Selasa, 22 Maret 2011

Rijsttafel -Tradisi Kuliner Tanah Hindia



Jika kita berbicara tentang khazanah kuliner jaman kolonial rasanya tidak bakalan lengkap jika tidak mebicarakan tradisi yang satu ini yaitu Rijsttafel. Kata Rijsttafel secara harafiah berarti hidangan di meja. Tetapi pada perkembangan berikutnya kata ini berubah makna untuk menggambarkan jamuan klasik berupa acara makan-makan besar a la Hindia Belanda.

Rijsttafel adalah jamuan makan yang terdiri dari berbagai macam hidangan Nusantara seperti antara lain Nasi, Ayam Besengek, Sambal Goreng Ati, Gulai Daging, aneka Sate, aneka Acar, Sambal dan Kerupuk. Jumlahnya beragam mulai dari sekitar 10 jenis sampai bisa mencapai 60an jenis. Yang paling menarik dari Rijsttafel adalah berbagai macam hidangan tersebut dibawa oleh para pelayan sehingga tampak bagaikan arak-arakan makanan yang akan disajikan di hadapan anda. Para pembawa hidangan ada yang membawa dan meletakkan aneka hidangan di meja tetapi ada yang membawa berbagai macam hidangan tersebut selama acara jamuan berlangsung.


Jamuan a la Rijsttafel ini merupakan salah satu acara jamuan yang sangat terkenal pada jamannya. Hampir setiap acara resmi selalu ada jamuan Rijsttafel seperti yang terdapat dalam memoir IAA Gde Agung yang menceritakan jamuan Rijsttafel yang diadakan oleh ayahnya IAA Ngurah Agung (Raja Gianyar). Jamuan diawali dengan Rijsttafel dengan aneka makanan berjumlah lebih dari 20an jenis lalu setelah selesai masih ada hidangan Eropa berupa steak lengkap dengan kentang dan aneka sayuran. Jamuan yang seperti ini rutin berlangsung ketika ada acara resmi di Puri Gianyar. Yang mana menimbulkan keheranan bagi ayah beliau IAA Ngurah Agung, bagaimana caranya orang-orang Belanda itu menempatkan makanan yang sebegitu banyak dalam perutnya…



Selain jamuan resmi di Istana dan acara resmi, Rijsttafel juga merupakan acara jamuan yang sering diadakan untuk para pendatang yang sedang berkunjung ke tanah Hindia. Seperti yang bisa dilihat di foto Hotel Savoy Homann Bandung dimana berlangsung suatu jamuan Rijsttafel atau catatan dari kapal-kapal mewah Stoomvaart Maatschappij Nederland dan Rotterdamse Lloyd. Selain itu kita bisa mengetahuinya dari catatan perjalanan para jurnalis asing yang berkunjung ke Hindia Belanda seperti tulisan dari Louis Couperus seorang koresponden khusus harian Haagse Post dalam bukunya Oostwaarts (1924) atau Augusta de Witt seorang wartawan The Singapore Strait Times dalam bukunya Java, Facts and Fancies (1905).



Ada banyak teori yang menjelaskan bagaimana terciptanya tradisi Rijstaffel. Tetapi tampaknya teori yang masuk akal adalah melalui perempuan-perempuan kelas atas yang merupakan para istri pembesar VOC  sejak jaman VOC berkuasa di tanah Hindia. Jika dilihat berdasarkan catatan sejarah, 4 dari Gubernur Jendral VOC adalah orang campuran Belanda alias indo. Sebagian adalah orang Belanda kelahiran Asia dan sisanya orang Belanda tulen. Sementara lebih dari setengah istri para Gubernur Jendral VOC adalah indo. Sehingga kebudayaan yang berkembang pada masa itu adalah kebudayaan indo atau lebih dikenal sebagai kebudayan Indies. Sebagai orang yang juga dibesarkan dalam tradisi pribumi, tentu tidak heran jika mereka menikmati hidangan Nusantara seperti nasi, sayur dan terutama sambal serta kerupuk. Kekayaan yang luar biasa dan kepemilikan budak dalam jumlah besar membuat para warga kelas atas di tanah Hindia bisa membuat pesta dan acara jamuan yang extravaganza seperti bisa dibaca di novel historis biografis Majoor Jantje, De Swaaloen van Klapanoenggal. Melalui budaya Indies dari para perempuan kelas atas VOC  inilah berkembang pula tradisi Rijsttafel yang kita kenal hingga saat ini.

Saat ini anda masih bisa menikmati jamuan Rijsttafel yang istimewa. Setahu saya hanya ada satu restoran di Jakarta yang masih menyajikan hidangan Rijstaffel lengkap dengan iring-iringan para pembawa hidangan seperti jaman dulu. Yaitu Restoran Oasis yang beralamat di Jl Raden Saleh no 47 Jakarta Pusat. Restoran ini termasuk jajaran resto fine dining ternama di Jakarta. Jika memang ingin, siap-siap saja merogoh kocek mungkin sekarang sekitar 400an ribu perorang. Dulu waktu itu saya merogoh kocek hanya sekitar 300an ribu gitu deh……

Sumber rujukan:
Kenangan Masa Lampau; Memoir IAA Gde Agung
Kehidupan Sosial Di Batavia; Jean Gelman Taylor
Batavia, Kisah Jakarta Tempo Doeloe
Majoor Jantje; Kisah Tuan Tanah Hindia Belanda
Dan tentunya pengalaman pribadi Ki Lurah...


Sumber: www.surabayafood.com
  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts with Thumbnails