Rabu, 05 Januari 2011

Intrik Bakrie - Rothschild Di Balik Kasus Gayus

http://2.bp.blogspot.com/_9VB_V_v41Ao/TOSRWaH6j0I/AAAAAAAAJrU/oQFbsaBUiKA/s400/gayu_1.jpg

Cerita tentang Bakrie seperti tak akan ada habisnya. Ketika Persoalan Gayus belum rampung dipahami, Bakrie mencuri perhatian publik dengan sebuah perkara yang baru. Kali ini melibatkan Nathaniel Rothschild, adakah intrik Bakrie-Rothschild di balik kasus Gayus?


Menjadi lebih menarik karena nama Rothschild punya daya magis di dunia finansial. Dia mewarisi bakat para penduhulunya yang pintar mencari aliansi.

Deretan nama-nama Rothschild pernah menembus dinasti terkemuka Eropa melalui perkawinan. Pergaulan Nathaniel pun luas, termasuk dengan keluarga Khadafi.

Kali ini Rothschild seakan menemui ‘dinasti’ yang lain, Bakrie. Nama yang untuk lingkungan Indonesia saat ini pun tidak kalah daya magisnya.

Tentang aliansi ini, pemilik kelompok ini Aburizal Bakrie cuma menanggapi dengan tertawa yang menyimpan rasa optimistis. “Saya tidak lagi terlibat di bisnis. Jadi tak bisa kalau saya menanggapi. Namun, kalau soal Gayus, itu masalah kecil,” ujarnya kepada Bisnis.

Ical, panggilan akbar Aburizal Bakrie, seakan menegaskan keyakinannya kalau soal Gayus cuma sebuah intrik politik di dalam negeri yang mudah ditangani.

Padahal kasus Gayus yang dituduh ‘beraliansi pajak dengan perusahaan-perusahaan Bakrie’ saat ini tengah mencuri perhatian publik.

Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berkali-kali memberi instruksi agar kasus itu terus diteliti. Demikian juga Nirwan D. Bakrie tidak mau berpanjang-panjang membagi cerita soal masuknya Rothschild.
Dia cuma berharap semoga ini menjadi berita yang menarik dan positif untuk publik.
Sebagai ganti, dia mengirim artikel Financial Times bertajuk Vallar in $3 bn Asian coal deal– Rothschild and Bakrie families join forces. “Silakan membacanya untuk melengkapi berita di harian Anda.” Kira-kira begitu pesannya.

Penjelasan justru datang dari Boby D Gafur, Dirut dan CEO Bakrie & Brothers. “Beruntung kami bisa mendapatkan Rothschild. Ini nama besar yang membuat Bumi menjadi perusahaan kelas dunia.”
Dengan Rothschild yang memiliki Vallar yang baru saja mencatatkan sahamnya di bursa London, jelas Boby, Bakrie akhirnya lebih mudah mencari akses finansial ke para pemodal di luar negeri.
Pernyataan itu cukup menjelaskan mengapa Bakrie memilih Rothschild.

Pemilik hedge fund nomor besar ke-7 di Inggris dalam daftar Sunday Times-itu baru saja menjual saham Vallar di bursa London untuk mendapatkan sekitar US$1,07 miliar dana tunai.

Padahal di prospektus dia cuma berjanji akan mencari perusahaan tambang dunia yang pantas untuk diakuisisi. Lalu, seperti keberuntungan bagi keluarga Bakrie, Bumi Resources yang didapati.

Menilik watak bisnis keluarga Bakrie yang berani berjibaku dengan utang, transaksi ini memuluskan gairah ekspansi perusahaan itu tanpa harus memiliki dana tunai.

Sebuah bentuk leverage yang di dunia pasar modal semuanya mungkin terjadi asal berani bermimpi, cerdas menetapkan langkah bisnis serta pandai-pandai mencari cela regulasi.
Dari catatan Bisnis, saat ini Bakrie & Brothers memiliki utang yang besar. Bumi misalnya memiliki utang kepada lembaga keuangan asal China itu sebesar US$1,9 miliar.

Dari jumlah itu, US$403 juta akan jatuh tempo pada tahun ini. Perseroan juga akan membayar utang kepada kreditur lain, sehingga total utang yang akan dilunasi US$620 juta.

Dengan pelunasan itu, utang perseroan pada akhir tahun ini berada di kisaran US$3 miliar, dari saat ini di kisaran US$3,7 miliar.

Yang menjadi jaminannya adalah saham-saham anak usaha termasuk Bumi. Tentu saja muncul pertanyaan yang menggelitik. Mengapa para kreditur dengan mudah membiarkan saham yang dijaminkan itu berpindah pemilik kepada Rothschild.


Berbagai dugaan

Di pasar beredar berbagai dugaan, salah satu yang membeli saham IPO Vallar di London itu juga Bakrie. “Rothschild hanya dipakai namanya. Ini sama dengan membeli dirinya sendiri.”

Sebuah dugaan yang lagi-lagi harus disertai bukti sebagaimana halnya ketika publik menduga perusahaan Bakrie terlibat penyuapan pajak yang melibatkan Gayus.

Yang jelas, terkait aliansi Rothschild-Bakrie, hanya Credit Suisse yang bisa memberikan jawaban yang pasti. Dia yang selama ini mengatur transaksi, baik untuk perusahaan-perusahaan Bakrie maupun untuk go public Vallar yang dimiliki Rothschild.

Apa pun jawabannya, yang juga pasti Credit Suisse telah berhasil menyandingkan dua kekuatan besar, Rothschild yang sudah berumur dua abad dengan Bakrie yang tengah membangun basis dalam tiga generasi.
Satu keturunan Yahudi-Jerman yang menguasai sumber finansial (source of fund) dan yang lain turunan Sumatra-Indonesia yang menguasai batu bara.

Saat ini, Bumi, salah aset paling penting dari kelompok usaha itu menjadi produsen batu bara nomor satu dunia dengan pangsa 24% dan Berau berada di urutan ke-24 dengan porsi 7%.

Masuknya Rothschild yang membawa jaminan pendanaan yang kuat dan ditopang oleh kenaikan harga batu bara di pasar dunia membuat aliansi dua ‘dinasti’ itu sangat stretegis dan sulit ditandingi.

Itu sebabnya Bumi Resources dan Berau, melalui aliansi strategis ini, diyakini akan semakin prospektif. Sekurang-kurangnya itulah keyakinan dari keluarga Bakrie dan Rothschild. Tidak percaya, silakan publik mengamatinya. Yang pasti kemarin harga saham Bumi mulai menggeliat. Bumi misalnya naik 7,7% menjadi Rp2.800 dengan nilai perdagangan Rp1,145 triliun. Saham Bakrie & Brothers juga menguat 26,7% dan ditutup di level ke Rp76. Beberapa anak perusahaan Bakrie juga terkerek naik.

Akankah harga sahamnya terus menguat untuk waktu yang panjang Akankah gabungan kekuatan itu akan dengan mudah mengamankan Bumi dari semburan lumpur panas Sidoarjo dan sodokan Gayus
Jawaban dan pembuktian yang tidak mudah didapatkan. Namun, sebagai pemain saham, Anda tentu terlambat kalau menunggu hingga semua kepastian itu datang.

Perbaikan (sumber : http://www.bisnis.com/artikel/2id3233.html) 
www.blogkangdeni.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails