunjungi sebuah kampung adat yang bernama Bena. Kampung tradisional yang terletak di arah selatan kota Bajawa, tepatnya di Desa Tiworiwu, Kecamatan Aimere, Kabupaten Ngada, Flores. Untuk mencapai desa ini, kami membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit dari Kota Bajawa. Dan melewati jalanan yang naik turun dan menikung.

Desa ini cukup unik, karena satu - satunya desa di pulau Flores yang masih menjaga tradisi secara turun temurun. Terlihat dari bangunan megalitik yang berupa susunan batu - batuan ceper. Layaknya batu menhir yang dibuat oleh Obelix di cerita komik Asterix. Penduduk desa pun masih mendiami rumah - rumah yang terbuat dari kayu, bambu dan beratapkan alang - alang. Kampung Bena ini dihuni oleh sembilan suku yang mendiami kurang lebih sekitar 40 rumah tradisional.

detik_IMG_2797JPG-
Salah satu rumah yang berhiaskan boneka laki - laki memegang anak panah



Di beberapa atap rumah terlihat hiasan seperti boneka yang memegang anak panah. Dalam hal ini menyimbolkan bahwa rumah tersebut adalah milik dari keluarga garis laki - laki penduduk asli kampung ini, yaitu Suku Ngada. Untuk rumah yang dihiasi rumah - rumahan kecil diatas atapnya, ini menyimbolkan rumah tersebut milik dari keluarga garis perempuan suku asli. Diantara rumah penduduk yang saling berhadapan dengan mengikuti kontur tanah, dan terbagi menjadi beberapa tingkat. Terdapat 2 bangunan rumah adat kecil pada tingkatan itu. Bangunan rumah adat yang pertama berbentuk seperti payung beratapkan alang - alang, dan ditengahnya terdapat kayu sebagai pilar penyangga. Bangunan ini disebut sebagai lopo. Dan bangunan kecil dihadapannya yang berbentuk seperti miniatur rumah kecil disebut sebagai bhaga. Kedua bangunan itu adalah simbol pemersatu keluarga di kampung ini.

detik_IMG_2830JPG-
Tugu batu ceper




Kesederhanaan dari kampung Bena bisa dilihat dari keramah - tamahan penduduknya. Mereka akan selalu melempar senyum dan menyapa kepada setiap orang yang datang mengunjungi kampung Bena. Untuk berkunjung ke tempat ini tidak dikenakan tiket masuk, tapi kita harus memberikan donasi dan mengisi buku tamu sebelum anda memasuki perkampungan. Donasi yang terkumpul akan digunakan untuk pemeliharaan kampung agar senantiasa terjaga keaslian tradisinya.

Oleh: Muhammad Lukman Hakim

Sumber: travel.detik.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails