PT. Freeport Indonesia
(PTFI atau Freeport) adalah sebuah perusahaan pertambangan yang
mayoritas sahamnya dimiliki Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc.
Perusahaan ini merupakan perusahaan penghasil emas terbesar di dunia
melalui tambang Grasberg. Freeport Indonesia telah melakukan eksplorasi
di dua tempat di Papua, masing-masing tambang Ertsberg (dari 1967 hingga
1988) dan tambang Grasberg (sejak 1988), di kawasan Tembagapura,
Kabupaten Mimika, Provinsi Papua. Freeport-McMoRan berkembang menjadi
perusahaan dengan penghasilan US$ 6,555 miliar pada tahun 2007. Mining
Internasional, sebuah majalah perdagangan, menyebut tambang emas
Freeport sebagai yang terbesar di dunia.
Freeport mulai banyak menarik perhatian masyarakat setelah terungkapnya
berbagai permasalahan dan insiden yang terjadi di wilayah konsesi
pertambangan perusahaan tersebut. Berbagai pendapat, baik dari media,
lembaga swadaya masyarakat, serta akademisi menyoroti masalah yang
berkaitan dengan pencemaran lingkungan, adaptasi sosio-kultural,
keterlibatan TNI, bahkan hal-hal yang berkaitan dengan politik separatis
dari kelompok penduduk asli. Namun, dalam pembahasan ini permasalahan
yang akan diulas adalah yang berkaitan dengan tidak optimalnya
pengelolaan potensi ekonomi sumberdaya mineral di wilayah pertambangan
tersebut bagi penerimaan negara.
Potensi tembaga dan emas yang tersimpan di Grasberg dan Erstberg, serta
pengelolaan pertambangan Freeport yang tidak optimal bagi pemerintah
Indonesia. Akibatnya, manfaat ekonomi yang diperoleh pemerintah
Indonesia tidak maksimal. Bahkan, dapat dikatakan Indonesia mengalami
kerugian negara yang sangat besar karena tidak optimal, tidak adil,
tidak transparan dan bermasalahnya pengelolaan sumberdaya mineral itu.
Kontrak Karya yang Merugikan dari Generasi ke Generasi
Freeport memperoleh kesempatan untuk mendulang mineral di Papua melalui
tambang Ertsberg sesuai Kontrak Karya Generasi I (KK I) yang
ditandatangani pada tahun 1967. Freeport adalah perusahaan asing pertama
yang mendapat manfaat dari KK I. Dalam perjalanannya, Freeport telah
berkembang menjadi salah satu raksasa dalam industri pertambangan dunia,
dari perusahaan yang relatif kecil. Hal ini sebagian besar berasal dari
keuntungan yang spektakuler sekaligus bermasalah yang diperoleh dari
operasi pertambangan tembaga, emas, dan perak di Irian Jaya, Papua.
KK
I dengan Freeport ini terbilang sangat longgar, karena hampir sebagian
besar materi kontrak tersebut merupakan usulan yang diajukan oleh
Freeport selama proses negosiasi, artinya lebih banyak disusun untuk
kepentingan Freeport. Dalam operasi pertambangan, pemerintah Indonesia
tidak mendapatkan manfaat yang proposional dengan potensi ekonomi yang
sangat besar di wilayah pertambangan tersebut. Padahal bargaining
position pemerintah Indonesia terhadap Freeport sangatlah tinggi, karena
cadangan mineral tambang yang dimiliki Indonesia di wilayah
pertambangan Papua sangat besar bahkan terbesar di dunia. Selain itu,
permintaan akan barang tambang tembaga, emas dan perak di pasar dunia
relatif terus meningkat.
Dengan
kondisi cadangan yang besar, Freepot memiliki jaminan atas future
earning. Apalagi, bila ditambah dengan kenyataan bahwa biaya produksi
yang harus dikeluarkan relatif rendah karena karakteristik tambang yang
open pit. Demikian pula emas yang semula hanya merupakan by-product,
dibanding tembaga, telah berubah menjadi salah satu hasil utama
pertambangan.
Freeport sudah sejak lama berminat memperoleh konsesi penambangan
tembaga di Irian Jaya. KK I Freeport disusun berdasarkan UU No 1/67
tentang Pertambangan dan UU No. 11/67 tentang PMA. KK antara pemerintah
Indonesia dengan Freeport Sulphur Company ini memberikan hak kepada
Freeport Sulphur Company melalui anak perusahaannya (subsidary) Freeport
Indonesia Incorporated (Freeport), untuk bertindak sebagai kontraktor
tunggal dalam eksplorasi, ekploitasi, dan pemasaran tembaga Irian Jaya.
Lahan ekplorasi mencangkup areal seluas 10.908 hektar selama 30 tahun,
terhitung sejak kegiatan komersial pertama. KK I mengandung banyak
sekali kelemahan mendasar dan sangat menguntungkan bagi Freeport.
Kelemahan- tersebut utamanya adalah sebagai berikut:
- Perusahaan yang digunakan adalah Freeport Indonesia Incorporated, yakni sebuah perusahaan yang terdaftar di Delaware, Amerika Serikat, dan tunduk pada hukum Amerika Serikat. Dengan lain perkataan, perusahaan ini merupakan perusahaan asing, dan tidak tunduk pada hukum Indonesia.
- Dalam kontrak tidak ada kewajiban mengenai lingkungan hidup, karena pada waktu penandatanganan KK pada tahun 1967 di Indonesia belum ada UU tentang Lingkungan Hidup. Sebagai contoh, akibat belum adanya ketentuan tentang lingkungan hidup ini, sejak dari awal Freeport telah membuang tailing ke Sungai Aikwa sehingga mengakibatkan kerusakan lingkungan.
- Pengaturan perpajakan sama sekali tidak sesuai dengan pengaturan dalam UU Perpajakan yang berlaku, baik jenis pajak maupun strukturnya. Demikian juga dengan pengaturan dan tarif depresiasi yang diberlakukan. Misalnya Freeport tidak wajib membayar PBB atau PPN.
- Tidak sesuainya struktur pajak maupun tarif pajak yang diberlakukan dalam KK I dirasakan sebagai pelanggaran terhadap keadilan, baik terhadap perusahaan lain, maupun terhadap Daerah. Freeport pada waktu itu tidak wajib membayar selain PBB juga, land rent, bea balik nama kendaraan, dan lain-lain pajak yang menjadi pemasukan bagi Daerah.
- Tidak ada kewajiban bagi Freeport untuk melakukan community development. Akibatnya, keberadaan Freeport di Irian Jaya tidak memberi dampak positif secara langsung terhadap masyarakat setempat. Pada waktu itu, pertambangan tembaga di Pulau Bougenville harus dihentikan operasinya karena gejolak sosial.
- Freeport diberikan kebebasan dalam pengaturan manajemen dan operasi, serta kebebasan dalam transaksi dalam devisa asing. Freeport juga memperoleh kelonggaran fiskal, antara lain: tax holiday selama 3 tahun pertama setelah mulai produksi. Untuk tahun berikutnya selama 7 tahun, Freeport hanya dikenakan pajak sebesar 35%. Setelah itu pajak yang dikenakan meningkat menjadi sekitar 41,75%. Freeport juga dibebaskan dari segala jenis pajak lainnya dan dari pembayaran royalti atas penjualan tembaga dan emas kecuali pajak penjualannya hanya 5%.
Keuntungan yang sangat besar terus diraih Freeport, hingga Kontrak
Karya I diperpanjang menjadi Kontrak Karya II yang tidak direnegosiasi
secara optimal. Indonesia ternyata tidak mendapatkan manfaat sebanding
dengan keuntungan besar yang diraih Freeport. Ketentuan-ketentuan fiskal
dan finansial yang dikenakan kepada Freeport ternyata jauh lebih rendah
jika dibandingkan dengan yang berlaku negara-negara Asia dan Amerika
Latin. Perpanjangan Kontrak Karya II seharusnya memberi manfaat yang
lebih besar, karena ditemukannya potensi cadangan baru yang sangat besar
di Grasberg. Kontrak telah diperpanjang pada tahun 1991, padahal
Kontrak Karya I baru berakhir pada tahun 1997. Pada kenyataannya ini
adalah kehendak dari orang-orang Amerika di Freeport, dan merupakan
indikasi adanya kepentingan pihak yang terlibat dalam proses negosiasi
untuk mendapat keuntungan pribadi dari pertambangan di bumi Irian Jaya
itu.
Kontrak Karya II tidak banyak mengalami perbaikan untuk memberikan
keuntungan finansial tambahan yang berarti bagi pihak Indonesia.
Perubahan yang terjadi hanyalah dalam hal kepemilikan saham dan dalam
hal perpajakan. Sementara itu, besarnya royalti tidak mengalami
perubahan sama sekali, meskipun telah terjadi perubahan jumlah cadangan
emas. Penemuan emas di Grasberg merupakan cadangan emas terbesar di
dunia.
Dalam
Kontrak Karya II, ketentuan menyangkut royalti atau iuran
eksploitasi/produksi (pasal 13), menjelaskan bahwa sistem royalti dalam
kontrak Freeport tidak didasarkan atas prosentase dari penerimaan
penjualan kotor (gross revenue), tetapi dari prosentase penjualan
bersih. Penjualan bersih adalah penjualan kotor setelah dikurangi dengan
biaya peleburan (smelting), biaya pengolahan (refining), dan
biaya-biaya lainnya yang dikeluarkan Freeport dalam penjualan
konsentrat. Prosentase royalti (yang didasarkan atas prosentase
penerimaan penjualan bersih juga tergolong sangat kecil, yaitu 1%-3,5%
tergantung pada harga konsentrat tembaga, dan 1% flat fixed untuk logam
mulia (emas dan perak).
Di
dalam kontrak Freeport, besaran iuran tetap untuk wilayah pertambangan
yang dibayarkan berkisar antara US$ 0,025-0,05 per hektar per tahun
untuk kegiatan Penyelidikan Umum (General Survey), US$ 0,1-0,35 per
hektar per tahun untuk kegiatan Studi Kelayakan dan Konstruksi, dan US$
1,5-3 per hektar per tahun untuk kegiatan operasi eksplotasi/produksi.
Tarif iuran tersebut, di seluruh tahapan kegiatan, dapat dikatakan
sangat kecil, bahkan sangat sulit diterima akal sehat. Dengan kurs 1 US$
= Rp 9.000 maka besar iuran Rp 225 hingga Rp 27.000 per hektar per
tahun.
Sedangkan menyangkut pengawasan atas kandungan mineral yang dihasilkan,
dalam kontrak Freeport tidak ada satu pun yang menyebut secara
eksplisit bahwa seluruh operasi dan fasilitas pemurnian dan peleburan
harus seluruhnya dilakukan di Indonesia dan dalam pengawasan Pemerintah
Indonesia. Pasal 10 poin 4 dan 5 memang mengatur tentang operasi dan
fasilitas peleburan dan pemurnian tersebut yang secara implisit
ditekankan perlunya untuk dilakukan di wilayah Indonesia, tapi tidak
secara tegas dan eksplisit bahwa hal tersebut seluruhnya (100%) harus
dilakukan atau berada di Indonesia. Hingga saat ini, hanya 29% saja dari
produksi konsentrat yang dimurnikan dan diolah di dalam negeri. Sisanya
(71%) dikirim ke luar negeri, di luar pengawasan langsung dari
pemerintah Indonesia.
Di
dalam Kontrak Freeport, tidak ada satu pasal pun yang secara eksplisit
mengatur bahwa pemerintah Indoensia dapat sewaktu-waktu mengakhiri
Kontrak Freeport. Pun jika Freeport dinilai melakukan
pelanggaran-pelanggaran atau tidak memenuhi kewajibannya sesuai dengan
kontrak. Sebaliknya, pihak Freeport dapat sewaktu-waktu mengakhiri
kontrak tersebut jika mereka menilai pengusahaan pertambangan di wilayah
kontrak pertambangannya sudah tidak menguntungkan lagi secara ekonomis.
INI KAH CARA PEMERINTAH UNTUK MENYEJAHTERAHKAN RAKYAT KECIL....??????
......Coba Kita Bertanya Pada Rumput Yang Bergoyang.......
Sumber: http://roggersttnas.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar