Kamis, 05 Mei 2011

Osama, Rhoma Irama dan Aswatama

Sudah ya. Kita sudah membaca kesimpang-siuran informasi tentang cara matinya Osama bin Laden, yang mati berkali-kali. Lalu apa hubungannya dengan Rhoma Irama dan Aswatama?

http://abycinta.files.wordpress.com/2010/07/20060119-osama.jpg

 
Jadi begini. Dahulu waktu aku masih kecil di desa kelahiranku, Desa Banggle, Nganjuk, Jawa Timur, penduduk desaku ngefans berat sama Rhoma Irama. Tapi mereka menyebutnya “Oma Irama.” Kenapa huruf “R”-nya kok dihilangi? Jawablah dengan teori jalannya informasi. Informasi itu merupakan kabar dari suatu fakta. Namanya juga kabar, kadang diterima tidak utuh. Bahkan orang yang menjadi pengabar atau informan bisa saja menafsirkan fakta tidak 100 persen sesuai kenyataan. Apalagi jika informan itu “sengaja” memanipulasi informasi. Jadi ya maklum saja jika penduduk di desaku itu mengira nama Rhoma Irama itu adalah Oma Irama. Biarpun radio tiap hari menyebut nama Rhoma Irama, kalau sudah kadung enak diucap dan didengar ya tetap saja jadi “Oma Irama”. Bandel juga mereka ini.


1304516804554229850


Lalu apa hubungannya dengan Osama Bin Laden? Nggak ada. Memang harus ada hubungan? Ini kan tulisan-tulisanku sendiri, ya terserah aku. 

Tapi setidaknya bisa dijadikan perbandingan, bahwa informasi tentang Osama Bin Laden yang kita terima itu bisa 100 persen benar, atau tidak 100 persen benar. Apalagi jika ada manipulasi informasi. Dan kalau sudah senang mendengar informasi tersebut, bisa saja kita menjadi penerima informasi yang bandel, seperti para tetanggaku yang tak mau lagi menyebut “Rhoma”, tapi tetap fanatik menyebut “Oma” meskipun mendengar siaran radio berulang-ulang bahwa namanya adalah “Rhoma.” 1)

Kaitannya dengan informasi matinya Osama itu, saya akan bercerita tentang sepenggal kisah matinya Begawan Durna alias Drona, yang menggunakan taktik informasi tentang kematian Aswatama. Tapi ini kisah versi wayang Jawa lo ya, bukan versi Mahabarata asli India. Tapi secara substansial sama. 

13045168712087581192 

Aswatama ini anak tunggal kesayangan Begawan Durna. Ibu kandung Aswatama adalah Dewi Wilutama atau Dewi Kripi yang konon berambut dan bertelapak kaki kuda. Durna mau mengawini Dewi Wilutama karena memenuhi janjinya setelah ditolong Dewi Wilutama untuk menyeberangi lautan. Saat menyeberangi lautan itu Dewi Wilutama berubah menjadi kuda terbang dan Durna menaiki Wilutama. Lalu Dewi Wilutama hamil. Apa gara-gara dinaiki Durna yang waktu mudanya bernama Bambang Kumbayana itu? Sudahlah, soal begitu tak usah dibahas!

Makanya Aswatama selalu pakai sepatu, sebab kakinya di bagian tungkai ke bawah adalah kaki kuda, seperti ibunya. Tapi dalam versi wayang lainnya ternyata kakinya normal-normal saja. Maklum kisah-kisah begini banyak versi. Ada juga versi yang menyatakan Dewi Wilutama itu bidadari. 

Adalah para Pandawa yang panik ketika Resi Durna menjadi senopati Hastinapura dalam perang Baratayudha di Kurusetra. Pasukan Amarta (negeri Pandawa) banyak yang gugur. Resi Durna tak bisa dikalahkan. Maka Krisna sebagai penasihat Pandawa menyarankan agar dibuat strategi untuk melemahkan spirit Resi Durna yang kebetulan juga guru Pandawa itu. Caranya adalah membuat informasi bahwa Aswatama telah mati. 

Semula para Pandawa tidak mau menggunakan cara licik. Berbohong, membuat informasi sesat untuk memenangkan perang adalah licik. Tapi Krisna tak kekurangan akal. Agar tak dikatakan bohong maka Pandawa diminta mengambil seekor gajah. Gajah itu diberi nama Aswatama, sama dengan nama anak Resi Durna. Lalu gajah itu dibunuh. Kemudian seluruh pasukan Amarta di Kurusetra disuruh teriak-teriak mengabarkan kematian gajah Aswatama. “Aswatama mati! Aswatama telah mati!” Demikian gemuruh teriakan pasukan Amarta yang kemudian terdengar di telinga Resi Durna yang sedang memimpin perang. 

1304516936992540871 

Mendengar berita kematian Aswatama itu maka Resi Durna bertanya kepada Yudistira, raja Amarta yang terkenal kejujurannya (tak pernah mau bohong, apalagi melakukan politik pencitraan). Yudistira, sulung Pandawa (secara formal) itu menjawab, “Iya, Aswatama telah mati. Entah itu gajah atau manusia.” Tentu saja ini jawaban politis. Dikatakan jujur juga tidak 100 persen. Robohlah kejujuran Yudistira yang dia pertahankan seumur hidupnya. Karena politik.

Maka Resi Durna mengira anaknya, Aswatama, yang telah mati. Akhirnya Resi Durna putus asa, sebab Aswatama adalah satu-satunya anak yang disayanginya, tumpuan hidupnya dikiranya telah mati. Maklum, sejak kecil Aswatama bagaikan piatu karena ditinggal ibunya ke kahyangan dan diasuh Durna sendiri sebagai single parent. (Paragraf ini kisah versi saya, jadi terserah saya!)

Singkat cerita, Resi Durna tidak lagi melakukan perlawanan dan ia mati di tangan Drestadyumena, anak Raja Drupada dari Pancala, yang membantu Pandawa. Sejak semula memang Drupada dendam kepada Durna yang telah mengambil separuh wilayah kerajaannya.

Di kemudian hari, Drestadyumena yang membunuh Resi Durna akhirnya juga dibunuh Aswatama yang dendam kepadanya. Begitulah kiranya dendam-mendendam dalam kisah yang tak ada habisnya hingga sekarang. 

Lalu apa kaitan kisah Aswatama ini dengan Osama bin Laden? Ya nggak ada juga. Terserah aku, wong ini tulisan-tulisanku sendiri! Tapi jika mau dicari perbadingannya, “pembunuhan bermotif politik” itu bisa karena tujuan menciptakan isu tertentu. 

Seperti halnya kisah Aswatama tersebut, bahwa kematian Osama Bin Laden, jika itu benar, akan menimbulkan dendam baru, dibalas dendam, dibalas lagi dengan dendam, dan seterusnya, Dunia ini memang telah ditumpahi sejarah dendam manusia yang tak ada habisnya.

1304516992126325229 

Manusia adalah monster yang paling ganas. Terorisme adalah istilah yang diciptakan oleh para teroris dalam kubu teroris yang lain. Teroris yang menguasai hukum formal dunia berhadapan dengan teroris yang dianggap ilegal. Mereka saling meneror hingga akhir zaman.
Selamat menikmati teror! Dan, memang lebih enak menikmati telor.

1) Kecuali saya meski orang desa, sejak masih bayi saya sudah ngefan dengan Kate Winslet. Mustahil saya ngefan Bang Haji Rhoma.

1. Foto Bang Haji Rhoma saya peroleh dari internet tapi saya lupa sumbernya.
2. Gambar wayang-wayang tersebut saya ambil dari Wikipedia. Cuma gambarnya. Kalau kisah wayangnya berdasarkan ingatan saya ketika sering nonton wayang di masa SD hingga SMP dulu. Tapi kalau ada yang lupa ya nyontek dikit di Wikipedia. Kecuali jika ada yang versi menurut saya sendiri seperti satu paragraf di atas. 

Subagyo
Pekerja Hukum dan Sosial

Sumber: kompasiana.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails