Sabtu, 16 Oktober 2010

Nasi Tiwul + Kalakan Hiu Khas Pacitan



http://images.detik.com/content/2010/01/05/290/sltiwulbsr.jpg
Sumber: detikfood.com


Mencari makanan yang khas di Pacitan ini memang membuat mata merem-melek. Daging kalakan hiu yang gurih sangat pas beradu dengan sambal mentah yang pedas menyetrum lidah. Nasi tiwul, kenikir plus siraman kuah jangan kalakan hiu membuat makan siang kali ini... uenake poll!
Pencarian warung membuat perut ini semakin keroncongan. Akhirnya kami tiba di sebuah warung yang berada di atas bukit pantai Teleng Ria Pacitan. Warung ini bernama Warung Tiwul Bu Gandos. Setelah memarkir mobil di pinggir jalan karena memang tidak ada tempat khusus parkir, kami memasuki warung Bu Gandos yang ternyata sudah dipenuhi pengunjung.

Konsep warung lesehan ini memiliki pemandangan langsung pantai teleng ria. Angin pantai yang semilir sungguh menjadi nilai tambah tersendiri bagi warung ini.

Sayapun memulai mengambil tiwul yang terlihat kemebul dan sedikit saya tambahi nasi putih sebagai pelengkap. Ketika pindah ke meja berikutnya pemandangan urap kenikir campur kacang panjang kesukaan saya tersaji menggoda. Nasi tiwul yang sudah ditemani urap kenikir selanjutnya diguyur jangan kalakan hiu .

Tak banyak kuah yang saya siramkan tetapi hanya sekedar membuat nasi tiwul sedikit nyemek-nyemek yang kemudian dilengkapi beberapa potong ikan kalakan. Sayur kalakan sendiri merupakan salah satu makanan khas kabupaten Pacitan. Sayur ini terbuat dari daging ikan kelong (hiu) muda yang di potong-potong kecil. Kemudian ikan setengah dibakar atau diasap sampai sedikit sangit dengan tampilan layaknya sate. Nah, setelah itu barulah kalakan hiu disayur dengan kuah santan puedes.

Saya rasa makanan yang saya ambil sudah cukup namun pandangan saya terhenti pada udang goreng besar-besar yang terlihat menggiurkan. Saya pun tak tega jika tidak mengikutsertakan udang goreng dalam petualangan kali ini. Sebagai penutup sambal mentah berada di samping udang goreng.

Suapan pertama sungguh menggetarkan lidah. Paduan tiwul, kenikir, kalakan, dan sambel, hmm... membuat lidah bergoyang. Rasa pedes krenyes-krenyes kenikir mendominasi. Rasa yang begitu dahsyat membuat saya terpaksa meninggalkan sendok. Ternyata menikmati hidangan ini pakai tangan membuat saya lebih lahap lagi menyantapnya.

Saya yang doyan pedas sangat kagum dengan tonjokan sambel mentahnya. Daging kalakannya juga terasa gurih. Tak butuh waktu lama untuk menghabiskan menu yang ternyata sangat pas dengan lidah saya. Apalagi sangat sulit mendapati menu seperti ini di perantauan wah uenake poll.

Sebagai penutup es kelapa perawan menetralkan rasa pedas di lidah. Pemandangan pantai dengan angin yang semilir makin menambah nikmat makan siang kali ini. Setelah selesai makan kami pun menuju kasir dan betapa terkejutnya ketika membayar makan siang kali ini. Total habis hanya Rp 20.000,00 saja.

Warung Tiwul Bu Gandos
Jl. Raya Pacitan Solo KM 5
Pacitan (Barat Pantai Teleng Ria)


Sumber: detikfood.com

1 komentar:

  1. kalo dengar kenikir terbayang kudapan dan nasi hangat mestinya ada ikan asin pas, dipacitan ada ga ikan asin dari hiu hehehe akan ku coba bsok liburan tahun depan . sekarang sudah tak mungkin kubawa keluarga besarku, anak menantu dan cucu ber 11 oke /??/

    BalasHapus

Related Posts with Thumbnails