Minggu, 26 Desember 2010

Timnas Indonesia, Belum Juara Sudah Dipolitisasi

http://2.bp.blogspot.com/_1H_hL_qHlsA/TP3HS8oWCVI/AAAAAAAAAIc/11Th-MhT6E4/s640/Timnas-Indonesia-AFF-2010.jpg

Euforia masyarakat terhadap Timnas (Sepakbola) Indonesia benar-benar luar biasa. Jum’at lalu umpamanya, beberapa jama’ah sholat Jum’at di mesjid dekat rumah saya sibuk ngobrol tentang Gonzales, Okto, Borromeo, dsb, di tengah khotbah yang disampaikan khotib. Mau menegur, takut nanti ikut berkurang pahala. Tidak ditegur, wong cukup mengganggu. Ya sudah lah, dimaklumi saja, bagian dari euforia.

Padahal kalau dipikir-pikir, prestasi sebagai finalis sama sekali tidak istimewa. Terhitung sudah tiga kali kita masuk final, termasuk ketika ajang Piala AFF masih bernama Piala Tiger. Jadi, kegembiraan yang luar biasa itu kelihatannya lebih disebabkan oleh beberapa faktor sbb: (1) kita memang sudah pernah masuk final, tapi itu sudah lama sekali, yang terakhir sudah 6 tahun lalu, (2) adanya pemain blesteran (Irfan Bachdim) dan pemain naturalisasi (Christian Gonzales) membawa warna tersendiri dalam permainan timnas, dan (3) permainan spartan dan penuh semangat yang telah lama hilang — terakhir adalah di ajang Piala Asia, ketika timnas ditangani Ivan Kolev– ternyata muncul kembali. Itulah mengapa, apa yang dicapai oleh timnas sekarang ini menimbulkan kegembiraan yang luar biasa.

Dan dalam situasi dimana PSSI dipimpin oleh orang yang datang dari latar belakang politik (tepatnya: partai politik) tertentu, maka politisasi timnas menjadi tak terhindarkan. Pertama adalah kehadiran SBY. Kehadiran kepala negara dalam sebuah pertandingan sepakbola sebenarnya merupakan hal yang wajar, tapi kehadirannya sampai dua kali pertandingan berturut-turut yang hanya berselang dua hari, dan dalam laga yang belum mencapai partai puncak, merupakan sebuah ‘keistimewaan’ yang patut diduga diwarnai ‘udang di balik batu’.

Polanya sama dengan sebelum-sebelumnya. Setiap ada kejadian, entah menyenangkan atau pun menyedihkan, pokoknya yang menjadi perhatian masyarakat luas, di situ pula para politisi berusaha jual tampang. Minimal supaya wajahnya diingat oleh masyarakat. Apalagi kalau presiden datang, pejabat-pejabat pemerintah dan tokoh politik yang pun banyak yang ‘mendadak gila bola’..

Kedua, dan yang lebih membuat dahi berkerenyit, adalah ‘kunjungan’ para punggawa timnas ke Aburizal Bakrie. Mengapa mesti ke sana? Tidak butuh otak jenius untuk menebak bahwa itu karena Nurdin Halid (Ketuas PSSI) adalah orang Golkar, dan Bakrie adalah Ketua Umum Partai Golkar. Orang Golkar boleh lah mencoba berkelit, tapi masyarakat tidak bodoh, minimal tidak sebodoh orang-orang yang menganggap masyarakat bodoh. Kalau soal pemberian sumbangan lahan untuk tempat berlatih, tidak perlu lah Nurdin dan pengurus PSSI mengajak pemain timnas. Lebih baik para pemain konsentrasi berlatih daripada melakukan kunjungan yang tak jelas manfaatnya bagi mereka. Melihat gelagatnya, tidak tertutup kemungkinan uang bonus Rp 2.5 milyar (plus janji tambahan Rp 2.5 milyar lagi kalau juara) berasal dari kantong Bakrie.

http://stat.k.kidsklik.com/data/photo/2010/12/20/1303315620X310.jpg

Coba perhatikan apa nasihat Bakrie kepada pemain timnas pada waktu kunjungan itu. “Jangan berkecil hati kalau dihujat..”. Lho, siapa yang dihujat? Pemain timnas malah terlalu banyak disanjung. Jelas bahwa itu bukan nasihat buat timnas, tetapi lebih sebagai curhat Bakrie (dan Nurdin Halid) yang memang sudah cukup lama menjadi sasaran hujatan masyarakat karena berbagai kasus.

Itulah mengapa Ruhut Sitompul (Partai Demokrat) segera berkomentar:”Jangan sampai Golkar bagi-bagi Kartu Anggota ke pemain timnas..”. Ruhut memang sering melontarkan pernyataan gila, tapi kali ini dia benar. Intinya adalah, Golkar jangan memanfaatkan timnas untuk kepentingan politiknya. Meskipun harus dicatat, bahwa Partai Demokrat (dan SBY) juga sebaiknya tidak melakukan hal yang sama, meskipun dengan cara yang mungkin berbeda.
Terus terang saya sangat prihatin dengan kondisi tersebut. Timnas kita memang bermain baik dan sejauh ini hasilnya juga baik, tapi terlalu dini untuk dirayakan berlebihan, apalagi dimanfaatkan untuk kepentingan politik. Andaikan semua itu dilakukan setelah Indonesia juara, saya pikir tidak terlalu menjadi masalah. Tapi ini kan belum. Seperti yang berulangkali disampaikan oleh Alfred Riedl, kita belum meraih apa-apa..

Semoga apa yang terjadi tidak mengganggu konsentrasi para pemain. Semoga mereka tetap trengginas dalam dua laga final melawan Malaysia (26 dan 29 Desember) nanti. Setelah berkali-kali gagal, sekarang saatnya kita juara. Selamat berjuang!
Dan sekali lagi: Timnas Yes, Nurdin No!

Sumber: kompasiana.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails